• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Hukum Adat Geneologis, Teritorial, dan

Dalam dokumen Hukum Adat di Indonesia (Halaman 45-48)

BAB II MASYARAKAT HUKUM ADAT INDONESIA

C. Masyarakat Hukum Adat Indonesia

1. Masyarakat Hukum Adat Geneologis, Teritorial, dan

Masyarakat hukum adat Geneologis disebut juga masyarakat Unilateral maksudnya masyarakat yang anggota-anggotanya menarik dari garis keturunan hanya dari satu pihak saja yaitu pihak laki-laki saja atau dari pihak wanita saja. Ciri dari perkawinan tersebut di atas adalah :

Masyarakat hukum adat yang bersifat geneologis adalah satu kesatuan masyarakat yang teratur, yang keanggotaannya berasal dari dan terikat akan kesatuan kesamaan keturunan dari satu leluhur baik yang berasal dari hubungan darah ataupun karena hubungan perkawinan.

Masyarakat hukum adat geneologis, dibedakan atas:27

1) Masyarakat Hukum Patrilinial, yaitu masyarakat yang susunan pertalian darahnya mengikuti garis bapak (laki-laki). Contohnya masyarakat Lampung, Batak, Bali, Sumba, Nias, Maluku dan Irian;

2) Masyarakat Hukum Matrilinial adalah masyarakat yang susunan pertalian darahnya ditarik menurut garis keturunan ibu (wanita). Contohnya masyarakat Minangkabau, Kerinci, Semendo Sumatera Selatan dan Timor;

3) Masyarakat Hukum Parental adalah masyarakat yang susunan pertalian darahnya ditarik menurut garis keturunan orang tua secara bersama-sama (ayah dan Ibu). Jadi hubungan kekerabatannya berjalan secara sejajar, seimbang dan kedudukannya sama tinggi untuk menentukan hak dan kewajiban seseorang dalam sistem kekerabatannya. Contohnya Jawa, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi.

27 I Gede AB Wiranata, 2005. Hukum Adat Indonesia Perkembangannya dari Masa ke Masa. Citra Aditya Bakti, Bandung. Hlm.112

b. Masyarakat Teritorial28

Masyarakat Hukum Adat Teritorial adalah masyarakat yang hidup tetap dan teratur yang anggota-anggota masyarakatnya terikat pada suatu “daerah kediaman” yang sama. Diantara anggotanya yang pergi merantau untuk waktu sementara masih tetap merupakan anggota kesatuan teritorial itu. Begitu juga orang yang datang dari luar dapat masuk menjadi anggaota kesatuan dengan memenuhi persyaratan adat setempat.

Masyarakat hukum adat (persekutuan) Teritorial dibedakan dalam 3 (tiga) macam:

1) Persekutuan desa, suatu tempat kediaman bersama didalam daerahnya sendiri termasuk beberapa pedukuhan yang terletak disekitarnya yang tunduk pada perangkat desa yang berkediaman di pusat desa.Contohnya desa di Jawa dan Bali;

2) Persekutuan daerah, suatu derah kediaman bersama terdiri dari beberapa desa dan menguasai tanah hak ulayat bersama yang terdiri dari beberapa dukuh atau kampung dengan satu pemerintahan adat. Masing-masing anggota persekutuannya memiliki struktur pemerintahan secara mandiri, tetapi merupakan bawahan dari daerah. Contoh “marga” di Lampung dan “nagari” di Minangkabau;

3) Perserikatan desa, beberapa desa dan terletak berdampingan dan masing-masing berdiri sendiri mengadakan perjanjian kerjasama untuk mengatur kepentingan bersama. Contohnya kepentingan dalam mengatur pemerintahan adat bersama, pertahanan bersama, kehidupan ekonomi, hasil pertanian, pemasaran bersama.

c. Masyarakat Hukum Geneologis-Teritorial

Masyarakat hukum ini adalah kesatuan masyarakat yang hidup tetap dan teratur dimana anggota-anggotanya bukan saja terikat pada tempat kediaman pada suatu daerah tertentu, tetapi juga

28Hilman Hadikusuma, 2000. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia. Mandar Maju, Bandung. Hlm.106

b. Masyarakat Teritorial28

Masyarakat Hukum Adat Teritorial adalah masyarakat yang hidup tetap dan teratur yang anggota-anggota masyarakatnya terikat pada suatu “daerah kediaman” yang sama. Diantara anggotanya yang pergi merantau untuk waktu sementara masih tetap merupakan anggota kesatuan teritorial itu. Begitu juga orang yang datang dari luar dapat masuk menjadi anggaota kesatuan dengan memenuhi persyaratan adat setempat.

Masyarakat hukum adat (persekutuan) Teritorial dibedakan dalam 3 (tiga) macam:

1) Persekutuan desa, suatu tempat kediaman bersama didalam daerahnya sendiri termasuk beberapa pedukuhan yang terletak disekitarnya yang tunduk pada perangkat desa yang berkediaman di pusat desa.Contohnya desa di Jawa dan Bali;

2) Persekutuan daerah, suatu derah kediaman bersama terdiri dari beberapa desa dan menguasai tanah hak ulayat bersama yang terdiri dari beberapa dukuh atau kampung dengan satu pemerintahan adat. Masing-masing anggota persekutuannya memiliki struktur pemerintahan secara mandiri, tetapi merupakan bawahan dari daerah. Contoh “marga” di Lampung dan “nagari” di Minangkabau;

3) Perserikatan desa, beberapa desa dan terletak berdampingan dan masing-masing berdiri sendiri mengadakan perjanjian kerjasama untuk mengatur kepentingan bersama. Contohnya kepentingan dalam mengatur pemerintahan adat bersama, pertahanan bersama, kehidupan ekonomi, hasil pertanian, pemasaran bersama.

c. Masyarakat Hukum Geneologis-Teritorial

Masyarakat hukum ini adalah kesatuan masyarakat yang hidup tetap dan teratur dimana anggota-anggotanya bukan saja terikat pada tempat kediaman pada suatu daerah tertentu, tetapi juga

28Hilman Hadikusuma, 2000. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia. Mandar Maju, Bandung. Hlm.106

terikat pada hubungan keturunan dalam ikatan pertalian darah dan atau hubungan kekerabatan.

Tidak dapat dipungkiri pada masa sekarang ini bentuk-bentuk kehidupan kekerabatannya mengalami perkembangan. Bahkan hampir tidak dapat ditemukan lagi bentuk masyarakat yang benar- benar geneologis maupun teritorial. Sebagian terbesar telah mengarah pada bentuk masyarakat campuran (geneologis- teritorial). Kondisi ini dimungkinkan oleh karena:

1) Timbulnya hubungan perkawinan campuran, antar suku, maupun antar daerah;

2) Program mobilisasi penduduk yang memungkinkan pembauran suku atau pemukiman;

3) Hubungan kekerabatan modern berupa pengangkatan anak dan pengakuan atas dasar hubungan baik.

Masyarakat campuran ini dalam masyarakat terdiri dari bentuknya yang asli dan dalam bentuk yang baru. Dalam bentuk yang asli adalah seperti masyarakat “Kuria” dengan “Huta-huta

dilingkungan masyarakat Tapanuli. “Marga” dan “Tiyuh-tiyuh” di Lampung. Dalam bentuknya yang lama para anggota kesatuan masyarakat itu terikat pada suatu daerah Kuria atau Marga.

Dengan demikian didalam suatu daerah di mana terdapat masyarakat campuran, akan berlaku dualisme hukum yaitu:

1) Hukum administrasi pemerintahan berdasarkan perundang- undangan;

2) Hukum Adat yang baru yang berlaku bagi semua anggota kesatuan masyarakat desa bersangkutan;

3) Hukum Adat yang tradisional bagi kesatuan-kesatuan masyarakat hukum tertentu menurut daerah asalnya masing- masing;

4) Hukum antar adat yang berbeda dalam pergaulan masyarakat yang campuran.29

29 Ibid. Hlm.110-114

Secara teoritis, maka mungkin terjadi kombinasi-kombinasi, sebagai berikut :30

1) Masyarakat hukum adat geneologis yang : a) Tunggal

b) Bertingkat c) berangkai

2) masyarakat hukum adat teritorial yang : a) Tunggal

b) Bertingkat c) Berangkai

3) Masyarakat hukum adat geneologis-teritorial (atau sebaliknya hal itu bergantung dari faktor mana yang lebih dahulu berpengaruh) yang :

a) Tunggal b) Bertingkat c) Berangkai

2. Masyarakat Adat Dalam Bentuk dan Tujuan yang Khusus

Dalam dokumen Hukum Adat di Indonesia (Halaman 45-48)