• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Belajar 3: LAPANGAN KERJA

Dalam dokumen KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN (Halaman 155-159)

5. Kunci Jawaban Test Formatif

4.3 Kegiatan Belajar 3: LAPANGAN KERJA

Kependudukan dan Ketenagakerjaan

dan tempat bekerja tersebut.

4.2.2 Latihan

1. Apa yang dimaksud dengan akses informasi

2. Sebutkan dan jelaskan kendala keterbukaan informasi di Indonesia?

4.2.3 Rangkuman

Informasi merupakan kebutuhan pokok setiap orang bagi pengembangan pribadi dan lingkungan sosialnya serta merupakan bagian penting bagi ketahanan nasional. Hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik. Akses informasi adalah dimana kita bisa membuka, mendapatkan dan mengambil manfaat dari informasi tersebut. Bank Dunia menyoroti fenomena lapangan kerja di Indonesia yang tidak sesuai antara kebutuhan pencari kerja dengan pengusaha sebagai pemberi kerja. Fenomena ini disinyalir muncul akibat ketimpangan informasi, terutama di kalangan anak muda yang baru lulus sekolah. Pemerintah harus berperan aktif dalam menangani akses informasi lapangan kerja di indonesia, agar sumberdaya manusia, dan tempat bekerja bisa terhubung yang akan meningkatkan produktivitas suberdaya manusia dan tempat bekerja tersebut, serta meningkatkan penyerapan angkatan kerja di Indonesia.

pendidikan tertentu yang belum memperoleh lapangan kerja yang sesuai dengan latar pendidikan. Orang menyebutnya dengan istilah “pengangguran terdidik”. Diakui memang, mencari pekerjaan zaman sekarang tidak mudah.

Perlu kesabaran dan ketekunan mencari lowongan kerja sesuai ijazah yang dimiliki.

Di pihak lain, seseorang butuh pekerjaan yang berujung pada pendapatan atau penghasilan untuk biaya hidup sehari-hari. Tidak mungkin lagi seorang sarjana bergantung pada orang tua dalam masalah finansial. Tak dapat ditutupi lagi, pendidikan yang telah ditempuh, ijazah yang sudah dikantongi, belum menjamin seseorang untuk langsung diterima di dunia kerja. Sebagai contoh, seseorang yang telah meraih gelar sarjana kependidikan, Tidak akan begitu mudah untuk diterima menjadi tenaga pendidik. Baik di lembaga pendidikan berstatus negeri maupun swasta karena keterbatasan lowongan formasi pegawai. Sementara perguruan tinggi keguruan terus menghasilkan calon guru. Begitu pula lulusan perguruan tinggi dengan berbagai disiplin ilmu, kesulitan untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan ijazah dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Dunia kerja tidak hanya masalah keterbatasan formasi kepegawaian. Dunia kerja tertentu juga mensyaratkan adanya keterampilan dan keahlian tertentu, pengalaman kerja, dan lain sebagainya.

Sementara ijazah hanyalah sekadar pelengkap persyaratan administratif.

Artinya, dunia kerja cenderung mengutamakan keterampilan, keahlian dan pengalaman kerja ketimbang ijazah. Syukur, bila semuanya dimiliki oleh seseorang sehingga memiliki peluang untuk diterima di dunia kerja. Jika lembaga pendidikan formal belum mampu mengakomodasi kebutuhan dunia kerja secara langsung maka lembaga pelatihan dan keterampilan menjadi lirikan utama bagi calon tenaga kerja. Di samping memiliki ijazah tertentu, mereka perlu mengikuti pendidikan latihan dan keterampilan sehingga siap diterima di dunia kerja. Lulusan SMP/Sederajat atau SMU/

Sederajat lebih sesuai untuk mengikuti program latihan dan keterampilan.

Berbekal ijazah semata belum berarti banyak jika belum mengikuti pelatihan dan keterampilan. Jika tidak ingin kalah bersaing dengan yang lain, maka bekalilah diri dengan berbagai keterampilan dan keahlian agar bisa diterima di dunia kerja.

‘The square peg in the round hole’, Ungkapan ini mungkin sangat pas untuk menggambarkan relevansi pendidikan kita dengan dunia kerja saat ini, Relevansi itu ibarat sebuah pasak persegi yang dimasukkan ke dalam lubang

Kependudukan dan Ketenagakerjaan

bulat, Pasak itu tidak pernah akan masuk ke dalam lubang sebab bentuknya tidak sesuai. Apabila kita ingin membuat pasak yang diterima lubang bulat, seharusnya kita menyesuaikan bentuk pasak itu bulat pula. Sayangnya ‘the square peg in the round hole’ inilah yang terjadi di dalam dunia pendidikan kita. Selain banyak jurusan atau program keahlian yang tidak relevan dengan dunia kerja yang membutuhkan, yang lebih memprihatinkan adalah tidak relevannya kualitas pendidikan dengan persyaratan lapangan kerja.

Indikasi untuk melihat ketidakrelevansian antara pendidikan dan dunia kerja ini sebenarnya dapat diketahui dengan mudah oleh orang awam. Yaitu, dengan melihat banyaknya angka pengangguran intelektual saat ini. Apakah kita bisa sepenuhnya mengkambinghitamkan dunia kerja yang jumlahnya tidak sebanding dengan angkatan kerja yang terus naik tiap tahun. Dalam kenyataannya, banyak pula lowongan atau posisi dalam perusahaan yang tidak terisi karena tidak ada lulusan/out put pendidikan yang bisa mengisinya. Kriteria dan persyaratan yang diminta tidak ada yang bisa dipenuhi. Akibatnya untuk memperoleh tenaga kerja yang dibutuhkan itu, perusahaan tidak jarang harus sampai melakukan ‘pembajakan’ tenaga kerja (hijacking of man power).

Faktor-faktor penyebab kesenjangan jumlah pencari kerja dan lapangan kerja:

1. Pertumbuhan kesempatan kerja yang kecil

Faktor ini merupakan faktor yang paling gampang dilihat.

Kesenjangan antara jumlah lulusan dengan lapangan pekerjaan tidak sebanding. Jumlah lulusan setiap tahun kian bertambah, sementara jumlah lowongan kerja naik tidak seberapa, bahkan cenderung stagnan. Solusi yang sering digembar-gemborkan adalah menciptakan lapangan kerja baru.

2. Irelevansi Jurusan/keahlian

Kesenjangan antara jurusan/keahlian yang ada di dunia pendidikan dengan dunia kerja. Bisa jadi jurusan yang dalam dua dekade yang lalu out put-nya banyak diserap pasar, kini sudah over- flooded. Penyebabnya karena bergesernya arah dunia usaha dan perkembangan tehnologi. Apabila keadaan ini tidak dicermati, sudah pasti kesenjangan itu akan semakin bertambah lebar.

Solusinya adalah mengurangi jurusan pendidikan yang over-quota dan membuka jurusan baru yang lebih dibutuhkan dunia kerja.

3. Kualitas pendidikan yang rendah

Dunia pendidikan kita masih mengutamakan bukti formal berupa lembaran ijazah. Kompetensi diwakili dengan selembar sertifikat.

Sayangnya kompetensi itu sering tidak terwakili di situ. Bagaimana mungkin seorang yang memegang ijazah tehnika mesin kapal memiliki kompetensi tentang mesin kapal kalau kampusnya saja jauh dari pelabuhan dan ia sendiri belum pernah melihat fisik mesin itu sendiri.

Sangat diragukan bila out put pendidikan yang demikian dapat mengisi kebutuhan kerja yang memerlukan kompetensi tehnis mesin kapal.

Akibat irelevansi pendidikan dengan dunia kerja Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh dunia usaha untuk memperoleh tenaga kerja yang kompeten. Salah satunya adalah dengan membajak tenaga dari perusahaan lain. Keuntungannya, perusahaan itu akan memperoleh tenaga siap pakai yang kompeten. Kerugiannya, tenaga ahli yang demikian selain menuntut gaji tinggi juga fasilitas yang memadai dan kesempatan jejang karir yang terbuka lebar. Cara lain yang lebih banyak dilakukan adalah dengan rekrutmen tenaga lulusan anyar (fresh graduate). Untuk keahlian khusus, biasanya perusahaan merekrut para lulusan yang sesuai dengan bidangnya. Untuk kebutuhan tenaga kerja yang sifatnya umum, biasanya rekrutment menerima dari segala jurusan/disiplin limu. Keuntungannya, perusahaan mendapatkan tenaga yang murah namun harus memberikan pelatihan, bimbingan dan konseling. Karena sulitnya memperoleh pekerjaan, lebih banyak orang yang bekerja ‘menyimpang’ dari disiplin ilmu yang dipelajarinya. Banyak yang menggunakan kesempatan ini sebagai ‘batu loncatan’, ada pula yang menekuni pekerjaan ini sampai pensiun.

4.3.2 Latihan

1. Jelaskan mengapa lapangan kerja dan pendidikan di Indonesia tidak sesuai?

2. Sebutkan dan jelaskan Faktor-faktor penyebab kesenjangan jumlah pencari kerja dan lapangan kerja?

4.3.3 Rangkuman

Dunia pendidikan belum mampu menjembatani kebutuhan dunia kerja terkini secara komprehensif. Hal ini pula menjadi penyebab terjadi pengangguran terdidik.Jika kualitas pendidikan bagus dan jumlah lulusan pendidikan membludak, tentu saja akan menimbulkan masalah

Kependudukan dan Ketenagakerjaan

bila lapangan pekerjaan yang tersedia tidak memadai. seseorang butuh pekerjaan yang berujung pada pendapatan atau penghasilan untuk biaya hidup sehari-hari. Tidak mungkin lagi seorang sarjana bergantung pada orang tua dalam masalah finansial. Sementara ijazah hanyalah sekadar pelengkap persyaratan administratif. Artinya, dunia kerja cenderung mengutamakan keterampilan, keahlian dan pengalaman kerja ketimbang ijazah. Syukur, bila semuanya dimiliki oleh seseorang sehingga memiliki peluang untuk diterima di dunia kerja. Indikasi untuk melihat ketidakrelevansian antara pendidikan dan dunia kerja ini sebenarnya dapat diketahui dengan mudah oleh orang awam. Yaitu, dengan melihat banyaknya angka pengangguran intelektual saat ini.

Faktor-faktor penyebab kesenjangan jumlah pencari kerja dan lapangan kerja: Pertumbuhan kesempatan kerja yang kecil, Irelevansi Jurusan/

keahlian, Kualitas pendidikan yang rendah. Akibat irelevansi pendidikan dengan dunia kerja Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh dunia usaha untuk memperoleh tenaga kerja yang kompeten.

Dalam dokumen KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN (Halaman 155-159)