• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Tesis - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 115-122)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Bahasa yang dituturkan oleh penutur bahasa mempunyai nilai-nilai dan norma dalam bahasanya. Bukan hanya berbahasa dalam forum resmi, tetapi juga dalam forum non resmi atau dalam kehidupan sehari- hari, baik dalam bentuk lisan ataupun tulisan. Berbahasa tidak hanya memilah-milah bahasa sesuai kondisinya, namun juga mempertimbangkan norma sosial dan nilai-nilai dalam setiap pengucapannya.

Suatu nilai-nilai merujuk pada sesuatu yang bermakna baik.

Sesuatu yang baik, tentunya akan melahirkan suatu pandangan yang buruk. Dalam berbahasa, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi, misalnya umpatan, ancaman, gertakan, ujaran persekusi, ujaran kebencian dan lain sebagainya yang melahirkan banyak kontrafersial di tengah masayarakat.

Dalam keseharian, interaksi bahasa terjalin dan banyak sekali kebahasaan yang hadir dan berkembang di masyarakat. Malahan sesuatu yang belum tentu layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat umum.

Bahasa dengan demikian tidak hanya berfungsi komunikatif namun menjadi sumber masalah yang terkadang rumit sehingga membutuhkan pendekatan khusus dalam memahaminya. Misalnya, kejahatan moral seperti ini merupakan aktivitas berbahaya yang dapat merugikan orang lain. Berbahasa seperti ini dalam dunia linguistik forensik cenderung mengandung unsur kriminalitas karena secara tidak langsung bisa menyebabkan kerugian bagi petutur atau lawan tuturnya.

Kejahatan sosial dapat diungkap melalui pengungkapan bahasa.

Misalnya dalam kasus pembunuhan, bahasa menduduki salah satu faktor kunci pengungkapan fakta pidana yang harus digali oleh penyidik. Hasil penyidikan ini kemudian diuji secara formal dalam proses persidangan d pengadilan. Untuk memahami kebenaran atau kejujuran bahasa para saksi, linguistik forensik yang bertugas memforensik bahasa percakapan saksi dalam persidangan dan dapat difungsikan sebagai instrumen pembacaan maupun pengujian. Saat ini, lunguistik forensik mulai berkembang di tengah masyarakat, khususnya bagi kalangan akademis linguistik. Dalam sejarahnya, bidang ini telah disebut linguistik forensik sejak 1980. Linguistik forensik merupakan ilmu multidisiplin berasal dari linguistik dan hukum yang telah dikembangkan di Amerika dan Eropa sejak tahun 1997. Sejak itu, ahli bahasa menawarkan bukti mereka di

pengadilan untuk mendeteksi realitas dan lebih berhati-hati penghakiman sebuah kasus.

Linguistik forensik itu berfokus pada bahasa hukum, interpretasi, bahasa ruang sidang, bahasa Inggris murni, pragmatik/kias, instruksi juri, bahasa dalam pengaturan hukum serta prosesnya, dan bahasa peringatan produk konsumen. Dapat dikatakan juga, bahwa dalam linguistik forensik tidak hanya fokus pada kasus yang diangkat dalam sebuah persidangan namun juga pada kasus atau masalah yang belum diangkat ke persidangan dan telah melanggar norma-norma sosial masyarakat seperti penghinaan, berbohong, peringatan, penipuan.

Melihat keadan bahasa Indonesia saat sekarang ini yang telah banyak dimarkahi salah oleh sebagian orang, maka linguistik forensik dirasa perlu untuk dipakai oleh beberapa ahli bahasa. Pertimbanganya adalah keilmuan ini merupakan ilmu multi disipliner, yakni Ilmu bahasa dan ilmu hukum. Linguistik forensik adalah salah satu cabang linguistik baru. Linguistik forensik adalah ilmu multidisiplin karena analisisnya dapat diperbantukan dengan bidang ilmu lain seperti ilmu bahasa, ilmu hukum, ilmu kejiwaan, ilmu sosial dan bidang ilmu lain yang mampu memecahkan suatu masalah kriminal. Seperti yang disebutkan oleh Olsson (2008:3) linguistik forensik adalah hubungan antara bahasa dengan penegakan, masalah, perundang-undangan, perselisihan atau proses dalam hukum yang berpotensi melibatkan beberapa pelanggaran terhadap hukum atau keharusan untuk mendapatkan penyelesaian hukum.

Kejahatan yang terbentuk melalui bahasa adalah kejahatan yang dapat dipelajari dari sudut pandang linguistik. Kejahatan berbahasa tersebut dapat berupa penghinaan, ancaman, penipuan, bahasa palsu (pragmatik). Bahkan kejahatan seperti pencurian, penculikan dan pembunuhan yang melibatkan bahasa sebelum terjadinya kejahatan, dapat dianggap sebagai kejahatan berbahasa.

Linguistik forensik biasanya digunakan dalam menganalisis aksi kejahatan yang berkaitan dengan penggunaan berbahasa, baik itu lisan maupun tulisan. Linguistik forensik itu dapat memfokuskan kajiannya pada bahasa proses hukum dan bahasa sebagai bukti, baik lisan maupun tulisan. Untuk melihat sebuah kasus linguistik forensik, dapat dipakai klasifikasi teks untuk mengetahui bentuk linguistik sebagai bukti investigasi fungsi teks tersebut.

Aplikasi linguistik forensik juga telah memasuki Indonesia. Sudah banyak penelitian-penelitian dan tulisan mengenai bentuk aplikasi atau pendekatan yang digunakan melalui linguistik forensik. Melihat hal tersebut, maka dapat disimpulkan linguistik forensik adalah sebuah ilmu yang dapat mengungkap suatu kejahatan berbahasa. Baik kejahatan berbahasa berwujud lisan ataupun tulisan.

Penelitian ini menggunakan linguistik forensik dengan menerapkan penerapan statement analysis dalam forensik bahasa percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar. Kasus sangat menggemparkan masyarakat pada bulan Mei 2020. Penembakan

dilakukan oleh salah satu anggota Polrestabe Makassar kepada korban prajurit TNI Kodam 1425/Jeneponto. Motif utama yang terungkap dalam pemeriksaan maupun dalam rekam percakapan persidangan menunjukkan dugaan meyakinkan pelaku diselingkuhi oleh korban. Motif inilah yang menyebabkan terjadinya penembakan yang akhirnya berujung pembuhan karena nyawa korban tertembak melayang.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melakukan kajian linguistik forensik melalui penerapan statement analysis terhadap Percakapan Sidang Kasus Pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar. Tujuan selanjutnya adalah untuk mengetahui apa saja kontribusi linguistik forensik penerapan statement analysis terhadap Percakapan Sidang Kasus Pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar.

Peneliti menerapkan 21 kriteria dalam pendekatan statement analysis. Hasil analisis dalam penerapan statement analysis dalam forensik bahasa percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar menemukakan tujuh pola kriteria analisis statemen, yaitu; (1) penggunaan frase syarat tindakan; (2) penggunaan frase makna khusus; (3) pembangun persepsi; (4) eufemisme kata kerja; (5) penggunaan kata ganti nama; (6) berlebihan Kata “saya”; dan (7) pola rentang waktu.

Hasil analisis penerapan statement analysis dalam forensik bahasa percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar dapat memberikan kontribusi penting berupa hasil forensik dapat menjadi

alat konfirmasi keterangan faktual dan dapat dijadikan sebagai alat legitimasi peristiwa pidana. Dua bentuk kontribusi ini dapat menjadi usulan akademis bagi hakim untuk melakukan penegakan hukum secara adil dan bijaksana.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, hal ini didukung dengan teori linguistik forensik serta penerapan statemen analysis, penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Munirah dan Apriyanto dengan hasil penelitian mengenai kriteria yang digunakan untuk memutuskan seseorang dapat dikenal sebagai saksi ahli bahasa, etika saksi ahli bahasa, kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat dari bukti ilmiah yang disajikan oleh saksi linguistik, cara saksi ahli bahasa dalam menemukan bukti linguistik, dan cara ahli bahasa dalam menggambarkan implikatur percakapan dalam interogasi polisi.

Penggunaan implikatur percakapan yang digunakan penyidik dalam melakukan penyidikan merupakan bentuk implikatur percakapan umum dimana penyidik dan tersangka memiliki pengetahuan yang sama tentang konteks yang dibicarakan. agar esensi dari suatu penyidikan yaitu suatu peristiwa yang berorientasi pada tujuan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh penyidik. Dalam fungsi penggunaannya, implikatur digunakan penyidik untuk menunjukkan wajah positif atau membangun citra ramah di hadapan tersangka, juga menjadi media dalam menyampaikan maksud tertentu secara halus. Penelitian ini, berkaitan dengan peran linguistik forensik yang akan disajikan dalam proses

interogasi, bahasa hukum, dan posisi linguistik forensik itu sendiri.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan yakni terletak pada segi objek. Peneliti sebelumnya memilih penelitian pada ranah penyidikan pihak polisi terhadap terdakwa dan saksi, agar dapat melibatkan saksi ahli pada proses penyidikan sedangkan penelitian ini pada ranah persidangan hakim, jaksa, pengacara, dan saksi mata yang mengkaji tuturan tindak kejujuran/kebohongan saksi dalam proses persidangan. Sementara, kesamaan penelitian ini yakni peneliti menggunakan kajian linguistik forensik.

110 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data di atas, dapat diuraikan simpulan berikut.

1. Penerapan statement analysis dalam forensik bahasa percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar ditemukan tujuh pola kriteria analisis statemen, yaitu; (1) penggunaan frase syarat tindakan; (2) penggunaan frase makna khusus; (3) pembangun persepsi; (4) eufemisme kata kerja; (5) penggunaan kata ganti nama;

(6) berlebihan Kata “saya”; dan (7) pola rentang waktu.

2. Penerapan statement analysis dalam forensik bahasa percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar dapat memberikan kontribusi penting berupa hasil forensik dapat menjadi alat konfirmasi keterangan faktual dan dapat dijadikan sebagai alat legitimasi peristiwa pidana. Dua bentuk kontribusi ini dapat menjadi usulan akademis bagi hakim untuk melakukan penegakan hukum secara adil dan bijaksana.

B. Saran

Berdasarkan simpulan di atas, penulis merumuskan beberapa saran sebagai berikut.

1. Kajian berkaitan dengan percakapan kasus pembunuhan dalam persidangan dengan pendekatan linguistilk forensik masih perlu

111

dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan untuk lebih memerkaya khasanah ilmu pengetahuan linguistik di Indonesia.

2. Penelitian selanjutnya perlu mengembangkan pendekatan yang lebih bervariasi dalam melakukan kajian dengan pendekatan linguistik forensik, tidak hanya berkaitan dengan percakapan sebagai bagian analisis interaksi dalam ruang sidang, namun menyentuh bagian analisis lainnya seperti melakukan linguistik forensik terhadap kepengarangan Idan Iplagiarisme yang saat ini mengemukakan dalam ruang-ruang akademik.

3. Peneliti selanjutnya lebih mengembangkan lagi temuan penelitian dengan menggunakan 21 kriteria Statement Analysis, karena penelitian ini baru menemukan 7 kriteria.

4. Penelitian selanjutnya perlu mengembangkan kajian linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik dalam proses kajian linguistik forensik, pada penelitian ranah hukum.

5. Saran dan kritik sangat dibutuhkan untuk menjadi pedoman penulis melakukan pengembangan penelitian dan kajian dengan pendekatan linguistik forensik dalam sesi penelitian lainnya.

112

DAFTAR PUSTAKA

Arifianti, I. (2018). Erseptif linguistik forensik pola interogatif penyidik pada saksi ahli bahasa. Pertemuan Ilmiah Bahasa Dan Sastra Indonesia (PIBSI) XL, 813(978 - 6 0 2 - 6779 - 21 -2), 813–824.

Brown, G. dan George Yule. (1983). Discourse Analysis. Cambridge:

CambridgeUniversityPress.

Cahyono, IBambang IYudi. I1995. IKristal-kristal IIlmu IBahasa. ISurabaya:

IAirlangga IUniversity IPress.

Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta (2010). Kesantuanan Berbahasa. Jakarta : Rineka Cipta.

Coulthard, M. & Alison Johnson. (2007). An Introduction to Forensic Linguistics: Language in Evidence. London: Routledge.

(2010). An Introduction to Forensic Linguistics: Language in Evidence. New York: Rouledge.

Correa, M. (2013). “Forensic Linguistics: An Overview of the Intersection and Interaction of Language and Law” makalah dalam Studies about Language Nomor 23 Tahun 2013. Kalbu Studijos.

Crystal, D. (2008). A Dictionary of Linguistics and Phonetics 6th Edition.

Oxford: Blackwell Publishing.

Culpeper,J (ed.). (2011). Historical Socio pragmatics. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.

Eddy, Hiariej. 2014. Prinsip-prinsip Hukum Pidana. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

Gibbons, Jhon. 2007. Forensik Linguistics, an Introduction to Language in the Justice System. Oxford: Blackwell Publishing

Hendrokumoro, H., Masrukhi, M., D., L. S., & Laksanti, I. D. K. T. A.

(2019). Peran Linguistik Forensik pada Era Perkembangan TeknologI Komunikasi. Bakti Budaya 2(2), 81.

Heydon, G. (2005). The Language of Police Interviewing: A Critical Analysis. New York: PALGRAVE MACMILLAN.

http://pn-yogyakarta.go.id/pnyk/pengertian-peradilan.html. diakses pada tanggal 17 Desember 2020.

113

Kansil. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

Khalid, A. (2014). Penafsiran Hukum Oleh Hakim dalam Sistem Peradilan di Indonesia. Al ’Adl, Volume VI (Penafsiran Hukum, Hakim, Sistem Peradikan di Indonesia), 9–36.

Kridalaksana. H. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Lamintang. 2013. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Bandung: PT.

Citra Aditya Bakti.

Leech, G. (1993). Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Levinson, S. C. (1983). Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.

Mc Menamin, G. R. (1993). Forensic Stylistics. Amsterdam:

Elsevier.(2002). Forensic Linguistics: Advances in Forensic Stylistics. London: CRC Press.

Mertokusumo dan A. Pitlo, 1993, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Jakarta, PT. Citra Aditya Bhakti.

Muh, Faris, A. (2019). Diskrepansi informasi dalam surat dakwaan Jaksa penuntut umum di pengadilan negeri bandung (sebuah analisis linguistik forensik). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

Munirah, & Apriyanto, S. (2020). A Forensic Linguistic Point of View of Implicational Conversations in a Police Interrogation : A Review.

Talent Development & Excellence, 12(1869-2885), 3370–3384.

Musfiroh, T. (2014). “Linguistik Forensik dalam Masyarakat Multikultur”.

Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Ekologi dan Multikulturalisme.

Yogyakarta: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY.

Olsson, John. (2008). Forensic Linguistics. New York: Continuum.

Panggabean, S., Silvana, T., (2018). Praanggapan Penyidik dalam Interviu Investigatif (Kajian Linguistik Forensik dalam Penyusunan Berita Acara Pemeriksaan). The 11th International Workshop And Conference Of Asean Studies In Linguistics, Islamic And Arabic Education, Social Sciences And Educational Technology 90–95.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana.

114

Saifullah, A. R. (2009). “Analisis Linguistik Forensik terhadap Tindak Tutur yang Berdampak Hukum (Studi Kasus Delik Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik di Polres Bandung Tengah dan Bandung Timur)”. Laporan Penelitian Dasar. Program Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Indonesia. Terintegrasi, S., & Berkesinambungan, K. ID. A. N.

(2019). Adil Indonesia jurnal volume 1 nomor 1, januari 2019. 1(3), 51–60.

Sholihatin, Endang. (2017). Linguistik Forensik dan Kejahatan Berbahasa.

Surabaya: Pustaka Pelajar.

Subekti. 2003. Pokok-pokok Hukum Perdata. Jakarta: PT. Intermasa.

Subyantoro. (2019). Linguistik Forensik : Sumbangsih Kajian Bahasa dalam Penegakan Hukum. Adil Indonesia Jurnal, 1(2655-5727), 36–50.

Sudikno. 1996. Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

Mertokusumo dan A. Pitlo, 1993, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Jakarta, PT. Citra Aditya Bhakti.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata. 2009. Metode Penelitian pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Taufan, Guruh. 2018. Statement Analysis (Pendeteksi Kebohongan Paling Dahsyat). Cetakan 1. Depok: PT. Tosca Jaya Indonesia.

Triwulan Tutik, Titik. 2006. Hukum Perdata Indonesia. Jakarta: Pustaka Publisher.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;

Peraturan Perundang-Undang

Kitab Undang-undang Hukum pidana Kitab Undang-undang Hukum perdata Undang-Undang Dasar NKRI tahun 1945

Undang-Undang RI Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

115

BIODATA PENULIS

JAHARA. Lahir di Karawa kabupaten Pinrang pada tanggal 23 November 1994. Penulis adalah anak keempat dari lima bersaudara.

Buah hati dari pasangan Ayahanda Latuwo dengan Ibunda Hadimang. Penulis mengawali pendidikan di SDN Inpres Karawa Pinrang pada tahun 2001 dan tamat pada tahun 2007, kemudian melanjutkan di MTs DDI Tuppu pada tahun 2008, tidak sampai tamat karena faktor individu, selang berapa tahun Penulis mengikuti Paket B tahun 2010. Menjelang satu tahun setelah mengikuti ujian Paket B Penulis melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 5 Pinrang dan tamat tahun 2014. Pada tahun 2014 Penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, pada program Strata Satu di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pada tahun 2018 Penulis menyelesaikan studi dengan menyusun karya ilmiah yang berjudul “Keefektifan Model Example Non Example dalam Pembelajaran Menulis Teks Eksplanasi pada Siswa Kelas XI TAV.1 SMK Negeri 1 Gowa”. Pada tahun 2018 penulis kembali melanjutkan studi pendidikan magister Strata Dua pada Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar.

114

LAMPIRAN

116

KORPUS DATA

Lampiran I : Data Penerapan Statement Analysis Percakapan Sidang Pengadilan Negeri Makassar

No. Kode

Data Percakapan Penerapan Statement

Analysis

21 kriteria Statement Analysis

1 Data 1

Hakim : Apa yang Saudara lihat, atau apa yang Saudara lakukan pertama kali ketika masuk?

Saksi 1 : Saya masuk kemudian langsung mengecek pernapasan, nadinya.

Hakim : Terus

Saksi 1 : Setelah saya raba dan rasa masih ada, Saya perintahkan anggota buat kasih mundur mobil dinas.

Hakim :untuk maksudnya?

Saksi 1 : untuk mengangkut korban

Hakim : Persiapkan mobil untuk mengangkut krban.

Saksi 1 : Siap

Kutipan data menunjukkan proses percakapan antara hakim dengan saksi untuk menggali kebenaran informasi tentang tindakan apa yang dilakukan oleh saksi ketika berada di tempat kejadian perkara pembunuhan.

Frase syarat tindakan kutipan tersebut menunjukkan kejujuran saksi.

Frase Syarat Tindakan

2 Data 2

Hakim : Jadi Saudara dengar ada peristiwa penembakan ya, Saudara saat itu ada di rumah?

Saksi 2 : Saya ada di rumah.

Hakim : Rumah sendiri ya ? Saksi 2 : Rumah sendiri.

Hakim : Sebelum ada kejadian itu ada kejadian apa?

Saksi 2 : Saya tidak tahu karena …

Hakim : Tidak tahu ya, terus apa yang Saudara tahu kejadian apa ?

Saksi 2 : Tidak ada yang saya tahu, tidak tahu

Kutipan data percakapan tersebut menunjukkan bahwa frase syarat tindakan yang menjadi keterangan informative saksi terhadap upaya hakim memahami posisi saksi ketika terjadinya

peristiwa penembakan. Ada dua frasa syarat tindakan yang menunjukkan saksi jujur yaitu frasa tindakan “saya langsung kaget” dan “ saya langsung

Frase Syarat Tindakan

sama sekali.

Hakim : Tahunya ada penembakan dari siapa ? Saksi 2 : Karena saya dipanggil di rumah, saya

didatangi oleh pak … (terdakwa).

Dipanggil di rumah, Saya sedang tidur.

Hakim : Kamu tidur dan dipanggil pak … (terdakwa)?

Saksi 2 : Iye

Hakim : Kenapa, pak … (terdakwa). Apa, kenapa dipanggil?

Saksi 2 : Dia datang mengetuk-ngetuk pintu, kemudian Saya terbangun. Saya buka pintu, kemudian Saya dipanggil ke rumahnya. Waktu itu Dia tidak menjelaskan dia hanya minta tolong.

Hakim : Pak …(terdakwa) hanya minta tolong?

Saksi 2 : Iye

Hakim : Lalu Saudara mengikuti ke rumahnya?

Saksi 2 : Iye

Hakim : Datang ke rumahnya dengan pak … (terdakwa)

Saksi 2 : Iye

Hakim : Ya! Terus sampai di sana ? Saksi 2 : Setelah sampai di sana, Saya

langsung kaget karena Saya melihat darah berceceran di dalam rumahnya begitu banyak.

Hakim : Ya.

Saksi 2 : Jadi Saya langsung panik dan lari kembali, lari pulang dan memanggil Saudara ini (saksi 3) juga namanya (sama dengan terdakwa)

panik”.

3 Data 3

Hakim : Ada SMS?

Saksi 5 : Iya pak Hakim : Itu WA?

Saksi 5 : Bukan WA pak, SMS Hakim : Dari siapa itu?

Saksi 5 : Waktu itu Saya belum yahu dari mana pak, jelasnya saya malas eeeee Hakim : Apa isinya?

Saksi 5 : Assalamu alaikum ibu, apa kabar?

Haaa di situ ada 4 kali panggilan tak terjawab. Saya belum tidak mengangkat-angkat. Tapi saat itu Saya sempat telepon bapak, telepon suami saya. Kutelepon suami saya karena saat itu Saya lagi tidak enak badan. Minta dijemput untuk berobat.

Hakim : Mau ke mana ?

Saksi 5 : Minta pulang dijemput pak Hakim : Suaminyakan di Maksaar?

Saksi 5 : Iya

Hakim : Berapa lama datangnya suami mu itu?

Saksi 5 :Sayakan di Jeneponto pak saat itu.

Hakim : Kenapa? Emang dari Jeneponto ke Makassar berapa jam?

Kutipan data tersebut menunjukkan keterangan saksi tentang proses komunikasi yang terbangun sebelum terjadinya peristiwa perkara. Berawal dari panggilan telepon masuk dan sms via hanphone. Saksi menerangkan pada mulanya tidak tahu karena nomor baru kemudian saksi melakukan tindakan tidak mengangkat telepon tersebut. Kemudian saksi merasa tidak enak badan kemudian menelpon suaminya untuk diminta diantarkan berobat. Meski demikian, kontak telepon yang tidak terjawab kemudian dikontak balik.

Frasa syarat tindakan

Saksi 5 : Maksudnya itu pak minta dijemput pak saat itu, karena saya sakit.

Hakim :apakah di Jeneponto tidak ada apotik?

Anda minta jemput dari mana ke mana

?

Saksi 5 : Jeneponto

Hakim : Jemput di Jeneponto ke mana ? Saksi 5: Makassar, kan pada saat itu…

Hakim : Kamukan katakana minta dijemput dari Jeneponto ke Makassar?

Saksi 5 : Iya pak

Hakim : Kenepa ke Makassar?

Saksi 5 : Untuk mau berobat pak.

Hakim : Untuk berobat, terus ditelepon suaminya?

Saksi 5 : eeee Sayaaa

Hakim : Ditelepon ya? Suami mengatakan ya?

Saksi 5 : waktu itu tidak karena masih ada jam kantor, “mungkin besok baru bisa”

Hakim :Berarti besok baru pulang ya?

Saksi 5 : Iya, Jumat.

4 Data 4

Saksi 5 : Tidak tersave nomornya, Saya telepon

“Assalamu Alaikum dengan siapa?”

kemudian dia bilang “dari kampung ini”

kemudian dia bilang “dengan … (korban perempuan), iye dengan … (korban perempuan). Ini dengan siapa? Ini saya …(korban laki-laki) “ katanya “daengmu daengmu kakakmu.” Bilang “kenapa?” bilang

“kamu ada di mana?” Saya bilang

“saya ada di Jeneponto saya sudah 2 bulan di sini.” Lagiankan saat itu lagi sibuk panen. Jadi saya bilang “sudah 2 bulan di Jeneponto panen.

Berdasarkan keterangan saksi menunjukkan bahwa saksi menelepon kembali nomor yang menghubunginya yang sempat tak terjawab empat kali itu. akhirnya terjadi komunikasi antara keduanya, yang menjadi rangkaian tindakan ke momentum terjadinya peristiwa kejadian perkara.

Frase syarat tindakan

5 Data 5

Saksi 5 : Saya masih sempat intip keluar pak, ii saya bilang “ ada betul saya bilang kenapaki datang, kenapa datang tengah malam, saya bilang pulang, tidak ada laki-laki di dalam rumah.

Saksi menggunakan setidaknya dua frase syarat tindakan dalam kutipan tuturan saksi. saksi mengaku telah mengatakan mengapa yang bersangkutan datang.

Kemudian saksi meminta yang bersangkutan pulang atau kembali karena tidak ada orang lain di rumah.

Berdasarkan keterangan saksi menunjukkan bahwa saksi mencoba memastikan.

Memang terlihat mengesankan, namun tindakan tersebut adalah tindakan yang belum tentu dilakukannya. Bandingkan dengan kalimat, “saya tidak membuka pintu dan langsung menutup telepon.”

Frase syarat tindakan

6 Data 6

Saksi 5 : aaaaa setelah itu dia berdiri dia berdiri eee saya kearah motorku kan itu motorku kurang lebih dekat, posisi kurang satu meter dari saya. Dia dekati saya, dia dorong sampai membentur pintu tadi. Saya sempat sampai melawan. Maksudnya bagaimana caranya supaya dia. Saya melawan sampai saya didorong masuk tempat tidur. Melawan masuk

Keterangan saksi menunjukan bahwa saksi mencoba melakukan perlawanan. Tapi kata sempat menunjukan kejanggalan yang berarti setelah itu tidak ada perlawanan lagi sampai mereka masuk ke kamar.

Frasa syarat tindakan

7 Data 7

Saksi 5 : aaa saya didorong ke tempat tidur didorong ke tempat tidur, saya bangun saya tending dulu saya tarik-tarik bajunya. “kenapa daeng kenapa kau berbuat begini kenapa kenapa-kena?”

Dia bilang “pokoknya saya tanggung dosamu saya tanggung dosamu.” Saya bilang “kenapa ya Allah kenapa”

sampai saya menendang, menendang pokoknya saya sekuat tenaga

menendang mau membela diri. Saya berusaha untuk belah diri saya.

Saksi menunjukan bahwa saksi mencoba melakukan perlawanan dengan maksud sebagai tindakan membela diri, tetapi kata berusaha menunjukan kejanggalan, sama halnya dengan berupaya. Kata berupaya menunjukan tindakan yang baik, tetapi dalam hal ini kata tersebut seakan-akan menunjukan korban melawan si pria yang melakukan tindakan pelecehan tetapi hal tersebut bisa saja tidak dilakukannya. Jadi kata tersebut perlu diperhatikan saat bertutur. Berbeda jika korban mengatakan “ saya terus melawan”

Frase syarat tindakan

8 Data 8

Jaksa 2 : Apakah ada orang selain pak

…(terdakwa), apakah ada anak atau orang tuanya?

Saksi 2 : Ada anaknya Jaksa 2 : Oh, ada anaknya.

Saksi 2 : Iya

Jaksa 2 : Berapa orang ? Saksi 2 : Kira-kira 1 orang

Kata “kira-kira” banyak dipakai sebagai ungkapan yang aman untuk menunjukan

ketidakpastian. Tuturan saksi 2 masih belum menunjukan kejujuran dalam kesaksian karena saksi menggunakan pikiran ketika bertutur dan seharusnya menggunakan ingatan, namun pada frase makna khusus akan berbeda lagi ketika saksi mengatakan

“hanya 1 orang” kata “hanya”

tersebut berupaya

meminimalkan angka orang yang berada di tempat itu, jika kata tersebut muncul maka pernyataan tersebut layak muncul dalam hati adalah mengapa ia ingin

meminimalkannya.

Penggunaan frase makna

khusus

9 Data 9

Hakim ang : Sejak kapan Saudara mengetahui korban sudah meninggal dunia?

Saksi 5 : waktunya saya tidak tahu persis tapi setelah ada laporan dari rumah sakit.

Hakim ang : Kira-kira berapa lama setelah

Statement korban perempuan yang mengatakan “saya tidak tahu persis” dan “mohon maaf saya lupa persisnya”

menunjukan kejanggalan seakan-akan terlepas dari

Penggunaan frase makna

khusus

Dalam dokumen Tesis - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 115-122)

Dokumen terkait