Hasil rekapitulasi kebutuhan pada aspek solusi untuk mengatasi perilaku kekerasan di SMA X Surabaya adalah: Pertama, siswa lebih suka menggunakan cara menenangkan diri dan bercerita kepada teman untuk mengontrol kema- rahan. Kedua, siswa meyakini cara terbaik menyelesaikan masalah dan konflik adalah dengan kepala dingin, menggunakan logika bukan emosi. Ketiga, siswa mengharapkan adanya rasa toleransi dan saling memahami. Keempat, siswa meyakini menghindari kekerasan adalah cara terbaik untuk terhindar dari kekerasan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa siswa meyakini sebaiknya tidak mengguna- kan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Selain itu siswa meng- harapkan sekolah aman dan memiliki iklim yang suportif. Solusi yang dipilih siswa dapat dikatakan bertentangan dengan faktor-faktor pemicu. Penulis menduga siswa sebenarnya menginginkan solusi nonkekerasan, namun belum memiliki keterampilan dan kemampuan untuk menyelesaikan konflik.
Solusi lain adalah terkait komponen kurikulum yaitu perumusan tujuan, materi, metode dan evaluasi yang relevan. Untuk itu, penulis mendiskusikan kesesuaian kurikulum anti bullying dengan kurikulum yang ada jika diterapkan di SMA X Surabaya. Hasil rekapitulasi terkait tujuan dan materi pembelajaran anti bullying adalah: Pertama, siswa dapat mengambil pelajaran dari sebuah kejadian konflik dengan tema materi fenomena konflik terkini dan perselisihan antarteman.
Kedua, siswa memahami nilai-nilai yang ada di masyarakat dengan tema materi penanaman nilai-nilai yang ada di masyarakat. Ketiga, siswa mengenali kepribadian diri sendiri dengan tema materi kepribadian manusia. Keempat, siswa mengenal baik dan sayang terhadap lingkungan sekolah, guru, dan teman-
temannya dengan tema materi orientasi sekolah. Kelima, siswa memiliki peri- laku disiplin sesuai dengan tata tertib yang ditentukan dengan tema materi kedisiplinan.
Penulis menyimpulkan bahwa tujuan guru-guru SMA X Surabaya tidak hanya mendidik siswa menjadi pintar di bidang akademis, tetapi juga memiliki norma, berdisiplin dan mengenali diri sendiri, serta bersosialisasi dengan baik.
Karena itu, tema-tema seperti toleransi, menghargai perbedaan, mengenal diri sendiri sebelum mengenal orang lain, moral dan kedisiplinan, dipilih guru-guru tersebut.
Tujuan dan materi yang dipaparkan di atas diyakini guru-guru dapat mengatasi kekerasan di SMA X Surabaya. Menurut Supriyadi (2010) yang saat ini menjadi project manajer pada program nonviolence education di Kalimantan Barat, tema-tema yang seharusnya ada dalam kurikulum pendidikan anti bullying adalah toleransi, menghilangkan stereotip, menghargai pendapat dengan berdialog dan mengubah keyakinan yang salah.
Solusi lain terkait metode yang relevan diterapkan di SMA X Surabaya:
Pertama, memberikan stimulus, menyaring pendapat, dan menyimpulkan.
Kedua, permainan outbond lowrisk. Ketiga, mengunjungi lokasi terkait materi pelajaran. Dari keempat guru yang dimintai pendapat, tiga guru menggunakan pendekatan konstruktivisme, yaitu menstimulasi siswa, menyaring pendapat, dan menyimpulkan. Metode tersebut dinilai efektif oleh guru-guru tersebut. Metode konstruktivisme adalah pandangan teoritis yang mengatakan bahwa pelajar lebih mengarah pada mengkonstruk daripada sekadar menyerap pengetahuan dari pengalamannya (Ormrod, 2006).
Pada kelas yang menggunakan pendekatan konstruktivisme, setiap siswa memiliki peranan yang lebih besar dalam pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator dalam memperoleh pengetahuan dan kemampuan. Guru berperan sebagai guide atau sumber yang bertujuan untuk membangun lingkungan belajar agar siswa dapat memahami informasi yang diperoleh melalui pemahamannya sendiri. Guru lebih menekankan pada proses belajar daripada hasilnya (Honebein, 1996).
Metode lainnya adalah permainan outbond lowrisk dan mengunjungi lokasi terkait materi pelajaran dapat disebut sebagai metode yang menggunakan paradigma pembelajaran eksperiensial. Metode tersebut dinilai cocok untuk
diterapkan kepada siswa SMA X Surabaya. Metode tersebut adalah cita-cita dua guru, AM Koordinator BK dan S Guru PKn. Artinya, metode ini belum pernah mereka gunakan karena keterbatasan waktu dan biaya sehingga metode ini belum diketahui efektivitasnya terhadap siswa.
Paradigma pembelajaran eksperiensial adalah proses di mana pengetahuan dibentuk melalui transformasi pengalaman. Hasilnya berupa kombinasi penye- rapan dan transformasi pengalaman (Kolb & Boyatzis, 1999). Meski metode pembelajaran eksperiensial dinilai cocok diterapkan, penulis masih menemukan kendala dalam pelaksanaannya. Metode eksperiensial mengutamakan penga- laman nyata sehingga situasi terasa nyata untuk dirasakan oleh siswa. Sedangkan di SMA X Surabaya hanya sebatas simulasi sehingga tidak menggambarkan situasi yang sebenarnya.
Solusi lain terkait evaluasi ketercapaian pemahaman materi yang relevan dite- rapkan di SMA X Surabaya yaitu: Pertama, menilai proses belajar seperti keaktifan dalam diskusi. Kedua, menilai dinamika kelompok siswa. Ketiga, menilai jumlah pelanggaran siswa dari peraturan yang telah ditetapkan. Evaluasi dengan menilai hasil belajar dinilai efektif oleh guru LC karena indikator penilaian sangat jelas, yaitu pelanggaran siswa. Selain itu guru LC juga menggabungkan nilai evaluasi jumlah pelanggaran dengan evaluasi kognitif.
Penulis menilai evaluasi tersebut mengandung paksaan karena hanya guru yang menentukan kategori pelanggarannya. Kedua jenis evaluasi ini menggu- nakan indikator yang subjektif dari guru masing-masing dan cenderung tidak digabungkan dengan penilaian kognitif setelah penulis melakukan kroscek terhadap guru AS dan S.
Borich & Tombari (1995) menyatakan, evaluasi akan efektif jika sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan alat yang digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Karena itu, kegiatan evaluasi yang digunakan harus memenuhi unsur validitas dan reliabi- litas sehingga benar-benar dapat menggambarkan hasil yang sebenarnya, baik prosedur, jenis, bentuk, maupun alat evaluasinya (Rusman, 2009)
Solusi yang tidak efektif dalam mengajarkan materi-materi norma, etika dan kedisiplinan atau biasa disebut pendidikan nilai adalah guru-guru hanya menggunakan evaluasi kognitif. Siswa memberikan komentar yang bersifat normatif, terkadang siswa belum menerapkan materi-materi yang diajarkan
dalam bentuk perilaku. Hampir semua guru selama ini menggunakan evaluasi kognitif, dengan menggunakan metode kertas dan pensil tes (paper and pencil test).
Sedangkan evaluasi sikap dan perilaku terhadap siswa belum memiliki indikator yang jelas sehingga penilaian guru bersifat subjektif. Penilaian yang tidak memiliki standar ini terkadang tidak bisa dijadikan tolok ukur penilaian siswa. Evaluasi yang dinilai ideal dalam pendidikan nilai adalah performance test untuk mengukur domain afektif dan sosial skill (Borich & Tombari, 1995).
Solusi lain yang dinilai tidak efektif dan tidak sistemik adalah penanganan yang bersifat individual dan represif karena tidak menjadi pembelajaran bagi siswa lainnya. Selain itu tata tertib yang telah dibuat tidak diterapkan secara konsisten oleh semua guru sehingga tata tertib cenderung tidak berfungsi optimal. Tata tertib sangat penting untuk mengatur ketertiban di sekolah. Namun jika diterapkan dengan tidak konsisten, maka cenderung tidak berdampak signifikan.
Implikasi dari hasil diskusi analisis kebutuhan pada aspek solusi untuk mena- ngani kekerasan di SMA X Surabaya, akan digunakan sebagai komponen tujuan, materi, metode dan evaluasi pembelajaran dalam pengembangan kurikulum anti kekerasan.
Tabel 28. Implikasi Data Solusi untuk Menangani Kekerasan di SMA X Surabaya
No Hasil Diskusi Implikasi
1 Siswa lebih suka menggunakan cara menenangkan diri jika
mengontrol kemarahan. Tujuan dan Materi
2 Siswa meyakini cara terbaik menyelesaikan masalah dan konflik
dengan kepala dingin, menggunakan logika bukan emosi. Tujuan dan Materi 3 Siswa mengharapkan adanya rasa toleransi dan saling
memahami antarsiswa. Tujuan dan materi
4 Siswa meyakini menghindari kekerasan adalah cara terbaik
untuk terhindar dari kekerasan. Tujuan dan materi
No Hasil Diskusi Implikasi
5
Guru-guru SMA X Surabaya tidak hanya mendidik siswanya menjadi pintar dalam bidang akademis, namun ingin mendidik siswanya agar memiliki norma, berdisiplin dan mengenali diri sendiri dan bersosialisasi dengan baik. Karena itu, tema-tema seperti toleransi, menghargai perbedaan, mengenal diri sendiri sebelum mengenal orang lain, moral dan kedisiplinan dipilih oleh guru-guru tersebut.
Tujuan dan materi
6
Guru berpendapat metode pembelajaran yang relevan diterapkan di SMA X Surabaya adalah ceramah, diskusi, paradigma konstruktivisme, paradigma pembelajaran eksperiensial
Metode
7
Evaluasi yang ada selama dinilai tidak efektif. Kecuali evaluasi terkait pelanggaran siswa yang akan mempengaruhi nilai pada aspek kognitif, tapi itu pun mengandung paksaan. Penulis mengajukan untuk merancang evaluasi dengan metode performance test, untuk tema-tema yang membutuhkan evaluasi performance.
Paper & pencil test
• Evaluasi
•
Tabel 29. Implikasi Solusi untuk Menangani Kekerasan dalam Bentuk Tujuan Pembelajaran
No Hasil Diskusi Tujuan Pembelajaran
1 Siswa lebih suka menggunakan cara menenangkan diri jika mengontrol kemarahan.
Siswa mampu merespons konflik dengan cara-cara non kekerasan.
2
Siswa meyakini cara terbaik menyelesaikan masalah dan konflik dengan kepala dingin, menggunakan logika bukan emosi.
3 Siswa meyakini menghindari kekerasan adalah cara terbaik untuk terhindar dari kekerasan.
4 Siswa mengharapkan adanya rasa toleransi dan saling memahami antarsiswa .
Siswa latihan dan
mendemonstrasikan perilaku menghormati perbedaan terhadap siswa lain.
No Hasil Diskusi Tujuan Pembelajaran
5
Guru-guru SMA “X” Surabaya tidak hanya mendidik siswanya menjadi pintar dalam bidang akademis, namun ingin mendidik siswanya agar memiliki norma, berdisiplin dan mengenali diri sendiri dan bersosialisasi dengan baik. Karena itu, tema-tema seperti toleransi, menghargai perbedaan, mengenal diri sendiri sebelum mengenal orang lain, moral dan kedisiplinan dipilih oleh guru-guru tersebut.
Siswa latihan dan
•
mendemonstrasikan perilaku menghormati perbedaan terhadap siswa lain.
Siswa mampu memberikan
•
empati secara verbal dan tertulis
Tabel 30. Implikasi Solusi untuk Menangani Kekerasan dalam Bentuk Materi
No Hasil Diskusi Materi
1 Siswa lebih suka menggunakan cara
menenangkan diri jika mengontrol kemarahan.
Contoh-contoh situasi konflik dan
•
cara-cara mengatasinya tanpa menggunakan kekerasan Cara-cara menyelesaikan konflik
•
Tips-tips mengontrol kemarahan
• 2
Siswa meyakini cara terbaik menyelesaikan masalah dan konflik dengan kepala dingin, menggunakan logika bukan emosi.
3 Siswa meyakini menghindari kekerasan adalah cara terbaik untuk terhindar dari kekerasan.
4 Siswa mengharapkan adanya rasa toleransi dan saling memahami antarsiswa
Mendiskusikan perbedaan pilihan dan selera.
5
Guru-guru SMA X Surabaya tidak hanya mendidik siswanya menjadi pintar dalam bidang akademis, namun ingin mendidik siswanya agar memiliki norma, berdisiplin dan mengenali diri sendiri dan bersosialisasi dengan baik. Karena itu, tema-tema seperti toleransi, menghargai perbedaan, mengenal diri sendiri sebelum mengenal orang lain, moral dan kedisiplinan dipilih oleh guru-guru tersebut.
Mendiskusikan perbedaan pilihan
•
dan selera.
Menggambarkan seseorang
•
(sifat, kepribadian, kelebihan dan kekurangan) dari sebuah media atau gambar.
Tabel 31. Implikasi Solusi untuk Menangani Kekerasan dalam Bentuk Metode
No Hasil diskusi Metode
1
Guru berpendapat metode pembelajaran yang relevan diterapkan di SMA “X” Surabaya adalah ceramah, diskusi, paradigma
konstruktivisme, paradigma pembelajaran eksperiensial.
Ceramah
•
Tanya jawab
•
Diskusi
•
Role play
•
Paradigma konstruktivism
•
Paradigma eksperiensial
•
Tabel 32. Implikasi Solusi untuk Menangani Kekerasan dalam Bentuk Evaluasi
No Hasil diskusi Evaluasi
1
Evaluasi yang ada selama dinilai tidak efektif. Kecuali evaluasi terkait pelanggaran siswa yang akan mempengaruhi nilai pada aspek kognitif, tapi itu pun mengandung paksaan. Penulis mengajukan untuk merancang evaluasi dengan metode performance test, untuk tema-tema yang membutuhkan evaluasi performance.
Menggunakan:
Paper and pencil test
•
Performance test
•