BAB VI SURPLUS NERACA DAGANG TIONGKOK
4. Persyaratan dari Hasil 15 Persen dalam Kegiatan
Hanya selama masa jabatan kepresidenan Bush Junior mulai muncul suara di Kongres, atau dalam serikat buruh, yang keberatan atas efek nilai tukar Tiongkok pada perekonomian Amerika Serikat. Deindustrialisasi mulai terasa berat efeknya. Penutupan berbagai industri dan berkembangnya kantong-kantong pengangguran, tren penurunan upah.
4. Persyaratan dari Hasil 15 Persen dalam Kegiatan Tersier
Karena defisit eksternal merupakan rintangan besar bagi pertumbuhan, kebijakan ekonomi di Amerika Serikat sangat merangsang permintaan domestik untuk mencapai tingkat pertumbuhan PDB sekitar 3 persen per tahun.
Permintaan dalam negeri sangat mudah merangsang “efek kekayaan”, hasil kekayaan meningkat. Besarnya keuntungan memang membuat lonjakan pasar saham mendorong rumah tangga membelanjakan lebih banyak lagi barang-barang konsumsi, barang tahan lama, peralatan (mobil, peralatan, stereo hi-fi, komputer, dll), perumahan. Kredit secara luas diterapkan: hipotek, kredit untuk membeli barang-barang konsumsi atau peralatan rumah tangga. Semua ini menentukan sektor pertumbuhan yang tinggi « bank asuransi ». Volume usaha, meskipun pada tingkat yang jauh lebih rendah, jumlah efektif karyawan, nilai tambah per karyawan di sektor ini meningkat, serta keuntungan yang terealisir dapat memenuhi standar 15 persen. Deregulasi sektor ini juga akan sangat membantu.
Dalam hal ini, pencabutan Clinton pada Tahun 1999 melalui Glass- Steagall Banking Act di Tahun 1933, yang mengorganisir pemisahan antara perbankan komersial dan bank publik, memainkan peran penting171. Sektor ritel, juga, sama seperti Wal Mart, mencatat pertumbuhan yang tinggi tenaga kerja dan pertumbuhan lebih tinggi pada keuntungannya. Pada akhir 1990-an, Tiongkok tidak hanya menawarkan peluang yang sangat menarik outsourcing ke produsen Amerika Serikat, tetapi juga, secara relatif, sejumlah besar produk jadi dengan harga termurah bagi importir. Dengan kondisi distribusi massal, yang lagi-lagi semakin mengandalkan impor dari Tiongkok, selanjutnya mampu membuat penurunan kompatibel secara bertahap harga jual di Amerika Serikat pada barang-barang konsumsi dan peningkatan yang signifikan dalam keuntungan perusahaan: di sini lagi “norma” dari 15 persen dapat terpenuhi, dan bahkan lebih.
171 Ini adalah keputusan penting yang akan mempengaruhi jalannya krisis. Keputusan ini didukung oleh Republikan Alain Greenspan, kepala Fed itu terpilih atas dorongan Robert Rubin, Secretary of Treasury, pada akhir masa kepresidenan B. Clinton. Sebagai catatan, ini menggambarkan hubungan yang erat antara pejabat senior pemerintah dan komunitas bisnis, Mr. Rubin, sehari setelah pemungutan suara ini, menjadi orang nomor 2 di Citybank.
Kredit murah, bersama dengan efek kekayaan yang timbul pada perubahan nilai pasar, akan memicu ledakan perumahan, penting baik kegiatan pada real estat itu sendiri dan pengaruhnya dalam meningkatkan kekayaan.
Pada akhir abad kedua puluh, semuanya tampaknya benar-benar mengarah pada peningkatan perekonomian Amerika Serikat, di samping semua yang baru saja disebutkan, “teknologi baru” dan “ekonomi baru”
memperkuat image ini. Nilai bursa pada teknologi informasi dan komunikasi baru (TIK) meroket tajam. Itu merupakan fakta nyata teknologi komputer yang tersebar di semua sektor aktivitas manusia. Pada saat yang sama, kegiatan produksi terkait dengan Amerika secara sistematis disubkontrakkan di Asia yang disadari mendorong penurunan secara efektif jumlah tenaga kerja di Amerika Serikat, di Jepang atau di Uni Eropa, sehingga mendorong pertumbuhan tinggi pada sektor secara global daripada sektor yang bersangkutan di tiga belahan dunia yaitu Amerika, Jepang dan Uni Eropa. Pertumbuhan dan penggunaan besar- besaran outsourcing (subkontraktor) di Asia, terutama di Tiongkok, menentukan sebuah peningkatan yang sangat besar dalam keuntungan, menjadi pemicu terciptanya “Bubble”172 yang setelah bubble ini pecah menjadi, “Internet bubble”.
Euforia memerintah pada akhir masa jabatan kedua Clinton: banyak ekonom yang, dengan keyakinan besar, berteori tentang “ekonomi baru”
berdasarkan “TIK” dan penciptaan properti non material. Hal ini dapat dikatakan bahwa perusahaan telah mencapai tahap “pasca-industri”
berdasarkan informasi dan pengetahuan, tentu saja, kita mengakui bahwa dibutuhkan lebih banyak lagi komputer dan berbagai barang-barang material yang harus diproduksi, tetapi kita sedikit berbicara tugas memproduksi tersebut telah diserahkan kepada “tangan-tangan kecil” di negara berkembang. Sedangkan Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang diharapkan tumbuh berdasarkan teknologi informasi tersebut dan berdasarkan pekerjaan sangat terampil yang mereka hasilkan.
172 "gelembung" ini juga akan menghasilkan ekspektasi keuntungan, dari para agen ekonomi: harapan ini kadang-kadang optimis karena euforia (price earning ratios, PER) karena PER ini akan sangat tinggi: 30, 40, 50, 80 dan bahkan lebih.
Crash di bursa efek Tahun 2001 tidak secara fundamental mengubah cara pengembangan yang digariskan dalam TIK ini173. Namun, ini secara signifikan merupakan keretakan dalam pembangunan ekonomi global yang mengungkapkan banyak hal, yang bagaimanapun harus diamati. Tiba-tiba kita menyadari bahwa sejumlah perusahaan baru muncul dalam “perekonomian baru”, nilai pasar mencapai tingkat yang luar biasa, jauh dari potensinya untuk memiliki keuntungan, dan membenarkan manfaat toleransi negatif dalam cakrawala jangka pendek pada perusahaan miliknya. Kembali ke 'realitas', setidaknya dengan realitas lain akan berarti memunculkan beberapa kepailitan perusahaan ini, untuk orang lain merupakan penurunan drastis omsetnya174.
Setelah nilai kenaikan sebesar 15 persen mengharuskan beberapa pemilik atau pengelola modal mengambil risiko. Hal ini berlaku bagi Amerika di tempat pertama tetapi juga Uni Eropa: deregulasi, mengambil risiko, adanya pelarian dini modal.
Spekulasi dalam ekonomi internet menemui jalan buntu: bahwa terus adanya imajinasi penyihir keuangan yang tidak pernah menemui kegagalan, akan menghasilkan “inovasi keuangan” yang titik penerapan spesifiknya berada pada sektor real estat. Dengan cara ini, perekonomian Amerika mendapatkan kembali pertumbuhan relatif cepat bertumpu pada permintaan domestik, tanpa mengkhawatirkan catatan defisit perdagangan lebih kolosal. Pertumbuhan didasarkan pada proses ganda baik hutang termasuk hutang domestik, yang merangsang permintaan domestik, serta pinjaman asing, di luar defisit perdagangan luar negeri.
Sementara crash Tahun 2001-2002 mempermalukan Ketua Fed Alan Greenspan yang telah lama menganggap paritas Yuan atau defisit eksternal bukan merupakan masalah karena, katanya secara substansi, defisit eksternal dibiayai dan tidak mencegah pertumbuhan. Crash di pasar saham, melalui dinamika efek kekayaan negatif memunculkan masalah yang perlu dilakukan untuk memecahkan dinamika lebih cepat dan, untuk ini, terus memunculkan aset lainnya, termasuk real estat. Selanjutnya The Fed mengadopsi kebijakan suku bunga yang stabil pada tingkat sangat
173 Bagi ekonomi riil, hanya akan ada jedah dalam pertumbuhan, tanpa resesi. Mengenai bursa, itu akan bergerak untuk mendapatkan kembali kesempatan yang hilang.
174 "Skandal Enron" menggambarkan jelas sekali proses "kembali ke realitas."
rendah. Kebijakan ini perlu dilakukan untuk menstabilkan Wall Street dengan merangsang pertumbuhan real estate sehingga dapat mengembalikan kenaikan dinamis dalam pengeluaran domestik sebagai mesin pertumbuhan, untuk mengkompensasi defisit eksternal, selalu lebih signifikan namun demikian telah disepakati sebelumnya terhadap Tiongkok. Dengan demikian, bencana yang muncul di Tahun 2007, persiapannya dilakukan sejak dari Tahun 2001.
5. “Salah Satu Kekuatan Terbesar Dunia Menghancurkan Industri di Negara Lain175
Di sekitar Tiongkok cenderung terbentuk konstelasi negara-negara tergantung padanya melalui perdagangan. Mata uang Tiongkok terdepresiasi secara sengaja terhadap mata uang negara-negara Barat, laju perekonomian Tiongkok mencatat tingkat pertumbuhan lebih tinggi daripada negara-negara Barat. Hal ini merupakan hasil selama pemberlakuan kebijakan seperti sistem nilai tukar terdepresiasi secara sengaja. Ketidakseimbangan perdagangan dengan cara seperti itu berarti Tiongkok hanya dapat menyebabkan proses deindustrialisasi lebih lanjut di negara maju. Tiongkok sekarang berkepentingan, selain kegiatan yang mengarah ke produksi barang material, kegiatan yang berkontribusi terhadap produksi barang berwujud, apa disebut “layanan canggih”
(tertiaire supérieur).
Program publik mendukung perusahaan yang inovatif, bahkan jika mereka sangat ambisius dan memobilisasi sumber daya yang cukup dan, oleh karena itu, menimbulkan banyak inovasi, tidak dapat mengkompensasi, sejauh ini, menjadi rintangan bagi pertumbuhan yang merupakan defisit perdagangan berkelanjutan. Prediksi pertumbuhan memperkirakan bahwa, pada 2010-2011, menunjukkan perbedaan pertumbuhan masih lebih tinggi dari pada 2002-2007. Tingkat pertumbuhan ekonomi Tiongkok berkisar 9-11 persen, 3-8 persen pada negara-negara berkembang, serta hanya 0-2 persen di negara-negara maju G7. G7 mengalami pertumbuhan penduduk antara 0 dan 1 persen, pertumbuhan ekonomi di negara-negara ini tidak akan cukup menstabilkan
175 Philippe Crouzet, Les Echos, 28 September 2009.
pengangguran, mengingat perkiraan manfaat produktivitas. Perbedaannya pertumbuhan sekitar 8 sampai 9 persen, antara Tiongkok dan negara- negara G7 menunjukkan kecepatan yang luar biasa dari peningkatan kekuatan negara ini dibandingkan dengan negara berkembang lainnya di dunia. Bagi beberapa negara lain, pertumbuhan ekonominya bahkan dapat menjadi negatif, termasuk antara utang swasta dengan utang publik, tidak dapat dipulihkan sehingga sulit membayangkan bahwa Inggris pada Tahun 2010 dan 2011 dapat mengalami rekor defisit anggaran seperti Tahun 2009, sekitar 15 persen dari PDB.
Di berbagai negara seperti (Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Perancis, Italia, dll), ketahuilah bahwa utang swasta akan menurun dan utang publik juga terpaksa akan menurun. Dengan mudah diperkirakan bahwa pengeluaran domestik tidak akan dapat mengkompensasi defisit eksternal. Depresi yang terus-menerus, maka mungkin segera terjadi.
Jelas situasinya sangat genting dan rapuh. Negara-negara ini tetap akan mengambil langkah-langkah berbeda untuk mengembalikan keseimbangan perdagangan luar negerinya. Untuk saat ini, jelas mereka menghadapi agresi nyata yang mendestabilisasikan keseimbangan perekonomiannya dan agresi sosial yang mengarah pada langkah kapasitas produksi dan beberapa kegiatan pelayanan ke Asia, seperti yang digambarkan oleh transfer direksi HSBC ke Hong Kong176.
Wawancara baru-baru ini dengan bos besar Perancis, Philippe Crouzet, adalah jelas tentang hal ini: “Tiongkok berinvestasi dan memosisikan diri untuk mengambil kelebihan kapasitas di belahan dunia lain melalui mata uangnya yang dengan jelas dan secara sengaja dilemahkan (undervalued). Jika Tiongkok terus-menerus melakukan demikian, kita berangkat menuju bencana. Kita tidak dapat tinggal dalam skema di mana satu dari beberapa kekuatan utama dunia menghancurkan industri di negara lain”177.
176 Didirikan pada Tahun 1865, Hong Kong and Shanghai Bank Corporation (HSBC) adalah Bank Inggris berkantor pusat di Hong Kong, pindah ke London pada Tahun 1993 setelah akuisisi Midland Bank dan sebelum serah terima Hong Kong ke Tiongkok. Permindahan ke Hong Kong menunjukkan bahwa bank terbesar di dunia sekarang milik Tiongkok.
177 Wawancara dengan Philippe Crouzet, CEO Vallourec, berjudul « Tiongkok menghancurkan industri di negara lain », Les Echos, 28 September 2009.
Melalui pertumbuhan pada tingkat 1 persen per tahun, atau kurang, dalam kondisi ketidakseimbangan perdagangan dunia sekarang, pasti menyebabkan kehancuran secara bertahap apa yang tersisa pada kegiatan industri di negara maju. Hal ini dapat merembes pada kegiatan pertanian tertentu. Di bawah tekanan konjugasi WTO dan birokrasi Brussel, pengikut perdagangan bebas di dunia sungguh-sungguh menekan juga anggota Uni Eropa di mana pertaniannya belum berkembang. Seperti Inggris, Uni Eropa secara bertahap menyerah untuk mempertahankan elemen Utopia penting yang lahir pada Tahun 1957 yaitu kebijakan Pertanian umum (CAP). Sekarang, karena kurangnya perlindungan bea cukai Uni Eropa yang berhadapan dengan negara-negara lain, para petani Uni Eropa berada dalam situasi yang sangat sulit, baik itu produsen susu atau pertanian buah-buahan dan sayuran. Kesengsaraan petani Uni Eropa terilustrasi pada demonstrasi besar-besaran pada akhir 2009. Jika absennya perlindungan efektif berjalan terus-menerus, ketahuilah bahwa bantuan didistribusikan atas nama ekologi, perjuangan atas nama disertifikasi lingkungan manusia di beberapa wilayah yang paling sering, skala masalah yang berkaitan dengan daerah pedesaan, hanyalah paliatif akan mengarah pada peningkatan eksodus pedesaan di negara seperti Prancis dan Italia tidak perlu terutama mengingat keadaan pasar tenaga kerja masing-masing.
Keruntuhan proteksi pertanian telah dicapai, harus diingat, sebagai akibat dari kampanye terus-menerus pada WTO, serta negara-negara berkembang, dengan moto untuk mengeluh tentang keegoisan negara kaya.
Dalam hal ini, Tiongkok, yang masih berada dalam jajaran kelompok negara-negara miskin, tidak punya rasa takut sedikitpun, Tiongkok selalu berlindung pada nilai tukar mata uangnya, tampaknya tidak berada di garis terdepan dalam perjuangan bagi pembukaan pasar Barat pada produk pertanian asal Dunia Ketiga. Tiongkok meninggalkan negara-negara lain seperti Brasil. Di sini kita menemukan buktinya yaitu masalah yang dikemukakan LC Bresser-Pereira, bahwa Eropa tak terelakkan berkomitmen menghindari defisit eksternal pada sektor bahan makanan, eksodus pedesaan dan disertifikasi menjadi pendorong kampanye terbaiknya!
Lalu apa yang akan tetap tinggal di negara maju jika mereka mengalami defisit pada industri perdagangan, dalam bahan makanan, pada
energinya dan mungkin segera, pada perkeretaapian, serta pada kegiatan
“layanan bisnis” tertentu? Hanya kegiatan yang memproduksi barang yang dapat diperdagangkan dan layanan yang dapat menjaga negara-negara ini pada beberapa teknologi tinggi dan kegiatan, sangat beragam, terkait dengan pariwisata.