• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekap Analisis Kebutuhan Penyusunan Kurikulum

Dalam dokumen Melawan Bullying (Halaman 64-90)

Penulis memfokuskan analisis kebutuhan hasil penelitian pada tiga aspek, yaitu keyakinan siswa terhadap perilaku kekerasan dan agresi, faktor pemicu terjadinya kekerasan, dan solusi untuk mengatasi kekerasan di SMA X Surabaya.

Aspek pertama akan mengungkap keyakinan siswa bertindak agresif pada kondisi tertentu. Penulis menggunakan 4 kategori untuk menentukan tingkat keyakinan siswa, yaitu sangat tinggi, tinggi, rendah dan sangat rendah.

Gambar 3. Keyakinan Siswa Bertindak Agresif

Dari data di atas menunjukkan, persentase keyakinan siswa bertindak agresif pada kondisi umum sebanyak 18% (18 siswa) kategori tinggi, 67% (66 siswa) kategori rendah, dan 15% (14 siswa) kategori sangat rendah. Persentase keyakinan siswa bertindak agresif pada kondisi terprovokasi sebanyak 42% (41 siswa) kategori tinggi, 57% (56 siswa) kategori rendah, dan 1% (1 siswa) kategori sangat rendah.

Pada kondisi umum dan terprovokasi, keyakinan siswa bertindak agresif lebih banyak berada pada kategori rendah, yaitu 67% dalam kondisi umum dan 57% dalam kondisi terprovokasi. Namun terdapat dinamika data yang patut dicermati, yaitu pada kategori tinggi, terjadi kenaikan persentase keyakinan siswa bertindak agresif pada kondisi terprovokasi dibandingkan dengan bertindak pada kondisi umum, yaitu sebesar 24% (23 siswa).

Pada kategori rendah terjadi penurunan persentase keyakinan siswa bertin- dak agresif pada kondisi terprovokasi dibandingkan dengan bertindak agresif pada kondisi umum, yaitu sebesar 10% (10 siswa). Pada kategori sangat rendah

terjadi penurunan persentase keyakinan siswa bertindak agresif dalam kondisi terprovokasi dibandingkan dengan bertindak agresif pada kondisi umum, yaitu sebesar 14% (13 siswa).

Gambar 4. Keyakinan Siswa Bertindak Agresif Berdasarkan Jenis Kelamin

Data di atas menjelaskan tingkat keyakinan siswa bertindak agresif pada kon- disi umum dan kondisi terprovokasi berdasarkan jenis kelamin. Persentase siswa laki-laki bertindak agresif pada kondisi umum sebanyak 22% (10 siswa) kategori tinggi, 72% (33 siswa) kategori rendah, 6% (3 siswa) kategori sangat rendah.

Persentase siswa laki-laki untuk bertindak agresif pada kondisi terprovokasi sebanyak 33% (15 siswa) kategori tinggi, 65% (30 siswa) kategori rendah, 2% (1 siswa) kategori sangat rendah.

Pada kondisi umum dan terprovokasi, keyakinan siswa laki-laki bertindak agresif lebih banyak berada pada kategori rendah, yaitu 72% dalam kondisi umum dan 65% dalam kondisi terprovokasi. Namun, terdapat dinamika data yang patut dicermati, yaitu pada kategori tinggi, terjadi kenaikan persentase keyakinan siswa laki-laki bertindak agresif pada kondisi terprovokasi dibandingkan dengan bertindak pada kondisi umum, yaitu sebanyak 11% (5 siswa).

Pada kategori rendah terjadi penurunan persentase keyakinan siswa bertin- dak agresif pada kondisi terprovokasi dibandingkan dengan bertindak agresif pada kondisi umum, yaitu sebesar 7% (3 siswa). Pada kategori sangat rendah terjadi penurunan persentase keyakinan siswa bertindak agresif pada kondisi terprovokasi dibandingkan dengan bertindak agresif pada kondisi umum, yaitu sebesar 4% (2 siswa).

Selanjutnya adalah tingkat keyakinan siswa bertindak agresif pada kondisi umum dan terprovokasi berdasarkan jenis kelamin perempuan. Persentase siswi perempuan bertindak agresif pada kondisi umum sebanyak 15% (8 siswa) kategori tinggi, 63% (33 siswa) kategori rendah, dan 22% (11 siswa) kategori sangat rendah. Persentase siswa perempuan bertindak agresif pada kondisi terprovokasi sebanyak 50% (26 siswa) kategori tinggi dan 50% (26 siswa) kategori rendah.

Pada kondisi umum, keyakinan siswa perempuan bertindak agresif lebih banyak berada pada kategori rendah, yaitu 63%. Pada kondisi terprovokasi, keyakinan siswa perempuan bertindak agresif sama-sama berada pada kategori tinggi dan rendah, yaitu 50% (tinggi) dan 50% (rendah). Namun terdapat dinamika data yang patut dicermati, yaitu pada kategori tinggi, terjadi kenaikan persentase keyakinan siswa perempuan bertindak agresif pada kondisi terprovokasi diban- dingkan dengan bertindak pada kondisi umum, yaitu sebanyak 35% (18 siswa).

Pada kategori rendah, terjadi penurunan persentase keyakinan siswa bertin- dak agresif dalam kondisi terprovokasi dibandingkan dengan bertindak agresif dalam kondisi umum, yaitu sebesar 13% (7 siswa). Pada kategori sangat rendah, terjadi penurunan persentase keyakinan siswa bertindak agresif dalam kondisi terprovokasi dibandingkan dengan bertindak agresif dalam kondisi umum, yaitu sebesar 22% (11 siswa). Dinamika data pada gambar 3 dan 4 diperjelas dengan hasil Focus Group Discussion (FGD).

Tabel 11. Hasil FGD Kelas X

No Responden Rangkuman FGD

1.

Terkait item nomor 1 (item 1-12 berisi situasi yang provokatif).

Bunyi item: Situasi 1: Seandainya seorang anak laki-laki mengatakan sesuatu yang jelek kepada Andi. Apakah kamu berpikir bahwa Andi boleh berteriak kepada anak tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun. Kalau diejek kan pasti marah, jadi reaksinya berteriak.

Jadi, wajar karena dia mulai duluan, ya diledeni saja. Loe jual gue beli.

AP. Perempuan, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

Karena menurut saya berteriak itu salah.

Nggak mau menimbulkan masalah lebih besar.

Nggak harus diteriaki, pelan-pelan kan bisa.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

2.

Apakah kamu berpikir bahwa Andi boleh memukul anak tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun.

Tidak harus memukul.

Jadi, kata-kata harus dibalas dengan kata-kata, tidak harus dipukul.

Jelas-jelas salah itu memukul, nggak harus memukul.

AP. Perempuan, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

3.

Situasi 2: Seandainya seorang anak laki-laki mengatakan sesuatu yang jelek kepada anak perempuan. Apakah anak perempuan itu salah jika berteriak kepada anak laki-laki tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun. Anak perempuan lebih labil, lebih sensitif, jadi wajar kalau membalas.

AP. Perempuan, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

Tidak seharusnya melakukan seperti itu.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

4.

Apakah anak perempuan itu salah jika memukul anak laki-laki tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun.

Kalau kata-katanya sampai menyinggung harga diri wajar saja, malah sangat wajar untuk membalas.

AM. Perempuan, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun. Tetap salah, lebih baik menasihati anak itu dan lebih mengontrol diri.

Lebih baik tidak usah memukul, nggak wajar, lebih baik pergi saja.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AP. Perempuan, 15 tahun.

No Responden Rangkuman FGD

5.

Situasi 3: Seandainya seorang anak perempuan mengatakan sesuatu yang jelek kepada Mary. Apakah kamu berpikir bahwa Mary boleh berteriak kepada anak perempuan tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun.

Wajar saja jika membalas.

AP. Perempuan, 15 tahun DN. Laki-laki, 15 tahun.

Tidak seharusnya seperti itu.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

6.

Apakah kamu berpikir bahwa Mary boleh memukul anak perempuan tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun.

Wajar saja jika membalas.

AP. Perempuan, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

Sebisa mungkin tidak melakukan kekerasan.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

7.

Situasi 4: Seandainya anak perempuan mengatakan sesuatu yang jelek kepada anak laki- laki. Apakah anak laki-laki itu salah jika berteriak kepada anak perempuan tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun. Cewek nggak pantas ngomong jorok atau jelek.

AP. Perempuan, 15 tahun. Cowok harus ngalah sama cewek, ladies first.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

Tidak seharusnya melakukan hal itu.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

8.

Apakah anak laki-laki itu salah jika memukul anak perempuan tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun. Karena laki-laki punya kekuatan yang lebih besar, jadi tidak boleh memukul.

AP. Perempuan, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

Tidak seharusnya membalas ke anak perempuan.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun. Laki-laki nggak boleh mukul perempuan, minimal dihargai.

No Responden Rangkuman FGD

9.

Seandainya anak laki-laki memukul Andi. Apakah Andi salah jika membalas dengan pukulan kepada anak tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun.

Nggak harus melakukan hal tersebut karena tidak menyelesaikan masalah.

AP. Perempuan, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun. Mukul dibalas mukul. Tapi balasnya harus lihat sikon, kalau mukulnya sampai sakit baru balas.

AM. Perempuan, 15 tahun.

10.

Situasi 6: Seandainya anak laki-laki memukul anak perempuan. Apakah kamu berpikir bahwa anak perempuan itu boleh membalas pukulannya?

AP. Perempuan, 15 tahun. Mukul dibalas mukul. Tapi balasnya harus lihat sikon, kalau mukulnya sampai sakit baru balas.

RR. Perempuan, 15 tahun. Pasti nggak bakalan bisa balas karena cowok lebih kuat.

Jadi, dicuekin saja.

AM. Perempuan, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

Nggak seharusnya melakukan itu.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

11.

Situasi 7: Seandainya anak perempuan memukul Mary. Apakah Mary salah jika membalas dengan pukulan kepada anak tersebut?

RR. Perempuan, 15 tahun. Wajar kalau membalas karena dia mulai duluan.

AP. Perempuan, 15 tahun.

Sebaiknya tidak melakukan kekerasan.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

12.

Situasi 8: Seandainya anak perempuan memukul anak laki-laki. Apakah kamu berpikir, bahwa anak laki-laki itu boleh memukul balik kepada anak perempuan?

RR. Perempuan, 15 tahun.

Harusnya laki-laki itu mikir dan nggak seharusnya balas ke anak perempuan.

AP. Perempuan, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

Salah, tidak harus balas.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

Secara umum, adalah salah jika memukul orang lain

No Responden Rangkuman FGD

13.

RR. Perempuan, 15 tahun.

Salah karena bisa dibicarakan baik-baik.

AP. Perempuan, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

14.

Jika kamu marah maka kamu boleh melampiaskan pokok permasalahan kepada orang lain.

RR. Perempuan, 15 tahun.

Salah, ya seharusnya sama orang yang dituju.

AP. Perempuan, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

15.

Secara umum, kamu boleh berteriak dan berkata jelek kepada orang lain RR. Perempuan, 15 tahun.

Salah karena kita harus introspeksi diri dulu lah.

Ya, anaknya nggak harus dijelek-jelekin.

Cuek saja karena itu bukan urusan saya.

AP. Perempuan, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

16.

Jika kamu marah, maka menyenggol dan mendorong adalah hal yang biasa RR. Perempuan, 15 tahun.

Salah, kan tidak seharusnya seperti itu, dan yang pasti nambah masalah.

AP. Perempuan, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

Benar, ya wajar-wajar saja tapi ya jangan parah-parah amat, pokoknya jangan sampai orang yang disenggol marah. Ya menurut saya sih biasa saja.

No Responden Rangkuman FGD

17.

Terkait item no.17 – 20

Menghina orang lain adalah perbuatan yang salah

.

Salah jika melampiaskannya kepada orang lain, dengan mengatakan sesuatu yang

kejam, ketika kamu marah

Secara umum adalah salah jika kamu terlibat dalam perkelahian fisik dengan orang

lain

Secara umum adalah Benar untuk melampiaskan kemarahan kepada orang lain

dengan menggunakan perlawanan fisik.

RR. Perempuan, 15 tahun.

Salah karena menyakitkan hati.

Salah, menimbulkan masalah.

Salah, lihat diri sendiri dulu.

AP. Perempuan, 15 tahun.

AM. Perempuan, 15 tahun.

HD. Laki-laki, 15 tahun.

DN. Laki-laki, 15 tahun.

NB: Keterangan Warna Mendukung Kekerasan Tidak Mendukung Kekerasan

Kesimpulan hasil FGD yang didapat adalah siswa kelas X memiliki beberapa alasan yang membenarkan keyakinannya melakukan kekerasan pada kondisi terprovokasi. Pertama, siswa meyakini bahwa melakukan kekerasan pada kondisi terprovokasi adalah wajar karena individu merasa disakiti. Kedua, siswa meyakini istilah “pukulan dibalas dengan pukulan”. Ketiga, siswa meyakini bahwa perempuan tidak boleh disakiti. Jadi, wajar jika membalas.

Kesimpulan lainnya, siswa yang tidak memilih cara-cara kekerasan meskipun pada kondisi terprovokasi memiliki beberapa alasan. Pertama, siswa meyakini tidak harus melakukan kekerasan kepada siswa lain. Kedua, siswa meyakini bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah dan dapat memunculkan masalah baru.

Tabel 12. Hasil FGD Kelas XI

No Responden Rangkuman FGD

Terkait item no.1 (item 1 – 12 berisi situasi yang provokatif)

1.

YN. Perempuan, 16 tahun.

Berhak untuk membalas karena anaknya mulai duluan.

Berhak membalas untuk memperingati agar tidak meledek atau mengulangi perbuatan yang sama.

LD. Perempuan, 16 tahun.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

TY. Perempuan, 16 tahun. Salah seharusnya nggak menggunakan cara itu, dibilangi baik-baik saja kan bisa.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait item no.2

2.

TY. Perempuan, 16 tahun. Kata-kata tidak selayaknya dibalas dengan pukulan.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

Melanggar aturan, dipahami dulu masalahnya, lagian itu kan cuma kata-kata belum tentu benar, terus nanti juga bisa dipidana.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Tidak harus berbuat semena-mena, tidak mau buat masalah lebih besar. Dimaafkan saja, kita kan dituntut untuk saling menghargai...

LD. Perempuan, 16 tahun. Benar karena biasanya cowok melakukan pemukulan kalau lagi kesel. Kalau cewek-cewek biasanya pakai kata-kata, kayak ngegosip. Kalau cowok kan biasanya main pukul- pukul gitu.

YN. Perempuan, 16 tahun.

Terkait item no.3

3

LD. Perempuan, 16 tahun.

Benar, kalau perempuan wajar untuk membalas meskipun derajatnya beda. Kalau cowok kan pemimpin kalau cewek kan yang dipimpin. Jadi, kalau yang mimpin nyakitin cewek ya derajatnya bisa sama.

YN. Perempuan, 16 tahun. Nggak sepantasnya cowok ngatain cewek kasar.

TY. Perempuan, 16 tahun. Cuekin saja asalkan nggak terlalu berpengaruh di kita, ngapain juga ngeladenin anak cowok.

BR. Laki-laki, 16 tahun. Lebih bikin pasrah, lebih baik diam, nanti bikin laki-laki itu tertarik untuk godain, menjauh saja.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait item no.4

No Responden Rangkuman FGD

4.

LD. Perempuan, 16 tahun. Percuma kalau diomongin, pukul saja, biar dia jera. Capek kalau diomongin saja. Setelah mukul rasanya puas.

YN. Perempuan, 16 tahun. Percuma.

TY. Perempuan, 16 tahun. Mending nggak usah dihiraukan cowok itu, nanti kekerasan juga malah menimbulkan kekerasan lagi.

BR. Laki-laki, 16 tahun. Makin cewek itu balas, makin cowok itu senang. Jadi mending dicuekin saja.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait item no.5

5.

BR. Laki-laki, 16 tahun. Nggak papa, baiknya diselesaikan di situ juga, daripada nanti di belakang gosip dan balas lebih kejam. Lebih baik teriak dan diselesaikan di situ juga.

Benar, biar dia jera.

Wajar saja, kan dia mulai duluan.

LD. Perempuan, 16 tahun.

YN. Perempuan, 16 tahun.

TY. Perempuan, 16 tahun. Dicari masalahnya dulu dan lebih bisa mengontrol diri.

Makin memperparah masalah. Jadi nggak seharusnya begitu.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait item no.6

6.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

Salah mukul cewek.

Cewek kan lemah, jadi nggak boleh.

Kalau cewek cerewet, mesti lapor orangtuanya kalau dibalas.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

YN. Perempuan, 16 tahun.

TY. Perempuan, 16 tahun.

LD. Perempuan, 16 tahun.

Terkait item no.7

7.

TY. Perempuan, 16 tahun.

Cowok harus ngalah.

Cewek itu sensitif.

Lebih baik memikirkan dampaknya.

LD. Perempuan, 16 tahun.

YN. Perempuan, 16 tahun.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait item no.8

No Responden Rangkuman FGD

8.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

Keterlaluan, masak sih sampai segitunya.

Kalau berani sama cowok saja berarti yang mukul bencong.

LD. Perempuan, 16 tahun.

YN. Perempuan, 16 tahun.

TY. Perempuan, 16 tahun.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait item no.9

9.

BR. Laki-laki, 16 tahun. Benar, sebagai reaksi saja untuk bela diri saja bukan untuk menyakiti. Setelah itu ya lapor polisi.

LD. Perempuan, 16 tahun.

Anak cowok itu mikirnya pakai emosi, gampang terpancing emosinya. Dominannya pakai fisik, cowok gampang sekali terprovokasi dan suka menggunakan cara-cara kekerasan.

YN. Perempuan, 16 tahun. Nggak papa, yang penting nggak keroyokan.

TY. Perempuan, 16 tahun. Wajar saja asal tidak keterlaluan.

LQ. Laki-laki, 16 tahun. Buat apa membalas, malah nambah masalah.

Terkait item no.10

10.

BR. Laki-laki, 16 tahun. Hanya untuk membela diri, untuk mencegah serangan yang lebih parah. Abis itu lari atau lapor ke guru.

LD. Perempuan, 16 tahun. Wajar untuk pelampiasan agar puas.

YN. Perempuan, 16 tahun. Takut.

TY. Perempuan, 16 tahun. Percuma, pasti kalah.

LQ. Laki-laki, 16 tahun. No violence.

Terkait item no.11

11.

LD. Perempuan, 16 tahun. Saya harus balas karena saya kurang bisa mengontrol emosi.

TY. Perempuan, 16 tahun.

Kan sama-sama cewek. Kan cewek mukulnya nggak sekeras cowok. Jadi, saya merasa kalau powernya sama, saya juga berani balas. Kalau sama cowok kan nggak sama, jadi percuma.

LQ. Laki-laki, 16 tahun. No violence.

BR. Laki-laki, 16 tahun. Perempuan lebih pendendam. Jadi, lebih baik mengalah dan diselesaikan di hadapan guru.

YN. Perempuan, 16 tahun. Percuma. Diselesaikan dengan baik-baik saja, ditanya apa masalahnya.

No Responden Rangkuman FGD Terkait item no.12

12.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait peran gender..

Laki-laki harus mengalah, perempuan harus disayang.

LD. Perempuan, 16 tahun.

YN. Perempuan, 16 tahun.

TY. Perempuan, 16 tahun.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait item no.13, 14, 15, 16

13.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

Tidak benar.

Sebaiknya jangan melakukan kekerasan.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

YN. Perempuan, 16 tahun.

TY. Perempuan, 16 tahun.

LD. Perempuan, 16 tahun. Khusus no.14 & 16. Benar karena saya kurang bisa mengontrol emosi.

Terkait item no.17

17.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

Malah bikin masalah lebih besar.

Ya seharusnya tidak menghina orang lain.

Setiap orang kan punya kelebihan dan kekurangan.

Jadi, nggak seharusnya kita menghina orang lain, lebih merasakan perasaan orang yang dihina.

LD. Perempuan, 16 tahun.

YN. Perempuan, 16 tahun.

TY. Perempuan, 16 tahun.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

Terkait item no.18 – 20

18.

LD. Perempuan, 16 tahun. Terkadang saya melampiaskan kepada orang lain.

BR. Laki-laki, 16 tahun.

Nggak seharusnya...

YN. Perempuan, 16 tahun.

TY. Perempuan, 16 tahun.

LQ. Laki-laki, 16 tahun.

NB: Keterangan Warna Mendukung Kekerasan Tidak Mendukung Kekerasan

Kesimpulan hasil FGD siswa kelas XI adalah siswa memiliki beberapa alasan yang membenarkan keyakinannya melakukan kekerasan pada kondisi terprovokasi. Pertama, siswa meyakini bahwa wajar membalas dengan cara kekerasan untuk membela diri, mencegah serangan yang lebih parah, serta untuk pelampiasan dan kepuasan. Kedua, siswa meyakini bahwa perempuan wajar membalas dengan kekerasan kepada laki-laki jika dipukul atau dihina. Ketiga,

siswa meyakini bahwa wajar membalas dengan kekerasan untuk balas den- dam. Keempat, siswa meyakini bahwa laki-laki kerap menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

Kesimpulan lainnya, siswa yang tidak memilih cara-cara kekerasan meskipun pada kondisi terprovokasi, ada beberapa alasan yang disampaikan. Pertama, siswa meyakini bahwa tidak seharusnya menggunakan cara-cara kekerasan. Kedua, siswa meyakini bahwa membalas dengan kekerasan dapat menimbulkan masalah lebih besar. Ketiga, siswa meyakini bahwa perempuan tidak boleh disakiti.

Keempat, siswa lebih memilih untuk mengabaikan situasi yang berpotensi memunculkan kekerasan.

Aspek kedua adalah faktor-faktor pemicu terjadinya perilaku kekerasan di SMA X Surabaya. Penulis memiliki data berupa wawancara terhadap siswa tentang faktor-faktor pemicu terjadinya perilaku kekerasan di sekolah dari survei awal.

“Sifatnya anaknya sendiri, nggak mau kalah, intinya biasanya merendahkan, kurang menghargai, kurang menghormati. Saya mungkin ngalami (menjadi pelaku) jadi saya bisa ngomong. Ada rasa kasian Pak (ketika menghina), pelakunya pasti punya (rasa kasian), tapi harus ada pembuktian (tidak ingin diremehkan), waktu itu rasa kasiannya hilang. Jadi, pasti dilawan (jadi sebenarnya siswa belum bisa berempati). Pelaku sifatnya juga nggak mau kalah, kalau menghina spontanitas, pasti juga ada yang mulai terus nggak terima. Karena berani dan pasti ada rasa merendahkan, kurang menghargai dan kayak gitu itu sudah biasa Pak. Saling ejek-ejekan, meremehkan bahkan memukul itu dianggap biasa, padahal mukulnya beneran dan ngejeknya pakai kata-kata nylekit (menyakitkan).” (BM, Siswa Kelas XII)

Kutipan wawancara ini menyebutkan bahwa faktor individu menjadi pence- tus terjadinya perilaku kekerasan. Faktor individu yang dimaksud adalah tidak mau mengalah, merendahkan, kurang menghargai dan menghormati siswa lain.

Selain itu ketika ingin melakukan perilaku kekerasan, pelaku belum menunjuk- kan empati kepada siswa lain. Pelaku tidak memikirkan akibat perilakunya, hanya karena ingin “membuktikan diri” dan tidak ingin dianggap remeh dengan cara menyerang siswa lain. Pernyataan siswa tentang “pembuktian diri” juga terkait dengan hasil angket item nomor 1.

Tabel 13. Item Nomor 1: Saya Biasanya Melakukan Kekerasan Ketika

Jawaban Total

Merasa takut

a. 2

Merasa tidak aman

b. 54

Merasa tidak berdaya

c. 13

Merasa sendiri

d. 4

Secara pribadi merasa lebih kuat daripada korban

e. 3

Siswa/guru/staf atau orang lain membuat saya marah

f. 15

Siswa lain mempermalukan saya

g. 15

Saya bersama-sama kelompok saya

h. 1

Saya tidak pernah melakukan kekerasan

i. 35

Item nomor 1 menyebutkan bahwa dari siswa kelas X, XI dan XII, sebanyak 54 siswa menyatakan melakukan kekerasan ketika merasa tidak aman, 35 siswa tidak pernah melakukan kekerasan, sebanyak 15 siswa melakukan kekerasan ketika siswa, guru, staf atau orang lain membuat marah, dan sebanyak 15 siswa melakukan kekerasan jika dipermalukan siswa lain. Perasaan tidak aman dan dipermalukan merupakan faktor pemicu terjadinya perilaku kekerasan di sekolah.

Selain kutipan wawancara di atas, ada pendapat siswa lain mengenai pemicu terjadinya kekerasan di SMA X Surabaya.

“Biasanya anak-anak kalau saling mengejek itu karena kecemburuan sosial.

Maksudnya, ada anak yang iri dengan apa yang dimiliki anak lain. Misalnya, lebih kaya atau anak yang nggak punya, terus dia kuper dan menjadi bahan ejekan.” (FAF dan AIY, Siswa Kelas XI)

Kutipan wawancara di atas menyebutkan bahwa perbedaan individu antar- siswa menjadi faktor pemicu terjadinya perilaku kekerasan. Perbedaan individu yang dimaksud adalah perbedaan status ekonomi dan sosial siswa. Penulis juga melakukan wawancara dengan guru terkait pemicu terjadinya kekerasan di SMA X Surabaya.

“Menurut saya pemicunya adalah banyaknya jam kosong, bisa jadi pemicu terjadinya kekerasan, anak bosan di kelas, ngelakuin yang aneh-aneh,

Dalam dokumen Melawan Bullying (Halaman 64-90)