BAB II MASYARAKAT HUKUM ADAT INDONESIA
C. Masyarakat Hukum Adat Indonesia
3. Kepengurusan Masyarakat Adat
Kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa sebagian terbesar warga masyarakat Indonesia masih tinggal daerah pedesaan. Jumlah penduduk daerah pedesaan yang sangat besar itu apabila dapat terbina dengan baik akan menjadi aset pembangunan bangsa.
Apabila dibandingkan dalam struktur masyarakat hukum adat, juga terdapat suatu badan pengurus yang menjalankan pemerintahan.
Pengurus tersebut bertugas dan berwenang mengatur semua kegiatan persekutuan untuk kepentingan-kepentingan anggotanya.
Kepengurusan dan pemerintahan persekutuan dalam masyarakat hukum adat dipengaruhi oleh struktur masyarakatnya.
Jalinan asal usul terbentuknya masyarakat mempengaruhi
32 Ibid. Hlm.115
cenderung untuk membentuk kelompok-kelompok kumpulan kekeluargaan, seperti “rukun kematian” atau bahkan membentuk sebagai “kesatuan masyarakat adat” yang berfungsi sebagai pengganti kerapatan adat di kampung halamannya.
Keberadaan suatu masyarakat adat dalam suatu kelompok pemukiman tertentu mendorong mereka membentuk kelompok masyarakat perantauan. Dalam kehidupan kebersamaan tersebut dilandasi oleh kesamaan asal daerah.
Di Bandar Lampung banyak ditemui berbagai macam organisasi kekeluargaan yang juga berfungsi sebagai ajang silaturahim antar sesama anggota masyarakat adat yang berasal dari daerah yang sama. Contohnya masayarakat adat Minangkabau, mereka membentuk suatu organisasi khusus masyarakat Minangkabau yang ada di Bandar Lampung dengan berbagai nama.
Organisasi tersebut seringkali bertindak mewakili anggota- anggotanya dalam penyelesaian perselisihan antara masyarakat adat yang satu dengan masyarakat adat yang lain, misalnya menyelesaikan masalah perkawinan campuran antara pria Lampung dengan wanita Minangkabau. Penyelesaiannya dilakukan dengan perundingan dan musyawarah secara damai atas dasar kekeluargaan dan timbang rasa.
3. Kepengurusan Masyarakat Adat32
Kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa sebagian terbesar warga masyarakat Indonesia masih tinggal daerah pedesaan. Jumlah penduduk daerah pedesaan yang sangat besar itu apabila dapat terbina dengan baik akan menjadi aset pembangunan bangsa.
Apabila dibandingkan dalam struktur masyarakat hukum adat, juga terdapat suatu badan pengurus yang menjalankan pemerintahan.
Pengurus tersebut bertugas dan berwenang mengatur semua kegiatan persekutuan untuk kepentingan-kepentingan anggotanya.
Kepengurusan dan pemerintahan persekutuan dalam masyarakat hukum adat dipengaruhi oleh struktur masyarakatnya.
Jalinan asal usul terbentuknya masyarakat mempengaruhi
32 Ibid. Hlm.115
bagaimanakah struktur kepemimpinan dalam suatu masyarakat hukum adat. Seorang pemimpin persekutuan hukum adalah kepala rakyat, bapak masyarakat, yang secara moral wajib menjaga ketentraman dalam kelompoknya, membuat dan menjaga hukum kelompoknya sehingga tercipta kedamaian, keserasian dalam bertingkah laku.
Terdapat 3 hal pokok aktivitas seorang kepala rakyat,33 yaitu:
a. Tindakan-tindakan mengenai urusan tanah berhubung dengan adanya pertalian yang erat antara tanah dan persekutuan yang menguasai tanah itu;
b. Penyelenggara hukum sebagai usaha untuk mencegah adanya pelanggaran hukum, supaya hukum dapat berjalan sebagaimana mestinya (pembinaan secara preventif),
c. Menyelenggarakan hukum sebagai pembetulan hukum setelah hukum itu dilanggar (pembinaan secara represif).
Tugas pemeliharaan ataupun penyelenggaraan hukum kepada rakyat ini pada masyarakat hukum adat, dapat berupa:
a. Sebagai penjamin mutlak dalam suatu perjanjian tentang tanah, jual lepas, jual sende atau sewa menyewa tanah. Jaminan ini menjadikan setiap perbuatan dalam lapangan hukum adat itu bersifat terang serta terbuka dan jauh dari pelanggaran tata tertib hukum adat,
b. Sebagai pengawas dalam pembagian harta warisan di desa, c. Penyelesai dalam lapangan perkawinan, ikut mencari jalan
keluar setiap ada kemungkinan bahwa hukum adat akan dilanggar,
d. Sebagai pemakat, kepala persekutuan wajib secara moril mempertemukan para pihak yang berselisih sehingga tetap terjamindan terpeliharanya tatanan masyarakat.Tindakan yang diambil berupa inisiatif dan senantiasa mempertimbangkan nilai yang hidup pada masyarakat,
e. Berkewajiban memelihara kehidupan hukum dalam kelompok persekutuan, menjaga supaya hukum itu berjalan dengan layak.
33 I Gede AB Wiranata, 2005. Hukum Adat Indonesia Perkembangannya dari Masa ke Masa. Citra Aditya Bakti, Bandung. Hlm.123
Jadi tidak ada satupun lapangan pergaulan hidup tidak menjadi tanggungjawab kepala persekutuan.
Setiap kesatuan masyarakat hukum adat atau persekutuan adat, baik yang bersifat geneologis maupun teritorial ataupun dalam bentuk yang khusus diatur menurut hukum adat (kebiasaan) yang mempunyai susunan pengurus yang menyatu dengan kepengurusan resmi ataupun terpisah sendiri.34
Masyarakat hukum adat Aceh, tempat kediamannya disebut
“mukim” yang dipimpin oleh “Uluebalang”. Mukim merupakan kesatuan dari beberapa “gampong” (kampung) dan juga “meunasah”
(lembaga agama). Setiap gampong dipimpin oleh “keuciq” sebagai kepala kampung dan “imeum” sebagai Teungku Muenasah. Keuciq dan Teungku Muenasah dalam menjalankan tugasnya didampingi oleh “ureung tuha” (majelis tua-tua kampung). Untuk mengatur kehidupan warga adat gampong digunakan hukum Adat disamping Hukum Islam.
Masyarakat Hukum adat Minangkabau, pada umumnya menganut agama Islam dan masyarakat adatnya bersifat Geneologis-Matrilinial. Kepengurusan masyarakat adatnya diperankan oleh kelompok hukum garis ibu. Masyarakat hukum adat Minangkabau merupakan kesatuan-kesatuan keluarga kecil yang disebut “paruik” sebagai bagian dari satu kesatuan “suku” atau
“kampung”. Kesatuan yang formal adalah “suku” yang dipimpin oleh seorang Penghulu suku dan “Kampuang“ yang dipimpin oleh seorang
”Penghulu Andiko” atau “Datuek Kampuang”.
Masyarakat hukum adat Lampung, sistem kekerabatannya bersifat geneologis-patrilinial, dimana kepengurusan pemerintahan adatnya dipegang oleh keluarga-keluarga dari keturunan menurut garis laki-laki. Kesatuan masyarakatnya mendiami kampung yang disebut”tiyuh atau pekon”. Kesatuan keluarga berpusat pada suatu bangunan rumah yaitu “Nuwow Balak” atau “Lamban Balak”.
Kesatuan adat Lampung dibagi dua yaitu kesatuan adat Pepadun dan kesatuan adat Pesisir. Susunan kewargaan adat Pepadun terdiri dari
34 Op cit.Hlm.116
Jadi tidak ada satupun lapangan pergaulan hidup tidak menjadi tanggungjawab kepala persekutuan.
Setiap kesatuan masyarakat hukum adat atau persekutuan adat, baik yang bersifat geneologis maupun teritorial ataupun dalam bentuk yang khusus diatur menurut hukum adat (kebiasaan) yang mempunyai susunan pengurus yang menyatu dengan kepengurusan resmi ataupun terpisah sendiri.34
Masyarakat hukum adat Aceh, tempat kediamannya disebut
“mukim” yang dipimpin oleh “Uluebalang”. Mukim merupakan kesatuan dari beberapa “gampong” (kampung) dan juga “meunasah”
(lembaga agama). Setiap gampong dipimpin oleh “keuciq” sebagai kepala kampung dan “imeum” sebagai Teungku Muenasah. Keuciq dan Teungku Muenasah dalam menjalankan tugasnya didampingi oleh “ureung tuha” (majelis tua-tua kampung). Untuk mengatur kehidupan warga adat gampong digunakan hukum Adat disamping Hukum Islam.
Masyarakat Hukum adat Minangkabau, pada umumnya menganut agama Islam dan masyarakat adatnya bersifat Geneologis-Matrilinial. Kepengurusan masyarakat adatnya diperankan oleh kelompok hukum garis ibu. Masyarakat hukum adat Minangkabau merupakan kesatuan-kesatuan keluarga kecil yang disebut “paruik” sebagai bagian dari satu kesatuan “suku” atau
“kampung”. Kesatuan yang formal adalah “suku” yang dipimpin oleh seorang Penghulu suku dan “Kampuang“ yang dipimpin oleh seorang
”Penghulu Andiko” atau “Datuek Kampuang”.
Masyarakat hukum adat Lampung, sistem kekerabatannya bersifat geneologis-patrilinial, dimana kepengurusan pemerintahan adatnya dipegang oleh keluarga-keluarga dari keturunan menurut garis laki-laki. Kesatuan masyarakatnya mendiami kampung yang disebut”tiyuh atau pekon”. Kesatuan keluarga berpusat pada suatu bangunan rumah yaitu “Nuwow Balak” atau “Lamban Balak”.
Kesatuan adat Lampung dibagi dua yaitu kesatuan adat Pepadun dan kesatuan adat Pesisir. Susunan kewargaan adat Pepadun terdiri dari
34 Op cit.Hlm.116
“kepunyimbangan”, warga adat biasa dan keturunan budak.
Sedangkan pada persatuan adat Pesisir, kewargaan adatnya dibedakan menurut susunan “kesebatinan”, yaitu kesebatinan marga, kesebatinan pekon dan kesebatinan suku.Kewargaan adat Pesisir tidak boleh mengubah status kewargaan adatnya. Pemerintahan adatnya dipimpin oleh seorang yang berkedudukan Saibatin Marga dan dalam menjalankan pemerintahan adatnya dilaksanakan dengan musyawarah perwatin adat.