Sebuah Pendekatan Pelaksanaan Kurikulum 2013
Rahayu Condro Murti[email protected] Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa S-1 PGSD tentang konsep Operasi Bilangan pada mata kuliah Matematika SD 2 melalui implementasi teori belajar Bruner sebagai pendukung pembelajaran matematika realistik. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart. Subyek penelitian adalah mahasiswa S1 PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta semester II tahun akademik 2012/2013 tepatnya kelas 2A sebanyak 43 orang dan dilaksanakan dalam waktu ± 5 bulan. Teknik analisa data adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian yang dilaksanakan dalam dua siklus ini adalah Implementasi teori belajar Bruner sebagai pendukung pembelajaran matematika realistik dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa S-1 PGSD tentang konsep operasi bilangan pada mata kuliah Matematika SD 2. Hal ini terbukti dari hasil belajar mahasiswa yang meningkat pada tiap siklusnya, yaitu dari rata-rata 36,46 pada pre test menjadi 76,13 pada akhir siklus I dan 93,02 pada akhir siklus II serta peningkatan persentase mahasiswa yang tuntas dalam pembelajarannya, yaitu dari 42% mahasiswa pada akhir siklus I menjadi 96% pada akhir siklus II. Implementasi teori belajar Bruner ini memperhatikan ukuran dan banyaknya benda konkret yang dijadikan alat peraga sehingga setiap mahasiswa dapat melihat dengan jelas saat dosen mendemonstrasikan dan mahasiswa dapat mempraktikkannya sendiri. Hal ini tentunya sejalan dengan pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 dimana siswa menjadi aktif dalam pembelajaran.
kata kunci: teori belajar bruner, pembelajaran matematika realistik, konsep operasi bilangan, kurikulum 2013
PENDAHULUAN
Perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia saat ini (menjadi kurikulum 2013) membutuhkan kesiapan semua pihak yang terkait, salah satunya adalah guru. Guru sebagai pelaksana pembelajaran di kelas tidak hanya dilihat dari kesiapan dalam menerapkan pendekatan saintifiknya saja, tetapi juga penting baginya untuk menguasai materi pelajaran.
Namun, fenomena kurangnya penguasaan guru dalam materi terkait dengan konsep operasi bilangan terutama pada bilangan bulat dan pecahan, tampak pada saat peneliti memberikan pelatihan pada PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) SD dalam lima tahun terakhir (2008-2012). Hampir seluruh peserta pelatihan tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan dasar tentang operasi bilangan seperti
“mengapa penjumlahan dua pecahan, harus menyamakan dulu penyebut?”, lalu “mengapa yang dijumlahkan hanya pembilang sedang
penyebutnya dituliskan tetap?”, “bagaimana dengan operasi perkalian dan pembagian pada pecahan?”. Kejadian ini memicu peneliti yang merupakan dosen matematika SD untuk dapat mempersiapkan calon guru yang memenuhi kriteria guru profesional yang salah satu kompetensinya adalah menguasai materi keSDan.
Pada kenyataannya, berdasarkan pengalaman dosen dalam menguji skripsi beberapa mahasiswa yang terkait konsep operasi bilangan, masih ada kesalahan tentang konsep yang dipahami mahasiswa tersebut.
Padahal seharusnya mahasiswa tersebut telah menguasai materi yang ditelitinya karena mereka telah melalui beberapa mata kuliah yang membahas tentang konsep operasi bilangan. Kenyataan yang lain yang mendukung perlunya mengadakan pembaharuan dalam pembelajaran teori bilangan di kampus adalah mahasiswa yang
telah mengambil mata kuliah “Teori Bilangan”
di SD tidak dapat menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan pretes lisan terkait pembelajaran konsep operasi bilangan yang dilakukan dosen pada pertemuan awal perkuliahan. Pretes lisan ini penting untuk dilaksanakan terskait penyesuaian materi yang akan dipelajari selama satu semester ke depan.
Mahasiswa yang telah mengambil mata kuliah Teori Bilangan saja tidak bisa, bagaimana dengan mahasiswa yang memang belum mengambil mata kuliah tersebut.
Berdasarkan perubahan kurikulum S1 PGSD FIP UNY tahun 2011, mata kuliah Teori Bilangan diganti namanya dengan “Matematika SD 2” agar lebih memperlihatkan matematika ke-SD-annya. Mata kuliah dengan nama baru ini berisi teori bilangan dan pembelajarannya di SD ditempuh mahasiswa S1 PGSD pada semester II. Pengalaman peneliti sebagai dosen matematika di semester I tahun akademik 2012/2013 memperlihatkan para mahasiswa memang belum menguasai konsep operasi bilangan, walaupun mereka termasuk mahasiswa yang pintar-pintar karena telah dapat mengalahkan pesaingnya untuk menjadi mahasiswa S1 PGSD FIP UNY, yaitu dengan perbandingan 1:20. Jadi merupakan langkah yang bijak apabila dosen pengampu pada mata kuliah “Matematika SD 2” benar-benar mempersiapkan perkuliahannya dengan sebaik- baiknya agar mahasiswa ini dapat memahami konsep operasi bilangan dengan baik pula.
Latar belakang inilah yang memicu dosen untuk segera mengambil langkah nyata dalam memperbaiki keadaan tersebut. Pembelajaran yang mampu membuat mahasiswa dapat memahami konsep operasi bilangan dengan baik. Pembelajaran matematika realistik (PMR) merupakan pembelajaran matematika yang memperhatikan kebermaknaan dalam belajar.
Selain karena selalu mengaitkan matematika dengan dunia nyata, PMR juga memperhatikan alat peraga yang digunakan. Salah satu teori belajar matematika ke-SD-an yang mendukung adanya alat peraga dalam pembelajaran matematika adalah teori belajar Bruner.
Bruner memberikan tahap-tahap pembelajaran matematika di kelas rendah dan kelas tinggi dengan seksama. Oleh karena itu teori belajar Bruner mendukung pembelajaran matematika realistik. Dengan kata lain teori belajar Bruner yang mendukung PMR tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
mahasiswa S-1 PGSD tentang konsep operasi bilangan.
Penelitian ini dipusatkan pada masalah yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan pokok, yaitu:“Bagaimanakah implementasi teori belajar Bruner sebagai pendukung pembelajaran matematika realistik yang dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa S-1 pgsd tentang konsep operasi bilangan pada mata kuliah matematika SD 2 ?”
Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa S-1 PGSD tentang konsep Operasi Bilangan pada mata kuliah Matematika SD 2 melalui implementasi teori belajar Bruner sebagai pendukung pembelajaran matematika realistik.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah (1) meningkatkan pemahaman mahasiswa S-1 PGSD tentang konsep Operasi Bilangan pada mata kuliah Matematika SD 2, (2) menambah wawasan peneliti tentang bagaimana cara meningkatkan kebermaknaan dalam belajar matematika dengan menggunakan matematika realistik yang didukung dengan teori belajar Bruner.
METODE PENELITIAN Jenis dan Model Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Pelaksanakaan penelitian ini dengan menggunakan model yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Taggart (1990), melalui tahapan berikut ini:
Siklus I:
1. Perencanaan I
2. Tindakan dan Observasi I 3. Refleksi I
Siklus II:
4. Revisi Rencana I dan Perencanaan II 5. Tindakan dan Observasi II
6. Refleksi II
dan seterusnya. seperti pada bagan berikut:
Gambar 1.
Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah mahasiswa PGSD semester II tahun akademik 2012/2013, dengan menentukan salah satu kelas dan dilaksanakan dalam waktu ± 5 bulan.
Sedangkan obyek penelitiannya adalah peningkatan pemahaman konsep operasi bilangan mahasiswa S1 PGSD FIP UNY.
Pengumpulan dan Analisis Data
Data dikumpulkan melalui observasi oleh peneliti dan juga diperoleh dari hasil tes mahasiswa. Selanjutnya data dianalisis dengan pendekatan statistik deskriptif kualitatif dan kuantatif.
Indikator Keberhasilan
Penelitian ini dinyatakan Berhasil apabila 75% mahasiswa mendapat nilai minimal 75.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian
Penelitian tindakan/ Siklus 1, yaitu penerapan penelitian berupa proses perkuliahan matematika SD 2 yang menggunakan teori belajar Bruner yang mendukung pendekatan matematika realistik. Pada penelitian tindakan 1 ini, materi yang dipelajari adalah operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan waktu 2 kali tatap muka atau 2 x (4 x 50 menit).
Dosen dalam hal ini melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika realistik sesuai dengan SAP yang telah dibuat bersama dengan peneliti.
Peneliti lain bertindak sebagai pengamat, mencatat proses pembelajaran secara detail terkait dengan dosen dan mahasiswa, serta perangkat perkuliahan yang digunakannya.
Tahap Persiapan Tindakan 1
Pada tahap persiapan untuk memberikan pembelajaran dengan menerapkan teori belajar Bruner yang mendukungpendekatan matematika realistik kepada mahasiswa, peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut :
Pertama, peneliti mencari informasi tentang kondisi perkuliahan matematika SD 2 di kelas yang akan diteliti, yaitu kelas 2A pada semester genap tahun akademik 2012/2013.
Peneliti juga berdiskusi dengan mahasiswa untuk mengetahui sejauh mana perkembangan mahasiswa dan karakteristik mahasiswa dalam perkuliahan matematika yang selama ini terjadi.
Informasi yang didapat ini berguna untuk merancang pembelajaran dengan menggunakan
teori belajar Bruner yang mendukung pendekatan matematika realistik.
Kedua, Tim peneliti membuat SAP serta teknik dan prosedur pelaksanaan perkuliahan tentang penerapan teori belajar Bruner yang mendukungpendekatan matematika realistik pada perkuliahan operasi hitung (penjumlahan dan pengurangan) bilangan bulat. Pembuatan SAP ini mengacu pada kurikulum S1 PGSD FIP UNY dengan sumber belajar yang biasa digunakan oleh dosen.
Ketiga, peneliti menyiapkan / merancang cara pembagian kelompok mahasiswa dan prosedur perkuliahan yang akan berlaku selama perkuliahan Matematika SD 2.
Keempat, mahasiswa melaksanakan pre- test sesuai pokok bahasan yang akan dipelajarinya.
Tahap Pelaksanaan Tindakan 1
Tindakan 1 dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan, yaitu pada hari Rabu 1 dan 8 Mei 2013, Secara rinci pelaksanaan tindakan untuk masing-masing pertemuan adalah sebagai berikut:
i. Pertemuan pertama siklus 1 (Rabu, 1 Mei 2013)
Kegiatan awal (20menit)
- Tanya jawab dosen dengan mahasiswa tentang bilangan bulat dan bagaimana pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di sekolah dasar dengan menerapkan teori belajar Bruner.
- Mengaitkan manfaat mempelajari bilangan bilat dan operasinya bagi calon guru.
- Memberi penjelasan teknik perkuliahan kepada mahasiswa untuk mendiskusikan tentang bilangan bilat dan operasinya yang meliputi:
o Penjumlahan bilangan bulat menggunakan media konkret berupa kancing hitam putih (enaktif)
o Penjumlahan bilangan bulat menggunakan gambar kancing (ikonik) o Menuliskan notasi penjumlahan
bilangan bulat (simbolik)
- Mempersiapkan kancing hitam putih yang sudah ditugaskan minggu lalu.
Kegiatan inti (150 menit)
- Para mahasiswa dibagi menjadi 9 kelompok.
- Masing-masing kelompok mendiskusikan, bagaimana mengajarkan bilangan bulat di sekolah dasar dengan menggunakan media
konkret (enaktif), semi konkret (ikonik) dan abstrak (simbolik)
- Dua kelompok memaparkan hasil diskusinya kepada teman kelompok lain dan kelompok lainnya memberi tanggapan dan menanyakan hal-hal yang kurang jelas.
- Beberapa kelompok berpendapat bahwa operasi penjumlahan dan pengurangan dapat mengaitkan dengan cerita pinjam meminjam (hutang). Ada pula yang menjelaskan dengan garis bilangan.
- Mahasiswa diberi stimulus untuk mencoba menggunakan kancing hitam putih yang telah dibawa masing-masing kelompok sebanyak 20 buah kancing hitam dan 20 buah kancing putih untuk dijadikan media konkret dalam menghitung operasi penjumlahan bilangan bulat (enaktif).
- Membuat kesepakatan untuk menentukan kancing putih dan hitam dengan pendekatan budaya setempat yang dikenal dengan baik oleh siswa. Pendekatan ilmu hitam dan putih kiranya tepat digunakan, karena ilmu hitam biasanya jahat, konotasi negatif, sehingga kancing hitam menunjukkan nilai bilangan bulat negatif.
Sedangkan ilmu putih, biasanya baik sehingga kancing putih menunjukkan nilai bilangan bulat positif.
- Mahasiswa mencoba untuk mempraktikkan penjumlahan bilangan bulat dalam kelompoknya masing-masing - Lima soal penjumlahan bilangan bulat
diberikan oleh kelompok sebelumnya, misalnya, kelompok 2 memperoleh soal dari kelompok 1, kelompok 3 dari kelompok 2, dan seterusnya.
- Mahasiswa menjawab soal tersebut dengan menggambar kancing hitam putih (ikonik).
Misal jika soalnya adalah 5+(-3), maka yang digambar adalah :
- Mahasiswa mengerjakan latihan dan mencoba membuat soal cerita terkait penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif, positif dengan negatif dan sebaliknya, serta negatif dengan negatif.
Kegiatan akhir (30 menit)
Menyimpulkan bersama tentang penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif, positif dengan negatif dan sebaliknya, serta negatif dengan negatif.
ii. Pertemuan kedua siklus 1 (Rabu, 8 Mei 2013)
Kegiatan awal (20 menit)
- Tanya jawab dosen dengan mahasiswa tentang bilangan bulat dan bagaimana pembelajaran operasi pengurangan bilangan bulat di sekolah dasar dengan menerapkan teori belajar Bruner.
- Mengaitkan manfaat mempelajari bilangan bulat dan operasinya bagi calon guru khususnya pada operasi pengurangan bilangan bulat.
- Memberi penjelasan teknik perkuliahan kepada mahasiswa untuk mendiskusikan tentang bilangan bilat dan operasinya yang meliputi:
o Pengurangan bilangan bulat menggunakan media konkret berupa kancing hitam putih (enaktif)
o Pengurangan bilangan bulat menggunakan gambar kancing (ikonik) o Menuliskan notasi pengurangan
bilangan bulat (simbolik)
o Mempersiapkan kancing hitam putih yang sudah ditugaskan minggu lalu pada masing-masing kelompok.
Kegiatan inti (150 menit)
- Para mahasiswa duduk berdekatan dengan kelompoknya masing-masing dan secara klasikal tempat duduknya membentuk huruf U.
- Masing-masing kelompok mendiskusikan, bagaimana mengajarkan pengurangan bilangan bulat di sekolah dasar dengan menggunakan media konkret (enaktif), semi konkret (ikonik) dan abstrak (simbolik)
- Dua kelompok memaparkan hasil diskusinya kepada teman kelompok lain dan kelompok lainnya memberi tanggapan dan menanyakan hal-hal yang kurang jelas.
- Mahasiswa diberi stimulus untuk mencoba menggunakan kancing hitam putih yang telah dibawa masing-masing kelompok sebanyak 20 buah kancing hitam dan 20 buah kancing putih untuk dijadikan media konkret dalam menghitung operasi pengurangan bilangan bulat (enaktif).
- Tetap menentukan kancing putih dan hitam dengan pendekatan budaya setempat yang dikenal dengan baik oleh siswa.
Pendekatan ilmu hitam dan putih tetap digunakan, kancing hitam menunjukkan nilai bilangan bulat negatif, kancing putih menunjukkan nilai bilangan bulat positif.
- Mahasiswa mencoba untuk mempraktikkan penjumlahan bilangan bulat dalam kelompoknya masing-masing - Lima soal penjumlahan bilangan bulat
diberikan oleh kelompok sesudahnya (tidak seperti pada pertemuan 1 yaitu kelompok sebelumnya), misalnya, kelompok 2 memperoleh soal dari kelompok 3, kelompok 3 dari kelompok 4, dan seterusnya.
- Mahasiswa menjawab soal tersebut dengan menggambar kancing hitam putih (ikonik).
Adapun pembelajaran pengurangan bilangan bulat secara ikonik meliputi :
Untuk pengurangan dua bilangan bulat positif
Siswa diminta untuk menyebutkan penjumlahan dua bilangan bulat positif yang diinginkan (misalnya 7 - 5), guru mengambil 7 kancing putih dan disusun di atas meja (sambil menjelaskan bahwa pengambilan kancing putih karena 7 benilai positif). Dikarenakan operasinya adalah pengurangan yang berarti pengambilan dari benda yang sudah ada, maka ambillah 5 kancing putih dari 7 kancing putih yang sudah ada tadi. Hasil penjumlahan 7 - 5 = 2 diketahui dengan menghitung berapa banyak kancing yang tersisa,
Untuk pengurangan dua bilangan bulat negatif
Siswa diminta untuk menyebutkan pengurangan dua bilangan bulat negatif yang diinginkan (misalnya -2 – (-5)), guru membuat angka (-2) dengan memperhatikan angka pengurang, yaitu (- 5). Karena yang mau diambil adalah sebanyak 5 kancing hitam, maka guru membentuk angka (-2) yang memiliki sekurang-kurangnya 5 kancing hitam sebagai berikut:
Soal: 2 – (-5)
berarti mengambil kancing berwarna hitam sebanyak (5) dari susunan kancing di atas, sehingga menjadi:
Setelah 5 kancing hitam diambil, kancing yang tersisa adalah 3 kancing putih; berarti hasil dari -2 – (-5) adalah 3 (kancing putih bernilai positif).
Untuk pengurangan bilangan bulat positif yang dikurangi bilangan bulat negatif
Siswa diminta untuk menyebutkan pengurangan dua bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif yang diinginkan misalnya:
4 – (-3). Pertama-tama, guru membuat angka (4) dengan memperhatikan angka pengurang, yaitu (-3). Karena yang mau diambil adalah 3 kancing hitam (yang bernilai negatif), maka guru membentuk angka (4) yang memiliki sekurang- kurangnya 3 kancing hitam sebagai berikut:
Penjelasan: bentuk kancing di atas menunjukkan nilai (4) karena kancing yang tidak mempunyai pasangan adalah sebanyak 4 kancing putih (positif).
Soal: 4 – (-3)
berarti dari susunan kancing yang bernilai 4, ambillah kancing berwarna hitam sebanyak 3 (dikurangi -3), sehingga menjadi:
Setelah 3 kancing hitam diambil, tersisa 7 kancing putih; berarti hasil dari 4 - (-3) adalah 7 (kancing putih bernilai positif).
- Mahasiswa mengerjakan latihan dan mencoba membuat soal cerita terkait pengurangan bilangan bulat positif dengan positif, positif dengan negatif dan sebaliknya, serta negatif dengan negatif.
Kegiatan akhir (30 menit)
-
2-(-5)
4
4 – (-3)
-2
Menyimpulkan bersama tentang penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif, positif dengan negatif dan sebaliknya, serta negatif dengan negatif.
a. Observasi siklus 1
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh mahasiswa anggota tim penelitian, diperoleh hasilnya bahwa seluruh aspek dari instrumen observasi telah dilaksanakan oleh peneliti sesuai dengan lembar observasi pelaksanaan perkuliahan dengan teori belajar Bruner.
Hasil rata-rata pre-test adalah 36,46, sedangkan rata-rata post-test adalah 76,13. Selain pre-test dan post-test, kegiatan kerja kelompok mahasiswa pada siklus 1 juga diadakan penilaian oleh observer (salah satu tim peneliti) .
b. Analisis dan Refleksi Tindakan I
Dari penilaian pre-test dan post-test, mahasiswa, menggambarkan adanya peningkatan yang cukup signifikan pada prestasi belajar mahasiswa, yaitu dari 36 menjadi 76. Walaupun hasil tindakan 1 sudah memberikan perubahan yang cukup signifikan baik terhadap dalam prestasi belajar mahasiswa, namun masih banyak (26) mahasiswa yang belum melewati batas minimal tuntas yaitu 75.
Dari hasil pengamatan peneliti dan tanya jawab dengan dosen, kemungkinan ada beberapa hal penyebabnya, antara lain adalah (1) mahasiswa tersebut kurang aktif dalam kerja kelompok, (2) ukuran alat peraga dirasakan mahasiswa kurang besar (tidak bisa dilihat dengan jelas saat dosen mendemonstrasikannya), (3) dosen belum melakukan pembimbingan secara intensif kepada masing-masing kelompok.
1. Pelaksanaan Tindakan II
Penelitian tindakan/ Siklus II, yaitu penerapan penelitian berupa proses perkuliahan matematika SD 2. Pada penelitian tindakan 2 ini, materi yang dipelajari adalah operasi bilangan pecahan dengan waktu 2 kali tatap muka atau 2 x (4 x 50 menit).
Dosen dalam hal ini melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika realistik sesuai dengan SAP dan refleksi dari siklus 1 yang telah dibuat bersama dengan peneliti. Peneliti lain bertindak sebagai pengamat,
mencatat proses pembelajaran secara detail terkait dengan dosen dan mahasiswa, serta perangkat perkuliahan yang digunakannya.
Kegiatan pada pertemuan pertama siklus II ini didominasi dengan kegiatan melaksanakan tahap teori belajar Bruner (enaktif, ikonik, dan simbolik) pada operasi bilangan pecahan.
Adapun kegiatan pembelajarannya adalah sebagai berikut :
a. Pertemuan pertama siklus II (22 Mei 2013)
Pembelajaran dimulai dengan mahasiswa diminta untuk mengeluarkan media yang sudah ditugaskan minggu yang lalu. Media tersebut adalah daun pisang. Selanjutnya dosen memberikan penjelasan mengenai operasi bilangan pecahan dengan media daun pisang tersebut. Dengan daun pisang tersebut dosen mendemonstrasikan bagaimana melakukan operasi hitung bilangan pecahan yang dicontohkan. Mahasiswa ikut terlibat dalam menyelesaikan operasi bilangan pecahan.
Dalam pertemuan pertama ini dosen baru memberikan penjelasan tentang operasi hitung penjumlahan dan pengurangan. Setelah mahasiswa diberi penjelasan, mereka diminta untuk membuat soal dalam kelompoknya dan menjawab sendiri di dalam kelompoknya masing-masing dengan menggunakan media daun pisang. Selain mahasiswa diminta untuk menggunakan daun pisang, mahasiswa diminta juga untuk menggambarkan cara mengerjakannya. Dalam melakukan diskusi, mahasiswa dibimbing oleh dosen.
Setelah kelompok membuat soal sendiri dan dijawab sendiri, mahasiswa disuruh membuat soal dan yang mengerjakan adalah kelompok sebelahnya. Setelah kelompok mengerjakan soal, dosen meminta untuk kunjung karya. Mahasiswa berkunjung dari kelompok satu ke kelompok satunya. Tapi dalam kelompok ada anggota yang tinggal.
Mahasiswa yang berkunjung selain melihat produk kelompok temannya, juga harus memberikan nilai. Hasil nilai yang telah dilakukan, dikumpulkan ke dosen nantinya akan dicari rata-rata nilainya.
Media semi konkret dengan menggunakan karton dan mika. Dalam mika dan karton sudah ada arsirannya. Setiap kelompok mendapatkan media tersebut dari dosen dan diminta untuk menuliskan soal dan jawaban sesuai dengan
yang dikarton dan di mika. Dosen membimbing mahasiswa dengan berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Setelah selesai, hasil kelompok di geser ke sebelah kirinya kelompok tersebut untuk dinilai benar salahnya.
Selanjutnya ice breaking. Ice breaking dari kelompok mahasiswa yang ditunjuk oleh dosen.
Dosen menanyakan materi yang belum dimengerti mahasiswa, lalu dosen menjelaskan kemali kepada mahasiswa yang belum mengerti. Pembelajaran ditutup dengan berdoa dipimpin oleh ketua kelas.
b. Pertemuan kedua siklus II (29 Mei 2013) Pembelajaran dimulai dengan berdoa.
Dosen mengecek kehadiran mahasiswa. Setiap kelompok mengambil media dari dosen berupa mika dan karton. Lalu dosen memberikan soal, mahasiswa diminta untuk mengerjakan soal tersebut dengan menggunakan media yang sudah dibagikan. Selanjutnya dosen menjelaskan cara memecahkan masalah pecahan perkalian dan pembagian. Mahasiswa diminta untuk mengerjakan soal pecahan pembagian dengan menggunakan media karton dan mika. Dosen membimbing mahasiswa dengan berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain untuk mengecek pemahaman mahasiswa.
Setelah itu, perwakilan kelompok maju ke depan untuk menjelaskan kepada temannya.
Dosen menyebutkan benda konkret yang bisa digunakan untuk media pembelajaran pecahan antara lain adalah kue tart, Sterofoam, jeli, dan lain sebagainya. Mahasiswa dalam setiap kelompok diminta untuk membuat soal pecahan perkalian dan pembagian selanjutnya mereka diminta menjawabnya sendiri. Setiap anak menggambarkan cara pengerjaannya dengan menggunakan media yang telah disediakan oleh dosen. Jawaban yang sudah selesai, dikumpulkan jadi satu lalu dikumpulkan oleh dosen yang nantinya akan dicek kebenarannya oleh dosen.
Setiap mahasiswa diminta untuk membuat soal berjumlah 8 yang terdiri dari 4 soal pecahan perkalian dan 4 soal pecahan pembagian. Dalam satu kelompok soal dipuat dalam dua kali putaran lalu yang mendapatkan soal tersebut langsung diminta untuk menjawab soal dari temannya dengan cara menggambar cara pengerjaannya dan jawabannya.
c. Deskripsi Hasil Tindakan II
Nilai post test siklus II mahasiswa adalah sebagai berikut :
No. NIM Postes S-I
Postes S-II
KET 1 7108248276 36 50 belum 2 12108241002 100 84 sudah 3 12108241004 100 100 sudah 4 12108241011 84 100 sudah 5 12108241013 84 92 sudah 6 12108241027 49 100 sudah 7 12108241032 100 100 sudah 8 12108241038 52 100 sudah 9 12108241039 100 84 sudah 10 12108241040 68 94 sudah 11 12108241043 64 100 sudah 12 12108241044 84 84 sudah 13 12108241046 100 84 sudah 14 12108241047 36 76 sudah 15 12108241053 100 84 sudah 16 12108241065 68 100 sudah 17 12108241068 64 100 sudah 18 12108241070 80 100 sudah 19 12108241072 84 90 sudah 20 12108241074 81 92 sudah 21 12108241078 64 100 sudah 22 12108241089 84 100 sudah 23 12108241102 84 98 sudah 24 12108241104 84 100 sudah 25 12108241106 50 56 belum 26 12108241107 100 100 sudah 27 12108241119 81 96 sudah 28 12108241120 100 94 sudah 29 12108241121 81 100 sudah 30 12108241128 50 86 sudah 31 12108241132 100 84 sudah 32 12108241133 50 94 sudah 33 12108241135 100 100 sudah 34 12108241136 27 100 sudah 35 12108241137 84 100 sudah 36 12108241144 68 100 sudah 37 12108241151 28 100 sudah 38 12108241164 85 100 sudah 39 12108241169 100 100 sudah 40 12108241195 68 88 sudah 41 12108244016 100 100 sudah 42 12108244028 84 84 sudah 43 12108244029 65 100 sudah 44 12108244055 100 100 sudah 45 12108244136 55 92 sudah
Rata-rata 76.13 93,02
tuntas 19 43
Data di atas telah menujukkan hasil yang cukup memuaskan, yaitu rata-rata nilai post test siklus II mencapai 93,02 dengan 96% mahasiswa telah mencapai nilai lebih dari 75. Hal ini berarti