BAB III BENTUK MODERNISASI PONDOK PESANTREN DI LOMBOK
A. Kewirausahaan
Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh pondok pesanren di lombok adalah kegiatan wirausaha. Kegiatan ini dilakukan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan santri, sebagai media belajar santri sekaligus sebagai sarana untuk pengembangan ekonomi menuju kemandirian ekonomi pondok pesantren.
1. Pondok Pesantren Abu Darda’
Kegiatan wirausaha merupakan salah satu program kegiatan yang dilakukan oleh pondok presantren Abu Darda’. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk membangun kakuatan dan kemandirian ekonomi pondok pesantren. Sehingga dengan kemandirian ini, pondok pesantren tidak beketergantungan kepada pihak lain dalam mengelola maupun mengembangkan program-programnya.
Berdasarkan wawancara dengan ketua yayasan pondok pesantren Abu Darda’, beliau menyebutkan tentang beberapa jenis kegiatan usaha yang dilakukan oleh pondok pesantren Abu Darda’. Jenis usaha tersebut berupa:
Perdagangan, Pertanian, Peternakan, dan Budidaya Ikan Lele.
“Jenis usaha yang dikembangkan oleh pondok untuk sementara ini, ada kios untuk mencukupi kebutuhan santri, ada juga pertanian, kita garap dengan bekerjasama dengan orang lain kita bagi hasil, ada juga peternakan sapi, kita kasih ke orang-orang ada sapi, pas idul adha kita sembelih kalau ada acara-acarakita bisa sembelih, ada juga budidaya ikan lele.”214
a) Perdagangan
Kegiatan perdagangan di pondok pesantren Abu Darda’, dilakukuan melalui kantin/koperasi pondok pesantren. Keberadaan kantin/koperasi ini dihajatkan sebagai tempat bagi santri untuk membeli kebutuhan sehari- harinya, baik untuk kebutuhan belajar seperti ATK, atau untuk kebutuhan keseharaian mereka berupa makanan/snack, sabun, bahkan termasuk untuk kebutuhan khusus kewanitaan.
Di pondok pesantren Abu Darda’ terdapat dua buah kantin/koperasi, ada di sebelah Barat dan Timur. Kedua kantin/koperasi ini dikelola dengan pola/sistem yang berbeda. Kantin/koperasi yang di sebelah barat,
214 TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
pengeloaannya dengan sistem konvensional seperti kantin/koperasi pada umumnya, dimana setiap pembeli/konsumen ada yang melayaninya ketika melakukan transaksi jual beli. Sedangkan kantin/koperasi yang di sebelah Timur, sistem pelayanannya menggunakan “Manajemen Ihsan”, dimana setiap konsumen/pembeli melakukan transaksi jual beli tanpa dilayanai oleh siapapun. Dalam melakukan transaksi, santri mengambil sendiri barang yang dibutuhkan, untuk pembayaran sudah disiapkan tempat, bahkan santri menyusuk sendiri, apabila ada kelebihan uang dari belanjanya.215
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua yayasan, beliau menyatakan bahwa “sebagaimana konsep pengembangan pondok yang sudah tercantum dalam visi dan misi pondok pesantren bahwa semua kegaiatan yang ada di Pondok Pesantren memiliki nilai pendidikan.”216 Tidak terkecuali sistem pelayananan di dua kantin/koperasi yang menggunakan menejemen pelayananan yang berbeda.
Melalui kantin/koperasi di sebalah Barat yang menggunakan sistem pelayanan konvensional, dengan melibatkan guru dan beberapa santri sebagai pelayan. Dengan cara ini diharapkan tumbuhnya jiwa dan semangat kewirausahaan/eneterpreneurship pada diri santri, sekaligus sebagai media belajar secara langsung tentang bagaimnana mengelola sebuah usaha dengan baik.
Sedangkan dengan menejemen ihsan yang digunakan sebagai sistem pengeloaan keperasi di sebelah timur, itu sebagai sarana/media untuk melatih nilai dan sikap kejujuran para santri. Jadi penekanannya lebih pada aspek spiritual.217
Menurut Ust. Zakirin “ke dua sistem pelayanan ini, sudah diberlakukan mulai sejak berdirnya pondok pada tahun 2013 sampai sekarang. Masing- masing kantin/koperasi ini mendapatkan hasil rata-rata per hari antara 500 ribu sampai 1 (satu) juta rupaih. Bahkan dalam waktu dekat ini, pondok sudah merencanakan perluasan untuk koperasi yang di sebelah Timur yang menggunakan “Manajemen Ihsan” ini.”218
Untuk pengembangan ekonomi pondok pesantren melalui jalur perdagangan, pondok pesantren Abu Darda’ juga sedang melakukan beberapa persiapan untuk memulai operasional usaha baru berupa; AD Mart dan Pertamina. Kedua usaha ini, sekalipun belum dimulai, akan tetapi beberapa persiapannya sudah dilakukan. Untuk AD Mart sudah disiapkan lahannya yang berada di pinggir jalan besar, lokasinya tidak terlalu jauh dari pondok,
215Pondok Pesantren Abu Darda’. Observasi, pada hari Ahad, tanggal 27 September 2020, jam 8.00-11.00 Wita
216TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
217Ust. Zakirin, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Jumat, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita
218Ust. Zakirin, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Jumat, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita
karena AD Mart ini memang dihajatkan tidak hanya untuk kebutuahan santri, tetapi juga untuk kebutuhan masyarakat umum. Sebagaimana pernyataan Ketua Yayasan:
“Maka kemarin itu beberapalah yang masuk tawaran, misalnya pom bensin (pertamina) dan sebagainya. Pom bensin ini kendalanya lokasinya harus dibagi, dan proses mendapatkan izin, tapi Insya Allah lah. Kalau AD Mart ini memang akan kita kembangkan untuk kebutuhan santri, terus kebutuhan guru, dan kebutuhan masyarakat setempat arahnya ke sana nanti. Memang dari awal itu kita hajatkan untuk kepentingan pondok dan sekitarnya. Lokasinya bisa diluar cuman jangan jauh dari pondok.”219
Hal ini dipertegas oleh Ust. Zakirin, S.EI:
“Kebetulan pondok mendapatkan tawaran dana wakaf dari seseorang. Pondok diberikan hak sepenuhnya untuk mengelola dana wakaf ini, dan seluruh hasil dari pengelolaan dana ini, akan diserahkan kepada pondok. Dan untuk pengelolaan dana ini, jenis usaha yang sudah dibidik adalah AD Mart dan Pertamina. Untuk dua rencana besar ini, prosesnya sudah dimulai. Untuk AD Mart sudah disiapkan lahannya dipinggir jalan. Sedangkan pertamina sedang dalam proses pengurusan izin.”220
Di samping itu, pola lain yang dilakukan oleh ketua yayasan pondok pesantren untuk memabangun kekuatan ekonomi Pondok Pesantren adalah dengan sistem “Mudharabah”. Melalui sistem ini, ketua yayasan memberikan modal usaha kepada pengusaha untuk dikembangkan, kemudian hasil dari usaha tersebut dibagi sesuai kesepakatan antara ketua yayasan dengan pihak pengusaha.
Sistem ini dilakukan oleh ketua yayasan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman tentang sistem perekonomian yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, sekaligus sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, terutama sekali bagi masyarakat yang memiliki jiwa usaha namun terkendala dengan modal.221
b) Peternakan
Upaya lain yang dilakukan oleh pondok pesantren Abu Darda’ dalam membangun kekuatan ekonomi pondok adalah dengan beternak. Melalui kegiatan beternak ini, di samping untuk mengikuti pengalaman dari sunnah Rasulullah SAW yang pernah menjadi peternak, juga sebagai salah upaya untuk pemberdayaan masyarakat yang memang berprofesi dan memiliki keahlian di bidang peternakan, namun terkendala dengan modal.
219TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
220Ust. Zakirin, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Jumat, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita
221 TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
Dalam menjalankan usaha peternakan ini, Ketua Yayasan sudah menjalin hubungan kerjasama/kemitraan dengan beberapa peternak sapi maupun kambing yang ada di sekitar dusun Balin Gagak, peternak kambing dari dusun Batu Ngapah desa Landah, dan bahkan peternak Sapi dari Bayan Kabupaten Lombok Utara.222
Adapun jenis hewan ternak yang dikembangkan oleh pondok saat ini adalah kambing dan sapi, karena ke dua hewan ini yang paling dominan diternak oleh masyarakat di Lombok. Di samping itu, kedua hewan ini merupakan kebutuhan tahunan pondok pesantren Abu Darda’, yaitu untuk kebutuhan pelaksanaan ibadah kurban pada hari raya ‘idul adha. Dengan demikian pondok tidak harus mencari ke tempat lain, dan hargapun bisa ditekan dari harga pasar pada umumnya.223
Untuk saat ini pondok pesantren Abu Darda’ melakukan kerjasama dengan beberapa Peternak antara lain: Peternak atas nama Amaq Atun.
Aq.Atun menuturkan bahwa pondok memberikannya 2 ekor kambing betina untuk diternak dengan akad bagi hasil atau mudharabah setelah diternak beberapa bulan akhirnya salah satu dari kambing itu melahirkan 2 ekor anak, dan hasilnya dibagi dengan pondok.
Selanjutnya Aq. Atun berharap, pihak pondok memberinya sapi, karena menurutnya perkembangan sapi lebih cepat dibandingkan kambing, dan hasilnya juga lebih besar. Dalam hitung-hitungannya sekiranya kita membeli anak Sapi seharga 5 juta, terus diternak dalam jangka 1 tahun maka bisa kita jual dengan harga sebelas juta.224
Menurut informasi yang dia peroleh dari anak saudaranya yang bernama Ojan, dia pernah membeli sapi berangus betina yang siap untuk diperanakkan, kemudian disuntikkan sperma jantan ke rahimnya. Biaya satu kali suntik dibayar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah). Setelah melahirkan, anak sapi ini dia ternak kurang lebih satu tahun, kemudian bisa dia jual dengan harga Rp. 25.000.000,-(dua puluh lima jita rupiah).225
Menurut Amaq Rita, seorang peternak dari desa Landah kecamatan Praya Timur, ia menuturkan bahwa pondok pesantren Abu Darda’ sudah kerjasama dengannya selama 4 tahun dengan akad bagi hasil. Dan pondok sudah mengambil bagiannya sebanyak tiga kali ketika hari raya kurban dua kali dan ketika peresmian MI plus Abu Darda’.226 Pondok juga melakukan
222 TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
223TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
224.Amaq Atun, Peternak dari dusun Balin Gagak. Wawancarapada hari Ahad, tanggal 11 Oktober 2020
225Amaq Atun, Peternak asal Balin Gagak. Wawancara, pada hari Ahad, tanggal 11 Oktober 2020
226Inaq Rita, Peternak asal Batu Ngapah, Montong Sapah. Wawancara pada hari Ahad, tanggal 11 Oktober 2020
kerjasama dengan salah satu Peternak dari desa Sengkerang atas nama Amaq Ana, pada Amaq Ana pondok mempunyai 2 ekor kambing.227
Saat ini, pondok pesantren Abu Darda’ juga melakukan kerjasama dengan salah seorang da’i pondok pesantren Nurul Hakim yang bertugas di daerah Bayan atas nama ustadz Tauhid. Sekitar tujuh tahun yang lalu pondok pesantren Abu Darda’ mengamanahi ustadz Tauhid untuk memelihara satu ekor sapi betina dengan akad bagi hasil atau istilah sasaknya ngadas.
Pada tahun kedua berjalannya kerjasama ini, akhirnya sapi betina itu beranak dan anak sapi yang pertama ini diberikan menjadi bagian ke pondok, dan pondok mengambil bagiannya ketika hari raya kurban untuk disembelih, dan pada tahun selanjutnya anak sapi itu diberikan kepada peternak dan begitulah seterusnya. Sampai sekarang pondok sudah mendapatkan bagiannya sebanyak tiga kali, 2 yang sudah disembelih ketika hari raya kurban, dan sisanya satu ekor sapi dan induknya masih belum diambil di peternak.228 c) Pertanian
Salah satu kegiatan usaha yang dilakukan oleh pondok pesantren Abu Darda’ dalam upaya membangun kekuatan ekonomi pondok pesantren adalah melalui kegiatan usaha pertanian. Dalam kegiatan ini, ketua yayasan melakukan transkasi dengan akad jual beli, sewa-menyewa maupun dengan akad gadai atau dikenal oleh masyarakat dengan istilah Nanggep Bangket.
Dengan menjadikan pertanian sebagai salah satu strategi pengembangan perekonomian pondok, sangatlah potensial, karena melihat lokasi pondok pesantren Abu Darda’ sangat strategis untuk lokasi pertanian. Jadi peluang- peluang untuk mengembangkan usaha pertanian terbuka luas.229
d) Budidaya Ikan Lele
Saah satu jenis usaha yang dikembangkan oleh pondok pesantren Abu Darda’ adalah budidaya ikan lele. Usaha ini dipilih karena sistem budidaya dan pemasarannya relatif lebih mudah. Budidaya ikan lele bisa di kolam kecil, tangki atau sungai kecil, dan lain sebagainya.230 Sistem pemasarannya juga tidak terlalu sulit, bisa dengan langsung mendatangi pembeli atau dengan dengan sistim stok ke mitra, seperti rumah makan dan lain-lain.
2. Pondok Pesantren Nurul Bayan
Salah satu program jangka panjang pondok pesantren adalah usaha dan ekonomi, eksistensi pondok yang diharapkan adalah pondok yang berkepribadian dan langgeng, dan salah satu faktornya adalah kemandirian.
Baik kemandirian ekonomi, sistem, dan kurikulum. Sedangkan kemandirian
227.Amaq Ana, Peternak asal Sengkerang. Wawancara, pada hari Ahad, tanggal 11 Oktober 2020
228.Ustadz Tauhid, Peternak asal Bayan Lombok Utara. Wawancara, Pada hari Ahad, 12 Agustus 2020, pukul 14.00-15.00 Wita
229Pondok Pesantren Abu Darda’. Observasi, pada hari Ahad, tanggal 27 September 2020, jam 8.00-11.00 Wita
230Pondok Pesantren Abu Darda’. Observasi, pada hari Ahad, tanggal 27 September 2020, jam 8.00-11.00 Wita
ekonomi itu adalah pondok harus memiliki unit-unit usaha yang produktif sesuai dengan kemampuan pondok. Karena unit-unit usaha itulah yang akan menggerakkan seluruh elemen pondok.
“Kalau berbicara tentang manajemen entrepreneurship ini sebenarnya mengacu kepada lima program jangka panjang pondok yaitu: pengajaran dan pendidikan, sarana pergedungan, usaha dan ekonomi, kaderisasi, pengabdian masyarakat. Tujuan pondok sudah jelas, oleh karena itu dibangunlah kemudian manajemen lembaga dengan mendelegasikan seluruh elemen pondok pesantren menuju ke arah tujuan tersebut. Terkait dengan manajemen entrepreneurship ini adalah salah satu dari garapan besar pondok yaitu usaha dan ekonomi yang mengarah kepada kesejahteraan seluruh keluarga besar pondok, maka usaha ini ditangani oleh biro usaha dan ekonomi lembaga.”231
Adapun jenis usaha yang dimiliki pondok pesantren Nurul Bayan adalah sebagai berikut:232
1. Koperasi/swalayan system digital 2. BMT
3. Konveksi
4. Kantin/Usaha Kesejahteraan Keluarga 5. Kafetaria
6. Rumah makan cepatsaji 7. NBBakery
8. Air kemasanNB 9. Produksi tahu tempe
10. Percetakan (Fotocopy dan tokoATK) 11. Toko buku
12. Toko bangunan 13. NB Tour andTravel 14. Peternakan
15. Pertanian/Perkebunan 16. Perikanan
17. Laundry
18. Perbengkelan/Pengelasan 19. Pertamini
20. Barber Shop
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan KH. Abdul Karim beliau mengatakan bahwa:
“Jenis usaha yang ada disini ada umpama peternakan sapi, ayam petelur, kemudian ada waserda putra putri, konveksi kemudian ada kantin untuk
231TGH. Abdul Karim Abdul Ghafur, Ketua Yayaysan Pondok Pesantren Nurul Bayan.
Wawancara, pada hari Selasa 11 Agustus 2020, pada pukul 14.30-17.30 Wita.
232Ust. Aldi Pradana Arif, Sekertaris Yayasan Pondok Pesantren. Dokumen Yayasan Pondok Pesantren Nurul Bayan, pada hari Sabtu, tanggal 15 Agustus 2020
anak-anak sekarang ada toko bangunan yang kita punya. Semuanya itu melibatkan guru tetap dan santri Ma’had Aly mereka diberdayakan sehingga mereka kuliah itu mandiri, mereka jadi disitu dibiayai dirinya, tapi santri- santri yang masih mu’alimin pun sebagian sudah mulai dilibatkan dengan tentu porsi waktu yang kita sesuaikanlah.”
Di antara kegiatan usaha yang sempat diobservasi langsung oleh peneliti adalah sebagai berikut:233
a) Koperasi
Koperasi yang ada di pondok pesantren Nurul Bayan merupakan unit usaha pertama yang didirikan oleh KH Abdul Karim, karena bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari santri pondok pesantren Nurul Bayan.
Barang-barang yang dijual di koperasi yaitu barang barang kebutuhan sehari- hari santri, baik kebutuhan sekolah mereka dan kebutuhan mereka di asrama.
Barang untuk kebutuhan sekolah santri seperti peralatan sekolah santri (ATK), buku pelajaran dan sebagainya. Sedangkan untuk kebutuhan santri di asrama, seperti peralatan mandi, mencuci, alat-alat kebersihan, dan makanan ringan yang tidak mudah rusak (snack) dan sebagainya. Terdapat dua unit koperasi di pondok pesantren tersebut, yaitu koperasi putra dan putri.
Koperasi ini dibuka tiga kali sehari. Di pagi hari pukul 11.00 Wita, sore hari pada pukul 16.00 Wita dan di malam hari pukul 20.00 Wita.
b) Kantin.
Unit usaha kantin yang ada di pondok pesantren Nurul Bayan berbeda dengan unit usaha koperasi, baik untuk santri putra maupun putr. Jika koperasi menyiapkan barang-barang yang tahan lama, sedangkan kantin menyediakan barang-barang kebutuhan santri yang mudah rusak, seperti makanan-makanan ringan, kue-kue basah yang bisa langsung dikonsumsi oleh santri.
Dalam hal pengadaan barang, pondok pesantren menjalin kerja sama dengan warga sekitar pondok, khususnya ibu-ibu. Mereka boleh menitipkan makanan, kue-kuenya di kantin pondok, dengan kriteria makanan dan kue- kue yang bisa terjangkau oleh santri. Kue-kue yang disediakan seperti, pisang coklat, plecing, mihun dan sebagainya.
c) Cafetaria
Cafetaria menyediakan makanan yang tidak dibutuhkan sehari-hari, melainkan kebutuhan tambahan bagi santri seperti bakso, rujak, pecel, plecing. Cafetaria ini hanya dibuka sore hari karena pondok pesantren memiliki tujuan agar santri tidak terlalu sibuk dengan mengkonsumsi makanan saja. Barang-barang yang ada di cafetaria merupakan hasil karya santri sendiri yang kemudian dijual kembali ke santri dengan harga di atas Rp. 1000,00. Mereka meluangkan waktu pulang sekolah untuk mempersiapkan bahan makanan yan akan di jual. Bahan dasar makanan yang
233 Pondok Pesantren Nurul Bayan. Observasi, pada hari Ahad, tanggal 12 Agustus 2020, jam 8.30–11.00 Wita
dijual tidak hanya berasal dari dalam pondok pesantren sendiri akan tetapi diambil dari Tanjung.
d) Peternakan
Usaha peternakan yang ada di pondok pesantren Nurul Bayan meliputi beberapa usaha peternakan yang dikelola oleh santri, di antaranya:
1) Sapi
Sapi yang ada di pondok pesantren Nurul Bayan saat ini sudah berjumlah 32 ekor. Lahan luas yang dimiliki Pondok Pesantren Nurul Bayan memungkinkan untuk memelihara sapi 32 ekor, akan tetapi karena kurangnya Sumber Daya Manusia yang terbatas sehingga sapi-sapi tersebut tidak seluruhnya dikelola di dalam pondok. Sapi yang dikelola di dalam pondok berjumlah 8 ekor dan sisanya dititipkan di rumah-rumah warga sekitar pondok pesantren dengan menggunakan cara bagi hasil.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk kemitraan, sekaligus sebagai upaya pembinaan dan pembedayaan masyarakat.
2) Ayam
Sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah santri, maka semakin bertambah pula kebutuhan pondok akan peningkatan konsumsi lauk pauk bagi santri, sehingga KH. Abdul karim membuat usaha peternakan ayam petelur. Telur-ayam tersebut kemudian dijual ke dapur pondok pesantren untuk dijadikan lauk bagi santri dengan harga yang sesuai dengan harga telur di pasaran. Apabila masih ada sisa telur tersebut, baru ditawarkan kepada masyarakat sekitar pondok untuk di jual kepada mereka. Kemudian hasil dari penjualan tersebut diserahkan kembali kepada pondok yang nantinya dipergunakan kembali untuk membeli bahan pakan dan sebagainya.
e) Konveksi
Kegiatan wirausaha konveksi yang ada di pondok pesantren Nurul Bayan dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan pakaian santri, pakain seragam sekolah formal dan juga pakaian yang dikenakan santri saat mengikuti kegiatan ekstrkurikuler yang ada di pondok. Santri bekerja di bawah bimbingan seorang pelatih/instruktur dari warga masyarakat sekitar pondok. Proses pengukuran, pemotongan bahan dan penjahitannya dilakukan seluruhnya oleh santri, bahkan pemasarannya kepada santri dilakukan oleh santri pengelola unit usaha konveksi.
Dalam perkembangannya saat ini usaha konveksi sudah terbagi menjadi bagian produksi dan bagian pemasaran dan masing masing memiliki struktur kepengurusan tersendiri. Konveksi produksi menyediakan hasil kerja santri dan konveksi pemasaran menyediakan hasil produksi dari luar seperti dari Bandung, Surabaya, Pekalongan dan sebagainya.
Selanjutnya hasil yang didapatkan dari unit-unit usaha yang ada di pondok pesantren Nurul Bayan memiliki dampak yang sangat besar dalam pengembangan pondok. Sebagian besar hasil yang didapat dari unit-unit
usaha tersebut dapat dipergunakan untuk membangun fasilitas pergedungan, memberikan insentif gaji (ihsaniyah) bagi pendidik dan tenaga kependidikan, memberikan bea siswa bagi santri yang menjadi koordinator dan pengurus unit-unit usaha yang ada dengan membebaskan biaya sekolah dan konsumsi mereka setiap hari. Ini sesuai dengan pemaparan KH. Abdul Karim bahwa:
“Hasil dari unit-unit usaha yang ada, dilaporkan kepada kami dengan membawa hasil penjualan mereka, kemudian untuk diserahkan ke bagian TU untuk nantinya dikembalikan lagi kepada mereka sebagai gaji (ihsaniyah) bagi mereka. Selanjutnya seperti yang anda perhatikan bahwa pondok pesantren dalam satu tahun belum pernah berhenti membangun fasilitas pergedungan bagi santri, ini merupakan salah satu dampak dari hasil unit-unit usaha yang ada di pondok pesantren Nurul Bayan”.234
Hasil unit-unit usaha yang ada saat ini terbatas untuk kebutuhan santri sendiri, dari santri, oleh santri, dan untuk santri. Tidak menuntup kemungkinan hasil yang didapatkan dari unit usaha tersebut dijual untuk masyarakat luas. Saat ini pondok pesantren masih belum membuat jaringan (networking) dengan pihak lain, instansi lain karena pondok pesantren masih lebih menfokuskan pada pelatihan santri dalam kegiatan wirausaha.
Pelatihan dan pengarahan yang dilakukan dalam rangka membangun komitmen santri dalam bekerja, bertanggungjawab dalam menangani unit- unit usaha tersebut. Di samping itu yang menjadi tujuan diadakan kegiatan wirausaha di pondok pesantren adalah mencukupi kebutuhan santri, sehingga para santri tidak memikirkan kebutuhan mereka dan lebih terfokus pada kegiatan belajar.
Terkait dengan sistem pengawasan unit-unit usaha yang dilakukan di pondok pesantren Nurul Bayan senantiasa dilakukan oleh pengasuh pondok pesantren sendiri. Santri yang diberikan amanah mengelola unit-unit usaha tersebut wajib lapor kepada Ketua Yayasan dalam bentuk lisan maupun laporan tertulis setiap hari.
Hal itu juga bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada santri supaya mereka dapat bertanggungjawab. Pondok pesantren juga merumuskan dan mulai memberdayakan santri Ma’had ‘Aly (mahasiswa) yang ada di pondok pesantren Nurul Bayan sebagai majlis yang akan membantu pondok untuk mengawasi unit usaha yang ada. KH. Abdul Karim mengatakan bahwa:
“Santri yang diberikan amanah untuk mengelola unit usaha setiap hari berkumpul di rumah, dengan membawa buku laporan kegiatan usaha mereka, baik dari koperasi, kantin, peternakan.
Mereka juga membawa uang hasil usaha mereka untuk diserahkan kepada bagian Tata Usaha (TU), dan untuk selanjutnya diberikan
234TGH. Abdul Karim Abdul Ghafur, Ketua Yayaysan Pondok Pesantren Nurul Bayan.
Wawancara pada hari Selasa 11 Agustus 2020, pada pukul 14.30-17.30 Wita.