BAB IV PELUANG DAN TANTANGAN MODERNISASI PONDOK
A. Sumber Daya Manusia
menetes. Kelebihan menetes ke tanah ketika siang terjadi kan ini tidak menguap, dilindungi oleh ini (lapisan luar/lapisan lilin). Nah jadi ini teknologi tepat guna itu. Kita itu menggunakan sabut kelapa untuk menangkap air supaya kita tidak menyiram dan itu berhasil. Nah pohon- pohon itu dulu dia bisa hidup karena ini (sabut kelapa), kita pakai teknologi lain awalnya kita siram tapi banyak gagalnya, ndak kuat kita nyiramnya, karena banyak yang kita siram. Tapi kalau pakai ini ndak, dia sendiri yang tangkap air, kan malam ada air yang turun kenapa kita ndak manfaatkan. Nah ini Teknologi Tepat Guna ala Haramain.”252
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Maulana Hasan, seorang santri asal Mataram yang sudah memprakatikkan cara ini di pekarangan rumahnya.
“Di rumah kebetulan ada perkarangan yang kosong, kemudian saya tanami seperti pengalaman yang saya dapatkan di sini. Setelah saya tanam, saya sempat tinggalkan ke Pare selama 4 bulan. Sempat khawatir juga, jangan-jangan nanti pohon ini nanti mati karena saya tinggalkan.
Tetapi ternyata setelah saya kembali dari Pare, saya lihat pohonnya masih hidup dan semakin besar.”253
“Saudara-saudara jangan bantu saya untuk memikirkan fasilitas atau sarana pondok tetapi sauadra-saudara harus membantu saya dalam mengelola pondok secara maksimal.”255
Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pondok pesantren Abu Darda’
terkait dengan pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) ini, yaitu:
a. Kaderisasi Ustadz
Di pondok pesantren Abu Darda’ adalah istilah yang berkembang yaitu
“Guru” dan “Ustadz”. Guru adalah tenaga pengajar di Madrasah sedangakan Ustadz adalah tenaga pengajar untuk program-program pondok (Diniyah).
Berdasarkan hal ini, maka tenaga pengajar di pondok pesantren Abu Darda’
dapat diklasifikasi menjadi; (a) Ada yang menjadi guru saja (b) Ada yang menjadi ustadz saja, dan (c) ada yang menjadi guru sekaligus ustadz.
Pembedaan istilah ini (Guru dan Ustadz) juga berinflikasi terhadap kesejahteraan masing-maisng. Untuk kesejahteraan guru, bersumber dari dana BOS (Bantuan Opersianal Sekolah) dari pemerintah, sedangkan kesejahteraan untuk ustadz bersumber dari beberapa donatur termasuk AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) yang kebetulan ketua yayasan termasuk sebagai salah seorang pembina bidang pendidikan dalam struktur organisasi tersebut.
Konteks kaderisasi di sini adalah kederisasi ustdaz bukan guru karena konsentrasi ketua yayasan lebih terfokus pada kaderisasi ustadz ini. Bahkan dalam wawancara peneliti dengan ketua yayasan, beliau mengatakan bahwa madrasah termasuk guru di dalamnya sudah memiliki sistem sendiri dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, sehingga fokus yayasan lebih terkonsentrasi pada kaderisasi ustadz untuk pengembangan pondok pesantren, dalam artian persentase untuk program pondok lebih banyak daripada madrasahnya.
“Kalau madrasah kan sudah punya sistem sendiri dari pemerintah tinggal dijalankan saja, jadi program pondok ini yang jadi fokus saya, dan ini memerlukan perhatian lebih serius.”256
Konsep “Kaderisasi Ustadz” merupakan sebuah konsep pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) di Pondok Pesantren Abu Darda’. Konsep ini terdiri dari berbagai bentuk dan tahapan kegiatan yang terpadu dan saling berkaitan antara yang satu dengan lainnya, antara satu program dengan program lainnya tidak dapat dipisahkan. Program-program tersebut berupa;
Pemondokan Santri, Proses Pembejaran, Integrasi Keilmuan, Penelusuran Bakat, Pengarahan Pendidikan Lanjutan, dan Pemberdayaan Alumni.257
255H. Ismi Nuryadi, Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, Pada hari Rabu 26 Agustus 2020, jam 9.00-10.30 Wita
256 TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
257TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
1) Pemondokan Santri
Semua santri-santriwati pondok pesantren Abu Darda’ wajib tinggal di asrama pondok. Kewajiban santri-santriwati untuk tinggal di asrama/mondok merupakan salah satu ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pondok pesantren Abu Darda’. Ketentuan ini berlaku untuk semua santri-santriwati tanpa kecuali, termasuk santri-santriwati yang berasal dari wilayah/dusun terdekat sekalipun. Kewajiban mondok 6 (enam) tahun itu, termasuk bagian dari proses kaderisasi.258 Bahkan putri Ketua Yayasan sendiri, juga tinggal di asrama seperti teman-temannya yang lain, padahal rumah Ketua Yayasan berada di dalam komplek pondok pesantren.259
Kesanggupan untuk tinggal asrama/mondok ini diperkuat dengan surat pernyataan oleh pihak santri-santriwati dan orang tua/wali santri ketika mendaftarkan putra-putrinya pada saat penerimaan santri baru di setiap awal tahun pelajaran baru. Bahkan itu menjadi salah satu di antara persyaratan utama penerimaan santri.
Pada awal-awalnya dulu, ketentuan mondok ini sedikit longgar, artinya pihak yayasan tidak memberikan penekanan bagi santri untuk wajib tinggal di asrama, sehingga ada beberapa santri yang memilih untuk pulang pergi, terutama sekali santri-santriwati yang rumahnya tidak terlalu jauh dari Pondok Pesantren.
Kondisi ini sekaligus menjadi bahan evaluasi oleh pihak Pondok Pesantren. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, pihak Pondok Pesantren menyimpulkan bahwa adanya kesenjangan yang sangat signifikan secara kualitas antara santri yang tinggal di asrama dengan santri yang tidak tinggal dia asrama, baik dari sisi akademik, ibadah, maupun dari sisi moral/akhlaknya. Seperti yang nyatakan oleh Sekertaris Yayasan, H. Ismi Nuryadi,S.EI, Ust. Zakirin, SE.I, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Jumat, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita:
“Kualitas santri yang tinggal di pondok dengan yang pulang pergi sangat jauh berbeda dari segala hal, baik intelektual maupun akhlaknya.”260
Atas dasar inilah kemudian pihak pondok pesantren membuat ketentuan agar semua santri diwajibkan untuk tinggal di asrama/mondok, dengan maksud agar pembinaan terhadap santri dapat dilakukan lebih epektif, dan pengawasan terhadap santri dapat dilakukan secara lebih optimal.
258TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
259Ust. Zakirin, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Jumat, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita
260H. Ismi Nuryadi, Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, Pada hari Rabu 26 Agustus 2020, jam 9.00-10.30 Wita
2) Proses Pembelajaran
Kegiatan pembejaran merupakan kegiatan inti dan utama di pondok pesantren Abu Darda’. Kegiatan pembelajaran dilakukan sebagai sarana pencerahan kognisi dan transformasi nilai bagi santri atau peserta didik.
Kegiatan pembejaran ini dilakukan secara klasikal. Adapun jenis dan bentuk kegiatan penmbejaran yang dilakukan yaitu secara formal di masing-masing lembaga dengan mengikuti sistem yang sudah ditetapkan oleh Kemeterian Agama RI. Sedangkan untuk program non formal (diniyah), seluruh sitemnya ditentukan oleh pihak Pondok Pesantren.
Semua jenis kegiatan pembelajaran ini, dapat berjalan dan terlaksana dengan baik, tanpa ada tumpang tindih antara program yang satu dengan lainnya. sebagaimana pernyataan Kepala Diniyah Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’:
“Semua program pembelajaran ini sudah diatur jawalnya, sehingga tidak ada kegiatan yang bertabrakan atau tumpang tindih”261
3) Integrasi Keilmuan
Proses pembelajaran di pondok pesantren Abu Darda’ dilaksanakan secara formal (madrasah) dan non formal atau yang lebih dikenal dengan istilah “Diniyah”. Untuk jenjang formal/madrasah, pembelajaran dilaksanakan oleh lembaga masing-masing dengan mengacu kepada sistem yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Agama. Sedangkan program diniyah, seluruh sistemnya dikelola sepenuhnya oleh pondok pesantren.
Dengan demikian dapat dipahami, ada dua sistem pembelajran yang berlaku di pondok pesantren Abu Darda’ yaitu sistem yang sudah ditententukan oleh Kementerian Agama dan sitem yang ditetapkan oleh Pondok Pesantren. Jadwal pelaksanaan ke dua-duanya sudah disesuaikan, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Untuk program formal dilaksanakan pada pagi hari, sedangkan program diniyahnya dilaksanakan pada malam hari dan setelah sholat subuh.
Pada tahap-tahap awal, ke dua sistem pembelajaran ini, berjalan secara terpisah, masing-masing terkonsentrasi pada sistem dan tanggungjawab kelembagaannya sendiri. Nampaknya hal ini berdampak secara psikologis terhadap minat maupun sikap belajar santri. Di antara dampak yang terjadi adalah para santri mendikotomikan antara pelajaran formal dengan pelajaran diniyah. Bagi mereka pelajaran formal itu yang prioritas dan utama, sedangkan pelajaran diniyah dianggap sebagai sampingan saja.
Kondisi inilah yang menjadi pertimbangan utama pihak Pondok Pesantren untuk membuat sistem pembelajaran, yaitu dengan sistem intergrasi. Dengan sistem integrasi ini diharapkan, para santri tidak lagi
261 Ust. Zakirin, SEI, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’.. Wawancara pada hari Jum’at, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita
mendikotomikan kedua sistem pembelajaran yang berlaku di pondok pesantren, tetapi keduanya bisa berjalan secara terpadu dan seimbang (integratif). Sistem intergrasi ini, tidak hanya berlaku dalam proses pembelajaran saja, namun sekaligus pada sistem penilaian, termasuk untuk penentuan kenaikan kelas.
Dalam keterangannya terkait integrasi lembaga ini, ketua yayasan menjelaskan:
“Integrasi lembaga, jadi semua pelajaran itu ndak ada beda antara fathul qorib, matematik, bahasa inggris mulai kita jadikan satu jadwal. Kemudian nanti menuju integrasi satu diurus, kan kepala sekolah urus semuanya, manajemen- manajemennya satu, nah kemudian yang terakhir itu integrasi keilmuan artinya nanti mereka yang mengajar matematik itu ndak boleh matematik sekian kali sekian bagi sekian saja, itu harus ada nilai-nilai ubudiyah. Sama dengan kita belajar bahasa Arab juga ada nilai sosialnya. Perlu. Ini proyek besar sekali, kita masih dalam integrasi manual menuju integrasi manajemen, sekarang kepala sekolah mulai aktif.”262
Hal ini dipertegas oleh Ust. Zakirin, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’ yang menyatakan:
“Saya melihat para santri kurang semangat dalam belajar maupun ketika mereka ujian pondok (diniyah) kalau dibandingakan dengan belajar atau ujian di madrasah. Di sini ujian pondok kita laksanakan setelah ujian madrasah (semester), setelah selesai ujian semester, mereka tidak terlalu semangat untuk mengikuti ujian pondok, bahkan terkesan cuek begitu.”263
Di sisi yang lain, Pemberlakuan sistem integrasi ini, ditanggapi sebagai sesuatu yang menarik oleh santri, sebagaimana pernyataan mereka berikut ini:
“Program integrasi ini menarik, karena menggabungkan antara program sekolah dan pondok, semuanya diformalkan, semuanya diabsen, dimasukkan dalam nilai, dan semuanya diujikan, baik itu pelajaran kitab nahu, matematika, sama-sama diujikan, dan sama-sama ada rapotnya.”264
Hal yang sama juga dinyatakan oleh santri yang lain, sebagaimana pernyataannya berikut ini:
262TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
263Ust. Zakirin, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Jumat, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita
264Muhammad Ihsanuddin As-Syarkawi, Santri kelas XII asal Langko Kecamatan Janapria.
Wawancara, pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober 2020, pukul 20.30-22.00 Wita
Program integrasi ini sangat bagus, kami jadi lebih termotivasi untuk belajar, baik untuk pelajaran madrasah maupun pelajaran pondok tidak ada beda, semuanya sama.265
4) Penelusuran bakat
Penelusuran bakat ini merupakan merupakan cara untuk mengidentifakasi kemampuan dasar santri secara akademis. Maka dengan hal ini, untuk selanjutnya santri akan lebih mudah untuk diarahkan kemana akan melanjutkan studinya sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Sebagai penegasan peneliti dalam kontek ini adalah penelusuran bakat secara akademik, bukan pengembangan bakat, karena di pondok pesantren juga ada program pengembangan bakat (life skill) berupa kaligrafi, bela diri maupun lainnya, dan masing-masing santri dikelompokkan sesuai bakat masing-masing dan didatangkan pembina sesuai dengan bakat dan minat masing-masing.266
5) Pengarahan pendidikan lanjutan
Langkah selanjutnya dalam upaya kaderisasi ini adalah para santri yang akan tamat (kelas III/kelas XII), mereka akan diarahkan oleh pimpinan Pondok Pesantren untuk melanjutkan pendidikan tingginya sesuai dengan bakat sebagai kemampuan dasar mereka. Terkait dengan hal ini, beliau menjelaskan:
“Biasanya saya kumpulkan mereka. Di awal, waktu mereka kelas satu Aliyah, mereka saya suruh mereka menulis: Apa yang kalian harapkan? Kemudian pada waktu di pertengahan waktu mereka kelas dua Aliyah, mereka saya suruh menulis; Apa yang kalian dapatkan? Dan setelah mereka kelas akhir, kelas tiga mereka saya suruh menulis: kemana kalian akan melanjutkan?”267
Langkah selanjutnya dalam upaya pengarahan pendidikan lanjutan ini adalah membangun jaringan (link) dengan beberapa Perguruan Tinggi dan hal ini sudah dilakukann oleh ketua yayasan pondok pesanren Abu Darda’, baik Perguruan Tinggi lokal, seperti Universitas Mataram (UNRAM), yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri Lombok Barat, maupun dengan 17 (tujuh belas) Lembaga Tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia yang berada di bawah koordinasi AMCF (Asia Muslim Charity Foundation), bahkan dengan Universitas Abu Dabi.
Maksud dan tujuan link ini adalah agar santri dapat diarahkan kemana akan melanjutkan studinya sesuai dengan bakat yang dimilikinya, sehingga bakatnya dapat tersalur dan dikembangkan secara maksimal.
265Egi Maulana Firdaus, Santri kelas XI asal Terara Kabupaten Lombok Timur. Wawancara, pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober 2020, pukul 20.30-22.00 Wita
266Pondok Pesantren Abu Darda’. Observasi, pada hari Ahad, tanggal 27 September 2020, jam 8.00-11.00 Wita
267TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
Seperti pernyataan ketua yayasan pondok pesantren Abu Darda’ berikut ini:
“Kebetulan saya masuk dalam struktur sebagai Pembina dibidang pendidikan di AMCF, dan menaungi 17 Universitas di seluruh Indonesia termasuk di Aceh, Sumatra, dan beberapa daerah lain. Sehingga nantinya mudah untuk berkoordinasi dalam hal ini.”268
6) Pemberdayaan Alumni
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan ketua yayasan pondok pesantren Abu Darda’, beliau menyatakan bahwa “Alumni ini ibarat pasukan atau amunisi”. Atau dalam pernyataannya yang lain, beliau mengatakan bahwa alumni adalah asset.269 Artinya alumni merupakan satu potensi besar yang harus dikelola dengan baik agar bisa memberikan kontribusi bagi Pondok Pesantren. Oleh karena itu para alumni ini harus diberdayakan sepenuhnya, sebagai asset untuk mengembangkan dan memajukan Pondok Pesantren sesuai basic dan kemampuan masing- masing.
“Saya barharap, semua alumni akan bisa memberikan nilai dan kontribusi untuk pondok, kalaupun nanti mereka tidak semua menjadi ustadz di pondok, mungkin ada yang menjadi pedagang, ia menjadi padang yang ustadzi/sholeh,bahkan mungkin menjadi petani tapi menjadi petani yang ustadzi/sholeh.”270
b. Program Tahfidz Istimewa/Khusus/Utama
Program tahfidh istimewa atau tahfidz khusus, atau sering juga disebut dengan tahfidz utama merupakan salah satu program unggulan di pondok pesantren Abu Darda’. Semua santri-santriwati berhak mengikuti program ini, terkhusus santri-santriwati kelas satu dan kelas dua. Bagi santri-santriwati yang ingin mengikuti program ini, harus atas peretujuan orang tua/wali santri.
Program tahfidh istimewa ini berlangsung selama satu tahun; 5 (lima) bulan untuk hafalan (setor hafalan), dan 5 (lima) bulan berikutnya untuk muraja’ah.
Santri yang mengikuti program thafidh istimewa ini, bagi mereka di-off-kan untuk mengikuti program pembelajaran formal/madrasah maupun program pembelajaran diniyah, sehingga mereka hanya fokus dan konsentrasi untuk menghafal al-qur’an saja.
“Alhamdulillah kita buatkan halaqah khusus tahfidz, tahfidz khusus. Setahun tahfidz itu nggak sekolah tapi al-qur’annya mulai diprogram itu ini. Tahfidz istimewa namanya. Tahfidz istimewa ini yakni setahun, satu semester itu hafal, satu semester itu muroja’ah.
268TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
269TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
270TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
Itu khusus untuk kelas satu kelas dua Tsanawiyah dan kelas satu dua Aliyah. Maka nanti mereka ini akan mengajarkan adik-adiknya halaqah-halaqah kecil.”271
Untuk materi pelajaran formal/madrasah yang tertinggal,pondok pesantren membuat kebijkaan, bagi santri yang mengikuti program tahfidh khusus ini, akan diberikan sejenis resume, ringkasan atau privat, pada saat menjelang pelaksanaan ujian.
Berdsarkan hasil wawancara dengan beberapa santri yang mengikuti program ini, dari hasil wawancara diperoleh informasi bahwa sekalipun Pondok Pesantren menargetkan pelaksanaan program ini selama satu tahun, namun sebagian besar sudah dapat menyelasiakan hafalannya dalam waktu beberapa bulan saja. Bahkan ada 3 (tiga) orang yang sudah menghafal 30 juz hanya dalam waktu 2 (dua) bulan. Ke tiga orang santri tersebut adalah: 1. Egi Maulana Firdaus, santri kelas XI asal Terare Kabupaten Lombok Timur, 2.
Temu Hidayatullah, santri kelas XI asal Parampuan Labuapi Kabupaten Lombok Barat, dan 3. Bq. Syahidah Khafifah, santriwati kelas VII, asal Kodya Mataram.
Berikut hasil wawancara peneliti, dengan santri-santriwati yang mengikuti program tahfizd khusus, seperti pernyataan beberapa santri berikut ini.
“Untuk program tahfidz khusus, saya alumni pertama, saya sudah hafal 30 juz dalam waktu 3 bulan, sekarang tinggal muraja’ahnya.”272
Peneliti sempat bertanya kepada tiga orang santri-santriwati (Egi Maulana Firdaus, Temu Hidayatullah, dan Bq. Syahidah Khififah) yang sedang mengikuti program tahfidz khusus, dan mereka menjawab;
“Jadi program tahfidz khusus ini, kita di-off-kan semua program madrasah, kita dikhususkan untuk fokus di al-qur’an. Kita off untuk setor selama 5 bulan, dan off untuk muraja’ah selama 5 bulan, jadi satu tahun. Untuk pelajaran formal itu, nanti pas kita mau ujian itu ada privat.”273
Hal ini disempurnakan oleh salah seorang santri yang menyatakan;
“Pondok memang menargetkan untuk muraja’ah ini selama 5 (lima) bulan, tetapi secara pribadi, target muraja’ah ini seumur hidup.”274 Dan ketika peneliti menanyakan jumlah hafalan kepada ke tiga santri tersebut, mereka menjawab:
271TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
272 Muhammad Ihsanuddin As-Syarkawi, Santri kelas XII asal Langko Kecamatan Janapria.
Wawancara, pada hari Jum’at tanggal 23 Oktober 2020, pukul 20.30-22.00 Wita
273 Egi Maulana Firdaus, Santri kelas XI asal Terara Kabupaten Lombok Timur. Wawancara, pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober 2020, pukul 20.30-22.00 Wita
274Temu Hidayatullah, dkk. Wawancara pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober 2020, pukul 20.30-22.00 Wita
“Alhamdulillah, saya sudah hafal 30 juz dalam waktu 2 (dua) bulan.”275
Dan pernyataan mereka sesuai dengan keterangan dari Ustadz Zakirin yang menyatakan:
“Alhamdulillah, ada 3 (tiga) santri kita termasuk sebagai penghafal tercepat hanya dalam waktu 2 (dua) bulan saja, yaitu Egi Maulana Firdaus, Temu Hidayatullah, dan Bq. Syahidah Khafifah.”276
Lebih lanjut Ustadz Zakirin menjelaskan:
“Kalau yang sudah hafal tiga bulan, atau mau hafal tiga bulan, banyak saya lihat. Sebentar lagi mereka akan menyelesaikan hafalannya. Yang tercepat baru ini, santri kita yang tiga orang ini, yang hafal hanya dalam waktu 2 (dua) bulan itu.”277
Selain tahfidh istimewa, di pondok pesantren Abu Darda’, ada juga program tahfidh biasa dan tahfidh mingguan. Program ini diikuti oleh semua santri tanpa kecuali. Program tahfidh biasa ini, santri bisa menyetor hafalannya kapan saja kepada guru tahfidz yang sudah ditentukan oleh pondok. Sedangkan tahfidh mingguan ini, santri harus menyetor hafalannya setiap minggu kepada guru yang sudah ditentukan oleh pondok.
Dengan demikian dapat dipahami, bahwa semua santri-santriwati pondok pesantren Abu Darda’ adalah penghafal al-qur’an. Sekalipun dengan jumlah hafalan yang tidak sama. Dan hafalan al-qur’an sudah ditentukan oleh Pondok Pesantren sebagai salah satu faktor penentu kelulusan atau kenaikan kelas santri. Hal ini sesuai dengan pernyataan sekretaris yayasan pondok pesantren Abu Darda’, H. Ismi Nuryadi S.EI menyatakan;
“Makanya jangan heran kalau siswa kita yang kelas dua (delapan) sudah banyak yang hafal sampai 5 juz.”278
Program tahfidh al-qur’an ini, ternyata cukup epektif, paling tidak, dengan program ini, santri selalu dekat dengan al-qur’an setiap saat, sekaligus sebagai upaya bagi mereka untuk mempersiapkan diri ketika ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, terutama sekali Perguruan Tinggi yang menjadikan hafalan al-qur’an menjadi salah satu persyaratan utama dalam penerimaan mahasiswa baru, baik di dalam maupun luar Negeri.
c. Pembinaan Karakter
Pembinaa karakter di pondok pesantren Abu Darda’ dilakukan melalui beberapa bentuk kegiatan, yaitu:
1) Proses Belajar-Mengajar
275 Bq. Syahidah Khafifah dkk. Wawancara pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober 2020, pukul 20.30-22.00 Wita
276 Ust. Zakirin, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Jumat, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita
277 Ust. Zakirin, Kepala Diniyah Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Jumat, tanggal 30 Oktober 2020, pukul 13.00-14.30 Wita
278H. Ismi Nuryadi, Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, Pada hari Rabu 26 Agustus 2020, jam 9.00-10.30 Wita
Dalam upaya pembinaan karakter santri di pondok pesantren Abu Darda’
adalah dengan melalui pembinaan, bimbingan dan pembelajaran. Melalui proses pembelajaran yang terlaksana setiap waktu, merupakan media tranformasi ilmu pengetahuan sekaligus menjadi tranformasi nilai yang akan membentuk pola fikir, prilaku, karakter dan kepribadian.
“Pembentukan karakter merupakan salah satu target utama kita di sini. Makanya di sini, kalau anak Tsanawiyah dan anak Aliyah melakukan kesalahan yang sama, konsekwensinya beda, karena tingkat pengetahuannya beda. Jadi semakin tinggi tingkat pengetahuannya, harus semakin bagus karakter dan prilakunya.”279
2) Pengkaderan
Salah satu langkah dalam upaya pembentukan karakter santri adalah melalui sistem pengkaderan dengan melibatkan mereka dalam struktur organisasi Pondok Pesantren yang biasa disebut Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Abu Darda’ (OP3AD). Melalui organisasi ini, nilai karakteristik yang diharapkan adalah tumbuhnya karakter kepemimpinan pada diri santri. Dari karakter kepemimpinan ini, akan tumbuh sikap-sikap positif pada diri santri berupa sikap disiplin, bertanggung jawab, bijaksana dan lain sebagainya.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ketua OP3AD, Muhammad Nurkhalis:
“Banyak sekali yang dapat saya ambil pelajaran dari kepengurusan ini, yaitu contohnya kedisiplinan dan rasa tanggung jawab kita terhadap apa yang telah diamanatkan itu.
Contoh dari hal-hal menarik dari kepengurusan ini, kita mampu mengurus atau memenej diri kita pribadi sebelum kita memenej orang lain. Karena dalam kepengurusan itu, tidak bisa menjalankan program itu sebelum berawal dari kita. Jadi di sini timbullah rasa kedisiplinan pada diri pribadi terlebih dahulu sebelum kita mengarahkan atau mengajak teman-teman itu untuk menjalankan suatu program.”280
Gambar: 1.10
Struktur Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Abu Darda’
(OP3AD).281
279TGH. Nurul Mukhlisin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Abu Darda’. Wawancara, pada hari Senin 10 Agustus 2020, pukul 20.00-22.30 Wita.
280Muhammad Nurkholis, Santri asal Sumbawa/Ketua OP3AD. Wawancara, pada hari Jum’at tanggal 23 Oktober 2020, pukul 20.30-22.00 Wita
281Pondok Pesantren Abu Darda’. Observasi, pada hari Ahad, tanggal 27 September 2020, jam 8.00-11.00 Wita