• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memahami Pluralitas dalam Kehidupan

BAB III ASPEK-ASPEK YANG TERKANDUNG

D. Menuju Islam Moderat

4. Memahami Pluralitas dalam Kehidupan

Kedua, dakwah terhadap kaum awam hendaklah dilakukan dengan memberikan mau‟idzah atau memberikan nasehat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan pemahaman mereka yang masih sederhana. Ketiga, dakwah terhadap ahli kitab dan penganut agama-agama lain. Dakwah terhadap mereka hendaklah dilakukan dengan jalan perdebatan yang baik, maksudnya adalah dialog yang menggunakan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.114











 





























“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 148)

Dalam ayat tersebut Allah Swt. menjelaskan bahwa masyarakat terdiri dari berbagai macam komunitas yang memiliki orientasi kehidupan sendiri-sendiri. Manusia harus menerima kenyataan keberagaman budaya dan memberikan tolerasi kepada masing-masing komunitas dalam menjalankan ibadahnya. Dengan keberagaman dan perbedaan tersebut ditekankan arti pentingnya berlomba- lomba menuju kebaikan.116

Pluralisme sebagaimana halnya fenomena dan mazhab pemikiran, tidak hanya memiliki sifat moderat, adil, dan keseimbangan tetapi juga memiliki sifak ekstrem baik yang berlebihan maupun yang mengurangi. Islam hanya mengakui sifat tunggal jika dihadapkan pada zat Allah Swt., tidak demikian jika menghadapi makhluk dan

116 Heru Nugraha, Atas Nama Agama Wacana dalam Dialog Bebas Konflik, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), Cet. I, h. 64

seluruh alamnya serta apa-apa yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, ketunggalan hanya milik mutlak dan khusus bagi zat Allah Swt. sedangkan pluralis menjadi ciri khas dan milik seluruh dimensi kehidupan makhluk-Nya.117

Pluralisme tidak dapat difahami hanya dengan mengatakan masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, dimana hal tersebut justru terkesan menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme merupakan suatu keharusan untuk menciptakan keselamatan umat manusia melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya.118

Satu hal yang patut dijunjung tinggi oleh seorang pluralis jika ia hendak beriteraksi dengan aneka ragam agama, ia tidak saja dituntut untuk membuka diri, belajar dan menghormati mitra dialognya, lebih jauh ia juga dituntut untuk bersikap komitmen terhadap agama yang

117 Muhammad Imarah, Islam dan Pluralitas Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan, Penerj. Abdul Hayyie Al-Kattanie, h. 10

118 Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Paramadina, 2001), Cet. I, h. 31

dianutnya.119 Pluralisme agama dengan syarat tersebut diisyaratkan oleh Al-Qur‟an dalam QS. Saba‟ [34]: 24-26,

















































































“Katakanlah: "Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah", dan Sesungguhnya Kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: "Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat". Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar, dan Dia-lah Maha pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui". (QS. Saba‟ [34]: 24-26)

119 Alwi Shihab, Islam Inklusifis, h. 43

5. Positif Thinking Terhadap Sesama Umat Muslim Kerukunan intern umat Islam menjadi sangat penting dan strategis untuk membangun kerukunan antarumat beragama yang ada di Indonesia. Kerukunan antarumat beragama dapat dijadikan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.120 Salah satu hal mendasar yang harus dilakukan oleh umat muslim adalah menjaga tali silaturrahim dan berbaik sangka kepada sesama kaum muslimin.

Dalam upaya mempererat tali silaturrahim, penting sekali menerapkan sifat positif thinking terhadap umat manusia. Berfikir positif akan memberikan efek yang positif dan memberikan dampak yang baik, terlebih dalam hubungan antar sesama manusia. Kaum muslim sangat dianjurkan bersikap husnudzan terhadap saudara seimannya. Sikap tersebut akan menghindarkan segala bentuk penilaian negatif (sûdzan) terhadap sesama umat muslim.

Yusuf Qardhawi menilai bahwa prinsip pokok seorang radikalis adalah menuduh. Dari menuduh kemudian berkembang menjadi menyalahkan dan

120 Muhammad Baharun, Islam Idealitas Islam Realitas, h. 110

mengkafirkan.121 Jika diperhatikan secara seksama, sikap menyalahkan dan mengkafirkan ini lambat laun akan menjadi ancaman besar umat muslim, karena sikap ini akan mendorong kebencian yang berakhir saling membunuh antar sesama muslim yang memiliki pandangan berbeda.

Sesungguhnya ajaran-ajaran Islam dengan keras mengingatkan agar kaum muslimin mewaspadai dua sikap, yaitu buruk sangka kepada Allah Swt. dan buruk sangka kepada sesama manusia. Allah Swt. berfirman,

































































“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba- sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.

Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu

121 Yusuf Al-Qardhawi, Islam Radikal, Penerj. Hawin Murtadho, h. 51

merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Sudah menjadi kewajiban bagi sesama umat muslim untuk saling memperbaiki diri, tolong menolong dalam kebaikan, dan selalu siap menjadi garda terdepan dalam menjalankan dakwah Islamiyah. Perilaku-perilaku radikal yang dapat merugikan jiwa raga dan keluarga serta bangsa dan negara semestinya dijauhi. Sesama umat muslim harus menyadari bahwa mereka sejatinya memiliki jiwa persaudaraan yang kuat karena persaudaraan tersebut tidak hanya berdasarkan atas jenis darah, suku, dan bangsa yang sama. Sesungguhnya mereka telah dipersaudarakan oleh Allah Swt. berdasarkan keimanan. Firmanya,























“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (Q.S. al-Hujurât [49] : 10)

159 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan

Dari uraian pembahasan mengenai moderasi dalam perspektif Al-Qur`an, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut,

1. Yang dimaksud moderat dalam perspektif Al-Qur’an adalah bersikap adil, maksud adil disini adalah bersikap seimbang, yaitu sikap yang tidak berlebihan atau menghindarkan perilaku yang ekstrem, atau cenderung ke arah jalan tengah. Sikap seperti ini dicontohkan dalam Al-Qur’an bahwa Islam mengajarkan sikap dinamis, arif, dan bijaksana. Adapun urgensi mengetahui moderasi dalam perspektif Al-Qur’an yaitu mengajak umat Islam untuk berinteraksi, berdialog, dan terbuka dengan semua umat manusia baik yang berbeda agama, suku, maupun peradaban. Sikap ini tentu akan mendorong sikap toleransi dan kebersamaan sehingga terciptalah kemajuan, keadilan, dan perdamaian. Dan yang paling urgen moderat merupakan karakteristrik Islam yang dapat menciptakan rahmatanlil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

2. Adapun uraian mufassir tentang ayat-ayat moderat dalam perspektif Al-Qur’an yaitu, a. Selalu mengedepankan sikap adil yang merupakan dasar dari sikap moderat, b. Menyelaraskan kehidupan sehingga terciptanya keseimbangan dalam hidup, c. Menghindari sikap ekstrim baik dalam ibadah, muamalah, maupun dalam ukhuwah.

3. Terdapat dua objek dalam pembahasan moderat dalam Al-Qur’an, yaitu dalam bidang agama dan kehidupan.

Pertama moderat yang masuk dalam bidang agama, dimana Islam menempatkan dirinya dalam posisi netral.

Maksudnya tidak bersikap ekstrim dalam akidah kepada Allah dengan mengakui Tuhan selainnya atau bersikap tanpa Tuhan. Selain itu, dalam beribadah tidak dianjurkan bersikap keras terhadap diri sendiri yang akhirnya melupakan tanggungjawab sosialnya. Kedua moderat dalam kehidupan, yaitu dalam bidang akhlak, bidang tasyri’ (perundang-undangan), dan bidang tatanan sosial. Dalam hal ini Islam mengajarkan sikap keseimbangan dalam melakukan aktifitas dan sikap. Hal ini dibuktikan dengan sikap kedermawanan yang merupakan pertengahan antara sikap kikir dan boros, sikap tidak penakut tetapi juga tidak terburu nafsu

(kalap), tidak kikir juga tidak boros, tidak sombong juga tidak merendahkan diri, tidak cepat menentang tidak pula selalu mengalah.

B. Saran

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Dalam kondisi dunia yang sedang dalam guncangan perang, penting bagi masyarakat Indonesia umumnya dan umat Islam pada khususnya untuk kembali bersikap moderat. Bersikap moderat sangatlah penting, karena ia tidak hanya akan menumbuhkan sikap toleransi dan peduli, lebih jauh ia akan dapat menciptakan perdamaian dunia. Tentu saja, moderat yang dimaksudkan disini adalah moderat sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an bukan hanya slogan-slogan moderat dengan berbagai kepentingan pihak-pihak tertentu.

2. Dalam bersikap moderat, umat Islam harus tetap berpegang pada dasar/pokok keadilan. Umat muslim jangan malah bersikap lembek dengan dalih bersikap netral namun tidak memiliki kejelasan sikap. Sikap pertengahan yang tidak memiliki akar keadilan dan

kearifan malah akan menjadi boomerang tersendiri bagi kelangsungan hidup masyarakat.

3. Kepada pemerintah dan ulama selalu diharapkan bimbingan serta kontrolnya terhadap pelaksanaan sikap moderat ini dengan benar, sehingga kasus-kasus kekerasan atas agama maupun kesenjangan kehidupan dimasyarakat dapat diminimalisir atau segera dapat dihilangkan, sehingga bangsa Indonesia dapat menemukan kedamaian dan kesejahteraan. Dengan moderat semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Amin.

163

Al-Asfahani, Abu Al-Qasim Al-Husain bin Muhammad Al- Ma’ruf Al-Raghib. Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, Bairut: Dar Al-Qalam, 1412 H.

Al-Asyqalani, Ibnu Hajar. Fathul Bari, Jilid VIII, Kairo: Dar Al-Masr, 2000.

_________. Ibnu Hajar. Fathul Bari, Penerj. Amiruddin, Jilid 22, Jakarta: Pustaka Azzam, 2011.

Al-Barry, M.D.J. dan A.T., Sofyan Hadi. Kamus Ilmiah Kontemporer, Bandung: Pustaka Setia, 2010.

Al-Bukhori, Abu Abdullah Muhammmad bin Ismail. Shahih Bukhori, Bairut: Darl al-fiqr, 2008.

Al-Buthy, Muhammad Sa’id Ramadhan. Sirah Nabawiyah, Penerj. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Jakarta: Robbani Press, 2008.

Al-Dimasqyi, Abul Fida Ismail ibnu Kasir. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, Penerj. Bahrun Abu Bakar, Jilid 27.

Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung, 2011.

Al-Ghazali, Muhammad. Al-Ghazali Menjawab 100 Soal Keislaman, Penerj. Abdullah Abbas, Jakarta: Lentera Hati, 2011.

Ali, Abdullah Yusuf. Tafsir Yusuf Ali, Penerj. Ali Audah, Jilid II, Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2009.

Al-Luwaihiq, Abdurrahman bin Mu’alla. Ghuluw Benalu dalam Ber-Islam, Penerj. Kathur Suhardi, Jakarta Timur: Darul Falah, 2003.

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir Al-Maraghi, Penerj.

Bahrun Abu Bakar, Semarang: Toha Putra, 1993.

Al-Qardhawi, Yusuf. Fiqih Maqashid SyariahModerasi Islam Antara Aliran Tekstual dan Aliran Liberal, Penerj. Arif Munandar Riswanto, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007.

_________. Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori’

Munawwar dan Tajuddin, Surabaya: Risalah Gusti, 1994.

_________. Kebudayaan Islam Ekslusif atau Inklusif, Penerj.

Jasiman, Solo: Era Intermedia, 2001.

_________. Pengantar Kajian Islam, Penerj. Setiawan Budi Utomo, Jakarta Timur: Pustaka Kautsar, 1997.

_________. Islam Radikal, Penerj. Hawin Murtadho,Solo: Era Intermedia, 2004.

_________. Perjalanan Hidupku I, Penerj. Cecep Taufikurrahman, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003 Al-Qazwini, Abi Abdullah Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu

Majah, Jilid II Bairut: Dar al-Fiqr, 2004.

Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi.Al- Jami’ Li Ahkaam Al-Qur’an/Tafsir Al-Qurthubi, Penerj.

Fathurrahman dan Ahmad Hotib, Jilid 1, Jakarta:

Pustaka Azzam, 2007.

Al-Shalabi, Ali Muhammad Muhammad. Al-Wasathiyyah fi Al- Qur’an Al-Karim, Kairo: Maktabah Tabi’in, 2001.

Al-Syanqithi, Syaikh. Tafsir Adwa’ul Bayan fi Idhah Al- Qur’an bi Al-Qur’an, Penerj. Fathurazi, Jilid 1, Jakarta:

Pustaka Azzam, 2006.

Al-Usairy, Ahmad. Sejarah Islam, Penerj. Samson Rahman, Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003.

Al-Zuhaili, Wahbah. Tafsir Al-Wasith, Penerj. Muhtadi, dkk, Jilid 2, Depok: Gema Insani, 2013.

_________. Tafsir Al-Munir, Penerj. Abdul Hayyie Al-Kattani, dkk, Jilid XV, Depok: Gema Insani, 2014.

Anam, Choirul. Pertumbuhan Dan Perkembangan NU, Surabaya: Duta Aksara Mulia, 2010

Asy-Syaukani, Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad.Tafsir Fathul Qadir, Penerj. Amir Hamzah Fachrullah dan Asep Saefullah, Jilid 1, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.

Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. Tafsir Al- Thabari, Penerj. Ahsan Askan, Jakarta: Pustaka Azzam, 2007.

Baharun, Muhammad. Islam Idealitas Islam Realitas, Jakarta:

Gema Insani, 2012.

Baqi, Muhammad Fuad Abdul. Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh Al-Qur`ân al-Karîm, Bairut: Dar al-Ma’rifah, 1992.

Bashori, Ahmad Dumyati. Konsep Al-Wasathiyyah Dalam Pemikiran Politik Yusuf Al-Qardhawi, Tangerang Selatan: Young Progressive Muslim, 2012.

Boisard, Marcel A..Humanisme Dalam Islam, Penerj. H.M.

Rasyidi, Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Bruinessen, Martin Van. NU Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, Penerj. Farid Wajidi, Yogyakarta: LKIS, 1999.

Burhan, Ahmad Najib. Islam Dinamis: Menggugat Peran Agama Membongkar Doktrin Yang Membantu, Jakarta:

Kompas, 2001.

Dar’, Abud bin Ali. Berlebih-Lebihan dalam Agama, Penerj.

Rusli dan Rizal, Jakarta: Pustaka Azam, 2002.

Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jakarta:

Departemen Agama RI, 2004.

_________. Tafsir Al-Qur’an Tematik Moderasi Islam, Seri 4, Jakarta: Departemen Agama RI, 2012.

_________. Hubungan Antar-Umat Beragama (Tafsir Alquran Tematik), Jakarta: Lajnah Pentashih Mushaf Alquran, 2008.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Ke Empat, Jakarta:

Gramedia, 2008.

Effendi, Djohan. Pesan-Pesan Al-Qur’an, Jakarta: Serambi, 2012.

El Fadl, Khaled Abu. Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, Penerj. Helmi Musthafa, Jakarta: Serambi, 2006

Esposito, John L.. Ancaman Islam Mitos Atau Realitas?, Penerj. Alwiyah Abdurrahman dan MISSI, Bandung:

Mizan, 1994.

Fadli, Subhan. Konsep Moderat Dalam Syariat Islam (Kajian Atas Pemikiran Yusuf Al-Qardhawiy), Jakarta: tidak dicetak, 2011.

Faisal, Sanapiah. Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya:

Usaha Nasional, 1982.

Fatah, Munawir Abdul. Tradisi Orang-Orang NU, Yokyakarta:

Pustaka Pesantren, 2006

Geovanie, Jeffrie. The Pluralism Project, Jakarta: Mizan Publika, 2013.

Hamdiyah, Asthi Fathimah. Skripsi “Tikrâr Kisah Nabi Mûsâ as. dalam Al-Qur`an (Telaah terhadap Surah Al-A’râf, Yûnus, Thâhâ, dan Asy-Syu’arâ)”, tidak diterbitkan.

Harahap, Syahrin. Islam Dinamis, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1997.

Husaini, Adian. dan Hidayat, Nuim. Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, Dan Jawabannya, Jakarta:

Gema Insani Press, 2002.

Idahram, Syaikh. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Yogyakarta: Printing Cemerlang, 2011.

Imarah, Muhammad. Islam dan Pluralitas Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan, Penerj. Abdul Hayyie Al-Kattanie, Jakarta: Gema Insani Press, 1999.

_________. Perang Terminologi Islam Versus Barat, Penerj.

Mustafa Maufur, Jakarta: Robbani Press, 1998.

Iskandar. Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: Gaung Persada Press, 2009.

Juergensmeter, Mark. Teror Atas Nama Tuhan Kebangkitan Global Kekerasan Agama, Penerj. M. Sadad Ismail, Jakarta: Nizam Press, 2002.

Khadduri, Majid. Teori Keadilan Perspektif Islam, Penerj.

Mochtar Zoerni dan Joko S. Kahhar, Surabaya: Risalah Gusti, 1999.

M. Echols, John. dan Shadily, Hassan. Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2005.

Maarif, Ahmad Syafi’i. Al-Qur’an dan Realitas Umat, Jakarta:

Republika, 2010.

_________., dkk, Muhammadiyah Dan NU Reorientasi Wawasan KeIslaman, Yogyakarta: LPPI Muhammadiyah, LKPSM NU, & PP Al-Muhsin, 1993.

Misrawi, Zuhairi. Al-Qur’an Kitab Toleransi, Jakarta: Fitrah, 2007.

_________. Pandangan Muslim Moderat, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010.

Munawir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawir Arab- Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.

Muthahhari, Murtadha. Islam Dan Tantangan Zaman, Penerj.

Ahmad Sobandi, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996.

Majelis Diktilitbang dan LPI PP Muhammadiyah,. 1 Abad Muhammadiyah Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan, Jakarta: Kompas, 2010

Nasution, Harun. Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Dan Perbandingan, Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2002.

Nugraha, Heru. Atas Nama Agama Wacana dalam Dialog Bebas Konflik, Bandung: Pustaka Hidayah, 1998.

Nuruddin, Amiur. Keadilan Dalam Al-Quran, Jakarta: Hijri Pustaka Utama 2008.

Purwadi, Sejarah Walisanga, Yogyakarta: Ragam Media, 2009.

Qutb, Sayyid. Karakteristrik Konsep Islam, Penerj. Muzakkir, Bandung: Pustaka, 1990.

_________. Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, Penerj. As’ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyarahil, Muchotob Hamzah, Jakarta: Gema Insani Press, 2000.

Rachman, Budhy Munawar Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Jakarta: Paramadina, 2001.

Ridwan, Nur Khalik. NU dan NeoLiberalisme Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad, Yogyakarta: LKIS, 2008.

Sagiv, David. Islam Otentisitas Liberalisme, Penerj. Yudian W.

Asmin, Yogyakarta: LKIS, 1997

Safwan, Mardanas. dan Kutoyo, Sutrisno. KH. Akhmad Dahlan, Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya, 2001.

Schartz, Stephen Sulaiman. Dua Wajah Islam (Moderatisme dan Fundamentalisme dalam Wacana Global), Penerj.

Hodri Ariev, Jakarta: Blantika dkk, 2007.

Shihab, Alwi. Islam Inklusifis, Bandung: Mizan, 1999.

Shihab, M. Quraish, dkk. Ensiklopedia Al-Qur’an, Jakarta:

Lentera Hati, 2007.

_________. Membumikan Al-Qur’an Jilid 2, Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2011.

_________. Tafsir Al-Misbah, Vol. 6, Jakarta: Lentera Hati, 2009.

Simuh, dkk. Toleransi dalam Islam, Jakarta: PT. Media Cita, 2002.

Siroj, Said Aqil. Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara, Jakarta: LTN NU, 2015

Sou’yb, Joesoef. Sejarah Daulat Khulafaur-Rasyidin, Jakarta:

Bulan Bintang, 1979.

Sukmadinata, Nana Syaodin. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.

Syaltut, Mahmud. Tafsir Al-Qur’an Karim, Penerj. Hossein Bahreisj dan Herry Noer Ali, Bandung: CV.

Diponegoro, 1989.

Tasmara,Toto. Menuju Muslim Kaffah: Menggali Potensi Diri, Jakarta: Gema Insani Press, 2000.

Thabathab’i, Muhammad Husain.Inilah Islam, Penerj. Ahsin Muhammad, Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992.

Ubaid, Abdullah. Dakwah Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Tangerang Selatan: Simaharaja Press, 2010.

Umar, Nasaruddin.Ulumul Qur’an, Jakarta Selatan: Al-Ghazali Center, tt.

Yasid, Abu. Islam Moderat, Jakarta: Erlangga, 2014.

Watt, William Montgomery. Fundamentalisme Islam dan Modernitas, Penerj. Taufiq Adnan Amal, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001

Zed, Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta:

Yayasan Obor, 2004.

Abdalla, Ulil Abshar. “Islam Moderat”, http://www.islamlib.com/?, diakses pada tanggal 15 Juni 2015

Hadahullah, “Siapakah-dr-yusuf-al-qardhawi,”

http://www.darussalaf.or.id/ hizbiyyahaliran//, diakses tanggal 14 Juni 2015

Jamil, Mukhlis. “Islam Moderat”,

http://mukhsinjamil.blog.walisongo.ac.id/ diakses pada tanggal 15 Juni 2015

Kahar, Novriantoni. ”Islam Indonesia Kini: Moderat Keluar,

Ekstrem di Dalam?”,