BAB II BAGAIMANA INGGRIS DAN AMERIKA
4. Kenaikan Kepura-puraan: Jerman dan Amerika
London kekuatan tak tertandingi. Namun, perlu dicatat, bahwa dalam dua atau tiga dekade sebelum Perang Dunia pertama, perdagangan luar negeri Inggris sangat besar surplusnya bahkan menjadi tidak seimbang. Namun, setelah itu, Inggris mengalami defisit terhadap dua kekuatan baru yang punya ambisi global, yaitu Jerman dan Amerika Serikat. Efektivitas kebijakan perdagangan proteksionis dari kedua rival dan keadaan demografi secara relatif dengan cepat melemahkan Inggris77. Meskipun demikian, Inggris masih sangat kaya; investasi luar negeri pada 1914 mencapai £19.5 miliar, dan mewakili 43 persen investasi asing di dunia.
Tetapi investasi ini, yang mendatangkan keuntungan bagi Kota London bertumbuh. Inggris yang merupakan eksportir neto barang dan modal pada pertengahan abad kesembilan belas, sekarang lebih hidup dari rente ini.
4. Kenaikan Kepura-puraan: Jerman dan Amerika Serikat
a. Munculnya Jerman sebagai Kekuatan Besar
Di bawah pimpinan Prusia, penerima manfaat terbesar pada Kongres Wina, akan berlangsung melalui proses panjang yang mengarah kepada penyatuan negara-negara Jerman. “Reich” diproklamasikan di Versailles pada Tahun 1871 dan terutama bertujuan membentuk wilayah ekonomi terluas di jantung Eropa, yang didominasi oleh modal Jerman.
Hal ini dimulai pada Tahun 1834 melalui penyatuan pabean, Zollverein. Dalam proses ini, Jerman berusaha untuk tidak berhadapan dengan singa Inggris. Selama tiga puluh tahun, bisnis ini dilakukan dengan diam-diam, sehingga perusahaan tidak muncul sebagai ancaman ekonomi atau politik, khususnya bagi negara tetangga. Prusia, yang pembangunan ekonomi begitu penting antara Tahun 1830 dan 1860, menunjukkan posisinya baik secara politik dan militer pada Tahun 1865 sebagai kekuatan baru. Tiga kemenangan perang melawan Denmark, Austria, dan Perancis. Jerman bersatu melanjutkan ekspansi besarnya dalam industri baik di dalam Reich atau di luar Reich, serta di Eropa Tengah.
Sekitar Tahun 1900, industri Jerman seperti juga industri Amerika Serikat berada pada posisi pertama dunia. Industri Jerman beroperasi hingga ke Mitelleuropa, pada wilayah ekonomi di mana berdomisili penduduk hampir 120 juta. Sektor industri ini tentu saja siap menjadikan perekonomian Jerman sebagai ekonomi yang mendominasi di dunia, apa yang terjadi melalui dominasi perdagangan, dikondisikan oleh dominasi maritim. Singkatnya, dekade demi dekade dengan sabar, Prusia mampu memimpin dengan sukses, dan bagi kepentingannya sendiri, kebijakan yang sama seperti yang dilakukan oleh Napoleon, bahwa dari “sistem kontinental” dan Konfederasi Rhin. Perbedaan besarnya, bahwa Napoleon langsung dianggap sebagai “musuh” dari kekuatan yang mendominasi perdagangan dunia, sementara Prusia, bersekutu dengan Inggris melawan Napoleon, Prusia muncul pada waktu yang lama sebagai kekuatan tanpa saingan.
Setelah 1871, ketika Bismarck menjadi Kanselir Prusia (Reich), semua berjalan baik bagi negaranya. Ia mampu mempertahankan Prancis yang merupakan satu-satunya republik di Eropa daratan dalam keadaan terisolasi penuh. Hal ini cocok di Inggris yang menyesalkan Napoleon III yang pada waktu itu Prancis memberlakukan perdagangan bebas dengan
Jerman. Kaisar Guillaume belum memiliki pandangan baik dan wawasan yang jauh ke depan maupun kehati-hatian dari kanselirnya ketika ia memutuskan berpisah dengan kanselirnya pada Tahun 1890, hubungan dengan bibinya, Ratu Victoria memburuk. Jerman menjadi tidak lebih sebagai saingan ekonomi, politik, militer dan kolonial Inggris. Meskipun perdagangan Inggris dengan Jerman mencapai defisit bagi Inggris79, Jerman memutuskan untuk memberikan Laksamana Tirpitz tanggung jawab untuk menciptakan angkatan laut “setidaknya armada yang tiada duanya”. Para pemimpin Inggris melihat hal itu sebagai ancaman bagi dominasi perdagangannya, demikian pula Jerman mengklaim kemungkinan membangun sebuah kerajaan kolonial. Hal ini tentunya mendorong pemerintah Inggris untuk lebih dekat dengan Perancis, dan selanjutnya Rusia sebelum pecahnya Perang Dunia Pertama.
b. Pada Akhir Perang Dunia I, Merkantilisme Amerika Merupakan Juga Kekuatan Ekonomi Besar
Pada Tahun 1865, pada akhir Perang Saudara, sebuah periode luar biasa menyangkut pertumbuhan ekonomi mulai di Amerika Serikat.
Negara ini memiliki sumber daya alam yang melimpah dan ditunjang oleh faktor produksi melimpah asal Eropa (migrasi penduduk, arus masuk investasi) mengalami booming mengesankan.
Dengan cepat Amerika Serikat menjadi pasar pertama dunia80, produsen terbesar pertama barang-barang industri manufaktur, produsen utama hasil-hasil pertanian. Pada Tahun 1914, pendapatan nasional per kapita Amerika Serikat sekitar dua kali lipat daripada pendapatan nasional per kapita penduduk Eropa Barat. Pertumbuhan ekonomi sangat tinggi dibandingkan dengan Eropa dan sekaligus memberlakukan kebijakan proteksionisme: “lobi industri-industri wilayah utara ini begitu kuat
79 Pada akhir Perang Dunia I, Inggris yang memberlakukan "pasar bebas" dengan koloninya mencapai surplus. Namun, justru Inggris mengalami defisit neto dengan Eropa kontinental yang menjalankan kebijakan proteksionisme, sejak Tahun 1879.
80 Pada Tahun 1914, penduduk Amerika Serikat mencapai 98 juta jiwa, sedangkan penduduk Jerman berjumlah 65 juta jiwa, 45 juta jiwa bagi Inggris, 39 juta jiwa bagi Perancis. Pendapatan nasional dalam milyar US$ mencapai, US$37 miliar bagi Amerika Serikat, US$11 milyar bagi Inggris, US$12 milyar bagi Jerman, US$6 milyar bagi Perancis. Sumber: Paul Kennedy, op. cit, p.394.
sehingga menjamin, melalui bea masuk yang semakin lama semakin tinggi, dan pasar domestik dilarang bagi produk asing. Sebaliknya, impor bahan baku semakin lama semakin banyak”81.
Perdagangan luar negeri memiliki peran yang menentukan.
Perdagangan luar negeri harus mencapai surplus besar dan menggiring negara ini menjadi kekuatan dinamis yang sangat kuat, sesuai dengan model merkantilis.
Paul Kennedy keliru ketika ia mengatakan: “Peran perdagangan luar negeri dalam pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat rendah (pada Tahun 1913, sekitar 8 persen dari PNB Amerika Serikat berasal dari perdagangan luar negeri, sedangkan Inggris mencapai 26 persen dari PNB, tetapi pengaruh ekonomi atas negara-negara lain yang kuat”82, Kennedy keliru karena mungkin menambahkan impor dan ekspor, yang tidak punya makna apa-apa. Kenyataannya, apa yang penting bagi analisis pertumbuhan PDB, bukanlah ekspor maupun impor, tetapi keseimbangan neraca perdagangan tersebut. 8 persen menjadi acuan mungkin berkaitan dengan keseimbangan positif pada kisaran 2 persen sampai 2,5 persen dari PDB, tentu saja sangat tinggi, walaupun melebihi Inggris yang surplusnya mendekati 0 persen pada saat yang sama83.
“Cepat menjadi produsen terkemuka bagi barang-barang manufaktur, Amerika Serikat mulai merambah pasar dunia memasarkan mesin pertanian, produk besi cor dan baja, suku cadang mesin, peralatan listrik, dan lain-lain”84. Selain itu, ekspor Amerika meningkat drastis karena penurunan tajam biaya pengiriman maritim. Tetapi, hal ini tidak cukup. Kebijakan pemerintah Amerika Serikat bernuansa imperialis, bertujuan untuk mencari pasar baru bagi produk-produk Amerika. Setelah mencaplok Texas dan California yang mengorbankan Meksiko pada Tahun 1830-an, setelah memainkan peran utama memaksa Jepang membuka pelabuhannya bagi perdagangan internasional, serta setelah memaksa Tiongkok mematuhi kebijakan “pintu terbuka”, Amerika Serikat terlibat
81 Paul Kennedy, op .cit., p. 395.
82 Paul Kennedy, idem.
83 Saldo eksternal sebesar lebih dari 2 persen dari PDB berarti ekspor mencapai 5 persen dari PDB dan impor sebesar 3 persen.
84 Paul Kennedy, ibid.
dan memenangkan perang dengan Spanyol pada Tahun 1898 untuk memperoleh kontrol atas Kuba dan Filipina.
Republik muda Amerika lalu bercita-cita untuk menjadi kekuatan pertama dunia serta kekuatan merkantilis, imperialis, kolonialis. Inggris,
“sebagai kekuatan pertama” wajib menerima kompromi ini, kadang- kadang agak sedikit malu-malu menyerahkan kepada Amerika Serikat menyangkut Venezuela, Terusan Panama, perbatasan dengan Alaska.