• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kosakata Moderasi dalam Al-Qur`an Dan

BAB II PENGERTIAN MODERASI

B. Kosakata Moderasi dalam Al-Qur`an Dan

1. Penyebutan Kata Moderasi atau Wasathiyyah dalam Al-Qur‟an

Kata wasath (طَسَو) dalam berbagai bentuknya dalam Al-Qur‟an disebutkan sebanyak lima kali, yaitu

52 Khaled Abu El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, Penerj. Helmi Musthafa, h. 29

53 Khaled Abu El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, Penerj. Helmi Musthafa, h. 29

terdapat pada QS. Al-Baqarah [2]: 143 dan 238, QS. Al- Maidah [5]: 89, QS. Al-Qalam [68]: 28, QS. Al-„Adiyat [100]: 5. Pada dasarnya penggunaan istilah wasath dalam ayat-ayat tersebut merujuk pada pengertian „tengah‟,

„adil‟, „pilihan‟.54

Kata wasath dalam bentuk fi‟il terdapat dalam QS.

Al-„Adiyat [100]: yang berbunyi,









“Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh”.

(QS. Al-„Adiyat [100]: 5)

Secara harfiah kata wasath dalam ayat tersebut berarti tengah-tengah. Wasath dalam QS. Al-„Adiyat [100]: 5, menyiratkan bahwa kata tersebut merupakan pasukan pilihan yang menyerbu ke tengah-tengah musuh sehingga menjadikan musuh mengalami kekalahan dahsyat.55 Ayat tersebut terkait dengan empat ayat sebelumnya yang menjelaskan pasukan mujahidin Islam yang berjihad dengan menggunakan kuda.56 Mufassir lain menyatakan bahwa pasukan tersebut bukanlah pasukan

54 M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia Al-Qur‟an, jilid III, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Cet. I, h. 1071

55 M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia Al-Qur‟an, jilid III, h.

1071

56 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Penerj.

Bahrun Abu Bakar, (Semarang, Toha Putra: 1989), Cet. I, h. 390

berkuda, melainkan pasukan umat muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji dengan menunggang unta.57 Namun penekanan tentang pasukan mujahidin dalam perang yang menggunakan kuda merupakan pendapat mayoritas ulama tafsir.

Penggunaan kuda sebagai kendaraan berperang merupakan indikasi bahwa kuda merupakan hewan yang memiliki kemampuan hebat untuk berperang. Terlebih saat itu, pasukan muslimin menyerbu langsung ke tengah- tengah musuh dan menjadikannya porak poranda. Maka tidak mengherankan jika akhirnya Allah Swt.

menggunakannya untuk bersumpah.58

Sedangkan dalam bentuk kalimat isim terdapat dalam empat tempat, yaitu QS. Al-Qalam [68]: 28, QS. Al- Maidah [5]: 89, QS. Al-Baqarah [2]: 143 dan 238.

Pada QS. Al-Qalam [68]: 28 yang berbunyi,

















“Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan

57 Al-Syanqithi, Tafsir Adwaul Bayân, Penerj. Ahmad Afandi, dkk, jilid XI, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), Cet. I, h. 526

58 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, jilid X, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2004), h. 750

kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu) "

(QS. Al-Qalam [68]: 28)

Diriwayatkan bahwa terdapat sebuah kebun milik seorang lelaki yang shaleh di daerah San‟a Yaman. Lelaki tersebut mendermakan hasil kebunnya yang tercecer atau sisa-sisa hasil panennya kepada kaum fakir miskin, sehingga kaum fakir miskin mendapatkan sesuatu untuk kehidupan mereka. Setelah lelaki saleh tersebut meninggal, anak-anak lelaki tersebut merasa bahwa jika mereka melakukan apa yang dilakukan oleh ayahnya maka mereka akan merugi padahal mereka juga memiliki tanggungjawab terhadap keluarganya. Oleh karenanya, anak-anak lelaki saleh tersebut berinisiatif untuk memetik hasil kebun lebih awal atau lebih pagi sehingga kaum fakir miskin tidak dapat mengambil haknya. Namun Allah Swt. berkehendak lain, Allah membalas niatan buruk mereka dengan membakar atau mendatangkan bencana berupa angin kencang59 ke kebun mereka sehingga tidak tersisa apapun dikebun mereka.60

Diantara anak-anak lelaki saleh tersebut terdapat seorang yang paling bijaksana yang menasehati mereka.

59 Abdullah Yusuf Ali, Tafsir Yusuf Ali, Penerj. Ali Audah, jilid II, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2009), Cet. III, h. 1507

60 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, h. 61

Orang inilah yang dimaksud dalam QS. Al-Qalam [68]:

28. Dalam ayat ini, kata awsath berarti orang yang paling ideal, paling berakal, paling adil, dan paling baik agamanya.61

Sedangkan penggunaan kata awsath dalam QS. Al- Maidah [5]: 89, yang berbunyi:





























































































“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah- sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan

61 Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, Penerj. Abdul Hayyie Al-Kattani, dkk, jilid XV, (Depok: Gema Insani, 2014), Cet. I, h. 83

seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari.

yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”

(QS. Al-Maidah [5]: 89)

Ayat di atas berkaitan dengan kaffarat yang harus diberikan oleh seseorang yang mengingkari sumpah- sumpahnya. Menurut para ulama makna kata awsath dalam ayat tersebut adalah makanan yang biasa dimakan, bukan hidangan istimewa. Adapula yang memahaminya dalam arti yang terbaik. Namun pendapat yang pertama merupakan pendapat mayoritas ulama.62

Kata wasath terdapat pula dalam QS. Al-Baqarah [2]: 238 dengan redaksi al-wustha,



















“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS. Al-Baqarah [2]: 238)

Ulama berbeda pendapat tentang shalat wustha itu sendiri. Namun semua sepakat bahwa makna kata wustha

62 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Vol. 3, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 233

dalam ayat tersebut berarti pertengahan. Jika dilihat dari mayoritas pendapat ulama, yang dimaksud shalat wustha adalah shalat ashar, dimana ia dijalankan pada waktu pertengahan antara malam dan siang.63

Secara spesifik kata moderat yang menunjukkan arti pertengahan tanpa adanya tindakan ekstrim dan radikal terdapat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 143, kata wasath berbentuk kalimat isim dengan redaksi wasathan.





























































































“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu

63 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Vol. 1, h. 626

(sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 143 kata wasath berarti al-„adl . Makna tersebut berdasarkan penjelasan Rasulullah SAW. yang terdapat dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhori.

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Rasyid Telah menceritakan kepada kami Jarir dan Abu Usamah dan lafazh ini milik Jarir dari Al A'masy dari Abu Shalih, Abu Usamah berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih dari Abu Sa'id Al Khudri berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Pada hari kiamat, Nuh akan dipanggil (Allah) dan ia akan menjawab: 'Labbaik dan Sa'daik, wahai TuhanKu! ' lalu Allah bertanya: 'Apakah telah kau sampaikan pesan Kami? ' Nuh menjawab: 'Ya'. Kemudian Allah akan bertanya kepada bangsa (umat) Nuh: 'Apakah ia telah menyampaikan pesan kami kepadamu sekalian? ' Mereka akan berkata; 'Tidak ada yang memberikan peringatan kepada kami.' Maka Allah bertanya: 'Siapa yang menjadi saksimu? ' Nuh menjawab: 'Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para pengikutnya.' Maka mereka (umat muslim) akan bersaksi bahwa Nuh telah menyampaikan pesan (Allah). Kemudian Rasul (Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) akan menjadi saksi untukmu sekalian dan itulah maksud dari firman Allah: 'Demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat yang adil supaya kamu menjadi saksi atas manusia. Dan Rasul menjadi saksi atas kalian." (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Asyqalani dalam kitabnya Fathul Al- Bari menyatakan bahwa:

64 Abu Abdullah Muhammmad bin Ismail Al-Bukhori, Shahih Bukhori, Kitab Al-Tafsir, Bab Wakazaalika ja‟alnaakum ummatan wasathan, hadits no 4487, juz III, (Bairut : Darl Al-Fiqr, 2008), hal. 100

65

Al-Wasath artinya adil. Pernyataan ini dinukil dengan sanad yang marfu‟ melalui hadits yang sama (hadits di atas). Ia bukan perkataan periwayat yang disisipkan dalam hadits sebagaimana anggapan sebagian ulama. Dalam pembahasan tentang berpegang teguh pada Al-Qur‟an dan Sunnah akan disebutkan,

66

Berdasarkan hadits tersebut para Mufassirin seperti Imam Ibnu Katsir,67 Imam Al-Syaukani,68 dan imam Al- Qurthubi,69 mendefinisikan kata wasath dengan makna adil. Imam Al-Thabari menjelaskan bahwa makna wasath menurut orang arab adalah pilihan. Namun makna wasath

65 Ibnu Hajar Al-Asyqalani, Fathul Bari, jilid VIII, (Kairo: Dar Al-Masr, 2000), h. 29

66 Ibnu Hajar Al-Asyqalani, Fathul Bari, Penerj. Amiruddin, jilid 22, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), Cet. III, h. 68

67 Abul Fida Ismail ibnu Kasir Al-Dimasqyi, Tafsir Al-Qur‟an Al-„Adzim, Penerj. Bahrun Abu Bakar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011), Cet. V, h. 13

68 Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir, Penerj. Amir Hamzah Fachrullah dan Asep Saefullah, jilid 1, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 586

69 Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi Al-Qurthubi, Al-Jami‟ Li Ahkâm Al- Qur‟an/Tafsir Al-Qurthubi, Penerj. Fathurrahman dan Ahmad Hotib, jilid 1, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h. 359

dalam ayat tersebut menurutnya berarti bagian yang terletak diantara dua sisi.70

Penggunaan kata wasath (طَسَو) dalam QS. Al- Baqarah [2];143 memberikan pengertian bahwa Islam tidak menghendaki kelompok yang ekstrim, karena hal tersebut menyiratkan kepicikan dan kekakuan dalam menghadapi persoalan. Sebagai ummatan wasathan, umat Islam menganut sistem keseimbangan, dimana posisi penengah tersebut mengisyaratkan agar umat Islam dapat berinteraksi sosial, berdialog, dan terbuka dengan semua pihak yang memiliki ideologi, kultur, dan peradaban yang berbeda.71

2. Sinonim Kata Moderasi atau Wasathiyyah Dalam Al- Qur‟an

Sebagaimana diketahui bahwa bahasa-bahasa di kawasan Arab merupakan perkumpulan dari bahasa Semit.

Yang mana sebagian besar dari bahasa tersebut tidak

70 Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Tafsir Al- Thabari, Penerj. Ahsan Askan, jilid 2, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h.

602

71 M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia Al-Qur‟an, jilid III, h.

1071

ditemukan lagi kecuali bahasa Arab yang menjadi bahasa Al-Qur‟an.

Bahasa Arab yang menjadi bahasa Al-Qur‟an adalah bahasa pemersatu umat muslim di seluruh dunia.

Bahasa Arab dianggap suci karena menjadi bagian integral dari Al-Qur‟an, yang bunyi dan pengucapannya memegang peranan penting dalam sejarah Islam. Itulah mengapa bahasa Arab dan kebudayaanya menjadi penting bagi umat muslim dan harus diajarkan di seluruh madrasah di luar negara Arab, karena sejatinya bahasa Arab bukanlah milik bangsa Arab semata tetapi juga milik bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia, seperti Indonesia dan negara-negara kantung umat muslim lainnya.72

Adapun kata wasath memiliki sinonim dengan beberapa kata di bawah ini, yakni:

a. Al-„Adl (Adil)

Kata „adl adalah bentuk mashdar dari kata kerja َلَدَع

– ُلِدْعَي –

ًلاْدَع . Jika dilihat dari segi makna, kata „adl memiliki empat makna, yaitu: Pertama, kata„adl berarti sama, makna ini yang paling banyak dipakai dalam ayat Al-Qur‟an. Kedua, kata„adl diartikan seimbang. Ketiga,

72 Nasaruddin Umar, Ulumul Qur‟an, (Jakarta Selatan: Al- Ghazali Center, tt), h. 33

kata „adl dalam arti perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya, atau bisa diartikan dengan menaruh sesuatu sesuai tempatnya (tidak zhalim). Keempat, kata„adl di dalam arti yang dinisbatkan kepada Allah atau merupakan sifat Allah SWT. Maksudnya, keadilan Allah merupakan rahmat dan kebaikan dari-Nya.73

Kata „adl dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 28 ayat di dalam Al-Qur‟an. Jika dilihat dari bentuknya, kata „adl di dalam Al-Qur‟an bentuknya terbagi menjadi empat. Dalam bentuk masdar sebanyak 14 ayat yaitu, QS. Al-Baqarah [2]: 48, 123, dan dalam ayat 282 sebanyak 2 kali disebutkan, QS. Al-Nisa‟ [4]: 58, QS.

Al-Maidah [5]: 106 dan 95 disebutkan dua kali, QS. Al- An‟am [6]: 70 dan 115, QS. Al-Nahl [16]: 76 dan 90, QS.

Hujurat [49]: 9, QS. Al-Thalaq [65]: 2.

Dalam bentuk fi‟il mâdhi terulang sebanyak 2 ayat yang terdapat dalam QS. Al-Infithor [82]: 7 dan QS. Al- Syuura [42]: 15. Dalam bentuk fi‟il amar sebanyak 3 ayat yang terdapat dalam QS. Al-An‟am [6]: 70 dan 152, QS.

Al-Maidah [5]: 8. Dalam bentuk fi‟il mudhâri‟ sebanyak 9 ayat, yaitu QS. Al-Nisa‟ [4]: 3, 129, dan 135, QS. Al-

73 M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia Al-Qur‟an, jilid 1, h. 5-7

Maidah [5]: 8, QS. Al-An‟am [6]: 1 dan 150, QS. Al-A‟raf [7]: 159 dan 181, QS. Al-Naml [27]: 60.74

Keadilan merupakan cerminan keseimbangan dalam penciptaan manusia jelas terdapat dalam QS. Al- Infithor [82]: 7 sebagai berikut,











“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,”QS. Al-Infithor [82]: 7

Sayyid Quthb menjelaskan maksud keadilan dalam ayat tersebut merupakan keadilan atau keseimbangan dalam penciptaan dan wujud manusia. Penciptaan manusia dalam bentuk yang demikian indah, seimbang, serta sempurna dalam bentuk dan fungsinya, merupakan sesuatu yang patut direnungkan dengan panjang. Selain pada bentuk tubuhnya, keindahan, kesempurnaan, dan keseimbangan juga nampak pada akal dan ruhnya yang bersemayam dalam dirinya. Oleh karena itu, manusia patut mensyukuri segala karunia yang telah diberikan oleh Allah

74 Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfâzh Al-Qur`ân al-Karîm, (Bairut: Dar al-Ma‟rifah, 1992), h. 569 -570

Swt. kepadanya dan menjadikanya sebagai sebaik-baik mahluk ciptaanya.75

Sebagai salah satu karakter utama dalam Islam, keadilan merupakan puncak dari moralitas manusia karena ia merupakan tiang-tiang utama akhlak mulia dalam Al- Qur‟an. Menurut Marcel A. Boisard, dalam bukunya L‟Humanisme De L‟Islam, ia mengatakan bahwa “Dasar Islam, dasar moral adalah keadilan, dan rasa belas kasih merupakan batas agar sesuatu balasan hukum yang terlalu ketat tidak berubah menjadi kezaliman.”76

Penekanan keadilan sebagai landasan moral ditegaskan dalam QS. Al-Nahl [16]: 90,



































“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan

75 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilâlil-Qur‟an, Penerj. As‟ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyarahil, Muchotob Hamzah, jilid 12, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), h. 198

76 Marcel A. Boisard, Humanisme Dalam Islam, Penerj. M.

Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang: 1980), h. 146

permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” QS. Al-Nahl [16]: 90

b. Al-Qisth (Keadilan)

Kata al-qisth dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 25 kali di dalam Al-Qur‟an. Jika dilihat dari bentuknya, kata al-Qisth memiliki 6 bentuk kata.77 Pertama, berupa isim mashdar (al-qisth) terulang sebanyak 15 kali yang terdapat dalam QS. Ali Imran [3]: 18 dan 21, QS. Al-Nisa [4]: 127 dan 135, QS. Al-Maidah [5]: 8 dan 42, QS. Al-An‟am [6]: 152, QS. Al-A‟raf [7[: 29, QS.

Yunus [10]: 4, 47 dan 54, QS. Hud [11]: 85, QS. Al- Anbiya‟ [12]: 47, QS. Al-Rahman [55]: 9, QS. Al-Hadid [57]: 25.

Kedua, berupa kalimah fi‟il mudhâri‟ (tuqsithû), terdapat dalam dua tempat, yaitu QS. Al-Nisa [4]: 3, dan QS. Al-Mumtahanah [60]: 8. Ketiga, berupa fi‟il amar (aqsithû), terdapat dalam satu tempat yaitu QS. Al-Hujurat [49]: 9. Keempat, berupa isim fa‟il (al-Qâsithun) terdapat dalam dua tempat, yaitu QS. Al-Jin [72]: 14 dan 15.

Kelima, berupa isim tafdhil (aqsath) terdapat dalam dua tempat, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 282, dan QS. Al-

77 Amiur Nuruddin, Keadilan Dalam Al-Quran, (Jakarta: Hijri Pustaka Utama), Cet. I, h. 91

Ahzab [33]: 5. Keenam, berupa isim fa‟il (muqsithûn) terdapat dalam tiga tempat, yaitu QS. Al-Maidah [5]: 42, QS. Hujurat [49]: 9, dan QS. Al-Mumtahanah [60]: 8.78

Kata al-qisth tersusun dari ط س ق memiliki dua makna yang bertolak belakang. Jika ia disukun huruf س dan dikasroh ق nya (al-qisth) maka ia bermakna adil.

Sementara jika ق nya dibaca fathah (al-qasth) maka ia bermakna i‟wijaj (berlaku bengkok) atau aniaya.

Sedangkan jika dibaca qasatha maka menunjukkan arti mengambil hak orang lain, sedangkan isim fa‟ilnya (qâsith) menunjukkan arti berlaku aniaya atau menyimpang dari kebenaran.79 Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur‟an dengan firman-Nya:













Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.”

QS. Al-Jin [72]: 15

Adapun kata al-iqsath dan al-aqsath bermakna menegakkan keadilan.80 Fungsi hamzah yang terdapat

78 Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfâzh Al-Qur`ân al-Karîm, h. 691-692

79 M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia Al-Qur‟an, jilid 2, h. 647

80 Abu Al-Qasim Al-Husain bin Muhammad Al-Ma‟ruf Al- Raghib Al-Asfahani, Al-Mufradât fi Gharib Al-Qur‟an, h. 670

dalam kalimah tersebut menunjukkan arti al-salab, maksudnya “menanggalkan kecurangan” sama juga maksudnya dengan menegakkan keadilan, dan pelakunya disebut muqsith (pelaku keadilan).81

Dalam Al-Qur‟an tidak ditemukan kata al-muqsith dalam bentuk tunggal, yang ditemukan adalah bentuk jamak yaitu muqsithûn. Kebanyakan ulama memahami kata al-qisthu merupakan sifat Allah yang berarti adil.

Namun, ulama ada yang mempersempit maknanya, ada juga yang meluaskan maknanya. Yang dimaksud mempersempit yaitu memahaminya dalam arti syariat dan hukum-hukum yang ditetapkan Allah.82 Firmannya,























































“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta

81 Amiur Nuruddin, Keadilan Dalam Al-Quran, h. 91

82 M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia Al-Qur‟an, jilid 2, h. 648

putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” QS. Al-Maidah [5]: 42

M. Quraish Shihab mengambil pendapat imam al- Qurthubi menyatakan bahwa yang dimaksud Allah al- Muqsith adalah Dia yang menetapkan hukum yang adil, dan Dia yang mengutus para nabi dan rasul agar keadilan dapat dirasakan dalam kehidupan nyata.83

Meskipun antara kata wasath,„adl dan muqsith memiliki persamaan arti tetapi ketiga kata tersebut memiliki perbedaan dalam penggunaannya. Makna adl jika ditarik dalam ranah persamaan maksudnya digunakan dalam rangka menyamakan satu hal ke hal yang lain.

Makna ini berlaku dalam istilah-istilah kualitatif atau kuantitatif yang mengacu pada prinsip persamaan abstrak yang berarti persamaan di hadapan hukum atau memiliki hak yang sama di depan hukum.84

83 M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia Al-Qur‟an, jilid 2, h. 648

84 Majid Khadduri, Teori Keadilan Perspektif Islam, Penerj.

Mochtar Zoerni dan Joko S. Kahhar, (Surabaya: Risalah Gusti, 1999), Cet.

I, h. 9

Menurut Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, muqsith adalah memenangkan/membela yang teraniaya dari yang menganiaya. Dan puncak dari sifat ini hanya dapat dilakukan oleh Allah Swt. yang dapat menjadikan antara yang teraniaya dan yang menganiaya sama-sama rela.85 Sedangkan makna wasath lebih menekankan pada prinsip keadilan distributif, maksudnya bersikap pertengahan di antara dua hal yang ekstrim, atau untuk menyatakan sikap tidak berlebih-lebihan dan kesederhanaan.86

C. Urgensi Mengetahui Moderasi Dalam Al-Qur’an