LESSON STUDY SEBUAH USAHA UNTUK PERBAIKAN
maksudnya adalah pada saat kegiatan open class yang menjadi observer semua guru di sekolah tersebut, bahkan boleh dihadiri oleh guru dari sekolah lain.
Misi mulia dari pelaksanaan Lesson Study sesungguhnya adalah terbangunnya Learning Community (masyarakat pembelajar).
Komponen Learning Community adalah Guru- Siswa-Masyarakat. Di antara ketiga komponen itu, diharapkan terjadi interaksi-mutualisme yakni Guru-Siswa-Masyarakat yang ketiganya secara kolegialitas membangun komunitas belajar. Artinya, secara ideal, antara ketiga komponen terjadi proses saling belajar. Oleh karena itu, di dalam Lesson Study tidak perlu buru-buru mentargetkan kemampuan akademik (kompetensi) tertentu yang harus dikuasai oleh siswa. Diperlukan kesabaran, karena prosesnya memang lama dan jalannya pelan-pelan.
Sehingga, sebenarnya hasil proses pembelajaran yang tampak dalam waktu singkat bukanlah kemampuan akademik (kompetensi) siswa. Jika siswa memperoleh kompetensi tertentu sesaat setelah proses pembelajaran, sebetulnya itu hanyalah akibat saja, bukan sasaran utama.
Tetapi, yang lebih penting adalah mereka (tiga komponen tersebut) bersedia belajar dan merasa senang belajar.
DESAIN PEMBELAJARAN DALAM LESSON STUDY
Desain pembelajaran dalam Lesson Study sebaiknya menggunakan tipe SPIRAL. Artinya, setiap kali tatap muka selalu diawali dengan mengulang resume (beberapa kata kunci) pelajaran yang telah dibahas sebelumnya.
Sehingga pemahaman siswa dibangun dengan desain spiral, yang mewujudkan saling keterkaitan antartopik bahasan. Tujuannya, agar siswa terbiasa mengkonfirmasi dengan pelajaran sebelumnya sebagai referensi.
Bahkan, bilamana dipandang perlu topik pelajaran sebelumnya yang digunakan sebagai referensi tersebut boleh dikritisi. Dengan desain yang seperti ini, antartopik pelajaran yang akan dibahas hari ini selalu terkait dengan topic yang sudah dibahas pada pertemuan sebelumnya.
Di samping itu, desain pembelajaran dalam Lesson Study perlu memadukan antara DOING and THINKING. Strategi ini menggiring siswa aktif belajar. Sebagai contoh, ketika siswa belajar tentang topic rambatan bunyi, pada mulanya siswa diminta untuk melakuan eksperimen kecil-kecilan dengan bermain telepon-teleponan dengan alat yang sederhana
(gelas plastic dan benang). Setelah itu, siswa diminta untuk berdiskusi bagaimana proses rambatan bunyi atau suara tersebut bias terjadi.
Oleh karena itu, agar desain pembelajaran ini sukses, maka guru harus mempersiapkannya dengan baik disertai penggunaan media yang tepat. Skenario pembelajaran dan penggunaan media yang tepat akan mampu membuat suasana belajar lebih semangat.
COLLABORATIVE LEARNING VS COOPERATIVE LEARNING
Strategi pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning, keduanya berpandangan bahwa belajar jika dilaksanakan secara kelompok akan lebih produktif. Kedua strategi pembelajaran tersebut memiliki pandangan bahwa belajar sesuatu itu lebih baik bekerjasama dari pada bersaing antarsiwa.
Dalam sejarah perkembangannya, Collaborative Learning banyak diterapkan di Jepang, sedangkan Cooperative Learning banyak diterapkan di AS.
Kedua strategi pembelajaran itu menggunakan pendekatan teori perilaku sosial John Dewey dan teori perkembangan sosial Vygotsky. Pandangan Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi kehidupan manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga segala perbuatannya, entah baik atau buruk, akan diberi penilaian oleh masyarakat. Akan tetapi di lain pihak, manusia menurutnya adalah yang menciptakan nilai bagi dirinya sendiri secara alamiah.
Masyarakat di sekitar manusia dengan segala lembaganya, harus diorganisir dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan perkembangan semaksimal mungkin. Itu berarti, seorang pribadi yang hendak berkembang selain berkembang atas kemungkinan alamiahnya, perkembangannya juga turut didukung oleh masyarakat yang ada di sekitarnya.
Menurut Vygotsky manusia adalah makhluk sosial dan tanpa interaksi dengan masyarakat dia tidak dapat mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Konsep ini diperoleh sebagai hasil dari perkembangan historis umat manusia. Fungsi psikis yang lebih tinggi muncul terutama sebagai bentuk dari perilaku kolektif seorang anak, yaitu perilaku dalam bekerja sama dengan orang lain.
Namun, dalam implementasinya kedua strategi pembelajaran tersebut sebetulnya memiliki beberapa perbedaan. Pada
Collaborative Learning, meskipun belajar dilakukan secara berkelompok, namun tidak dikenal adanya leader. Semua siswa kedudukannya sama. Di sini, siswa yang belum paham didorong untuk bertanya dan belajar kepada temannya yang sudah paham. Sehingga, siswa yang sudah paham akan mengulang lebih paham, sementara yang belum paham menjadi paham. Karena, sesungguhnya yang memiliki masalah adalah siswa yang belum paham, bukan siswa yang sudah paham.
Dalam Collaborative Learning, hasil belajar bersama tetap menjadi “milik pribadi”
atau belajar bersama dengan hasil masing- masing individu. Jadi, hasil belajar berupa pemahaman sendiri-sendiri, bukan hasil kesepakatan kelompok. Collaborative Learning menekankan agar dalam diskusi kelompok terjadi interaksi siswa yang mampu dengan
siswa yang kurang mampu. Oleh karena itu, media belajar harus diciptakan agar terjadi interaksi antarsiswa.
Pada strategi Cooperative Learning, dalam bekerja secara berkelompok umumnya menuntut adanya leader atau ketua kelompok.
Oleh karena itu, biasanya hasil belajar bersama menjadi “milik kelompok”, atau kesimpulan kelompok tersebut. Strategi ini memang didesain dengan tujuan agar kerjasama menjadi tujuan belajar. Strategi ini juga menekankan siswa yang sudah paham diminta menjelaskan kepada temannya yang belum paham. Sehingga tidak terjadi terjadi prinsip belajar, di mana sesungguhnya yang harus lebih banyak belajar adalah siswa yang belum bisa, bukan siswa yang sudah bisa diberi beban menjelaskan kepada temannya.
Tabel 1. Persamaan dan perbedaan antara Cooperative Learning dengan Collaborative Learning Cooperative Learning Collaborative Learning
Persamaan Kerja kelompok Kerja kelompok
Berdiskusi Berdikusi
Perbedaan
Kerjasama adalah tujuan
belajar Kerjasama adalah sarana belajar
Ada ketua kelompok Tidak ada ketua kelompok Ada ranking anggota
kelompok
Tidak ada ranking anggota kelompok
Mencari kesepakatan Tidak mencari kesepakatan Hasil diskusi merupakan
pendapat kelompok
Hasil diskusi merupakan pendapat pribadi
Bagi yang sudah paham, menjelaskan kepada yang belum paham.
Bagi yang belum paham, bertanya kepada yang sudah paham.
Jelaslah bahwa Collaborative Learning lebih daripada sekadar Cooperative Learning.
Jika Cooperative Learning merupakan teknik untuk mencapai hasil tertentu secara lebih cepat, lebih baik, setiap orang mengerjakan bagian yang lebih sedikit dibandingkan jika semua dikerjakannya sendiri, maka Cooperative Learning mencakup keseluruhan proses pembelajaran, siswa saling mengajar sesamanya. Bahkan bukan tidak mungkin, ada kalanya siswa mengajar gurunya juga.
Collaborative Learning memudahkan para siswa belajar dan bekerja bersama, saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara kelompok maupun individu. Berbeda dengan pembelajaran konvensional, tekanan utama Collaborative Learning maupun Cooperative
Learning adalah “belajar bersama”. Tetapi, dalam perspektif ini tidak semua “belajar bersama” dapat digolongkan sebagai Cooperative Learning, apalagi Collaborative Learning. Bila para siswa di dalam suatu kelompok tidak saling menyumbangkan pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara kelompok Collaborative Learning kolaboratif. Kelompok itu mungkin merupakan kelompok Cooperative Learning atau bahkan sekadar belajar bersama-sama. Inti Collaborative Learning adalah bahwa para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil.
Antaranggota kelompok saling belajar dan membelajarkan untuk mencapai tujuan bersama. Keberhasilan kelompok adalah keberhasilan individu dan demikian pula sebaliknya.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Format RPP yang perlu dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dalam Lesson Study tidak terlalu mengikat, bahkan cenderung bebas, sesuai kreativitas guru yang bersangkutan. Desain pembelajaran harus dibuat dengan orientasi bagaimana siswa belajar. Jadi tidak perlu desain baku. Sekali lagi, TIDAK PERLU format RPP yang baku.
Dalam konteks seperti ini, sangat dianjurkan guru yunior berkonsultasi kepada guru senior dalam menyusun RPP.
CONTOH OPEN CLASS Mata Pelajaran Bahasa
Guru membaca puisi, formasi duduk siswa bentuk klasikal. Semua siswa diminta menyimak. Selanjutnya siswa diminta diskusi tentang isi puisi tersebut. Selama diskusi tempat duduk siswa diatur tiap kelompok 4 anak, dengan formasi LP/PL, saling berhadap- hadapan. Guru mengamati kegiatan belajar siswa, sambil mendatangi tiap kelompok.
Selanjutya, siswa diminta menyampaikan pendapatnya dengan argumen masing-masing.
Setelah itu, tempat duduk siswa diatur kembali klasikal. Siswa menyampaikan hasil diskusi. Beberapa siswa ditunjuk guru untuk menyampaikan pendapatnya. Tanggapan yang dilontarkan siswa bermacam-macam.
Interpretasi tergantung siswa masing-masing siswa dan guru tidak menyalahkan apapun yang disampaikan siswa. Guru juga tidak perlu menggiring siswa ke satu interpretasi tertentu.
Guru hanya perlu mengarahkan kalau interpretasi menyimpang terlalu jauh.
Mata Pelajaran Matematika
Guru menggunakan strategi pembelajaran Otentik. Tempat duduk siswa diatur berkelompok masing-masing 4 anak, dalam formasi LP/PL saling berhadapan.Siswa diberi contoh soal matematika, kemudian diminta mengerjakan menurut caranya masing-masing tetap dalam kelompoknya. Yang terjadi adalah, tiap-tiap kelompok, bahkan bias jadi tiap anak akan mengerjakan dengan:
Cara 1 ---
Cara 2 --- Mengarah kepada
jawaban/hasil yang sama.
Cara 3 ---
Dst.
Di sini, peran guru hanya mendorong agar siswa berpikir bebas dengan banyak cara untuk mencapai atau mengarah kepada jawaban yang sama. Guru tidak buru-buru memberi jawaban yang benar kepada siswa tertentu.
Kelas Olah Raga
Kegiatan releksi (see) dilaksanakan setelah open class. Pada open class, kegiatan yang terjadi adalah guru mengajar, siswa belajar, dan sejumlah observer mengamati bagaimana siswa belajar. Pada kegiatan ini materi yang dibahas utamanya tentang aktivitas siswa belajar dan interaksi antarsiswa. Pada contoh ini, refleksi setelah open class pada mata pelajaran Olah Raga, dengan materi pelajaran tentang senam.
Isi bahasannya antara lain seperti ini. Si A biasanya pendiam, hari ini tampak aktif. Si B gerakannya sangat lincah sekali. Si C bisa mengajari siswa yang lain. Gerakan-gerakan yang diperagakan siswa D tampak serius.
Gerakan siswa lama-lama berubah menjadi lebih kompak. Siswa E masih ragu-ragu gerakannya. Siswa F gerakannya juga masih ragu-ragu. Siswa G yang kelihatan susah bergerak. Siswa H dalam memperagakan senam masih tampak kaku. Si O betul-betul menguasai gerakkan senam. Dan lain sebagainya.
Ketika refleksi, umumnya guru observer dikumpulkan dalam beberapa kelompok dalam 4 orang tiap kelompok, formasi LP/PL, saling berhadapan. Pada saat presentasi hasil diskusi kelompok, topic yang dibahas misalnya dari Kelompok observer A: (1) Guru model tepat menggunakan pendekatan dan media ajar; (2) Observer menyampaikan isi pembicaraan anak- anak pada saat diskusi berlangsung; (3) Tugas sesuai dengan target. Pada kelompok observer B: (1) Komunikasi antarsiswa berjalan baik; (2) Bisa dimanfaatkan kelas lain; (3) Penjelasan oleh guru model sangat baik; (4) Strategi belajar yang duterapkan guru tadi, bisa dilanjutkan untuk kelas yang lain; (5) Siswa susah memahami peran sebagai nelayan; (6) Ada siswa susah mengikuti gerakan; dan (7) Ekspresi wajah siswa tampak senang.
Kelompok observer C: (1) Video pembelajaran itu dapat ditiru kelas lain; (2) Di kelompok 4, laki-laki dan perempuan tidak ada komunikasi; Dan lain-lain.
JEBAKAN LESSON STUDY
Terdapat beberapa jebakan atau kekeliruan dalam pelaksanaan Lesson Study. Namun,
utamanya ada dua hal. Jebakan pertama, pada saat kegaiatan open class observer hanya fokus pada guru model, dan kurang memperhatikan siswa. Kedua, pada saat mengajar di depan kelas, guru model fokus pada keseluruhan kelas, tidak memperhatikan setiap siswa.
Padahal, semestinya Lesson Study lebih menekankan bagaimana siswa belajar, bukan bagaimana guru mengajar. Sehingga, seharusnya yang diamati adalah bagaimana situasi siswa belajar.
Hal lain yang penting dalam pelaksanaan Lesson Study adalah guru harus memperhatikan setiap siswa, bukan melihat kondisi kelas secara umum. Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang penting bahwa guru harus tahu nama-nama siswa dan harus mampu mendiskripsikan dengan jelas bagaimana siswa belajar, apa yang dia pelajari, dsb.
Jebakan atau kekeliruan lain dalam pelaksaan Lesson Study adalah observer menilai siswa, apalagi menilai guru model. Padahal, tidak demikian seharusnya. Mestinya observer mengamati bagaimana siswa belajar. Demikian pula pada saat Collaborative Learning, yang banyak terjadi siswa hanya sebatas saling diskusi. Hal ini juga tidak dibenarkan.
Seharusnya antarsiswa saling belajar.
Kesalahan lain yang sangat mendasar adalah menganggap bahwa Lesson Study adalah metode mengajar. Padahal sesungguhnya Lesson Study merupakan suatu visi, filosofi, dan sistem.
PENUTUP
Keberhasilan Lesson Study kuncinya tergantung komitmen Kepala Sekolah. Sebagai gambaran, misalnya Kepala Sekolah menetapkan kebijakan bahwa setiap tahun minimal 1 kali guru open class. Kegiatan Lesson Study diawali dengan komitmen bahwa tiap tahun guru harus open class. Dan untuk itu, paling lama dua minggu sebelum open class, materi pelajaran yang akan disampaikan untuk mengajar harus sudah diberikan kepada semua observer. Lesson Study tidak tergantung dana pemerintah, tergantung komitmen guru yang bersangkutan. Dalam implementasi di kelas,
Lesson Study bisa menggunakan pendekatan Collaborative Learning atau Cooperative Learning, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Dalam Lesson Study seharusnya semua siswa mendapat perhatian yang sama dari guru pengajar. Tidak ada kriteria tertentu sekolah yang seperti apa yang perlu melaksanakan Lesson Study, dan semua itu tergantung komitmen Kepala Sekolah. Oleh karena itu, praktik Lesson Study tidak ada kata berhenti, jadi harus berjalan terus.
Demikian juga tidak ada kriteria tertentu untuk keberhasilan Lesson Study di suatu sekolah. Namun, kriteria ini mungkin bisa menjadi indikator: (1) Sikap dan wajah siswa dan guru yang ceria; (2) Guru bisa membentuk Learning Community di sekolah; (3) Semangat belajar siswa meningkat; (4) Motivasi guru meningkat; dan (5) Terjadi ASAH, ASIH, ASUH antara guru-guru; guru-siswa; siswa- siswa.
PUSTAKA
Sato, Manabu (2013). Mereformasi Sekolah:
Konsep dan Praktek Komunitas Belajar.
Penterjemah: Fatmawati Djafri. Tokyo:
Iwanami Shoten. (PELITA: Program untuk Peningkatan Qualitas SMP/MTs.) Sato, Masaaki (2012). Dialog dan
Kolaborasi di Sekolah Menengah Pertama. Praktek “Learning Community”. Penterjemah:
Okamoto Shacie. Tokyo: Gyosei.
(PELITA: Program untuk Peningkatan Kualitas SMP/MTs.) Slavin, R.E. (2005). Cooperative learning:
theory, research and practice. London:
Allymand Bacon.
___________Collaborative Learning.
https://otl.curtin.edu.au/teaching_learning _practice/
student_centred/collaborative.cfm.
(Diakses 03 April 2014).