PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM SETTING PENDIDIKAN INKLUSIF DI SDN PASAR LAMA 3 BANJARMASIN
D. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (1993). Manajemen Pengajaran secara Manusiawi.
Jakarta: Rineka Cipta.
Abdurrahman, M. (1999). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Depdikbud. (1994). Kepmendikbud No.
0126/U/1994/Tgl. 19 Mei 1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Jakarta.
_________. (1996). Himpunan Peraturan tentang Pendidikan Dasar.
Dikdasmen. Jakarta.
_________. (1998). Kepmendikbud No.
0126/U/1994/Tgl. 19 Mei 1994 tentang Program Pilihan di SLTPLB dan SMLB. Jakarta.
Depsos. (1994). Upaya Peningkatan Kesejahteraan Penyandang Cacat.
Jakarta.
Gardner, H. (1993). Multiple Intelligences : The Theory in Practice. Basic Books, A Division of Harper Collins Publishers.
Himpunan Peraturan Tentang Pendidikan Dasar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.
Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar 1996/1997.
Howard and Orlandsky. (1980).
Exceptional Children. Ohio: A Bell
& Howell Company, 42316.
Hunger, J. David and Wheelen, Thomas L.
(2001). Manajemen Strategis.
Yogyakarta: Andi.
Meadow. (1980). Deafness and Child Development. London : Edward Arnold Ltd.Mulyana, D. (2001).
Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosda Karya.
_________. (2001). Manajemen Berbasis Sekolah dan Kepemimpinan Mandiri Kepala Sekolah. Bandung:
Sarana Panca Karya Nusa.
Suparman dan Dudi. (2003). Pendidikan Karakter Mandiri dan Kewirausahaan. Bandung:
Angkasa.
___________. (2004). Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) : Pembaharuan Pendidikan dalam Undang-undang Sisdiknas 2003. Bandung: Cipta Cekas Grafika.
Syaodih, N. (2001). Pengembangan Kurikulum : Teori dan Praktek.
Bandung: Remaja Rosda
Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2003 beserta Penjelasannya.
Bandung: Wahana Anak Bangsa.
MEMBANGUN KARAKTER SOSIAL EMOSIONAL
CALON GURU SEKOLAH LUAR BIASA MELALUI PORTOFOLIO ELEKTRONIK Sinta Yuni Susilawati1*,Umi syafiul Ummah21*, Henry Praherdhiono3*,
Rizq Fajar Pradipta4*
Universitas Negeri Malang [email protected]
ABSTRAK
Tanggung jawab utama untuk perubahan guru bertumpu pada program persiapan bagi calon guru di pendidikan tinggi (Lombardi dan Hunka , 2001). Calon guru di Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang memiliki keberagaman dimensi yang komplek. Sehingga memerlukan konten pembelajaran sosial dan emosional yang mampu mengakuisisi seluruh potensi calon guru dengan efektif dalam rangka memberikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk mengenali dan mengelola emosi, mengembangkan kepedulian orang lain, membuat bertanggung jawab keputusan, membangun hubungan, dan penanganan situasi akademik yang memiliki sikap positif.. Penerapan teknologi SVOD dalam belajar dan pembelajaran dapat dikategorikan sebagai media portofolio yang simpel dan realistis.
Kata Kunci: calon guru, SVOD, potofolio, sosial, emosional
PENDAHULUAN
Anak-anak, remaja, hingga manusia dewasa di seluruh dunia pada usia yang sama masuk ke kelas kelas yang sesuai dengan usianya masing-masing dengan kondisi berbeda dan beragam (Karangwa, Miles, & Lewis, 2010; Mowat, 2010; Schirmer & Casbon, 1995).
Keberagaman tersebut berupa kemampuan dan tantangan belajar, latar belakang pengetahuan, budaya, bahasa, pengalaman, sosial bahkan ekonomi. Pebelajar memaknai belajar dan pembelajaran dengan beragam. Secara sosial, pebelajar tidak hanya memaknai belajar dan pembelajaran sebagai aktivitas yang melibatkan diri sendiri saja, melainkan aktivitas dalam masyarakat yang beragam seperti berinteraksi dengan guru-guru ketika di sekolah, berinteraksi dengan rekan-rekan kerja ketika di perusahaan dan
bermuara membawa nilai-nilai dan ajaran ke keluarga mereka. Studi terhadap pengelolaan emosional oleh pebelajar secara global telah dilakukan. Secara umum perkembangan emosional pebelajar mengarah pada tingkat yang sangat tinggi dari kekerasan di sekolah, bullying, putus sekolah, bunuh diri remaja, dan perilaku negatif lainnya (Kawabata, Crick &
Hamaguchi, 2010; Liang, Flisher, &
Lombard, 2007; McCombs, 2004; Zins &
Elias, 2006). Perilaku tersebut sebenarnya hanya sebuah cara jalan pintas bagi pebelajar yang tidak mampu menerima keberagaman sosial dan kurangnya kesejahteraan emosional. Kondisi tersebut dibuktikan dengan peningkatan tingkat depresi, penyakit emosi berlebihan terkait dengan ekspresi tidak tersalurkan, ketakutan dan keputusasaan (Cluver, Bowes, & Gardner, 2010; Hymel,
Schonert-Reichl, & Miller, 2006; Modrcin- McCarthy & Dalton, 1996). Hal ini mempertegas bahwa, temuan dari sejumlah investigasi penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekolah dan kampus adalah salah satu konteks sosialisasi yang paling efektif dalam budaya kita, dan di antara yang paling berpengaruh dalam membimbing pembelajaran sosial dan emosional (Schonert-Reichl, Smith, &Zaidman-Zait, 2006) pembelajaran sosial dan emosional anak-anak dapat dipupuk melalui kelas dan upaya intervensi di kelas (Durlak &
Weissberg, 2007; Graczyk, dkk, 2000; Greenberg, Domitrovich, &
Bumbarger, 2001).
Pembelajaran sosial dan emosional merupakan proses akuisisi yang efektif dalam memberikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk mengenali dan mengelola emosi, mengembangkan kepedulian orang lain, membuat bertanggung jawab keputusan, membangun hubungan yang positif, dan penanganan situasi akademik yang memiliki sikap positif (Zins & Elias, 2006, hal. 1). Pembelajaran sosial dan emosional memiliki efek positif pada banyak aspek perkembangan anak, termasuk prestasi akademik, fisik, mental, dan kesehatan emosional, perilaku positif terhadap keberagaman sosial. (Zins & Elias, 2006). Namun, perdebatan terus muncul di
berbagai perguruan tinggi di Indonesia penyelenggara Pendidikan Luar Biasa termasuk di Universitas Negeri Malang adalah sejauh mana jurusan atau program studi dapat atau harus diminta untuk mencurahkan waktu dalam pembelajaran sosial dan emosional. Walaupun semuanya menyadari bahwa calon guru pendidikan luar biasa sangat rentan dengan beban sosial dan emosional. Sikap positif secara soasial dan kemampuan mengelola emosional calon guru Luar Biasa merupakan faktor penentu dan melandasi keseluruhan keilmuan yang diperoleh selama pembelajaran hingga kelak pada saat mengimplementasikan keilmuan.
Perdebatan yang muncul di tingkat akademisi adalah pengakuan terhadap hubungan antara perkembangan sosial dan emosional dengan keberhasilan akademis serta implementasi keilmuan di masyarakat. Perlu disadari bahwa memperkuat sikap positif mahasiswa dan mengelola emosi mahasiswa dalam sebuah komunitas (calon guru di Pendidikan Luar Biasa) akan meningkatkan motivasi dan aspirasi akademik, sehingga memiliki efek besar pada prestasi akademik (Brock, Nishida, Chiong, Grimm , &
Rimm-Kaufamn, 2008; Zins et al., 2004), Berbagai kajian telah mengerucut pada tanggung jawab utama untuk perubahan guru bertumpu pada
program persiapan bagi calon guru di pendidikan tinggi (Lombardi dan Hunka , 2001). Namun demikian banyak dokumentasi stabilitas keyakinan calon guru dan penolakan terhadap perubahan. Literatur pada umumnya menunjukkan bahwa pendidik atau calon
guru belum sukses dalam
mempengaruhi keyakinan dan sikap yang membentuk watak dan menginformasikan kemampuan diri (Renzaglia , Hutchins, dan Lee, 1997). Bahkan,Renzaglia dan koleganya memaparkan ketidak siapan calon guru secara emosional adalah ketidaksiapan calon pendidik guru dalam pendidikan luar biasa sehingga membuat dampak pada keyakinan dan sikap calon guru tentang sekolah luar biasa dalam konteks mengajar, belajar, pembelajaran dan pebelajar yang menyandang disabilitas ( Renzaglia , Hutchins , dan Lee, 1997, hal. 360).
Pembelajaran bagi calon guru di pendidikan luar biasa adalah usaha untuk membawa pebelajar luar biasa berpindah dari margin menuju inti yang membantu pebelajar memahami disabilitas (keluarbiasaan) sebagai hanya fenomena sosial (winzer.2002) . Hal ini akan membawa sikap sosial bagaimana memaknai disabilitas diciptakan dan diabadikan oleh masyarakat, memaknai secara sosial, dan bagaimana orang
menafsirkan disabilitas. Portofolio bagi calon guru digunakan sebagai salah satu alat untuk memberikan titik acuan untuk membantu siswa mempelajari disabilitas pada cara-cara baru melalui analisis terhadap persepsi sosial yang berlaku. Untuk merekonstruksi pandangan secara sosial, asumsi dan keyakinan tentang disabilitas secara umum ditantang melalui analisis penggambaran, Calon guru di pendidikan luar biasa harus mampu merefleksi diri, dan memperkaya membaca dan mengakses sumber belajar. Hingga pada akhirnya calon guru pada pendidikan luar biasa memiliki sikap positif secara sosial dan emosional yang baik yang melandasi seluruh ketrampilan yang dikuasainya. Hasil penelitian dan kajian menunjukkan bahwa penggunaan portofolio merupakan salah satu praktek menjanjikan bahwa dapat berfungsi untuk memodifikasi keyakinan sehingga calon guru di pendidikan luar biasa akan menjadi lebih responsif dan akomodatif.
Video self-modeling (VSM) adalah jenis intervensi dikelas yang telah dikembangkan untuk membantu pebelajar dalam melihat diri mereka sukses dalam berbagai domain (Schmidt & Raacke.
2013). Pada calon guru pendidikan luar biasa, perlu dikenalkan modifikasi teknologi VSM yang berupa Self Video On Demand (SVOD). Secara umum SVOD
merupakan bentuk aktualisasi diri bagi calon guru agar mampu melihat perkembangan diri sendiri selama belajar dalam sebuah pembelajaran. Banyak penelitian yang menggunggulkan teknologi Self Video (Video Diri). Penelitian umumnya dilakukan kepada pebelajar yang memiliki disabilitas dan belum dilakukan bagi pebelajar yang memiliki identitas sebagai calon guru bagi siswa yang memiliki disabilitas. Salah satu penelitian video diri adalah penelitian yang dilakukan oleh Schmidt & Raacke pada tahun 2013 untuk menganalisis efek dari self video pada pebelajar yang memiliki disabilitas.
Penelitian tersebut memiliki fokus khusus pada peningkatan perilaku belajar dan keterlibatan dalam pembelajaran. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perubahan perilaku anak yang memiliki disabilitas mengalami peningkatan secara signifikan dengan pebelajar lain yang diberlakukan sebagai kontrol hari. Perubahan tersebut berupa meningkatnya kemampuan belajar dan pembelajaran. SVOD merupakan teknologi yang memodidifikasi VSM untuk anak yang memiliki disabiltas yang dijadikan perangkat asesmen portofolio bagi calon guru pada pendidikan luar biasa.
Tentunya calon guru pada pendidikan luar bias secara emosioanl memiliki kedekatan dengan pebelajar yang memiliki disabilitas.
Secara khusus calon guru harus memiliki
pengalaman belajar dalam penggunaan teknologi self video untuk kebutuhan belajar dan pembelajaran. Secara umum calon guru akan mampu melihat perkembangan diri sendiri secara portofolio, sehingga calon guru memiliki sikap positif dalam menyalurkan dan mengekspresikan emosional serta sebagai cara berbagi kemampuan melalui wahana SVOD.
Penerapan teknologi SVOD dalam belajar dan pembelajaran dapat dikategorikan sebagai kegiatan akademik yang simpel dan realistis. SVOD tidak membutuhkan perangkat perekam video sekelas broadcast poket maupun professional. SVOD haya membutuhkan software dan hardware minimalis.
Gambaran umum SVOD yang diterapkan dalam tulisan ini merupakan teknologi presentasi mandiri yang hanya berbantuan personal computer yang memiliki system operasi tertentu. SVOD juga merupakan produk akhir dari software yang memiliki kemampuan dan spesifikasi perangkat perekam layar monitor dikomputer.
Kemudahan yang diberikan oleh software SVOD adalah Calon guru pendidikan luar biasa tidak perlu menggunakan kamera khusus dan perangkat editing video khusus dalam mengembangkan portofolio. Calon guru pendidikan luar biasa hanya perlu menyiapkan sikap sosial berbagi dan
mengkspresikan emosi seakan ingin orang lain melihat portofolio yang dikembangkan calon guru pada layar pada personal komputer masing-masing. Calon guru pendidikan luar biasa hannya perlu mengaktifkan webcam, mikrofon internal pada computer. Kemudahan SVOD adalah kemampuan untuk menambahkan file teks untuk captioning dan berbagi video audiens lainnya. Video dapat disimpan dalam format MP4, AVI, FLV atau dan kemudian upload ke web space.
METODE a. Analisis
Mahasiswa pada Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang telah memiliki pengetahuan dasar- dasar menggunakan komputer.
Kemampuan secara teknis berupa penggunaan software aplikasi dan hardware komputer cukup bervariatif. Mahasiswa umumnya telah mampu memanfaatkan komputer sebagai media tertentu yang dapat digunakan dalam pembelajaran secara off-line maupun on-line. Mahasiswa memiliki literasi yang baik terhadap pembuatan video diri untuk aplikasi media sosial. Literasi terhadap perkembangan di bidang Teknologi Informasi cukup
memadai dan kemampuan
mengkomunikasikan cukup baik, namun literasi terhadap sumber-sumber belajar seperti jurnal, penelitian, paper dll masih
sangat minim. Indikatornya adalah kepemilikan komputer dan penggunaan laboratorium internet dijurusan menunjukkan peningkatan penggunaan yang sangat pesat untuk mengakses media sosial. Namun file-file yang ada dalam komputer mahasiswa maupun komputer laboratorium kurang menunjang pendidikan mereka.
Mahasiswa merupakan pebelajar perlu mengkonstruksi kemampuan mereka sendiri secara aktif. Akses on-line dengan kecepatan yang terbatas membuat calon mahasiswa pendidikan luar biasa kesulitan memperoleh informasi berbentuk video.
Sehingga memerlukan video yang dikembangkan secara mandiri dengan yang memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan tambahan dari web-web di Internet non-video dalam rangka menunjang kelancaran dalam penyelesaian tugas-tugasnya. Secara umum terdapat kecenderungan membuka media sosial yang berlebihan, memiliki perilaku ketergantungan terhadap bahan ajar dosen, serta perilaku tidak nyaman dan cenderung ketakutan yang berlebihan terhadap kegiatan evaluasi jika dilakukan dengan pengawasan dosen. Ketergantungan dan Ketakutan mahasiswa secara kualitatif masih sulit untuk diungkapkan latar belakangnya.
Adapun Pola ketergantungan dari calon-pebelajar tersebut cukup menghawatirkan. Hal ini terlihat dalam perilaku mahasiswa sebagai berikut 1) Ketergantungan terhadap kehadiran sosok dosen. 2)Ketergantungan terhadap Bahan Ajar dosen. 3) Ketergantungan terhadap cara berfikir dan berekspresi dosen. 4) Ketergantungan terhadap batas akhir penjadwalan.
Konteks pengembangan adalah membangun sistem yang dapat membantu pelaksanaan pembelajaran bagi pebelajar di lingkungan Universitas Negeri Malang.
Kegiatan belajar dan pembelajaran bagi pebelajar di Universitas Negeri Malang telah menerima karakteristik lingkungan belajar off-line (pertemuan kelas, konsultasi personal, diskusi tentang permasalahan khusus dll) dan dengan karakteristik lingkungan belajar on-line (forum pembelajaran umum, forum kelompok, diskusi umum, diskusi kelompok, ruang dokumen material pembelajaran, presentasi tayang tunda, dll).
Sehingga perlu dikembangkan sebuah model sistem cyberwellnes terhadap pengelolaan akses internet bagi pebelajar
b. Prosedur Perkuliahan dengan SVOD sebagai portofolio
Pengembangan prosedur pertemuan awal dari sistem atau untuk materi yang baru. Pada perkuliahan awal
biasanya dosen belum mengetahui penguasaan mahasiswa atas substansi mata kuliah. Model ini efisien dari segi waktu pelaksanaannya, tetapi waktu interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa atau dengan dosen menjadi sedikit. Model terdiri atas lima langkah, yaitu penyajian materi oleh dosen, diskusi kelompok, pemberian tes/kuis, pelaksanaan silang tanya untuk meningkatkan kemampuan, dan pemantapan oleh dosen.
Gambar SVOD pada perkuliahan tahap awal oleh dosen
Pengembangan prosedur perkuliahan inti menjadikan setiap mahasiswa terlibat secara aktif. Masing- masing beraktualisasi melalui interaksi, keterlibatan, dan pemeranan diatur secara bersama antara dosen dan mahasiswa.
Pengembangan prosedur perkuliahan tahap akhir menekankan tanggung jawab pembelajaran pada mahasiswa yang diwujudkan dalam bentuk portofolio dengan memanfaatkan teknologi SVOD. Model ini lebih menonjolkan kemampuan individual atau kemampuan
bekerja dalam kelompok. Kekuatan pengembangan terletak pada interaksi yang tinggi, baik antara dosen dengan mahasiswa maupun mahasiswa dengan mahasiswa.
Untuk mampu melakukan hal seperti itu, mahasiswa dipastikan harus mempelajari bagian-bagian sebelumnya melalui hal-hal yang telah dilakukan dan terekam. Hasil akhir portofolio mahasiswa tidak akan maksimal jika mahasiswa tidak memiliki kesiapan sikap sosial yang positif dan pengeaturan emosional yang baik.
Gambar SVOD pada perkuliahan tahap akhir oleh mahasiswa
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil portofolio elektronik melalui teknologi SVOD sebagai media pembelajaran sosial dan emosional bagi calon guru sekolah luar biasa yang diimplementasikan pada matakuliah Aplikasi Komputer di S1 Jurusan Pendidikan Luar biasa Universitas Negeri Malang mendapatkan respon yang positif, sehingga layak untuk digunakan dalam penelitian ke depan.
Calon guru dapat menggunakan SVOD untuk merekam presentasi produk matakuliah yang dikembangkan, memberikan demonstrasi cara mengembangkan produk, mampu dijadikan wujud orientasi kehadiran dalam kelas, dapat digunakan sebagai wahana bercerita secara digital, dan bias dijadikan sarana umpan balik pada tugas portofolio, dapat menciptakan tugas yang mengharuskan dengan penjelasan yang rinci. Beberapa calon guru telah mengeksploitasi software dan menyatakan bahwa dukungan teknis bahwa SVOD memberikan cara yang sangat efisien untuk menunjukkan eksistensi penggembang dan sara berbagi antar calon guru sekolah luar biasa, sehingga secara kolaborasi mereka menemukan bagaimana untuk memecahkan masalah dan tugas matakuliah aplikasi komputer.
SVOD dalam matakuliah aplikasi computer sangat berguna untuk memaparkan learning object, penyajian kuliah dalam bentuk peta konsep serta memberikan peluang umpan balik terhadap pebelajar. SVOD berupa video yang dikemas sedemikian rupa hingga semua player mampu membuka dan dapat dibuat dan dilihat kapan saja dan dimana saja oleh baik oleh PC, tablet maupun Handphone pengguna. Fleksibiltas yang diwarkan juga sangat baik yaitu dapat disimpan di
Perangkat Keras secara offline maupun online. Sehingga ada dan tidaknya jaringan internet tetap memungkinkan mahasiswa/calon guru sekolah luar biasa tetap belajar atau yang memiliki koneksi internet dan browser. Pebelajar dapat melihat sajian pada waktu yang dipilih sendiri atau nyaman bagi mereka, sehingga media ini dapat juga digunakan dengan baik dalam pembelajaran online dan hybrid. Video dapat dilihat dan diulang untuk referensi oleh calon guru, sehingga hasil produk perkuliahan calon guru sangat fleksibel. Secara umum, SVOD menciptakan lingkungan yang lebih menarik bagi calon guru sekolah luar biasa baik secara online maupun off-line, memberikan kuliah atau demonstrasi lebih pribadi melalui copy file,
Salah satu keluhan yang mincul pada SVOD adalah software tidak interaktif yang memberikan fasilitas menyisipkan kuis dan fitur interaktif lainnya. Interaktivitas mungkin bisa menjadi langkah berikutnya untuk alat perekaman layar gratis. Konten pembelajaran aplikasi computer pada Jurusan Pendidikan Luar biasa dalam SOVD memiliki potensi untuk menjadi lebih kaya, lebih menarik, dan lebih mudah diakses oleh semua pengguna dari kuliah tatap muka atau dokumen teks sederhana atau gambar.Karena kemudahan
penggunaan, SOVD tidak banya membutuhkan ketrampilan khusus.
Simpulan
Konteks pembelajaran sosial dan emosional pada portofolio dengan teknologi SVOD adalah melihat, membenahi dan berbagi sikap sosial dan emosional calon guru di lingkungan pendidikan luar biasa. Calon guru dapat menggunakan SVOD untuk merekam ceramah, memberikan demonstrasi, sebuah orientasi kehadiran baik untuk kelas online maupun offline, bercerita secara digital, dan memberikan umpan balik pada tugas pebelajar. Teknologi SVOD sangat menarik untuk tujuan pembelajaran karena sangat mudah digunakan dan menyediakan cara yang paling mudah untuk mengaktualisasikan diri dalam wujud presentasi maupun tutorial melalui video dan audio capture. SVOD juga memberikan dukungan teknis Screencasting bagi calon guru di lingkungan pendidikan luar biasa dalam konteks pembelajaran yang memberikan cara efisien untuk menunjukkan kepada pengguna dan pebelajar lain bagaimana cara untuk memecahkan suatu masalah.
SVOD sangat berguna untuk menunjukkan dan menjelaskan objek belajar, penyajian kuliah atau pelajaran singkat, atau memberikan umpan balik
karya calon guru. SVOD berupa video tayang tunda yang fleksibel sehingga dapat dibuat dan dilihat kapan saja dan dimana saja oleh PC pengguna baik secara offline maupun yang memiliki koneksi internet dan browser. Pebelajar (calon guru) dan pengempu matakuliah (dosen) dapat melihat sajian pada waktu yang nyaman bagi mereka, sehingga mereka bekerja dengan baik dalam pembelajaran. Video dapat dilihat dan diulang untuk referensi oleh Pebelajar, sehingga mereka bekerja dengan baik untuk menyajikan pelajaran atau demonstrasi instruktif untuk pebelajar lain. Secara umum, SVOD menciptakan lingkungan yang lebih menarik bagi Pebelajar yang bekerja secara online maupun off-line, meningkatkan sikap sosial berbagi pengalaman dan pengendalian emosi melalui penyaluran dan ekspresi bebas dalam mendemonstrasi kemampuan pribadi melalui presentasi face-to-face secara tayang tunda.
DAFTAR PUSTAKA
Brock, L. L., Nishida, T. K., Chiong, C., Grimm, K. J., & Rimm-Kaufamn, S. E. (2008). Children's perceptions of the classroom environment and social and academic performance: A longitudinal analysis of the contribution of the Responsive Classroom approach. Journal of School Psychology, Vol46, Hal.129-149.
Cluver, L., Bowes, L, & Gardner, F.
(2010). Risk and protective factors for bullying victimization among AIDS-affected and vulnerable children in South Africa. Child Abuse & Neglect, 34, 793-803.
Durlak, J. A. & Weissberg, R. P. (2007).
The impact of after school programs that promote personal and social skills. Retrieved March 18th,
2008, http://www.casel.org/pub/ar ticles.php
Graczyk. P. A., Weissberg, R. P., Payton, J.
W., Elias, M. J., Greenberg, M. T.,
& Zins, J. E. (2000). Criteria for evaluating the quality of school- based social and emotional learning programs. In R. Bar-On &
J. D. Parker (Eds.), The handbook of emotional intelligence: The theory and practice of development, evaluation, education, and application--at home, school, and in the workplace (Hal. 391-410).
SanFrancisco: Jossey-Bass.
Greenberg, M. T. (2004). Current and future challenges in school-based prevention: The researcher perspective. Prevention Science, Vol 5, Hal 5-13.
Greenberg, M. T., Domitrovich, C., &
Bumbarger, B. (2001). The prevention of mental disorders in school aged children: Current state of the field. Prevention &
Treatment, 4, Article 1a. Retrieved February 13th, 2008, from http://www.apa.org/psycarti cles/
Hymel, S., Schonert-Reichl, K. A., &
Miller, L. D. (2006). Reading,
‘riting, and relationships:
Considering the social side of education. Exceptionality Education Canada, Vol16, Hal 149-192.
Katz. j. porath. m. 2013. teaching to diversity: creating compassionate learning communities for diverse elementary school students.
international journal of special education
Karangwa, E., Miles, S., & Lewis, I.
(2010). Community-level responses to disability and education in Rwanda.
International Journal of Disability, Development and Education, Vol 57, Hal. 267 — 278
Kawabata, Y., Crick, N. R., & Hamaguchi, Y. (2010). The role of culture in relational aggression:
Associations with social- psychological adjustment problems in Japanese and US school-aged children.
International Journal of Behavioral Development, Vol 34, Hal. 354-362.
Lombardi, T. P. and Hunka, N.
NJ.(2001).Preparing general education teachers for inclusive classrooms:Assessing the process.Teacher Education and Special Education, Vol 24, Hal.
183-197.
McCombs, B. L (2004). The learner- centered psychological principles:
A framework for balancing academic achievement and social- emotional learning outcomes. In J.
E. Zins, R. P. Weissberg, M. C.
Wang, & H. J. Walberg (Eds.), Building academic success on social and emotional learning (Hal. 23-39). New York:
Teachers College Press.
Modrcin-McCarthy, M.A., & Dalton, M.
M. (1996). Responding to healthy people 2000: Depression in our
youth, common yet
misunderstood. Issues in Comprehensive Pediatric Nursing, Vol 19, Hal 275-290.
Mowat, J. G. (2010). Inclusion of pupils perceived as experiencing social and emotional behavioural difficulties (SEBD): affordances and constraints. International Journal of Inclusive Education, Vol 14, Hal. 631— 648.
Renzaglia, A., Hutchins, M., and Lee, S.
(1997) The impact of teacher education on the beliefs, attitudes,
and dispositions
of preservice special educators. Teacher Education and Special Education, 20, 360, 377.
Schirmer, B. R., & Casbon, J.
(1995). Inclusion of children with disabilities in elementary school classrooms. Reading Teacher, Vol 49, Halaman 66 - 69.
Schonert-Reichel, K. A., Smith, V. &
Zaidman-Zait, A. (2006). Can an infant be a catalyst for change?Effectiveness of the
“Roots of Empathy” program in fostering the social-emotional development of primary grade children. Manuscript submitted for publication.
Winzer. M.A. (2002). portfolio use in undergraduate special education.
international journal of special education, vol 17, Vol.1.
Zins, J.E., & Elias, M.E. (2006). Social and emotional learning. In G.G. Bear
& K.M. Minke (dkk.), Children's Needs III, (hal 1-13). National Association of School Psychologists.