• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesesuaian Kompensasi

Dalam dokumen analisis faktor-faktor yang mempengaruhi (Halaman 31-36)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Pengertian

3. Kesesuaian Kompensasi

Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima baik berupa fisik maupun non fisik atau dengan kata lain adalah imbalan yang diterima oleh seorang pekerja/pegawai/karyawan atas jasa atau hasil dari pekerjaannya dalam sebuah instansi/perusahaan. Kesesuaian kompensasi yang didapat pegawai menjadi salah satu cerminan dari faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan kecurangan.

Berdasarkan teori Fraud Triangle yaitu adanya tekanan. Akibatnya semakin rendah kompensasi yang didapatkan, maka akan mempengaruhi seseorang melakukan korupsi atau kecuranga.

Menurut (Arsad, 2018) dalam penelitiannya menyatakan bahwa Kompensasi adalah salah satu hal yang penting bagi setiap pegawai yang bekerja dalam suatu perusahaan, Bagi seorang pegawai,

kompensasi merupakan suatu outcome atau reward yang penting karena dengan kompensasi yang diperoleh seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut (Ahrianti, et al, 2015) dalam penelitiannya mengatakan bahwa dalam entitas pemerintahan kompensasi seseorang telah ditentukan berdasarkan lama kerja dan golongan. Adapun mereka yang bekerja di bidang keuangan akan mendapatkan tambahan imbalan yang merupakan penghargaan atas tanggung jawab pekerjaan yang mereka emban. Namun semakin tinggi imbalan yang mereka peroleh, kebutuhan, tuntutan dan gaya hidup seseorang akan semakin tinggi.

Dengan demikian individu tersebut akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan imbalan yang lebih dan lebih untuk memenuhi tuntutan kebutuhan dan gaya hidup yang dijalankan sehingga kecenderungan bagi mereka yang bekerja dibidang keuangan sangat memungkinkan melakukan kecurangan akuntansi.

Menurut (Apriadi, 2013) Kompensasi merupakan sesuatu yang dipertimbangkan sebagai suatu yang sebanding. Hadiah yang bersifat uang merupakan kompensasi yang diberikan kepada pegawai sebagai penghargaan dari pelayanan mereka. Berdasarkan uraian tersebut dapat diartikan bahwa kesesuaian kompensasi merupakan imbalan atau hasil dari pekerjaan yang telah dilakukannya baik itu kompensasi secara langsung maupun tidak langsung.

Penelitian (Arsad, 2018) mengatakan banyak hal yang menjadi alasan seseorang untuk melakukan kegiatan korupsi. Perasaan ketidak puasan atau ketidakadilan yang diterima dalam organisasi dapat menjadi penyebab terjadinya korupsi. Salah satu penyebab terjadi

17

perilaku korupsi yang terjadi di kalangan pegawai dipicu karena kompensasi diterimanya tidak sesuai. Akibatnya, banyak pegawai mencari penghasilan tambahan dengan cara korupsi. Di antaranya dengan meninggikan dana Surat Perintah Perjalanan (SPJ), penggelembungan nilai anggaran, dan menambahi tunjangan selain kompensasi pokok.

Penelitian (Padhilah dan Burhany, 2020) dalam penelitiannya mengatakan bahwa ketika SPIP suatu instansi dinyatakan masih lemah, maka dapat dikatakan bahwa aturan mengenai kompensasi pun masih lemah. Hal ini bisa terjadi dikarenakan instansi masih berusaha untuk menyesuaikan peraturan kompensasi yang mana yang sejalan dengan tujuan, kebutuhan, dan lingkungan instansi. Apabila seorang pegawai merasa kompensasi yang diterima tidak sesuai dengan apa yang telah dikerjakan untuk perusahaan/instansi maka akan mendorong seorang pegawai untuk melakukan tindakan kecurangan demi mendapatkan keuntungan.

4. Pengendalian Internal

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) seperti dinyatakan dalam PSA NO. 69 (IAI, 2001:319.2). Pengendalian internal adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personil lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: keandalan pelapora keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi, dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Menurut PP Nomor 60 Tahun 2008 Pasal 1 menyebutkan bahwa sistem pengendalian internal adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

Pada penelitian (Wilopo, 2006), AICPA menyatakan bahwa adanya suatu sistem pengendalian internal bagi sebuah organisasi sangatlah penting, antara lain untuk memberikan perlindungan bagi entitas terhadap kelemahan manusia serta untuk mengurangi kemungkinan kesalahan dan tindakan yang tidak sesuai dengan peraturan. Pengendalian internal juga dimaksudkan untuk meningkatkan kepatuhan karyawan terhadap hukum-hukum dan peraturan yang telah ditetapkan. Selain itu pengendalian internal juga merupakan alat pengendalian dari berbagai kegiatan perusahaan yang harus ditaati dan dijalankan oleh setiap unit organisasi. (IAI, 2001:319).

Hasil penelitian yang dilakukan (Syahadat dan Damayanti, 2017) menunjukkan bahwa jika pengendalian internal pemerintahan semakin baik dan efektif maka kecenderungan pegawai melakukan tindakan kecurangan akan semakin rendah. Dari hasil penelitian ini memperkuat teori yang sudah ada yaitu segitiga kecurangan atau fraud triangle theory yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang meningkatkan kesempatan atau peluang bagi pegawai/individu melakukan tindak kecurangan adalah sistem pengendalian internal yang lemah dan

19

kurang efektif. Oleh sebab itu maka dalam suatu organisasi perlu membentuk sistem pengendalian yang baik agar dapat meminimalisir tindakan kecurangan atau korupsi.

Komponen Pengendalian Internal sebagaimana didefinisikan oleh COSO dalam (Ruspina, 2013), terdiri dari lima komponen, yaitu:

1. Lingkungan pengendalian (control enviroment)

Lingkungan pengendalan adalah tindakan, kebijakan, dan prosedur yang merefleksikan seluruh sikap top manajemen, dewan komisaris dan pemilik entitas tentang pentingnya pengendalian dalam suatu entitias, terdiri dari:

a. Integritas dan nilai etika

b. Komitmen terhadap kompetensi

c. Falsafah manajemen dan gaya operasi d. Struktur organisasi

e. Dewan komisaris dan komite audit

f. Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab g. Kebijakan dan prosedur kepegawaian 2. Penaksiran risiko (risk assessment)

Penaksiran resiko dalam sistem pengendalian intern adalah usaha manajemen untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang relevan dalam menyiapkan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan, terdiri dari:

a. Menetapkan risiko sebagai bagian dari perancangan dan pengoperasian struktur pengendalian internal untuk meminimalkan salah saji.

b. Menilai dan bereaksi secara efektif terhadap risiko.

3. Aktivitas pengendalian (control activities)

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibangun oleh manajemen untuk mencapai tujuan laporan keuangan yang objektif. Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibangun oleh manajemen untuk mencapai tujuan laporan keuangan yang objektif. terdiri dari:

a. Pemisahan kewajiban yang memadai

b. Otoritas yang pantas atas transaksi dan aktivitas c. Dokumen dan catatan yang memadai

d. Pengendalian fisik atas aktiva dan catatan e. Pemeriksaan independen atas pelaksanaan

4. Informasi dan komunikasi (inforamtion and communication)

Informasi dan komunkasi dalam pengendalian intern adalah metode yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, mengklasifikasi, mencatat dan melaporkan semua transaksi entitas, serta untuk memelihara akuntabilitas yang berhubungan dengan aset. Transaksi-transaksi harus memuaskan dalam hal eksistensi, kelengkapan, ketepatan, klasifikasi, tepat waktu, serta dalam posting dan mengiktisaran.

5. Pemantauan

a. Pemantauan dilaksanakan secara periodik b. Menilai kualitas intern

C. Tinjauan Empiris

Penelitian mengenai kecurangan telah banyak dilakukan diantaranya

21

penelitian yang dilakukan oleh (Arsad, 2018) yang meneliti tentang faktor- faktor yang mempengaruhi kecurangan Akuntansi di pemerintah kota jayapura. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keefektifan pengendalian internal tidak berpengaruh signifikan dan berhubungan negatif pada kecurangan akuntansi di Pemerintah Kota Jayapura sedangkan Kultur Organisasi, Kesesuaian Kompensasi, Penegakan peraturan, keadilan distributif, keadilan prosedural, dan komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap kecurangan/fraud. Hal ini juga menunjukkan bahwa dengan adanya keefektifan pengendalian internal tidak menjamin timbulnya kecurangan akuntansi (fraud).

Dalam penelitian yang dilakukan (Phadilah dan Burhany, 2020) meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi fraud di pemerintah daerah kabupaten bandung barat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial SPIP, penegakan peraturan tidak berpengaruh terrhadap fraud dan kesesuaian konpensasi berpengaruh negatif terhadap fraud.

Namun SPIP, penegakan peraturan, dan kesesuaian kompensasi berpengaruh negatif secara bersama-sama atau secara simultan terhadap fraud.

Penelitian dengan konsep kecurangan juga dilakukan oleh (Mudhofir, 2020) dalam penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecurangan berdasarkan persepsi Pegawai Pemerintahan Daerah Kabupaten Ponorogo meliputi keadilan distributif, keadilan prosedural, komitmen organisasi, SPIP, budaya organisasi dan penegakan peraturan berpengaruh terhadap terjadinya fraud di institusi pemerintahan. Hasil menunjukkan keadilan distributif dan SPIP berpengaruh

negatif sedangkan keadilan prosedural, komitmen organisasi, budaya organisasi dan penegakan peraturan tidak memengaruhi kecurangan.

Menurut (Wulandari dan Widodo, 2020) melakukan penelitian kasus kecurangan pada pemerintah desa kabupaten bantul menggunakan variabel pengendalian internal, asimetri informasi, ketaatan aturan akuntansi, dan perilaku tidak etis. Hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa pengendalian internal dan perilaku tidak etis berpengaruh terhadap fraud, sedangkan asimetri informasi dan ketaatan aturan akuntansi tidak berpengaruh terhadap fraud.

Peneliti (Ahrianti, et al, 2015) melakukan penelitian terkait pengaruh sistem pengendalian internal, budaya etis, asimetri informasi, dan kesesuaian kompensasi terhadaap kecurangan yang ada di Lombok Timur.

Memperoleh hasil bahwa sistem pengendalian intenal, asimetri informasi dan kesesuaian kompensasi tidak memengaruhi tidakan kecurangan, sedangkan budaya etis memiliki pengaruh terhadap tindakan kecurangan. Sistem pengendalian internal yang ada di lombok timur dapat dijalankan dan dilaksanakan dengan baik, serta asimetri informasi yaitu tidak ditemukannya kesenjangan informasi dikarenakan adanya individu yang berperilaku tidak etis, dan kesesuaiakan kompensasi dapat disimpulakan bahwa ada atau tidak adanya kompensasi tidak memengaruhi peningkatan atau penurunan individu untuk berbuat curang, sedangkan perilaku tidak etis yang artinya semakin seseorang atau individu berperilaku tidak etis atau tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku maka kecurangan akan semakin meningkat dikarenakan sesorang kan membenarkan segala perilaku yang menyimpang atas dasar alasan tertentu yang dimilikinya.

23

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti

Variabel Penelitian Model Penelitian

Hasil Penelitian 1 Ahrianti,

Basuki, dan Widiastuty (2015)

Sistem pengendalian internal

Asimetri informasi Perilaku tidak etis Kesesuaian kompensasi

Jenis penelitian kausalitas komparatif dengan teknis analisis regresi linier berganda

Secara parsial sistem

pengendalian internal, Asimetri informasi,

Kesesuaian kompensasi tidak berpengaruh terhadap tindakan kecurangan, dan budaya etis berpengaruh terhadap tindakan kecurangan di 2 Arsad (2018) Keefektifan

Pengendalian Internal, Kultur Organisasi, Kesesuaian Kompensasi, Penegakan

peraturan, kkeadilan distributif, keadilan prosedural,

komitmen organisasi

Jenis penelitian kuantitatif dengan analisis data regresi linier berganda

keefektifan pengendalian internal tidak berpengaruh signifikan dan berhubungan negatif pada kecurangan akuntansi (fraud) di Pemerintah Kota Jayapura sedangkan Kultur Organisasi, Kesesuaian Kompensasi, Penegakan peraturan, keadilan distributif, keadilan

prosedural, dan komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap kecurangan/fraud

3 Firdaus (2018)

Asimetri informasi Penegakan hukum Kesesuaian

kompenasi Moralitas individu

Jenis penelitian kuantitaatif dengan teknik

analisis linier berganda

Asimetri informasi berpengaruh positif dan signifikan, penegakan hukum dan kesesuaian kompensasi tidak berpengaruh, sedangkan moralitas individu berpengaruh negatif signifikan terhadap

kecenderungan kecurangan.

4 Kurrohman dan

Widyayanti (2018)

Kesesuaian kompensasi

Gaya kepemimpinan Sistem pengendalian internal

Penegakan peraturan Budaya etis manajemen

Jenis penelitian kuantitatif dengan metode analisis regresi linier berganda

Keseuaian kompensasi berpengaruh negaatif, gaya kepemimpinan berpengaruh negatif, sistem pengendalian internal berpengaruh negatif dan penegakan peraturan berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan di instansi pemerintahan sedangkan budaya etis manajemen tidak memiliki

pengaruh terhadap kecurangan di instansi pemerintahan.

25

5 Ardwiwandini (2019)

Ketaatan Aturan Akuntansi

Asimetri Informasi Kesesuaian Kompensasi Budaya Etis Organisasi

Multiple Regression Analysis

Ketaatan aturan akuntansi, asimetri informasi, dan budaya etis organisasi berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi, sedangakn kesesuaian kompensasi tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi.

6 Anthonius dan Wijaya (2020)

Aspek perilaku individu

Aspek pengawasan intern

Aspek budaya etis organisasi

Jenis penelitian Kuantitatif dengan metode eksplanasi

Aspek perilaku individu tidak memengaruhi kecenderungan kecurangan, dan pengaruh aspek pengawasan internal juga tidak berpengaruh signifikan, namun aspek budaya etis organisasi

memiliki

pengaruh yang signifikan terhadap kecenderungan korupsi terhadap Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada lembaga

kepemerintahan.

7 Mudhofir (2020)

Keadilan distributif Keadilan prosedural Komitmen organisasi Budaya organisasi Penegakan

peraturan SPIP

Multiple Linear Regression

Keadilan distributif dan SPIP

berpengaruh negatif, sedangkan keadilan prosedural, komitmen orgaanisasi, budaya

organisasi, dan penegakaan peraturan tidk memengaruhi kecurangan.

8 Maulana (2020)

Asimetri informasi Religiusitas

Budaya Organisasi Kompetensi Aparatur Penegakan

peraturan Pengendalian internal

Multiple Regression Analysis

Asimetri informasi berpengaruh positif/signifikan, Religiusitas, Kompetensi aparatur dan penegakan peraturan pengendalian internal tidak berpengaruh terrhadap

kecurangan, dan budaya

organisasi serta penegakan peraturan berpengaruh negatif terhadap kecenderungan perangkat desa melakukan kecurangan.

9 Phadilah dan Burhany (2020)

SPIP, Penegakan peraturan,

Kesesuaian kompensasi

Multiple Regression Analysis

penegakan peraturan tidak berpengaruh terrhadap fraud dan kesesuaian

27

konpensasi berpengaruh negatif terhadap fraud. SPIP, penegakan peraturan, berpengaruh negatif secara bersama-sama terhadap fraud.

10 Wulandari dan Widodo (2020)

Pengendalian Internal, Perilaku tidak etis, Asimetri informasi, Ketaatan aturan akuntansi

Multiple Regression Analysis

pengendalian internal dan perilaku tidak etis berpengaruh terhadap fraud, sedangkan asimetri informasi dan ketaatan aturan akuntansi tidak berpengaruh terhadap fraud.

D. Kerangka Konsep

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Penelitian Sistem

Pengendalian Internal (X2) Kesesuaian Kompensasi

(X1)

Budaya Etis Manajemen

(X3)

Korupsi (Y)

E. Hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris.

1. Berdasarkan Penelitian (Arsad, 2018) mengatakan bahwa perasaan ketidakpuasan atau ketidakadilan yang diterima dalam organisasi dapat menjadi penyebab terjadinya korupsi. Salah satu penyebab terjadi perilaku korupsi yang terjadi di kalangan pegawai dipicu karena kompensasi diterimanya tidak sesuai.

Hasil penelitian (Phadilah dan Burhany, 2020) menyatakan bahwa kesesuaian kompensasi berpengaruh negatif terhadap kecurangan atau korupsi. Jika kompensasi yang diterima oleh pegawai sudah memadai dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya maka individu/pegawai tidak akan melakukan perilaku menyimpang dalam bentuk korupsi. Hal ini sejalan dengan teori Fraud Triangle yaitu adanya tekanan. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut;

H1 = Kesesuaian Kompensasi berpengaruh negatif terhadap tindakan korupsi

2. Hasil penelitian (Syahadat, 2018) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan keefektifan pengendalian internal terhadap kecurangan.

Artinya pengendalian internal yang efektif dalam aktivitas pemerintahan dapat meminimalisir terjadinya kecurangan atau korupsi. Hal ini sejalan dengan penelitian (Kurrohman dan Widyayanti, 2018). Semakin efektif pengendalian internal maka akan semakin rendah kecurangan atau tindakan korupsi dalam suatu instansi begitupun sebaliknya. Hal ini telah sesuai dengan teori yang sudah ada yaitu Fraud Triangle yang

29

menjelaskan bahwa salah satu faktor yang meningkatkan peluang/kesempatan bagi individu untuk melakukan kecurangan adalah sistem pengendalian internal yang lemah. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut;

H2 = Sistem pengendalian internal berrpengaruh negatif terhadap tindakan korupsi

3. Berdasarkan penelitian (Maulana, 2020) menyatakan bahwa pada umumnya perilaku yang ditampilkan oleh individu bisa berbentuk perilaku etis maupun perilaku tidak etis, tergantung apakah budaya organisasi tersebut lumrah untuk melakukan perbuatan etis ataupun perilaku tidak etis tergantung pimpinan yang ada di dalam organisasi tersebut. Budaya etis dalam suatu organisasi atau para pegawai menjadikan perilaku pimpinan sebagai panutan.

Penelitian (Mustikasari, 2013) juga menyatakkan dalam penelitiannya bahwa budaya etis berpengaruh negatif terhadap kecurangan. Budaya etis manajemen yang baik akan mengurangi seseorang untuk membenarkan perilaku tindakan korupsi. Berdasarkan teori Fraud Triangle salah satu faktor tindakan korupsi adalah rasionalisasi/pembenaran atas perilaku meyimpang yang dilakukan individu dalam suatu instansi. Budaya etis manajemen yang buruk akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan curang dengan membenarkan perbuatannya tersebut. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut;

H3 = Budaya etis manajemen berpengaruh negatif terhadap tindakan korupsi.

30 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dimana penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang dapat dicapai atau diperoleh dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi atau pengukuran (Sujarweni, 2015), dan sumber data yang digunakan adalah data primer dimana data primer adalah data yang didapat dari responden secara langsung (Sugiyono, 2015).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar. Waktu yang direncakan penelitian yaitu dua bulan, mulai bulan November s/d Desember tahun 2021.

C. Definisi Operasional dan Pengukuran

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berupa analisis faktor tindakan korupsi berdasarkan fraud triangle theory terhadap proksi yang menjadi penyebab terjadinya korupsi pada institusi pemerintahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen yaitu komponen fraud triangle yaitu tekanan, kesempatan dan rasionalisasi yang diproksikan oleh kesesuian kompensasi, sistem pengendalian internal pemerintahan, dan budaya etis manajamen, dengan variabel dependen yaitu korupsi. Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel yang terdiri dari variabel dependen dan variabel independen adalah sebagai berikut;

31

1. Variabel Dependen

Variabel dependen atau biasa juga disebut dengan variabel terikat merupakan tipe variabel yang dipengaruhi/menjadi akibat oleh adanya variabel Independen. Dalam penelitian ini variabel dependen yaitu Korupsi dengan berdasar pada persepsi pegawai di instansi pemerintahan. Korupsi diukur dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan tersebut diukur menggunakan skala likert 1-5.

2. Variabel Independen

Variabel Independen atau biasa juga disebut dengan variabel bebas yaitu variabel yang dapat mempengaruhi atau sebab perubahan timbulnya variabel terikat (dependen). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah variabel yang didasarkan atas teori Fraud Triangle yaitu Tekanan atau Pressure yang diproksikan melalui variabel kesesuaian kompensasi, Kesempatan atau Opportunity yang diproksikan melalui variabel sistem pengendalian Internal (SPIP), dan Pembenaraan atau Razionalisation yang diproksikan melalui variabel budaya etis manajemen.

Tabel 3.1 Operasional Variabel

Variabel Alat

Pengukuran Indikator Referensi

Korupsi (Y) Skala Lickert 1. Penyalahgunaan anggaran

2. Pembenaran Gratifikasi

3. Penyalahgunaan Wewenang/konflik kepentingan 4. Penyuapan

Afsari (2016)

Kesesuaian kompensasi (X1)

Skala Lickert 1. Pencapaian Sasaran 2. Kompensasi

keuangan atas prestasi pekerjaan pegawai

3. Pengembangan Pribadi Pegawai 4. Penyelesaian Tugas

pegawai

5. Promosi jabatan atas dasar prestasi pegawai

6. Pengakuan instansi atas keberhasilan dalam

melaksanakan pekerjaan

Mustikasari (2013)

Sistem pengendalian internal (X2)

Skala Lickert 1. Lingkungan pengendalian 2. Penilaian risiko

internal 3. Aktivitas

pengendalian dengan

pemeriksaan fisik dan kekayaan instansi 4. Informasi dan

komunikasi 5. Pemantauan

aktivitas operasional

Ruspina (2013)

Budaya etis manajemen (X3)

Skala Likert 1. Model peran yang visibel

2. Komunikasi harapan-harapan etis

3. Pelatihan etis 4. Hukuman bagi

tindakan etis 5. Mekanisme

perlindungan etika

Mustikasari (2013)

33

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut (Sugiyono, 2016), dalam bukunya mengemukakan bahwa populasi adalah wilayah umum yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian akan ditarik kesimpulan.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai tetap yang ada di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya:

a. Bagian Umum

b. Bagian Keuangan dan Ekonomi c. Bagian Persidangan

d. Bagian Perlengkapan 2. Sampel

Menurut (Sujarweni, 2015) sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang akan digunakan dalam penelitian. Sampel juga diambil dari populasi yang benar-benar mewakili dan valid yaitu dapat mengukur sesuatu yang seharusnya diukur.

Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut (Sugiyono, 2016) dan (Sujarweni, 2015), mengemukakan bahwa purposive sampling adalah teknik dalam menentukan sampel dengan pertimbangan atau kriteria tertentu. Adapun kriteria pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu:

a. Pegawai tetap kantor DPRD kota Makassar b. Berusia minimal 25 tahun

c. Masa jabatan minimal 2 tahun

d. Pendidikan terakhir minimal SMA/Sederajat e. Pengisian kuesioner dengan lengkap E. Teknik Pengumpulan Data

Terdapat lima indikator dalam teknik pengumpulan data diantaranya:

1. Kuesinoer: merupakan rangkaian pertanyaan tertulis yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi dari responden

2. Kepustakaan: yaitu daftar buku maupun artikel ilmiah yang digunakan sebagai bahan acuan dalam menyusun proposal, skripsi, laporan ilmiah dan sejenisnya yang sesuai dengan topik penelitian yang dilakukan 3. Survey Lapangan: digunakan untuk memperoleh data secara langsung

dengan menentukan populasi yang hendak dijadikan objek dalam penelitian

4. Wawancara: merupakan proses tanya jawab secara lisan atau tatap muka dengan pihak instansi untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.

5. Dokumen: merupakan sumber data untuk melengkapi penelitian dapat berupa sumber tertulis, gambar ataupun foto sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu secara survei menggunakan kuesioner. Teknik survei ini merupakan teknik pengumpulan data primer yang menggunakan pertanyaan tertulis. Koesioner ini menggunakan skala Likert dengan skor 1-5. Skala Likert merupakan teknik pengukuran baik itu berupa tanggapan positif/negatif atau pengukuran setuju atau tidak setuju dalam suatu objek, situasi atau kejadian tertentu.

35

Peniliaiannya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.2

Tabel Pengukuran Skala Likert

No Kategori Jawaban Bobot Nilai

1 Sangat Setuju (SS) 5

2 Setuju (S) 4

3 Cukup Setuju (CS) 3

4 Tidak Setuju (TS) 2

5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dimana statistik merupakan alat analisis data utamanya. Penelitian ini menggunakan teknis analisis regresi linier berganda (Mulitiple Linier Regretion) dengan alat software statistik SPSS. Sebelum melakukan uji hipotesis dengan model regresi linier berganda, terlebih dahulu peneliti akan melakukan uji kualitas data atau instrumen variabel.

1. Demografi Responden: merupakan data dari pihak-pihak yang dijadikan sebagai sampel dalam sebuah penelitian. Data penelitian ini digunakan untuk memberikan gambaran mengenai identitas responden berdasarkan karakteristik yang terdiri dari; nama, jenis kelamin, usia, jabatan, tingkat pendidikan, dan lama jabatan.

2. Uji kualitas data: data penelitian tidak akan berguna dengan baik jika instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tidak memiliki tingkat keandalan (reliability) dan tingkat kebenaran (validity) yang tinggi. Oleh sebab itu koesioner terlebih dahulu perlu diuji tingkat keandalan dan kebenarannya.

Dalam dokumen analisis faktor-faktor yang mempengaruhi (Halaman 31-36)

Dokumen terkait