• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keyakinan Siswa terhadap Perilaku Kekerasan

Dalam dokumen Melawan Bullying (Halaman 92-97)

Dari hasil rekapitulasi angket dapat disimpulkan, siswa memiliki keyakinan yang rendah bertindak agresif pada kondisi umum, namun cenderung memiliki keyakinan bertindak agresif jika diprovokasi. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan menganalisis hasil FGD. Hasil FGD pada aspek keyakinan untuk siswa kelas X dan XI terhadap perilaku kekerasan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu siswa yang meyakini cara-cara kekerasan dalam kondisi terprovokasi dan yang meyakini bahwa kekerasan bukanlah cara yang baik.

Hasil dari keyakinan siswa yang mendukung cara-cara kekerasan dalam kondisi terprovokasi adalah: Pertama, siswa meyakini bahwa melakukan keke- rasan pada kondisi terprovokasi adalah wajar karena individu merasa disakiti, untuk membela diri. Kedua, siswa meyakini istilah “pukulan dibalas dengan pu- kulan”. Ketiga, siswa meyakini bahwa perempuan tidak boleh disakiti sehingga jika disakiti wajar untuk membalas. Keempat, siswa meyakini bahwa kekerasan boleh dilakukan untuk balas dendam dan pelampiasan. Kelima, siswa meyakini bahwa laki-laki kerap menggunakan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Siswa yang meyakini melakukan kekerasan adalah hal wajar jika dilakukan untuk membela diri selaras dengan sudut pandang ethologi, yaitu agresi adalah insting berkelahi dalam rangka mempertahankan hidup dari ancaman orang lain. Siswa yang meyakini istilah “pukulan dibalas dengan pukulan” adalah sebu- ah keyakinan pribadi yang didapat dari lingkungan, baik dari keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Siswa yang meyakini bahwa perempuan tidak boleh disakiti sehingga jika disakiti wajar untuk membalas adalah keyakinan yang dibentuk oleh pengalaman hidup siswa. Demikian pula dengan keyakinan siswa laki-laki yang kerap menggunakan cara-cara kekerasan dapat dijelaskan dengan pendekatan tersebut.

Bandura berpendapat bahwa perilaku manusia terbentuk oleh ganjaran dan hu- kuman yang dialaminya setiap hari. Misalnya, ada hukuman yang lebih berat jika memukul anak perempuan dan sebaliknya. Bandura mencoba mengembangkan konsep-konsep yang digunakan pada operant dan classical conditioning untuk menjelaskan perilaku sosial manusia yang kompleks. Konsep utamanya adalah penguatan dan imitasi (Ma’ruf, 2010).

Siswa yang meyakini bahwa kekerasan wajar dilakukan untuk membalas dendam dan pelampiasan adalah siswa yang dapat dikategorikan bermasalah dengan dirinya sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan komunikasi dan keterampilan sosial yang rendah dapat dikaitkan dengan siswa yang menjadikan tindakan kekerasan sebagai strategi meniru. Yaitu mengatur emosi dan perilaku untuk menjalin interaksi yang efektif dengan orang lain atau lingkungannya (Cartledge & Milburn, 1995 dalam Ma’ruf, 2010).

Individu cenderung menunjukkan prasangka permusuhan saat berhadapan dengan stimulus sosial yang ambigu dan mengartikannya sebagai tanda permu- suhan sehingga menghadapinya dengan tindakan agresif (Ma’ruf, 2010). Individu kurang mampu mengontrol emosi, sulit memahami perasaan dan keinginan orang lain, serta kurang terampil dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial (Lochman, dkk. dalam Yanti, 2005).

Siswa yang meyakini kekerasan bukanlah cara terbaik adalah siswa meyakini bahwa tidak seharusnya menggunakan cara-cara kekerasan, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah dan dapat memunculkan masalah baru, siswa lebih memilih untuk mengabaikan situasi yang berpotensi memunculkan kekerasan.

Mereka ini termasuk individu yang memiliki pengaturan diri (self regulation) yang baik.

Hetherington & Parke (dalam Ma’ruf, 2010) mengatakan, proses sosialisasi adalah transfer nilai dan norma dari orangtua ke anak dan berpengaruh secara langsung pada perilaku anak. Tujuan utama proses sosialisasi orangtua dan anak adalah menumbuhkan kepatuhan atau kesediaan mengikuti keinginan atau peraturan tertentu. Anak akan melakukan keinginan orangtua bila ada kelekatan yang aman di antara mereka. Tujuan kedua proses sosialisasi adalah menum- buhkan pengaturan diri, yaitu kemampuan mengatur perilakunya sendiri tanpa perlu diingatkan dan diawasi orangtua. Dengan pengaturan diri ini, anak akan mengetahui dan memahami perilaku apa yang dapat diterima orangtua dan lingkungannya.

Implikasi dari hasil diskusi analisis kebutuhan pada aspek keyakinan siswa terhadap perilaku kekerasan, akan digunakan sebagai komponen tujuan dan komponen materi pembelajaran dalam pengembangan kurikulum anti bullying.

Tabel 22. Implikasi Keyakinan Siswa terhadap Perilaku Kekerasan

No Hasil Diskusi Kondisi yang diharapkan Implikasi Yang mendukung cara-cara kekerasan

1

Siswa meyakini bahwa melakukan kekerasan pada kondisi terprovokasi adalah wajar karena individu merasa disakiti dan untuk membela diri.

Siswa diharapkan memahami

dampak dari perilaku kekerasan di sekolah bagi korban, pelaku dan lingkungan sekolah.

Siswa diharapkan menyadari

adanya alternatif penyelesaian masalah dengan tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

Tujuan dan Materi

2

Siswa meyakini istilah

“pukulan dibalas dengan pukulan”.

Siswa diharapkan menyadari

adanya alternatif penyelesaian masalah dengan tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

Siswa diharapkan memahami

karakteristik penyelesaian konflik, khususnya pada remaja

Tujuan dan Materi

3

Siswa meyakini bahwa perempuan tidak boleh disakiti sehingga jika disakiti wajar untuk membalas.

Siswa diharapkan menyadari

adanya alternatif penyelesaian masalah dengan tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

Tujuan dan materi

4

Siswa meyakini bahwa kekerasan boleh dilakukan untuk balas dendam dan pelampiasan.

Siswa diharapkan menyadari

adanya alternatif penyelesaian masalah dengan tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

Tujuan dan materi

5

Siswa meyakini bahwa laki-laki kerap menggunakan cara- cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Siswa diharapkan menyadari

adanya alternatif penyelesaian masalah dengan tidak menggunakan kekerasan.

Tujuan dan materi

No Hasil Diskusi Kondisi yang diharapkan Implikasi Yang tidak mendukung cara-cara kekerasan

6

Siswa meyakini bahwa tidak seharusnya menggunakan cara-cara kekerasan.

Siswa yang telah meyakini

bahwa tidak seharusnya menggunakan cara-cara kekerasan diharapkan mampu merespons situasi konflik dengan cara-cara nonkekerasan.

Tujuan dan materi

7

Siswa meyakini bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah dan dapat memunculkan masalah yang baru.

Siswa yang telah meyakini

bahwa kekerasan tidak dapat menyelesaikan masalah diharapkan mampu merespons situasi konflik dengan cara-cara nonkekerasan.

Tujuan dan materi

8

Siswa lebih memilih untuk mengabaikan situasi yang berpotensi memunculkan kekerasan.

Siswa yang telah memiliki

keyakinan untuk mengabaikan situasi yang berpotensi memunculkan kekerasan diharapkan mampu merespons dengan cara-cara nonkekerasan.

Tujuan dan materi

Tabel 23. Implikasi Keyakinan Siswa terhadap Kekerasan dalam Bentuk Tujuan Pembelajaran

No Hasil Diskusi Tujuan Pembelajaran

Yang mendukung cara-cara kekerasan

1

Siswa meyakini bahwa melakukan kekerasan pada kondisi terprovokasi adalah wajar karena individu merasa disakiti dan untuk membela diri.

Siswa memahami definisi kekerasan di

sekolah.

Siswa mampu mengidentifikasi bentuk-

bentuk dari perilaku kekerasan di sekolah.

Siswa memahami dampak dari perilaku

kekerasan di sekolah bagi korban, pelaku, dan lingkungan sekolah.

2 Siswa meyakini istilah “pukulan dibalas dengan pukulan”.

Siswa memahami adanya alternatif

nonkekerasan untuk menyelesaikan masalah/konflik.

Siswa memahami karakteristik penyelesaian

konflik khas remaja.

No Hasil Diskusi Tujuan Pembelajaran

3

Siswa meyakini bahwa perempuan tidak boleh disakiti sehingga jika disakiti wajar untuk membalas.

Siswa memahami adanya alternatif

nonkekerasan untuk menyelesaikan masalah/

konflik.

4

Siswa meyakini bahwa kekerasan boleh dilakukan untuk balas dendam dan pelampiasan.

5

Siswa meyakini bahwa laki-laki kerap menggunakan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Yang tidak mendukung cara-cara kekerasan

6

Siswa meyakini bahwa tidak seharusnya menggunakan cara-cara kekerasan.

Siswa mampu merespons konflik dengan cara- cara nonkekerasan.

7

Siswa meyakini bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah dan dapat memunculkan masalah yang baru.

8

Siswa lebih memilih untuk

mengabaikan situasi yang berpotensi memunculkan kekerasan.

Tabel 24. Implikasi Keyakinan Siswa terhadap Kekerasan dalam Bentuk Materi

No Hasil diskusi Materi

Yang mendukung cara-cara kekerasan

1

Siswa meyakini bahwa melakukan kekerasan pada kondisi terprovokasi adalah wajar karena individu merasa disakiti dan untuk membela diri.

Definisi kekerasan di sekolah.

Bentuk-bentuk perilaku kekerasan di

sekolah.

Dampak-dampak perilaku kekerasan .

Cuplikan Film “Ekskul” tahun 2006.

Disutradarai oleh Nayato dan diproduksi oleh Indika Entertainment.

Contoh-contoh situasi konflik dan cara-cara

mengatasinya.

Perkembangan remaja dan emosinya.

No Hasil diskusi Materi 2 Siswa meyakini istilah “pukulan

dibalas dengan pukulan”.

Contoh-contoh situasi konflik dan cara-

cara mengatasinya tanpa menggunakan kekerasan.

Perkembangan remaja dan emosinya.

3

Siswa meyakini bahwa perempuan tidak boleh disakiti sehingga jika disakiti wajar untuk membalas.

4

Siswa meyakini bahwa kekerasan boleh dilakukan untuk balas dendam dan pelampiasan.

5

Siswa meyakini bahwa laki-laki kerap menggunakan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Yang tidak mendukung cara-cara kekerasan 6

Siswa meyakini bahwa tidak seharusnya menggunakan cara-cara

kekerasan. Contoh-contoh situasi konflik dan cara- cara mengatasinya tanpa menggunakan kekerasan.

Cara-cara menyelesaikan konflik.

Tips-tips mengontrol kemarahan.

7

Siswa meyakini bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah dan dapat memunculkan masalah yang baru.

8

Siswa lebih memilih untuk

mengabaikan situasi yang berpotensi memunculkan kekerasan.

Dalam dokumen Melawan Bullying (Halaman 92-97)