• Tidak ada hasil yang ditemukan

Zaman Keemasan Kerajaan Inggris (1815-1918)

Dalam dokumen PDF Memaknai Hegemoni Ekonomi Tiongkok (Halaman 71-76)

BAB II BAGAIMANA INGGRIS DAN AMERIKA

3. Zaman Keemasan Kerajaan Inggris (1815-1918)

Sejak Tahun 1815, Inggris beserta kekaisarannya, menguasai selama satu abad perdagangan dunia. Dominasi ini terutama terwujud paling tidak selama paruh pertama abad kesembilan belas, melalui surplus perdagangan, menjadi inti dari pelaksanaan strategi ekonomi. Untuk mencapai surplus perdagangan, Inggris sangat pragmatis, Inggris menerapkan kebijakan “perdagangan bebas” daripada kebijakan proteksi.

Perdagangan bebas diterapkan hanya pada saat tanpa bahaya bagi produk- produk Inggris dan sebaliknya, Inggris menerapkan proteksi apabila produk-produk asing mendatangkan kerugian bagi produk-produk sejenis di dalam negeri. Dengan demikian, proteksionisme dan perdagangan bebas akan diterapkan berturut-turut pada sektor tertentu, sektor pertanian dan tekstil contohnya. Atas nama perdagangan bebas, Inggris menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat, dengan Tiongkok, sedangkan dalam kasus India, Inggris pertama kali dengan terpaksa melakukan proteksionisme sebelum menerapkan perdagangan bebas.

a. Manajemen Pertanian

Pada akhir era Napoleon, Inggris memperkenalkan Undang-Undang Jagung (Corn Law) untuk melindungi pertaniannya dari persaingan sereal

asal Eropa daratan. Ricardo dalam sebuah eseinya yang indah berjudul

Esei tentang Pengaruh Rendahnya Gandum terhadap Keuntungan Pemodal” yang terbit pada Tahun 181569, di mana beliau merekomendasikan mengembangkan impor gandum, walaupun saat itu, gagasannya tidak serta-merta langsung diikuti. Nanti pada Tahun 1846, setelah melalui perdebatan politik sengit, yang membawa “para ekonom”

menjadi “humanistik” di parlemen. Dalam tiga puluh tahun, kegiatan industri Inggris meningkat pesat meskipun jumlah penduduk yang bekerja di bidang pertanian menurun drastis. Proporsi pertanian dalam kegiatan masyarakat Inggris cukup rendah sehingga mempercepat migrasi desa-kota akibat pembentukan perdagangan bebas tidak terlalu menimbulkan masalah bagi Inggris70.

Perhatikan bahwa pengelolaan sektor pertanian akan sering memberikan peningkatan menjadi praktik proteksionis di luar Inggris, di negara-negara di mana pertanian menyumbang setengah kegiatan atau lebih, tiba-tiba runtuhnya harga akibat dari pembukaan disengaja dalam persaingan asing dapat memiliki efek bencana, arus eksodus pedesaan tidak dapat diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja industri. Oleh karena itu, pada abad kesembilan belas, akhirnya Perancis tetapi juga Meline Jerman menerapkan proteksi terhadap bahaya impor gandum asal Amerika Serikat dan Rusia. Lebih dekat ke Prancis, tidak adanya pertimbangan bahaya seperti itu disukai, bagi sebagian besar, meningkat dari militerisme di Jepang pada akhir Tahun 1920.

b. Tekstil dan Hubungan dengan India

India memproduksi sutra dan katun yang berkualitas tinggi, berharga murah dan jika menteri Inggris mengizinkan pembebasan impor Inggris dari India, maka pabrik kapas dan sutra Inggris akan segera berhenti. Selanjutnya, Inggris melarang produk-produk tersebut asal

69 David Ricardo, Esai tentang pengaruh harga gandum rendah terhadap keuntungan modal, London, Pada Tahun 1815. Ricardo mengusulkan pengembangan impor gandum untuk menurunkan upah dan konsekuensinya meningkatkan keuntungan.

70 Konsekuensi dari penghapusan Undang-undang Gandum sangat dramatis bagi koloni Inggris seperti Irlandia, dalam beberapa tahun saja, hampir seluruhnya penduduk yang tinggal di pedesaan yang mencapai 4 juta jiwa, mengalami penurunan hampir separuhnya akibat meninggal karena kekurangan gizi, sedang satu juta jiwa lainnya melarikan diri ke pengasingan di Amerika atau di tempat lain.

Hindia Timur. Inggris melarang sama sekali, dengan memberlakukan hukuman keras bagi siapa saja melanggar. Inggris lebih suka menggunakan kain produksinya berkualitas buruk dan mahal71. Ini adalah kegilaan murni, kata Friedrich List, jika kita menganut “teori nilai” Adam Smith dan Jean-Baptiste Say, tetapi List sebaliknya mengikuti teori, yang dapat kita sebut teori kekuatan-kekuatan memproduksi dan para menteri Inggris mematuhinya tanpa harus mendalami maksudnya”72. List menyatakan bahwa seratus tahun, “Inggris akan memperoleh kekuatan yang luar biasa”73 yang memungkinkan Inggris menjadi lebih produktif daripada India.

Sejak pabrik-pabrik Inggris di Manchester dan di Liverpool sangat diproteksi dari persaingan asing (terutama India), mampu berproduksi dengan biaya yang sangat rendah karena penggunaan teknologi baru.

Sekitar periode 1870-1880, perdagangan kain dengan India mencapai tahap liberalisasi lebih mudah bagi India sekarang sebagai koloni Inggris, menjadi “permata mahkota”. Dalam waktu singkat, adanya impor tekstil India asal Inggris justru merusak industri-industri tekstil India. Negara ini mengalami kesulitan yang hanya berfokus pada ekspor produk-produk primer seperti teh, kopi, kapas dan bahkan opium.

c. Hubungan dengan Republik Amerika

Koloni Inggris di Amerika harus berproduksi sesuai ketentuan Inggris. Amerika tidak diperkenankan memproduksi barang-barang manufaktur. Sebaliknya, barang-barang tersebut harus diimpor dari Inggris (negara pusat kekuasaan). Kemauan masyarakat Amerika sendiri untuk mengembangkan produksi barang-barang mereka sendiri mendorong terjadinya perang kemerdekaan.

Selanjutnya, negara-negara bagian di Amerika Utara, lalu mengembangkan sendiri industrinya, memberlakukan strategi proteksionisme negara federal ini berhadapan kerajaan Inggris. Ini tidak sesuai dengan kemauan negara-negara di bagian selatan Amerika Serikat

71 Friedrich List, op. cit, hal. 151-152. Penulis juga membuat perbandingan: "Sudah, dalam hal jajahannya di Amerika Utara, Inggris dalam sebuah pepatah menyatakan tidak membiarkan sedikitpun jajahannya memproduksi satu kepala kuku".

72 Friedrich List, op. cit, hal. 153.

73 Friedrich List, op. cit, hal. 153.

yang lebih suka memainkan kartu perdagangan bebas dengan Inggris untuk menjual produksi kapasnya.

Karena perbedaan antara kepentingan dari negara federal di Utara dan Selatan Amerika inilah yang menjadi asal-usul sebenarnya dari perang saudara.

Beberapa saat kemudian, seorang presiden Amerika Serikat harus menyatakan: “Tuan-tuan bangsa Inggris selama dua abad, anda telah melindungi industri anda dan anda telah berhasil dengan baik, sekarang anda mengatakan kepada kami bahwa kita harus melakukan perdagangan bebas, baik, kami akan melakukan seperti anda lakukan, selama dua abad, setelah itu kami akan membuka perdagangan kami”. Itulah sebenarnya strategi yang diterapkan yang memungkinkan industri Amerika melampaui industri Inggris pada Tahun 1900, merupakan awal dari substitusi berikutnya (mulai Tahun 1940) dominasi Amerika atas Inggris.

d. “Perdagangan Bebas” dan Perang Opium

Bagi penjajahan India setelah Perjanjian Paris, Inggris belum punya sesuatu yang mereka tawarkan pada Tiongkok, apalagi Tiongkok kurang berminat pada produk-produk manufaktur Inggris. Lalu Inggris mengatur aliran opium dalam jumlah besar ke Tiongkok. Pada Tahun 1757, Perusahaan India Timur berusaha dalam budidaya opium di Benggala, bagi tujuan ekspor ke Tiongkok, di Canton. Meskipun dilarang, perdagangan ini kurang atau lebih dapat ditolerir. Hal itu merupakan bagian dari seluruh hubungan dagang lebih menguntungkan Tiongkok yang mengekspor teh, sutra dan katun. Namun, perusahaan ini yang merupakan warisan pemodal Inggris di kawasan itu, memutuskan pada Tahun 1816 mengintensifkan perdagangan opium impornya melalui perdagangan opium selundupan yang semakin meningkat dengan cepat dari 4000 kotak seberat 65 kg pada awalnya menjadi lebih dari 40.000 kg sekitar Tahun 1838, sebelum perang

“opium pertama”. Konsekuensi dari peningkatan tersebut, perdagangan luar negeri Tiongkok yang tadi surplus, menjadi semakin defisit. Kerugian finansial74 ini mengakibatkan berkurangnya jumlah peredaran uang dan

74 "Kebocoran uang Tiongkok terutama karena pembelian opium terus berlangsung selama abad kesembilan belas (pada akhir abad ke-19, opium masih mencapai 30 persen dari impor). Jacques Gernet, dalam bukunya Dunia Tiongkok, Armand Colin,

menghasilkan resesi dan krisis fiskal yang akan berperan dalam menimbulkan kerusuhan sosial yang cukup besar. Pertimbangan lain adalah munculnya bencana akibat ketergantungan besar pada konsumsi opium bagi rakyat Guangdong, lalu pemerintah Tiongkok memutuskan untuk memberlakukan larangan impor opium: 20.000 peti opium disita di Canton pada Tahun 1839 dan pedagang Inggris diminta untuk pergi.

Hambatan “perdagangan bebas” ini, tidak dapat ditolerir, orang- orang Inggris membalas dengan tindakan pembajakan pada jalur distribusi perdagangan Tiongkok. Serangan Inggris ini dilanjutkan pada Tahun 1841 setelah kedatangan bala bantuan mereka. Pasukan asing ini menyerang lagi benteng Zhujiang, lalu mereka menduduki Xiamen, Ningbo, Yangzi di mana armada Inggris menembus hingga ke Nanking”75.

Melalui Perjanjian Nanking (1842), Tiongkok harus membayar mahal “Ganti Rugi” dengan menyerahkan pulau Hong Kong dan adanya

“perdagangan terbuka, artinya terutama bagi impor opium, di pelabuhan Xiamen, Shanghai dan Ningbo selain Canton”76. Pertumbuhan konsumsi opium akan menjurus pada adanya disintegrasi sosial dan memburuknya keuangan publik. Pemberontakan besar Taiping (1831-1863) merupakan bukti nyata. Penyelundupan opium terus berlanjut, walaupun operasi militer mutlak diperlukan. Hal ini menimbulkan “Perang Opium Kedua”, termasuk penumpasan di Beijing (1860) oleh pasukan Anglo-Perancis dan konsekuensinya: adanya perluasan campur tangan asing di Tiongkok dan berlaku “perdagangan bebas”. Perusahaan India Timur pailit pada Tahun 1833, tetapi perusahaan baru mengalami perkembangan pesat, khususnya yang sekarang kelompok bank terkemuka di dunia yaitu “Hong Kong and Shanghai Bank Corporation “(HSBC).

e. Melemahnya Perdagangan Luar Negeri dan Kota

Ada banyak sekali contoh dari sifat pragmatis kebijakan imperialis Inggris, sejalan dengan strategi dan merkantilis yang memberikan kota

Paris, 2005, vol. 2, halaman 301 mencatat bahwa hal ini adanya surplus yang terjadi dalam konteks global di mana bimetalisme (emas/perak) secara bertahap menggantikan standar emas, yang mendevaluasikan mata uang Tiongkok agar terpacu lagi perdagangannya.

75 J. Gernet, op cit, hal. 302-303.

76 J. Gernet, op. cit, hal. 304.

London kekuatan tak tertandingi. Namun, perlu dicatat, bahwa dalam dua atau tiga dekade sebelum Perang Dunia pertama, perdagangan luar negeri Inggris sangat besar surplusnya bahkan menjadi tidak seimbang. Namun, setelah itu, Inggris mengalami defisit terhadap dua kekuatan baru yang punya ambisi global, yaitu Jerman dan Amerika Serikat. Efektivitas kebijakan perdagangan proteksionis dari kedua rival dan keadaan demografi secara relatif dengan cepat melemahkan Inggris77. Meskipun demikian, Inggris masih sangat kaya; investasi luar negeri pada 1914 mencapai £19.5 miliar, dan mewakili 43 persen investasi asing di dunia.

Tetapi investasi ini, yang mendatangkan keuntungan bagi Kota London bertumbuh. Inggris yang merupakan eksportir neto barang dan modal pada pertengahan abad kesembilan belas, sekarang lebih hidup dari rente ini.

4. Kenaikan Kepura-puraan: Jerman dan Amerika Serikat

Dalam dokumen PDF Memaknai Hegemoni Ekonomi Tiongkok (Halaman 71-76)