• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ASPEK-ASPEK YANG TERKANDUNG

1. Prinsip Moderasi

Suatu hal atau sistem yang berhubungan dengan hal-ihwal kehidupan pasti memiliki suatu asas atau dasar yang menjadi pijakan dalam memutuskan arah kebijakan kehidupan. Asas tersebut harus dikerjakan dengan semaksimal mungkin agar sistem yang telah dibentuk dan disepakati tersebut dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Diantara prinsip dasar sikap moderat yang terdapat dalam buku Moderasi Islam yang dikeluarkan Departemen Agama RI yaitu:11

a. Keadilan (Adalah)

Pada hakikatnya adil adalah pertengahan antara dua sisi yang berlawanan, atau dua sisi yang bertentangan dengan tanpa cenderung pada salah satunya. Dengan kata lain, adil adalah muwazanah (perbandingan) antara sisi-sisi

10 Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur‟an, (Jakarta: Serambi, 2012), Cet.I, h. 60

11 Departemen Agama RI, Tafsir Al-Qur‟an Tematik Moderasi Islam, Seri 4, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2012), Cet. I, h. 20

dengan memberikan haknya tanpa dikurangi atau ditambah.12 Allah Swt. berfirman,



































“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS.

Al-Rahman [55]: 7-9)

Kata mizan pada ayat tersebut berarti alat menimbang. Kata ini dapat pula diartikan sebagai keadilan atau keseimbangan. Ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Mustafa Al-Maraghi memahami kata mizan dengan makna keadilan yang berarti bahwa berlaku adil merupakan perintah langsung dari Allah.13

Keadilan dibagi dalam dua macam, yaitu: keadilan individu dan keadilan sosial. Yang dimaksud dengan

12 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 146

13 Abul Fida Ismail ibnu Kasir Al-Dimasqyi, Tafsir Al-Qur‟an Al-„Adzim, Penerj. Bahrun Abu Bakar, jilid 27, h. 211 dan Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Penerj. Bahrun Abu Bakar, (Semarang, Toha Putra: 1989), Cet. I, h. 189

keadilan individu adalah menjauhi dusta, membicarakan kejelekan orang lain, menjauhi dosa-dosa besar lainya, serta tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa tersebut.

Sedangkan yang dimaksud keadilan sosial adalah tidak boleh melanggar hak-hak orang lain, tetapi memandang setiap orang sama kedudukanya di dalam hukum dan dimata Tuhan. Selin itu, umat manusia dilarang melampaui batas dalam melaksanakan aturan-aturan agama dan tidak boleh menyimpang dari jalan yang benar karena pengaruh perasaan dan emosi.14 Firman Allah Swt.

dalam surah An-Nahl [16]: 90.



































“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]:

90)

14 Muhammad Husain Thabathab‟i. Inilah Islam, Penerj. Ahsin Muhammad, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992), h. 181

Pada ayat tersebut Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk berlaku adil, ihsan, dan menyantuni kaum kerabat. Dia juga melarang perbuatan keji dan munkar serta menyeru kepada umat manusia agar mengambil ibrah (pelajaran) atas perintah dan larangan- Nya.15

Adil adalah melaksanakan setiap yang wajib dan semestinya dilakukan, seperti terkait dengan akidah, syari‟ah, hubungan dengan sesama manusia dalam menunaikan amanah, meninggalkan kezhaliman dan memberikan hak. Sesungguhnya Allah Swt. menyeru agar bersikap adil dan proporsional dalam segala hal secara mutlak, baik yang terkait dengan diri sendiri maupun orang lain. 16

Wacana keadilan dalam Al-Qur‟an tidak hanya menyentuh hubungan antar sesama manusia, tetapi keadilan juga terlihat dari makna-makna tauhid dan kenabian. Keadilan adalah syarat bagi terciptanya kesempurnaan pribadi, standar kesejaheraan masyarakat,

15 Syaikh Al-Syanqithi, Tafsir Adwa‟ul Bayân fi Idhâh Al-Qur‟an bi Al-Qur‟an, Penerj. Fathurazi, jilid 3, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), Cet. I, h. 564

16 Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Penerj. Muhtadi, dkk, jilid 2, (Depok: Gema Insani, 2013), Cet. I, h. 328

dan sekaligus jalan terdekat menuju kebahagiaan ukhrawi.17

b. Keseimbangan (Tawazun)

Berbicara mengenai wasathiyyah tentu tidak dapat terlepas dari membahas tentang tawazun karena kedua kata tersebut memiliki maksud yang kurang lebih sama.

Sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya yaitu wasathiyyah atau tawazun adalah merupakan upaya menjaga keseimbangan antara dua sisi/ujung/pinggir yang berlawanan atau bertolak belakang agar jangan sampai terjadi dominasi disalah satu sisi tersebut.18

Tawazun diantara dua arah dapat pula difahami bahwa dalam satu waktu setiap arah dapat menghapus bidangnya, dan pada saat yang sama dapat pula memberikan haknya secara adil tanpa menambah atau mengurangi, tanpa melampaui batas atau menyimpang.19

Allah Swt. menciptakan jagad raya beserta isinya di dunia ini memiliki keseimbangan yang tidak mungkin satu sama lain melampaui batas dan tidak pula keluar dari

17 Departemen Agama RI, Tafsir Al-Qur‟an Tematik Moderasi Islam, h. 25

18 Muchlis M. Hanafi, Moderasi Islam, (Jakarta: IAA dan PSQ, 2013), h. 8

19 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 141

ketetapan garis/ukuran atau garis edar yang telah ditentukan. Hal ini terlihat seperti peristiwa terjadinya siang dan malam, panas dan dingin, gelap dan terang, langit dan bumi, dan berbagai macam mahluk yang berlaku sebagaimana kodratnya.20 Bahkan di dalam Al-Qur‟an Allah Swt. menjamin bahwa segala sesuatu ciptaan-Nya diciptakan dengan keseimbangan. Hal ini sebagaimana firman-Nya,







































“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk [67]: 3)

Al-Wasathiyyah umat Islam bertumpu pada sistem dan manhajnya. Manhaj yang serasi dan sikap tawazun yang selamat dari kekurangan dan jauh dari sikap berlebih- lebihan.21 Sayyid Quthb menjelaskan bahwa tawazun merupakan karakter yang unik dimana keberadaanya telah

20 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 142

21 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 145

menjaga Islam dari keterombang-ambingan ke sana-sini, terlepas dari keberlebihan di sana-sini dan dari benturan di sana-sini.22

c. Toleransi (Tasamuh)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleran berarti „bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, dan membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan lain sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri‟.23

Toleransi berasal dari bahasa Latin, yaitu tolerantia, artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Dari kata tersebut dapat difahami bahwa toleransi merupakan sikap untuk memberikan hak sepenuhnya kepada orang lain agar menyampaikan pendapatnya, meskipun pendapatnya salah dan berbeda.24

22 Sayyid Quthb, Karakteristrik Konsepsi Islam, Penerj.

Muzakkir, (Bandung: Pustaka, 1990), Cet. I, h. 144

23 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h.

1477

24 Zuhairi Misrawi, Al-Qur‟an Kitab Toleransi, (Jakarta: Fitrah, 2007), Cet. I, h. 181

Dalam bahasa arab toleransi disebut tasamuh. Arti tasamuh ialah „bermurah hati‟, yaitu bermurah hati dalam pergaulan. Kata lain dari tasamuh adalah tasahul, yang berarti „bermudah-mudah‟. Toleransi mengajarkan kita untuk bersifat lapang dada, besar jiwa, luas paham, pandai menahan diri, bertenggang rasa, menjauhi cara-cara kekerasan, tidak suka memaksakan kehendak sendiri, memberi kesempatan orang lain untuk mengemukakan pendapatnya sekalipun pendapat tersebut berbeda dengan pribadi masih-masing orang.25

Manusia terlahir sebagai mahluk sosial yang memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap mahluk lain. Sebagai mahluk sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk berafiliasi atau berkelompok dengan kelompok yang memiliki identitas yang sama atau yang biasa disebut dengan kesatuan sosiologis. Kesatuan sosiologis dapat terbentuk dari kesamaan darah, etnis, bahasa, ideologi, dan kesatuan keimanan.26

25 Simuh, dkk. Toleransi dalam Islam, (Jakarta: PT. Media Cita, 2002), Cet. II, h. 169

26 Departemen Agama RI, Hubungan Antar-Umat Beragama (Tafsir Alquran Tematik), (Jakarta: Lajnah Pentashih Mushaf Alquran, 2008), h. 18

Kesatuan sosiologis atas dasar keimanan membentuk kohesi yang sangat kuat karena di dalamnya terkait dengan hal-hal sakral dan metafisik. Agama mempersaudarakan antar sesama manusia yang seiman tanpa memandang entis, bahasa, suku, atau warna kulit.27 Inilah salah satu upaya yang dilakukan oleh Rasulullah di masa awal hijrah ke Madinah. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin Mekkah dan kaum pribumi Ansor Madinah atas dasar keimanan. Allah berfirman dalam surah Al-Hujurât ayat 10 sebagai berikut:























“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (Q.S. Al-Hujurât [49] : 10)

Persaudaraan yang diperintahkan Al-Qur‟an tidak hanya tertuju kepada sesama Muslim, namun juga kepada sesama warga masyarakat termasuk non-Muslim. Al- Qur‟an menjelaskan bahwa manusia itu satu sama lain

27 Departemen Agama RI, Hubungan Antar-Umat Beragama (Tafsir Alquran Tematik), h. 19

bersaudara karena mereka berasal dari sumber yang satu.

Dalam surah al-Hujurât [49] ayat 13 dijelaskan,











































“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. al-Hujurât [49]: 13).

Dalam literatur sejarah Islam diketahui bagaimana Rasulullah menjalankan kepemimpinan di tengah masyarakat Madinah yang terdiri dari beberapa suku dan kabilah-kabilah. Selain mempersaudarakan umat Islam, beliau juga berusaha menciptakan kedamaian antarumat beragama. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Rasulullah Saw pada waktu itu adalah membuat perjanjian

antara kaum Muslimin dan orang-orang di luar Islam, yang disebut dengan Piagam Madinah.28

Islam mengajarkan bahwa sesama muslim harus bersatu serta tidak diperbolehkan bercerai-berai, bertengkar, dan bermusuhan, karena hakikatnya mereka bersaudara. Terhadap pemeluk agama lain, kaum muslim diperintahakan agar bersikap toleran, yakni sikap menghargai prinsip hidup mereka, sebagaimana Al-Qur‟an telah menjamin kebebasan beragama dan tidak ada paksaan dalam menjalankan agama menurut kepercayaanya. Hal ini sebagaimana tercermin dalam QS.

Al-Baqarah [2] : 256.



















































“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);

sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang

28 Muhammad Sa‟id Ramadhan Al-Buthy, Sirah Nabawiyah, Penerj. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, (Jakarta: Robbani Press, 2008), cet.

XIII, h.197

tidak akan putus. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Al-Baqoroh [2] : 256).

Sedangkan M. Quraish Shihab menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tidak ada paksaan dalam menganut agama adalah menganut akidahnya.29 Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa tidak ada pemaksaan dalam menganut keyakinan agama karena pada dasarnya Allah menghendaki agar setiap orang merasakan kedamaian.

Sementara, kedamaian tidak akan tercapai jika jiwa tidak tenang.30

Toleransi yang dikehendaki oleh Islam adalah sikap saling menghormati antarpemeluk agama yang berlainan tanpa mencampuradukkan akidah. Persoalan akidah merupakan sesuatu yang paling dasar dalam setiap ajaran suatu agama sehingga bukan menjadi wilayah untuk bertoleransi, dalam arti untuk saling melebur dan menyatu.

Kerukunan hidup antar pemeluk agama yang berbeda dalam masyarakat yang plural harus diperjuangkan dengan catatan tidak mengorbankan akidah.31 Sebagaimana Al-

29 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Vol 1, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 668

30 Departemen Agama RI, Hubungan Antar-Umat Beragama (Tafsir Alquran Tematik), h. 27

31 Departemen Agama RI, Hubungan Antar-Umat Beragama (Tafsir Alquran Tematik), h. 42

Qur‟an menegaskan hal ini dalam surah Al-Kafirun [109]

ayat 1-6.

































































1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,

2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (Q.S.

al-Kafirun [109]: 1-6).

Dalam desertasinya, Ahmad Dumyati Bashori menambahkan beberapa prinsip moderasi, yaitu:32

a. Shirât Al-Mustaqîm

Yang dimaksud shirâthal mustaqîm adalah himpunan dari semua jalan manusia menuju kebahagiaan dunia akhirat. Jalan tersebut meliputi masalah akidah,

32 Ahmad Dumyati Bashori, Konsep Al-Wasathiyyah Dalam Pemikiran Politik Yusuf Al-Qardhawi, (Tangerang Selatan: Young Progressive Muslim, 2012), h. 84

akhlak, dan hukum, baik yang meliputi segi ilmu ataupun amaliahnya.33 Maksud dari ayat ke enam surah Al-Fatihah

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus” yaitu jalan orang- orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah Swt..

Orang-orang tersebut adalah para ahli hidayah, istiqamah, yang taat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Ayat tersebut menurut para mufassir ditegaskan dengan ayat sesudahnya yakni,





















“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah [1]:

7)

Kalimat “bukan jalan orang-orang yang dimurkai” maksudnya adalah orang-orang yang mengerti akan hakikat kebenaran akan tetapi mereka menyimpang darinya, “bukan pula jalan orang-orang yang sesat” yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama, sehingga

33 Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur‟an Karim, Penerj. Hossein Bahreisj dan Herry Noer Ali, (Bandung: CV. Diponegoro, 1989), h. 67

mereka akan bergelimang dengan kesesatan tanpa mendapatkan hidayah.34

Sebelum Islam datang, manusia terombang ambing dalam dua hal yaitu sikap keterlaluan sampai luar batas dan kelalaian yang menyebabkan kekurangan dalam segala bidang.35 Islam tidak menghendaki hal yang demikian, kedatangan Islam justru menawarkan garis tengah yang lurus dalam kehidupan umat manusia agar mereka tidak saling bercerai-berai. Sebagaimana firman Allah Swt.

dalam QS. Al-An‟am [6]: 153,





































“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al-An‟am [6]: 153)

34 Abul Fida Ismail ibnu Kasir Al-Dimasqyi, Tafsir Al-Qur‟an Al-„Adzim, Penerj. Bahrun Abu Bakar, jilid 1, h. 143

35 Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur‟an Karim, Penerj. Hossein Bahreisj dan Herry Noer Ali, h. 67

Islam adalah agama pertengahan yang menyuruh umatnya untuk berjalan pada jalan yang lurus (ash-shirât al-mustaqîm) dan memperingatkan kaumnya agar tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.36

Disinilah terjadi kolerasi yang apik antara shirâthal mustaqîm dan wasathiyyah, dimana wasathiyyah akan mengantarkan manusia untuk memperoleh jalan yang lurus yaitu jalan keselamatan dan kebahagiaan umat manusia sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt.

b. Al-Hurriyyah (Kebebasan)

Kebebasan merupakan sebuah anugrah dari Allah Swt. dalam hidup umat manusia, karena kebebasan akan mendorong manusia untuk terus berfikir dan menciptakan kreasi serta penemuan-penemuan baru yang bermanfaat dalam hidup. Kebebasan tidak selalu mendatangkan hal- hal yang positif. Untuk menciptakan kebebasan yang bersifat positif diperlukan lingkungan yang kondusif sehingga dapat melahirkan rasa bertanggungjawab dan

36 Muhammad Al-Ghazali, Al-Ghazali Menjawab 100 Soal Keislaman, Penerj. Abdullah Abbas, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), h. 183

tentunya membawa dampak positif atau manfaat terhadap lingkungan.37

c. Al-„Ilmu wa Al-„Amal

Untuk meningkatkan taraf hidupnya, umat manusia dituntut untuk terus berkreasi dan meningkatkan keilmuanya. Karena ilmu pengetahuan menjadi titik fundamental akan kebangkitan dan kemajuan hidup manusia. Ilmu pengetahuan merupakan salah satu pilar dari peradaban wasathiyyah, dimana peradaban wasathiyyah memiliki peran dan kewajiban memberikan persaksian atas peradaban-peradaban lainnya. Persaksian tersebut tidak akan melahirkan kejujuran dan kebenaran jika tidak dilandasi dengan ilmu.38

d. Akhlâq

Akhlak merupakan pondasi penting dari setiap gerak langkah kehidupan manusia. Wasathiyyah merupakan sebuah peradaban yang berinteraksi secara langsung dengan seluruh komponen dalam diri manusia

37 Ahmad Dumyati Bashori, Konsep Al-Wasathiyyah Dalam Pemikiran Politik Yusuf Al-Qardhawi, h. 86

38 Ahmad Dumyati Bashori, Konsep Al-Wasathiyyah Dalam Pemikiran Politik Yusuf Al-Qardhawi, h. 88

serta masyarakat, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani. Di mana konsentrasi pada nilai-nilai akhlak merupakan ajaran Islam dan menjadikannya bagian dari keimanan dan buah dari ibadah.39

Gerakan wasath ataupun sejenisnya jika tidak dibarengi dengan akhlak yang baik, dikhawatirkan malah akan mendatangkan kemadharatan dalam diri manusia.