BAB III HUKUM PERKAWINAN ADAT
C. Hukum Perkawinan Adat
1. Pengertian Perkawinan Adat
Perkawinan adalah perilaku makluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di alam berkembang biak. Perkawinan bukan
35 Rato, Dominikus, 2011. Hukum Perkawinan dan Waris Adat, Laksbang Yustitia, Surabaya. Hlm.19
Namun, dalam hal pengkajian hukum perkawinan dapat berdiri sendiri. Akan tetapi, alangkah baiknya semua bidang hukum adat yang memang secara substantif saling berkaitan satu sama lain secara holistik. Karena soal perkawinan itu merupakan suatu hal penting, maka kendati termasuk dalam salah satu dari tingkat- tingkat yang mengubah status sosial seseorang pribadi, perkawinan itu perlu dibicarakan tersendiri. Dalam masyarakat sederhana soal memilih jodoh tidaklah semata-mata bergantung pada kehendak dari mereka yang menikah saja. Soal perkawinan ditentukan oleh sekurang-kurangnya dalam dan oleh anggota keluarga, di samping itu setiap anggota keluarga keluarga terikat pada ketentuan- ketentuan kawin yang diharuskan dan dihalalkan golongannya secara khusus melalui sebuah norma, norma hukum adat.
Dari sudut pandang kosmologi, ada norma hukum adat dari suatu masyarakat yang mengharuskan seseorang berkawin dalam di luar batas lingkungan itu. Lingkungan dapat berbentuk lokal, status sosial, tingkatan sosial, atau agama. Secara sosiologis disebut in group dan out group. Secara antropologis, keharusan untuk berkawin dalam batas lingkungan tertentu, disebut endogami, sedang berkawin di luar batas lingkungan tertentu disebut eksogami (bhs. Yunani : endon = di dalam; exo = di luar; gamein = kawin). Baik endogami maupun eksogami dalam antropologi atau sosiologi, atau dalam bidang hukum disebut socio-legal , terutama dalam adat merupakan konsep yang relatip, karena perlu ditambahkan endogami atau eksogami apa, misalnya endogami ras, endogami agama, endogami pelapisan masyarakat, atau endogami desa. Ada ketentuan lainnya yang mengharuskan eksogami desa, eksogami marga dan sebagainya.35
C. Hukum Perkawinan Adat 1. Pengertian Perkawinan Adat
Perkawinan adalah perilaku makluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di alam berkembang biak. Perkawinan bukan
35 Rato, Dominikus, 2011. Hukum Perkawinan dan Waris Adat, Laksbang Yustitia, Surabaya. Hlm.19
saja terjadi di kalangan manusia, tetapi juga terjadi pada tanaman tumbuhan dan hewan. Oleh karena manusia adalah mahluk yang berakal, maka perkawinan merupakan salah satu budaya yang beraturan yang mengikuti perkembangan budaya manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat sederhana budaya perkawinanya sederhana, sempit dan tertutup, dalam masyarakat yang maju (modern) budaya perkawinannya maju, luas dan terbuka.36
Menurut hukum adat, perkawinan bisa merupakan urusan kerabat, keluarga, persekutuan, martabat, bisa merupakan urusan pribadi, bergantung kepada tata susunan masyarakat yang bersangkutan.37
Menurut hukum adat pada umumnya di Indonesia perkawinan itu bukan saja berarti sebagai perikatan perdata tetapi juga merupakan perikatan perdata sekaligus merupakan perikatan adat dan sekaligus merupakan perikatan kekerabatan dan ketetanggaan.
Jadi terjadinya suatu ikatan perkawinan bukan semata-mata membawa akibat terhadap hubungan-hubungan keperdataan, seperti hak dan kewajiban suami isteri, harta bersama, kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua, tetapi juga menyangkut hubungan-hubungan adat istiadat kewarisan, kekeluargaan, kekerabatan, dan ketetanggaan serta menyangkut upacara-upacara adat dan keagamaan. Begitu juga menyangkut kewajiban mentaati perintah dan larangan keagamaan, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhannya (ibadah) maupun hubungan manusia sesama manusia (mu’amalah) dalam pergaulan hidup agar selamat di dunia dan selamat di akhirat.38
Ter Haar menyatakan bahwa perkawinan itu adalah urusan kerabat, urusan keluarga, urusan masyarakat, urusan martabat dan urusan pribadi dan begitu pula ia menyangkut urusan keagamaan.
Sebagaimana dikatakan Van Vollen Hoven bahawa dalam hukum adat banyak lembaga-lembaga hukum dan kaidah-kaidah hukum
36 Hilman Hadikusuma, 1990. Hukum Perkawinan Indonesia, Mandar Maju, Bandung. Hlm. 1
37 Imam sudiyat, 1981. Hukum Adat Sketsa Asas, Liberty Yogyakarta. Hlm. 107.
38 Op. Cit. Hlm. 8
yang berhubungan dengan tatanan dunia di luar dan di atas kemampuan manusia.39
Perkawinan dalam arti perikatan adat ialah perkawinan yang mempunyai akibat hukum terhadap hukum adat yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan. Akibat hukum ini telah ada sejak sebelum perkawinan terjadi, yaitu misalnya dengan adanya hubungan pelamaran yang merupakan ‘rasan sanak’ (hubungan anak-anak, bujang gadis) dan rasan tuha’ (hubungan antara orang tua keluarga dari para calon suami isteri). Setelah terjadinya ikatan perkawinan maka timbul hak-hak dan kewajiban-kewajiban orang tua (termasuk anggota keluarga/kerabat) menurut hukum adat setempat, yaitu dalam pelaksanaan upacara adat dan selanjutnya dalam peran serta membina dan memelihara kerukunan, keutuhan dan kelanggengan dari kehidupan anak-anak mereka yang terikat dalam perkawinan.40
Hukum perkawinan adat adalah aturan-aturan hukum adat yang mengatur tentang bentuk-bentuk perkawinan, cara-cara pelamaran, upacara perkawinan dan putusnya perkawinan di Indonesia. Aturan-aturan hukum adat perkawinan di berbagai daerah di Indonesia berbeda-beda, dikarenakan sifat kemasyarakatan, adat istiadat, agama dan kepercayaan masyarakat yang berbeda-beda, dikarenakan masyarakat yang berbeda-beda. Di samping itu dikarenakan kemajuan jaman selain adat perkawinan itu di sana sini sudah terjadi pergeseran-pergeseran, telah banyak juga terjadi perkawinan campuran antara suku, adat istiadat dan agama yang berlainan.41
Jadi walaupun sudah berlaku undang-undang perkawinan yang bersifat nasional, yang berlaku untuk seluruh Indonesia;
namun disana sini, diberbagai daerah dan berbagai golongan masyarakat masih berlaku hukum perkawinan adat, apalagi undang- undang tersebut hanya mengatur hal-hal yang pokok saja dan tidak mengatur hal-hal yang bersifat khusus setempat.
39 Ibid, Hlm. 9
40 Ibid, Hlm. 9
41 Hilman Hadikusuma, 2003. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Mandar Maju, Bandung. Hlm. 182.
yang berhubungan dengan tatanan dunia di luar dan di atas kemampuan manusia.39
Perkawinan dalam arti perikatan adat ialah perkawinan yang mempunyai akibat hukum terhadap hukum adat yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan. Akibat hukum ini telah ada sejak sebelum perkawinan terjadi, yaitu misalnya dengan adanya hubungan pelamaran yang merupakan ‘rasan sanak’ (hubungan anak-anak, bujang gadis) dan rasan tuha’ (hubungan antara orang tua keluarga dari para calon suami isteri). Setelah terjadinya ikatan perkawinan maka timbul hak-hak dan kewajiban-kewajiban orang tua (termasuk anggota keluarga/kerabat) menurut hukum adat setempat, yaitu dalam pelaksanaan upacara adat dan selanjutnya dalam peran serta membina dan memelihara kerukunan, keutuhan dan kelanggengan dari kehidupan anak-anak mereka yang terikat dalam perkawinan.40
Hukum perkawinan adat adalah aturan-aturan hukum adat yang mengatur tentang bentuk-bentuk perkawinan, cara-cara pelamaran, upacara perkawinan dan putusnya perkawinan di Indonesia. Aturan-aturan hukum adat perkawinan di berbagai daerah di Indonesia berbeda-beda, dikarenakan sifat kemasyarakatan, adat istiadat, agama dan kepercayaan masyarakat yang berbeda-beda, dikarenakan masyarakat yang berbeda-beda. Di samping itu dikarenakan kemajuan jaman selain adat perkawinan itu di sana sini sudah terjadi pergeseran-pergeseran, telah banyak juga terjadi perkawinan campuran antara suku, adat istiadat dan agama yang berlainan.41
Jadi walaupun sudah berlaku undang-undang perkawinan yang bersifat nasional, yang berlaku untuk seluruh Indonesia;
namun disana sini, diberbagai daerah dan berbagai golongan masyarakat masih berlaku hukum perkawinan adat, apalagi undang- undang tersebut hanya mengatur hal-hal yang pokok saja dan tidak mengatur hal-hal yang bersifat khusus setempat.
39 Ibid, Hlm. 9
40 Ibid, Hlm. 9
41 Hilman Hadikusuma, 2003. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Mandar Maju, Bandung. Hlm. 182.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yang terdiri dari XIV Bab dan 67 Pasal tersebut mengatur tentang dasar-dasar perkawinan, syarat-syarat perkawinan, perjanjian perkawinan, hak dan kewajiban suami isteri, harta benda dalam perkawinan, putusnya perkawinan serta akibat, kedudukan anak, perwalian, ketentuan lain, ketentuan peralihan dan ketentuan penutup. Di dalam undang-undang nasional tersebut tidak diatur tentang bentuk-bentuk perkawinan, cara peminangan (pelamaran) dilakukan, upacara-upacara perkawinan dan lainnya yang kesemuanya itu masih berada dalam ruang lingkup hukum adat.42
Bagi kelompok-kelompok kerabat/wangsa yang menyatakan diri sebagai kesatuan-kesatuan, sebagai persekutuan-persekutuan hukum (bagian clan, kaum, kerabat), perkawinan para warganya (pria, wanita atau kedua-duanya) adalah sarana untuk melangsungkan hidup kelompoknya secara tertib-teratur; sarana yang dapat melahirkan generasi baru yang melanjutkan garis hidup kelompoknya. Namun di dalam lingkungan persekutuan- persekutuan kerabat itu perkawianan juga selalu merupakan cara meneruskan (yang diharap dapat meneruskan) garis keluarga tertentu yang termasuk persekutuan tersebut, jadi merupakan urusan keluarga, urusan bapak-ibunya selaku inti keluarga yang bersangkutan.
Bila kelompok-kelompok wangsa tidak bernilai persekutuan hukum, jika keluarga itu (telah menjadi) primer di dalam kehidupan hukum, maka meskipun pengaruh kelompok wangsa masih tetap terasa perkawinan adalah pertama-tama urusan keluarga, anak- anaknya melepaskan diri daripadanya segera atau beberapa waktu sesudah mereka kawin, jadi mereka melanjutkan garis hidup (sosial) orang tuanya (atau salah seorang di antara orang tuanya)43
Pada tata susunan kerabat yang berkonsekuensi unilateral, perkawinan itu juga merupakan sarana yang mengatur hubungan semenda antara kelompok-kelompok yang bersangkutan;
perkawinan merupakan bagian dari lalu lintas kepala-kepala adat (clan), sehingga bagian-bagian clan dapat mempertahankan atau
42 Ibid. 183
43 Imam sudiyat, 1981. Hukum Adat Sketsa Adat, Liberty, Yogyakarta. Hlm. 107.
memperbaiki posisi keseimbangan di dalam suku, di dalam keseluruhan warga suku. Oleh karena itu maka sengketa-sengketa hukum antara dua (2) kerabat, permusuhan kerabat yang sudah berlangsung lama, kadang-kadang diselesaikan dengan jalan perkawinan seorang pria dari kerabat yang satu dengan seorang wanita dari kerabat yang lain (tanah Batak)
2. Sistem Perkawinan Adat 44