BAB II PENGERTIAN MODERASI
2. Moderasi Secara Istilah
Memahami moderasi memang tidak mudah, karena moderasi sendiri masih dianggap sangat luas dan sangat multi-interpretasi. Disini penulis akan memaparkan beberapa definisi wasathiyyah.
a. Pandangan ulama tentang moderasi Islam:
1) Yusuf Al-Qardhawi6
Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan dalam bukunya Al-Khashâish Al-Âmmah Li Al-Islâm memasukkan
5 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an Jilid 2, (Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2011), Cet. I, h. 92
6 Yusuf Al-Qardhawi, mempunyai nama lengkap Yusuf Al- Qaradhawi bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Beliau dilahirkan pada tanggal 09 september 1926 di desa Shaft At-Turab terletak antara kota Thanta (Ibu kota provinsi Al-Gharbiyah), dan kota Al-Mahallah Al-Kubra, yang merupakan kota kabupaten (markaz) paling terkenal di provinsi Al- Gharbiyyah. Ia berjarak sekitar 21 kilo meter dari Thantha dan 9 kilo meter dari Al-Mahallah. Lihat, Yusuf Al-Qaradhawi, Perjalanan Hidupku I, Penerj. Cecep Taufikurrahman, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003), h. 103
Banyak pihak yang pro dan kontra terhadap pandangan Yusuf Al- Qardhawi, ada yang menilai beliau sebagai ulama moderat namun dianggap tidak moderat. Di Mesir beliau sempat dianggap tidak loyal dengan pemerintah karena isi khutbahnya kerap menyindir dan memojokkan pemerintah, dan hal ini membuat beliau sempat dipenjara dan diasingkan.
Oleh Barat beliau juga dianggap tidak moderat karena beliau mengeluarkan fatwa tentang seruan jihad terkait konflik yang terjadi di Suriah, Palestina, dan Israel. Lihat, Hadahullah, “Siapakah-dr-yusuf-al-qardhawi,”
http://www.darussalaf.or.id/hizbiyyahaliran//, diakses tanggal 14 Juni 2015
wasathiyyah sebagai salah satu karakteristrik yang ada dalam Islam. Qardhawi mendefinisikan wasathiyyah atau tawazun adalah keseimbangan di antara dua kutub atau dua arah yang saling berhadapan atau bertentangan, dimana salah satu dari dua kutub tadi tidak dapat saling mempengaruhi dengan sendirinya. Dan salah satu dari dua kutub tadi tidak dapat mengambil hak melebihi yang lain.7
Adapun maksud ber-tawazun antara berbagai kutub tersebut adalah memberikan setiap kutub sesuai tempatnya (porsinya), dan memberikan haknya secara adil dan sesuai timbangan yang lurus, tanpa kurang dan lebih, tanpa melampaui batas dan tanpa pengurangan.8
Yusuf Al-Qardhawi menilai manusia dengan segala keterbatasan dan kecenderungannya akan sangat sulit untuk melakukan sikap moderat ini. Sesungguhnya yang kuasa dan mampu untuk memberikan segala sesuatu di alam semesta ini dengan adil dan sesuai porsinya hanyalah Allah Swt. saja. Hal ini terlihat dari segala ciptaan-Nya dan urusan-Nya yang jelas menunjukkan keseimbangan.
7 Yusuf Al-Qardhawi, Karakteristrik Islam Kajian Analitik, Penerj. Rori‟ Munawwar dan Tajuddin, (Surabaya: Risalah Gusti, 1994), Cet. III, h. 141
8 Yusuf Al-Qardhawi, Pengantar Kajian Islam, Penerj. Setiawan Budi Utomo, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997), h. 207
Oleh karena itu, fenomena tawasut dan tawazun di dalam kehidupan masyarakat hanya akan tercipta jika mereka kembali pada petunjuk dan agama yang benar.9
2) Sayyid Quthb
Sayyid Quthb memasukkan wasathiyyah sebagai salah satu konsep karakteristrik Islam. Yang dimaksud wasathiyyah atau keseimbangan menurut beliau adalah sikap seimbang dalam sendi-sendi Islam dan prakteknya.
Sikap seimbang telah menjaga umat Islam dari keterombang-ambingan disana-sini, keberlebihan disana- sini, dan dari benturan disana-sini.10
Sayyid Quthb menolak dengan keras segala bentuk obyetifitas yang dikemukakan oleh para filosof. Baginya, falsafah dan akidah yang digagas oleh mereka telah mengalami kesesatan dan kebingungan, termasuk di dalamnya para mutakallimin (Ahli Kalam) karena mereka lebih condong mengikuti falsafah Yunani daripada sistem Islam dalam menyikapi masalah keseimbangan ini.
9 Yusuf Al-Qardhawi, Pengantar Kajian Islam, Penerj. Setiawan Budi Utomo, h. 208
10 Sayyid Qutb, Karakeristrik Konsepsi Islam, Penerj. Muzakkir, (Bandung: Pustaka, 1990), Cet. I, h. 144
Menurut beliau, lebih bijak jika mengembalikan konsep atau metode yang sesuai dengan apa yang ada di Al-Qur‟an. Karena keseimbangan meliputi segala aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Tuhannya, alam semesta, antara hal yang jelas dan hal yang ghaib, dan antara hal yang qat‟i dan yang zhanni.11
3) Syaikh Muhammad Al-Ghazali
Syaikh Muhammad Al-Ghazali mengatakan bahwa makna wasath adalah pertengahan, moderat, dan teladan.
Sebagaimana Islam adalah agama pertengahan yang menyerukan kepada umatnya agar tetap konsisten berjalan di arah yang lurus agar tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri. Berlepas diri dari sikap dan cara berfikir yang berlebih-lebihan.12
4) Murtadha Muthahhari
Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa salah satu ciri yang harus dimiliki umat Islam ialah mengikuti
11 Sayyid Qutb, Karakeristrik Konsepsi Islam, Penerj. Muzakkir, h. 157
12 Muhammad Al-Ghazali, Al-Ghazali Menjawab 100 Soal Keislaman, Penerj. Abdullah Abbas, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), Cet. I, h.
183
jalan tengah yang berada di antara ifrâth dan tafrîth, yaitu terlalu berlebihan atau terlalu mudah.13 Ummatan wasathan merupakan sikap dan jalan tengah yang berada pada sebuah umat yang terdidik di bawah naungan Al- Qur‟an. Maksudnya adalah sebuah umat yang benar-benar jauh dari segala bentuk ekstremisme, sikap lemah, dan berlebih-lebihan.14
Dalam memahami makna wasath, Murtadha Muthahhari banyak mengkritisi tradisi dan budaya masyarakat yang menurutnya sudah melenceng jauh dari ajaran Islam. Beliau mengecam dengan keras setiap pergerakan yang bersifat ekstrim dan jumud atau kaku dalam beragama. Menurutnya agama Islam menganjurkan manusia bersikap moderat (i‟tidâl). Dalam masalah penyesuaian diri dan tuntutan zaman, umat Islam tidak boleh merubah masalah-masalah pokok, seperti hal-hal yang terkait dengan masalah ibadah. Selain itu, umat Islam juga tidak dibenarkan bersikap jumud atau kaku dalam hal- hal yang tidak ada dasarnya dalam agama.15
13 Murtadha Muthahhari, Islam Dan Tantangan Zaman, Penerj.
Ahmad Sobandi, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), Cet. I, h. 59
14 Murtadha Muthahhari, Islam Dan Tantangan Zaman, Penerj.
Ahmad Sobandi, h. 51
15 Murtadha Muthahhari, Islam Dan Tantangan Zaman, Penerj.
Ahmad Sobandi, h. 57
5) Muhammad Imarah
Muhammad Imarah menyatakan wasathiyyah dalam konsep Islam adalah kebenaran di tengah dua kebatilan; keadilan di tengah dua kezaliman; tengah- tengah diantara dua ekstrimitas, yang menolak eksageritas (sikap berlebihan).16
Dalam memahami wasathiyyah, Muhammad Imarah memiliki perbedaan persepsi dengan pakar filsafat Aristoteles yang menyatakan moderat adalah tengah- tengah antara dua keburukan yang lebih mirip dengan titik matematis yang tetap dan terpisah yang dipisahkan dari dua kutub oleh jarak yang sama. Atau dapat pula dihafami moderat merupakan sikap ketiga yang tidak memiliki hubungan dengan kedua sikap yang ditengahinya.
Imarah menyanggah pendapat yang dikemukakan oleh pakar filsafat tersebut. Menurutnya, moderat memang merupakan sikap ketiga namun ia memiliki keterkaitan dengan kedua sikap yang diketengahinya meskipun tidak secara sempurna. Moderasi Islam memiliki keistimewaan yang tercermin pada kemampuannya merangkul dan mengkombinasikan unsur-unsur yang dapat dirangkul dan
16 Muhammad Imarah, Perang Terminologi Islam Versus Barat, Penerj. Mustafa Maufur, (Jakarta: Robbani Press, 1998), Cet. I, h. 266
dikombinasikan sebagai satu keharmonisan yang tidak saling memusuhi pada kedua kutub yang saling berlawanan.17
Moderasi Islam merupakan pluralitas yang sesuai dengan kadar yang seharusnya, suatu kekhasan tersendiri dari beberapa unsur yang disatukan oleh faktor kesatuan Islam, serta suatu kemajemukan dari mazhab-mazhab dan aliran-aliran yang diakui oleh konsep Islam yang merangkulnya, juga keunikan yang bermacam-macam dalam kerangka konstanitas persatuan Islam.18
6) Hamid Ahmad Al-Rifa‟i,
Hamid Ahmad al-Rifa‟i menyatakan bahwa wasathiyyah merupakan sarana yang dapat menjembatani antara dua sisi yang berada disekitarnya. Wasathiyyah merupakan sebuah anugerah dari Allah Swt. yang menempatkan umat Islam pada posisi pertengahan di antara para manusia lainnya dan secara khusus diberi tugas dan tanggungjawab sebagai khalifah Allah di muka bumi.
17 Muhammad Imarah, Perang Terminologi Islam Versus Barat, Penerj. Mustafa Maufur, h. 267
18 Muhammad Imarah, Islam dan Pluralitas Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan, Penerj. Abdul Hayyie Al-Kattanie, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), Cet. I, h. 11
Manusia merupakan mahluk Allah yang diberi tugas besar yakni mempertahankan keseimbangan hidup, beribadah kepada Allah, membangun perdamaian, kebaikan dan keadilan di atas dunia.19
7) Ahmad Thayyib
Sebagaimana para pendahulunya yang menduduki posisi sebagai grand Syaikh Al-Azhar, Ahmad Thayyib menekankan kembali bahwa Al-Azhar merupakan kiblat moderasi Islam dan menolak segala tindakan ekstrimis dan pemikiran tafkir.
Dalam pidatonya beliau menekankan akan bahayanya pemikiran tafkir yang mendera beberapa organisasi Islam. Pemikiran tafkir hanya akan menodai ajaran Islam yang mencintai perdamaian. Selain itu, pemikiran semacam ini akan memperburuk citra Islam di mata umat manusia di dunia. Merujuk QS. Al-Baqarah [2]:
143 yang berbunyi,
19 Ahmad Dumyati Bashori, Konsep Al-Wasathiyyah Dalam Pemikiran Politik Yusuf Al-Qardhawi, (Tangerang Selatan: Young Progressive Muslim, 2012), h. 53
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143)
Ahmad Tayyib menegaskan bahwa umat muslim merupakan umat terbaik. Oleh karenanya penting bagi umat muslim agar berpegang teguh terhadap nilai-nilai moderasi Islam dalam keyakinan dan perbuatan. Hal
tersebut demi menjaga eksistensi umat muslim dimasa sekarang maupun masa yang akan datang.20
b. Moderasi Islam Dalam Bingkai Ke-Indonesia-an Penyebaran dakwah Islamiyah di Indonesia khususnya tanah Jawa memperoleh kesuksesan yang gemilang ditangan para Wali Allah yang disebut Walisongo. Faktor lain yang mengantarkan masyarakat di tanah Jawa memeluk Islam juga tidak dapat dipisahkan dari peran pemerintah yang saat itu mendukung ajaran Islam yang dibawa oleh para Walisongo.
Proses Islamisasi di pulau Jawa berjalan aman dan damai, tanpa ada pergolakan serta kegoncangan psikologis dan sosial. Hal ini disebabkan para Wali lebih menggunakan pendekatan kultural, yang sarat dengan nilai-nilai budaya dimasyarakat. Akulturasi kebudayaan yang dipelopori oleh para Wali, kini dilanjutkan oleh para juru dakwah sehingga praktek dan pengamalan Islam di Indonesia memiliki karakter dan ciri khasnya sendiri.21
20 Ahmad Thayyib, “The World Association For Al-Azhar Graduates,” http://www.waag-azhar.org/id/print.aspx, diakses tanggal 13 November 2014
21 Purwadi, Sejarah Walisanga, (Yogyakarta: Ragam Media, 2009), Cet. I, h. iii
Moderasi Islam di Indonesia telah melewati sejarah Islam yang panjang. Muhammadiyah22 dan NU23 merupakan dua organisasi besar yang merupakan garda
22 Muhammadiyah merupakan sebuah persyarikatan atau organisasi Islam yang lahir di Yogyakarta pada 9 Zulhijjah 1330 H/18 November 1912 M. Pendiri utamanya adalah KH. Ahmad Dahlan, seorang ulama dan ketib Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang tinggal di kampung Kauman, Yogyakarta. Faktor utama berdirinya organisasi ini disebabkan oleh kondisi kehidupan umat Islam di Indonesia yang masih dalam belenggu penjajahan dan hidup dalam Sinkretisme, sehingga pengamalan Islam tidak dapat tegak dengan kokoh dan bersih. Melihat kondisi tersebut, KH. Ahmad Dahlan mengambil kebijakan yaitu melakukan gerakan keagamaan melalui jalur sosial kebudayaan. Lihat, Majelis Diktilitbang dan LPI PP Muhammadiyah, 1 Abad Muhammadiyah Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan, (Jakarta: Kompas, 2010), Cet. I, h. 2
23 NU (Nahdlatul Ulama) didirikan pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M dalam sebuah rapat di Surabaya yang dihadiri oleh KH.
Hasyim Asy‟ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syamsuri, KH. Ridwan, KH. Nawawi dan banyak kiai lainnya. Selain dihadiri oleh para tokoh kiai, rapat tersebut juga dihadiri oleh sejumlah usahawan Jawa Timur. Lihat, Nur Khalik Ridwan, NU dan NeoLiberalisme Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad, (Yogyakarta: LKIS, 2008), Cet. I, h. 1
Banyak pihak menilai bahwa lahirnya organisasi NU merupakan reaksi defensif terhadap berbagai aktifitas kelompok reformis yang diprakarsai oleh Muhammadiyah dan Serikat Islam (SI). Selain untuk menjawab tantangan atas kaum reformis, kehadiran NU juga dipengaruhi oleh runtuhnya kedaulatan Islam yang ada di Istanbul, Turki pada akhir abad ke 19. Runtuhnya Daulah Utsmaniyah telah memecah umat Islam dan memecah belah keutuhan umat muslim di berbagai dunia. Melihat perubahan peta politik dalam Islam, para kiai akhirnya mendirikan organisasi NU untuk meredam konflik dan melindungi kepentingan serta tradisi masyarakat Islam Indonesia dengan komitmen awal menjadi gerakan sosial keagamaan. Lihat, Martin Van Bruinessen, NU Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, Penerj. Farid Wajidi, (Yogyakarta: LKIS, 1999), Cet. III, h. 26-28
terdepan moderasi Islam di Indonesia.24 Muhammadiyah dan NU juga telah malang melintang dalam memperjuangkan bentuk-bentuk moderasi Islam, baik melalui institusi pendidikan yang mereka bina, maupun kiprah sosial, politik, dan kebudayaannya.
Selain berperan aktif dalam menjaga dan menguatkan jaringannya, Muhammadiyah dan NU berhasil mengantarkan Indonesia sebagai percontohan toleransi bagi dunia luar.25 Cara efektif memahami moderasi Islam ala Indonesia yang diusung oleh Muhammadiyah dan NU adalah dengan ber-Islam dalam kontek Indonesia. Ahmad Syafi‟i Ma‟arif menyatakan bahwa,
“Sekalipun kedua gerakan ini tidak menggunakan label Islam dalam namanya, semua orang tahu dan sadar bahwa keduanya bertujuan untuk membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan kolektif bangsa Indonesia dengan cara yang arif, demokratis, persuasif, dan dialogis.”26
Corak moderasi Islam yang dibawa Muhammadiyah bisa dilihat dalam konsep dakwah
24 Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat, (Jakarta:
Kompas Media Nusantara, 2010), h. xiii
25 Novriantoni Kahar, ”Islam Indonesia Kini: Moderat Keluar, Ekstrem di Dalam?”, http://islamlib.com/id/artikel/,diakses tanggal 14 Juni 2015.
26 Ahmad Syafi‟i Ma‟arif dkk, Muhammadiyah Dan NU Reorientasi Wawasan KeIslaman, (Yogyakarta: LPPI Muhammadiyah, LKPSM NU, dan PP Al-Muhsin, 1993), h. xxix
Kulturalnya. Muhammadiyah melalui Sidang Tanwir di Denpasar, Bali, pada bulan Januari 2002 telah menggagas konsep dakwah kultural tersebut. Setelah dianggap memadai, konsep tersebut kemudian diajukan dalam Sidang Tanwir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada bulan Juni 2003.27
Konsep dakwah kultural digagas berawal dari kesadaran bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur‟an dan As-Sunnah dengan watak tajdid yang senantiasa konsisten dan proaktif melaksanakan dakwah amar makruf nahi mungkar disegala bidang kehidupan, dengan menggunakan akal pikiran untuk mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, atau negara. Dakwah kultural Muhammadiyah bermaksud menyebarluaskan universalitas Islam untuk kesejahteraan seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan agama, ras, warna kulit, bahasa, dan jenis kelamin. Dengan mempertimbangkan keunikan dan keanekaragaman kultural dan historis objek dakwah dan bahasa yang tepat
27 Majelis Diktilitbang dan LPI PP Muhammadiyah, 1 Abad Muhammadiyah Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan, h. 322
agar Islam kaffah dapat bersentuhan dengan partikularitas- partikularitas dalam ruang dan waktu.28
Dakwah kultural yang digagas oleh Muhammadiyah ini sejatinya telah dipraktekan oleh KH.
Ahmad Dahlan. Dalam berdakwah, KH. Ahmad Dahlan menggunakan pendekatan kultural. Hal ini dapat dilihat dari kiprahnya mendirikan lembaga pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, mendorong perempuan untuk aktif, dan lain sebagainya.29 Jika diperhatikan, dakwah kultural telah melakukan tiga komponen penting dakwah yakni, dimensi kerisalahan, dimensi kerahmatan, dan dimensi kesejahteraan.30
Berbeda dengan ormas pada umumnya, NU lahir dari desakan lokal untuk merawat tradisi yang terancam kalangan reformis. Nilai lokal inilah yang menjadikan NU tampak unik dan berbeda. Keunikan ini terlihat dari ke- istiqamah-an NU menjaga tradisi dan budaya masyarakat dalam ber-Islam yang dianggap puritan, nyeleneh, berbau
28 Majelis Diktilitbang dan LPI PP Muhammadiyah, 1 Abad
Muhammadiyah Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan, h. 323
29 Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, KH. Akhmad Dahlan, (Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya, 2001), h. 63
30 Majelis Diktilitbang dan LPI PP Muhammadiyah, 1 Abad Muhammadiyah Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan, h. 327
takhayul, bid‟ah, khurafat, dan berbagai hal yang tak rasional lainnya.31
Sejak awal ahlussunah adalah mazhab yang mengajarkan kesejukan dalam kehidupan.
Mengembangkan pemahaman yang sepakat untuk mendamaikan antara dunia keilmuan dengan dunia politik dan spiritualitas untuk mengembangkan peradaban Islam.
Demikian pula NU dengan sikapnya yang tawasuth (moderat), tawazun (seimbang) dan tasamuh (toleran), yang ketiganya merupakan prinsip jalan tengah sebagaimana Al-Qur‟an menyebutnya ummatan wasathan.
Bersikap moderat itu bukanlah pilihan yang didasari atas pragmatisme dan kesenangan yang oportunistik, sebagaimana yang dituduhkan oleh beberapa pihak. Pilihan tersebut dilandaskan pada pertimbangan dan hujjah teologis yakni berdasarkan seruan Islam itu sendiri dan berdasarkan alasan ideologis atas dasar pertimbangan epistimologis.32
Dalam menjalankan dakwahnya, NU mengikuti para ulama Nusantara terdahulu yang berusaha
31 Munawir Abdul Fatah, Tradisi Orang-Orang NU, (Yokyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), h. ix
32 Said Aqil Siroj, Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara, (Jakarta: LTN NU, 2015), Cet. II, h. 74
mengembangkan Islam dengan 3 langkah. Pertama, tadriji (bertahap) tidak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semuanya melalui proses penyesuaian. Kedua, taqlil al-taklif (memperingan beban) sehingga setiap orang dapat melaksanakan. Ketiga, „adamul haraj (tidak menyakiti). Oleh karena itu, kedatangan Islam tidak dengan mengusik tradisi, kepercayaan dan budaya masyarakat, namun memperkuatnya dengan cara yang Islami. Dalam memahami Islam, NU mengajarkan dan menumbuhkan kesadaran terhadap masyarakat, bukan dengan jalan paksaan maupun kekerasan.33
Sikap dasar kemasyarakatan dan kebudayaan NU merupakan adopsi dari pemikiran ulama yang sudah ada jauh sebelum organisasi NU terbentuk. Apa yang dilakukan oleh NU hanyalah melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh para ulama sebelumnya. Sebagaimana lahirnya NU sebagai wadah organisasi yang merupakan wadah dari wujudnya komunitas yang terikat kuat oleh aktifitas sosial keagamaan yang memiliki karakteristrik tersendiri.34
33 Said Aqil Siroj, Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara, h.
74
34 Choirul Anam, Pertumbuhan Dan Perkembangan NU, (Surabaya: Duta Aksara Mulia, 2010), Cet. III, h. 3
Geliat moderasi Islam tidak hanya di dengungkan oleh organisasi besar seperti Muhammadiyah dan NU.
Terdapat beberapa cendekiawan muda seperti Muchlis M.
Hanafi yang konsen dan terus aktif mengkaji dan menjelaskan makna moderasi Islam. Muchlis M. Hanafi mendefinisikan wasathiyyah sebagai metode berfikir, berinteraksi, dan berperilaku yang didasari atas sikap tawazun (seimbang) dalam menyikapi dua perilaku yang memungkinkan untuk dianalisa dan dibandingkan, sehingga sikap tersebut tidak bertentangan dengan prinsip- prinsip agama dan tradisi masyarakat. Dengan pengertian tersebut, sikap moderat akan melindungi seseorang dari kecenderungan terjerumus pada sikap berlebihan.35
c. Moderasi Islam Menurut Pemikir Barat yaitu:
Pemahaman moderasi dalam lingkup pemikir Barat tidak dapat dipisahkan dari modernitas, dimana modernitas erat kaitanya dengan liberalisme atau sikap menerima demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), pluralisme dan beberapa istilah yang mengiringi modernitas itu sendiri.
Islam dan Modernitas merupakan dua simbol keadaan
35 Muchlis M. Hanafi, Moderasi Islam, (Jakarta: IAA dan PSQ, 2013), h. 8
yang kerap disandingkan dengan istilah Islam Liberal36. Menurut Luthfi Assyaukani, Islam Liberal merupakan Islam yang harus disesuaikan dengan kemodernan. Jika terjadi konflik antara ajaran Islam dan pencapaian modern, maka yang harus dilakukan adalah mengkaji ulang penafisrannya, bukan menolak modernitas. Disinilah inti ajaran dan sikap Islam Liberal.37
Ahmad Dumyati Bashari mengutip pendapat Angel Rabasa menyatakan bahwa karakteristrik muslim moderat adalah orang Islam yang mendukung sistem demokrasi, mengakui HAM termasuk juga kesetaraan gender, kebebasan beribadah, menghormati kebhinekaan, menerima sumber-sumber hukum yang non-sektarian, melawan terorisme dan bentuk-bentuk kekerasan lainya.38 Apa yang dipaparkan oleh Rabasa ini merupakan sikap
36 Islam Liberal adalah kaum muslim yang menghargai pandangan Barat dan merasa bahwa kritikan terselubung atau terang- terangan terhadap Islam sebagiannya dapat dibenarkan. Lihat, William Montgomery Watt, Fundamentalisme Islam dan Modernitas, Penerj. Taufiq Adnan Amal, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), Cet. II, h. 129
37 Adian Husaini dan Nuim Hidayat, Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, Dan Jawabannya,(Jakarta: Gema Insani Press, 2002), Cet. I, h. 3
38 Ahmad Dumyati Bashori, Konsep Al-Wasathiyyah Dalam Pemikiran Politik Yusuf Al-Qardhawi, h. 54
moderat yang dipahami oleh kaum liberal moderat39. Hal itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh M. Mukhsin Jamil tentang prinsip-prinsip moderasi Islam menurut pandangan kaum liberal moderat.40
Sikap moderat yang demikian harus dicermati dengan seksama, karena jika tidak diperhatikan dan dicermati dengan benar akan membawa dampak yang tidak baik dalam diri umat Islam. Hal ini sebagaimana yang pernah terjadi di Turki dan di Mesir, dimana demam liberalisme dan budaya Barat telah menghinggapi masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan munculnya tulisan-tulisan yang berbau Barat, yang akhirnya mendorong munculnya gerakan atau tradisi di luar syari‟at Islam, seperti gerakan penanggalan jilbab dan pakaian
39 Ulil Abshar Abdalla, salah seorang aktivis liberal, memberikan pengertian Islam Moderat dengan menukil ucapan dari Tawfik Hamid,
“Islam yang menolak secara tegas hukum-hukum agama yang membenarkan kekerasan dan diskriminasi. Lihat, Ulil Abshar Abdalla,
“Islam Moderat”, http://www.islamlib.com/?, diakses pada tanggal 15 Juni 2015
40 M. Mukhlis Jamil menjelaskan beberapa prinsip Islam moderat yaitu: memahami Al-Qur‟an sebagai kitab terbuka, mengusung keadilan, kesetaraan, toleransi, kebebasan, kemanusiaan, pluralisme, sensitifitas gender, dan non diskriminasi. Lihat, Mukhlis Jamil, “Islam Moderat”, http://mukhsinjamil.blog.walisongo.ac.id/2013/12/20/ diakses pada tanggal 15 Juni 2015