• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ASPEK-ASPEK YANG TERKANDUNG

B. Objek Moderasi

kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Maidah [5]: 8)

Dalam ayat tersebut, Allah menyerukan kepada umat manusia agar membiasakan diri untuk selalu menegakkan kebenaran, baik itu meliputi perkara yang terkait dengan agama maupun dunia. Selain diserukan untuk selalu membiasakan diri dengan kebenaran, manusia juga diserukan agar berlaku adil terhadap sesama manusia.

Sebagaimana kita ketahui bahwa keadilan merupakan neraca kebenaran, maka sudah sepatutnya bagi manusia untuk memperhatikan keadilan karena ia adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan tanpa pandang bulu. Dan lebih dari itu, keadilan merupakan sebuah jalan yang dapat meningkatkan nilai ketakwaan dihadapan Allah Swt.56

Islam, seperti aspek nadhariyyah (teoritis), amaliyyah (operasional), tarbiyah (pendidikan), dan tasyri‟iyah (legislatif).57

Dengan menganalisa pendapat para pakar moderasi, penulis membagi objek wasathiyyah atau moderasi dalam dua bidang saja, yaitu: bidang agama dan kehidupan.

1. Moderat dalam Agama

a. Moderat dalam Akidah (Ideologi)

Akidah adalah sistem keimanan hamba secara total terhadap wujud sang Pencipta berikut perangkat ajaran yang diturunkannya. Pemahaman iman secara benar dan tulus dalam Islam akan mewujudkan sisi spiritualisme keagamaan paling dasar dalam wujud penghambaan dan pengabdian secara total kepada Allah Swt.58

Menurut Mahmud Saltut, moderasi Islam dalam bidang ideologi dan tashawwur (persepsi) berada di tengah-tengah antara dua faham.59 Pertama, mereka yang

57 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 150

58 Abu Yasid, Islam Moderat, (Jakarta: Erlangga, 2014), Cet. I, h.

8

59 Muhammad Mutawalli Sya‟rawi, Tafsir Sya‟rawi, Penerj. Tim Terjemah Safir Al-Azhar, jilid 2, h. 474

disebut kaum Atheis (tanpa Tuhan) atau mulhid. Mereka menganggap bahwa kehidupan di dunia ini adalah proses kejadian yang kebetulan dan hasil proses aksi dan reaksi materi belaka.60

Islam adalah agama yang meyakini bahwa keberadaan alam raya ini merupakan sebuah hakikat, yang mana hakikat tersebut mengarah pada sebuah hakikat abadi yang lebih besar lagi darinya, yakni tentang siapa penciptanya, pengatur dan pemelihara alam raya ini. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali Imran [3]: 190-191.





































































“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam

60 Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur‟an Karim, Penerj. Hossein Bahreisj dan Herry Noer Ali, h. 68

keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 190-191)

Kedua, mereka yang disebut kaum politeis (meyakini akan banyak Tuhan) atau yang disebut kaum musyrik.61 Akidah Islam sejalan dengan fitrah kemanusiaan, berada dipertengahan antara kaum khurafat (berlebihan dalam keyakinan sehingga mempercayai segala sesuatu dan beriman kepadanya tanpa hujjah) dan bukan pula kaum maddiyyin (yang mengingkari segala sesuatu yang tidak terjangkau oleh indra).62

Islam adalah agama yang ber-Tuhankan pada Allah Swt. semata, bukan agama yang menuhankan manusia dan benda-benda. Bukan pula agama yang memposisikan manusia dalam derajat uluhiyyah (ketuhanan) atau anak Tuhan. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Maidah [5]: 77.

61 Muhammad Mutawalli Sya‟rawi, Tafsir Sya‟rawi, Penerj. Tim Terjemah Safir Al-Azhar, jilid 2, h. 474

62 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 150

















































“Katakanlah: "Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih- lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". (QS. al-Maidah [5]: 77)

Maksud kesesatan yang dilakukan oleh ahli kitab dalam ayat tersebut adalah tindakan mereka meninggalkan syari‟at dan menuruti hawa nafsunya yang rusak dan tidak memperdulikan ajaran agamanya. Bentuk tindakan kesesatan yang dilakukan oleh kaum Nasrani berupa kepercayaan mereka terhadap trinitas dan upacara-upacara gereja yang dilakukan oleh ahli kitab yang bertolak belakang dengan ajaran tauhid. Sedangkan kaum Yahudi, bentuk kesesatan mereka yaitu mendustakan para Nabi, menuduh, menyiksa dan membunuhnya.63

63 Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Penerj.

Bahrun Abu Bakar, h. 310

Islam dengan tegas telah menyatakan bahwa sesungguhnya yang berhak dan wajib disembah hanyalah Allah Swt. Yang Maha Esa. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4,







































“Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS.

Al-Ikhlas [112]: 1-4)

Islam mengajarkan dan mengajak umatnya agar beriman dan berkeyakinan dengan menggunakan dalil qath‟i dan hujjah yang rajih. Selain itu Islam juga mengajak umatnya untuk menganalisa Islam dengan berfikir.64

Hal ini membuktikan bahwa Islam memberikan kesempatan besar kepada pemeluknya untuk terus mempelajari dan mendalami ajaran agamanya. Dan menunjukkan bahwa Islam tidak hanya berdasarkan atas

64 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 150

doktrin keagamaan saja, akan tetapi kebenaran agama haruslah sejalan dengan akal fikiran manusia.

Wahyu berfungsi sebagai penyempurna akal dan penolongnya tatkala ia tersesat dan dikendalikan oleh hawa nafsu. Sekaligus petunjuk jika akal tidak mampu menjangkau hal-hal diluar spesifikasnya, seperti hal-hal yang ghaib.65

b. Moderat dalam Ibadah

Dalam bidang ibadah dan syiar agama, Islam bukan seperti agama-agama sebelumnya dan sekte-sekte sebelumnya yang menghilangkan sisi ke rabbaniyah dari filsafat dan kewajibannya. Seperti agama Budha yang membatasi kewajiban-kewajiban agamanya pada sisi moralitas kemanusiaan semata. Islam juga tidak menuntut pengikutnya untuk ber-tafarruq (konsentrasi) hanya untuk beribadah saja serta menjauhi kehidupan dunia, seperti sistem kerahiban para pendeta umat kristiani.66

Dalam menjalankan kewajiban ibadah serta syiar agama, Islam mendorong umatnya untuk tidak melupakan

65 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 152

66 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 152

kewajiban dan tanggungjawabnya terhadap kelangsungan hidupnya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al- Jumu‟ah [62]: 9-10.













































































“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

(QS. Al-Jumu‟ah [62]: 9-10)

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa ayat pertama dari pembahasan ini memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar meninggalkan aktifitas jual beli ketika mendengar seruan adzan jum‟at. Dengan meninggalkan berbagai aktifitas duniawi, orang-orang mukmin diharapkan akan dapat berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah Swt. melalui sholat jum‟at. Dalam beribadah

terdapat nilai pendidikan dan pengajaran bagi jiwa-jiwa orang-orang mukmin.

Oleh karenanya, diperlukan waktu tertentu dimana hati harus berlepas dari segala pengaruh dan aktivitas duniawi, agar ia dapat berkonsentrasi untuk menyibukkan dirinya dengan zikir dan menghadap kepada Allah Swt.

Pada ayat selanjutnya, beliau menyatakan setelah melaksanakan sholat jum‟at kaum mukminin bebas melaksanakan berbagai aktivitas duniawi dengan disertai zikir kepada Allah Swt.

Disinilah terlihat keseimbangan yang merupakan manhaj Islam. Keseimbangan antara tuntutan kehidupan duniawi yang terdiri dari pekerjaan, kelelahan, aktivitas, dan usaha dengan proses ruh yang mengasingkan diri dari suasana yang menyibukkan dan melalaikan disertai dengan konsentrasi hati agar senantiasa berzikir kepada Allah Swt.67

Sikap tersebut sebagaimana yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari,

67 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilâlil-Qur‟an, Penerj. As‟ad Yasin,

Muchotob Hamzah, dkk, jilid 22, h. 101-104

68

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Al Awza'iy berkata, telah

68 Abu Abdullah Muhammmad bin Ismail Al-Bukhori, Shahih Bukhori, Kitab Al-Shaum, Bab Haq Al-Jisim fi Al-Shaum, hadis no 1975, juz I, hal. 411

menceritakan kepada saya Yahya bin Abu Katsir berkata, telah menceritakan kepada saya Abu Salamah bin 'Abdurrahman berkata, telah menceritakan kepada saya 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash radliallahu 'anhuma berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku: "Wahai 'Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam?" Aku jawab: "Benar, wahai Rasulullah". Beliau berkata: "Janganlah kamu lakukan itu, tetapi shaumlah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, isterimu punya hak atasmu dan isterimu punya hak atasmu. Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya". Maka kemudian aku meminta tambahan, lalu Beliau menambahkannya. Aku katakan: "Wahai Rasulullah, aku mendapati diriku memiliki kemampuan". Maka Beliau berkata: "Berpuasalah dengan puasanya Nabi Allah Daud Alaihissalam dan jangan kamu tambah lebih dari itu". Aku bertanya: "Bagaimanakah itu cara puasanya Nabi Allah Daud Alaihissalam?" Beliau menjawab: "Dia Alaihissalam berpuasa setengah dari puasa Dahar (puasa sepanjang tahun), caranya yaitu sehari puasa dan sehari tidak". Di kemudian hari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash radliallahu 'anhuma berkata: "Duh, seandainya dahulu aku menerima keringanan yang telah diberikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ". (HR. Bukhari)

2. Moderat dalam Kehidupan a. Moderat dalam Akhak

Islam menerapkan bahwasanya etika berada ditengah-tengah antara dua bentuk keterlaluan dan kekurangan. Islam mengajarkan sikap tidak penakut tetapi juga tidak terburu nafsu (kalap), tidak kikir juga tidak boros, tidak sombong juga tidak merendahkan diri, tidak cepat menentang tidak pula selalu mengalah.69

Islam dengan dinamis mengajarkan kepada umat manusia untuk bersikap arif, bijaksana, dan dermawan.

Prinsip dasar bersikap moderat dalam bidang ini berdasarkan firman Allah Swt.:





























“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. Al-Isra‟ [17]: 29)

Pada dasarnya prinsip keseimbangan merupakan sistem Islam. Ayat tersebut menganalogikan sikap pelit dengan tangan yang terbelenggu dan sikap boros dengan

69 Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur‟an Karim, Penerj. Hossein Bahreisj dan Herry Noer Ali, h. 69

tangan yang mengulur sambil terbuka hingga tidak menyisakan sesuatupun ditangannya. Sikap boros dan kikir akan merugikan atau melemahkan diri sendiri maupun orang lain. 70

























“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqon [25]: 67)

Qawâma dalam ayat tersebut berarti pertengahan, yakni pertengahan antara sifat boros dan sifat kikir. Sifat ini disebut sifat dermawan atau infak.71

Wahbah Zuhaili mengkategorikan sifat qawam sebagai salah satu sifat-sifat hamba ar-rahman yang merupakan sifat sederhana dalam berinfak yang tidak berlebih-lebihan dan tidak pelit. Umat muslim tidak diperkenankan bersikap mubazir dalam membelanjakan

70 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilâlil-Qur‟an, Penerj. As‟ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyarahil, Muchotob Hamzah, jilid 14, h. 85

71 Muhammad Mutawalli Sya‟rawi, Tafsir Sya‟rawi, Penerj. Tim Terjemah Safir Al-Azhar, jilid 9, h. 801

harta bendanya. Mereka cukup menunaikan kewajiban dan haknya secara sederhana, adil dan seperlunya saja.72

Ayat tersebut di atas merupakan salah satu ayat yang menjelaskan salah satu hikmah yang sangat luhur, dimana kebajikan merupakan pertengahan antara dua sifat ekstrem. Keberanian adalah pertengahan antara sifat ceroboh dan sifat pengecut, dan kedermawanan merupakan pertengahan antara sifat boros dan kikir.73

b. Moderat dalam Tasyri’

Syariat adalah panduan hukum, baik menyangkut hubungan hamba dengan Tuhan maupun hubungan manusia dalam berinteraksi sehari-hari. Fikih merupakan produk utama dalam syariah Islam dimana ia merupakan bentuk dari diktat-diktat hukum yang diperoleh melalui proses istinbath dengan mengacu kepada dalil-dalil baik berupa naqli maupun aqli. Sebagai produk ijtihad, fikih menjadi elemen penting dalam upaya merespon masalah- masalah praktis dalam lingkup keseharian umat beragama.74

72 Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Penerj. Muhtadi, dkk, Jilid 2, (Depok: Gema Insani, 2013), Cet. I, h. 769

73 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah,Vol. 7, h. 75

74 Abu Yasid, Islam Moderat, h. 19

Secara garis besar, fikih terbagi menjadi dua macam, yaitu fikih ibadah dan fikih muamalah. Fikih ibadah cenderung bersifat statis atau tidak banyak mengalami perubahan karena pengaruh dari luar.

Pengembangan syariat baru banyak terjadi dalam lingkup fikih muamalah. Hal ini terjadi disebabkan Syari‟ (yakni Allah Swt) telah memberi aturan-aturan hukum yang bersifat global dalam kitab sucinya. Dimana teks-teks suci tersebut menggiring opini atau pemahaman ilmiah untuk memunculkan hukum-hukum yang kompatibel dengan perubahan dan perkembangan masyarakat.75

Islam merupakan agama yang memiliki sistem keseimbangan dalam tasyri‟ beserta aturan perundang- undangannya. Dalam bidang legislatif (pembuatan hukum dan undang-undang), Islam mengambil jalan tengah. Ia tidak membiarkan manusia membuat peraturan hidup sekehendak dirinya dalam segala sesuatu, namun ia juga tidak mengikat manusia dengan menetapkan semuanya dalam syari‟at. Islam menetapkan hukum-hukum yang tidak akan mampu dicapai oleh manusia, seperti hukum yang berkaitan dengan soal-soal ibadah, atau hukum- hukum yang berkaitan dengan soal-soal yang tetap dan

75 Abu Yasid, Islam Moderat, h. 21

tidak berubah dengan perubahan tempat dan zaman, seperti hukum waris, dasar-dasar muamalah, dan lain sebagainya.76

Menimbang tentang hukum haram dan halal, ketetapan akan hal tersebut merupakan hak Allah Swt.

semata. Hal tersebut tersirat dalam QS. Al-A‟raf [7]: 157,

























































































“(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-

76 Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur‟an Karim, Penerj. Hossein Bahreisj dan Herry Noer Ali, h. 71

beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.

Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A‟raf [7]:

157)

Dalam menetapkan hukum haram dan halal, Islam tidak seperti agama Yahudi yang bersikap berlebihan dalam pengharaman. Sebagaimana mereka mengharamkan atas diri mereka apa-apa yang sudah Allah anugrahkan terhadap diri mereka. Dan tidak pula sebagaimana agama Nasrani yang juga berlebihan dalam menghalalkan segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah Swt. kepada mereka.77

Umat muslim di Indonesia dapat dikategorikan sebagai umat muslim yang moderat dan menganut Ideologi Islam. Adapun negara yang menjalankan sistem ideologi Islam dan mengadopsi pandangan moderat yaitu Mesir, Afaganistan, Irak dan Indonesia. Dalam menjalankan konstitusi, sistem moderatisme terbelah menjadi dua yaitu sistem formalistik dan substansialistik.

Jika Mesir, Afganistan dan Irak memilih menggunakan sistem formalistik dalam berkonstitusi lain

77 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, h. 163

hanya dengan Indonesia. Indonesia memilih menggunakan paradigma moderat dalam berkonstitusi secara substansialistik. Hal ini tercermin di dalam dasar Negara yakni Pancasila dan UUD 45. Paradigma moderat disini berarti bahwa Islam harus difahami sebagai nilai kebajikan, kemaslahatan bersama dan tatanan moral.

Intinya adalah sistem Islam bertujuan untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan diantara warga Negara.78

Allah Swt. sangat melindungi keharmonisan antar umat manusia. Oleh karena itu, Allah Swt. menyerukan kepada umat manusia agar berlaku adil terhadap sesama.

Perintah berlaku adil di dalam Al-Qur‟an sangat banyak sekali. Salah satu firman Allah yang memerintahkan berlaku adil termaktub dalam QS. Al-Maidah [5]: 8,























































78 Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat, (Jakarta:

Kompas Media Nusantara, 2010), Cet. I, h. 41-44

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali- kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah [5]: 8)

Dalam penafsiranya, Wahbah Zuhaili memberikan pesan kepada umat manusia agar berlaku adil dan ikhlas karena Allah Swt., selain itu beliau menyerukan agar manusia memberikan persaksian yang adil secara sempurna tanpa adanya nepotisme yang dilandasi kekerabatan atau pertemanan. Jangan pula berlaku lalim karena kebencian dan permusuhan sehingga mendorong untuk berlaku tidak adil. Karena adil lebih dekat pada takwa dan jauh dari segala kehancuran dan kemaksiatan.79

Sistem yang baik adalah sistem yang memperhatikan kedua sisi, yaitu sisi individu dan sosial, tidak dibenarkan salah satu diantaranya melangganya.

Islam sebagai agama yang mengusung sistem moderat dan keadilan, tidak boleh mengorbankan individu demi kepentingan masyarakat dan juga tidak boleh menzhalimi masyarakat demi kepentingan individu. Tidak pula

79 Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Penerj. Muhtadi, dkk, Jilid 1, h. 385

membebani individu atau masyarakat dengan kewajiban- kewajiban di luar kekuasaanya.80

c. Moderat dalam Tataran Sosial

Dalam menetapkan prinsip hubungan antara individu dan masyarakat, Islam menggaris bawahi pentingnya bersikap pertengahan. Sebagai individu, seorang manusia bebas berbuat sekehendak hatinya atau meninggalkan kemauanya. Namun Islam tidak memandang demikian, Islam tidak menghendaki manusia bersikap melampaui batas semaunya sendiri dan tidak memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungannya.

Tuhan menganugrahkannya kondisi dimana manusia harus menjalani kehidupan dan bergelut dalam masyarakat. Dalam kondisi inilah rasa tanggungjawab seseorang akan terasah. Sebagai anggota masyarakat tentu ia akan dituntut kepedulianya terhadap masyarakat, seperti menjaga etika dan pribadinya, ikut serta menciptakan kedamaian, bergotong royong, dan lain sebagainya.

Dengan melakukan kegiatan tersebut, maka akan terjadi hubungan timbal balik yang baik antara individu

80 Yusuf Al-Qardhawi, Pengantar Kajian Islam, Penerj. Setiawan Budi Utomo, (Jakarta Timur: Pustaka Kautsar, 1997), Cet.I, h. 214

dan masyarakat dalam hak dan kewajiban. Agama menjadikan kebahagiaan hidup bagi umat bergantung kepada adanya keseimbangan antara dua belah pihak, dan bergantung pula ketidak adanya kedhaliman diantara keduanya.81 Sebagaimana firman Allah dalam surah Al- Hujurat [49]: 11-12,

















































































































































“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh

81 Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur‟an Karim, Penerj. Hossein Bahreisj dan Herry Noer Ali, h. 73

jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang- orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11-12)

Sebuah sistem yang benar adalah sistem yang mampu memelihara kedua sisi ini, yaitu sisi individual dan kemasyarakatan. Tidak perlu menutup peluang bagi salah satu dari keduanya hanya karena ingin menonjolkan sisi yang lainnya.

Islam adalah agama yang datang dengan sistem yang adil, tidak meremehkan peran individu dalam sebuah tatanan masyarakat, begitu pula tidak mengabaikan masyarakat karena membela kepentingan pribadi. Tidak pula memanjakan individu dengan memberikan banyak hak, namun juga tidak memberatkannya dengan

membebaninya banyak tugas dan kewajiban yang berlebihan.82