BAB V STRATEGI MERKANTILISME TIONGKOK
4. Pengendalian Kurs, Intervensi Terselubung
Menghadapi risiko ini, Bank of Japan menetapkan suku bunga yang sangat rendah terhadap Yen untuk menangkal Lembaga Amerika mempertahankan posisinya sebagai kreditur Yen, sehingga mendorong bank-bank Jepang memberikan pinjaman Yen kepada pihak asing dan, akhirnya, untuk mempromosikan pengembangan kredit bagi perekonomian negara.
Cara ini bekerja dengan baik selama beberapa waktu. Nilai tukar Yen terus berada di bawah kontrol tanpa menimbulkan masalah jumlah uang beredar. Sayangnya, Bank of Japan menerapkannya agak terlambat sesuai keinginannya menghindari jebakan pembelian besar-besaran Dolar, mata uangnya jatuh ke dalam kedua perangkap: melalui penerapan suku bunga jangka panjang dan terlalu rendah terhadap Yen. Hal ini menimbulkan “gelembung dan crach ekonomi” di pasar properti dan di pasar saham. Hasilnya adalah krisis perbankan parah dan krisis keuangan pada perekonomian Jepang, yang dua puluh tahun kemudian, Jepang belum sepenuhnya pulih.
Pada saat yang sama, Tiongkok mulai menerapkan perangkat merkantilisnya pada akhir 1989, pelajaran dari kesialan Jepang telah menjadi pelajaran bagi Tiongkok yaitu kontrol devisa sangat penting bagi sebuah negara yang ingin mempertahankan mata uangnya secara signifikan tetap terdepresiasi.
b. Perpaduan antara Kontrol Devisa dan Intervensi Kurs
Logikanya, PKC mempertahankan kontrol devisa dan pengawasan polisi yang kejam sejak Tahun 1949. Kontrol ini terutama ditujukan untuk mencegah arus masuk modal asing yang dapat memainkan peran destabilisator. Kadang-kadang otoritas moneter Tiongkok melakukan intervensi di pasar valuta asing di Shanghai, dengan mengontrol uang, yang tidak punya koneksi di pasar valas internasional.
Keberhasilan praktik ini adalah kenyataan bahwa adanya pemutusan antara pasar devisa nasional dan pasar valas negara lain, sehingga setiap spekulasi eksternal adalah suatu hal yang mustahil. Agar berlaku efektif, peraturan ketat diterapkan. Semua transfer dana dengan pihak asing, baik penduduk Tiongkok maupun bukan penduduk secara tegas dilarang kecuali seizin otoritas Tiongkok, seperti hal yang sama berlaku bagi
konversi antara Yuan dan devisa136. Mengingat peran yang dimainkan Tiongkok selama strategi Yuan/Dolar dalam persaingan dunia, kekuatan Tiongkok tidak boleh dipandang sebelah mata. Celakalah bagi si pelanggar aturan ini, hukuman pidana berat menantinya untuk menangkal setiap pergolakan. Sebuah sistem represif tak terbayangkan di negara-negara demokratis maupun tidak, justru berhasil dilakukan Tiongkok, satu- satunya negara otoriter yang punya hak istimewa atas mata uang yang kuat dan mata uang terdepresiasi secara permanen!
Pasar Shanghai memungkinkan perusahaan-perusahaan Tiongkok menyelesaikan transaksi antar mereka, melalui bank-bank komersial Tiongkok, operasi perdagangan valas yang harus diberi kewenangan.
Beberapa perusahaan harus mengonversi Yuan ke dalam mata uang asing yang diperoleh melalui ekspor atau yang diterima melalui investasi perusahaan asing, sebaliknya, perusahaan-perusahaan lain yang harus membayar impornya dan harus membeli mata uang asing.
Karena besarnya ketidakseimbangan perdagangan luar negeri Tiongkok137, beroperasinya satu perusahaan dengan perusahaan Tiongkok lainnya jauh dari keseimbangan. Mata uang yang dimiliki perusahaan- perusahaan Tiongkok yang bertindak menjual jumlahnya jauh lebih besar dari devisa yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan importir. Jika pasar valuta asing tidak dimanipulasi, akan ada penyesuaian yang akan mengakibatkan peningkatan yang sangat tinggi yuan terhadap mata uang asing. Hal ini tidak terjadi. Secara permanen Bank Rakyat Tiongkok membeli sejumlah devisa bersih yang tersisa yang dijual di pasar valas, mereka mengaturnya sambil mengedarkan yuan138.
c. Proteksionisme Moneter Istimewa
Mengingat bencana terjadi di dunia manipulasi uang, pertanyaan yang muncul: apa peran WTO? Jadi apa peran yang dilakukan organisasi
136 Otoritas moneter Tiongkok membolehkan konversi yang terkait dengan ekspor atau impor dan aliran dana yang terkait dengan investasi.
137 Ketidakseimbangan dalam neraca perdagangan menjelaskan sebagian besar ketidakseimbangan moneter yang juga disebabkan oleh perpanjangan masa investasi langsung, perusahaan-perusahaan Baratlah yang juga membuat surplus neraca modal jangka panjang Tiongkok.
138 Karena manfaat perdagangan meningkatkan jumlah uang beredar, kita memahami mengapa Tiongkok tidak berusaha mengembangkan sistem kredit.
internasional ini? Apakah sah dapat memburu dan menghukum negara yang berusaha membatasi defisit perdagangannya melalui pajak atau subsidi ekspor, pada saat yang sama, Tiongkok memberlakukan secara terus-menerus « dumping kurs » dan memperoleh surplus perdagangan luar biasa besarnya. Harus digarisbawahi bahwa proteksionisme moneter dan proteksionisme bea masuk persis sama saling bersubstitusi satu sama lain.
Ketika Tiongkok memberlakukan kursnya 6.8 yuan per dolar yang sebelumnya 3.40 yuan, hal ini tentu saja mengerem impornya melalui bea masuk sebanyak 100 persen dari nilai produk dan seperti mendoping ekspornya melalui subsidi 50 persen dari harga produk139.
Hingga Tahun 2001, negara-negara anggota WTO tidak berbeda terlalu jauh, kecuali (beberapa negara yang memberlakukan kontrol devisa defensif karena mengalami defisit perdagangan kronis), negara ini memberlakukan kontrol devisa. Untuk menyeimbangkan neraca dagangnya, negara-negara ini diperkenankan memberlakukan bea masuk dan subsidi ekspor140.
Namun pada 2001 sambil menerima Tiongkok serta keistimewaan kursnya dalam WTO, negara-negara anggota menerima gajah dalam botol keramik. Gajah Tiongkok menjungkirbalikkan semua kebijakan WTO yang mengarah pada perdagangan internasional nan adil. Berkat keanggotaannya dalam WTO, Tiongkok berhasil mencegah berlakunya proteksi bea masuk defensif sambil menggolkan proteksi moneter agresifnya.
Keistimewaan yang menjamin WTO mempunyai keterbatasan yang mewajibkan Tiongkok secara rahasia memperluas kebijakan
139 Pada impor, barang-barang yang berharga $100 di Amerika Serikat setara dengan 340 yuan saat kurs dolar/yuan 3.40. Harganya mencapai 680 yuan ketika kurs mencapai 6.80 yuan. Produk-produk Amerika dua kali lebih mahal. Mendepresiasikan (Underevaluation) yuan sama saja dengan pemberlakukan bea masuk atas barang impor asal Amerika sebesar 100 persen. Pada sisi ekspor, barang-barang seharga 680 yuan di Tiongkok setara dengan harga $200 bila kurs $/yuan mencapai 3.40 yuan tetapi pada kenyataannya $100 jika kurs yang diberlakukan Tiongkok sebesar 6.8 yuan. Produk- produk Tiongkok dua kali lebih murah dalam dolar dari seharusnya. Undervaluation yuan sama saja dengan subsidi Tiongkok sebesar 50 persen terhadap eksportirnya.
140 Patut diingat, bahwa proteksionisme bukannya « baik » atau « buruk ». Proteksionisme berguna bagi negara yang mengalami defisit perdagangan. Sebaliknya, proteksionisme
« moneter » pada negara yang mengalami surplus perdagangan sama saja sebagai agresi bagi negara yang mengalami defisit.
perdagangannya. Berkat kekuatan lobi Tiongkok di Amerika, Tiongkok berhasil menghindari hingga 2010, keberatan pemerintah Amerika atas praktik dumping kurs Tiongkok. Dengan sukses tertentu, Tiongkok berhasil meminimalisir secara sistematis besarnya surplus perdagangan agar Tiongkok menghindari keberatan internasional pada kursnya.
d. Statistik dan Kebijakan Kurs Terselubung
Pada akhir Tahun 1989, setelah melalui pergantian beberapa kebijakan moneter, kebijakan kurs dicirikan oleh yuan terdepresiasi secara sengaja. Sebelumnya satu dolar setara dengan 3.73 yuan, melalui kebijakan melemahkan yuan menjadi 4.23 yuan serta devaluasi sebesar 30 persen menjadi 5.23 yuan141. Walaupun dengan memperhitungkan tingkat inflasi Tiongkok. Empat tahun kemudian, pada akhir 1993, operasi yang sama berulang. Dolar menguat dari 5,82 yuan per dolar menjadi 8,68 yuan per dolar: di sanalah, masih terjadi lagi devaluasi melebihi 30 persen142. Meskipun mempertimbangkan tingkat inflasi di Tiongkok pada waktu itu, devaluasi ini sedikit lebih tinggi daripada yang lazim di negara-negara mitra Tiongkok, tetap benar bahwa kedua devaluasi menyebabkan depresiasi riil renminbi dari sekitar 40 sampai 50 persen. Akibatnya datang lebih cepat. Sementara di Tahun 1980an, perekonomian Tiongkok mengalami defisit perdagangan luar negeri (karena, seperti yang telah kita lihat, adanya impor barang modal terkait dengan penanaman modal asing), lalu mulai surplus pada dekade 1990an dan akan tetap begitu! Mata uang Tiongkok, sejak dua puluh tahun lalu, masih sangat undervalued. Fakta ini jelas merupakan surplus perdagangan yang besar di negeri ini masih jauh dari rasa ingin tahu diakui oleh semua.
Demikian pula, PDB Tiongkok sebagian besar di bawah perkiraan, yang jelas terkait dengan nilai tukar, tetapi sekali lagi, jauh dari diakui.
Kebanyakan penelitian atau artikel jurnal yang berkaitan dengan Tiongkok menganggap PDB Tiongkok mencapai 6 persen dari PDB dunia. Ekonom memiliki kecenderungan aneh untuk tidak menjadi kritis terhadap statistik
141 Devaluasi merupakan faktor yang memperparah krisis Jepang yang persis sama yang dilakukan Tiongkok.
142 Ini adalah devaluasi kedua dalam konteks "yendaka", penguatan mata uang Jepang terhadap dolar dan sekali lagi memberikan kontribusi bagi peningkatan kesulitan ekonomi Jepang.
yang mereka gunakan. Namun, bagaimana kita dapat serius membayangkan bahwa negara yang mengkonsumsi lebih dari setengah dari baja dunia, merupakan konsumen terbesar aluminium, yang kedua bagi produk minyak bumi, produsen terbesar dan konsumen batubara (juga merupakan pencemar utama) dengan lebih dari satu miliar ton per tahun, dapat memiliki hanya 6 persen atau 7 persen dari GDP dunia, sedikit lebih tinggi dari Inggris atau Perancis, sama seperti Jerman?
Dalam studi yang dilakukan beberapa tahun lalu berdasarkan paritas daya beli, Dana Moneter Internasional memperkirakan proporsi PDB Tiongkok mencapai 16 persen dari PDB dunia, yang jelas jauh lebih realistis. Perhitungan kasar dengan mempertimbangkan perkembangan PDB negara-negara industri utama selama tiga dekade terakhir membawa kita pada gagasan bahwa PDB Tiongkok akan, pada Tahun 2009, mencapai sekitar 20 persen dari GDP dunia, sama dengan Amerika Serikat.
Meskipun, berdasarkan dolar/yuan yang diberlakukan Tiongkok, PDB tetap hanya sekitar 7 persen, tiga kali lebih sedikit.
Tiga kali kali lebih sedikit: ini adalah ukuran, meskipun kasar, tetapi perkiraan pertama bahwa mata uang Tiongkok masih undervalued! Jumlah yuan yang dipertukarkan terhadap satu dolar harus dua, dua setengah, lebih dari tiga bukan 6,85 yuan saat ini. Sebuah perbedaan serius!
The “Doctor Diafoirus” ekonomi akan keberatan karena metode perhitungan terlalu sederhana, yang mempertimbangkan bahwa beberapa barang yang dapat diperdagangkan dan beberapa tidak, bahwa struktur konsumsi tidak sama di berbagai negara di dunia ini, sehingga harus dipertimbangkan pula arus modal masuk, dll. Kita dapat membahas apakah kurs yuan yang tepat sebesar 66 persen atau hanya 60 persen. Namun, kurs yuan yang lemah merupakan keuntungan besar bagi Tiongkok.
Hal ini karena mata uang Tiongkok sangat lemah (undervalued) serta surplus perdagangannya sangat besar. Tetapi, sekali lagi, ada perbedaan serius pada data. Sesuai data statistik Tiongkok, surplus perdagangan Tahun 2007-2008 mencapai 25 miliar dolar per bulan, atau sekitar 300 miliar per tahun. Sebaliknya, jika menggunakan data statistik dari berbagai negara yang berdagang dengan Tiongkok, hasilnya cukup berbeda. Kita mendapatkan dua kali lipat menjadi 600 miliar per tahun!
Dalam strategi Tiongkok, data statistik merupakan taruhan menentukan. Penting bahwa surplus perdagangan yang direalisasikan Tiongkok tidak muncul apa adanya, karena menjadi penyebab utama ketidakseimbangan dalam perekonomian global. Misalkan nilai tukar mata uang Tiongkok dalam keadaan “normal”, bahwa Tiongkok menyumbang hanya 7 persen atau 8 persen dari PDB dunia atau surplus perdagangan hanya mencapai 250 sampai 300 miliar dolar setahun direalisasikan oleh perusahaan terselubung, dilengkapi dengan retorika tentang bahaya
«kembali ke proteksionisme » dan ketidakpercayaan penggunaan dolar sebagai mata uang internasional. Kita dapat melihat bunga yang diperoleh Tiongkok secara terselubung. Kelanjutan kebijakan merkantilis yang menghancurkan bagi semua.
Dalam hal ini, kami percaya adalah penting bahwa sejak orang nomor dua di Bank Sentral Tiongkok, Mr. Zhou diangkat sebagai penasehat khusus Dominique Strauss-Kahn di IMF, lembaga ini telah mengubah cara menghitung perdagangan luar negeri Tiongkok, yang memiliki statistik resmi negara itu yang mengakibatkan undervalued sebesar 50 persen dari surplus perdagangan yang sebenarnya.
Negara-negara Barat, sudah sadar dari kemerosotan yang mereka derita melalui perdagangannya dengan Tiongkok, sekali lagi dengan mengabaikan kemerosotan yang mereka terima dari transfer teknologi menuju ke Tiongkok.