PERAN NEGARA DALAM PENGEMBANGAN E-COMMERCE
III. PERKEMBANGAN E-COMMERCE AMERIKA SERIKAT MELALUI DARPA
3.1 Kebijakan Era Clinton
Pemerintah AS pada era Bill Clinton, melalui DARPA, menjadi penggerak dalam proses perkembangan TIK. Sejalan dengan perkembangan TIK, perkembangan internet di AS juga berawal dari proyek-proyek pemerintah.
Proyek tersebut adalah ARPANET yang diinisiasi oleh Departemen Pertahanan dan NSFNET yang diinisiasi oleh Badan Sains Nasional. Proyek-proyek ini menghubungkan kontraktor pemerintah, lembaga penelitian, dan universitas sehingga ketika internet pertama kali dikomersialkan pada tahun 1995, AS telah memiliki sumber daya manusia yang berpengalaman. Di samping itu, AS memiliki laboratorium riset, baik di universitas maupun di perusahaan besar, misalnya AT&T, IBM, dan Xerox. Kebijakan imigrasi yang membuka jalan bagi peneliti dan insinyur terbaik dari luar negeri untuk datang dan bekerja di AS juga menguatkan pengembangan teknologi informasi di negara tersebut (Dedrick, et.al., 2006).
Pada masa pemerintahan Bill Clinton dan Al Gore (1993-2001), periode awal komersialisasi internet berlangsung. Pada periode ini, pemerintah AS mengeluarkan inisiasi Infrastruktur Informasi Nasional. Inisiasi yang dirilis pada tahun 1993 ini menggambarkan kerangka kebijakan AS yang terkait dengan internet dan e-commerce. Kerangka kebijakan tersebut mencakup peran pemerintah untuk mempromosikan investasi sektor privat dan inovasi
94
Isu-isu Masyarakat Digital Kontemporer |
teknologi, pelayanan yang bersifat universal, perlindungan kekayaan intelektual, perlindungan dan keamanan privasi, e-government, serta upaya mendorong kompetisi di bidang telekomunikasi (Dedrick, et.al., 2006). Pemerintah sendiri memilih untuk fokus menangani isu-isu yang berhubungan dengan penyediaan akses internet di sekolah-sekolah, penyediaan informasi pemerintahan secara daring, dan peningkatan rasa percaya masyarakat pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan di dunia maya (Dedrick, et.al., 2006).
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah AS terlihat pada sejumlah peraturan legal formal yang dikeluarkan, antara lain Internet Tax Freedom Act of 1998 (larangan yang dikeluarkan oleh pemerintah federal di AS atas pembebanan pajak-pajak tertentu dalam transaksi e-commerce), U.S. Electronic Signatures in Global and National Commerce Act (hukum yang mengatur tanda tangan elektronik sehingga tanda tangan elektronik memiliki efek mengikat yang sama dengan tanda tangan pada dokumen-dokumen cetak) Digital Millennium Copyright Act (peraturan yang meminimalisasi adanya pelanggaran hak paten) U.S. Gramm-Leach-Bliley Act of 1999, serta U.S. Children Online Privacy Protection Act of 1998 (Blakeley & Matsuura, 2001). Untuk meningkatkan rasa percaya masyarakat pada transaksi elektronik, U.S. National Institute of Standards and Technology, melalui Computer Security Resource Center, juga berusaha untuk mengembangkan Federal Public Key Infrastructure (McGann, King & Lyytinen, 1997).
Untuk sektor e-commerce, pemerintah AS di bawah kepemimpinan Clinton menetapkan lima prinsip yang dirilis dalam Framework for Global Electronic Commerce pada 1 Juli 1997 (McGann, King & Lyytinen, 1997), yakni:
1. Pihak swasta menjadi pemimpin dalam usaha pengembangan e-commerce;
2. Pemerintah, baik federal maupun negara bagian, meminimalkan adanya pembatasan-pembatasan di sektor e-commerce;
3. Keterlibatan pemerintah dalam pengembangan e-commerce adalah untuk mendukung dan mendorong terwujudnya lingkungan yang legal, konsisten, minimalis, dan terprediksi;
4. Pemerintah harus memahami bahwa internet memiliki kualitas- kualitas yang unik;
5. E-commerce yang berbasis pada internet akan difasilitasi untuk
95
BAB IV | ENTREPRENEURIAL STATE DI TIONGKOK DAN AMERIKA SERIKAT |
mencapai level global. Dalam U.S. Government Working Group on Electronic Commerce: First Annual Report, pemerintah memberikan pemaparan mengenai kinerja mereka dalam menerapkan Framework for Global Electronic Commerce. Ada beberapa langkah yang dijalankan oleh pemerintah (Maxwe, Wakid & Moline, 1999), yakni:
a. Pemerintah meningkatkan bandwidth dan akses internet di AS;
b. Pemerintah memastikan perlindungan konsumen yang efektif dalam aktivitas-aktivitas daring;
c. Pemerintah memperluas ketersediaan internet dan penggunaan e-commerce di negara-negara berkembang;
d. Pemerintah meningkatkan pemahaman tentang dampak ekonomi dari internet dan e-commerce;
e. Pemerintah memfasilitasi bisnis-bisnis kecil dan penggunaan internet serta e-commerce untuk kegiatan wiraswasta.
Pemerintahan Clinton memiliki empat target kerja. Pertama, pemerintah mengeluarkan hukum perlindungan konsumen untuk mendorong adanya regulasi industri mandiri, serta adanya tuntutan yang berat bagi praktik dan iklan- iklan penipuan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan perlindungan konsumen yang efektif di AS. Kedua, pemerintah mendorong peningkatkan codes of conduct dengan bantuan pihak swasta, yang dianggap oleh pemerintah sebagai jalan paling efektif untuk meningkatkan proteksi privasi daring. Ketiga, pemerintah merevisi kebijakan yang berhubungan dengan enkripsi. Langkah ini diambil agar perusahaan-perusahaan di AS memiliki peluang untuk menjual produk enkripsi ke luar negeri. Keempat, pemerintah mendukung peningkatan keamanan dan reliabilitas infrastruktur telekomunikasi. Pemerintah pusat membuat suatu model keamanan informasi bagi pemerintah federal dan membangun kerja sama sukarela antara publik dan swasta untuk meningkatkan proteksi infrastruktur informasi (McGann, King & Lyytinen, 1997). Dalam perkembangannya, operasi internet yang semula dijalankan oleh Badan Sains Nasional kemudian dialihkan kepada kelompok penyedia layanan internet dan isu-isu teknis yang muncul pun dikelola oleh organisasi non-profit internasional, seperti Internet Engineering Task Force dan Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (Dedrick, 2006).
96
Isu-isu Masyarakat Digital Kontemporer |
Di antara sejumlah kebijakan yang berhubungan dengan e-commerce, kebijakan yang terkait dengan pajak, privasi, dan kekayaan intelektual merupakan kebijakan yang paling membawa pengaruh bagi perkembangan e-commerce di AS. Dalam hal perpajakan, pemerintah federal berusaha untuk mendorong perkembangan e-commerce dengan memberikan subsidi. Pemberian subsidi ini dilatarbelakangi oleh adanya larangan pajak-pajak tertentu dalam kegiatan transaksi daring. Berkaitan dengan perlindungan privasi, pemerintah memegang peranan penting karena terdapat konflik kepentingan antara vendor daring dan masyarakat. Di satu sisi, vendor daring menolak adanya perlindungan privasi yang terlalu ketat, padahal di sisi lain masyarakat AS adalah masyarakat yang menaruh perhatian lebih pada permasalahan privasi. Sementara, dalam hal kekayaan intelektual, pemerintah AS mengadopsi 1998 Digital Millennium Copyright Act (DMCA) yang melindungi hak-hak paten. Langkah ini didukung penuh oleh para pekerja di industri hiburan (Dedrick, 2006).
Peran pemerintah dan swasta tersebut menghasilkan sistem telekomunikasi AS yang tergolong dalam kategori well-developed. Hal ini tercermin pada standar biaya dan aturan penggunaan telekomunikasi yang seragam.
Selain itu, pemerintah juga melakukan deregulasi di sektor telekomunikasi.
Deregulasi ini dilakukan lebih awal dibandingkan dengan mayoritas negara maju lain. Deregulasi yang dilakukan oleh pemerintah AS berhasil mendorong adanya kompetisi, penurunan biaya bandwidth, dan penyebaran penggunaan telekomunikasi dan internet di AS.
Meskipun demikian, Telecoms Act yang dirilis pada 1996 menghambat kompetisi yang ada karena Telecoms Act menekan deregulasi di AS. Dampak dari hal tersebut adalah pada tahun 2006 biaya broadband di AS tercatat jauh lebih tinggi dari Korea Selatan dan penetrasi broadband pun menjadi lebih lambat.65
Segala upaya pemerintah AS tersebut, menurut Muir dan Oppenheim, menjadikan pemerintahan Clinton tergolong aktif dalam membuat program yang mendorong pengembangan internet dan e-commerce. Sayangnya, selepas pergantian kepemimpinan dari Clinton ke Bush, pemerintah AS menjadi lebih pasif dari sebelumnya (Adrienne & Oppenheim, 2002).