MENULIS LAPORAN PEMILIHAN KASUS
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data pada Bab IV maka dapat disimpulkan bahwa temuan dari penelitian ini adalah :
1. Pemahaman
Penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif dipahami oleh guru masih terbatas kepada pemahaman bahwa ada perbedaan dalam menilai bagi anak berkebutuhan khusus dengan anak pada umumnya. Para guru memahami bahwa dalam menilai hasil belajar membedakan cara menilai hasil belajar siswa berkebutuhan khusus dengan siswa pada umumnya. Perbedaan-perbedaan tersebut seperti dalam menentukan ketuntasan belajar (mastery learning) atau batas lulus (passing grade), bobot atau kedalaman materi yang dinilai, dan sistem laporan penilaian hasil belajar.
Penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif lebih menekankan pada penilaian perkembangan siswa atau tingkat perolehan hasil belajar siswa dipandang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa pada sistem pendidikan inklusif. Hasil belajar yang dicapai dibandingkan dengan individu itu sendiri (membandingkan kemampuan awal dengan kemampuan akhir) Penilaian dalam seting pendidikan inklusif harus menjabarkan hasil belajar, yaitu memberikan gambaran seberapa jauh siswa berhasil dalam mengembangkan serangkaian kognitif, apektif dan psikomotorik dengan kurikulum yang fleksibel yaitu yang disesuaikan dengan kompetensinya atau kebutuhannya.
2. Cara melaksanakan penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif
Para guru belum mampu merencanakan penilaian hasil belajar yang sesuai dengan seting pendidikan inklusif, hal ini berimplikasi pada pelaksanaan penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif. Pelaksanaan penilaian hasil belajar di sekolah tersebut belum sesuai dengan konsep penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif yang diharapkan.
Penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif seharusnya dilaksanakan oleh guru melalui pengamatan (observasi) dan pengumpulan informasi yang dimanfaatkan untuk menentukan keputusan berdasarkan informasi atau data yang diperoleh. Pengamatan (observasi) tersebut dilakukan secara terus menerus mengenai sesuatu yang diketahui, dipahami dan yang dapat dikerjakan oleh siswa. Penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif harus berkelanjutan bisa dilakukan melalui observasi, potofolio, bentuk ceklis (kognitif, afektif dan psikomotorik), tes dan kuis, penilaian diri serta jurnal reflektif. Dengan penilaian berkelanjutan akan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menunjukkan apa yang diketahui dan dilakukan dengan kompetensi yang berbeda menurut gaya belajarnya serta dapat mengidentifikasi kelemahan seorang siswa dalam pemahamannya yang selanjutnya dapat segera dirancang strategi pembelajaran yang baru yang diprediksi lebih cocok.
Cara melakukan penilaian penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif memerlukan keahlian dan ketelitian para guru, penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui perencanaan, pengumpulan informasi, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa. Pengumpulan hasil informasi hasil belajar tersebut mengacu pada kompetensi yang tercantum dalam kurikulum yang fleksibel (disesuaikan dengan kebutuhannya/kompetensinya), bersifat adil, dapat memberi informasi yang lengkap, bermanfaat bagi siswa, dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, dan diadministrasikan secara tepat dan efisien.
Penilaian berbasis portofolio (portfolio) memiliki relevansi yang kuat sehingga layak digunakan sebagai alternatif penilaian dalam seting pendidikan inklusif khususnya dalam bidang pembelajaran akademik karena penilaian hasil belajar dengan portofolio dapat menggambarkan potensi, keterampilan dan minat siswa, sampel-sampel karya ditentukan bersama siswa, penyimpanan karya secara baik dan efisien, menentukan kriteria penilaiannya bersama siswa, siswa dapat terlibat menilai karya secara berkesinambungan, siswa mendapat kesempatan untuk memperbaiki karya, serta dapat menjadwalkan waktu untuk membahas portofolio.
Penilaian dalam seting pendidikan inklusif harus menggunakan strategi yang mencerminkan kemampuan anak secara autentik, memanfaatkan berbagai jenis informasi, mempertimbangkan kebutuhan khusus siswa, menggunakan sistem pencatatan yang bervariasi, dan keputusan tingkat pencapaian hasil belajar siswa berdasarkan berbagai jenis informasi.
Laporan penilaian hasil belajar atau kemajuan siswa merupakan sarana komunikasi dan sarana kerjasama antara sekolah dan orang tua, yang bermanfaat bagi kemajuan bagi belajar belajar siswa maupun pengembangan sekolah. Laporan penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif hendaknya memuat rincian hasil belajar berdasarkan kriteria yang ditentukan disesuaikan dengan kebutuhan/kompetensi siswa, memberikan informasi yang jelas, menyeluruh dan akurat serta menjamin orang tua untuk segera mengetahui masalah dan perkembangan anaknya.
Dalam seting pendidikan inklusif idealnya penerimaan siswa tanpa tes, ujian dilakukan secara lokal bagi tingkat dasar (SD dan SMP) dengan model kenaikan kelas otomatis. Dengan demikian, peluang ini dapat dimanfaatkan untuk menuju pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang ramah bagi semua siswa, karena proses pembelajaran dan sistem penilaiannya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik setiap siswa.
3. Tantangan yang dihadapi
Tantangan yang dihadapi di sekolah yaitu guru masih kurang memahami konsep penilaian dalam seting pendidikan inklusif , merasa kesulitan untuk menilai hasil belajar siswa berkebuthan khusus, dan merasa beban tugasnya bertambah dengan adanya anak berkebutuhan khusus di kelasnya. Guru kurang dapat menyiapkan instrumen/perngkat penilaian hasil belajar yang sesuai dengan seting pendidikan inklusif. Guru juga merasa bahwa petunjuk penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif yang ada belum jelas dan masih kontradiksi dengan kebijakan penilaian hasil belajar secara umum.
Tantangan lainnya yaitu orangtua siswa pada umumnya merasa cemburu dan merasa tidak adil bagi siswa berkebutuhan khusus karena naik kelas terus sedangkan bagi siswa pada umumnya ada yang tidak naik kelas.
Para guru juga merasa bahwa Dinas Pendidikan (Kota/Provinsi) masih kurang respon terhadap peningkatan layanan pendidikan dalam seting pendidikan inklusif. Sosialisasi mengenai sistem penilaian dalam seting pendidikan inklusif belum fokus/belum jelas. Tantangan lainnya yaitu kurang tegasnya kebijakan penilaian dalam seting pendidikan inklusif secara makro, meso dan mikro. Kebijakan sistem penilaian dalam seting pendidikan inklusif secara umum belum terkoordinasi dari pihak-pihak yang terkait, dan sistem dukungan (suport system) dari Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan Guru Pembimbing Khususnya (GPK) belum optimal dalam memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan penilaian dalam seting pendidikan inklusif.
4. Upaya Mengatasi Tantangan
Upaya-upaya yang dilakukan guru di sekolah dalam mengantisipasi tantangan yang dihadapinya yaitu membaca buku refersnsi/pedoman yang berkenaan dengan penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif. Mengadakan tambahan waktu seperti les privat, diskusi
dengan teman seprofesi, banyak bertanya atau konsultasi ke Guru Pembimbing Khusus, konsultasi pada pihak terkait (Dinas Pendidikan/Nara Sumber), mengadakan diskusi intern untuk menyamakan persepsi mengenai penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif, mengadakan sosialisasi kepada orang tua siswa dan koordinasi dengan pihak terkait.
5. Pokok Temuan Pola Penilaian Hasil Belajar dalam Seting Pendidikan Inklusif.
Berdasarkan temuan penelitian mengenai pemahaman, perencanaan, cara melaksanakan dan laporan penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif di Sekolah Uji Coba Implementasi Pendidikan Inklusif (SDN X ) di Kalimantan Selatan dapat dikemukakan pola penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif (pola 1) dan berdasarkan kajian teoritik ditemukan 1 pola konsep ideal penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif (pola 2) sebagai berikut :
a. Pola 1 (Berdasarkan Temuan Penelitian).
Pemahaman konsep penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif : Adanya perbedaan dalam menilai hasil belajar untuk anak berkebutuhan khusus dengan anak pada umumnya. Penilaian hasil bejalar disesuaikan dengan kebutuhan khusus siswa
Perencanaan penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif Cara 1 : Anak pada umumnya dan anak berkebutuhan khusus disamakan dalam standar ketuntasan belajarnya (mastery learning) atau standar kompetensi lulusannya.
Cara 2 : Anak pada umumnya dan anak berkebutuhan khusus dibedakan dalam standar ketuntasan belajarnya (mastery learning).
Cara melaksanakan penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif:
Cara 1 : Adanya penyesuaian tingkat kesukaran untuk anak berkebutuhan khusus. Menggunakan instrumen yang sama namun ada penyesuaian khusus untuk anak berkebutuhan khusus ketika melaksanakan penilaian hasil belajar. Cara melaksanakan penilaian ada tambahan waktu untuk anak berkebutuhan khusus.
Cara 2 : Adanya penyesuaian tingkat kesukaran untuk anak berkebutuhan khusus. Menggunakan instrumen yang berbeda disesuaikan dengan kebutuhan khususnya. Cara melaksanakan penilaian hasil belajar siswa berkebutuhan khusus disesuaikan dengan kebutuhannya.
Laporan penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif :
Cara1: Sistem pelaporan penilaian hasil belajar anak berkebutuhan khusus disamakan seperti anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus sama seperti anak pada umumnya ada yang naik kelas dan ada yang tidak naik kelas.
Cara 2: Sistem pelaporan penilaian hasil belajar anak berkebutuhan khusus ada perbedaan dengan anak pada umumnya, yaitu ada tambahan buku/cacatan khusus perkembangan kompetensi untuk anak berkebutuhan khusus. Menerapkan sistem kenaikan kelas otomatis untuk semua anak.
Cara 3: Sistem pelaporan penilaian hasil belajar anak berkebutuhan khusus ada perbedan dengan anak pada umumnya, yaitu ada tambahan buku/catatan khusus perkembangan kompetensi untuk anak berkebutuhan khusus. Tidak menerapkan sistem kenaikan kelas otomatis untuk anak pada umumnya dan anak berkebutuhan khusus.
Cara 4: Sistem pelaporan penilaian hasil belajar anak berkebutuhan khusus ada perbedaan dengan anak pada umumnya, yaitu ada tambahan buku/catatan khusus perkembangan kompetensi untuk anak berkebutuhan khusus. Tidak menerapkan sistem kenaikan kelas
otomatis untuk anak pada umumnya dan kenaikan kelas otomatis untuk anak berkebutuhan khusus.
Pola 2 : (Berdasarkan kajian teoritik/Adaptasi perangkat LIRP versi Indonesia dan