• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilihan Tim Perumus Kurikulum

Dalam dokumen manajemen integrasi kurikulum madrasah diniyah (Halaman 160-192)

METODE PENELITIAN

A. Paparan Data

4. Pemilihan Tim Perumus Kurikulum

Tabel 4.3 Jenis Lembaga Pendidikan Kyai Syarifuddin186

KONTEN RAPAT KETERANGAN

1. Sambutan Ketua Yayasan Disampaikan masalah yang menjadi

menuturkan bahwa proses integrasi kurikulum pesantren Kyai Syarifuddin dilakukan dengan menguatkan kesadaran bersama.

Kesadaran yang dimaksud adalah kesadaran setiap pengelola organisasi pendidikan pesantren, baik pengelola organisasi pesantren maupun pengelola pendidikan formal. Menurutnya, kesadaran yang harus ditanamkan lebih dahulu dalam proses internalisasi budaya pesantren adalah kesadaran bahwa pesantren adalah amanah dari Tuhan. Jadi setiap pendidikan yang dibawah naungan pesantren juga bagian dari amanahNya.188

Pengurus yayasan pesantren tentu pada aspek ini sudah memiliki kesadaran demikian, sedangkan pengelolah pendidikan formal masih mungkin memilikinya. Sehingga, internalisasi kesadaran demikian ini juga harus ditanamakan pada pengelola pendidikan formal agar tanggung jawab mereka pada organisasi pesantren sama juga memiliki aspek teologi sebagai pengurus pesantren dalam membangun budaya pesantren sejak awal. Hal inilah yang diperankan dan selalu ada dalam konten sambutan pengasuh dalam rapat perencaan integrasi kurikulum pesantren. Hal ini sebagamana dinyatakan oleh Abdul Ghofur, Waka Kesiswaan MA Pesantren,

“Bagus pertanyaanya ini. Mun menurut kule budaya pesantren ini menjadi asas pengembangan semua lembaga pendidikan pesantren ini karena dilakukan dengan penguatan kesadaran bersama. Artena, harus ada kesadaran yang dibangun secara bersama. Delem pandangan den kaule, kesadaran yang berusaha

188 Wawancara, Holifah (Pendidik di Lembaga MTs Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal;

05/09/2020

dibangun ini adalah kesadaran bahwa pesantren ini adalah amanah dari Tuhan. Jadi semua tujuan pengembangannya harus tidak melanggar ajaran agama. Dengan sadar akan hal ini, dari santri, guru, dan semuanya kan jadi bersama-sama yakin bahwa kerjanya itu merupakan amanah yang bernilai ibadah.”189

Kesadaran yang demikian ini berusaha ditanamkan melalui sambutan-sambutan bahkan dalam pertemuan nonformal pengasuh pesantren. Salah satu caranya misalnya dikumpukan dan diberikan arahan. Beberapa pengelola organsaisasi pendidikan sering dikumpulkan untuk mendapatkan arahan dari ketua yayasan dan pengasuh pesantren. Cara utama membangun keterpaduan budaya pesantren adalah dengan meratakan kesadaran tiap-tiap pengurus atau karyawan yang bertugas dalam setiap divisi. Setelah kesadaran sudah tumbuh, maka tentu kesenadaan akan orientasi akan lahir.

Orientasi yang dimaksud tentu yang telah dirumuskan sejak awal oleh pesantren. Dalam dokumentasi dijelaskan bahwa pesantren memiliki visi dan misi tertentu yang tentu meliputi peningkatan kapasitas keagamaan sebagaimana orientasi madrasah diniyahnya, penguatan pengetahuan dan moral sebagaimana yang ada di pendidikan formal dan diniyahnya. Jadi dasar tujuan kurikulum yang dikembangkan tidak terlepas dari visi dan misi yayasan pendidikannya.

Untuk meperjelasan visi dan misi tersebut, penulis memaparkan ulang dokumentasi sebagaimana data berikut ini;

189 Wawancara, Abdul Ghofur (waka Kesiswaaan MA dan Madin Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal 02/01/2021

Gambar 4.1 Visi dan Misi Yayasan Pendidikan Pesantren Sebagaia Acuan Perumusan Tujuan Integrasi Kurikulum190

Pada perkumpulan antar pengurus, kyai diceritakan memberikan arahan agar seluruh komponen pengelolah pendidikan memiliki seperangkat kesadaran yang sama. Kesadaran bersama yang berusaha dibentuk oleh kyai adalah kesadaran akan tanggung jawab profesionalitas kerja teologis. Artinya kyai dalam arahanya berusaha menyampaikan bahwa dalam kerja-kerja pengelolaan organisasi harus dilaksankan dengan profosional dan kepercayaan teologis. Kepercayaan teologis yang dimaksud adalah pelaksanaan kerjanya diyakini memiliki sisi spiritual teologis Islam.

Selain itu, tentu bukan hanya itu saja. Ketua yayasan selalu menyampaikan bahwa perumusan kerikulum yang merupakan instrumen pesantren dalam mencapai tujuan diharapkan sejak awal.

190 Dokumentasi, profil pesantren Kyai Syarifuddin Tahun 2020

Visi •Terbentuknya generasi muslim yang berilmu luas, beriman kuat, beramal sholeh, dan berakhlakul karimah

Misi

•Penyelenggaran kegiatan pendidikan, baik formal,informal, maupun nonformal untuk mencetak santri yang berilmu dan berwawasan luas

•Menyelenggarakan kegiatan ritual keagamaan sebagai wahana pendidikan spiritual santri dalam praktik kehidupan sehari-hari

•Mengembangkan sikap berakhlakul karimah seperti diteladankan oleh Rasulullah Saw. dan Para Salafuna al Sholih.

Sebagaimana visi dan misinya, pendidikan pesantren nampak ditujukan untuk meningkatkan keilmuan, keimanan, serta amal sholeh dan akhlak yang terpuji. Jadi secara garis besar, kurikulum pendidikan mesti dirumuskan secara kreatif sesuai dengan kebaruan kebutuhan dan tentu juga mesti tetap komitmen pada nilai luhur pesantren yang sejak awal ada.

Pada sisi ini, Gus Wadud menjelaskan apa yang penting dan menjadi dasar pengembangan integrasi kurikulum pesantren adalah nilai-nilai yang menjadi acuan pengembangan pendidikan. Lengkap ia mengatakan,

“Sebenarnya, acuan utama pengembangan kurikulum itu tetap tad.

Sejak awal kita kan memadukan dua hal sekaligus. Mencoba berinovasi untuk lebih baik dan juga tentu berusahan menjaga nilai-nilai luhur yang ada di pesantren ini. Itu alasan kenapa saya selalu mengulang-ngulang pernyataan setiap rapat. Jangan sungkan untuk berinovasi. Sebab dari awal para pengelolah di pesantren diharapkan dapat bekerja dengan orientasi

“Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan mentransfer nilai- nilai baru yang lebih baik”. Kalau dalam bahasa fiqhnnya, almuhafadhatu ala qodimis sholeh, wal ahdu bijadidil aslah.

Yang penting ini. Jadi penting menjaga yang tradisional sebab baik dan tentu juga penting berinovasi sebab mencari hal yang baik juga.”191

Nampaknnya dasar tujuan pengembangan ini berkonsekuen pada dirumuskan beberapa tujuan pengembangan pendidikan yang dicanangkan. Hal ini sebagaimana yang ditemukan dalam proses observasi yang dilakukan oleh peneliti. Saat peneliti berkunjung ke

191 Wawancara, Abdul Wadud Nafis, (Kepala Yayasan Pendidikan Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal 02/01/2021

beberapa kantor lembaga pendidikan yang ada di pesantren Kyai Syarifuddin, banyak terlihat beberapa trilogi tujuan pendidikan yang tertempel di beberapa kesekertariatan pesantren. Adapun tulisan yang ada adalah modern dalam sistem pendidikan dan proses belajar mengajar, tradisional Islami dalam tata krama atau adab sopan santun serta Qur'an, dan Sunnah Shohihah dalam beraqidah syari'ah.192

Ketiga orientasi utama ini dijelaskan oleh Gus Darwis sebagai pengembangan dari dasar tujuannya. Inti dasar yang dimaksud tentu adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Gus Wadud. Merawat sesuatu yang sejak awal baik yang berupa nilai maupun orientasi, dinyatakan ada pada redaksi kedua yakni tradisioanal Islam, Qur’an dan Sunnah nabi. Ketiganya tentu juga dikenal sebagai orientasi tafaqohu fi ad din. Artinya merupakan dasar pengembangan pendidikan yang umum ada di pesantren salaf.193

Adapun dalam tujuan yang menyangkut tentang pengembangan sesuatu yang baru, dalam tujuan yang telah dirumuskan ada pada redaksi modern dalam sistem pendidkan dan proses belajar-mengajar.

Maksud dari tujuan ini, dijelaskan oleh Mohammad Farid, Waka Kurikulum Madrasah Diniyah. Ia menyampaikan bahwa untuk masalah sistem, dan metode belajar mengajar, didorong untuk sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman. Dengan kata lain seluruh hal

192 Observasi, Kantor lembaga pendidikana Pesantren Kyai Syarifuddin Tanggal 02- 20/01/2021

193 Wawancara, Mohammad Darwis, (Kepala Kepala Madrasah Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal; 05/09/2020

menyangut keduanya penting untuk dirumuskan secara seksama dan komprahensif sesuai dengan kebutuhan santri, atau secara umum masyarakat luas. Secara keseluruhan dapat dibilang, proses integrasi kurikulum menekankan pengurus utama kembali hal-hal yang paling fundamental dalam pendidikan madrasah agar dapat berkesinambungan dengan pengembangan pendidikan formal yang ada.194

Pernnyaatan di atas meperjelas bahwa perencaan integrasi kurikulum dilakukan dengan profesional dengan menggabungkan orintasi pesantren dengan modernitas kebaruan pengembangan pendidikan. Target utamanya tentu untuk menjawab masalah semikin lemahnya madrasah dalam menarik minat peserta didiknya. Secara konkrit integrasi kurikulum direncanakan agar pengelolaan pendidikan tidak hanya semata mengejar prestasi lembaga formal tempatnya saja.

Lembaga pendidikan formal yang ada harus diyakini merupakan komponen penunjang mutu pendidikan pesantren secara holistic.

Sehingga peran keduanya perlu disadari merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Hal ini sebagaimana dikemukan oleh Moh Kosim, anggota kepengurusan pengembangan pendidikan madrasah, mengatakan,

“Untuk menginternalisasikan ya kyai panggil semua pengurus yayasan, dan pengelolah lembaga pendidikan formal..

Kemudian kyai beri arahan agar mereka paham bahwa pesantren ini didirikan ada tujuannya. Mereka harus memiliki kesadaran bersama-sama untuk mencapai tujuan itu. Selain itu kyai saya sering memberikan pemahaman pada mereka bahwa mereka hari ini kerja di lembaga pendidikan pesantren dan

194 Wawancara, Mohammad Farid, (Waka Kurikulum Pusat Yayasan Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal; 09/02/2021

tentu akan mendapatkan tunjangan hidup dari pesantren.

Dengan demikian maka kyai ingin mereka sadar bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membantu pesantren ini agar mencapai tujuannya sebagaimana tujuan awal didirikannya. Semangat ini yang tentu juga mendorong adanya kesemangatan beberapa lembaga formal untuk merumuskan kurikulum pendidikan dengan memadukan orientasi pengembangan pendidikan madrasah diniyah”.195 Setelah kesadaran akan tujuan bersama seperti yang dijelaskan di atas, barulah selanjutnya beberapa dirapatkan beberapa pelaksana integrasi kurikulum di masing-masing lembaga. Pada aspek ini juga diadakan beberapa musyawarah. Salah satunya dalah berkaitan dengan penyusunan mata pembelajaran masing-masing sub pendidikan. Terkait dengan hal ini, informasi di dapat dari beberapa kepala sub pendidikan.

Mata pelajaran dirumuskan bersama dengan mencoba menimbang beberapa mata pelajaran serumpun agama yang wajib dalam pendidikan formalnya. Hal ini sebagiamana yang diungapkan kepala MA Pesantren Syarifuddin, Abdul Haliq,

“Perumusan mapel itu dilakukan secara bersama-sama, tentu dengan cara menimbang beberapa rumpun mata pelajaran yang dibutuhkan. Dalam musyarah biasanya seluruh mata pelejaran disatukan, baik dari diniyah dan fornal. Yang dibandingkan adalah beberapa matapelajaran agama yang sebelumnya sudah ada diniyah dan juga di formal. Beberapa pelajaran di pendidikan formal sepakat ditiadakan. Pendidikan keagamaan kemudian diganti seluruh dengan mapel diniyah. Hal inilah yang sebenarnya sangat menguntungkan, kalau dulu kan beberapa mapel harus diajarkan doble. Dengan integrasi ini, mapel dapat difokuskan”.196

195 Wawancara, Moh Kosim (Waka Kesiswaan Madrasah pesantrenan Kyai Syarifuddin Lumajang) Tanggal; 05/09/2020

196 Wawancara, Abdul Haliq (Kepala Madarasah Aliyah Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal; 05/09/2020

Beberapa data dokumentasi juga menginformasikan hal demikian.

Dalam lampiran penelitian ini, penulis menyertakan beberapa dokumnetasi sebelum dan sesudah dilakukan menejemen integrasi. Dari data yang disajikan, pada tahun 2006, masih ada pendidikan agama Islam, Bahasa Arab dan semacamanya. Namun pada tahun 2009, jadwal mata pelajaran agama dihilangkan. Tentu alasanya, ada refokusing pendidikan agama diniyah yang telah diintegrasikan.197 Data demikian memperlihatkan adanya perumusan mata-pelajaran yang disusun secara terintegrasi.

Untuk itu, ada beberapa masalah yang disadari. Integrasi kurikulum bukan hanya mempertimbangkan kesatuan tujuan, namun juga masalah strategi pembelajaran, keorganisasian kurikulum, dan tentu metode evaluasi. Sehingga beberapa komponen ini juga yang nampak dibahas dalam tahapan perencanan integrasi kurikulum yang dilakukan.

Adapun masalah strategi pembelajaran, tentu sebelum mendelagisikan perumusan kurikulum secara partisipatif pada beberapa lembaga, terlebih dahulu dilakukan analisis masalah yang menjadi penghambat pemaduan strategi pembelajaran dalam integrasi kurikulum yang direncanakan. Dalam hal ini, Gus Darwis mengemukakan hal yang paling mencolok untuk menjadi hambatan keterpaduan kurikulum madrasah pada pendidikan formalnya adalah perbedaan materi serta

197 Dokumentasi, Jadwa Pelajaran MTs dan MA Pesantren Syarifuddin Tahun 2006-2009

timing pembelajaran, pembiyaan dan SDM pendidiknya. Rincinya ia mengatakan,

“Beberapa persoalan yang didiskusikan sebelum merumuskan beberapa hal tentu adalah masalah yang menjadi hambatan dalam setiap komponen kurikulum. Salah satunya misal, terkait dengan stretegi pembelajaran yang akan dikembangkan. Tentu madrasah dan pendidikan formal itu strategi yang dipakai tidak sama. Madrasah Diniyah dalam hal ini mungkin saya menyebutnya sebagai madrasah diniyah, tentu banyak memakai cara sorogan, hafalan dan masih memakai kitab-kitab sebagai sumber materinya. Tentu yang demikian berbeda dengan pendidikan formal, metode yang dipakai sudah bukan sorogan dan tentu materinya juga sudah ditetapkan dari buku-buku umum”.198

Pada urusan materi, hambatan yang terjadi berkaitan dengan pemaduan materi pembelajaran madarasah yang mayoritas berasal dari kitab-kitab dengan materi satuan pendidikan umum yang kebanyakan bersumber pengetahuan umum dari buku-buku yang diwajibkan.

Kesejangan dalam bahan ajarnya tidak dapat terelakkan, menjadi penghambat dalam merumuskan integrasi kurikulum di Pesantren Syarifuddin. Rincinya Gus Aang Burhanuddin menuturkan bahwa hal yang paling sulit untuk disusun adalah pada masalah kesesuain bahan ajar madrasah dengan bahan ajar bahan ajar satuan pendidikan formal.

Secara ideal, seluruh kegiatan pembelajaran yang tujuannya

198 Wawancara, Mohammad Darwis, (Kepala Kepala Madrasah Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal; 05/09/2020

terintegrasi, mestinya juga menemukan integrasi satuan setiap sumber pembelajaran diintegrasikan. Katanya, idealnya memang begitu.199

Lengkapnya Gus Wadud menjelaskan bahwa integrasi meteri pembelajaran masih tidak dibuat secara formal. Namun beberapa pertimbangan mata pelajaran madrasah, juga perlu dipertimbangakan kesinambunganya dengan beberapa tujuan secara umum. Dengan kata lain, penyusunan integrasi mata pelejaran madrasah belum disusun secara utuh dan formal serta sistematis. Namun pemaduan telah mempertimbangkan secara seksama terkait hubungan dengan beberapa visi utama atau tujuan kurikulum pesantren diselenggarakan secara terpadu.200

Berdasarkan hal ini, menjadi jelas bahwa integrasi manajemen kurikulum belum secara komprahensif menyusun integrasi materi pembelajaran. Namun bukan berarti, belum memadukan orientasi pengembangan pendidikannya. Masuknya materi pendidikan madrasah ke dalam satuan pendidikan formal di pesantren Kyai Syarifuddin dilakukan guna menjamin kesamarataan kemampuan agama, moral dan pengetahuan umum para santri. Sisi ini yang nampak menjadi titik setiap materi pembelajaran memiliki peran masing-masing dalam mencapai tujuan utama pendidikan pesantren.

199 Wawancara, Aang Burahanudddin, (Majelis Pembinan Yayasan Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal; 05/09/2020

200 Wawancara, Abdul Wadud Nafis, (Kepala Yayasan Pendidikan Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal 02/01/2021

Materi madrasah merupakan dasar pengembangan ilmu agama dan tentu juga moral. Sedangkan materi dalam satuan pendidikan diandalkan guna pengembangan kapasitas ilmu umum dan profesionalitas kompetensi siswa. Peran demikian yang secara integrasi dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumusakan sesuai dengan visi dan misi yayasan. Dengan kata lain, walaupun tidak memasukkan integrasi mata pembelajaran, namun secara orientatif, tujuan masing pembelajaran memiliki tujuan yang saling berkesinambungan dan berhubungan. Pada titik ini, penulis melihat adanya bentuk integrasinya dapat dibaca sebagai integrasi orientasi mata pelajaran pada tujuan utama.

Namun, menurut Gus Umana Ur Rasul, walaupun tidak dapat dipertemukan secara materi. Upaya integrasi pengembangan kurikulum mesti harus dibangun tanpa asumsi dikotomik keilmuan. Para pengurus lembaga, utamanya bagian perumus kurikulam dan pendidik harus memiliki nalar integragsi pengembangan ilmu agama dan umum.

Keduanya harus sudah dipahami sama-sama penting. Sisi ini mengisyaratkan adanya kepentingan yang secara mendasar dipahami secara bersama-sama. Berkaitan dengan nalar pengembangan kurikulum yang dibangun di Pesantren Kyai Syarifuddin oleh para pemimpinnya dibentuk untuk menghilangkan dikotimi ilmu agama dan umum. Dalam penelitian terdahulu disebutkan bahwa nalar keilmuan yang dikembangkan adalah pemahaman ilmu agama dan ilmu umum

secara terpadu saling menguatkan dan penting dalam diskursus pengembangan pendidikan pesantren.

Hilangnya dikotomi keilmuan ini tentu akan menciptakan sinergi yang baik antar pengurus pesantren dan lembaga formal. Bahkan bisa menciptakan solidaritas kerja sama yang kuat antar masing-masing lembaga formal. Mereka secara keseluruhan sama melandasi tindakan organisasi pada orienstasi utama pesantren. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Gus Umana Ur sebagaimana berikut,

“Kita juga secara rutin membicarakan orientasi pencapaian tujuan pesantren melalui strategi musyawarah rutin yang diadakan. Sebagai pengurus kepesantrenan, kami merasa proses penguatan nilai pesantren juga dilakukan dalam forum pertemuan rutin pengurus pesantren dan jajaran dewan guru lembaga formal. Dalam pertemuan itu kyai selalu mengintruksikan untuk selalu bersinergi dalam mengembangkan peserta didik agar sesuai dengan tujuan luhur pendidikan pesantren. Jadi pada pertemuan tersebut, semua lembaga nampak saling bekerjasama untuk memenuhi keinginan kyai itu”.201

Keinginan kyai yang dimaksud dalam paparan di atas adalah tujuan awal pesantren didirikan yakni terselenggaranya pendidikan yang berorientasi pada mutu santri dalam ilmu dan imanya. Seluruh kerja kreatif pada pengurus mengarah pada satu visi pesantren yang bersumber dari harapan kyai itu. Artinya, visi pesantren sebagai pusat orientasi kerja organisasi berperan sebagai poros kerja semua pengurus.

Pada sisi inilah dapat terlihat pencapain orientas organisasi pesantren merupakan dasar utama yang juga menjadi arah pencapaian akhir

201 Wawancara, Umana Ur Rasul (Majleis Pembinan Yayasan Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang) Tanggal; 05/09/2020

pengelolaan keorganisasian pendidikan secara keseluruhan. Pengurus utama Kurikulum madrasah dalam organisasi pendidikan pesantren mengindikasikan tujuan integarasi manajemen kurikukulum sebagai penguatan sisi pembelajaran pendidikan madrasah dalam pendidikan formal yang sebelumnya tergerus.

Adapun visi puncak yang dimaksud pada aspek legal strukturnya adalah visi organisasi yayasan Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang. Sebagaimana sudah disampaikan diawal bahwa secara tertulis tidak memiliki visi misi, akan tetapi secara implementatif visinya diarahkan untuk mewujudkan santri yang beriman, berilmu dan berakhlaqul Karimah”.202

“Proses peleburan otamatis pasti terjadi setelah adanya kesamaan nilai yang dipercaya secara bersama-sama.

Kesamaan orientasi tentu dapat secara kuat membentuk kepercayaan seperangkat nilai. Dengan kata lain kepesantrenan dengan pengelolah lembaga formal meleburkan kesamaan nilai tersebut pada pembentukan visi pendidikan bersama. Walaupun secara redaksional antar lembaga pendidikan meiliki perbedaan secara redaksional. Namun nilai yang dibawah dalam visi visi tersebut sama.”203

Perkataan yang sama dengan obeservasi yang dilakukan di beberapa lembaga formal yang ada dalam naungan yayasan Pondok Pesantren. Ada temuan observasi yang nampak menjelaskan tiga elemen, sebagaimana yang disampaikan oleh Gus Darwis di atas. Hal tersebut nampak dipajang dalam tata aturan formal visi di beberapa

202 Dokumentasi, Kantor Yayasan....

203 Wawancara, Darwis (Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang) Tanggal; 11/08/2020

gedungnya. Beberapa kali peneliti melakukan obseravasi dan melihat postering, bahkan beberapa informan selalu menyambungkan pembicaraanya dengan beberapa poster tersebut.204 Untuk merangkum hasil temuan dalam proses ini, berusaha dikumpulkan dan digambarkan satu persatu yakni MTs, “Handal penguasaan IPTEK, IMTAQ, dan nilai-nilai kepesantrenan” dan MA, “Terwujudnya Madrasah yang berwawasan Qur’ani unggul dan mandiri”.

Sebagaimana data observasi di atas, ada elemen orientasi yang nampak tersirat dalam komponen organisasi pendidikan formal pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang. Semuanya nampak tetap tidak menghilangkan substansi orientasi yayasan pendidikan pesantren. Itu artinya mereka sudah memiliki kesadaran kerja bersama dalam memberikan layanan pendidikan. Tiga elemen yang ada menjadi visi yayasan nampak terus diperjuangkan dalam proses integarasi visinya di lembaga pendidikan formal. Kata yang sengaja dipertebal di atas secara tersirat menggambarkan tiga substansi orientasi.

Jadi secara rinci sudah dapat disimpulkan bahwa aspek kesamaan dalam proses integarasi kurikulum kedua organisasi terkait adalah dengan cara memadukan kesamaan tersebut pada orientasi bersama.

Secara formal orientasi bersama ini disusun sebagai visi yayasan yang menjadi dasar perumusan semua visi organisasi unit lembaga pendidikannya. Visi yang tersusun secara substansial terdiri dari tiga

204 Observasi, Lembaga pendidikan formal Pesantfren Kyai Syarifuddin Tanggal 23- 30/07/2019

elemen penting yakni moralitas, intelektualitas, dan sepritualitas agama.

Ketiga elemen ini sama dianggap penting keduanya di era globalisasi dewasa ini.

Selanjutnya, selain memadukan kesamaan bersama dalam satu misi, nampaknya juga ada upaya peleburan perbedaan budayanya.

Upaya tersebut dilakukan dengan dua cara yakni secara kultur dan struktur. Hal ini sebagaimana diungkapkan Gus Wadud yang mengatakan,

“Sebenarnya ada dua cara yang dilakukan. Ada cara struktural dan cara kultural. Kalau struktural lewat rencana dan strategis perencanan dan asesment kegiatan organisasi pendidikan secara terpadu. Adapun secara kultural itu dilakukan oleh kyai dan keluarga dhalem di beberapa lembaga. Kan majlis pengasuh sendiri bertugas di beberapa lembaga formal. Ya mereka selalu memberi arahan untuk saling gotong royong mengembangkan pendidikan pesantren. Kadang juga cara kultural dilakukan oleh majlis pengasuh sendiri. Kyai sering berkominikasi dengan para pengelolah pendidikan dan sebagianya secara sadar sama-sama mengembangan pendidikan pesantren ini”.205

Jadi, perlu ditegaskan kembali bahwa dalam hambatan perbedaan sumber ini, hal yang secara mendasar menjadi orientasi adalah penyama rataan tingkat pemahaman agama khas pesantren dengan potensi pengembangan ilmu di pendidikan formal. Adapun lebih rincinya, dalam hal strategi pembelajaran, proses penyamarataan ini dilakukan dengan cara menyeting kembali pembelajaran madrasah sebagai yang wajib ditempuh sebagaimana pendidikan formal atau umum. Jadi

205 Wawancara, Abdul Wadud Nafis, (Kepala Yayasan Pendidikan Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal 02/01/2021

dilakukan dengan cara memasukkan administrasi kurikulum pembelajaran saja.

Selain memabahas tentang strategi pembelajaran, dalam perencanaan tentu penting membahas organisasi perumus atau pengembanganya. Dalam hal ini, Ahmad Faruq menekankan bahwa sebenarnya secara keseluruhannya pendidikan pesantren adalah pendidikan diniyah dan umum. Jadi visi yayasan dalam hal ini adalah orentasi kordinat yang dominan sedangkan sub kordinatnya adalah kurikulum madarasah dan formal. Dengan demikian, integrasi kurikulum madrasah dilakukan dengan memerankan kesadaran non dikotomik pesantren sebagai dasar pengembangan semua unit kurikulum di dalamnya. Artinya, dalam merencanakan pengembangan utama integrasi ini, perlu juga menjamin tidak adanya dikotomik keilmuan. Fakta ini diambil dari penjelasan yang dikatakan salah satu pengurus kepesantrenan, Gus Wadud sampaikan, berikut ini,

“Saya ingat ustad, aba selalu adhebu “niat aghi mundhuk sambi asakolah, benni asakolah sambi mondhuk”. Kalimat itu yang ada dibenak semua jajaran dewan guru dan para asatid. Mereka yang bertugas di lembaga formal tentu paham bahwa maksud kyai ini.

Lembaga formal berdiri itu karena ingin memajukan pesantren.

Bukan sebaliknya. Kyai menggagas pendidikan fomal ini adalah pelengkap pendidikan pesantren agar santri semakin berkualitas.

Perkataan kyai ini yang kemudian dijadikan dasar dalam memadukan kerja pengelolaan organisasi formal pada pesantren.

Termasuk di dalamnya adalah kurikulum. Kurikulum madrasah sebenarnya menjadi jembatan agar pendidikan formal dapat bersinergi menjadi satu kesatuan dalam mencapai tujuan pendidikan utama yayasan pesantren ini.”206

206 Wawancara, Abdul Wadud Nafis, (Kepala Yayasan Pendidikan Pesantren Kyai Syarifuddin) Tanggal 02/01/2021

Dalam dokumen manajemen integrasi kurikulum madrasah diniyah (Halaman 160-192)