• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Terdahulu

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu yang relevan bertujuan untuk surve secara sungguh-sungguh mengenai apa yang telah diketahui dalam bidang yang akan diteliti. Adapun beberapa studi yang peneliti temukan dan memiliki relavansi dengan permasalahan yang dikembangkan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Disertasinya Rofik. Penelitiannya ini berjudul Pelaksanaan Kurikulum Terpadu Madrasah Mu’alimin Muhammaddiyah Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari penggabungan penggunaan Kurikulum Kemendiknas, Kurikulum Kemenag, dan Kurikulum Pesantren tersebut. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa output yang dihasilkan dari proses pendidikan terpadu ini memiliki ketiga aspek atau domain tujuan pendidikan. Ketiganya adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Out putnya ternyata bukan hanya menguasai ilmu umum, namun juga unggul dalam pendalaman ilmu agama serta berakhlak mulia .37

2. Penelitian yang dilakukan Agus Sriwanto. Penelitian ini berjudul Implementasi kurikulum Terpadu Di MTs pondok Pesantren Bantul Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang

37 Rofiq, Pelaksanaan Kurikulum Terpadu Madrasah Mu’alimin Muhammaddiyah Yogyakarta (Disertasi, UIN Sunan KaliJogo,2010), 245.

implementasi kurikulum terpadu di MTs Pondok Pesantren Ibnul Qoyyin Putra mencakup tiga aspek yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.

Hasil dari Peneliti ini menunjukkan sebagai berikut; (1) penetapan kurikulum terpadu MTs Ponpes Ibnul Qoyyim Putra berangkat dari kebutuhan konsep pendidikan yang seimbang antara pelajaran umum dengan agama dalam satuan pendidikan; (2) pelaksanaan kurikulum terpadu mengacu pada kurikulum Kemendikbud dikenal dengan istilah KTSP, Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai landasan penyusunan materi dalam setiap mata pelajaran; dan (3) evaluasi kurikulum terpadu dilaksanakan berdasarkan ketercapaian siswa terhadap hasil nilai pembelajaran di kelas serta sikap dan dilakukan sistem moving class setiap tahunnya.38

3. Penelitian Amanda Aykaniah dan Tara yang dilakukan pada tahun 2021.

Penelitian disusun dengan judul “Teaching Note—Teaching Students About Homelessness: A Model for Curriculum Integration”. Penelitian yang berbentuk Jurnal ini membahas tentang proses pengajarana tunawisma.

Konklusi dalam peneltiian ini menjelaskan bahwa proses pembelajaran perlu dilakukan dengan profesional, sistematis dan terorganisir. Adapun model integrasi yang ditemukan dalam penelitian ini adalah model yang integrasi yang dilakukan berdasar kondisi. Kondisi yang dimaksud adalah berdasarkan minat, keahlian dan waktu sempat

38 Agus Sriwanto, Implementasi kurikulum Terpadu Di MTs pondok Pesantren Bantul Yogyakarta (Disertasi, UIN Yogyakarta,2014)

yang dimiliki mereka. Kondisi keseluruhan ini dianalisis dan kemudian dijadikan dasar dalam pengembangan manajemen integrasi dalam hal pegembangan manejemen kurikulum.39

4. Reseach Sunhaji dalam. Jurnal internasional UHSS 2010. Judul penelitiannya The Implementation of Integrated Learning in the Islamic Religion Education as to Grow the Religiosity and Faith of Learners.

Dari tulisannya dapat di simpulkan bahwa “digunakan, dan evaluasi yang diterapkan secara langsung terhubung ke satu tema yang disatukan.

Selain itu penelitian ini juga menjelaskan tentang langkah-langkah untuk merencanakan instruksi tematik terpadu. Yang demikian ini adalah sebagai berikut: (1) untuk menentukan tema-tema utama yang dapat mencakup semua disiplin ilmu atau yang dapat membentuk suatu kesatuan yang mencakup ide-ide atau konsep-konsep utama yang mencakup semua disiplin atau proses kerja dari semua disiplin yang nilai- nilainya pada prinsipnya adalah sama; (2) untuk menyatukan beberapa disiplin ilmu, dan kegiatan pembelajaran melibatkan isi dan proses dari satu atau beberapa ilmu atau perilaku yang memiliki hubungan dengan tema yang dipilih; dan (3) untuk menyatukan berbagai metode pembelajaran. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada pengalaman nyata yang didasarkan pada minat dan kebutuhan siswa.40

39 Amanda Aykanian and Tara Ryan-Dedominicis, “Teaching Note—Teaching Students About Homelessness: A Model for Curriculum Integration,” Journal of Social Work Education 0, no. 0 (December 3, 2021): 1–11.

40 Sunhaji, The Implementation of Integrated Learning in the Islamic Religion Education as to Grow the Religiosity and Faith of Learners, Jurnal internasional UHSS 2010.

5. Penelitian Muhammad & Dato Osman Bakar. Penelitian ini berjudul

“Implementation of the “Integrated Education System” in Brunei Darussalam: Issues and Challenges. Hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa “Pelaksanaan Sistem Pendidikan Terpadu di Brunei Darussalam merupakan tanggapan terhadap seruan untuk memecahkan dilema Muslim dari sistem pendidikan ganda. Eksplorasi filosofi dan model desainnya mencerminkan model Islam yang sebenarnya, seperti yang disarankan oleh cendekiawan dan intelektual Muslim.

Model kurikulum didirikan berdasarkan kontruksi Tauḥīd. Sebagai cara pengembangan integrasi, mahasiswa diorientasikan agar dapat seimbang dalam hal perkembangan intelektual, spiritual, emosional, sosial dan fisik tanpa mengabaikan filosofi dan aspirasi bangsa. Hal Ini dikatakan sejalan dengan konsensus tiba di 313 sarjana yang berkumpul di Mekah pada Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Muslim, yang diadakan di Hotel Intercontinental, Al-Mukaramah, dari 31 Maret-8 April 1977.41

6. Penelitian Wardah Hanafie Das, Abdul Halik dan Amaluddin. Reseach ini berjudul Paradigm of Islamic Education in the Future: The Integration of Islamic Boarding School and Favorite. Berdasarkan penjelasannya dapat di simpulkan bahwa Islam sebagai agama universal dan terkait dalam setiap aspek yang akrab dengan dogma Islam rahmatan

41 Muhammad & Dato Osman Bakar. “Implementation of the “Integrated Education System”

in Brunei Darussalam: Issues and Challenges. Jurnal Universiti Brunei Darussalam, Sultan Omar Ali Saifuddien Centre for Islamic Studies & Oxford Centre for Islamic Studies.2016

lil alamin. Sebagai peradaban agama, Islam harus bertahan hidup melalui sistem pendidikan yang relavan dengan era perkembangan.

Secara historis satuan pendidikan Islam adalah pesantren yang dinilai sebagai representasi sains Islami. Dewasa ini harus berinteraksi dengan ilmu percepatan dan teknologi sebagai upaya pelaksanaan rahmatan lil alamin. Akibatnya, sekolah favorit sebagai representasi ilmu pengetahuan dan teknologi bersama dengan pendidikan modern sangat mendesak untuk berintegrasi dengan sistem pesantren tradisional Islam untuk memberikan solusi yang lebih baik dalam mencapai tujuan Islam.

Penelitian ini menjelaskan solusinya adalah sistem pondok pesantren harus dipertahankan pada aspek budaya akademik yang mengusulkan kreativitas. Kekhasan kolaborasi sistem pendidikannya ini adalah model pendidikan Islam yang memiliki prospek dan mampu menjawab tuntutan zaman. Sebenarnya dapat dikembangkan dengan di terapkannya kurikulum pendidikan terpadu agar bisa mengatasi dan memenuhi kebutuhan masyakat dalam bidang ilmu agama dan umum.42 7. Penelitan yang dilakukan oleh Steenberik. Penilitian ini lalu diterbitkan

dengan judul buku Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Reseach yang dilakukan olehnya ini dilakukan dengan metode kualitaf juga.

Hal yang dibahas dalam penelitian tersebut adalah terkait dengan perkembangan pesantren menjadi sekolah dalam era modern ini.

42 Paradigm of Islamic Education in the Future: The Integration of Islamic Boarding School and Favorite, Information Managemen And Bussiness review ISSN 22220-3796, Vol. 8 no 4 PP.24-32 agustus 2016

Beberapa perkembangan terkait dengan bagaimana pesantren berkembang pada era modern dikisahkan secara komprahensif dalam penelitiannya ini.43

8. Penelitian Abdul Hakim dan N. Hani Herlin dengan judul Manajemen kurikulum terpadu di pondok pesantren modern Darul Huda Banjar, Penelitian ini membahas manajemen kurikulum terpadu Pondok pesantren modern Darul Huda Banjar meliputi: perencanaan, struktur kurikulum, dan pelaksanaan kurikulum terpadu. Dengan menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif, sebagai hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perencanaan kurikulum terpadu mencakup program pengembangan keimanan, akhlak mulia, keilmuan, kewarganegaraan dan kebangsaan, kesenian, kewirausahaan dan ketrampilan teknis, dakwah dan kemasyarakatan, kepemimpinan dan manajemen, keguruan, kepesantrenan, pendidikan kesetaraan gender, pendidikan jasmani dan kesehatan, kepramukaan, tahfidz al-Qur’an; (2) struktur kurikulum yang bersistem Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) terdiri dari kurikulum intra-kurikuler, ko-kurikuler dan ekstrakurikuler; (3) pelaksanaan manajemen kurikulum terpadu di pondok pesantren ini adalah memadukan beberapa jenis kurikulum antara lain kurikulum formal pemerintah dan kurikulum pondok pesantren.

43 Lenghkapnya lihat. Karel A Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta, LP3ES, 1994).

9. Penelitian yang ditulis oleh Muhammad Khoiruddin dengan judul Integrasi Kurikulum Pesantren dan Perguruan tinggi Di Universitas Juanda Bogor, Penelitian ini membahas tentang integrasi kurikulum pesantren dan perguruan tinggi, maka dapat ditemukan beberapa keunggulan dan keunikan di dalamnya, antara lain: (1) pengelolaan Pondok lebih mengedepankan aspek-aspek keterbukaan dan kekeluargaan, dimana tenaga pendidik dan kependidikannya berasal dari kalangan internal Universitas Djuanda Bogor yang berkompeten di bidangnya serta memprioritaskan para alumni yang memiliki kompetensi; (2) menyelenggarakan pembelajaran yang lebih mendalam mengenai multi dimensi keagamaan (Al-Qur’an, Tafsir, Hadist, Ahlaq, tasawuf maupun kajian-kajian lainnya) dan bahkan menjadikannya sebagai ciri khas Pondok Pesantren mahasiswa Universitas Djuanda; (3) Aspek kurikulum lebih menekankan pembekalan materi yang menekankan kepada empat aspek kecerdasan Spiritual, intelektual, Emosional, maupun sosial dimana dalam penekanan empat aspek tersebut para Mahasantri mampu membekali potensi dirinya kelak saat terjun dimasyarakat, (5) para mahasantri diberikan keterampilan lifeskill yang berhubungan langsung dengan kegiatan perkuliahan di kampus sehingga menjadikan Pesantren mahasiswa Universitas Djuanda bogor semakin berbeda dengan Pesantren-pesantren yang lain pada umumnya; (6) membenahi sarana

prasarana asrama bagi santri berupa asrama yang layak serta sarana penunjang lainnya.

Dalam konteks penelitian ini lebih menekankan pada pola penerapannya di lapangan yang setidaknya dapat diklasifikasi menjadi empat aspek, yaitu perencanaan kurikulum, organisasi kurikulum, pelaksanaan kurikulum dan pengawasan atau evaluasi kurikulum, Di Pesantren Mahasiswa Universitas Djuanda menerapkan kurikulum Takhassus (khusus) sebagai kurikulum khas Pesantren Mahasiswa Universitas Djuanda Bogor yaitu kajian Al-Qur’an sebagai ciri khas akademik Islam dan kajian kajian penunjang lainnya, Dengan Kurikulum Takhassus (berisi pembelajaran Kitab Kuning) diharapkan mampu menghasilkan suatu bentuk Kurikulum lokal Pesantren Mahasiswa Universitas Djuanda dengan proporsi seimbang diberikan kepada para Mahasantri.44

10. Penelitian yang di tulis oleh Ripa Niko dengan Judul Manajemen Integrasi Tiga Kurikulum Pendidikan (KMI Gontor, Salafiyah dan KEMENDIKBUD) di Pondok Pesantren Darussalam Rajapolah Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus.

Hasil dari penelitian di Pondok Pesantren Darussalam Rajapolah Tasikmalaya ini adalah: 1) perencanaan kurikulum integratif di Pondok Pesantren Darussalam dilakukan dengan dua cara, pertama

44 Muhammad Khoiruddin, “Integrasi Kurikulum Pesantren Dan Perguruan Tinggi,” Cendekia:

Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan 17, no. 2 (November 5, 2019): 219–34.

mengintegrasikan tujuan kurikulum yaitu Integrasi tujuan kurikulum pesantren dan sekolah yang terletak pada visi dan misi pengembangan pengetahuan ilmu umum dan agama. Kedua mengintegrasikan pengorganisasian isi kurikulum yaitu terletak pada penyandingan antara materi kurikulum pesantren dengan sekolah dalam bidang-bidang yang sama. 2) Pelaksanaan kurikulum integratif di Pondok Pesantren Darussalam dilakukan dengan dua cara, pertama mengintegrasikan program pelaksanaan kurikulum yaitu Integrasi dalam program pelaksanaan tiga kurikulum yang berbeda. Kedua Integrasi supervise pelaksanaan kurikulum sekolah dan pesantren terletak pada kegiatan evaluasi yang disamakan antara kurikulum pesantren dan sekolah. 3) Evaluasi pelaksanaan kurikulum integratif di Pondok Pesantren Darussalam dilakukan dengan empat cara, pertama melakukan evaluasi konteks kurikulum bersama yang meliputi: perkembangan social-budaya masyarakat dan perkembangan perguruan tinggi dan ketersedian lapangan kerja. Kedua melakukan evaluasi input bersama yang meliputi kompetensi SDM tenaga pendidik, kesiapan siswa serta sarana dan media pembelajaran. Ketiga, melakukan evaluasi proses yang meliputi evaluasi internal dan mingguan. Keempat, melakukan evaluasi produk yang meliputi evaluasi tengah tahun dan evaluasi akhir tahun.

Dari berbagai penelitian di atas dapat dilihat ada beberapa persamaan dan perbedaannya dengan yang peneliti tulis namun, disisi persamaan tersebut ada hal mendasar yang menunjukkan sisi

perbedaannya sehingga penelitian tetap harus dilakukan, maka dari itu kami uraikan perbedaan dan persaamaannya sera rinci dalam bentuk tabel sebagai berikut:

11. Penelitian yang dilakukan oleh Ali Wafa dengan judul “Ma’had Aly;

Kontinuetas dan Perubahan (Layanan Ma’had Aly Salafiyah Syafi’aiyah Situbondo, Nurul Jadid Paiton Probolinggo, dan Nurul Qodim Probolinggo). Ali Wafa juga merupakan lulusan Program Studi doctoral UIN Khas Jember. Penelitian yang dilakukanya ini juga merupakan tugas akhirnya. Sedangkan metodenya memakai pendekatan kualitatif.

Penjelasan yang disampaikan sebagai konklusi penelitian ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi dalam Ma’ahad Ali adalah autorespon secara selektif. Prosesnya terjadi melalui jalur formal.

Tentunya juga ada unfreezing meliputi beberapa hal yakni permasalahan utama, kontinuetas, diksontinuetas, dan faktor-faktor. Baru dilanjutkan dengan proses moving yang terdiri dari identifikasi kebutuhan, rencanan tindakan, pelaksanaan dan tentunya tindak lanjut. Terakhir dilanjutkan dengan proses freezing yang meliputi aspek-aspek proses seperti satbilisasi, dan pengukuran sebab akibat perubahan.

Penelitian ini memiliki kesamaan situs dengan penelitian terdahulu tersebut. Yakni, sama meneliti di Pesatren Nurul Jadid. Hanya saja seluruh kajian difokuskan pada perubahan pendidikan ma’had Aly.

Tentunya berbeda dengan penelitian ini yang fokus pada menejemen integrasi kurikulum madrasah ini.

12. Penelitian yang ditulis oleh Dr. Syuhud dengan judul “pengambilan keputusan di perguruan tinggi pesantren; study multisitus di Universitas Ibrahimi, Universitas Nurul Jadid Probolinggo. Syuhud sendiri juga merupakan mahasiswa pascasarjana UIN Khas. Sedangkan metode yang dipakai juga sama memakai pendekatan kualitatif. Persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama fokus pada sistem pendidikan pesantren Nurul Jadid.

Kesimpulan dalam penelitian ini dijelaskan bahwa pertama, pengambilan keputusan dilakukan dengan langkah seperti proses identifikasi masalah, pengembangan analisis internal dan eksternal, perumusan strategi, pelaksanaan dan evaluasi keputusan yang diambil.

Kedua, terkait dengan bentuk partisipasinya terdiri dari beberapa sisi yakni ide, pikiran usulan dan sebagainya. Ketiga, masalah pola yang dibangun yakni terlihat otoritatif, konsultatif dan beberbasis pesantren.

13. Penelitian yang dilakukan oleh Abu Hasan Agus R dengan tema

“Reinforcement Furudul ‘Ainiyah Santri melalui Intensifikasi Wali Asuh di Pondok Pesantren Nurul Jadid”. Peneliti terdahulu merupakan mahasiswa pascasarjana UIN KHAS. Bahkan dalam profil diketahui ia merupakan dosen di Universitasn Pesantren Nurul Jadid, tempat situs penelitian ini. Persamaan dengan penelitian ini adalah situsnya.

Sedangkan perbedaanya adalah tema besar yang diangkat.

Konklusi dari penelitian yang dilakukan Agus ini memaparkan bahwa ada beberapa strategi yang dilakukan oleh wali asuh dalam

penguatan (reinforcement) furudhul ‘ainiyah santri. Pertama, wali asuh melakukan pembinaan terhadap santri terkait materi furudhul ‘ainiyah.

Kedua, wali asuh melakukan pendampingan secara intensif. Ketiga, wali asuh mengadakan evaluasi satu minggu sekali dilakukan setiap malam kamis terhadap anak asuhnya. Sehingga dengan itu, wali asuh mengetahui kemampuan dan perkembangan pemahaman furudhul

‘ainiyah santri perindividu serta pengkondisian pembinaan furudhul

‘ainiyah santri lebih tertata dan lebih maksimal.

14. Disertasi yang ditulis oleh Ahmad Royani. Penulis merupakan mahasiswa dan dosen UIN Khas. Judul penelitian yang diangkat adalah “ Internalisasi Budaya Pesantren Di Perguruan Tinggi Islam Dalam Melahirkan Akademisi Religius Moderat (Studi Multisitus Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang)”. Metode sama dengan penelitian yang akan dilakukan ini yakni pendekatan kualitatif. Persamaan dengan penelitian ini tentu pada situsnya. Perbedaannya adalah pada fokus kajian yang dilakukan.

Berdasarkan pada beberapa kajian yang dilakukan, penelitian memberikan kesimpulan bahwa Pertama, konstruksi budaya pesantren dalam melahirkan akademisi religius moderat di kedua pondok pesantren dilakukan dengan bangunan artifak, nilai, pola pikir dan asumsi yang mengedepankan aspek religius moderat. Kedua, tipologi nilai pesantren yang di internalisasikan di perguruan tinggi tidak terlepas dari visi misi

dan tujuan pesantren dalam membangun perguruan tinggi yakni mencetak generasi berilmu yang beradab dan berakhlakul karimah dengan menjiwai nilai-nilai pesantren.

15. Desertasi yang disusun oleh Hasan Baharun berjudul “Manajemen Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Pondok Pesantren (Studi Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)”. Karyanya ini ditulis sekitar tahuan 2006. Ada kesamaan situs dengan penelitian ini dan tentu juga dengan sama metode dan pendekatan penelitianya.

Beberapa kajian yang dilakukan penelitian terdahulu memberikan gambaran bahwa proses peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan oleh pondok pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo dilakukan dengan (1) analisis lingkungan internal dan eksternal di pondok pesantren dengan menggunakan analisis “SWOT” (2) setelah melakukan analisis SWOT, maka ditetapkan visi dan misi sebagai arah dantujuan pengembangan pendidikan di pondok pesantren Nurul Jadid (3) untuk mewujudkan visi dan misi tersebut maka dilakukan pendidikan dan pembinaan santri yang dilaksanakan di asrama.

16. Penelitian yang disusun oleh Nurmayani dengan Judul “Implementasi Kurikulum Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan Di Pesantren Ar- Raudlatul Hasanah Medan Sumatera Utara” pada tahun 2017. Penelitian ini menfokuskan pada kurikulum juga namun bukan mengambil tema kajian manajemen integrasinya. Metodenya pun senada yakni memakai pendekatan kualitatif.

Dalam konklusi penelitian ini dijelaskan bahwa Implementasi kurikulum dalam meningkatkan mutu lulusan Pesantren Ar Raudlatul Hasanah Medan adalah penerapan kurikulum sesuai kebutuhan dan keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran, terutama dalam mewujudkan tujuan pendidikan di pesantren. Karena itu dalam implementasi kurikulum dilakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi terhadap kurikulum yang dilaksanakan dalam pembelajaran di pesantren guna peningkatan kualitas pembelajaran, kualitas pendidikan, sehingga mendukung dalam mewujudkan peningkatan mutu lulusan.

17. Penelitian yang dilakukan Hefniy dengan judul “Pergeseran Kepemimpinan Kyai dalam mengembangkan budaya di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo pada tahun 2016. Peneliti merupakan pejabat dan dosen di UIN KHAS. Persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan pada situs yang dijadikan objek kajian.

Namun tentu berbeda dalam hal kajian utamanya. Penelitian terdahulu tidak membahas tentang manajemen integrasi kurikulum.

Kesimpulan dalam penelitian ada beberapa hal, pertama, Ciri Budaya Pesantren dalam Pergeseran Kepemimpinan Kyai didasarkan pada faktor nasab/keturunan, musyawarah, hubungan perlindungan dengan yang dilindungi, tingkat kompetensi dan profesionalisme seorang pemimpin serta kompleksitas tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Kedua, Model karakteristik kepemimpinan kyai dalam

mengembangkan budaya pesantren di Nurul Jadid Paiton Probolinggo adalah model kepemimpinan yang merupakan perpaduan antara spiritualitas dan nilai-nilai profesional. Ketiga, Dampak model pergeseran kepemimpinan Kyai dalam mengembangkan budaya pesantren di Nurul Jadid Paiton Probolinggo tampak meningkatkan reputasi dan kemandirian.

18. Karya penelitian doktoral yang disusun oleh M. Syafiq Humaisi dengan tema kajian, “Kepemimpinan kharismatik kyai dalam peningkatan mutu pendidikan pesantren (studi multisitus di Ponpes Nurul Jadid Paiton, Ponpes Zainul Hasan Gengong, dan Ponpes Nurul Qodim Probolinggo)”

pada tahun 2018. Tentunya penelitian terdahulu ini juga meneliti di pesantren Nurul Jadid, jadi memiliki kesamaan lokus penelitian.

Berdasarkan kajian yang dilakukan, konklusi penelitian ini menyebutkan bahwa pertama, kepemimpinan kharismatik kyai dalam peningkatan mutu proses pendidikan pesantren yaitu (1) pengembangan kompetensi tenaga pendidik dengan pendidikan formal (Dua mode system S1 bagi yang belum S1, serta S2 di dalam maupun luar negeri) dan pendidikan informal (pelatihan dan workshop kurikulum madin), (2) pengembangan visiting teacher dan (3) pengembangan sarana pendidikan pesantren. Kedua, kepemimpinan kharismatik kyai dalam peningkatan mutu pengasuhan pendidikan yaitu (1) pengembangan berbasis asrama (2) pengembangan kualitas program pengasuhan dan (3) pengembangan kualitas waktu. Ketiga, kepemimpinan kharismatik kyai dalam

peningkatan mutu hasil pendidikan pesantren yaitu (1) penguatan jaringan kerjasama alumni di dalam negeri maupun di luar negeri (2) penguatan jaringan kerjasama dengan pondok pesantren dan perguruan tinggi dan (3) penguatan kompetensi alumni dengan pelatihan enterpreneurship dan pengabdian pada masyaraka

19. Penelitian Abdullah dengan judul “pendidikan islam telaah terhadap kurikulum pondok pesatren modern Islam assalam surakarta tahun 2006/2007”. Karya ini merupakan tugas akhir doktoralnya di UIN Sunan Kalijaga. Persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama mengkaji kurikulum pesantren. Namun tentu tidak membahas manajemen integrasi kurikulumnya.

Berdasarkan kajian yang dilakukan, konklusi penelitian terdahulu ini memberikan penjelasan substansial bahwa pertama, proses perencanaannya melibatkan partisipasi banyak pihak yang ada di pesantren secara demokratis. adil, dan terbuka. Kedua, implementasi kurikulum pcsantren multikultural ditentukan oleh buku ajar yang memuat nilai-nilai multikultural. Ketiga, evaluasi kurikulurn pesantren rnultikultural ditentukan oleh proses dan produknya.

20. Hamdan menulis penelitian dengan judul “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Diniyah Tingkat Wustha Di Kalimantan Selatan”. Penelitian ini merupakan tugas akhir pasca doktoralnya di Univerisitas Islam Negeri Antasari. Kesamaan dengan dengan kajian yang akan dilakukan

adalah masalah kurikulum pendidikan diniyah. Namun tentu berbeda, sebab kajian terdahulu tidak fokus pada managemen integrasi.

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah konklusinya dinyatakan bahwa Keberadaan kurikulum lembaga pendidikan keagamaan Islam di Kal-Sel sudah memiliki visi-misi lembaga, namun visi dan misi yang ada belum didukung dengan program yang jelas, visi- misi identik dengan tujuan output pendidikan diniyah atau SKL. Struktur kurikulum di beberapa lembaga pendidikan tingkat wustha masih beragam baik jumlah mata pelajaran maupun beban belajarnya.

Pelaksanaan kurikulum pendidikan diniyah di beberapa ponpes di Kalimantan Selatan terdapat dua model, yaitu: (a) kurikulum diniyah diberikan secara tersendiri waktunya pagi hari atau sore hari, dan (b) kurikulum diniyah waktunya menyatu dengan kurikulum kemendikbud atau kemenag.

Tabel. 2.1 Persamaan dan Perbedaan dengan Kajian Terdahulu NO Penulis, Tahun, dan Judul

Penelitian

Aspek Persamaan Perbedaan 1 Rofiq, Pelaksanaan Kurikulum

Terpadu Madrasah Mu’alimin Muhammaddiyah Yogyakarta (Disertasi, UIN Sunan KaliJogo,2010)

Ruang lingkup penelitian disertasi ini tentang integrasi kurikulum yang berada di lembaga pendidikan di pesantren

Lokus penelitian yang mengkaji tentang kurikulum kementrian agama, kemnetrian dan kurikulum

kebudayaan dan kurikulum

pesantren

2 penlitian yang dilakukan Agus Sriwanto. Penelitian ini

Ruang lingkup penelitian yang

Ruang lingkup penelitian ini