• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penciptaan Perempuan

PENDAHULUAN

A. Peran Perempuan

3. Penciptaan Perempuan

untuk menyatu dalam satu keluarga untuk melanjutkan keturunan dan membangun masyarakat yang utuh.

Sehingga dengan keberpasangan mereka diharapkan dapat menuju pada kesempurnaan hidup.

























“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa[4]:1)

Di dalam ayat ini diterangkan bahwa asal usul kejadian manusia adalah satu. Tafsir dari satu tersebut ada dua macam. Pertama tafsir yang biasa, yaitu pada mulanya Allah hanya menjadikan satu diri saja, Adam.

Kemudian, dari diri yang satu itulah Allah ciptakan untuknya seorang istri, yaitu Hawa. Di dalam sebuah hadits (Mauquf Shahabi) dari Ibnu Abbas diterangkan bahwa bagian diri Adam yang dijadikan untuk tubuh istrinya ialah satu dari tulang rusuknya. Hal ini pun tersebut di dalam Kitab Perjanjian Lama (Kejadian 2:

21-22). Namun, di dalam tafsir yang lain dikatakan

bahwa nafsin wahidatin bukanlah semata-mata tubuh yang kasar, melainkan pengertian biasa, yaitu diri. Diri manusia pada hakikatnya ialah satu, kemudian dibagi dua, satu menjadi bagian laki-laki dan yang satu lagi menjadi bagian perempuan, jantan dan betina. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa meskipun dua coraknya, jantan dan betina, hakikat jenisnya tetap satu, yaitu manusia. Laki-laki dan perempuan sama- sama manusia.29

Dengan demikian karena asalnya dari satu, kemudian dibelah menjadi dua, maka yang satu tetap membutuhkan yang lain. Hidup belum lengkap jika keduanya (lelaki dan perempuan) belum dipersatukan, dan apabila keduanya telah dipersatukan kembali (menikah), maka dari sinilah asal usul berkembang biaknya manusia.

Al-Thabaththaba‟i dalam tafsirnya menulis sebagaimana yang dikutip oleh M. Rasyid Ridha bahwa

perempuan (Hawa) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut sedikitpun tidak

29 Buya Hamka, Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan, (Jakarta: Gema Insani, 2014). Cet. Ke-2, h. 1-2.

mendukung faham sementara mufassir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam.” Begitu juga pendapat Rasyid Ridho dalam tafsir al-Manarnya dan rekannya al-Qasimi.

Mereka mengartikan kata nafs tidak sebagai Adam, tapi mengartikannya dengan jenis. Artinya, Adam dan Hawa diciptakan dari jenis yang sama, bukannya Hawa diciptakan dari Adam.30

Tidak ada satu petunjuk pasti dari Al-Qur‟an dan Sunnah yang mengantar kita untuk menyatakan bahwa unsur perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan lelaki.

Ide penafsiran tersebut menurut Rasyid Ridha adalah akibat adanya pengaruh dari apa yang termaktub dalam Perjanjian Lama (Kejadian II: 21-22) yang mengatakan bahwa “ketika Adam tertidur lelap, maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkannya pula tempat itu dengan daging, maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam tersebut, dibuat Tuhan menjadi seorang perempuan.” Selanjutnya Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir Al-Manar, menulis: "Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama (Kejadian II:21-22) seperti redaksi yang mengarah kepada pemahaman di atas, niscaya pendapat yang menyatakan bahwa perempuan

30M. Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Kairo: Dar Al-Manar, 1367 H.

diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang Muslim."31

Benar ada hadits yang berbunyi demikian, dan yang dipahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang kemudian mengesankan kerendahan derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki. Namun, cukup banyak ulama yang telah menjelaskan makna sesungguhnya dari hadits tersebut. Tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwa hadits tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalau pun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.32

31 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati,2014), Cet. Ke-IX, h. 45.

32 M. Quraish Shihab, “Membumikan Al-Qur‟an,” diakses tanggal

28 Mei 2015, dari

http://media.isnet.org/islam/quraish/membumi/perempuan.html.

Ulama-ulama klasik memahami hadits tersebut secara harfiah sehingga timbul pemahaman seperti itu.

Sedangkan para ulama kontemporer banyak yang memahami secara metafora, bahkan ada yang menolak keshahihan hadits tersebut, para ulama yang memahami secara metafora berpendapat bahwa hadits tersebut berisi peringatan untuk kaum laki-laki agar senantiasa bersikap hati-hati, bijaksana dan tidak kasar dalam menghadapi perempuan. Karena mereka mempunyai sifat, karakter dan kecenderungan yang tidak sama dengan laki-laki. Siapapun tidak akan mampu mengubah kodrat, termasuk kodrat perempuan. Kaum laki-laki tidak akan mampu merubah karakter dan sifat bawaan perempuan yang kadang membuat mereka kesal, atau bahkan emosional. Kalaupun mereka berusaha memaksa perubahan tersebut, maka akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.33

33 Aang Kunaepi, “Kedudukan Perempuan dalam Islam,” diakses

tanggal 28 Mei 2015, dari

http://alislamiyah.ui.ac.id/2013/08/23/mempertegas-kedudukan-perenpuan- dalam-islam.html.

Adapun hikmah dari disebutkannya hal tersebut dalam surat An-Nisa ayat 1 adalah agar manusia (lelaki dan perempuan) merasa mempunyai persamaan satu sama lain. Manusia berasal dari nasab yang satu, bapak yang satu, yaitu Adam, sehingga sudah seharusnya hidup bersaudara, saling tolong-menolong dan saling mengasihi. Dengan demikian, anggapan rendah terhadap perempuan yang didasarkan pada surat An- Nisa ayat 1 adalah tidak tepat sama sekali.

Diciptakannya perempuan dan laki-laki sama sekali tidak bisa dijadikan legitimasi lebih tingginya derajat kemanusiaan laki-laki atas perempuan.

“Terdapat banyaknya teks keagamaan yang mendukung persamaan unsur kejadian lelaki dan perempuan. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ali-Imran[3] ayat 195:”34





































34 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX, h. 45.





















































Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman):

"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.

Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan- kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai- sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (QS. Ali-Imran[3]:195).

Maksud ayat tersebut menurut M. Quraish Shihab adalah, bahwa sebagian kamu (hai umat manusia, yakni lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki, dan sebagian yang lain (yakni perempuan demikian juga halnya). Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia, tak ada perbedaan antara mereka dari segi asal kejadian kemanusiannya.

Dengan konsiderasi ini, Al-Qur‟an menegaskan,”Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan...” (QS. Ali-Imran[3]: 195)35

Maksud dari ayat-ayat semacam ini tidak lain adalah untuk mengikis habis anggapan bahwa kaum pria adalah superior dan kaum perempuan inferior.

Islam memandang kedua jenis kelamin ini dalam posisi yang seimbang, karena pada hakikatnya semua manusia adalah sama derajat kemanusiaannya. Tidak ada kelebihan satu dibanding yang lainnya disebabkan oleh suku, ras, golongan, agama, dan jenis kelamin mereka.36

Menurut Islam, nilai kemuliaan manusia semata-mata hanya terletak pada ketaqwaannya.

Sebagaimana Allah berfirman:

35 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2014), Cet. Ke-IX. h. 46

36 Aang Kunaepi, “Kedudukan Perempuan dalam Islam,” diakses

tanggal 28 Mei 2015, dari

http://alislamiyah.ui.ac.id/2013/08/23/mempertegas:kedudukan-perempuan- dalam-islam-html.











































Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat[49]:13) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Al- Quran menolak pandangan-pandangan yang membedakan unsur penciptaan (lelaki dan perempuan) dengan menegaskan bahwa keduanya berasal dari satu jenis yang sama. Dan bahwa dari keduanya secara bersama-sama Allah mengembangbiakkan keturunannya baik lelaki maupun perempuan. Lelaki lahir dari pasangan pria dan wanita, begitu juga perempuan. Karena itu, tidak ada perbedaan dari segi kemanusiaan antara keduanya. Kekuatan lelaki dibutuhkan oleh perempuan, dan kelembutan

perempuan didambakan oleh lelaki. Jarum harus lebih kuat dari kain, dan kain harus lebih lembut dari jarum.

Kalau tidak, jarum tidak akan berfungsi, dan kainpun tidak akan terjahit. Dengan berpasangan, akan tercipta pakaian yang indah, serasi dan nyaman.

Dokumen terkait