Kurikulum berarti pelajaran, aktivitas, dan pengalaman yang terorganisir yang diberikan sekolah kepada siswa, baik di kelas maupun di luar kelas.
Sedangkan perencanaan kurikulum adalah suatu proses ketika peserta dalam banyak tingkatan membuat keputusan tentang tujuan belajar, serta telaah keefektifan dan kebermaknaan metode pembelajaran (Hamalik, 2009).
Perencanaan kurikulum terjadi pada semua tingkat pendidikan dan disesuaikan dengan tingkatan kelas. Secara umum, perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip-prinsip berikut: berkenaan dengan pengalaman siswa, dibuat berdasarkan berbagai keputusan tentang konten dan proses, mengandung keputusan-keputusan tentang berbagai isu dan topik, melibatkan banyak kelompok, dilaksanakan pada berbagai tingkatan, dan sebuah proses yang berkelanjutan.
Secara umum, perencanaan kurikulum harus mempertimbangkan kebu- tuhan masyarakat, karakteristik pembelajar, dan lingkup pengetahuan menurut hierarki keilmuan. Dengan begitu, siswa memiliki dua kemungkinan: menerus- kan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau terjun ke dunia kerja dan masyarakat. Karena itu, pengelolaan komponen perencanaan kurikulum harus memperhatikan faktor tujuan, konten, kegiatan (aktivitas), sumber yang diguna- kan, dan instrumen evaluasi.
Perumusan tujuan belajar diperlukan untuk meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan sekitarnya. Untuk itu, penyelenggara sekolah berpedoman pada tujuan pendidikan nasional. Sumber tujuan ini adalah sumber empiris, filosofis, mata pelajaran, konsep kurikulum, analisis situasional, dan tekanan pendidikan.
Tujuan perencanaan kurikulum ini mempunyai beberapa implikasi. Pertama, suatu pengertian tentang arah atau sasaran bagi setiap orang yang tertarik dengan proses pendidikan, seperti siswa, guru, administrator, orangtua, penilik, pengawas dan sebagainya. Kedua, basis perencanaan kurikulum yang rasional dan logis.
Ketiga, memberikan suatu basis untuk penilaian siswa.
Kurikulum menggunakan cara yang sama dalam menjabarkan kompetensi dasar ke dalam indikator kompetensi, yaitu menggunakan Taksonomi Bloom—
mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Kompetensi dasar adalah
sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi. Indikator kompe- tensi adalah perilaku yang dapat diukur dan diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran (Mulyasa, 2007).
Penulis menggunakan taksonomi Bloom pada domain afektif yang dikem- bangkan oleh Krathwohl, Bloom dan Masia untuk memudahkan perumusan tujuan dan evaluasi pembelajaran. Krathwohl, Bloom dan Masia mengembang- kan lima tingkatan dalam domain afektif. Pertama, menerima (receiving), yaitu mengharapkan siswa mengenal, bersedia menerima, dan memperhatikan berbagai stimulus. Siswa masih bersikap pasif, sekadar mendengarkan atau memperhatikan. Contoh kata operasional: siswa mengakui adanya perbedaan individu antarsiswa.
Kedua, merespons (responding), yaitu keinginan untuk berbuat sesuatu sebagai reaksi terhadap suatu gagasan, benda, atau sistem nilai, lebih dari sekadar pengenalan. Siswa menunjukkan perilaku yang diminta, misalnya berpartisipasi, patuh atau memberikan tanggapan secara sukarela. Contoh kata operasional:
siswa menampilkan sikap menghormati perbedaan individu antarsiswa.
Ketiga, menilai (valuing), yaitu menunjukkan penghargaan terhadap nilai suatu gagasan, benda, atau cara berpikir tertentu. Siswa berperilaku sesuai dengan suatu nilai secara konsisten meski tidak ada pihak lain yang meminta atau mengharuskan. Siswa merasa memiliki nilai pedoman. Level ini dimulai dari penerimaan nilai, memilih nilai, dan berkomitmen terhadap nilai tersebut.
Contoh kata operasional: mendemonstrasikan perilaku yang tepat dalam meng- hadapi perbedaan pendapat antarsiswa.
Keempat, mengorganisasi (organization), yaitu menunjukkan hubungan antara nilai-nilai tertentu dalam suatu sistem nilai, serta menentukan nilai mana yang mempunyai prioritas lebih tinggi daripada nilai lain. Bisa dibilang, organisasi ini menambah nilai atau keyakinan baru dalam sistem nilai yang dimiliki individu. Contoh kata operasional: siswa dapat memberikan contoh sikap menghargai pada situasi yang rumit di hadapan banyak siswa.
Kelima, nilai kompleks (value complex), yaitu integrasi nilai-nilai ke dalam filosofi hidup. Filosofi hidup ini menjadi bagian karakter siswa. Contoh kata operasional: siswa dapat mengembangkan dan melakukan secara konsisten sikap
Kondisi sekolah yang ideal itu mengacu pada konsep sekolah aman (safe school). Sekolah Aman adalah sekolah yang efektif. Sekolah yang efektif memiliki 8 karakteristik (Departement of Education & Training Melbourn, 2006). Pertama, professional leadership. Sekolah aman dan efektif dimulai dengan kepemimpinan yang memiliki komitmen terhadap keterbukaan serta mampu mengembangkan sekolah aman, peduli, memiliki rasa hormat, simpatik, dan tidak menoleransi adanya kekerasan.
Kedua, fokus pada kegiatan belajar mengajar. Sekolah aman dan efektif harus memiliki guru yang memiliki kompetensi untuk mengembangkan potensi siswa dengan cara kolaboratif, yaitu aman, peduli, memiliki rasa hormat dan simpatik.
Guru tidak diperkenankan menggunakan hukuman dalam mendidik. Sekolah yang efektif juga memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar dari kurikulum di luar sekolah sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terhadap perilaku kekerasan.
Ketiga, shared vision and goal. Manajemen prevensi kekerasan menekankan pada budaya pendidikan yang aman, peduli, memiliki rasa hormat dan simpatik dengan mempromosikan nilai-nilai edukasi. Sekolah aman dan efektif memiliki kebijakan anti kekerasan di sekolah yang dikembangkan bersama staf sekolah, orangtua, dan siswa.
Keempat, purposefull teaching. Sekolah aman dan efektif akan menerapkan cara belajar yang mengutamakan relasi (relationship), seperti cooperative learning dan problem based learning. Cara-cara tersebut dapat memberikan kontribusi positif pada prestasi siswa dan relasi teman sebaya.
Kelima, high expectation. Keberagaman sangat bernilai bagi sekolah aman dan efektif. Sekolah menekankan tanggung jawab kepada semua perangkat sekolah terhadap keamanan sekolah. Meski terdiri dari beragam latar belakang, tetapi setiap individu memiliki tanggung jawab agar sekolah terasa aman secara fisik dan psikis.
Keenam, learning communities. Sekolah aman dan efektif menekankan pada kualitas hubungan antarindividu, membangun empati dan bekerja sama. Sekolah aman dan efektif juga mau bekerja sama dengan orangtua siswa untuk bersama- sama mengurangi perilaku kekerasan terhadap anak dan menciptakan suasana aman, peduli, memiliki rasa hormat dan simpatik kepada anak.
Ketujuh, accountability. Sekolah aman dan efektif memiliki tanggung jawab utama untuk mendeteksi dan mengawasi terjadinya kekerasan setiap harinya.
Adanya kewajiban untuk mengevaluasi program penanganan sebelumnya yang berjalan tidak efektif.
Kedelapan, stimulating and secure learning environment. Sekolah aman dan efektif harus memiliki program yang bersifat leveling yang dapat mengukur kesiapan siswa untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi.