PENDAHULUAN
A. Peran Perempuan
2. Keutamaan Al-Qur’an
dan penjelasan atas kenabian dan kerasulannya, juga sebagai alasan yang kuat di hari kemudian bahwa Al- Qur‟an benar-benar diturunkan dari Zat Yang Mahabijaksana lagi Terpuji.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka, dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fatir[35]:
29-30).
2) Allah berfirman :
“Dan apabila dibacakan Al-Qur‟an, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al- A‟raf[7]: 204)
3) Allah berfirman :
“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur‟an ataukah hati mereka terkunci?.” (QS.
Muhammad[47]: 24).
Hadits Nabi SAW:
Rasulullah SAW. bersabda:
Hajjaj bin Minhal menyampaikan kepada kami dari syu‟bah, dari Alqamah bin Marstad yang mengatakan, aku mendengar dari sa‟d bin Ubaidah, dari Abu Abdurrahman as- Sulaimi, dari Utsman bahwa Nabi saw.
bersabda, “Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur‟an dan mengajarkannya.” Sa‟d bin Ubaidah berkata,”Abu Abdurrahman as-Sulaimi mengajarkan Al-Qur‟an kepada orang-orang semenjak masa kekhalifahan Utsman hingga masa Hajjaj. Abu Abdurrahman berkata,
„hadits itu yang telah membuat betah duduk di tempat dudukku ini (untuk mengajarkan Al- Qur‟an).” (HR. al-Bukhari).74
Menurut Abdul Aziz Abdul Rauf, keistimewaan tadabbur Al-Qur‟an adalah “Al- Qur‟an akan benar-benar menjadi ruh (penggerak) bagi kemajuan kehidupan manusia, jika selalu dibaca dan ditadabburkan makna yang terkandung dalam setiap ayat-ayatnya. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Shaad ayat 29:”75
74 Imam al-Bukhâri, Shahîh al-Bukhâr, juz 6, Kitab Fadhâil Al- Qur‟an, Bab Khoirukum Man Ta‟allam Al-Qur‟an wa „Allamahu, h. 192, Hadis nomor 5027.
75 Abdul Aziz Abdur Rauf, Pedoman Dauroh Al Qur‟an, (Jakarta:
Alfin Press, 2006), Cet. Ke- XI, h. iv.
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shaad[38]: 29) Lebih lanjut Abdul Aziz Abdur Rauf menjelaskan bahwa “Al-Qur‟an selain dibaca atau direnungkan juga perlu dihafal, dipindahkan dari tulisan ke dalam dada, karena hal ini merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu, juga sebagai tolok ukur keimanan dalam hati seseorang. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 49:”76
“Sebenarnya Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari
76 Abdul Aziz Abdur Rauf, Pedoman Dauroh Al Qur‟an, (Jakarta:
Alfin Press, 2006), Cet. Ke-XI, h.v.
ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut[29]: 49)
Dari pemaparan ayat dan hadits di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak ayat Al-Qur‟an dan hadits Nabi SAW. yang menunjukkan kelebihan dan keagungan kitab suci Al-Qur‟an.
Diantaranya ada yang berhubungan dengan keutamaan-keutamaan membaca dan memperhatikannya, dan adapula yang berhubungan dengan keutamaan tentang penghafalannya. Selain itu, tidak sedikit pula tertera dalam kitab Allah tentang ayat-ayat yang menyerukan kepada orang- orang mukmin untuk menghayati dan menerapkan hukum-hukumnya, di samping seruan untuk mendengarkan bacaannya dengan penuh perhatian ketika dibacakan ayat-ayat Al Qur‟an.
Al-Qur‟an merupakan petunjuk serta pedoman hidup bagi umat manusia. Manusia yang selamat dan berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, adalah yang senantiasa berpegangteguh kepada kitab suci Al-Qur‟an, yaitu orang-orang yang istiqomah dalam
membaca, mengkaji, serta mengamalkan Al-Qur‟an di dalam kehidupannya.
Al-Qur‟an dapat menjadi obat dari segala macam penyakit hati yang paling mujarab, karena dengan membaca dan menghayati ayat-ayat Al- Qur‟an, dapat menentramkan hati orang yang membacanya. Sehingga orang yang membaca Al- Qur‟an sekaligus menghayati maknanya akan terhindar dari segala macam penyakit hati. Al- Qur‟an juga dapat memberikan rahmat dan syafa‟at/pertolongan kepada para pembacanya di hari kiamat, dimana pada saat itu, tidak akan ada lagi pertolongan selain pertolongan dari syafa‟at Al- Qur‟an dan syafa‟at Rasulullah SAW. Dan Orang- orang yang senantiasa membaca dan mengkaji Al- Qur‟an serta mengamalkannya secara konsisten, maka Allah akan memuliakan mereka, dan Allah menjanjikan surga bagi mereka.
3. Adab Pengajar dan Pelajar Al-Qur’an a. Adab Pengajar Al-Qur’an
Menurut buku yang ditulis oleh Supian, panduan atau adab pengajar Al-Qur‟an diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Pertama-tama yang mesti dilakukan oleh guru dan pembaca adalah ikhlas hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT. (QS.
Al-Bayyinah[98]:5).
2) Hendaknya seseorang tidak memiliki tujuan dengan ilmu yang dimilikinya untuk mencapai kesenangan dunia berupa harta atau ketenaran, kedudukan, keunggulan atas orang-orang lain, pujian dari orang banyak, atau ingin mendapatkan perhatian orang banyak dan hal- hal seperti itu.
3) Hendaklah dia waspada agar tidak memaksakan banyak orang yang belajar dan orang yang datang kepadanya, hendaklah dia tidak membenci murid-muridnya yang belajar kepada orang lain selain dirinya.
4) Pengajar mesti memiliki akhlak yang baik, berkelakuan terpuji dan sifat-sifat baik yang diutamakan Allah SWT.
5) Seorang pengajar sudah sepatutnya bersikap lemah lembut kepada muridnya dan menyambutnya serta berbuat baik kepadanya sesuai dengan keadaannya.
6) Seorang guru mesti memberikan nasihat yang baik bagi muridnya.
7) Sudah sepatutnya guru tidak menyombongkan diri kepada para pelajar, tetapi bersikap lemah lembut dan rendah hati terhadap mereka.
8) Sudah sepatutnya pelajar dididik secara berangsur-angsur dengan adab-adab yang luhur dan perilaku yang baik serta dilatih dirinya atas perkara-perkara kecil yang terpuji.
9) Mengajar adalah fardhu kifayah jika tidak ada orang yang mampu kecuali seorang saja, maka wajib baginya mengajar. Jika ada beberapa orang yang setengah dari mereka bisa mengajar tetapi mereka menolak, maka mereka berdosa. Jika setengah dari mereka mengerjakannya, gugurlah tanggung jawab dari yang selainnya. Jika salah seorang dari mereka diminta sedang dia menolak, maka pendapat yang lebih tepat ialah dia tidak berdosa, tetapi dihukumkan makruh keatasnya jika tiada halangan.
10) Diutamakan para guru untuk mementingkan pengajaran dibandingkan dengan keperluan dirinya yang bersifat duniawi yang bukan keperluan utama yang amat mendesak.
11) Jika jumlah mereka banyak, maka dahulukan yang pertama, kemudian yang berikutnya. Jika yang pertama rela gurunya mendahulukan selain dirinya, maka ia bisa mendahulukannya.
Hendaklah guru menunjukkan kegembiraan dan muka yang berseri-seri, memeriksa keadaan mereka dan menanyakan siapa yang tidak hadir dari mereka.
12) Para ulama berkata: “Janganlah guru menolak mengajari seseorang karena niatnya tidak benar.”
13) Termasuk adab seorang guru yang amat ditekankan dan perlu diperhatikan ialah menjaga kedua tangannya ketika mengajar dari bermain-main dan menjaga kedua matanya dari memandang kemana-mana tanpa keperluan.
14) Guru tidak boleh melakukan perbuatan yang dapat merendahkan derajat ilmunya, merusak kehormatan dirinya baik di depan muridnya maupun masyarakatnya.77
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang guru Al-Qur‟an harus dapat memperhatikan, dan mengaplikasikan adab bagi seorang guru Al-Qur‟an di dalam kegiatan belajar mengajar Al-Qur‟an. Agar dapat tercipta suasana belajar mengajar Al-Qur‟an yang harmonis dan penuh keberkahan. Sebagai contoh, dengan adanya salah satu adab, yaitu keikhlasan guru dalam mengajar Al-Qur‟an, maka ilmu yang guru sampaikan akan mudah diserap oleh murid- muridnya. Keikhlasan guru dalam mengajar merupakan faktor yang sangat penting, karena dengan keikhlasan dapat mendatangkan keberkahan ilmu yang bermanfaat. Selain itu, guru juga harus
77 Supian, Ilmu-Ilmu Al-Qur‟an Praktis, (Jakarta: Gaung Press, 2012), Cet. Ke-1, h. 163-167.
memiliki sifat lemah lembut, penuh kasih sayang, sabar dan telaten dalam menghadapi murid- muridnya.
Dengan adanya adab dan etika bagi guru Al- Qur‟an, diharapkan dapat menjadi acuan bagi guru dalam bersikap, dan berakhlak terhadap murid- muridnya, sehingga kekerasan guru terhadap murid- muridnya dapat dihindari. Sebagaimana fenomena yang seringkali terjadi saat ini yaitu kekerasan guru terhadap murid-muridnya. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan, karena sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam, dan yang demikian adalah penyimpangan terhadap adab dan etika bagi seorang guru Al-Qur‟an. Islam telah mengatur adab bagi seorang guru Al-Qur‟an. Guru adalah teladan, dan panutan yang wajib memberikan contoh yang baik bagi anak didiknya. Oleh karena itu bagi setiap guru khususnya guru Al-Qur‟an, harus dapat memperhatikan dan mematuhi adab bagi pengajar Al-Qur‟an. Sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih kondusif dan nyaman.
b. Adab Pelajar Al-Qur’an
Mempelajari Al-Qur‟an adalah mempelajari kalam-kalam Allah, dan kalam Allah lebih mulia dari apapun di muka bumi ini. Sehingga bersikap ketika belajar Al-Qur‟an harus dapat dibedakan dengan bersikap ketika belajar ilmu-ilmu lain, karena sesungguhnya tidak akan mendapat berkah dari ilmu Al-Qur‟an yang dipelajari jika adab- adabnya tidak diperhatikan.
Menurut buku yang ditulis oleh Supian, panduan atau adab Pelajar Al-Qur‟an diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Semua yang termasuk dalam adab pengajar (guru) juga merupakan adab bagi pelajar.
2) Menjalani proses belajar dengan tekun, dan menghindari diri dari perbuatan dan prilaku di luar keperluan belajar, kecuali hal yang mesti dilakukan karena keperluan. Hendaklah dia membersihkan hatinya dari kotoran-kotoran dosa supaya bisa menerima Al-Qur‟an, menghafal, dan mengamalkannya.
3) Janganlah belajar kepada guru, kecuali dari orang yang lengkap keahliannya, menonjol keagamaannya, nyata pengetahuannya, dan terkenal kebersihan dirinya.
4) Hendaklah memulai belajar di ruang/majelis gurunya dalam keadaan memiliki sifat-sifat
sempurna, keikhlasan dan budi pekerti yang baik.
5) Hendaklah menunjukkan adab yang baik terhadap teman sekelasnya dan orang-orang yang menghadiri majelis gurunya.
6) Tidak belajar kepada guru ketika guru sedang sibuk, atau dalam keadaan takut, sedih, gelisah, dan hal-hal lain yang dapat menghalangi guru untuk dapat mengajar dengan baik dan serius. Hendaklah dia manfaatkan waktu-waktu dimana gurunya dalam keadaan sempurna.
7) Gemar, sungguh-sungguh dan tekun menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan ilmu yang sedikit, apabila bisa belajar banyak.
8) Hendaklah pergi kepada guru paling awal, memelihara bacaan hafalannya dan tidak mengutamakan orang lain pada waktu gilirannya karena mengutamakan orang lain dalam hal ibadah adalah makruh. Kecuali jika guru melihat adanya kemaslahatan mengutamakan orang lain.78
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa semua yang termasuk dalam adab bagi pengajar Al-Qur‟an juga merupakan adab bagi pelajar Al- Qur‟an. Adab bagi pelajar Al-Qur‟an wajib diperhatikan dan ditaati oleh seluruh pelajar. Agar
78 Supian, Ilmu-Ilmu Al-Qur‟an Praktis, (Jakarta: Gaung Press, 2012), Cet. Ke-1, h. 167-169.
tercipta suasana belajar Al-Qur‟an yang harmonis, kondusif, nyaman, dan penuh dengan keberkahan.
Seorang pelajar harus menghormati pengajar, khususnya pengajar Al-Qur‟an, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya mengenai ayat dan hadits terkait dengan perintah agar menghormati golongan Al-Qur‟an. Pengajar Al-Qur‟an adalah orang yang mahir Al-Qur‟an, maka pengajar Al- Qur‟an termasuk golongan Al-Qur‟an yang wajib dihormati.
Para pelajar harus dapat mematuhi semua perintah pengajar Al-Qur‟an, agar ilmu yang diberikan oleh pengajar Al-Qur‟an menjadi berkah dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Serta diharapkan nantinya para pelajar tersebut dapat meneruskan perjuangan pengajar Al-Qur‟annya, dengan berbagai inovasi dan metode-metode mengajar Al-Qur‟an yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya.
Dengan adanya adab belajar Al-Qur‟an, diharapkan dapat menjadi rambu-rambu bagi pelajar untuk bersikap dan berakhlak kepada
pengajar Al-Qur‟an. Sehingga diharapkan para pelajar tidak hanya pandai dalam membaca, menghafal, dan mengkaji Al-Qur‟an, tetapi juga pandai dalam berakhlak, sesuai dengan akhlak Al- Qur‟an.
4. Adab Membaca dan Berinteraksi dengan Al-Qur’an a. Adab dan Etika Membaca Al-Qur’an
Bagi seorang muslim yang membaca Al- Qur‟an hendaknya melazimi adab-adab membaca Al-Qur‟an yang diajarkan Islam di dalam Al- Qur‟an maupun Hadits. Dengan melazimi adab membaca Al-Qur‟an, maka bacaan Al-Qur‟an menjadi ibadah yang diterima Allah SWT.
Berikut ini akan dikemukakan adab dan etika membaca Al-Qur‟an menurut buku yang ditulis oleh Supian, diantaranya yaitu:
1) Hendaklah menghadirkan hatinya dalam keadaan sedang bermunajat kepada Allah dan membaca Al-Qur‟an seperti keadaan orang yang melihat Allah, jika dia tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatnya.
2) Sebelum membaca Al-Qur‟an, hendaklah membersihkan mulut dengan siwak atau lainnya. Apalagi apabila mulut dalam keadaan bau dari bangun tidur atau berbau.
Karena membaca Al-Qur‟an harus dalam keadaan suci.
3) Membaca Al-Qur‟an disunnahkan di tempat yang bersih dan terpilih. Terutama di masjid, karena merupakan tempat yang bersih dan mulia serta menghasilkan keutamaan lain, yaitu i‟tikaf.
4) Diutamakan bagi pembaca Al-Qur‟an di luar shalat supaya menghadap kiblat.
5) Jika akan memulai membaca Al-Qur‟an, hendaklah membaca ta‟awudz, memohon perlindungan Allah SWT.
6) Hendaklah membaca Al-Qur‟an selalu membaca Basmalah pada awal setiap surah selain surah At-Taubah.
7) Jika telah mulai membaca Al-Qur‟an, hendaklah bersikap khusyu‟ dan merenungkan maknanya ketika membaca.
8) Anjuran mengulang-ulang ayat untuk direnungkan.
9) Menangis ketika membaca Al-Qur‟an.
10) Hendaklah membaca Al-Qur‟an dengan tartil.
11) Diutamakan jika membaca ayat yang mengandung rahmat agar memohon kepada Allah, dan apabila membaca ayat yang mengandung siksaan agar memohon perlindungan kepada Allah dari siksaan itu.
12) Memuliakan Al-Qur‟an dari hal-hal yang kadang-kadang diabaikan oleh sebagian orang yang lalai ketika membaca Al-Qur‟an bersama-sama. Diantaranya menghindari tertawa, berbisik-bisik dan bercakap-cakap di tengah pembacaan, kecuali perkataan
yang perlu diucapkan. (QS. Al A‟raf[7]:204).
13) Tidak boleh membaca Al-Qur‟an dengan selain bahasa Arab, terutama dalam shalat, karena shalatnya tidak sah. Kecuali di luar shalat karena dengan maksud mempelajari isi kandungannya, itupun sebaiknya dibaca ayatnya terlebih dahulu.
14) Diharuskan membaca Al-Qur‟an dengan tujuh qira‟at seperti bacaan yang disetujui.
Dan tidak boleh dengan selain yang tujuh bacaan itu dan tidak pula dengan riwayat- riwayat asing yang dinukil (diambil) dari ketujuh ahli qira‟ah itu.
15) Jika memulai dengan bacaan salah satu qiraat, maka hendaknya tetap dalam qiraah tersebut selama masih dalam keadaan membaca pada saat itu.
16) Sangat afdhal membaca menurut tertib urutan Mushaf, mulai dari Al-Fatihah, kemudian Al-Baqarah, Ali-Imran dan seterusnya baik membacanya dalam shalat atau di luar shalat.
17) Membaca Al-Qur‟an dari Mushaf lebih utama dari pada membacanya dengan hafalan karena memandang dalam Mushaf adalah ibadah yang diperintahkan, maka berkumpullah bacaan dan pandangan itu.
18) Anjuran membaca Al-Qur‟an oleh jama‟ah secara bersama-sama dan keutamaan bagi orang-orang yang membaca bersama-sama dan yang mendengarkannya serta keutamaan orang yang mengumpulkan, mendorong dan menganjurkan mereka melakukan hal itu.
19) Anjuran membaca Al-Qur‟an sambung menyambung secara bergantian. Maksudnya adalah sejumlah orang berkumpul, setengah dari mereka membaca sepuluh ayat atau sebagian kemudian diam dan lainnya meneruskan bacaan, kemudian lainnya lagi.
Ini boleh dilakukan dan baik. Di Indonesia sering dikenal dengan tadarus.
20) Dianjurkan membaca Al-Qur‟an dengan suara yang nyaring, merdu dan kuat.
21) Sunnah mengindahkan suara pada waktu membaca Al-Qur‟an.
22) Sunnah mencari guru Al-Qur‟an yang baik dan bagus suaranya. Anjuran melakukan ini disetujui oleh para ulama dan itu adalah kebiasaan orang-orang baik dan ahli ibadah serta hamba-hamba Allah SWT yang shaleh.
Perbuatan itu adalah sunnah dari Rasulullah SAW.
23) Jika memulai membaca dari tengah surah atau berhenti di tempat yang bukan akhirnya, agar memulai permulaan kalam yang saling berkaitan antara satu sama lain dan berhenti pada kalimat yang sempurna.
24) Makruh membaca Al-Qur‟an dalam beberapa keadaan, ruku‟, sujud dan tasyahud serta keadaan-keadaan shalat lainnya, kecuali jika berdiri. Makruh membaca lebih dari Al-Fatihah bagi makmum dalam keadaan sembahyang yang dikeraskan bacaannya jika dia mendengar bacaan imam.
Makruh pula membacanya dalam keadaan duduk di tempat buang hajat dan dalam
keadaan mengantuk atau ketika khatib sedang berkhutbah.
25) Apabila membaca Al-Qur‟an kemudian menguap, maka hendaklah dia menghentikan bacaannya hingga sempurna keluarnya dengan menutup mulut, kemudian setelah itu baru kembali membaca.
26) Tidak boleh membaca Al-Qur‟an yang dimaksudkan sebagai ucapan. Karena itu membaca Al-Qur‟an dengan tujuan urusan dunia, terutama di dalam shalat.
27) Jika membaca sambil berjalan, kemudian melewati orang lain, diutamakan memutuskan bacaan dan memberi salam kepada mereka, kemudian melanjutkan bacaannya. Jika dia mengulangi ta‟awudz, maka perbuatan itu lebih baik.
28) Apabila melewati orang yang sedang duduk membaca Al-Qur‟an, pendapat yang lebih utama adalah tidak memberi salam kepada pembaca Al-Qur‟an, karena dia sedang sibuk membaca.
29) Jika datang kepada pembaca Al-Qur‟an orang yang berilmu atau terhormat atau orang tua yang terpandang atau mereka memiliki kehormatan sebagai pemimpin atau lainnya, maka boleh berdiri untuk menghormati dan memuliakannya, bukan karena riya‟ dan membanggakan diri.
Perbuatan itu mustahab (sunnah), termasuk dari perbuatan Nabi SAW. dan perbuatan para sahabatnya dihadapan beliau, serta perbuatan para tabi‟in dan ulama yang shaleh setelah mereka.
30) Melakukan sujud tilawah apabila bertemu dengan ayat-ayat sajadah.
31) Waktu-waktu yang terbaik untuk membaca Al-Qur‟an, yaitu:
a) Di dalam Shalat
b) Pada waktu malam, dan separuh malam yang akhir lebih baik dari pada separuh pertama.
c) Antara Magrib dan Isya‟.
d) Setelah shalat Subuh.
e) Hari-hari yang terpilih ialah Jum‟at, Senin, Kamis, dan hari Arafah.
f) Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
g) Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijah
h) Sedang bulan yang paling utama ialah bulan Ramadhan.
i) Di setiap waktu selalu dianjurkan membaca Al-Qur‟an.
32) Jika menggunakan ingin berhujjah atau menggunakan dalil dari suatu ayat, maka harus berkata, Qalallahu Ta‟Ala Kadza (Allah SWT telah berfirman demikian) atau Allahu Ta‟ala Yaqulu Kadza (Allah SWT berrfirman demikian) dan diawali dengan Ta‟awudz.
33) Pada akhir surah atau ayat tertentu, disunnahkan atau dianjurkan membaca do‟a, takbir atau tasbih. 79
79 Supian, Ilmu-Ilmu Al Qur‟an Praktis, (Jakarta: Gaung Press, 2012), Cet. Ke-1, h. 170-181.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa adab atau etika membaca Al-Qur‟an penting untuk diketahui dan dipahami, agar yang membacanya mendapatkan rahmat dan keberkahan dari bacaan Al-Qur‟an tersebut. Dengan mengetahui dan memperhatikan adab membaca Al-Qur‟an seseorang dapat menghormati dan memuliakan Al- Qur‟an sebagai kitab suci. Misalnya, ketika seseorang hendak membaca Al-Qur‟an, maka sebelumnya harus terlebih dahulu membersihkan mulut, bersuci, dan harus dalam keadaan suci dari hadats serta najis, begitu pula tempat yang diperbolehkan untuk membaca Al-Qur‟an adalah tempat yang bersih dan suci, karena Al-Qur‟an adalah kitab suci.
Dengan adanya adab tersebut diatur pula untuk memulai bacaan Al-Qur‟an dengan membaca ta‟awudz dan basmalah terlebih dahulu, kecuali pada surat At-Taubah, tidak dianjurkan mengawalinya dengan membaca basmalah.
Dengan mengetahui adab tersebut, seseorang dapat mengetahui waktu-waktu terbaik untuk membaca
Al-Qur‟an. Sehingga dengan membacanya di waktu-waktu yang terbaik maka akan bertambah pahala dan keberkahan bagi pembacanya.
Keutamaan adab membaca Al-Qur‟an adalah agar dapat mengetahui tata cara yang benar ketika akan membaca Al-Qur‟an, sehingga akan timbul ke hati-hatian bagi pembacanya, karena dalam adab membaca Al-Qur‟an terdapat rambu- rambu yang harus kita taati. Dengan demikian seorang yang membaca Al-Qur‟an dengan memperhatikan adab-adab membaca Al-Qur‟an dengan baik, maka membaca Al-Qur‟an selain mendapat ganjaran pahala juga akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
b. Adab Khatam Al-Qur’an
Khatam Al-Qur‟an berarti menyelesaikan membaca Al-Qur‟an dari awal hingga akhir, dan sering juga difahami sebagai titik akhir setelah selesainya membaca Al-Qur‟an. Untuk yang pertama, pembacaan Al-Qur‟an dimulai dari awal hingga akhir dalam satu tempat dan waktu tertentu, sedangkan yang kedua bisa saja dalam waktu yang lama dan bertahun-tahun, kemudian sampai selesai dan khatam pada saat dan waktu tertentu. Biasanya hal ini bagi pembaca Al-Qur‟an yang dalam masa