Penulis melakukan uji coba untuk mengetahui apakah rancangan kurikulum tersebut tepat dan dapat diterapkan di sekolah. Penulis memilih tema: “mengapa siswa membully?” karena penyebab utama perilaku bullying adalah keyakinan (belief) yang salah.
Sebelum uji coba, penulis mengumpulkan kasus bullying yang benar nyata terjadi dan sejumlah pertanyaan untuk diskusi. Peserta uji coba sebanyak 40 siswa SMA yang terdiri dari 20 siswa perempuan dan 20 siswa laki-laki. Kegiatan dimulai pukul 07.15 dan selesai pada pukul 08.00 (45 menit). Berikut adalah rincian aktivitas uji coba.
Tabel 35. Aktivitas Uji Coba: Kegiatan Awal
No Kegiatan awal (5 menit) Keterangan
1. Penulis membuka sesi dengan mengucapkan salam.
2.
Penulis bertanya, Gimana kabarnya hari ini anak-anak? Sudah sarapan belum? Gimana perjalan ke sekolah hari ini? Macet atau lancar? Apakah kalian bahagia hari ini? Respons siswa:
siswa menjawab dengan antusias, ada yang menjawab merasa bahagia dan sebaliknya. Lalu kami membicarakan mengapa ada yang bahagia dan tidak.
Observasi: Siswa kelas XI terlihat antusias dan bersemangat.
Suasana kelas menjadi hangat dan bersahabat.
Kegiatan awal yang diberikan penulis mampu menjadi ice breaking.
Tabel 36. Aktivitas Uji Coba: Pembentukan Kompetensi
No Pembentukan Kompetensi (30 menit) Keterangan
1
Penulis menyampaikan: Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman bagi siswanya. Namun terkadang ada siswa yang terlihat tidak happy di sekolah.
Sebut saja namanya Putra, ia terlihat murung di kelas, sering terlihat sendirian, seperti tidak punya teman. Jika anak-anak lain pergi ke kantin bersama-sama, maka ia pergi seorang diri.
Kira-kira apa penyebab Putra tidak happy?
Respons siswa:
Banyak hutang Pak!!
1.
Belum bayar SPP Pak!!
2.
Habis kemalingan Pak!
3.
Ada masalah dengan teman Pak!!
4.
Anak-anak nggak suka sama dia Pak!!”
5.
Habis dibully Pak!!”
6.
Observasi: jawaban nomor 1-3 terucap secara spontan oleh tiga siswa, mereka menjawab sambil tertawa. Sedangkan jawaban nomor 4-6 diucapkan oleh tiga siswa dengan mengernyitkan dahi, seperti sedang berpikir.
Cara paling mudah mendeteksi bullying di sekolah adalah dengan mengamati siswa yang tidak happy.
Jawaban nomor 1-3 tidaklah salah, namun kurang memenuhi harapan dari aktivitas pembelajaran ini.
Penulis akan merespons jawaban yang sesuai dengan tujuan aktivitas pembelajaran.
2.
Penulis merespons jawaban siswa dengan menuliskannya di papan tulis, namun hanya jawaban nomor 4-6 yang akan dibahas lebih mendalam lagi bersama siswa. Penulis bertanya:
Kira-kira, Putra ada masalah apa ya dengan temannya?
1.
Mengapa Putra tidak disukai oleh teman-temannya?
2.
Mengapa Putra dibully?
3.
Respons siswa:
Beberapa siswa laki-laki menjawab: dia pelit, dia nggak bisa futsal, dia rajin, dia disukai guru-guru.
Observasi: semua siswa perempuan tidak merespons
Bullying pada anak perempuan merupakan covert behavior, sehingga cukup wajar jika mereka tidak merespons.
3
Penulis mengatakan: Hmmm... Oke, sering kali anak laki-laki itu kurang bisa menerima perbedaan. Misalnya, Putra ini tidak mau meminjamkan smartphone karena sebelumnya pernah rusak ketika dipinjam oleh teman sekelasnya. Apakah Putra bisa dikatakan pelit jika pada kesempatan berikutnya smartphonenya dipinjam kembali? Meskipun Putra sudah menjelaskan alasannya kepada anak yang akan meminjam.
Tentang futsal, saya punya cerita menarik, ada anak yang tidak bisa menendang dengan baik, lalu dia diejek “kalau nendang jangan kayak cewek, dasar banci!” (beberapa siswa laki-laki tersenyum)
Menjelaskan motif anak laki-laki dan perempuan dalam melakukan bullying kepada siswa sangatlah penting.
Karena dapat mengurai keyakinan yang salah.
No Pembentukan Kompetensi (30 menit) Keterangan
Tentang anak laki-laki yang rajin, saya juga punya cerita yang menarik. Sebut saja Putra, dia anak rajin dan pintar, dia suka mengerjakan tugas-tugas sekolah, banyak membaca buku, selalu menjawab pertanyaan guru, berlama-lama di perpustakaan, cara bicaranya seperti guru, dan selalu mengumpulkan tugas tepat waktu. Sepertinya sempurna ya??
Karena itu semua, alat tulisnya sering hilang, karena memakai kaca mata ia dijuluki kutu buku (nerd), ia terkadang disebut banci, karena rajin seperti anak perempuan, Ia sering dikunci di kamar mandi, kadang kepalanya dikeplak, dilempari kapur, dan didorong hingga jatuh. (beberapa siswa laki-laki tertawa kecil dan siswa perempuan tersenyum)
Ada juga yang karena alasan lain, misalnya Putra ini memiliki telinga yang besarnya berbeda. Nah, teman sekelasnya itu menggoda dengan memegang salah satu telinganya kemudian lari meninggalkan putra... (sambil penulis peragakan dan beberapa siswa laki-laki tertawa)
Apa alasan siswa laki-laki memperlakukan Putra seperti itu?
Apa motifnya? (tidak ada siswa yang merespons) Ada yang tahu?
Sering kali, jawaban pertama yang diberikan oleh anak laki- laki adalah karena Putra itu berbeda. Dan jika berbeda, maka Putra seperti perempuan atau sering kali kalian menyebutnya, banci, homo, maho (manusia homo) semacam ada kesalahan dalam berpikir. Apakah, Putra otomatis jadi perempuan kalau Putra tidak bisa nendang bola dengan sempurna? Apakah laki- laki tidak boleh rajin, pintar dan mencintai buku? Anak laki-laki sering kali sulit menerima perbedaan...
Pernah mendengar atau melihat kejadian yang saya ceritakan tadi? Atau setidaknya serupa? Siapa yang pernah melakukan itu atau pernah diperlakukan seperti itu? (semua siswa terdiam)
(Karena semua siswa diam, maka penulis memberikan stimulus lainnya). Semua contoh yang saya ceritakan tadi bisa dikatakan sebagai perilaku bullying. Tahukah anda bahwa perilaku bullying itu hanya dilakukan oleh sedikit siswa di sekolah? Tokoh utamanya itu hanya segelintir saja.
Survei mengatakan bahwa hanya 5% saja yang melakukan perbuatan tidak baik ini. Kabar baik bukan?? Respons siswa:
menganggukkan kepala dan mengatakan “baik...”. Tapi tunggu dulu, jika kabar baik mengapa bullying tidak pernah selesai hingga saat ini? Respons siswa: (semua siswa terdiam).
Yang menjadi masalah adalah sebanyak 95% siswa yang tidak membully ini hanya melihat saja dan tidak melakukan apa- apa. Tidak ada yang melapor atau bahkan melawan. Gimana, apakah ada yang mau bercerita?
No Pembentukan Kompetensi (30 menit) Keterangan Respons siswa:
Siswa A (laki-laki): Dulu ketika SD kelas 5 ada teman saya ketika pulang sekolah kantong bajunya dimasukkan mainan yang dapat meletus dan mengeluarkan cairan berwarna merah, entah lupa apa namanya. Terkadang juga dimasukkan cacing ke dalam bajunya. Penulis: Mengapa dia dibully?
Bagaimana perawakannya?
Siswa A: Anaknya kurus dan pendiam, dia nggak pandai berteman. Penulis: Seberapa sering ia diperlakukan seperti itu?
Siswa A: Ehm... bisa seminggu tiga kali.
Penulis: Kenapa nggak ketahuan guru?
Siswa A: Soalnya dikerjainya setelah keluar gerbang sekolah.
Penulis: Anaknya tidak melawan?
Siswa A: Nggak...
Penulis: Kenapa nggak melawan?
Siswa A: Ya nggak tahu.
Penulis: Ketika melihat itu apa yang kamu lakukan?
Siswa A: Ya diam aja.
Penulis: Kenapa tidak melapor?
Siswa A: Takut dibilang combe (jawa: suka membicarakan urusan orang lain)
Pengalaman yang diceritakan siswa A dan B mampu menghadirkan situasi nyata bullying di sekolah.
Siswa B (laki-laki): Ehm... Begini Pak, nama saya Raihan, waktu pelajaran di kelas, waktu itu guru tidak sedang di kelas, tapi semua anak mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru. Tiba-tiba saya mendengar ada anak yang memanggil saya, kayak agak berteriak gitu, mok semok (seksi)!! Saya kan bingung dan nggak ngerti, karena tidak merasa akhirnya saya abaikan. Tapi suara teriakan itu terus terdengar sampai sebagian anak di kelas tertawa. Sejak saat itu saya sering dipanggil dengan nama semok. Bokong saya ini agak besar (dengan suara lirih), tapi saya kan tidak minta dilahirkan seperti ini (sambil menitikkan air mata, dan seketika suasana kelas menjadi hening).
Selain itu, terdapat dampak pengiring yang muncul, yaitu beberapa siswa tersentuh hatinya dan menangis setelah mendengar. Artinya, ini dapat menjadi pembelajaran empati di kelas.
Observasi:
Beberapa siswa perempuan ada yang memerah matanya seperti ingin menangis, dan anak yang duduk di samping siswa B menepuk pundaknya seperti memberi dukungan) Penulis mengatakan “Ya sekarang anda bisa merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu. Raihan mendapatkan perlakukan seperti itu beberapa kali, jika satu kali saja telah menjadikan hatinya sakit, anda bisa bayangkan jika itu dilakukan berulang-ulang. Mari kita beri applaus untuk Raihan yang telah berani bercerita tentang pengalamannya, semoga setelah cerita ini kalian dengar tindakan itu tidak terulang kembali”.
No Pembentukan Kompetensi (30 menit) Keterangan
4.
Penulis mengatakan “Berbeda dengan anak perempuan, mereka lebih tertutup, perilakunya tidak nampak, mereka sering kali mengasingkan temannya, menggosip atau bahkan memfitnah. Rasanya lebih kejam ya??” (beberapa siswa perempuan tersenyum)
Saya punya kisah nyata, sebut saja Putri, siswi SMA berparas cantik, cukup pintar, sifatnya agak tomboi, jadi temannya banyak laki-laki daripada perempuan. Suatu saat, tiba-tiba ia dipanggil oleh kakak kelas dan disidang di ruang OSIS.
Kakak kelas itu dengan ketusnya berkata, “Eh kamu itu jangan sombong kalau sekolah di sini.” Putri menjawab, “Sombong gimana kak? Ya pokoknya nggak usah sombonglah. Putri bertambah bingung karena di ruangan itu ada sekitar 20 siswa yang melihatnya disidang, dan salah satunya adalah teman baiknya. Teman baiknya tidak membantu sedikit pun. Belakangan Putri tahu bahwa teman baiknya adalah biang dari penyidangan dirinya. Putri mendapat informasi dari beberapa temannya, setelah ia lulus dari SMA, bahwa temannya itu merasa iri dan cemburu kepada dirinya, karena Putri memiliki banyak teman laki-laki, disukai oleh kebanyakan siswa laki-laki dan dekat dengan beberapa guru. (beberapa siswa perempuan tersenyum)
5
Kesimpulan:
Jadi apa yang diyakini oleh anak laki-laki dan perempuan untuk melakukan perilaku bullying itu berbeda. Anak laki- laki melakukannya karena sulit untuk menerima perbedaan, sedangkan anak perempuan lebih dikarenakan iri hati dan cemburu.
Tabel 37. Aktivitas Uji Coba: Kegiatan Akhir
No Kegiatan akhir (5 menit)
1.
Penulis mengatakan:
Saya berharap kalian mendapatkan sesuatu dari aktivitas ini. Sadarilah bahwa kita sangat berbeda dalam berbagai hal. Kita tidak seharusnya menilai orang lain lebih rendah karena mereka berperilaku, berpikir aneh atau tidak seperti orang pada umumnya. Ini hanya contoh kecil bagaimana kita bisa berbeda. Terima kasih atas kerja samanya. Selamat siang!
Respons siswa: Selamat siang, Pak!