PENDAHULUAN
A. Peran Perempuan
5. Peran Perempuan
Arti kata peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “pemain sandiwara (film) atau perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat, watak peran yang terutama ditentukan oleh ciri-ciri individual yang sifatnya khas dan istimewa.”62
Adapun arti kata perempuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui, sama dengan
62 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, http://kbbi.web.id/peran, diakses tanggal 28 Mei 2015.
wanita, istri, serta bini.”63 Dari kedua arti di atas dapat disimpulkan bahwa peran perempuan adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan kepada perempuan. Peran menerangkan pada apa yang harus dilakukan perempuan dalam suatu situasi tertentu, agar dapat memenuhi harapan mereka sendiri dan harapan orang lain.
Al-Qur‟an telah menjelaskan betapa pentingnya peran perempuan, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, maupun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban- kewajibannya. Peran perempuan dikatakan penting karena banyak kewajiban berat yang harus ditanggungnya, baik di dalam keluarga, masyarakat, agama dan bangsa.
Berikut ini akan dikemukakan peran perempuan dalam Islam:
a. Peran perempuan sebagai hamba Allah SWT Sebagai hamba Allah, kaum perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama dengan kaum lelaki, yaitu sama-sama berkewajiban untuk
63 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, http://kbbi.web.id/peran, diakses tanggal 28 Mei 2015.
mengabdikan diri kepada Allah SWT. Allah berfirman yang artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah Kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat[51]:
56).
b. Peran perempuan sebagai istri
Sebagai istri, perempuan adalah sahabat bagi suaminya. Kepadanya melekat sejumlah kewajiban yang harus dilaksanakan kepada suaminya. Antara lain, seorang istri harus bisa menjaga rahasia suami dan semua yang ada di rumah suaminya. Karena semuanya itu adalah amanah, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Sebagai rabbat al-bayt (pengurus rumah tangga), seorang istri juga dituntut memiliki keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan. Bukan hanya keahlian dan keterampilan memasak, menata rumah, menata penampilan, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan dalam masalah kesehatan dan keuangan.
c. Peran perempuan sebagai ibu
Ibu adalah Madrasah pertama bagi anak- anaknya. Darinya, anak pertama kali belajar.
Karena itu, seorang ibu dituntut agar ekstra hati- hati, sebab dia mempunyai pengaruh yang besar terhadap anak-anaknya. Ibu yang baik tentu akan melahirkan generasi yang baik pula. Maka pantas jika perempuan dinobatkan sebagai tiang Negara.
Demikian ungkapan bijak itu sering kita dengar.
Sejumlah penemuan baru tentang perkembangan intelektual dan perilaku anak meniscayakan adanya tanggung jawab yang besar kepada kedua orangtuanya, khususnya ibu. Karena ibulah yang paling sering berinteraksi dengan anak-anaknya.
d. Peran perempuan sebagai anggota masyarakat Seorang perempuan juga menjadi bagian dari sebuah masyarakat. Dengan begitu, dia juga memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan dan kondisi sosialnya. Posisi ini menuntut peranan seorang perempuan, tidak hanya dalam kehidupan pribadi, tetapi juga kehidupan politik. Ini merupakan bagian yang accommodate dalam tanggung jawab amar ma‟ruf nahi munkar.
Peranan ini menuntut seorang perempuan untuk mampu dan cakap dalam mengambil langkah- langkah praktis yang dibutuhkan dalam melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakatnya.64
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting di dalam kehidupan. Tanpa peran perempuan kehidupan tidak akan berjalan dengan semestinya. Sebab perempuan adalah pencetak generasi baru, sekiranya di muka bumi ini hanya dihuni oleh lelaki, kehidupan mungkin sudah terhenti berabad-abad yang lalu. Oleh karena itu perempuan tidak bisa diremehkan dan diabaikan, karena dibalik semua keberhasilan dan kontinuitas kehidupan pasti ada peran perempuan.
64 Panenblog, “Peran Wanita dan Kedudukannya dalam Islam,”
diakses tanggal 28 Mei 2015, dari
http://freeblogpanen.blogspot.com/2010/04/peranan-wanita-dan- kedudukannya-dalam.html.
B. Peningkatan Kualitas Baca Tulis Al-Qur’an 1. Pengertian Al-Qur’an
Para ahli ilmu-ilmu Al-Quran pada umumnya berasumsi bahwa kata Qur‟an terambil dari kata qara‟a-yaqra‟u-qira‟atan-wa-qur‟anan
yang secara harfiah berarti bacaan.
Dalam Al-Qur‟an sendiri memang terdapat beberapa kata Qur‟an yang digunakan untuk pengertian bacaan, diantaranya:
”Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al- Qiyamah[75]: 18)
“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia.” (QS. Al-Waqi‟ah[56]: 77)
“Dan Kami tidak mengajarkan sya‟ir kepadanya (Muhammad) dan bersya‟ir itu
tidaklah layak baginya. Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.” (QS. Yasin[36]: 69).65
Qur„an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan oleh Dr. Subhi Al Salih berarti “bacaan”, asal kata qara‟a. kata Al-Qur‟an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf‟ul yaitu maqru (dibaca), di dalam Al-Qur‟an sendiri ada pemakaian kata Qur‟an dalam arti demikian sebagai tersebut dalam surat Al-Qiyamah[75] ayat 17-18. Adapun Subhi Al- Salih mendefinisikan Al-Qur‟an menurut istilah ialah Kalam Allah SWT. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW. yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.66
Senada dengan pendapat di atas, menurut Ulama Ushul, Fiqh, dan Bahasa Arab sebagaimana yang dikutip oleh M. Abdul Adzim Al-Zarqani bahwa Al- Qur‟an adalah “Kalam yang mengandung kemukjizatan yang diturunkan kepada Nabi SAW. yang tertulis dalam mushaf-mushaf yang diriwayatkan secara mutawatir, dan yang dinilai ibadah bila membacanya.”67
65 M. Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur‟an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), Cet. Ke-1, h.20.
66 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, (Jakarta:
Mahkota, 1990), h. 13.
67 M. Abdul Adzim Al-Zarqani, Manahil Al-‟Urfan Fi‟Ulum Al- Qur‟an, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), Cet. Ke-1, h. 9.
Menurut M. Ali Ash Shabuuniy, Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan malaikat Jibril, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas. dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (oleh orang banyak), serta mempelajarinya merupakan ibadah. Definisi tersebut telah disepakati oleh para ulama dan Ahli Ushul.68
Adapun pengertian Al-Qur‟an menurut M.
Quraish Shihab adalah “Kalam (firman) Allah yang sekaligus merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. dalam bahasa Arab, yang sampai kepada umat manusia dengan cara al tawattur (langsung dari Nabi Muhammad SAW. kepada orang banyak), yang kemudian termaktub dalam bentuk mushaf, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas.”69
Selanjutnya menurut Afif „Abd al-Fattah sebagaimana yang dikutip oleh M. Amin Suma bahwa Al-Qur‟an ialah “Wahyu Allah yang diturunkan dari
68 M.Ali Ash-Shabuuniy, Studi Ilmu Al-Qur‟an, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet.ke-1. h. 15.
69 M.Quraish Shihab, Sejarah dan Ulumul Qur‟an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. ke-VIII, h. 39.
sisi Allah, kepada Rasul-Nya Muhammad Ibn „Abd Allah, penutup para nabi, yang dinukilkan daripadanya dengan penukilan yang mutawatir nazham/lafal maupun maknanya, dan merupakan kitab samawi yang paling akhir penurunannya.”70
Sedangkan pengertian Al-Qur‟an menurut Manna‟ Al-Qhattan adalah:
“Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. dan orang yang membacanya memperoleh pahala.”
Adapun pengertian Al-Qur‟an menurut Al- Jurjani adalah :
70 M. Amin Suma, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur‟an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), Cet. ke-1, h. 25.
“Yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.
ditulis dalam mushaf, dan diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.”71
Dari definisi-definisi tersebut terdapat beberapa unsur Al-Qur‟an yang disepakati oleh para pakar ilmu- ilmu Al-Qur‟an. Unsur-unsur Al-Qur‟an yang dimaksudkan ialah:
a. Al-Qur‟an adalah wahyu atau kalam Allah SWT.
Semua definisi yang diberikan para ahli, selalu diawali dengan penyebutan Al-Qur‟an sebagai Kalam atau wahyu Allah SWT.
b. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ini menunjukkan bahwa kalam atau wahyu Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul Allah yang lain, tidak dapat dinamakan Al- Qur‟an.
c. Al-Qur‟an disampaikan melalui malaikat Jibril.
Semua ayat Al-Qur‟an diwahyukan dengan perantaraan malaikat Jibril.
d. Al-Qur‟an diturunkan dalam bentuk lafal Arab.
Dari keempat unsur Al-Qur‟an di atas, dapatlah dikatakan bahwa Al-Qur‟an ialah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. dalam bentuk lafal Arab, dengan perantaraan Malaikat Jibril.
Sedangkan hal-hal lain seperti dinukilkan kepada kita dengan cara mutawatir, diawali dengan surat Al- Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, serta ditulis dalam Mushaf, itu menyangkut hal-hal yang bersifat
71 “Pengertian Al-Qur‟an,”
http://coretanbinderhijau.blogspot.com/2013/06/makalah-pengertian-al- qur‟an.html, diakses tanggal 28 Mei 2015.
teknis bagi penyampaian dan pemeliharaan Al- Qur‟an.72
Dengan pengertian tersebut, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW.
tidak dinamakan Al-Qur‟an. Seperti kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa, atau kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al- Qur‟an.73
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian Al-Qur‟an adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah SWT. yang diwahyukan dalam bahasa Arab, kepada Nabi Muhammad SAW. melalui perantara malaikat Jibril, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (oleh orang banyak), serta membacanya bernilai ibadah. Allah menurunkan Al-Qur‟an agar dijadikan undang-undang bagi umat manusia dan petunjuk atas kebenaran Rasul
72 M. Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu Al Qur‟an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), Cet. Ke-1, h. 24-27.
73 Departemen Agama RI, Al Qur‟an dan terjemahnya, (Jakarta:
Mahkota, 1990), h. 13.
dan penjelasan atas kenabian dan kerasulannya, juga sebagai alasan yang kuat di hari kemudian bahwa Al- Qur‟an benar-benar diturunkan dari Zat Yang Mahabijaksana lagi Terpuji.