• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsepsi Perubahan dan Integrasi Pendidikan Nonformal vis a vis Satuan Pendidikan Formal Pesantren

Transdisciplinary Curriculum Integration

2. Konsepsi Perubahan dan Integrasi Pendidikan Nonformal vis a vis Satuan Pendidikan Formal Pesantren

a. Dialektika Historis Madrasah Diniyah Taklimiyah Nonformal Sebagai Lembaga Pendidikan nonformal Pesantren

Langkah lebih baiknya, sebelum membahas lebih jauh tentang madrasah diniyah Takmiliyah pesantren, lebih tepat terlebih dahulu mengetahui terma madrasah diniyah nonformal. Kata "madrasah" yang berasal dari bahasa arab merupakan bentuk kata "keterangan tempat"

(zharaf makan) dari akar kata "darasa". Maka secara kebahasaan,

"madrasah" dapat diartikan sebagai "tempat belajar para pelajar", atau

"tempat pemberian pelajaran".92 Di samping itu, darasa secara shorfiah juga dirubah menjadi kata midras. Midras yang mempunyai arti "buku

92 Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Edisi Indonesia (Surabaya: Risalah Gusti: 1996), 66

yang dipelajari" atau "tempat belajar".93 Maka dari kedua difinisi makna lughawi ini, istilah tersebut mempunyai arti yang sama, yakni "tempat belajar". Adapun secara istilah madrasah adalah nama atas sebutan bagi sekolah - sekolah agama Islam, tempat dimana proses belajar mengajar ajaran agama Islam secara formal yang mempunyai kelas (dengan sarana antara lain meja, bangku, dan papan tulis) dan memiliki kurikulum, dalam bentuk klasikal.94

Sedangkan penjelasan Surat Kesepakatan Bersama (SKB) tiga menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan, dan Menteri Dalam Negeri), madrasah adalah lembaga pendidikan yang menjadikan mata pelajaran pendidikan agama Islam sebagai mata pelajaran dasar yang diberikan sekurang-kurangnya 30% dibanding pelajaran umum.95 Sedangkan menurut Zamahzari Dhofir didefinisikan sebagai lembaga pendidikan yang memberikan pengajaran pengetahuan umum disamping pengetahuan agama. Disamping itu juga melaksanakan sistem kelas yang berlevel.96

Apabila ditranslate ke dalam bahasa Indonesia, kata "madrasah"

mempunyai makna "sekolah". Makna ini dapat diterima walaupun

93 kata al-midras juga diartikan sebagai "rumah untuk mempelajari kitab Taurat". Lihat. Abu Luwis al-Yasu'I, al-Munjid Fi al-Lughah Wa al-Munjid Fi al-A'lam, Cet.-23, (Dar al-Masyriq, Beirut, tt), 221.

94 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam 3, (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 105.

95 A. Timur Jaelani, Peningkatan Mutu Pendidikan Dan Pengembangan Perguruan Agama (Jakarta: Dermaga, 1982), 23.

96 Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren.., 38-39.

sekolah sendiri sebenarnya bukan berasal dari bahasa Indonesia murni.97 Namun, secara harfiah “madrasah” dapat juga diartikan dengan sekolah, karena secara teknis keduanya memiliki kesamaan. Kesamaannya adalah sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar secara formal.

Akan ada juga yang membedakan kedua istilah itu. Keduanya memiliki karakteristik atau ciri khas yang berbeda.98 Madrasah nampak sangat menonjolkan nilai religiusitas (religion value) masyarakatnya.

Sedangkan sekolah adalah lembaga pendidikan umum yang memakai mata pelajaran yang juga umum. Secara diferensiasi lahirnya juga berbeda. Madrasah berasal dari kutur agama Islam dan sekolah dari perkembangan budaya barat atau Eropa.

Adapun penamaan “madrasah diniyah” merupakan terma yang masyaratkan dari sifat madrasah tersebut.99 Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perbedaan madrasah dengan sekolah adalah perbedaan asal dari sisi antropologisnya yang berasal dari tradisi agama Islam. Jadi sebab itulah, penambahan kata diniyah untuk lebih memaknainya sebagai pendidikan keagamaan. Pendapat lain juga menyebutkan bahwa madrasah diniyah ialah lembaga pendidikan pengajaran agama Islam secara klasikal atau tradisional dan memiliki fungsi untuk memenuhi

97 Kata “sekolah” berasal dari kata school atau scola. Lihat. H.A. Malik Fadjar, Visi Pembaruan Pendidikan Islam (Jakarta: LP3NI, 1998), III.

98 Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah...,44.

99 Madrasah diniyah berasal dari perpaduan dua kata bahasa arab yakni “madrasah dan ad- din”. Lihat. Amin Headri, Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah (Jakarta:

Diva Pustaka, 2004), 14.

harapan orang tua (masyarakat) yang menginginkan putra-putrinya memahami agama secara mendalam.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, perkembangan pendidikan formal dan diniyah nonformal adalah lahir dari polemik pengembangan pendidikan dan politik yang terjadi di negeri ini. Seluruh madrasah memang lahir dari satu asas dan rumpun orientasi yang sama, yakni pengutan pendidikan Islam. Namun dalam perkembangannya madrasah yang mengalami diferensiasi dalam hal pengelolaannya. Kehidupan sosial politik Indonesia membuat madrasah terklasifikasikan, atau lebih tepat terdikotomikan menjadi dua bagian besar.

Keduanya adalah pertama, sistem pendidikan yang mau melaksanakan pendidikannya sesuai dengan aturan pemerintah. Dalam hal ini adalah sekolah formal. Kedua, madrasah yang tetap ingin bertahan pada orintasi pendidikan Islam tanpa ingin menyesuaikan pada aturan pemerintah yang mendorong pada penguatan ilmu pengetahuan umum atuan kejuruan umumnya. Keduanya ini menjadi lemabaga yang secara orientasi dan manajemen berbeda dan beriringan sekaligus berhadap-hadapan dalam historitas pertumbuhannya. Dianggap saling melengakapi karena keberadaan keduanya dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat yang ingin menyeimbangkan pengetahuan agama dan umumnya. Hal ini sebagaimana yang ada dalam penjelasan Peraturan menteri Agama RI Nomor 13 tahun 1964. Dalam aturan tersebut dikatakan bahwa Pendidikan dan pengajaran (pada madrasah

Diniyah) selain bertujuan untuk memberi tambahan pengetahuan agama kepada pelajar-pelajar yang merasa kurang menerima pelajaran agama di sekolah-sekolah umum.100

Dianggap berseberangan karena dilihat dari historitas, manajemen dan sosiologis dan legalitas keberadaaan lembaga ini. Secara historis, madrasah diniyah yang merupakan lembaga pendidikan Islam dipaksa untuk menjadi formal agar sesuai dengan orientasi pendidikan nasional. Artinya, pendidikan pesantren diniyah dipaksa untuk ikut menyelenggarakan pendidikan umum sebagaimana sekolah formal luar pesantren pada umumnya. Pada saat ada golongan reformis yang menekan agar pendidikan madrasah diniyash mengadopsi pendidikan ala Belanda demi kemajuan pendidikan masyarakat. pola pendidikan yang diinisiasi kalangan muslim reformis. Kaum reformis mencoba menciptakan pola pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pelajaran umum atau sekolah formal buatan Belanda.101 Hal ini kemudian banyak menimbulkan pertentangan. Beberapa pengelolah madrasah diniyah banyak yang tidak bersepakat dengan rencana dan model gagasan kaum reformis.

Perselisihannya sebenarnya terletak pada aspek sosiologis orientasinya. Sosial pendidikan kala itu ada semacam dikotomi keilmuan, yakni keilmuan agama dan keilmuan umum. Sehingga Beberapa pihak banyak yang memutuskan untuk tetap menfokuskan diri

100 Peraturan menteri Agama RI Nomor 13 tahun 1964

101 Lihat. Azyumardi Azra, Pendidikan Islam...., 119-120.

pada penguatan pendidikan agama, tanpa memasukkan pendidikan umum. Madrasah yang didirikan oleh beberapa orang yang tidak untuk mengadopsi pendidikan umum inilah yang kemudian disebut sebagai madrasah diniyah. Sebagaimana diungkapkan oleh Yusuf bahwa madrasah diniyah merupakan lembaga yang menutup diri dari pembelajaran keilmuan umum.102 Yang demikian ini tentu sangat beroposisi dengan madrasah formal yang sudah membuka diri pada pembelajaran umum bagi peserta didiknya.

Disamping itu, secara legalitas hukum pun keduanya tanpa sangat bertentangan, madrasah diniyah yang sama sekali tidak mengajarkan pengetahuan umum tetapa akan dianggap sebagai lembaga nonformal. Dengan kata lain, madrasah diniyah setara dengan pendidikan tambahan semacam kursus dan sebagaimananya.

Sebagaimana tentu secara manajemen tidak diatur secara ketat oleh legalitas formal. Artinya, madrasah diniyah dianggap pendidikan luar sekolah yang boleh dilembagakan maupun tidak sebagaimana yang dalam aturan UU Pendidikan dan PMA NO 13 tahun 2014.103

Selain itu, sebab secara legal sekolah diniyah nonformal ini dianggap sebagai pendidikan luar sekolah, lulusannya pun tidak diakui secara legal formal. Ijazah yang didapatkan di madrasah diniyah nonformal tidak dapat disetarakan dengan ijazah sekolah formal.

102 Khoirul Fuad Yusuf, Revitalisasi Madrasah, (Jakarta:Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, 2006)277

103 Lengkapnya lihat. UU Pendidikan dan PP no 73 tahun 1991 pada pasal 1 ayat 1 dan pasal 3 Ayat 1

Artinya, pengakuan terhadap proses pendidikannya lemah di mata hukum. Walaupun demikian, madrasah diniyah tetap eksis hingga dewasa ini. Hal ini disebabkan masyarakat masih percaya bahwa madrasah diniyah nonformal pesantren merupakan satu-satunya tempat peningakatan kemampuan pemahaman agama Islam yang terpercaya.

Peran madrasah diniyah nonformal dan pendidikan formal menjadi dua entitis berbeda di hati masyarakat pesantren. Madrasah formal dianggap sebagai sekolah yang darinya peserta didik akan mampu bersaing dalam perkembangan zaman. Dengan arti lain, menempati posisi peran sebagai penyiap generasi yang mampu hidup suskses berkarir atau bekerja. Sedangkan madrasah diniyah dianggap sebagai lembaga pendidikan yang mampu meningkatkan anak-anak didiknya baik dalam moralitas keagamaannya (spritualitasnya).

Pertentangan peran keduanya ini kemudian mulai memudar sejak aturan tentang madrasah mu’adalah diberlakukan. Hal tersebut diatur dalam PMA No 13 tahun 2014 tentang pendidikan agama Islam dan PMA No 60 Tahun 2015 tentang pendidikan madrasah. Namun, aturan tersebut, tidak berarti menghapus desparatas peran pendidikan madrasah nonformal di pesantren. Madrasah Diniyah pesantren yang ada tetap diselenggarakan. Akibatnya, pesantren mengalami masalah baru yakni para santri terlihat apatis pada pendidikan nonformal yang pesantren yang sebenarnya dianggap pendidikan yang paling penting dari pada

pendidikan formalnya. Hal demikian karena pendidikan takmiliyah tidak memiliki ijazah formal sehingga peranya sedikit demi sedikit melemah.

Akhirnya, pada tahun 2019, UU pesantren hadir untuk menjembataninya. Dalam penjelasan aturan yuridis ini, lulusan madrasah nonformal pesantren diakui setara dengan lulusan pesantren. Tentunya, Adanya UU ini belum terbukti implikasinya. Dengan kata lain, aturan tersebut belum diimplementasikan dalam menanggapi isu disparitas pelaksanaan madrasah nonformal dan pendidikan di pesantren. Walauun demikian, indikasi bahwa adanya upaya meminimalisir perbedaan madrasah nonformal dan pendidikan formal tentu sudah dilakukan pada tahun tersebut.

b. Perubahan dan Perkembangan Madrasah Sebagai Sub Unit Pendidikan Pesantren

Secara sosial-antroplogis, madrasah merupakan institusi tahap final perkembangan pendidikan Islam. Pendidikan Islam diawali dengan memakai intrumen masjid sebagai tempat belajar. Ahmad Syalabi mengemukan bahwa masjid ada tempat multiguna yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan belajar.104 Kemudian pada tahap selanjutnya, dikembangkan instrumen berbentuk pondok (khan) yang dipadu dengan masjid yang sudah ada. Terkait hal ini, Lalu pada tahap perkembangan ke III, baru madrasah didirikan dengan fungsi memadukan fungsi masjid dan khan tersebut. Geroge Makdisi mengatakan bahwa perkembangan

104 Ahmad Syalabi, al Tarbiyah al Islamiyah, Nuzumuha, Falsafatuha, Tarikhuka (Kairo:

Maktabah al Nahdah al Mashriyah, 1987), 43.

madrasah adalah hasil metamorfosis yang berangsur-angsur dari fungsi masjid.105 Hal ini sebagaimana yang dipaparkann oleh Halim Soebahar yang mengutip penjelas Bosworth dan temen-teman, yakni sebagai berikut:

The madrasah is the product of three steges in the development of the college in Islam. The mosque or masjid, partuculary in ist designation as the non congregational mosque, was the first stage, and it fuctional in this as an instructional centre. The second stage was the masdjid-khan complex, in which the khan or hostelly served as a lodging for out-of-town student. The third stage was the madrasa proper, in which the fuctions of both masdjid and khan were combined in an institution based on a single wakf deed”.106

Teori George Makdisi tentang lahirnya madrasah yang menganggapnya merupakan perkembangan tahap demi tahap pendidikan Islam klasik di atas, ditentang oleh Ahmad Syalabi. Ahmad Syalabi berpendapat bahwa proses trasformasi tersebut terjadi secara langsung dari masjid menuju madrasah.107 Namun perbedaan tersebut terjadi disebabkan perbedaan dalam mempersepsikan masjid, hal itu dibuktikan dari dimasukkannya masjid Jami’ Damaskus sebagai masjid umum oleh Ahmad Syalabi, padahal masjid tersebut memiliki kriteria masjid khan dalam teori George Makdisi.108

Secara umum, sejarah berdirinya madrasah dalam dunia Islam selalu dikaitkan dengan didirikannya madrasah Nizamiyah di Baghdad

105 Ia menjelaskan bahwa masjid yang telah mengalami modifikasi dengan ditambahi ruangan khusus untuk proses belajar, dan sarana penginapan (pemodokan) bagi pelajar yang berasal dari daerah yang jauh. George Makdisi, The Rise of College Institutions of Learning in Islam and the West (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1981), 47. Lihat juga Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam (Bandung: Mizan, 1996), 51.

106 Abd. Halim Soebahar, Pendidikan Islam dan Trend Masa Depan Pemetaan Wacana dan Reorientasi. (Jember: Pena Salsabila: 2009). 236

107 Ahmad Syalabi, History of Muslim Education (Beirut: Dar al Kasshaf, 1954), 257-259.

108 Ibid,107-109.

pada tahun 457 H/ 1065 M oleh perdana menteri Nizam al Mulk pada masa Bani Salajiqah (Seljuk). Ahmad Syalabi menyebutnya sebagai madrasah pertama dalam pendidikan Islam.109 Kala itu dalam dunia pendidikan lebih disebabkan oleh madrasah ini adalah istitusi pertama yang didirikan secara massif di kalangan umat Islam, sekaligus sebagai madrasah yang mendapatkan perhatian dan pembiayaan penuh dari pemerintah melalui perdana menteri Nizam al Mulk.110

Jika ditelusuri dari sejarah nasional bangsa Indonesia, madrasah erat kaitannya dengan sejarah lahir pesantren. Dapat ditelusuri bahwa perkembangan madrasah itu beriringan dengan pengembangan lembaga penyiaran dan pendidikan Islam di Indoenesia, yakni pesantren. Sebab inilah, membahas tentang madrasah, tidak dapat dipisahkan dari pembahsann tentang pesantren. Keduanya adalah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Madrasah merupakan perkembangan selanjutnya dari pesantren yang didirikan oleh para wali. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa madrasah adalah subsistem pesantren yang harus sema-sama dirawat sebagaimana pesantren dipelihara keberadaannya.111

109 Ibid,116.

110 Lihat. Abd Majid Abd al Futuh, al Tarikh al Siyasi wa al Fikri,179. Sedangkan George Makdisi berpendapat madrasah Nizamiyah didirikan atas inisiatif dan obsesi pribadi Nizam al Mulk, tanpa campur tangan pemerintah. Hal itu didasarkan kepada orientasi materi madrasah yang menitik beratkan kepada fiqh Syafi’i dan kalam Ash’ari yang berbeda dengan paham pemimpin Bani Seljuk Alp Arsalan yang pengikut fiqh Hanafi dan kalam Maturdli. George Makdisi, “The Sunni Revival” dalam D. H. Richard (Ed.), Islamic Civilization (Oxford: Bruno Cassier, 1973), 950.

111 Asnawan, “Integrasi Pendidikan Formal dan Pendidikan Diniyah Salafiyah Terhadap Santri Assunniyyah Kencong Jember Sebagai Antisipasi Ouput Pesantren di Era Regulasi Pendidikan Nasional”. Jurnal Falasifah Studi Keislaman, 64. e journal https://ejournal.staifas.ac.id/index.php/fala sifa/article/view/3 diakses tanggal 21/04/2018

Selain itu juga dikisahkah bahwa Madrasah yang pertama lahir di Indonesia adalah Madrasah Adabiyah di Padang (Sumatera Barat), yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Madrasah ini marupakan perpaduan dari pendidikan agama surau dan model pendidikan HIS (Holand Inland School), kemudian diikuti oleh Madrasah Salafiyah di Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1916 berkat usaha KH. Ilyas dan KH. Wahid Hasyim, serta disusul Madrasah Muhammadiyah pada tahun 1918 yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan.112

Pada aspek tranformasi sistemnya, madrasah merupakan sebuah sintesa hasil perpaduan metode atau sistem pembelajaran Belanda dengan budaya dan tradisi keilmuan Islam pesantren. Oleh karenanya sejarah lahirnya madrasah di Indonesia, pada umumnya, muncul dalam komunitas pesantren (surau, atau lembaga sejenis pesantren lainnya).

Sebagai sebuah hasil akulturasi pendidikan, pertumbuhan dan perkembangan madrasah di Indonesia lebih bercorak lokal daripada meniru perkembangan madrasah di Timur Tengah. Hal tersebut dibuktikan dengan lahirnya madrasah-madrasah khusus bagi perempuan dan juga ada madrasah yang memasukkan materi kesenian (music) dalam pelajarannya. Hal itu tentu bukan merupakan sistem yang memiliki historical source dari madrasah Timur Tengah.113

112 Hasbullah, Sejarah Pendidikan ...168-169.

113 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren.., 38.

166 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,185-186.

Ada beberapa tranformasi sepanjang perkembangan madrasah diniyah. Madrasah diniyah merupakan evolusi dari pesantren salaf. Pada awalnya pendidikan tersebut berupa haloqoh-halaqoh pengajian kitab atau diskusi keislaman yang terorganisir.114 Pada perkembangannya, haloqoh tersebut memakai pengelompokkan pesarta didik. Pada tahap ini, di beberapa pesantren sudah dikenal dengan nama madrasah diniyah atau bisa disebut sehari-harinya dengan diniyah saja. Proses pengembangan yang demikian ini berlangsung sejak tahun 1991.

Penjenjangannya kala tahun itu masih belum seperti yang ada sekarang (ula, wustho dan ulya), akan tetapi terdiri dari pertama, tipe A.

Tipe ini berfungsi membantu dan menyempurnakan pencapaian tema sentral pendidikan agama pada sekolah umum terutama dalam hal praktek dan latihan ibadah serta membaca al-qur’an. Kedua, tipe B berfungsi meningkatkan pengetahuan agama islam sehingga setara dengan madrasah. Madrasah ini lebih berorientasi pada kurikulum madrasah ibtida’iyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah.

Ketiga, tipe C berfungsi untuk pendalaman agama dengan sistem pondok pesantren.115

Madrasah diniyah yang berdiri sejak zaman klasik–pada umumnya–memakai nama mahzab, aliran, pesantren bahkan banyak juga memakai nama pendirinya. Pada konteks ini, nama madrasah yang didirikan berdasarkan nama mahzab dapat diindikasikan bahwa

114 Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (Bandung: Mizan, 1999), 21-23

115 Tim Penulis, Pedoman penyelenggaraan..,11.

madrasah tersebut berdiri sejak zaman klasik. Sedangkan madrasah diniyah yang memakai nama pendiri atau institusi yang mendirikannya, secara umum diKatagorikan usia lebih muda dari pada yang memakai nama mahzab. Hal ini disebabkan penamaan mahzab berhubungan dengan misi penyiaran agama Islam pada era tradisional.116

Pendidikan pesantren dan madrasah diniyah yang fokus pendidikan agama dan wajib memenuhi aturan hukum positif yang ada, menjadikan fungsi madrasah sebagai wadah reproduksi ulama dalam posisi dilematis. Pendidikan madrasah diniyah dan pesantren yang hanya bermaterikan pengetahuan agama, dirasa hanya akan melahirkan ulama yang tidak memiliki wawasan global. Sementara pendidikan madrasah sebenarnya sudah merupakan sekolah umum dengan menjadikan pendidikan agama sebagai ciri kelembagaannya. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah malakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan problem tersebut dan terealisasi dengan didirikannya MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) pada tahun 1987.117

Lahirnya Peraturan Pemerintah no. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan118 merupakan peluang dan sekaligus tantangan. Peluang, adanya aturan itu mengindikasikan bahwa madrasah telah diakomodir keberadaanya. Sedangkan disebut tantangan karena dengan demikian itu, madrasah memiliki kewajiban

116 Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), 33.

117 Hasbullah, Sejarah Pendidikan...,185-186.

118 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 55 Tahun 2007, Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, Pasal 21 ayat (1) , (2), dan (3).

untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai lembaga pendidikan yang syah menurut aturan pada umumnya yang berlaku di Indonesia.

Secara historis, madrasah formal di Indonesia sepenuhnya merupakan usaha penyesuaian atas tradisi persekolahan yang dikembangkan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Dengan struktur dan mekanisme yang hampir sama, dan sekilas madrasah adalah bentuk lain dari lembaga pendidikan yang memiliki muatan dan corak keislaman.119 Sebagaimana yang juga dikatakan oleh Deliar Noer, Kemunculan dan perkembangan madrasah tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan Islam yang diawali oleh usaha sejumlah tokoh intelektual agama kemudian dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam baik di Jawa, Sumatra, maupun Kalimantan.120

Sebagaimana yang dibahas sebelumnya bahwa perkembangan madrasah secara yuridis, akibat adanya tekanan aturan zaman kolonial dan gerakan pembaharuan pendidikan pecah menjadi dua jenis. Jenis madrasah formal dan madrasah nonformal. Jenis madrasah adalah madrasah yang diperbarui dengan metodologi modern. Tidak hanya mengajarakan ilmu agama saja, tetapi juga mengajarkan ilmu umum seperti fisika dan lain sebagainya.

Selain itu, madrasah formal secara yuridis maksudnya adalah madrasah yang sesuai dengan aturan resmi pemerintah. Maksudnya sesuai dengan standar dan tujuan pendidikan nasional. Secara pendidikan

119 IP Simanjuntak, Perkembangan ,,,, 24.

120 Deliar Noer, Gerakan Modern …., 7.

formal harus berjenjang. Pada sisi ini jugalah yang ada dalam sistem pendidikan formal. Sebagaimana yang ada dalam aturan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri pada tanggal 24 Maret 1975.

Dalam Bab I pasal 1, ayat (2) dinyatakan Madrasah itu meliputi 3 Tingkatan: (a) Madrasah Ibtidaiyah setingkat dengan Sekolah Dasar, (b) Madrasah Tsanawiyah setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama, (c) Madrasah Aliyah setingkat dengan Sekolah Menengah Atas.121

Selanjutnya, pada proses pemaduannya metode formalnya, Madrasah mengalami pengintegrasian saat lahirnya UUSPN No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mencakup ketentuan semua jalur dan jenis pendidikan. Baik jalur sekolah dan luar sekolah, serta meliputi jenis pendidikan akademik, pendidikan profesional, pendidikan kejuruan, dan pendidikan keagamaan.122

Berdasarkan hal di atas maka dapat dijelaskan bahwa madrasah formal memiliki keterpaduan erat dengan sistem pendidikan formal nasional. Hadirnya UU NO 2 Tahun 1998 secara difinitif menyetarakan sekolah dengan madrasah. Undang-undang tersebut berisi penegasan definitif tentang madrasah yang lebih operasional dan dimasukkan dalam Katagori sekolah tanpa menghilangkan karakter keagamaannya. Melalui upaya ini madrasah berkembang secara terpadu dalam sistem pendidikan.123

121 Departemen Agama RI, Pendidikan Islam….., 64.

122 Baca, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Golden Terayon Press, 1994).

123 Maksum,Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, …, 131-133.

Secara historis, munculnya madrasah formal tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan Islam yang dipraskarsai oleh usaha sejumlah tokoh intelektual agama. Munculnya gerakan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 ini, didasarkan pada kesadaran dan semangat yang kompleks.124 Namun pada intinya, kompleksitasnya adalah merupakan dorongan pada arus perkembangan situasi zaman yang terjadi.

Jadi pada intinya, historitas proses perkembangan madrasah formal merupakan respon atas kebijakan dan politik pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Ada jug yang megatakan bahwa madrasah formal merupakan lembaga persekolahan ala Belanda dengan muatan keagamaan. Pengembangan tradisi pendidikan rakyat Indonesia, terutama pesantren pada masa itu diusulkan oleh Belanda. Walaupun banyak yang melawan akan tetapi pesantren pada akhirnya beberapa menyetujui aturan tersebut. Sebab kala itu pendidikan Islam yang ada, dipandang memiliki kebiasaan yang dianggap jelek, baik dari sudut kelembagaan, kurikulum, maupun metode pembelajarannya.125

Kemudian, pada akhirnya untuk memperbarui pendidikan Islam beberapa tokoh menempuh pendidikan Islam tradisional dan sekolah umum ala Belanda. Mereka mengkombinasikan pelajaran keagamaan

124 Adapun faktor yang komplek tersebut, adalah Faktor keinginan untuk kembali pada al qur’an dan hadis, Faktor semangat nasionalisme melawan penjajah, Faktor memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, politik dan budaya, dan Faktor pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Lengkapnya lihat. Karel A Steenbrink, Pesantren Madrasah...., 26-29

125 Penjesan ini ada dalam, S. Nasution, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Bandung: Jemmars, 1983), 4.