• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERAJAAN PARIGI DAN MOUTONG DI WILAYAH KABUPATEN PARIGI

Dalam dokumen SEJARAH PEJUANG PARIGI MOUTONG (Halaman 34-41)

KERAJAAN MOUTONG

B. KERAJAAN PARIGI DAN MOUTONG DI WILAYAH KABUPATEN PARIGI

Tempat pemukiman suatu kaum yang disebut negara merupakan suatu titik awal terbentuknya struktur peradaban bagi suatu manusia.

Pada Ngapa tersebut, tekonstraksinya suatu suju/kaum yang terkomunitas dalam sebuah aktifitas kehidupan keseharian seperti Tani dan Nelayan.

Parigi dalam tapak-tapak historisnya tersebutlah empat suku yang mendiami wilayah Parigi dan merupakan embrio terbentuknya Kota Patanggota, keempat suku dimaksud adalah: Suku To Bulu Gavu. Sebuah suku yang mendiami Ngapa Katotio masyarakatnya terkonsentrasi dalam komunitas tani dan nelayan. Suku ini mempercayakan aspirasinya kepada sosok LOVENTASI untuk mengemudikan Katotio dalam hal ini sebagai Kepala Suku. Tutur tentang suku To Bulu Gavu akan selalu terpatri dalam lubuk sanubari yang paling dalam masyarakat kelurahan Masigi sekarang, sebab Katotio dengan Suku To Bulu Gavu merupakan cikal bakal terbentuknya Kelurahan Masigi. Suku To Sido, Suku ini terkonsentrasi pada satu pemukiman yang disebut Ngapa Lantibu yang sekarang menjadi Desa Parigimpu’u. Masyarakat Lantibu hidup dalam komunitas tani dan SUNJUMBANUA sebagai kepala suku. Suku To Bulu Viro, Uwe sama, Desa Binangga sekarang merupakan tempat terkonsentrasinya suku ini, dengan Kepala sukunya bernama POLIMBO ADA’. Realitas sejarah telah berbicara kepada kita berawal dari POLIMBO ADA’ bersama permaisurinya SAVATUINTA telah melahirkan Magau di Kerajaan Parigi. Suku To Bulu Ngkalaki, To Bulu Ngkalaki adalah suatu suku mendiami di Ngapa Afulua, masyarakatnya hidup dan berkembang

dalam komunitas tani dan nelayan TOVENAI merupakan titah tertinggi pada suku ini yang dipundaknya bergantung harapan To Bulu Ngkalaki, tempat berlindung kala susah tempat bersuka dikala senang.12

Rentang sejarah selanjutnya berbicara kepada kita, kedatangan bangsa berambut jagung (meminjam istilah Soekarno) yang dipimpin oleh Fransisco Lesa telah mengubah struktur pemerintahan kesukuan menjadi struktur pemerintahan kerajaan dengan mengukuhkan MAKAGERO putra kepala suku To Bulu Viro,Polimbo Ada’ sebagai Magau kerajaan Parigi pada tanggal 26 Desember 1517. Pengukuhan MAKAGERO sebagai Magau Kerajaan Parigi13 saat MAKAGERO telah mempersunting UWELIDA Putri Kepala SUKU TO SIDO, SUNJUMBANLTA, dilakukan dengan retuil adat kesukuan, MAKAGERO berdiri di atas altar tembikar empat sudut yang disirami air dari Ngapa Uwe sama. Catatan sejarah selanjutnya bertutur bahwa setelah MAKAGERO menduduki singgasana kemakagauan Parigi mulai saat itu Parigi telah menjadi sebuah Kerajaan dengan sistem pemerintahan bersifat monarchi absolut. Untuk menjalankan roda pemerintahan MAKAGERO mengangkat pembantu- pembantunya yang dalam sejarah dikenal beberapa jenjang kepangkatan seperti : Maradika Malolo, Maridaka Matua, Jogugu, Mayori, Tadulako dan Ukumi. Memasuki abad ke XVI terjadi lagi perubahan tata pemerintahan seperti : Magau, Maradika Malolo, Maradika Matua, Ponggawa, Galara, Tadulako, Pabicara, Sabandara, Surodadu.

Parigi yang kini telah menjadi Ibu Kota Kabupaten pada awalnya hanyalah merupakan sebuah wilayah yang didiami oleh empat suku, tercatat 17 orang Magau14 yang pernah memerintah Kerajaan Parigi seperti.

1. Makagero (Magau Lomba) 1517 - 1535 / 18 tahun.

2. Kavali (Magau Boga) 1535 - 1557 / 22 tahun.

12Haliadi et. All, Sejarah Kabupaten Parigi Moutong (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm. 20.

13 “Jabatan Magau Parigi,” Renvooi 7 September 1914, dalam: Koleksi Algemeen Secretarie (1892-1941) Kotak Inlanders Hooden en Politieke Bewegingen, Arkib Nasional Republik Indonesia (ANRI), nombor: 27618.

14 Moh. Noor R. Lembah, 1985, Salinan Silsillah Santina (Palu: belum dipublikasikan).

3. Santuvu (Magau Ntayu) 1557 - 1579 / 22 tahun.

4. Malikus Saddiq (Magau Langimoili) 1579 - 1602 / 23 tahun.

5. Ibrahim (Magau Ntonikota) 1602 - 1627 / 25 tahun.

6. Ma' ruf (Magau Janggo) 1627 - 1627 / 34 tahun.

7. Ntadu (Magau Ntadu) 1661- 1690 / 29 tahun.

8. Palopo (Magau Kodi Palo) 1690 - 1724 / 34 tahun.

9. Mansyur (Magau Bombo Onge) 1724-1760/36 tahun.

10. Mohamad Abduh(Magau Pangga Bobo) 1760 - 1792 / 32 tahun.

11. Pusalembah (Magau Tedo) 1792 - 1821 / 29 tahun.

12. Sawali (Magau Baka Palo) 1821- 1855 / 34 tahun.

13. Rajalolo (Magau Mpoledo) 1855 - 1880 / 25 tahun.

14. Ranjangguni (Magau Ranjangguni) 1880 - 18971 18 tahun.

15. Nurjengi (Magau Jengi Ntonambaru) 1897 - 1898 / 1 tahun.

16. Hanusu (Magau Dusu) 1898-1929 / 31 tahun 17. Tagunu (Magau Tagunu) 1929-1960/ 31 tahun.

* Islam masuk di Parigi tahun 1600 oleh Abdurrahman Djaelani dari Kesultanan Tarnate melelui Kerajaan GOWA Makassar

Dari Pelantikan Magau Lomba (Makagero) pada tanggal 26 Desember 1517 oleh Fransisco Lesa, jelaslah bagi kita bahwa Parigi itu sendiri sampai sekarang ini telah berusia 485 tahun.

Pada zaman dahulu di daerah Wilayah Tomini (bukan KecamatanTomini) bermukim tujuh kelompok masyarakat, ketujuh kelompok masyarakat tersebut semuanya bermukim di daerah pedalaman yang sukar dijangaku. tempat permukiman tersebut, sampai saat ini masih terdapat bekas peninggalannya berupa sisa bangunannya yang pada umnya berupa pagar/tembok yang terbuat dari batu yang disusun. Belum ada informasi yang pasti yang dapat dijadikan pegangan mengenai asal mulanya ketujuh kelompok masyarakat tersebut tetapi yang pasti, bahwa setiap kelompok dipimpin oleh Kepala Suku yang diberi Gelar oleh masyarakat setempat OLONGIA. Ketujuh kelompok masyarakat tersebut adalah : Olongia Lambunu/Olongia Lampasio, Bermukim di kaki gunung Lampasio, di hulu sungai Lambunu Kecamatan Moutong. Olongia Bolano, Awalnya

dari pegunungan di Wilayah Kabupaten Toli-Toli kemudian pindah dan menetap di Bolano Sau Kecamatan Moutong. Olongia Boinampal, Bermukim di kaki Gunung Boinampal di hulu Sungai Tomini Kecamatan Tomini. Olongia Siavu, Bermukim di kaki Gunung Siavu di hulu Sungai Tinombo. Olongia Sipayo, Bermukim di lembah pegunungan Sipayo (Pepaliong) di hulu Sungai Sipayo Kecamatan Tinombo. Olongia Sipande, Bermukim di kaki gunung Toribulu di dataran Siputara di hulu Sungai Siputara Kecamatan Ampibabo. Olongia Sidole, Bermukim di kaki gunung (Bukit) Sidole hulu Sungai Silanga Kecamatan Ampibabo.

Setiap Kepala Suku atau Olongia dibantu oleh Dewan Adat dengan tugas dan kepangkatan seperti Jogugu, Wukum atau Ukiuni, Mading atau Marinu, KapitanlKapitalau, Pasobo, Pasori dan Pangata. Antara ketujuh Olongia tersebut terjalin hubungan yang harmonis sehingga mereka membuat suatu persekutuan atau Persaudaraan atau Olongia Pepitu mereka membuat ikrar bersama yang diucapkan di atas Batu yang diberi nama POLUPOSAAMTULUI. Ada enam dialek yang digunakan sebagai alat komunikasi. Dialek Tialo, digunakan oleh penduduk yang tinggal di Kecamatan Moutong, sebagian Kecamatan Tomini, Kecamatan Dondo (Kabupaten Toli-Toli). Sebagian di Kecamatan, Wakai, dan Walea di Kabupaten Poso. Dialek Lauje, digunakan oleh penduduk yang tinggal di sebagian Kecamatan Tomini, sebagian Kecamatan Tinombo, Kecamatan Sojol dan sebagian Kecamatan Ampibabo. Dialek Tajio, digunakan penduduk yang mendiami sebagian Kecamatan Tinombo, sebagian Kecamatan Ampibabo, sebagian penduduk yang bermukim di pegunungan Wilayah Kecamatan Sirenja, Kecamatan Balaesang. Dialek Taje (hampir punah) digunakan penduduk yang bermukim di daerah pedalaman Desa Sidole, Silanga, Siniu dan Tovera di Kecamatan Ampibabo.

Dialek Pendau, (hampir punah) digunakan penduduk pedalaman Desa Tada (Lambani) Kecamatan Tinombo, Kasimbar, Posona Kecamatan Ampibabo dan Siweli Kecamatan Balaesang. Dialek Bolano, (hampir punah) digunakan penduduk. Sejalan dengan arus perkembangan zaman, pada akhir abad XV daerah Tomini (bukan Kecamatan Tomini) mulai dikunjungi orang-orang dari luar, Pada mulanya kedatangan orang

dari luar itu hanyalah berupa perjalanan petualangan hendak mencari pengalaman, atau kunjungan untuk mengikat tali persahabatan dengan negeri tetangga.

Orang luar mula-mula masuk ke daerah Tomini adalah orang dari Tanah Kaili dan Holantalangi (Gorontalo). Kunjung mengunjungi antar daerah tetangga menjadikan adanya hubungan persahabatan. Seperti hubungan persahabatan antara Gorontalo dan beberapa Olongia di daerah Tomini. Demikian pula terjadi persahabatan antara Magau dari Tanah Kaili dengan Olongia dari daerah Tomini. Menjelang akhir abad XVII daerah perairan Tomini didatangi satu iring-iringan armada kapal layar yang berjumlah 40 buah lengkap dengan persenjataan dan amnuisi yang cukup. Besar kemungkinan armada kapal layar ini adalah bagian dari armada Angkatan Laut Kerajaan Gowa Makassar yang tidak mau tunduk/

menyerah pada kekuasaan Belanda, dalam catatan sejarah setelah perang antara kerajaan Gowa Makassar dengan Company Belanda diakhiri dengan Perjanjian Bungaya (1668), maka menurut salah satu pasal perjanjian itu, Kerajaan Makassar harus melepaskan hak-haknya atas Jasirah antara Sulawesi, sampai ke Teluk Palu dan menyerahkannya kepada Kerajaan Tarnate. Daerah-daerah itu, ialah semua negeri sebalah Utara Mandar seperti Sampaga, Kinde (Buol),Tontoli (Tolitoli), Dampelas, Balaesang dan Kaili.

Sesudah Perjanjian Bungaya maka Raja Bone yang bernama La Tenri Tatta' Aruppalakka, menjadi pemegang Hegemoni Tunggal di Sulawesi Selatan, dalam kalangan orang Bugis Makassar-Mandar dan Toraja.

Baginda digelar Datu Tungke'na Tana Ugi (Raja Tunggal Negeri Bugis).

Seluruh anak buah armada kapal layar yang memasuki wilayah perairan Tomini adalah orang-orang Mandar dengan pimpinan oleh TOMESSU dan ARAJANG TAUNAE itulah gelar yang diberikan oleh anak buahnya, untuk pertama kalinya mereka mendaratkan kapal di sekitar Desa Kasimbar sekarang ini. Arajang Taunae akhirnya menjadi sangat bersahabat dengan ketujuh Olongia, dan atas keberhasilannya mengusir para perompak/

bajak laut berakibat masyarakat Tomini enggan melepaskan Arajang Taunae serta para pengikutnya, sebagai imbalan kepadanya (Arajang

Taunae) diberi kekuasaaan penuh untuk mengatur seluruh kegiatan perdagangan, dan untuk memperlancar roda kepemimpinannya, dipusatkan tempat-tempat pasukan seperti dibahagian utara, pasukan ditempatkan di Moutong, dibahagian tengah pasukan ditempatkan di Tampapopa sekarang Tomini serta Kasimbar dibahagian selatan sekaligus menjadi domisilinya Arajang Taune.

Dihari tuanya Arajang Taunae mengundang tujuh Olongia Tomini untuk datang di Kasimbar minta persetujuan dan pertimbangan bahwa TOMESSU akan mewariskan kepemimpinannya kepada anaknya dan ternyata mendapat persetujuan, maka dilantiklah PATAIKACI untuk menggantikan Ayahnya. Babak baru sejarah wilayah Tomini dengan dilantiknya Pataikaci pada tahun 1771 menjadi titik awal berdirinya Kerajaan Moutong, sebab Pataikaci dengan kecakapan yang disertai dengan kebijaksanaan berhasil membangun sebuah kerajaan yang didukung oleh seluruh Olongia yang ada di Wilayah Tomini. Dan pada tahun 1771 dipindahkanlah kedudukan pusat pemerintahan dari Kasimbar ke Moutong oleh Pataikaci dan di Kasimbar sendiri dikukuhkannya Puang Logas (Putra Pataikaci) menjadi pemimpin.

Setelah Pataikaci meninggal berturut turut yang menjadi raja adalah Magalatung, dengan gelar Pua Datumula, Raja Massu diberi gelar Pua Lapakana Dede'i selanjutnya Tombolotutu dengan gelar Pua Darawati.

Dalam catatan sejarah versi yang lain Prof. DR. H. A. Mattulada dalam Sejarah Kebudayaan To Kaili15 menyebutkan bahwa yang menjadi raja yang pertama adalah Magalatung, Menurut ceritera rakyat yang ada selama ini, bahwa Baginda Keturunan Mandar, tetapi juga diduga dengan keras adalah bangsawan orang Wajo yang bernama La Magalatung, Arung Sengkang yang amat terkenal perlawanannya terhahadap Belanda, setelah Magalatung wafat Baginda digantikan oleh Pondatu dan kemudian Pondatu digantikan oleh Tombolotutu. Berhubung dengan belum adanya referensi yang dapat dijadikan rujukan serta pembanding untuk dapat

15 A. Mattulada, Sejarah Peradaban To Kaili (Palu: Tadulako University Press, tanpa tahun terbit).

dijadikan pegangan yang paripurna, maka kami tidak ingin terjebak dalam menentukan Raja yang pertama di Kerajaan Moutong dan realitas ini menjadikan pekerjaan rumah bersama untuk menyingkap tabir sejarah Kerajaan Moutong, terlepas uraian tersebut, ada satu hal yang perlu diingat dan tidak mungkin terlupakan bahwa di Tomini pernah berdiri sebuah kerajaan besar yaitu Kerajaan Moutong.

29

KERAJAAN MOUTONG DI

Dalam dokumen SEJARAH PEJUANG PARIGI MOUTONG (Halaman 34-41)