• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah kebutuhan yang mutlak bagi kehidupan manusia sejak manusia lahir sampai meninggal dunia. Pendidikan agama merupakan faktor fundamental dalam membangun watak bangsa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional pasal 37 menempatkan pendidikan agama disemua jenjang pendidikan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Dalam penjelasan umum ditegaskan bahwa strategi pertama dalam melaksanakan pembaruan sistem pendidikan nasional adalah pelaksanaan pendidikan agama dan akhlak mulia.1

Pendidikan agama Islam dan Budi Pekerti merupakan mata pelajaran wajib yang terdapat dalam kurikulum 2013. Mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti ini, sebelum diberlakukannya kurikulum 2013, yaitu pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dikenal dengan mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) saja, tanpa ada imbuhan kata Budi Pekerti. Artinya, bagi sekolah yang sudah menerapkan kurikulum 2013, mata pelajaran yang semula bernama pendidikan agama Islam, berubah nama menjadi mata pelajaran pendidikan agama Islam dan Budi Pekerti. Adapun sekolah yang menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), mata pelajaran pendidikan agama Islam ini tetap dikenal sebagai mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI).

1Penjelasan Umum Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan agama merupakan faktor fundamental dalam membangun watak bangsa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional

pasal 37 menempatkan pendidikan agama disemua jenjang pendidikan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Dalam penjelasan umum ditegaskan bahwa strategi pertama dalam melaksanakan pembaruan sistem pendidikan nasional adalah pelaksanaan pendidikan agama dan akhlak mulia.2

Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pelaksanaannya memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter bangsa. Hal ini dijelaskan dalam Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.3

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai bagian dari pendidikan agama telah memiliki landasan operasional yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang berbunyi:

Pasal 1 ayat (1) Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan; dan ayat (2) pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat

2Penjelasan Umum Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

3Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.

Pasal 3 ayat (1) Setiap satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan wajib menyelenggarakan pendidikan agama.

Pasal 4 ayat (1) Pendidikan agama pada pendidikan formal dan program pendidikan kesetaraan sekurang-kurangnya diselenggarakan dalam bentuk mata pelajaran atau mata kuliah agama.4

Pendidikan agama Islam memiliki peran penting dalam mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia serta mampu berperilaku baik dalam kehidupan pribadinya maupun di masyarakat.

Sebagaimana dijelaskan oleh Muhaimin bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.5 Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam tidak hanya membentuk manusia yang taat dengan ajaran Islam saja, melainkan juga mengatur hubungan antarumat beragama serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan Agama Islam di sekolah maupun di madrasah dapat dimaknai dari dua sisi, yaitu: pertama, PAI sebagai sebuah mata pelajaran seperti dalam kurikulum sekolah umum (SD, SMP dan SMA). Kedua, PAI

4Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan agama dan pendidikan Keagamaan

5Muhaimin, Suti’ah, dan Nur Ali, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 75.

sebagai rumpun pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran Aqidah Akhlak, Fikih, Qur’an Hadits, dan Sejarah Kebudayaan Islam seperti yang diajarkan di madrasah (MI, MTs dan MA).

Pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah sangatlah penting, namun pada kenyataannya pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah masih mengalami banyak kelemahan. Menurut Thowaf sebagaimana yang dikutip oleh Muhaimin telah mengamati adanya kelemahan pendidikan agama Islam di sekolah, antara lain sebagai berikut: (1) model masih cenderung normatif, dalam arti pendidikan agama Islam menyajikan norma-norma yang seringkali tanpa ilustrasi konteks sosial budaya; (2) kurikulum pendidikan agama Islam yang dirancang di sekolah sebenarnya lebih menawarkan minimum kompetensi atau minimum informasi, tetapi pihak guru PAI seringkali terpaku pada minimum informasi tersebut, sehingga semangat untuk memperkaya kurikulum dengan pengalaman belajar yang bervariasi kurang tumbuh; (3) sebagai dampak yang menyertai situasi tersebut, maka guru PAI kurang berupaya menggali berbagai metode yang mungkin bisa digunakan, sehingga pelaksanaan pembelajaran cenderung monoton; (4) keterbatasan sarana dan prasarana, sehingga pengelolaan cenderung seadanya. Pendidikan agama yang diklaim sebagai aspek yang penting sering kali kurang diberikan prioritas dalam urusan fasilitas.6 Dalam konteks metodologi, menurut Furchan, dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran PAI di sekolah

6Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), 25.

kebanyakan masih menggunakan cara-cara pembelajaran tradisional, yaitu ceraman monoton dan statis akontekstual, cenderung normatif, monolitik, lepas dari sejarah, dan semakin akademis.7

Uraian di atas menggarisbawahi bahwa berbagai kritik dan sekaligus yang menjadi kelemahan dari pelaksanaan pendidikan agama lebih banyak bermuara pada aspek metodologi pembelajaran PAI. Aspek lainnya yang disoroti adalah menyangkut muatan kurikulum atau materi pendidikan agama, sarana pendidikan agama, termasuk di dalamnya buku-buku dan bahan ajar pendidikan agama.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru PAI dan Budi Pekerti untuk untuk mengatasi beberapa kritik terkait dengan pembelajaran PAI dalam menciptakan pembelajaran yang optimal. Proses pembelajaran merupakan inti dari kegaitan belajar mengajar yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi. Guru sebagai individu yang menjadi bagian dari pelaksanaan pendidikan agama Islam memiliki peran yang besar dalam mengupayakan pembelajaran PAI yang efektif. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik, melaui pemakaian prosedur yang tepat.8

Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya motivasi dalam belajar. Melalui pemilihan model pembelajaran yang tepat, guru dapat memilih atau menyesuaikan jenis pendekatan, strategi dan metode pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta didik

7Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam…., 25-26.

8Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2007), 536.

maupun materi yang akan disampaikan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT surat Al-Maidah ayat 35 yang berbunyi:





























Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”.9

Hubungan ayat tersebut dengan model belajar adalah bahwa dalam pelaksanaan pendidikan dibutuhkan adanya model yang tepat, untuk mengantar tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Materi yang benar dan baik, tanpa menggunakan metode atau model yang baik maka akan menjadikan keburukan pada materi tersebut. Kebaikan materi itu terletak pada kebaikan model yang digunakan.10

Proses belajar siswa dipengaruhi oleh emosi dalam diri siswa. Apabila siswa merasa terpaksa dalam mengikuti suatu pembelajaran, siswa akan merasa kesulitan untuk menerima pelajaran atau materi-materi yang diberikan oleh guru. Maka dari itu, guru harus dapat menciptakan suasana yang kondusif dan membuat pelajaran menjadi efektif dan menyenangkan. Agar pembelajaran menyenangkan, perlu adanya perubahan cara mengajar dari model pembelajaran tradisional menuju model pembelajaran yang inovatif.11

9Q.S. Al-Maidah: 35.

10Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2008), 165.

11Aris Shohimin, Model Pembelajaran Innovatif dalam Kurikulum 2013 (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 18.

Disamping faktor guru sesungguhnya faktor siswa juga tidak kalah penting untuk menjadi pertimbangan dalam proses pembelajaran. Dick and Carey menyatakan bahwa seorang guru hendaklah mampu mengenal dan mengetahui karakteristik siswa. Sebab dengan pemahaman yang baik terhadap karakteristik siswa, guru akan dapat menyesuaikan metode pembelajaran yang digunakannya yang tentunya sangat mempengaruhi keberhasilan proses belajar siswa. Karakteristik dan kemampuan awal siswa sangat mempengaruhi cara belajarnya dan juga mempengaruhi perhatiannya dalam pembelajaran.12 Informasi tentang hal tersebut diperlukan oleh pengembang instruksional agar guru dapat mengembangkan sistem instruksional yang sesuai dengan karakteristik siswa tersebut. 13 Oleh sebab itu dalam proses pembelajaran guru hendaknya mengetahui hal tersebut agar dapat menerapkan cara penyampaian pembelajaran yang menarik bagi siswa sehingga selanjutnya diharapkan akan meningkatkan hasil pembelajaran.

Karakteristik siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah gaya belajar. DePorter dan Hernacki menyatakan bahwa gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Kemampuan menyerap informasi setiap siswa cenderung berbeda berdasarkan modalitas belajarnya.14 Ada siswa memiliki kecendrungan menyerap informasi lebih maksimal melalui indra penglihatan

12Walter Dick, Lou Carey, and James Q. Carey, The Systematic Design of Instruction (Boston:

Pearson, 2009), 102.

13M. Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern: Panduan Para Pengajar dan Inovator Pendidikan (Jakarta: Erlangga, 2012), 113.

14Bobbi DePorter and Mike Hernacki, Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Terjemahan oleh Alwiyah Abdurrahman (Bandung: Kaifa, 2006), 110.

(visual), ada juga yang maksimal menyerap informasi melalui indra pendengaran (auditorial), sementara yang lain maksimal menyerap informasi melalui aktifitas fisik atau tubuh (kinestetik atau belajar somatis). Upaya guru mengenali modalitas belajar siswa (visual, auditorial, atau kinestetik) sangat diharapkan dalam membantu memaksimalkan fungsi dominasi otak siswa sebagai bentuk kemampuan mengatur dan mengelola informasi melalui berbagai aktifitas fisik dan mental.

Mendidik dengan ceramah berarti memberikan suatu informasi melalui pendengaran, yang hanya bisa dicerna otak siswa 20%.Padahal informasi yang dipelajari siswa bisa saja dari membaca (10%), melihat (30%), melihat dan mendengar (50%), mengatakan (70%), mengatakan dan melakukan (90%).

Hal ini sesuai dengan pendapat seorang filosof Cina Konfusius bahwa:15

“Apa yang saya dengar, saya lupa”

“ Apa yang saya lihat, saya ingat”

“ Apa yang saya lakukan, saya paham”

Gaya belajar yang berbeda pada setiap siswa tentu mempengaruhi penyerapan pelajaran. Siswa yang memiliki gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik akan mampu beradaptasi dan mengembangkan pengetahuannya dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual), sebab model pembelajaran SAVI melibatkan seluruh indera peserta didik.16

15Melvin L.Silberman, Active Laearning 101 Cara Belajar Siswa Aktif (Bandung: Nusamedia, 2006), 23.

16Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru (Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2012). 373.

Model yang dapat digunakan disini adalah model SAVI. Pembelajaran dengan menggunakan model SAVI adalah pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada hasil pembelajaran.

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari. Akan tetapi, menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.17

Pembelajaran dengan model SAVI merupakan pembelajaran yang melibatkan keaktifan belajar siswa secara fisik. Dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Hal ini berbeda dengan pembelajaran konvensional yang cenderung membuat belajar peserta didik didominasi oleh kemampuan mendengarkan, sehingga kemampuan yang lainnya kurang dimanfaatkan .

Penggunaan model pembelajaran SAVI (Somatic, Auditori, Visual, Intellectual) ini dinilai efektif diterapkan dalam pembelajaran. Hal ini didasarkan pada beberapa hasil penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh Harnoi Asrin, Lumban Gaol, dan Masitowarni Siregar yang berjudul The Effect of Appliying Somatic Auditori Visual Intellectual (SAVI) Method on Students’ Achievment in Writing Report Text. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa metode pembelajaran SAVI memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan siswa dalam menulis teks berbentuk laporan

17Dave Meier, The Accelerated Learning Handbook: Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan, Terjemahan oleh Rahmani Astuti (Bandung: Kaifa, 2002), 91.

dalam Bahasa Inggris, yang terlihat dari hasil t-observed (5.091) lebih besar dari t-table (1.990).18

Selain itu, terdapat juga penelitian yang dilakukan oleh Laely Farokhah, Andika Arisetyawan, Al Jupri, yang berjudul The Effect of Ethnomathematics- Based SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) Approach on Mathematical Communication Skill on Geometry in Elementary School.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran SAVI memberikan dampak terhadap kemampuan berkomunikasi matematik yang semakin meningkat pada diri siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil post-test setelah diberikan treatment pendekatan SAVI yang menunjukkan bahwa kelas eksperimen memiliki rata- rata 72.11 dan kelas kontrol yang tidak menggunakan treatment SAVI memiliki rata-rata 60.53.

Setiap proses pembelajaran tentunya bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dapat terlihat dari hasil belajar. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.5

Ada banyak faktor yang mempengaruhi baik buruknya hasil belajar yang diperoleh peserta didik. Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internah dan eksternal. Faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik

18Harnoi Asrin, Lumban Gaol, and Masitowarni Siregar, “The Effect of Appliying Somatic Auditori Visual Intellectual (SAVI) Method on Students’ Achievment in Writing Report Text”, TRANSFORM Journal of English Language Teaching and Learning of FBS UNIMED, 4 (Juli, 2014): 1-17.

dibagi menjadi dua yaitu faktor psikologis dan fisiologis, sedangkan faktor dari luar diri peserta didik meliputi lingkungan sekitar, guru, faktor sosial, metode pembelajaran.19

Faktor lain yang menentukan meningkatnya hasil belajar siswa yaitu pemilihan model pembelajaran yang tepat. Penggunaan model pembelajaran yang bervariasi dapat menggairahkan belajar anak didik, pada suatu kondisi tertentu seorang anak akan merasa bosan dengan model pembelajaran ceramah maka guru perlu mengalihkan suasana dengan menggunakan model pembelajaran lain seperti tanya jawab, diskusi atau penugasan sehingga kebosanan dapat terobati dan suasana kegiatan pengajaran jauh dari kelesuan.20

Setelah melakukan observasi di SMP Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso, bahwa dalam mengajar mata pelajaran PAI, guru masih menerapkan model pembelajaran konvensional dengan dominasi ceramah dari guru. Hal ini disampaikan oleh Bapak Khairul sebagai guru mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti bahwa pada dasarnya guru masih mengalami kesulitan dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang menarik untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI.21 Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa guru di SMP Manbaul Ulum masih menggunakan model pembelajaran yang tradisional, sehingga proses belajar mengajar pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti dinilai kurang bervariasi.

19Daryanto dan Muljo Rahardjo, Model Pembelajaran Inovatif (Yogyakarta: Gava Media, 2012), 212.

20Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 158.

21M. Khairul, Wawancara, Bondowoso, 10 Maret 2018.

Berdasarkan data awal di temukan di lokasi penelitian, penelitian ini bermaksud untuk melakukan eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran SAVI dengan asumsi bahwa model pembelajaran SAVI akan mempengaruhi dan meningkatkan hasil belajar siswa yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Penelitian ini dilakukan di SMP Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso dengan pertimbangan bahwa di sekolah tersebut praktek pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran konvensional dan hasil belajar kognitif siswa masih ada yang belum memenuhi kriteria yang ditentukan sekolah. Penenlitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan satu kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional dan satu kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran SAVI. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pelaksanaan pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SMP Manbaul Ulum yang bervariasi dan mampu mengembangkan aktivitas peserta didik sesuai gaya belajarnya. Penelitian ini dilakukan dikelas VII SMP Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso pada materi thaharah (Semua Bersih Hidup jadi Nyaman).

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, peneliti melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran SAVI (somatic, auditory, visual, intellectual) dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas VII SMP Manbaul Ulum.