BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Kerangka Berpikir
2.3.3. Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan Disiplin Kerja Terjadap
Kinerja adalah suatu perbuatan yang diperoleh seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu Julius Kwart Siboro menunjukan bahwa secara simultan lingkungan kerja fisik dan disiplin kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai dengan uji F hitung > F tabel yaitu 34,361 > 3,12.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan kerangka berfikir mengenai pengaruh lingkungan kerja fisik dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia Jakarta Selatan :
H1
H
H2
H3 Lingkunga Kerja Fisik (X1)
1. Penerangan/Cahaya 2. Temperatur 3. Sirkulasi Udara 4. Keamanan 5. Dekorasi
Sumber : Sedarmayanti (2017:27)
Kinerja Karyawan (Y) 1. Kerjasama 2. Kuanlitas 3. Kuantitas 4. Ketepatan
Waktu 5. Kreativitas Sumber : Suparyadi (2015:313)
Disiplin Kerja (X2) 1. Menaati Peraturan 2. Kehadiran Tepat
Waktu
3. Tanggung Jawab 4. Tingkat Absensi Sumber : Hasibuan (2017 : 194)
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir 4. Pengembangan Hipotesis
Menurut Sugiyono (2018:63), “Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan”. Berdasarkan kerangka berpikir diatas, maka hipotesis yang dapat dikembangkan adalah:
H1 : Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik terhadap Kinerja Karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan
H01 = Diduga tidak terdapat pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap kinerja karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan
Ha1 = Diduga terdapat pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap kinerja karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan.
H2 : Pengaruh Disiplin Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan
H02 = Diduga tidak terdapat pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan.
Ha2 = Diduga terdapat pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan.
H3 : Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia Jakarta Selatan
H03 = Diduga tidak terdapat pengaruh lingkungan kerja fisik dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan.
Ha3 = Diduga terdapat pengaruh lingkungan kerja fisik dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, menurut Sugiyono (2018:8) penelitian kuantitatif adalah: "Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantutatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”. Penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu dimana penelitian mengambil sampel dari suatu populasi.
Metode survey digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah. Peneliti melakukan pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, test, wawancara terstruktur dan lain sebagainya.
Penelitian ini merupakan studi empiris yang bertujuan untuk menguji Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan, yang beralamat di Jl. Gotong Royong No.9A, RT.4//RW.6, Gandaria Utara, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12140.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penilitian dilaksanakan selama 5 bulan, yaitu dimulai sejak bulan April 2023 sampai dengan Agustus 2023.
Tabel 3. 1
No Jadwal Penelitian Apr 2023 Mei 2023 Jun 2023 Jul 2023 Agt 2023 Sept 2023 (Minggu) (Minggu) (Minggu) (Minggu) (Minggu) (Minggu) 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Pengajuan Judul
2 Observasi 3 Penyusunan 4 Seminar Proposal 5 Revisi Proposal 6 Penyebaran Kuisioner 7 Pengolahan Data 8 Penyusunan Data 9 Pengambilan
kesimpulan
3.3. Operasional Variabel Penelitian
Sugiyono (2018:63) berpendapat bahwa “operasional variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang objek atau kegiatan yang mempunyai variasi yang tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Operasionalisasi variabel diperlukan dalam menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam suatu penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar. Penelitian ini terdiri dari variabel independent (bebas) dan variabel dependen (terikat). Adapun penjelasan dari masing-masing variabel itu adalah sebagai berikut :
3.2.1. Variabel Bebas atau Independen (X1 dan X2)
Variabel bebas merupakan variabel stimulus atau variabel yang dapat mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas merupakan variabel yang diukur atau
dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi. Variabel bebas yang diteliti dalam penelitian ini meliputi :
1. Lingkungan Kerja Fisik (X1)
Menurut sedarmayanti (2017:60) berpendapat bahwa “lingkungan kerja fisik adalah semua yang terdapat pada sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi pegawai baik secara langsung maupun tidak langsung”. Adapun indikatornya meliputi : penerangan atau cahaya, temperatur, sirkulasi udara, keamanan dan dekorasi.
2. Disiplin Kerja (X2)
Menurut Hasibuan (2016:99) berpendapat bahwa “disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman organisasi’. Adapun beberapa indikator meliputi : Menaati peraturan, kehadiran tepat waktu, tanggung jawab dan tingkat absensi.
3.2.2. Variabel Dependen atau Terikat (Y)
Menurut Hasibuan (2018 : 34) mengemukakan bahwa kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan.
Secara rinci operasional variabel dalam penelitian ini dibuat tabel variabel, indikator dan nomor pertanyaan, seperti terlihat bawah ini:
Tabel 3. 2
Operasional Variabel Penelitian
Variabel Indikator No
Pernyataa n
Skala Lingkungan
Kerja Fisik (X1)
1. Penerangan/Cahaya 1,2 Likert
2. Temperatur 3,4
3. Sirkulasi Udara 5,6
4. Keamanan 7,8
5. Dekorasi 9,10
Sumber : Sedarmayanti (2017:27)
Disiplin
Kerja (X2)1. Menaati Peraturan 1,2 Likert
2. Kehadiran Tepat Waktu 3,4,5
3. Tanggung Jawab 6,7
4. Tingkat Absensi 8,9,10
Sumber : Melayu S.P. Hasibuan (2017:195)
Kinerja Karyawan (Y)
1. Kerjasama 1,2 Likert
2. Kuantitas 3,4
3. Kualitas 5,6
4. Ketepatan Waktu 7,8
5. Kreativitas 9,10
Sumber : Suparyadi (2015:313)
3.4. Populasi dan Sampel 3.4.1. Populasi
Menurut Sugiyono (2020:126) berpendapat bahwa, “populasi adalah keseluruhan subject yang akan diukur, yang merupakan unit yang akan diteliti”.
Maka dari itu, populasi yang menjadi target dalam penelitian ini adalah karyawan Pada PT Foresthree Waralaba Indonesia Jakarta Selatan 78 orang.
3.4.2. Sampel
Menurut Sugiono (2020:127) sampel merupakan bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan untuk penelitian. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling atau sampel jenuh atau juga disebut dengan sampel sensus, adalah teknik sampling yang dilakukan dengan
mengambil seluruh populasi, karena jumlah populasi adalah 78 karyawan maka semua populasi dijadikan sampel. Sample yang akan diteliti adalah 78 orang yang merupakan karyawan pada PT Foresthree Waralaba Indonesia Jakarta Selatan.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan upaya untuk mendapatkan informasi yang akan digunakan dalam pengukuran variabel. Menurut Sugiyono (2018:308) menyampaikan “metode pengumpulan data adalah cara ilmiah utuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat dibuktikan, dikembangkan suatu pengetahuan sehingga dapat digunakan memecahkan dan mengantisipasi masalah”.
3.5.1. Data Primer
Menurut Sugiono (2018:308) berpendapat bahwa “Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.”
1. Observasi
Menurut Sugiyono (2018:141) mengemukakan bahwa “observasi adalah proses yang tersusun dari berbagai proses sehingga diperoleh data berdasarkan fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi”. Dalam hal ini penulis melaksanakan pengamatan langsung terhadap Pada PT Foresthree Waralaba Indonesia di Jakarta Selatan dimana pengamatan terbatas pada pokok permasalahan sehingga perhatian lebih fokus kepada data (riil) dan relevan.
2. Kuesioner
Kuesioner merupakan sejumlah pertanyaan yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pernyataan kepada responden secara tertulis dengan tujuan
untuk mengetahui pendapat reponden yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Menurut Sugiyono (2018:142) berpendapat “kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien apabila peneliti tahu dengan siapa variabel akan diukur dan yang diharapkan responden”. Dalam penelitian ini kuesioner yang dibuat berupa pernyataan dengan jawaban mengacu pada skala likert.
3. Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2018:138) berpendapat “dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu”. Dokumen bisa berbentuk tulisan atau gambar. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang sejarah perusahaan, jumlah karyawan dan lain sebagainya.
4. Studi Kepustakaan
Menurut Sugiyono (2018:140) berpendapat “studi kepustakaan berkaitan dengan kajian teoritis dan referensi lain yang berkaitan dengan nilai, budaya dan norma yang diteliti dan penting dalam melakukan penelitian, hal ini dikarenakan penelitian tidak akan lepas dari literatur ilmiah”. Dalam penelitian ini studi kepustakaan dilakukan dengan mencari landasan teoritis yang berhubungan dengan judul penelitian.
3.5.2. Data Skunder
Data skunder merupakan data yang didapatkan tidak secara langsung, berupa keterangan maupun hal yang berkaitan dengan penelitian dan berfungsi untuk melengkapi atau mendukung data primer. Menurut Sugiyono (2019:131)
“Data skunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data”.
3.6. Teknik Analisis Data
Penelitian kuantitatif merupakan kegiatan pengumpulan data dari sumber- sumber yang diperoleh. Dalam analisis data berdasarkan variabel dan sejenisnya, mentabulasi berdasarkan variabel, menyajikan data berdasarkan variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, serta melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah:
3.6.1. Uji Instrument Data
Dalam suatu penelitian, data mempunyai kedudukan yang sangat penting.
Hal ini dikarenakan data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Valid atau tidaknya data sangat menentukan kualitas dari data tersebut. Hal ini tergantung instrumen yang digunakan apakah sudah memenuhi asas validitas dan reliabilitas. Adapun dalam pengujian instrumen ini digunakan 2 (dua) pengujian yaitu:
1. Uji Validitas
Valid adalah menunjukan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti. Sedangkan, menurut Ghozali (2016:52) Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.
Nilai tersebut dibandingkan dengan nilai r hitung > r tabel atau dapat juga dengan nilai chronbath alpa > standar kritis alpa, maka dikatakan valid. Untuk
menguji validitas setiap instrumen, rumus yang digunakan adalah koefisien kolerasi product moment sebagai berikut :
Sumber: Ghozali (2016:52)
Keterangan:
Rxy = Koefisiensi kolerasi antar X dan Y n = Jumlah responden
x = Skor item kuesioner y = Total skor item kuesioner
∑x² = Jumlah kuadrat seluruh skor X
∑y³ = Jumlah kuadrat seluruh skor Y
Dalam penelitian ini untuk menghitung tingkat validitasnya dilakukan dengan menggunakan software alat bantu SPSS versi 26, sehingga dapat diketahui nilai dari kuesioner pada setiap variabel bebas.
a. Apabila nilai r hitung> r tabel maka variabel tersebut valid a. Apabila r hasil< r tabel maka variabel tersebut tidak valid.
2. Uji Reliabilitas
Uji Reabilitas merupakan serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang. Menurut Ghozali (2016:47) menyatakan bahwa uji “reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu”.
𝑟𝑥𝑦 =
√{𝑛. ∑ 𝑥2 − (∑ 𝑥)2} {𝑛. ∑ 𝑦2 − (∑ 𝑦)2}
n (∑ xy) - (∑ 𝑥)(∑ 𝑦)
Untuk menghitung reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Cronbach Alpha atau Alpha (α). Sebagaimana menurut Arikunto (2015 : 223) cara menghitung tingkat reabilitas suatu data yaitu menggunakan rumus Cronbach Alpha sebagai berikut :
r11=
[
k−1k] [1−∑σ bσ12 2]
Sumber: Arikunto (2015 : 223)
Keterangan :
r11 = Koefisien reabilitas yang dicari n = Jumlah item pertanyaan yang diuji
∑σt2 = jumlah varian skor tiap item σt2 = varian total
Dalam penelitian ini untuk menghitung tingkat validitasnya dilakukan dengan menggunakan software alat bantu SPSS versi 26, sehingga dapat diketahui nilai dari kuesioner pada setiap variabel bebas.
Kriteria yang digunakan apabila suatu alat ukur mengahasilkan stabil, maka disebut alat ukur yang handal. Dalam pengukuran ini Cronbach’s Alpha dengan 0,600, dimana menurut ghozali (2018:238) berpedoman :
a. Jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,600, maka intrumen reliabel b. Jika nilai Cronbach’s Alpha < 0,600, maka intrumen tidak reliabel 3.6.2. Uji Asumsi Klasik
Menurut Singgih Santoso (2015:345) mengemukakan bahwa “sebuah
model regeresi akan digunakan untuk melakukan peramalan yang seminilal mungkin. Karena itu, sebuah model sebelum digunakan seharusnya memenuhi beberapa asumsi yang disebut dengan asumsi klasik”. Dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi dan heteroskedastisitas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Menurut Ghozali (2018 : 160) berpendapat “model regresi yang baik adalah berdistribusi normal atau mendekati normal”. Dengan demikian uji ini untuk memeriksa apakah data yang berasal dari populasi terdistribusi normal atau tidak. Data yang baik dan layak untuk memberikan model penelitian tersebut adalah data yang berdistribusi normal. Metode yang digunakan antara lain :
a. Metode Uji One Sample Kolmogorov Smirnov.
Menurut Sugiyono (2018:257) mengatakan bahwa uji normalitas dapat diuji dengan Kolmogorov Smirnov dengan rumus:
𝐾� = 1,36
√
n1+n2n1 + n2 Keterangan:
KD : Jumlah Kolmogorov-Smirnov yang dicari n1 : Jumlah sampel yang diperoleh
n2 : Jumlah sampel yang diharapkan
Data dikatakan normal dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Apabila nilai signifikansi < 0,05, maka data tidak berdistribusi normal.
2) Apabila nilai signifikansi > 0,05, maka data berdistribusi normal.
b. Metode Grafik.
Uji normalitas juga dapat dideteksi dengan melihat penyebaran pada (titik) pada sumbu diagonal pada grafik Probability Plot. Menurut Ghozali (2017:164) berpendapat bahwa dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi normalitas.
1) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi normalitas.
2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi normalitas.
2. Uji Multikolinieritas
Uji asumsi klasik multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui hubungan antar variabel bebas melalui penentuan korelasi. Ghozali (2018:105) berpendapat bahwa “uji multikolineritas bertujuan untuk menguji apakah pada model regeresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas”.
Menurut Singgih santoso (2015:234) mengemukakan bahwa “jika terbukti ada multikoliniterias, sebaiknya salah satu variabel bebas yang ada perlu dikeluarkan dari model, kemudian pembuatan model regresi diulang kembali”.
Adapun untuk mendeteksi ada tidaknya multikoliniteritas dalam model
regresi dapat dilihat dari VIP dengan rumus :
Sumber : Singgih Santoso (2015:234)
Dalam multikoliniteritas dalam model regresi dimana R2 adalah koefisien determinasi untuk model regresi di mana salah satu variabel bebas dijadikan variabel bebas dan salah satu variabel bebas dijadikan variabel terikat. Misalnya dalam hal ini adalah model regresi dimana waktu belajar digunakan sebagai variabel terikat dan motivasi digunakan sebagai variabel bebas.
Nilai VIF yang dihasilkan harus kurang dari 10. Lebih dari 10 dianggap multikolinear dan salah satu variabel ini harus dikeluarkan dari model regresi.
Kami merekomendasikan melakukan perhitungan VIF pada semua formasi regresi variabel independen. Toleransi mengukur variabilitas variabel independen yang dipilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Oleh karena itu, toleransi yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF = 1/Toleransi). Model regresi yang baik adalah model yang tidak terjadi multikolinearitas.
Dalam pengujian, menggunakan SPSS versi 26, sehingga dapat diketahui : a. Jika nilai tolerance lebih > 1 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) > dari
1, maka terjadi multikoliniteritas.
b. Jika nilai tolerance lebih < 1 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) < dari 1, maka tidak terjadi multikoliniteritas.
3. Uji Autokorelasi
Untuk mendeteksi gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan pengujian Durbin-Wtson (d). Hasil Durbin-Watson (d) dibandingkan dengan nilai d tabel pada α=0,05. Tabel d memiliki dua nilai yaitu nilai batas atas dan nilai batas bawah untuk berbagai bilai n dan k.
4. Uji Heterokedastisitas
Uji asumsi klasik heteroskedasitisitas menurut Ghozali (2018 : 139) ber pendapat “uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari suatu residual pengamatan ke pengamatan lain”.
3.6.3. Analisis Deskriptif
Metode destkriptif merupakan data yang digunakan dengan mengadakan pengumpulan data dan menganalisa sehingga diperoleh deskripsi, gambaran atau fenomena yang diteliti.
a. Pembuatan Skala Likert
Dalam penelitian ini, untuk pembobotan data peneliti menggunakan skala pengukuran. Menurut Sugiono (2019 : 145) “skala pengukuran merupakan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur sehingga apabila digunakan akan menghasilkan data kuantitatif”.
Pendapat tersebut dipertegas oleh Sugiono (2019:149) bahwa “Skala likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial”. Dengan
menggunakan skala likert maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel dan indikator tersebut dijadikan acuan dalam menyusun pertanyaan maupun pernyataan. Dalam penelitian fenomena sosial ini variabel telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti. Dalam penelitian ini skala likery dan nilai (scoring) yang digunakan sebagai berikut :
Tabel 3. 3 Skala Likert
Alternatif Jawaban Disingkat Bobot
Sangat Setuju SS 5
Setuju S 4
Kurang Setuju KS 3
Tidak Setuju TS 2
Sangat Tidak Setuju STS 1
Sumber : Sugiyono (2018:92)
Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif.
b. Skala Interval
Setelah dibuat skala likert dan skala nilainya (scoring), selanjutnya dicari rata-rata dari setiap jawaban responden. Untuk memudahkan penilaian rata-rata tersebut, maka digunakan skala interval. Sedangkan skala interval itu sendiri menurut Istijanto (2014:83), adalah ”Skala yang memiliki urutan dan memiliki interval atau jarak yang sama antara kategori atau titik-titik terdekatnya”. Untuk memudahkan penilaian rata-rata tersebut maka digunakan interval, untuk menentukan panjang kelas interval, menurut Sudjana, Nana (2011:47) digunakan rumus :
P= R K
Sumber : Sudjana (2011:47)
Keterangan :
P = Panjang Kelas Interval m = Banyak Kelas
n = Rentang ( data terbesar - data terkecil) Jadi panjang kelas interval adalah = 0,8
Hasil dari perhitungan rentang skala tersebut akan digunakan sebagai dasar interpretasi penilaian rata-rata untuk setiap indikator pada variabel penelitian. Penilaian tersebut dimuat dalam bentuk indeks rata-rata yang telah dimodifikasi yaitu sebagai berikut:
Tabel 3. 4 Rentang Skala
Skala Interval Kategori
1,00 – 1,79 Sangat Rendah atau Sangat Buruk
1,80 – 2,59 Rendah atau Buruk
2,60 – 3,39 Cukup atau Sedang
3,40 – 4,19 Tinggi atau Baik
4,20 – 5,00 Sangat Tinggi atau Sangat Baik 3.6.4. Analisis Regresi
Analisis regresi merupakan suatu metode atau teknik analisis hipotesis penelitian untuk menguji ada tidaknya pengaruh antara variabel satu dengan variabel lain, yang dinyatakan dalam bentuk persamaan matematik (regresi).
Adapun tahapan analisis yang dilakukan adalah:
1. Analisis Regresi Linier Sederhana
Analisis regresi digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel independen dan dependen. Menurut Sugiyono (2018:277)
berpendapat bahwa “Regresi linier sederhana digunakan untuk mengestimasi besarnya koefisien yang dihasilkan dari persamaan yang bersifat linier baru variabel bebas untuk digunakan sebagai alat prediksi besarnya variabel tergantung”. Adapun persamaan regresi linier sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:
Sumber: Sugiyono (2018:277)
Keterangan :
Y = Variabel terikat (dependen atau variabel yang diduga) X = Variabel bebas (independen)
a = Intersep (konstan) (nilai Y bila X = 0 disebut titik intercept
b = Koefisien arah regresi linier untuk mengukur besarnya pengaruh Y 2. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi liner berganda merupakan suatu teknik statistika yang digunakan untuk mencari persamaan regresi yang bermanfaat untuk meramal nilai variabel dependen berdasarkan nilai-nilai variabel independen dan mencari kemungkinan kesalahan dan menganalisa hubungan antara satu variabel dependen dengan variabel independen secara bersama-sama. Menurut Sugiyono (2019:213) berpendapat “analisis regresi digunakan untuk melakukan prediksi bagaimana perubahan nilai variabel dependen bila nilai variabel independen dinaikan/diturunkan”. Model hubungan ini disusun dalam fungsi atau persamaan regresi ganda sebagai berikut:
Y + a + bx
Sumber : Sugiyono (2019:213)
Keterangan:
a = Bilangan konstanta Y = Variabel dependen
b = Koefisien regresi masing-masing variabel X = Variabel Independen
έ = Disturbance’s error / variabel pengganggu 3. Analisis Koefisien Korelasi
Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara korelasi kedua variabel dimana variabel lainnya yang dianggap berpengaruh dikendalian atau dibuat tetap. Sebagai bahan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan besar atau kecilnya, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagai berikut :
Tabel 3. 5
Pedoman Interperasi Koefisien Korelasi
Nilai Koefisien Korelasi Tingkat
Hubungan
0,000 – 0,199 Sangat Rendah
0,200 – 0,399 Rendah
0,400 – 0,599 Sedang
0,600 – 0,799 Kuat
Y = a + b1X1 + b2X2 + έ
0,800 – 1,000 Sangat Kuat
Sumber: Sugiyono (2019 :184)
4. Analisis Koefisien Determinasi
Analisis koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial atau simultan. Menurut Sugiarto (2022:215) “Koefisien determinasi menunjukkan tingkat kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih. Keputusan yang dijelaskan dengan keragaman variabel bebas menghitung koefisien determinasi dengan asumsi yang mendasari faktor – faktor lain faktor dalam variabel eksternal dianggap konstan”.
Rumus yang digunakan dalam analisis ini menentukan besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat, yang dapat dihitung dengan suatu koefisien yang disebut koefisien determinasi, dan dirumuskan sebagai berikut:
Sumber : Sugiarto (2022:215)
Keterangan :
Kd = Koefisien Determinasi
r = Koefisien Korelasi antara variabel bebas dan terikat (yang dikuadratkan) 100% = Pengalian yang dipresentasikan
Kd = r2 x 100%
Dalam pengujian ini, menggunakan SPSS versi 25. Spesifikasi besarnya koefisien determinasi (Kd) antara 0 (nol) dan 1 (satu) diartikan sebagai berikut:
a. Jika keputusannya 0 = berarti tidak ada hubungan antara Variabel X1 dan X2
(bebas) dan variabel Y (terikat).
b. Jika putusannya adalah 1 = berarti keakuratan estimasi model sangat sesuai.
5. Uji Hipotesis
Uji hipotesis merupakan uji untuk menentukan apakah suatu hipotesis sebaiknya diterima atau ditolak. Menurut Sugiono (2019:213) mengemukakan bahwa “hipotesis penelitian yang akan di uji dalam penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang diajukan, tetapi perlu diketahui bahwa setiap penelitian tidak harus berhipotesis, namun harus merumuskan masalahnya.”
Dengan demikian hipotesis penelitian dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul dan harus di uji secara empiris. Maka hipotesis dilakukan melalui : a. Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Uji parsial atau uji t merupakan uji bagaimana pengaruh dari masing- masing variabel bebas secara sendiri-sendiri terhadap variabel terikat. Uji t ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regeresi veriabel independen (X) secara persial berpengaruh terhadap variabel dependen (Y) pada tingkat kepercayaan 95%. Dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut :