BAB II BAGAIMANA INGGRIS DAN AMERIKA
5. Munculnya Amerika Serikat melalui Krisis
dan memenangkan perang dengan Spanyol pada Tahun 1898 untuk memperoleh kontrol atas Kuba dan Filipina.
Republik muda Amerika lalu bercita-cita untuk menjadi kekuatan pertama dunia serta kekuatan merkantilis, imperialis, kolonialis. Inggris,
“sebagai kekuatan pertama” wajib menerima kompromi ini, kadang- kadang agak sedikit malu-malu menyerahkan kepada Amerika Serikat menyangkut Venezuela, Terusan Panama, perbatasan dengan Alaska.
Italia, mempunyai persediaan cukup bahan makanan, industri barang dan senjata. Amerika menjadi kreditur besar di Eropa.
Pada Tahun 1919, J.M Keynes sebagai bagian dari delegasi Inggris pada Dewan Tertinggi Sekutu, melakukan analisis diagnostik firasat.
Menurut Keynes, sekutu terutama Prancis dan Italia menanyakan ke Jerman, mengapa Jerman melakukan perbaikan besar-besaran mesin perangnya sehingga sangat tidak realistis dan memunculkan tanda tanya besar. Namun, menurut Keynes, Perancis, Italia dan Belgia merupakan medan perang, kita harus membantu mereka dan memberikan “Perbaikan”
minimum, yang diimbangi melalui penghapusan hutang perang di antara sekutu. Rupanya analisis Keynes sama sekali tidak diperhatikan,
“kemurahan hati” Presiden Wilson tidak sampai ke sana86. Setelah perselisihan politik menyangkut analisis Keynes seperti yang digarisbawahi P. Kennedy, perselisihan ini “memperlebar keretakan antara Eropa Barat dan Amerika Serikat” lalu semakin lebar lagi celah ini pada dekade 30-an.
Karena perannya sebagai kreditur, Amerika Serikat sekarang memiliki pusat keuangan sama pentingnya dengan London yaitu New York. Menjelang akhir dekade 1920an, Amerika menyetujui pinjaman jangka pendek yang diberikan kepada Eropa, khususnya negara-negara Eropa Tengah dan Timur. Kurangnya sumber daya, termasuk ekspor, bunga atas pinjaman ini sering dibayar oleh kredit baru. Pada saat yang sama, ledakan ekonomi di Amerika mengharuskan Federal Reserve menaikkan tingkat suku bunga pada Tahun 1928, sambil membatasi sejumlah pinjaman baru, pembatasan yang memunculkan kondisi insovabilitas (kebangkrutan). Depresi Tahun 1929 memperparah hal ini dan menjadi penyebab reaksi berantai, kontraksi umum tingkat aktivitas ekonomi, devaluasi beberapa mata uang, langkah-langkah proteksionis, dll.
Dalam semua keputusan di seluruh dunia, Amerika Serikat dibedakan melalui proteksionisme tempur mereka. Pada Tahun 1930,
86 "Semua sekutu berhutang kepada Inggris, dan dalam jumlah sedikit kepada Perancis, dan kedua negara ini justru menjadi penghutang berat kepada Amerika Serikat.
Amerika Serikat meminta pembayaran hutang pada negara sekutu ini. Namun, Perancis, Italia dan sekutu lain menolak membayar hutangnya sebelum Jerman memperbaiki kerusakan yang dialami Prancis, Itali dan negara sekutu lainnya, lalu Jerman menyatakan, mereka tidak mungkin memenuhi sejumlah yang diminta padanya".
“dengan mengadopsi Smoot-Hawley tariff, ultraproteksionis, untuk membantu petani Amerika, Amerika menjadi satu-satunya negara dengan surplus perdagangan besar membuat akuisisi dolar lebih sulit bagi negara lain dan pasti mengarah kepada pembalasan yang memiliki pengaruh sangat buruk pada ekspor Amerika Serikat87.
Sangat cepat, perdagangan dunia runtuh. Krisis ini menjadi semakin parah di Amerika Serikat dan di Eropa serta lebih parah lagi dari tempat lain. Pada Tahun 1932, saat kebangkrutan Anstalt Kredit di Wina, krisis di Eropa memburuk pada saat yang sama krisis mencapai “titik terburuk” di Amerika Serikat yang mendorong munculnya propaganda sosialis nasional. Dalam hal moneter, “setiap negara memikirkan dirinya sendiri:
ada “blok Sterling” yang berbasis pada “preferensi imperialis” Konferensi Ottawa Tahun 1932, ada “blok emas” yang dipimpin oleh Perancis, ada blok Dolar dan blok Yen.
Selama awal tahun Hitler berkuasa, ada konferensi di London, untuk membahas masalah moneter dunia. Pada kesempatan ini, Amerika, sekali lagi, lebih terang-terangan dari biasanya, menunjukkan bahwa mereka mengikuti strategi ekonomi “tidak kooperatif”. Bahkan sebelum konferensi berakhir, mereka memutuskan secara sepihak dan tanpa berkonsultasi dengan negara mitranya mendevaluasi dolar, sementara perekonomiannya sudah sangat menjadi eksportir neto.
Tindakan yang dilakukan Amerika ini menyebabkan Eropa mengarah pada kemerosotan ekonomi, terutama Inggris. Ini melengkapi, dalam arti, pencarian kepemimpinan ekonomi dunia berhadapan dengan singa tua Inggris. Bagaimana kita tidak menarik sikap paralel antara sikap Amerika Serikat ketika berhadapan dengan Inggris pada Tahun 1933 dan sikap Amerika Serikat ketika berhadapan dengan Tiongkok pada saat ini?
Krisis pada bulan Juli 2008, berupa pergerakan yang progresif dan sangat moderat revaluasi Yuan (2005-2008) dan Tiongkok menolak secara sengaja untuk kembali ke posisi sebelum revaluasi. Hal ini, sesuai dengan devaluasi dolar secara sepihak pada Tahun 1933.
87 P. Kennedy, op.cit. hal. 454.
b. Menanggapi Kebijakan Merkantilis Amerika, Nazi Jerman Memilih untuk melakukan Pelarian Dini Hutang Luar Negerinya
Strategi merkantilis, melalui perwujudan surplus perdagangan merupakan ciri merkantilisme, diperkenankan melalui penggunaan proteksionisme ekonomi (seperti tarif tinggi, nilai tukar terkontrol dan undervalued) atau melalui cara-cara militer (seperti pasar terbuka menggunakan bantuan “kapal meriam”88) menjadi strategi yang memungkinkan suatu negara yang mengimplementasikannya akan mencapai pertumbuhan tinggi dengan mengorbankan negara-negara defisiter yang menderita dan tidak dapat melakukan apa-apa untuk mencapai pertumbuhan yang kuat. Ini adalah strategi agresif sekaligus menggambarkan imperialisme ekonomi yang kadang-kadang berubah menjadi imperialisme ganda: imperalisme militer dan imperialisme politik89.
Ketika Hitler mencapai kekuasaannya, kas negara sedang kosong, Reichsbank tidak punya emas maupun devisa. Bahkan, akankah kita menerapkan kebijakan pro-growth yang akan menghadapi ketidakmampuan untuk membayar impor yang menjadi penyebab tidak adanya emas dan devisa di dalam negeri? Kebijakan yang diluncurkan oleh Mr. Schacht, seorang cerdas tetapi sinis, mungkin akan memecahkan masalah: hutang luar negeri melalui penerbitan surat berharga Jerman.
Rezim Nazi muncul sebagai penguasa baru (rezim “orde baru”) yang mungkin menarik bagi pasar keuangan: Rezim Nazi memasarkan dalam jumlah besar surat berharga tersebut di Inggris, Perancis, Amerika Serikat.
Di Perancis, Bank Sentral Prancis sendiri berperan besar dalam menentukan sumber keuangan Jerman.
Ketika tagihan surat berharga ini jatuh tempo dan harus dibayarkan, muncul lagi surat berharga dalam skala yang lebih besar lagi. Dengan membangun “piramida” keuangan, berbagai pelaku keuangan yang menyadari ketidakmampuan untuk menemukan tanggal pasti, pemerintah
88 Ini sesuai referensi saat Tiongkok terpecah-pecah menjadi beberapa wilayah oleh kekuatan besar dari Tahun 1820 hingga Tahun 1945.
89 Semua negara penganut merkantilis, yang memiliki surplus perdagangan berkelanjutan, belum tentu terpanggil menggolkan hegemoninya. Ini merupakan kasus negara kecil seperti Swiss atau Swedia.
Jerman memenuhi komitmen mereka. Hal itu bukan masalah bagi pelaku keuangan, uang pinjaman itu dimaksudkan untuk menghidupkan kembali perekonomian Jerman tetapi juga dan terutama untuk mempersiapkan perang melawan pelaku dan negara yang membeli surat berharga tadi90. Dengan cara ini, Jerman mampu memulai dan melaksanakan kebijakan karya besar dan membangun persenjataannya kembali menjadi bencana baru yang akan melanjutkan penghancuran Eropa. Strategi ini tidak disadari pemberi pinjaman besar bahwa Jerman akan berbalik melawan negara yang hanya ingin mendapatkan keuntungan dari Jerman.
Praktik merkantilis melalui surplus perdagangan sangat besar secara kontinyu menjadi keterlaluan dapat diberikan sanksi tak terduga.
Pemimpin Amerika, Inggris, Perancis tidak membayangkan bahwa mempertahankan posisinya sebagai kreditur sama saja mereka mendukung Jerman membangun kembali kekuatan militernya dan menimbulkan penolakan Jerman membayar hutangnya. Demikian pula, saat ini Tiongkok, dengan menempatkan posisinya sebagai kreditur yang cadangan devisanya sudah mencapai $4.000 miliar US terhadap belahan dunia lain, tampaknya Tiongkok tidak mempertimbangkan kemungkinan penolakan kolektif dan secara simultan dari para debiturnya.