PENDAHULUAN
A. Peran Perempuan
2. Karakteristik Perempuan
dapat mewujudkan cita-cita bersama di dalam kehidupan.
berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab bahwa “tabi‟at kemanusiaan lelaki dan perempuan hampir (dapat dikatakan) dalam batas yang sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan, sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki, potensi yang cukup untuk memikul aneka tanggung jawab yang menjadikan kedua jenis mampu melaksanakan aneka kegiatan kemanusiaan yang umum dan khusus.”12
Allah memandang perempuan dan lelaki di dunia ini adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya kepada Allah SWT. Dalam Islam perempuan dan lelaki sama-sama memiliki kewajiban dan sama-sama memperoleh hak. Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak semua tugas lelaki dapat dikerjakan oleh perempuan. Namun bukan berarti bahwa perempuan itu lemah, hal ini berkenaan dengan kodrat perempuan yang memiliki berbagai sifat dan karakteristik yang berbeda dengan lelaki. Begitupula sebaliknya, tidak semua tugas perempuan dapat dilakukan lelaki, misalnya lelaki tidak dapat hamil,
12 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 7.
melahirkan, dan menyusui anak. Karena tugas yang demikian adalah bagian dari kodrat perempuan. Hal ini dapat dikatakan adil karena menugaskan masing- masing (lelaki dan perempuan) sesuai dengan kodrat dan kemampuannya.
Perbedaan antara lelaki dan perempuan dari segi fisik telihat sejak kelahirannya, bahkan perbedaan itu semakin nampak saat mereka beranjak dewasa.
Misalnya, perempuan seiring dengan pertumbuhannya memiliki rambut kepala yang tumbuh lebih subur sehingga lebih panjang, dan lebih halus dibandingkan dengan rambut lelaki. Otot-otot perempuan tidak sekekar lelaki. Pertumbuhan perempuan lebih cepat daripada lelaki. Perempuan ketika menjelang dewasa suaranya halus dan kulitnya mulus, hal ini berbeda dengan lelaki.13
“Secara biologis dari segi fisik, perempuan dibedakan atas perempuan lebih kecil dari laki-laki, suaranya lebih halus, perkembangan tubuh perempuan terjadi lebih dini, kekuatan perempuan tidak sekuat laki-laki, dan sebagainya. Perempuan mempunyai sikap pembawaan yang kalem, perasaan perempuan lebih
13 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 9-10.
cepat menangis dan bahkan pingsan apabila menghadapi persoalan berat.”14
Menurut para ilmuan seperti Plato, berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh Murtadha Muthahari bahwa “perempuan ditinjau dari segi kekuatan fisik maupun spiritual, mental perempuan lebih lemah dari laki-laki, tetapi perbedaan tersebut tidak menyebabkan adanya perbedaan dalam bakatnya.”15
Penulis buku Dia Di Mana-mana dalam bukunya berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab bahwa dengan merujuk kepada sekian banyak pakar kedokteran dan psikologi, penulis mengemukakan beberapa perbedaan lain yang tidak mudah diketahui oleh orang kebanyakan, antara lain bahwa lelaki dan perempuan masing-masing memiliki hormon khusus dan ciri biologis tertentu yang kadarnya berbeda antara satu dengan yang lain. Darahnya pun memiliki perbedaan-perbedaan. Jumlah butir-butir darah merah pada perempuan lebih sedikit ketimbang lelaki, kemampuannya dalam bernapas pun lebih
14 Murtadha Muthahari, Hak-hak Wanita dalam Islam, (Jakarta:
Lentera, 1995). Cet. Ke-3, h. 110-111.
15 Murtadha Muthahari, Hak-hak Wanita dalam Islam, (Jakarta:
Lentera, 1995). h. 108.
rendah daripada lelaki. Namun perempuan tidak selalu dapat dikatakan sebagai jenis yang lemah. Kemampuan perempuan melawan kuman dan virus lebih besar daripada lelaki. Karena itu pula usia rata-rata perempuan melebihi usia rata-rata lelaki. Masa pubertas pada gadis berlangsung antara 9-13 tahun, sedangkan pada anak lelaki antara 10-14 tahun. Namun, lelaki menghasilkan sperma yang tetap subur sejak masa pubertas hingga akhir hayatnya, berbeda dengan perempuan. Sel telur perempuan habis setelah mencapai usia sekitar 51 tahun. Siklus menstruasinya ketika itu berhenti dan ia tidak dapat lagi melahirkan.16
Murtadha Muthahari mengutip pendapat Will Durant sebagaimana yang dikutip kembali oleh M.
Quraish Shihab, bahwa lagu cinta bermula dengan mendekatnya masa baligh/ dewasa. Pada masa itu, jari- jari perempuan memperoleh kelembutan dan gerak- geriknya mulai memancing perhatian. Pinggulnya pun mulai membesar, ini untuk mempermudah fungsi keibuannya. Demikian juga penonjolan yang jelas pada dadanya sebagai persiapan melaksanakan fungsi
16 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 11.
penyusuan anak. “Apa yang menyebabkan semua itu?”
Tanya Will Durant, “Tidak ada yang mengetahui pasti,”
tapi jawab Durant lebih jauh, “ada teori dari Starlink, yang mendapat dukungan dari banyak pakar, menyatakan bahwa itu semua adalah kerja hormon- hormon yang melahirkan perubahan-perubahan pada jasmani fisik dan psikis yang menghasilkan ribuan pengaruh yang beraneka ragam pada jiwa.”17
Menurut pakar psikologi Mesir, Zakaria Ibrahim berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab bahwa “perempuan memiliki kecenderungan masokhisme/mencintai diri sendiri yang berkaitan dengan kecenderungan untuk menyakiti diri (berkorban) demi kelanjutan keturunan. Kecintaan kepada dirinya yang disertai dengan kecenderungan itu menjadikan perempuan kuasa mengatasi kesulitan dan sakit yang memang telah menjadi kodrat yang harus dipikulnya khususnya ketika haid, mengandung, melahirkan, menyusukan serta membesarkan anak.”18
17 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 16-17.
18 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 13.
Selanjutnya para pakar psikologi berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab bahwa “perasaan perempuan lebih cepat bangkit daripada lelaki sehingga sentimen dan rasa takutnya segera muncul. Perempuan biasanya lebih cenderung kepada upaya menghias diri, kecantikan, dan mode yang beraneka ragam serta berbagai bentuk. Di sisi lain, perasaan perempuan secara umum kurang konsisten dibandingkan dengan lelaki. Perempuan lebih hati-hati, lebih tekun beragama, cerewet, takut, dan lebih banyak berbasa-basi. Perasaan perempuan lebih keibuan.
Cintanya kepada keluarga serta kesadarannya tentang kepentingan lembaga keluarga lebih besar daripada lelaki.”19
Menurut M. Quraish Shihab dua hal pokok yang menjadi daya tarik perempuan adalah:
a. Sesuatu yang sudah melekat pada dirinya, bukan tambahan. Seperti: bentuk badan, warna kulit, mata, hidung, telinga, dan sebagainya.
b. Sesuatu yang ditambahkan pada tempat-tempat tertentu pada badan perempuan. Seperti gelang, cincin, kalung dan semacamnya yang digunakan
19 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 13-14.
sebagai hiasan dalam rangka menampakkan keindahan dan kecantikan.20
Seorang tokoh feminis, Mansour Fakih mengatakan bahwa manusia baik laki-laki dan perempuan diciptakan mempunyai ciri biologis (kodrati) tertentu. Manusia jenis laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala (Jawa:
kala menjing) dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti, rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui (payudara).
Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis laki-laki dan perempuan selamanya dan tidak bisa ditukar.21
Kartini Kartono mengatakan bahwa “perbedaan fisiologis yang alami sejak lahir pada umumnya kemudian diperkuat oleh struktur kebudayaan yang ada, khususnya oleh adat istiadat, sistem sosial-ekonomi dan pengaruh pendidikan.”22
Menurut John Gray dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh T.
Hermaya, berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh
20 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 64.
21 Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2005). Cet. Ke-IX. h. 8.
22Kartini Kartono, Psikologi wanita: Mengenal Gadis Remaja dan Wanita Dewasa, (Bandung: Mandar Maju, 1989), Cet. Ke-2, h. 4.
M. Quraish Shihab, bahwa jika dilihat dari segi bahasa, bahasa perempuan berbeda dengan bahasa lelaki.
Bahasa Mars (lelaki) dan Venus (Perempuan), menurut John Gray kedua bahasa tersebut kata-katanya memang sama tetapi penggunaannya memberi makna yang berbeda. Di samping itu untuk dapat mengungkapkan perasaan secara utuh, perempuan menggunakan berbagai macam superlatif, metafora, dan generalisasi.
Perempuan diibaratkan John Gray seperti gelombang.
Bila merasa dicintai, harga dirinya naik turun dalam gerakan gelombang. Saat merasa senang, ia akan mencapai suatu puncak, tetapi suasana hatinya bisa berubah dengan tiba-tiba dan gelombangnya akan terhempas turun, akan tetapi penurunan ini sifatnya sementara. Setelah mencapai dasar, tiba-tiba suasana hatinya berubah lagi dan ia kembali merasa senang akan dirinya, sehingga gelombangnya mulai naik lagi.23
Prof. Reek, pakar psikologi Amerika yang telah bertahun-tahun melakukan penelitian tentang lelaki dan perempuan, berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab bahwa keistimewaan masing-
23 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 18.
masing lelaki dan perempuan dari segi jiwanya, antara lain sebagai berikut:
a. Lelaki biasanya merasa jemu untuk tinggal di samping kekasihnya. Hal ini berbeda dengan perempuan yang merasa nikmat berada sepanjang waktu bersama kekasihnya.
b. Lelaki senang tampil dalam wajah yang sama setiap hari, berbeda dengan perempuan yang setiap hari ingin bangkit dari pembaringannya dengan wajah yang baru. Itu sebabnya mode rambut dan pakaian perempuan sering berubah, berbeda dengan mode lelaki.
c. Sukses di mata lelaki adalah kedudukan sosial terhormat serta penghormatan dari lapisan masyarakat, sedangkan bagi perempuan adalah menguasai jiwa raga kekasihnya dan memilikinya sepanjang hayat. Karena itu, lelaki pada saat tuanya merasa sedih karena sumber kekuatan mereka telah habis, yakni kemampuan untuk bekerja, sedangkan perempuan merasa tenang dan rela karena kesenangannya adalah di rumah bersama suami dan anak cucu.
d. Kalimat yang paling indah didengar oleh perempuan dari lelaki, adalah: “kekasihku, sungguh aku cinta padamu,” sedangkan kalimat yang paling indah diucapkan oleh perempuan kepada lelaki yang dicintainya adalah: “Aku bangga padamu.”24
24 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 14-15.
Di Taman Kanak-kanak (TK), semua anak laki- laki dan perempuan umumnya dididik oleh perempuan.
Karena hampir semua guru Taman Kanak-kanak adalah perempuan. Misalnya Di daerah tempat tinggal penulis sendiri pun bertebaran Taman Kanak-kanak, diantaranya TKI As-Salam, Al-Bayan, Al-Irsyaad, Jami‟at Khair, Ad-Dahiriyah, Al-Mubarok, dan masih banyak lagi, dan memang benar adanya bahwa guru- guru di TK tersebut hampir semuanya perempuan.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa perempuan memilih pekerjaan yang berkaitan dengan pendidikan, dan pemeliharaan anak. Sifat keibuan yang dimiliki oleh perempuan juga yang menjadi faktor perempuan lebih banyak menjadi guru, khususnya guru Taman Kanak-Kanak.
Kalangan feminis dalam konsep gendernya berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh Mansour Fakih bahwa “perbedaan suatu sifat yang melekat baik pada kaum laki-laki maupun perempuan merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural.”25 Misalnya, bahwa
25 Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005) , Cet. Ke-IX, h. 9.
perempuan itu dikenal lemah lembut, kasih sayang, anggun, cantik, sopan, emosional atau keibuan, dan perlu perlindungan. Sementara laki-laki dianggap kuat, keras, rasional, jantan, perkasa, galak, dan melindungi.
Padahal sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Berangkat dari asumsi inilah kemudian muncul berbagai ketimpangan di antara laki-laki dan perempuan.
Konstruksi sosial yang membentuk pembedaan antara laki-laki dan perempuan itu pada kenyataannya mengakibatkan ketidakadilan terhadap perempuan.
Pembedaan peran, status, wilayah dan sifat mengakibatkan. perempuan tidak otonom. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan baik untuk pribadinya maupun lingkungan, karena adanya pembedaan-pembedaan tersebut.
Berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan tersebut adalah subordinasi, marginalisasi, stereotipe, beban ganda dan kekerasan terhadap perempuan.26
26 Dwi Ambarsari, Kebijakan Publik dan Partisipasi Perempuan, (Surakarta: pattiro, 2002), Cet. Ke-1. h. 3.
Secara eksistensial, setiap manusia mempunyai harkat dan martabat yang sama, sehingga secara asasi berhak untuk dihormati dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya. Secara mendasar, Hak Asasi Manusia meliputi, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, hak untuk memiliki sesuatu, serta hak untuk mengenyam pendidikan. Ketiga hak tersebut merupakan kodrat manusia. Siapapun tidak boleh mengganggu dan harus dilindungi. 27
Dalam ajaran Islam, seluruh umat manusia adalah makhluk Tuhan Yang Satu, memiliki derajat yang sama, apapun latar belakang kulturnya, dan karena itu memiliki penghargaan yang sama dari Tuhan yang harus dihormati dan dimuliakan. Maka diskriminasi yang berlandaskan pada perbedaan jenis kelamin, warna kulit, kelas, ras, teritorial, suku, agama dan sebagainya tidak memiliki dasar pijakan sama sekali dalam ajaran Tauhid. Hanya tingkat ketaqwaan kepada
27 Trisakti Handayanirakat, Memperjuangkan Hak Asasi Perempuan dalam Suara Wanita, (Pusat Studi Wanita dan Kemasyarakatan Universitas Muhammadiyah Malang, 1996), h. 9.
Allah yang menjadi ukuran perbedaan kelak di hari pembalasan.28
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa perempuan dan lelaki memiliki persamaan dan perbedaan, persamaannya adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT. Perbedaan perempuan dan lelaki terdapat pada sifat dan karakteristiknya. Karakteristik perempuan dan lelaki Allah ciptakan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, Sebagaimana yang telah penulis paparkan di atas. Kelebihan dan kekurangan tersebut Allah ciptakan agar tercipta kesempurnaan di antara kedua belah pihak.
Oleh karena itu perempuan dan lelaki Allah ciptakan berpasang-pasangan, untuk saling melengkapi satu sama lain, terkait dengan kelebihan dan kekurangan dari sifat dan karakteristik yang mereka miliki. Mereka tidak dapat berdiri sendiri. Perempuan membutuhkan lelaki begitu pula sebaliknya. Perempuan adalah pendamping terbaik lelaki, begitu pula sebaliknya. Perempuan dan lelaki diciptakan Allah
28 Hussein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan, (Yogyakarta: LKIS, 2004), h. 1.
untuk menyatu dalam satu keluarga untuk melanjutkan keturunan dan membangun masyarakat yang utuh.
Sehingga dengan keberpasangan mereka diharapkan dapat menuju pada kesempurnaan hidup.