• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman guru-guru tentang konsep penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif di Sekolah Uji Coba Implementasi Pendidikan Inklusif SDN X di Kalimantan

MENULIS LAPORAN PEMILIHAN  KASUS

B. Pembahasan Penelitian

1. Pemahaman guru-guru tentang konsep penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif di Sekolah Uji Coba Implementasi Pendidikan Inklusif SDN X di Kalimantan

(b) Sharing dengan teman sejawat yang telah mengikuti pelatihan dan dengan guru pembimbing khusus

(c) Mengadakan pengarahan kepada orangtua siswa baik orang tua pada umumnya dan orang tua yang anaknya berkebutuhan khusus

(d) Bertanya kepada guru pembimbing khusus mengenai sistem penilaian dalam seting pendidikan inklusif

(e) Bimbingan khusus bagi orang tua

(f) Melaksanakan koordinasi dengan pihak terkait.

(Assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang pencapaian hasil belajar siswa. Penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui perencanaan, pengumpulan informasi, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 menjelaskan bahwa “Penilaian adalah proses pengambilan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik (PP. No.19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 1 angka 17). Penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui perkembangan, kemajuan, dan/atau hasil belajar siswa selama program pendidikan (Depdiknas:

2004). Betapa pentingnya para guru di sekolah untuk memahami konsep penilaian hasil belajar.

Penilaian hasil belajar di kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian keputusan terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga para guru akan mendapatkan potret atau profil kemampuan siswa sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.

Pemahaman guru-guru di sekolah mengenai ”hasil belajar” jawabannya ada yang sudah mengarah pada pemahaman konsep hasil belajar siswa yang benar, namun ada juga yang belum memahami. Memahami konsep hasil belajar bagi guru penting karena sebagai arah dari tujuan penilaian itu sendiri, yaitu untuk memahami apa sebenarnya yang akan dinilai. Tiap kegiatan belajar mempunyai suatu tujuan yang perlu dinilai dengan berbagai cara. Penilaian itu sendiri perlu menjabarkan hasil belajar, yaitu memberikan deskripsi seberapa jauh peserta didik berhasil dalam mengembangkan kompetensinya (kemampuannya) yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap selama pembelajaran, topik atau kurikulum yang flkesibel. Deskripsi dari hasil belajar sering disebut standar pembelajaran atau tujuan pembelajaran atau dalam seting Kurikulum Berbasis Kompetensi yaitu tercapainya kompetensi-kompetensi itu sendiri dan tujuan

ini dapat diidentifikasi melalui mata pelajaran khusus, keterampilan, dan tingkatan kelas. Berikut dikemukakan mengenai konsep hasil belajar menurut Budiyanto (2005:178) sebagai berikut :

Indikator hasil belajar merupakan uraian kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam berkomunikasi secara spesifik serta dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran. Selama proses ini guru dapat menilai apakah siswa telah mencapai suatu hasil belajar yang ditunjukkan dengan pencapaian beberapa indikator hasil belajar tersebut. Apakah hasil belajar siswa telah direflesikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak maka siswa tersebut telah mencapai suatu kompetensi.

b. Pemahaman guru-guru mengenai konsep penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif

Pemahaman guru-guru mengenai konsep penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif masih terbatas kepada pemahaman bahwa penilaian dalam seting pendidikan inklusif yaitu membedakan cara menilai hasil belajar siswa pada umumnya dengan siswa berkebutuhan khusus.

Penilaian dalam seting pendidikan inklusif menurut Budiynto (2005:175) sebagai berikut:

Pertimbangan yang melandasi terletak pada falsafah yang melandasinya, di mana siswa atau peserta didik bukanlah kelinci percobaan suatu program pembelajaran yang diimplementsikan. Tetapi siswa atau peserta didik itu adalah individu yang sedang berkembang, sedangkan fungsi sekolah adalah memfasilitasi terhadap perkembangan itu sendiri. Pada sisi lain karakteristik siswa/peserta didik pada pendidikan inklusif bersifat hetorogen, sehingga mendukung penggunaan norma mutlak. Atas dasar pertimbangan tersebut kiranya konsep penilaian yang lebih menekankan pada penilaian perkembangan siswa atau tingkat perolehan hasil belajar peserta didik dipandang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik pada sistem pendidikan inklusif.

Kaitannnya dengan penilaian dalam seting pendidikan inklusif, Direktorat PLB, Braillo Norway, dan UNESCO (2004 :36) mengatakan bahwa : “Penilaian harus menjabarkan hasil belajar, yaitu memberikan gambaran seberapa jauh peserta didik berhasil dalam mengembangkan serangkaian keterampilan, pengetahuan dan perilaku selama pembelajaran, topik atau kurikulum yang fleksibel”.

Penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif antara lain dilaksanakan melalui pengamatan dan pengumpulan informasi yang dimanfaatkan untuk menentukan keputusan

berdasarkan informasi atau data yang diperoleh. Pengamatan (observasi) tersebut dilakukan secara terus menerus mengenai sesuatu yang diketahui, dipahami, dan yang dapat dikerjakan oleh siswa.

Berarti dalam mengobservasi harus melakukan beberapa kali dalam setahun, misalnya pada awal tahun, pertengahan tahun dan akhir tahun. Penilaian hasil belajar dalam seting pendidikan inklusif harus berkelanjutan, seperti dijelaskan Direktorat PLB, Braillo Norway, dan UNESCO (2004 :35-36) sebgai berikut :

“Penilaian yang berkelanjutan berarti melakukan pengamatan secara terus menerus tentang sesuatu yang diketahui, dipahami, dan yang dapat dikerjakan oleh peserta didik. Observasi ini dilakukan beberapa kali dalam setahun, misalnya awal, pertengahan dan akhir tahun. Penilaian yang berkelanjutan bisa juga dilakukan melalui:observasi, portofolio, bentuk ceklis (keterampilan, pengetahuan dan perilaku), tes dan kuis, dan penilaian diri serta jurnal reflektif.

Dengan menggunakan penilaian yang berkelanjutan, guru dapat mengadaptasi perencanaan dan pengajarannya menurut kebutuhan peserta didik, sehingga semua akan mendpatkan peluang untuk belajar dan sukses”.

Dalam penilaian yang berkelanjutan akan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menunjukkan apa yang diketahui dan dilakukan dengan kompetensi yang berbeda menurut gaya belajarnya, kemudian penilaian seperti ini dapat mengidentifikasi kelemahan seorang siswa dalam pemahamannya yang selanjutnya dapat segera dirancang strategi pembelajaran yang baru yang diprediksi lebih cocok/sesuai.

2. Cara melaksanakan penilaian hasil belajar di Sekolah Uji Coba Implementasi