BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori dan Konsep
4. Konsep Perkara di Peradilan
Tahun 2009 ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka. Dalam penjelasan terhadap pasal 1 tersebut disebutkan bahwa kekuasaan hakim bebas dari segala campur tangan pihak kekuasaan extra judisial kecuali dalam hal-hal yang diatur dalam Undang-Undang Dasar NKRI Tahun 1945, sedangkan pasal 3 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009, menegaskan hakim harus bersikap mandiri.
4) Prinsip pengadilan tidak boleh menolak perkara. Prinsip ini tertuang dalam pasal 10 ayat (1) yang menyatakan bahwa pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.
5) Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Prinsip tersebut di atas dimaksudkan agar putusan hakim dapat sesuai dengan hukum dan rasa keadilan bagi masyarakat.
perbedaannya, terlebih dahulu kami akan menjabarkan pengertian dari masing-masing hukum tersebut.
a. Pengertian hukum pidana
Lemaire, (dalam Lamintang, 2013: 2) memberikan definisi hukum pidana sebagai berikut:
Hukum pidana itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusan- keharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk undang- undang) telah dikaitkan dengan suatu sanksi berupa hukuman, yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma-norma yang menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu di mana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadaan bagaimana hukuman itu dapat dijatuhkan, serta hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut.
Selain tu, Moeljatno, (dalam Eddy O.S. Hiariej, 2014), memberikan definisi hukum pidana sebagai berikut:
Hukum pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara yang mengadakan dasar-dasar dan mengatur ketentuan tentang perbuatan yang tidak boleh dilakukan, dilarang yang disertai ancaman pidana bagi barang siapa yang melakukan.
Kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan itu dapat dikenakan sanksi pidana dan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan.
Kansil, (1989: 257) juga memberikan definisi hukum pidana, yaitu:
Hukum yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan mana diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan.
Berdasar pada definisi-definisi tersebut, dapat ditarik simpulan bahwa hukum pidana merupakan ketentuan yang mengatur tindakan apa
yang tidak boleh dilakukan, di mana saat tindakan tersebut dilakukan terdapat sanksi bagi orang yang melakukannya. Hukum pidana juga ditujukan untuk kepentingan umum.
b. Pengertian hukum perdata
Subekti, (2003: 9) menyatakan bahwa hukum perdata dalam arti luas meliputi semua hukum privat materil, yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan. Mengenai hukum perdata yang dijelakan Subekti (2003:16-17) antara lain:
Hukum perdata dibagi dalam empat bagian yaitu:
1) Hukum tentang diri seseorang, memuat peraturan-peraturan tentang manusia sebagai subyek dalam hukum, peraturan- peraturan perihal kecakapan untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak-haknya itu serta hal-hal yang mempengaruhi kecakapan-kecakapan itu.
2) Hukum keluarga, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan, yaitu: perkawinan beserta hubungan dalam lapangan hukum kekayaan antara suami dan isteri, hubungan antara orang tua dan anak, perwalian dan curatele.
3) Hukum kekayaan, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang dapat di nilai dengan uang. Jika kita mengatakan tentang kekayaan seseorang, yang dimaksud ialah jumlah segala hak dan kewajiban orang itu, dinilai dengan uang.
4) Hukum waris, mengatur hal tentang benda atau kekayaan seorang jikalau ia meninggal. Juga dapat dikatakan, hukum waris itu mengatur akibat-akibat hubungan keluarga terhadap harta peninggalan seseorang.
Kansil, 1989 menerangkan mengenai definisi dari hukum perdata, yaitu:
Rangkaian peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan antar orang yang satu dengan yang lain, dengan menitikberatkan kepada kepentingan perseorangan.
Jadi kesimpulan dari definisi hukum perdata adalah mengatur tentang kepentingan perseorangan dan hubungan hukumnya dengan orang lain. Penjelasan tersebut dapat memaparkan perbedaan hukum pidana dan hukum perdata, sehingga pada dasarnya hukum pidana bertujuan untuk melindungi kepentingan umum, misalnya yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang memiliki implikasi secara langsung pada masyarakat secara luas (umum), apabila suatu tindak pidana dilakukan, berdampak buruk terhadap keamanan, ketentraman, kesejahteraan dan ketertiban umum di masyarakat.
Hukum pidana sendiri bersifat sebagai ultimum remedium (upaya terakhir) untuk menyelesaikan suatu perkara. Karenanya, terdapat sanksi yang memaksa yang apabila peraturannya dilanggar, yang berdampak dijatuhinya pidana pada si pelaku. Berbeda dengan hukum pidana, hukum perdata sendiri bersifat privat, yang menitikberatkan dalam mengatur mengenai hubungan antara orang perorangan, dengan kata lain menitikberatkan kepada kepentingan perorangan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa akibat dari ketentuan-ketentuan dalam hukum perdata yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Per) hanya berdampak langsung bagi para pihak yang terlibat, dan tidak berakibat secara langsung pada kepentingan umum.
5. Teori Statemen Analysis
Statement analysis adalah ilmu yang digunakan untuk mendeteksi potensi-potensi kebohongan dalam perilaku bahasa, metode ini sudah
dipakai di Jerman pada tahun 1954 pertamakalinya oleh psikolog Jerman bernama Udo Undeutch. Hingga tahun 1955, pengadilan di Jerman Barat mewajibkan penggunaan wawancara statement analysis dan penilaian kredibilitas dalam kasus yang disengketakan. Kemudian dikembangkan di Indonesia oleh Guruh Taufan dalam kuran waktu kurang lebih 10 tahun saat ini. Mark Mcclish mendefinisikan statement analysis adalah proses menganalisis tuturan baik lisan maupun tertulis untuk mengetahui apakah seseorang berbohong (Guruh Taufan, 2018: 31).
Definisi di atas dapat disimpulkan bahwa statement analysis merupakan metode yang ampuh dalam menganalisis kebohongan atau kejujuran berbahasa manusia baik lisan maupun tertulis. Terkadang dalam persidangan pada saat berkomunikasi antara hakim dan saksi, yang tampak tidak sesuai dengan yang terselubung, begitu pun sebaliknya.
Statement analysis sebagai sistem analisis untuk mendeteksi kebohongan diterapkan menggunakan dua puluh satu kriteria formal. Jadi dalam menganalisis bohong atau jujurnya saksi peneliti menggunakan 21 kriteria yakni sebagai berikut:
1. Frase syarat tindakan
Frase syarat tindakan merupakan ungkapan dari sebuah tindakan yang memenuhi syarat telah melakukan tindakan, namun belum tentu dilakukan. Frase sayarat tindakan ini patut menjadi bahan perhatian, terutama jika disampaikan pada pernyataan di waktu lampau.
2. Frase makna khusus
Kata-kata berikut ini dapat dikategorikan sebagai frase makna khasus: a) tidak pernah; b) pengecualian; c) hanya-digunakan sebagai upaya meminimalkan sesuatu; d) sih –mengindikasikan keraguan; dan e) mungkin –mengindikasikan ketidak pastian.
3. Pembangun persepsi
Kalimat pembangun persepsi merupakan kalimat yang memberikan persepsi jujur terhadap orang lain dengan gaya “memaksa”
4. Pemberi sifat pembanding
Pemberi sifat pembanding merupakan bentuk kalimat yang memilki pembanding lainnya. Ragam bentuk pola kalimatnya: a) “pada umumnya”;
b) “pada dasarnya”; c) “seringnya”; dan d) “biasanya”.
5. Eufemisme kata kerja: bobot kata kerja
Eufemisme kata kerja menunjukkan adanya perbedaan bobot pada sebuah kata kerja, contoh:
Soft tone strong tone Mengatakan menceritakan
Meminta merampas
Melihat mengamati
6. Kata ganti jamak
Kata ganti jamak merupaka kata yang terdiri dari “kami” dan “kita”
yang menunjukkan kebersamaan.
7. Kata ganti nama; mengganti kata ganti untuk nama
Seseorang yang hanya dapat menyebutkan jabatan atau gelar orang lain saja, maka orang tersebut tidak memiliki kedekatan hubungan.
Kriteria ini dapat juga disebut dengan social introduction.
8. Menghilangkan kata “saya”
Seseorang yang sensitif dengan pertanyaan yang diajukan misalnya mengurutkan suatu kejadian tanpa sadar tidak melibatkan dirinya.
9. Berlebihan kata “ saya”
Kebalikan dengan kriteria sebelumnya, di dalam kriteria ini, responden justru terlalu banyak menggunakan kata saya dalam satu kalimat. Responden ini sedang gelisah ketika diberikan pertanyaan.
10. Perubahan kata ganti pemilik
Contoh bentuk pola kalimatnya: “maaf pak, laporan terlambat. Tas saya hilang, padahal berisi dokumen-dokumen dan uang yang harus saya setorkan ke perusahaan. Tas itu berwarna coklat. Kebetulan saya naik motor waktu membawa tasnya.” Perubahan kata ganti pada kalimat tersebut mengindikasin bahwa responden menjauhkan diri terhadap kepemilikan tas tersebut. Pada awalnya masih mengakui tasnya, yang berikutnya mulai menjauhkan (tas itu), dan terakhir menjadikan tas tersebut tidak jelas pemiliknya.
11. kata pengakuan; kesediaan menerima hukuman
Contoh pola kalimatnya: “kalau saya bersalah, saya siap menerima hukuman apa pun, tapi buktikan dulu.” Pada pernyataan tersebut, responden tanpa sadar sudah mengakui kesalahannya, dan dia butuh orang lain untuk membuktikannya. Sering kali jawaban seseorang itu menunjukkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan orang lain, misalnya dua orang sedang bermain tebak-tebakan. “coba tebak kartunya ada di tangan yang mana?” kata si A, sambil menyembunyikan kartu tersebut di salah satu tangan kirinya tanpa sepengetahuan si B. “sebelah kiri,” kata si B. Kemudian si A bertanya, “apa alasannya memilih kiri?”, nah pertanyaan si A tentang alasan tersebut justru membocorkan jawaban, karena kartunya yang disembunyikan merasa tertebak oleh si B.
12. Rentang waktu; melompati waktu suatu kejadian
Contoh bentuk pola kalimatnya: “tiba-tiba ada angin kencang, kemudian buku-buku yang di rak berjatuhan.” Pada kalimat di atas, masih ada kemungkinan informasi tersebut bisa digali lebih dalam, misalnya dengan bertanya, “setelah ada angin kencang dan sebelum buku-buku di rak berjatuhan, ada kejadian apa?
13. Emosi yang janggal
Saat seseorang mengungkapkan emosinya di dalam sebuah cerita, biasanya dilakukan sesuai dengan konteksnya. Mengungkapkan emosi dengan kalimat yang setengah-setengah adalah sebuah basa-basi.
14. Kalimat pasif
Salah satu presuposisi statement analysis adalah “ a truthfully comes from memory”, yang memiliki makna kebenaran datangnya dari memori (ingatan), berarti bukan datang dari pikiran. Kalimat pasif merupakan buah dari pikiran, kerena mengatur kata-kata atau kalimat.
15. Kata benda tertentu: membedakan benda yang sudah jelas eksistensinya dan yang belum.
Contoh : a) Sebuah buku tidak sama dengan buku itu (tersebut); b) Suatu ruangan tidak sama dengan ruangan itu (tersebut); dan c) “saya bertemu dengan Mirna sambil membawa Tas.” Kalimat di atas menunjukkan bahwa ada peluang untuk bertanya kepada responden, karena tas yang dia sebut belum jelas. Tas milik siapa? Warna apa?
Bentuknya seperti apa?.
16. kata tunjuk; “ini” menunjukkan kedekatan, “itu” menunjukkan jaga jarak Contoh bentuk pola kalimatnya: “di saat saya sedang berkemas, orang ini tiba-tiba datang mendekat dan memukul saya. Saya tidak kenal orang ini.” Pada kalimat tersebut menunjukkan kedekatan dengan syaratnya bahwa orang yang ditunjuk tidak berada di dekatnya, sehingga responden diguga sudah mengenal orang yang bersangkutan.
17. Kata kasar
Kata kasar dapat menjadi lazim ketika seorang korban menceritakan kejadian yang dialaminya. Frase kata kasar ini juga
merupakan bentuk strong tone seperti yang dijelaskan tentang eufemisme kata kerja.
18. Tanpa sinonim
Sinonim adalah persamaan kata. Seseorang yang memberikan pernyataan menggunakan sinonim berarti dia sedang menggunakan pikirannya, bukan menggunakan ingatannya (memori). Hal ini bisa menjadi bahan perhatian jika orang ini sedang memberikan pernyataan tentang kejadian lampau. Sesuai dengan presuposisi “ a truthfully comes from memory.”
19. Kronologi tidak urut
Seorang penyidik atau pewawancara biasanya menanyakan kronologi suatu peristiwa. Responden diharuskan menjawab sesuai urutan peristiwa. Namun seseorang yang gelisah dapat memberikan kronologi suatu kejadian yang tidak urut.
20. Urutan pertama
Ketika seseorang menyampaiakan suatu urutan, urutan yang pertama disebutkannya adalah yang ada di dalam prioritas ingatannya.
Salah satu presuposisi statement analysis adalah “people word’s will betray them” yang memiliki makna kata-kata dapat mengkhianati diri sendiri. Jadi jika pernyataan ini diucapkan maka pikirannya sudah terbaca.
21. Kalimat bermakna; makna lain dalam suatu pernyataan
Setiap pernyataan yang disampaikan memiliki sebuah makna.
Tanyakan kepada diri sendiri, mengapa orang tersebut mengatakan hal itu, atau mengapa dia menyisipkan suatu pernyataan itu ke dalam apa yang sedang dia ceritakan.
C. Kerangka Pikir
Kerangka pikir dibuat untuk memudahkan peneliti melakukan penelitian yang akan dilaksanakan, serta membatasi masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini. Hal ini dilakukan agar penelitian tidak menjurus ke arah yang lebih luas. Berdasarkan uraian dan tinjauan pustaka di atas, berikut ini akan diuraikan kerangka berpikir sebagai landasan dalam membahas masalah dan untuk mengerahkan penelitian dalam mengumpulkan data, mengolah data, dan memecahkan masalah.
Adapun landasan berpikir dan kerangka berpikir yang dimaksud ialah mengkaji makna linguistik forensik dalam proses persidangan dengan memerhatikan tindak tutur serta statement analysis kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar.
Bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang dijadikan penulis sebagai landasan berpikir selanjutnya. Landasan berpikir yang dimaksud akan mengarahkan penulis untuk menentukan data dan informasi dalam penelitian ini guna memecahkan masalah yang telah dipaparkan, untuk itu akan diuraikan secara rinci landasan berpikir yang dijadikan pegangan dalam penelitian ini.
Peneliti akan mengumpulkan data-data yang diperlukan, seperti BAP, jurnal, dokumen, dan rekaman. Setelah data terkumpul, peneliti mulai mengkaji/menganalisis dengan memerhatikan wujud sintaksis, semantik, dan pragmatik kajian linguistik forensik dari tuturan dalam proses persidangan dan keterangan saksi dalam persidangan, serta menemukan kebohongan dan kejujuran dalam hasil persidangan.
Bagan Kerangka Pikir Linguistik Forensik
Semantik Sintaksis
Percakapan Sidang Kasus Pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar
Penerapan Statement Analysis
21 Kriteria Statement Analysis
Frase syarat tindakan
Frase makna khusus
Pembangunan persepsi
Eufemisme kata kerja
Rentang waktu Berlebihan
kata “saya”
Perubahan Kata ganti
nama
59 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan deskriptif.
Penelitian deskriptif kualitatif menggunakan data bentuk kata yang berfokus pada pelabelan semantik dan penjelasan tentang fenomena yang sedang dipelajari peneliti. Penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif dan menggali data untuk mengembangkan hipotesis yang konsisten. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang tidak dapat diperoleh dengan metode statistik atau perhitungan lainnya.
Menurut Sukmadinata (2009:53), penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, dan orang secara individual maupun kelompok. Dalam penelitian kualitatif metode yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan data informasi yang berdasarkan dengan kenyataan (fakta) yang diperoleh di lapangan. Penelitian deskriptif sendiri merupakan penelitian yang paling dasar. Ditunjukkan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat ilmiah ataupun rekayasa manusia. Berdasarkan keterangan dari beberapa ahli di atas, dapat simpulan bahwa penelitian deskriptif kualitatif yaitu kegiatan untuk memperoleh data yang bersifat
apa adanya tanpa ada dalam kondisi tertentu yang hasilnya lebih menekankan makna. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Pendekatan ini digunakan karena data yang diperolah berupa ujaran yang dihasilkan dalam persidangan. Statement Analysis merupakan ranah ilmu yang terkait dengan tuturan seseorang tentang kebenaran berbahasa, jadi statement analysis tepat jika digunakan pada kajian linguistik forensik yang layak untuk diteliti karena bidang ini mengkombinasikan penelitian bidang linguistik dan hukum. Sehingga statement analysis layak menjadi ilmu yang diteliti, karena peneliti mengkaji kebohongan berbicara dalam persidangan.
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan dan fenomena kebahasaan. Fenomena kebahasaan ialah tuturan yang berkenaan dengan 21 kriteria statement analysis yang dilakukan dengan cara pengumpulan kasus yang berhubungan dengan penelitian dan kemudian dilanjutkan dengan pemahaman kasus. Penelitian ini selain menggunakan kualitatif juga menggunakan metode penelitian deskriptif untuk menggambarkan fakta-fakta atau gejala-gejala sistematis analisis berdasarkan referensi: buku, jurnal, hasil, dan penelitian sebelumnya.
B. Data dan sumber Data Penelitian 1. Data
Penelitian tentu diperlukan data untuk menunjang keakuratan data. Tanpa data, maka penelitian dapat dinyatakan tidak valid, terutama penelitian kualitatif. Data adalah subjek dari mana data diperoleh, sumber
data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Menurut Sugiyono (2011:225) bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah hasil rekaman percakapan sidang kasus pembunuhan yang menggunakan pendeteksi bahasa statement analysis yang terdapat 7 kriteria statement analysis yakni penggunaan frase syarat tindakan, penggunaan frase makna khusus, pembangun persepsi, eufemisme kata kerja, penggunaan kata ganti nama, berlebihan kata saya, dan pola rentang waktu yang digunakan pada percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini, berupa rekaman proses persidangan di Pengadilan Negeri Makassar yang terdapat satu ruang sidang yang digunakan. Artinya, pada saat pengambilan data, terdapat satu kasus yang peneliti ikuti setiap sidang yakni kasus pembunuhan.
Yang peneliti hadiri setiap sidang dibuka. Data sekunder dalam penelitian ini dari dokumen, jurnal-jurnal yang penulis temukan di mesin pencarian google scholar dengan kata kunci „linguistik forensik, selebihnya menggunakan buku yang berbentuk fisik. Penulis pun menggunakan hasil
penelitian sebelumnya yang relevan sebagai bahan pertimbangan.
Setelah mendapatkan seluruh informasi dan data yang dibutuhkan berdasarkan hasil telaah pustaka, penulis memilih, memilah, menganalisis, dan menilai informasi dari data yang dibutuhkan, serta berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi dan data yang relevan, akurat, serta menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
C. Definisi Istilah
Defenisi istilah penelitian ini dirumuskan peneliti untuk menghindari multitafsir terhadap berbagai istilah yang digunakan dalam penelitian. Beberapa defenisi istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut:
1. Statement Analysis adalah salah satu pendekatan analisis dalam forensik bahasa yang digunakan untuk memahami kebohongan maupun kejujuran berbahasa manusia. Pendekatan ini digunakan untuk bahasa percakapan sidang pembunuhan di Pengadilan Negeri Makasar.
2. 21 kriteria statement analysis adalah penerapan yang digunakan untuk mengetahui lebih spesifik makna sebuah tuturan.
3. Percakapan adalah proses komunikasi interaktif antara dua orang maupun lebih dalam persidangan kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makasar.
4. Sidang Kasus Pembunuhan dalam penelitian ini adalah kasus yang melibatkan salah satu anggota aktif Polri yang menembak salah satu anggota TNI di Kabupaten Jeneponto.
5. Pengadilan Negeri Makassar adalah lembaga peradilan di lingkup Kota Makassar beralamat di Jl. R.A Kartini No.18/23, Baru, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
6. Kajian Linguistik Forensik adalah cabang dari linguistik yang menganalisis atau meneliti kebahasaan yang digunakan sebagai alat bantu pembuktian di peradilan dan bidang hukum.
D. Teknik Pengumpulan Data
Sugiyono (2011: 224), menjelaskan teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian ini adalah untuk memperoleh data. Tanpa pengetahuan tentang teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan dapat memperoleh data yang sesuai dengan standar data yang telah ditetapkan. Mengingat tujuan penelitian ini, ini mengarah pada penggunaan deskripsi kualitatif.
Teknik akuisisi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Teknik Rekam
Teknik rekam digunakan untuk merekam dialog dalam persidangan. Tujuan dari teknik rekam adalah untuk mencari data berupa kata-kata yang dipakai atau dihasilkan oleh hakim, jaksa, panitera, kuasa hukum (pengacara), terdakwa, korban, dan saksi. Teknik rekam pada
penelitian ini dilakukan dengan merekam dialog pada saat persidangan berlangsung.
2. Teknik Simak
Teknik simak dapat disejajarkan dengan metode observasi atau pengamatan (Sudaryanto, 1993:4). Teknik simak dalam hal ini dilakukan dengan mendengar percakapan yang secara langsung dari alat perekam untuk memperoleh data tentang gambaran atau bentuk percakapan dalam persidangan di pengadilan. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengumpulkan data dari menyimak rekaman ini adalah sebagai berikut:
a. Mendengarkan berulang-ulang rekaman percakapan saat sidang di Pengadilan Negeri Makassar untuk mendapatkan data tentang kebohongan/kejujuran berbahasa yang muncul.
b. Mengidentifikasi kriteria statement analysis yang muncul dan membedakan antara kriteria tindakan.
c. Mencatat dan mengklasifikasikan data yang telah ditemukan.
3. Teknik Catat
Untuk memperoleh data tentang adanya kebohongan/kejujuran saat sidang di Pengadilan Negeri Makassar yang berlangsung yaitu dengan mencatat hasil wawancara dengan pihak terkait. Kemudian setalah melakukan penyimakan dan ditentukan objek yang akan diteliti, kemudian dilakukan pencatatan sehingga data yang semula berwujud lisan menjadi data yang berwujud tertulis. Pencatatan dilakukan langsung setelah penyimakan dilakukan, dengan melakukan pencatatan dengan
instrumen pengumpulan data. Data dikelompokan berdasarkan atas tuturan yang mengandung 21 kriteria statement analysis guna mengidentifikasi faktor penyebab kebohongan/kejujuran berbahasa.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif bersifat induktif, yakni analisis berdasarkan data yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data penelitian. Oleh karena itu, seusai memeroleh data dari sumber yang relevan/berkaitan, peneliti meringkas dan mengategorikan pokok-pokok kategori penelitian sehingga sejalan pada tujuan penelitian. Pada tahap berikutnya, peneliti menampakan data berupa catatan tekstual, sampai jalan terakhir menarik simpulan awal.
Simpulan sementara tersebut akan ditindaklanjuti melalui verifikasi data yang telah terkumpul dalam bentuk teks narasi, yang kemudian akan disimpulkan kembali sampai penelitian ini mendapatkan kesimpulan yang relevan. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam menganalisis data sebagai berikut:
1. Tahap persiapan. Data yang terekam ditranskripkan ke dalam bentuk teks kemudian dilakukan pemilihan data.
2. Tahap pengelompokan data. Dilakukan klasifikasi data menurut pengklasifikasian 21 kriteria statement analysis yang sesuai dengan jenis tindakan kebohongan/kejujuran berbahasa. Selanjutnya akan dilakukan uraian penjelasan data.