• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Pencatatan Pernikahan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

3. Konsep Pencatatan Pernikahan

29

9

utang piutang dan mendatangkan saksi dihadapan pihak ketiga yang dipercaya. Selain itu, ayat ini juga menekankan perlunya menulis utang

27Q.S. Al-Baqarah [2]: 282.

walaupun hanya sedikit, disertai dengan jumlah dan ketetapan waktunya.

bertujuan untuk menghindarkan terjadinya sengketa dikemudian hari.28 Dengan mencermati dan mengkaji surat Al-Baqarah ayat 282 di atas yang berisikan sebuah anjuran untuk melakukan penulisan atau pencatatan terkait utang piutang. Bahkan sebagian besar atau jumhur ulama berpendapat bahwa anjuran tersebut dapat dikategorikan bersifat wajib dalam melakukan pencatatan utang piutang serta keberadaan saksi yang dapat dipercaya sebagai pihak ketiga untuk memperkuat pencatatan tersebut.

Dari ayat tersebut juga dapat dilakukan penarikan hukum (istinbâth) dengan model qiyâs aulâwi, yaitu suatu perkara yang tidak ditegaskan dalam teks, namun lebih utama hukumnya daripada yang ditegaskan. Melalui analisis qiyâs aulâwi), jika perjanjian yang berhubungan dengan harta dan utang piutang saja sangat dianjurkan untuk dicatatkan di atas hitam dan putih, apalagi masalah yang terkait dengan pernikahan sebagai suatu ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan yang disebut dalam al-Qur’an sebagai mitsâqan ghalîzhan dengan tujuan membina keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, tentu saja perkara ini lebih utama untuk dilakukan pencatatannya.

28M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2004), 602.

b. Pencatatan Pernikahan dalam Hadits

Tidak adanya nash yang secara eksplisit menyebutkan tentang pencatatan nikah yang menyebabkan pencatatan tidak dimasukkan sebagai salah satu rukun nikah. Oleh sebab itu keberadaan hadis tentang perintah untuk mengumumkan pernikahan sebaiknya dipahami secara luas di masa sekarang ini karena munculnya problematika dalam perkawinan yang membutuhkan nalar kemaslahatan untuk menetapkan suatu hukum.

Hadits secara tersurat dan tekstual memang tidak pernah mengatur tentang adanya kewajiban pencatatan pernikahan. Namun jika mencermati sejumlah hadits sebagai sumber otoritatif yang menjelaskan tentang kewajiban untuk mentaati pemerintah atau pemimpin (ulil amri) beserta produk hukumnya dapat dilihat pada hadis-hadis berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu

‘alaihi wa sallam ia bersabda:

ُ ف ق

د ُ ر ُ ي ُ م ُ ع ُ ُ ا ل ُ

ُ ي ط

ن ُ و

م لل ى صع د ُ ف ق

ي ُ ُ ي

ُ ع ص ن

ُ و نم لل

د ُ أ ط ا ع ف ق

ُ ن أ ط ا

ُ ع

ُ ن ي م

ُ ا ل ُ م ُ ي ُ ر ُ

ُ ف

ُ ق د ع ا ص ن ُ ي ُ

أ ط ا

ُ ع

ُ ن ي

ُ و

ُ م ُ ي ن

ُ ع ص

Barang siapa yang mentaati aku sungguh ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku.29

Dari Auf bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa

31

31 sallam ia bersabda,

29HR. Muslim No. 1835.

خ ي ا ر أئ م ت ك م ا ل ذ ي ن ت ح ب و نه م و ي ح ب و ن ك م و ي ص ل ن و ع ل ي ك م و ت ص ل ن و ع ل ي ه م

و ش ر ار أ ئ م ت مك ا ل ذ ي ن ت ب غ ض و ن ه م و ي ب غ ض و ن مك و ت ل ع ن و ن ه م و ي ل ع ن و ن ك م ق ي ل ي ا

ر س ل و لل أ ف ال ن ن ا ب ذ ه م اب ل س ي ف ف ق ا ل ل ُ م ا ا ل ص ا ل ة و ا إذ ر أ ي ت م م ن و ل ُ ت ك م

ائيش ركت ه و ن ه ف ا رك ه و ا ع م ل ه و ل ُ ت ن ز ع و ا ادي م ن ط ا ع ة

Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai, dan mereka pun mencintai kalian. Kalian mendo’akan mereka, mereka pun mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci, mereka pun benci kepada kalian. Kalian pun melaknat mereka, mereka pun melaknat kalian”. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah apakah kita perangi saja mereka dengan senjata?”. Nabi menjawab,

“Jangan, selama mereka masih shalat. Bila kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka cukup bencilah perbuatannya, namun jangan kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan kepadanya.30

Secara konseptual, kewajiban untuk patuh kepada aturan yang dilahirkan pemerintah, di antaranya dapat didasarkan pada perintah taat kepada ulil amri (pemerintahan). Para ulama memberi batasan bahwa, wajib mematuhi ulil amri selama ketentuan yang dilahirkannya berisi yang makruf dan mencegah yang munkar.

Sebelum menjelaskan kekuatan produk hukum ulil amri, perlu diutarakan pengertian produk hukum ulil amri yang penulis maksudkan, agar tidak terdapat perbedaan persepsi antara penulis dengan pembaca mengenai term ulil amri dalam tulisan ini. Produk hukum ulil amri di sini adalah berbagai peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah khususnya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Yakni kewajiban pencatatan perkawinan/larangan nikah sirri.

30HR. Muslim No. 1855.

33

31

Dalam pandangan penulis pencatatan pernikahan dapat dianalogikan kepada perintah atau kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah yang mengandung banyak kemaslahatan. Oleh sebab itu, penjelasan dari hadis-hadis Rasulullah di atas wajib dilaksanakan dalam hal mentaati pemerintah.

c. Pencatatan Pernikahan dalam Kaidah Fiqih

Sejalan dengan perkembangan zaman dengan dinamika yang terus berubah maka banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi. Pergesaran kultur lisan (oral) kepada kultur tulis sebagai ciri masyarakat modern, menutut dijadikannya akta, surat sebagai bukti autentik. Saksi hidup tidak bisa lagi diandalkan tidak saja karena bisa hilang dengan sebab kematian, manusia dapat juga mengalami kelupaan dan kesilapan. Atas dasar ini diperlukan sebuah bukti yang abadi itulah yang disebut dengan akta.31 Dengan demikian salah satu bentuk pembaruan hukum kekeluargan Islam adalah dimuatnya pencatatan perkawinan sebagai salah satu ketentuan perkawinan yang harus dipenuhi. Dikatakan pembaruan hukum Islam karena masalah tersebut tidak ditemukan didalam kitab-kitab fiqih ataupun fatwa-fatwa ulama.32

31Amir Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta:

Kencana, 2004), 121.

32Amiur Nuruddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fiqih UU No 1/1974 sampai KHI (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004), 121-122.

Dengan memahami apa yang termuat dalam penjelasan umum dapat dikatakan bahwa pencatatan pernikahan memiliki suatu tujuan yang sangat mulia untuk menjadikan suatu peristiwa pernikahan sebagai suatu yang sakral menjadi jelas dan baik serta memiliki kekuatan hukum, baik bagi yang bersangkutan (pasangan mempelai) maupun pihak lain.

Pencatatan ini dapat dibaca dalam suatu surat resmi (legal) serta termuat dalam suatu daftar khusus yang disediakan untuk keperluan itu, sewaktu- waktu dapat dipergunakan bilamana diperlukan dan dapat digunakan sebagai alat bukti otentik, bahkan dengan surat bukti tersebut dapat dibenarkan ataupun dicegah suatu perbuatan lainnya.33

Berkenaan dengan kebijakan pemimpin (pemerintah), itu sejalan dengan kaidah fikih yang menyatakan:

ز ا ُ م ُ

ُ و

ُ ي

ُ ر ُ ع ف

ُ ا ل خ ُ لا ُ ف

ُ

ُ ح ُ ك م

ُ ا

ُ ل

ُ حا ك م ُ إ ُ

ُ ل

Keputusan pemerintah bersifat mengikat dan menghilangkan perbedaan.34

Berdasarkan kaidah di atas terkait keharusan mencatat peristiwa pernikahan merupakan keputusan pemerintah yang termuat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku yang sangat sejalan dan tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Hukum Islam. Dengan adanya pencatatan pernikahan, maka pasangan suami isteri memiliki status hukum

33Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Yogyakarta: Liberty, 1982), 65.

34Al-Imam Jalaluddin ‘Abd Al-Rahman ibn Abi Bakri As-Suyuti, Al-Asbah wa an-Nazahir

35

31

fi al-Furu‘ (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), 277.

yang jelas, dan menghilangkan berbagai macam bentuk kemudaratan seperti ketidakpastian status bagi wanita dan anak-anak akan dapat dihindari.

Dengan pertimbangan ini, maka persyaratan yuridis formal seperti kewajiban mencatatkan perkawinan yang dibuat oleh Pemerintah dalam Undang-Undang Perkawinan untuk kepentingan bersama tujuannya untuk menjaga kemaslahatan rakyatnya adalah perbuatan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, bahkan hal tersebut sangat dianjurkan karena akan membawa manfaat kepada semua pihak terutama kepada kedua mempelai dan keturunannya kelak.

d. Pencatatan Pernikahan dalam Undang-Undang

Zainuddin Ali mengemukakan bahwa, Pencatatan pernikahan merupakan suatu hal yang dilaksanakan oleh pejabat Negara berwenang terhadap pencatatan peristiwa pernikahan dimana dalam hal ini Pegawai Pencatat Nikah (PPN) yang melangsungkan pencatatan, ketika akan melangsungkan suatu akad perkawinan antara calon suami dan isteri.35 Sementara Kharlie mengemukakan bahwa: Pencatatan perkawinan (nikah) akan menjadi salah satu upaya meningkatkan ketertiban dan kenyamanan setiap individu dalam melakukan hubungan hukum, sehingga secara islami tujuan perkawinan akan terwujud pula, dimana Islam kali pertama datang

2006), 26.

35Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Cetakan ke-3 (Jakarta: Sinar Grafika,

35

35

menghancurkan semua bentuk perkawinanyang mengarah kepada spesies manusia.36 Dari beberapa pendapat tersebut dapat diketahui bahwa pencatatan nikah adalah suatu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketertiban hukum setiap individu dalam peristiwa nikah.

Pencatatan pernikahan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Bab II tentang Pencatatan Perkawinan Pasal 2 s/d Pasal 9.

Secara spesifik pada Pasal 2 Ayat (1) sampai dengan (3) disebutkan:

(1) Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk. (2) Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat perkawinan pada kantor catatan sipil sebagaimana dimaksud dalam berbagai perundang- undangan mengenai pencatatan perkawinan. (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan yang khusus berlaku bagi tatacara pencatatan perkawinan berdasarkan berbagai peraturan yang berlaku, tatacara pencatatan perkawinan dilakukan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 9 Peraturan Pemerintah ini.37

Selanjutnya pencatatan pernikahan diatur juga dalam Kompilasi Hukum Islam Bab II tentang Dasar-Dasar Perkawinan Pasal 5 Ayat (1) dan (2) yang menyatakan:

36Ahmad Tholabi Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, Cetakan ke-1 (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), 188.

37Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Bab II tentang Pencatatan Perkawinan Pasal 2 s/d Pasal 9.

(1) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat; (2) Pencatatan perkawinan tersebut apada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN) sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1946 jo Undang- Undang No. 32 Tahun 1954.38