PENDAHULUAN
A. Peran Perempuan
4. Kedudukan Perempuan dalam Islam
perempuan didambakan oleh lelaki. Jarum harus lebih kuat dari kain, dan kain harus lebih lembut dari jarum.
Kalau tidak, jarum tidak akan berfungsi, dan kainpun tidak akan terjahit. Dengan berpasangan, akan tercipta pakaian yang indah, serasi dan nyaman.
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An- Nahl[16]: 58-59)
Begitulah Al-Qur‟an menggambarkan sikap seorang laki-laki Arab pada zaman jahiliyah terhadap anak perempuan. Dia merasa malu dan murka jika disaat sedang duduk bercengkrama dengan temannya, tiba-tiba datang orang membawa berita bahwa istrinya melahirkan anak, dan anak tersebut ialah perempuan.
Kesal benar hatinya, dia menjadi marah. Mukanya menjadi hitam lantaran marah. Dia malu, kemudian pergi menyisihkan diri. Dia pun berpikir, sikap apakah yang akan diambilnya setelah menerima berita tersebut?. Akan diapakan anak perempuan yang
membawa kesialan tersebut?. Apa untung yang akan didapat dari anak perempuan?. Anak perempuan tidak dapat membantu. Dia hanya akan menjadi beban berat dalam rumah tangga. Menjelang dewasa anak perempuan tidak akan dapat menolong, dan setelah dewasa dia mesti dinikahkan dengan anak laki-laki dari kabilah lain atau keluarga lain. Sampai di sana dia telah menjadi anak orang lain.38
Sayyidina Umar bin Khaththab mengatakan sebagaimana yang dikutip oleh Buya Hamka bahwa,”di zaman jahiliyah kami tidak memandang perempuan ada, dan mereka tidak pernah kami masukan dalam perhitungan kami.” Abdullah bin Abbas mengatakan,
“perempuan pada zaman jahiliyah jika mengandung, setelah merasa sakit akan beranak, digalikanlah lubang, lalu mereka disuruh mengejankan anaknya di muka lubang tersebut. Setelah anak lahir, dilihat oleh ayahnya. Jika yang lahir anak perempuan dibiarkanlah bayi tersebut masuk langsung ke dalam lubang, dan lubang tersebut langsung pula ditimbuni dengan tanah jika yang lahir anak laki-laki, barulah disambut dengan gembira.”39
38 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014). Cet. Ke-2, h. 27.
39 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014). Cet. Ke-2, h. 28.
Sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan bagi kaum perempuan pada masa itu. Perempuan diperlakukan secara tidak wajar, mereka terpaksa menerima berbagai pelecehan dan siksaan dari kaum lelaki. Bahkan kelahiran bayi perempuan masyarakat Arab jahiliyah ditunggu untuk dapat dikubur hidup- hidup. Pelecehan dan siksaan terhadap kaum perempuan tidak hanya terjadi pada masyarakat Arab jahiliyah, tetapi juga terjadi diberbagai belahan dunia.
Penulis akan mencoba memaparkan kondisi perempuan pada masa lalu.
Pada zaman Yunani kuno, ketika hidup filosof- filosof kenamaan semacam plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), dan Demosthenes (384-322 SM), martabat perempuan dalam pandangan mereka sungguh rendah. Perempuan hanya dipandang sebagai alat penerus generasi dan semacam pembantu rumah tangga serta pelepas nafsu seksual lelaki sehingga perzinaan sangat merajalela. Socrates (470-399 SM) berpendapat bahwa dua sahabat setia harus mampu meminjamkan istrinya kepada sahabatnya, sedangkan Demosthenes (384-322 SM) berpendapat bahwa istri hanya berfungsi melahirkan anak, filosof Aristoteles menganggap perempuan sederajat dengan hamba sahaya, sedangkan Plato menilai kehormatan lelaki pada kemampuannya memerintah dan “kehormatan”
perempuan menurutnya adalah pada kemampuannya
melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana/hina sambil terdiam tanpa bicara.40
Perempuan pada masa lampau juga dinilai tidak wajar mendapat pendidikan. Elizabeth black Will, dokter perempuan pertama yang menyelesaikan studinya di Geneve Universiti pada 1849, diboikot oleh teman-temannya sendiri dengan dalih bahwa perempuan tidak wajar memperoleh pelajaran. Bahkan, ketika sementara dokter bermaksud mendirikan Institut kedokteran khusus perempuan di Philadelphia, Amerika Serikat, ikatan dokter setempat mengancam akan memboikot semua dokter yang mengajar di Institut itu.41
Sejarah mencatat betapa suatu ketika perempuan dinilai sebagai makhluk kelas dua. Dalam masyarakat Hindu, keadaan perempuan tidak lebih baik. Dalam ajaran Manu dinyatakan bahwa, “Wabah penyakit, kematian, racun, ular, dan api kesemuanya lebih baik daripada perempuan.” Istri harus mengabdi kepada suaminya bagaikan mengabdi pada Tuhan. Ia harus berjalan dibelakangnya, tidak boleh berbicara dan tidak juga makan bersamanya, tetapi memakan sisanya.
Bahkan, sampai abad ke-17, seorang istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar, kalau ingin tetap hidup sang istri harus mencukur rambutnya
40 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 113.
41 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 115.
dan memperburuk wajahnya agar terjamin bahwa ia tidak lagi diminati lelaki.42
Selanjutnya, kendati Eropa telah mengalami revolusi industri (1750 M) dan perbudakan telah dikumandangkan penghapusannya, harakah dan martabat perempuan belum juga mendapat tempat yang wajar. Mereka bekerja di pabrik-pabrik, tetapi gajinya lebih rendah daripada lelaki. Bahkan, di Inggris, sampai dengan tahun 1805, perundang-undangan mereka mengakui hak suami untuk menjual istrinya. Bahkan menurut Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935) dalam bukunya, Nida‟al-Jinsal-Lathif, mengutip koran Inggris di pedalaman Inggris (hingga masa itu) masih ditemukan suami yang menjual istrinya dengan harga yang sangat murah. Sampai tahun 1882, perempuan di sana belum memiliki hak kepemilikan harta benda secara penuh, tidak juga berhak menuntut ke pengadilan. Sisa-sisa dari pandangan ini menjadikan seorang perempuan hingga masa kita ini “harus”
menghapus nama ayahnya yang menyertai namanya sebelum ia menikah dan menggantinya dengan nama suaminya, begitu ia menjadi istri dari seorang lelaki.43
Sementara para pakar berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab bahwa kenyataan biologis yang membedakan lelaki dan perempuan mengantar kepada lahirnya pandangan tentang harakah,
42 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 113-114.
43 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 115.
martabat, serta peran utama kedua jenis makhluk Tuhan ini. Ada yang memberi lelaki kedudukan yang lebih tinggi dan peranan yang lebih besar, karena lelaki dianggap lebih kuat, lebih potensial, dan lebih produktif. Perempuan, kata Thomas Aquino (1225- 1274 M), adalah makhluk yang penciptaannya belum sempurna, mereka terbatasi oleh kodratnya yang lemah, karena organ reproduksinya menghalangi mereka melakukan sekian aktivitas akibat, menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusukan.44
Sejak muncul peradaban dan kebudayaan Kristen sejati, menyatakan sebagaimana yang dikutip oleh Buya Hamka bahwa setubuhan seks adalah aib, cela, dan dosa. Persetubuhan adalah kelemahan.
Persetubuhan adalah sifat yang menonjol dari kebinatangan. Menurut analisis Sigmund Freud, filosof dan ahli jiwa Yahudi, kebebasan seks yang ada dalam kebudayaan Barat modern sekarang ini adalah letusan
44 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 116.
(overkompensasi) dari anggapan jijik kepada persetubuhan yang diajarkan oleh Kristen.45
Pandangan hina terhadap perempuan telah menjadi kepercayaan. Perempuan dipandang sebagai najis ketika mereka sedang menstruasi sehingga wajib dijauhi. Perempuan dipandang sebagai pangkal bala dan pangkal dosa dalam dunia ini. “Seperti dilukiskan dalam Kitab Kejadian yang telah disusun manusia setelah naskah aslinya hilang karena Nebukadnezar dari Babilon ke Yerusalem.46
Pandangan negatif terhadap perempuan, serta anggapan kerendahan kualitasnya, semakin diperparah oleh masyarakat dan pendidikan di keluarga yang memprioritaskan anak lelaki dibandingkan anak perempuan. Sebagaimana yang telah penulis paparkan sebelumnya bahwa perempuan tidak wajar dan tidak pantas memperoleh pengajaran dan pendidikan. Bahkan lembaga pendidikan kedokteran yang ingin didirikan khusus untuk perempuan pun diboikot oleh ikatan dokter tersebut. Demikian kejamnya penindasan yang terjadi terhadap kaum perempuan pada masa itu.
45 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014). Cet. Ke-2, h. 67-68.
46 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014). Cet. Ke-2, h. 68.
Hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang memandang dan menempatkan perempuan di tempat yang mulia dan terpuji. Dalam Islam Perempuan sama mulianya dengan laki-laki. Di dalam bukunya Buya Hamka menulis “Tidaklah memuliakan atas perempuan melainkan orang yang mulia, dan tidaklah yang menghinakannya melainkan orang yang hina jua.”47
Setelah Rasulullah SAW. diutus Allah menjadi Rasul-Nya yang terakhir, beliau mengajak manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa. Beliau menentang keras kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah yang salah satu diantara kebiasaan buruk itu adalah membenci anak perempuan. Sejak di Mekah turunlah wahyu Ilahi yang menentang keras mengubur anak perempuan hidup-hidup. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At-Takwir ayat 8-9:48
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, Karena dosa Apakah dia dibunuh?.” (QS. At-Takwir[81]: 8- 9).
47 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 68.
48 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 28.
“Ayat tersebut sangat berpengaruh bagi masyarakat Arab, terutama masyarakat yang telah menyatakan percaya kepada Nabi Muhammad SAW, dan telah beriman kepada Allah SWT.”49 “Sejak ayat- ayat ini turun, kaum perempuan Arab mendapat kembali harga diri dan kepribadiannya.”50 Mereka tidak lagi ditunggu kelahirannya untuk dikuburkan hidup- hidup, sebagaimana kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah.
Tersebutlah bahwa Qais bin Ashim At-Tatimi datang kepada Rasulullah SAW. Mengakui terus terang bahwa pada zaman jahiliyah dia telah menguburkan anak perempuan hidup-hidup delapan orang jumlahnya.
Rupanya tiap-tiap lahir adalah perempuan dan satu persatu dikuburnya hidup-hidup. Lalu Rasulullah SAW.
Menyuruh Ashim memerdekakan delapan orang budak, agar mudah-mudahan terhapus rasa berdosa yang meliputi hatinya, setelah hati itu dimasuki Nur Islam.
Kata Nabi pula, sebab engkau kaya dengan peternakan unta, kurbankanlah delapan ekor unta sebagai tambahan dari memerdekakan delapan orang budak tersebut.51
49 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 29.
50 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 30.
51 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014). Cet. Ke-2, h. 31.
“Pada masa Nabi Muhammad SAW. perempuan diberi oleh Al-Qur‟an hak-hak dan kewajiban- kewajibannya secara seimbang. Karena hak dan kewajiban adalah bagaikan satu mata uang dengan dua sisi. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al- Baqarah ayat 228:”52
“…Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma‟ruf…” (QS. Al-Baqarah[2]: 228) Ayat tersebut menerangkan bahwa perempuan juga mempunyai hak. Penyebutan hak didahulukan daripada kewajiban, hal ini merupakan penegasan terhadap hak-hak tersebut, dan menunjukkan betapa pentingnya hak perempuan untuk diperhatikan pada masa itu (masa jahiliyah). Dengan hadirnya ayat ini tidak sedikit perempuan pada masa Nabi Muhammad SAW. yang cukup kritis dan berani berdiskusi, bahkan menolak pendapat suaminya.
52 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 122.
Imam Bukhari meriwayatkan sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab bahwa Umar Ibnu al- Khaththab ra. Menceritakan: “Kami suku Quraish (Penduduk Mekah) tadinya mengalahkan istri-istri kami, tetapi ketika kami bertemu dengan al-Anshar (kaum Muslim penduduk kota Madinah), kami menemukan kaum perempuan (istri-istri) kami meniru adab (kelakuan) perempuan-perempuan al-Anshar. Aku bersuara keras terhadap istriku, lalu dia membantahku.
Maka aku tidak menerima hal tersebut. Dia lalu berkata kepadaku: “Mengapa engkau keberatan, padahal demi Allah, istri-istri Nabi SAW. pun berdiskusi dan biasa menolak pendapat beliau, bahkan ada di antara mereka yang tidak mengajaknya berbicara sampai malam,” hal ini mengagetkanku, dan aku berpikir bahwa rugi dan celakalah istri yang melakukan hal itu. Aku kemudian menuju kepada Hafsah (anak Sayyidina Umar dan Istri Nabi Muhammad SAW.) dan bertanya kepadanya:
“Apakah salah seorang di antara kalian ada yang kesal dan marah terhadap Nabi SAW. (sebagai suami) sampai sehari semalam?”, Hafsah menjawab: “Ya”.53
53 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014),
“Kedudukan perempuan dalam Al-Qur‟an, mendapat jaminan yang tinggi dan mulia. Telah terbukti dalam sejarah hidup Rasulullah SAW. bahwa laki-laki yang beriman sama haknya dengan perempuan beriman, dan sama-sama mempunyai kewajiban dalam Islam. Bahkan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”54 Sebagaimana Allah Berfirman:
Cet. Ke-IX, h. 122-123.
54 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014). Cet. Ke-2, h. 17.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.
mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah[9]:71-72)
Diterangkan dengan jelas apa saja tugas bersama yang mereka hadapi. Jelas terlihat betapa beratnya tugas tersebut. Pertama ialah dalam menegakkan agama: amar ma‟ruf. Menegakkan kebenaran dan keadilan, mengokohkan akhlak yang tinggi dalam pembangunan masyarakat. Demikian juga nahi munkar, mencegah kemunkaran yang bisa menjatuhkan mutu masyarakat dan merusak akhlak, mengacaukan ketentraman yang telah dapat ditegakkan selama ini. Kaum laki-laki beriman dan kaum perempuan beriman sama saja tugasnya dalam amar
ma‟ruf nahi munkar ini. Rasulullah telah berkali-kali memperingatkan bahwasannya apabila amar ma‟ruf dan nahi munkar tidak tegak lagi dalam satu masyarakat, akan berakibat masyarakat tersebut akan runtuh. 55
Kemudian kewajiban yang sama-sama harus dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan adalah kewajiban membayar zakat, jika dia (lelaki dan perempuan) ada harta lebih dari satu nisab dan cukup tahunnya, maka wajib dibayarkan zakatnya. Begitu pula kewajiban shalat, berpuasa, dan kewajiban berhaji.
Meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama wajib mengerjakan shalat lima waktu dan dianjurkan mengerjakan shalat-shalat yang sunnah (nawafil), namun ketika perempuan menemui masa haid (menstruasi), maka dia tidak diwajibkan shalat, dan dia tidak wajib mengqadha shalat karena haidnya.
Selanjutnya Meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan, ketika haid datang, perempuan tidak boleh berpuasa, tetapi wajib mengqadha puasa di hari lain yang
55 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 9-10.
waktunya terbuka selama sebelas bulan dari pangkal Syawal hingga ke ujung Sya‟ban.
“Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan.”56 Perbedaan yang digarisbawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana Allah berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.
56 M. Quraish Shihab, “Membumikan Al Qur‟an,” diakses tanggal
28 Mei 2015, dari
http://media.isnet.org/islam/quraish/membumi/perempuan.html.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat[49]: 13) Islam datang dengan cahayanya yang menerangi dunia. Kedzaliman terhadap perempuan pun terangkat.
Islam menetapkan insaniyah (kemanusiaan) seorang perempuan layaknya seorang lelaki. Sebagaimana Allah berfirman:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan...” (QS Al-Hujurat[49]: 13).
“Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, kemudian Dia ciptakan dari jiwa yang satu itu pasangannya. Lalu dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki
dan perempuan yang banyak…” (QS An- Nisa[4]: 1)
Sebagaimana perempuan berserikat dengan lelaki dalam memperoleh pahala dan hukuman atas amalan yang dilakukan. Sebagaimana Allah berfirman:
“Siapa yang beramal shalih dari kalangan laki-laki ataupun perempuan sedangkan ia dalam keadaan beriman, maka Kami akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan memberikan balasan pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan.” (QS An- Nahl[16]: 97).
Dan Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 73:57
57 Aang kunaepi, “Kedudukan Perempuan dalam Islam,” diakses
tanggal 28 Mei 2015,
http://alislamiyah.ui.ac.id/2013/08/23/mempertegas:kedudukan-perempuan- dalam-islam.html.
“Agar Allah mengazab orang-orang munafik, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, dan orang-orang musyrik, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Dan agar Allah mengampuni orang-orang yang beriman, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan...” (QS al-Ahzab[33]: 73).
Allah mengharamkan perempuan dijadikan barang warisan sepeninggal suaminya. sebagaimana Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 19:
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An- Nisa[4]:19).
Sebagaimana kebiasaan adat masyarakat jahiliyah, apabila seorang lelaki meninggal, keluarganya yang terdekat, anak-anak atau saudara- saudaranya yang laki-laki lebih berhak membawa perempuan tersebut (istri si mayyit). Jika cantik dan suka, maka perempuan tersebut dinikahi, jika tidak cantik, ditahan saja di rumahnya, dikurung, tidak boleh keluar ke mana-mana sampai perempuan tersebut meninggal. Sementara keluarga perempuan tidak dapat bertindak apapun, karena keluarga suaminya yang meninggal dianggap lebih berhak atas perempuan tersebut. Hal ini yang disebut mengambil perempuan sebagai warisan dengan cara paksa. Jika keluarga si perempuan ingin melindungi, maka perempuan tersebut harus ditebus terlebih dahulu.58
58 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 86.
Dalam Islam perempuan dijadikan sebagai salah satu ahli waris dari harta kerabatnya yang meninggal.
Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 7:
“Bagi para lelaki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orangtua dan kerabat- kerabatnya. Dan bagi para perempuan ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orangtua dan kerabat-kerabatnya, baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”
(QS. An-Nisa[4]: 7)
Dari Penggalan ayat tersebut, dapat dipahami bahwa perempuan dalam Islam juga mendapat bagian dari harta warisan, bukan laki-laki saja. Jelasnya, jika seorang ayah atau seorang ibu meninggal dunia, anak- anak (ahli waris) yang mereka tinggalkan sama-sama mendapat pembagian harta pusaka. Pada zaman jahiliyah, yang menerima harta warisan hanya anak laki-laki yang besar-besar saja, sedangkan perempuan
dan anak laki-laki yang masih kecil tidak mendapat apa-apa.59
Datangnya ayat ini memberikan penjelasan bahwa bukan laki-laki saja yang mendapat warisan, serta tidak berdasarkan perhitungan umur, perempuan dan anak laki-laki yang masih kecil pun mendapat pembagian warisan. “Memang ada ketentuan bahwa laki-laki mendapatkan dua bagian atau dua kali yang didapat oleh perempuan. Hal ini adil karena laki-laki tanggungjawabnya dua kali lipat dari perempuan.60
Dalam masalah pernikahan, Allah membatasi laki-laki hanya boleh mengumpulkan empat istri, dengan syarat harus berlaku adil dengan sekuat kemampuannya diantara para istrinya. Dan Allah wajibkan bagi suami untuk bergaul dengan ma‟ruf terhadap istrinya. Sebagaimana Allah berfirman:
“…Dan bergaullah kalian dengan para istri dengan cara yang ma‟ruf…” (QS. An-Nisa[4]:
19).
59 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 82.
60 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 83.
Allah menetapkan adanya mahar dalam pernikahan sebagai hak perempuan yang harus diberikan secara sempurna, kecuali bila si perempuan merelakan dengan kelapangan hatinya. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 4:61
“Dan berikanlah mahar kepada para perempuan yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai sesuatu yang baik.” (QS. An-Nisa[4]:
4).
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa kedudukan perempuan dalam Islam mendapat tempat yang mulia dan terpuji. Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar
61 Aang Kunaepi, “Kedudukan Perempuan dalam Islam,” diakses 28
Mei 2015, http://alislamiyah.ui.ac.id/2013/08/23/mempertegas:kedudukan- perempuan-dalam–islam.html.