sifat alaminya yang terbawa sampai tua.
Ironisnya pada kenyataan seringkali sifat ini justru dimatikan di sekolah melalui pembelajaran yang tidak mendidik.
Berpikir kritis dan kreatif (Critical and Creative Thinkers)
Mampu untuk melihat masalah dari berbagai suut pandang, sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak dan menyelesaikan masalah yang sangat kompleks.
Berpengetahuan Luas (Knowledgeable) Mempunyai ketertarikan yang besar pada masalah-masalah global yang relevan dan penting, sehingga selalu meluangkan waktu untuk membaca dan mengeksplorasi bidang- bidang yang diminatinya. Pengetahuann tentang sesuatu menjadi solid dan membumi.
Komunikator yang Efektif (Effective Communicator)
Mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan efektif, baik secara verbal maupun tertulis. Dengan bekal pengetahuan yang luas, segala informasi dapat dikomunikasikan dengan percaya diri dan meyakinkan.
Berani Mengambil Resiko (Risk Taker) Segala tantangan dihadapi dengan penuh percaya diri dan optimis, serta berani mencoba menggunakan ide dan strategi baru dalam menjawab tantangan dan rintangan yang ada.
KONSEP PENDIDIKAN RAMAH ANAK Sudah saatnya sekolah-sekolah merubah paradigma pendidikan yang lebih berorientasi pada upaya memfasilitasi dan memberdayakan potensi siswa agar terus tumbuh dan berkembang melalui proses pendidikan yang mendidik, bukan memaksakan pencapaian target tertentu yang pada prosesnya justru mematikan potensi aktual dan karakter unggul yang dimiliki siswa. Untuk itu sekolah harus mewujudkan lingkungan yang ramah anak guna mendukung upaya pengembangan potensi dan pembentukan karakter unggul.
Senang tidak senang, saat ini sistem pendidikan yang dikembangkan di Indonesia masih menitikberatkan pada wilayah otak kiri yaitu pada aspek bahasa dan logis matematis.
Mata pelajaran yang dikembangkan di sekolah cenderung bersifat subject matter yang dapat menimbulkan permasalahan, dimana siswa tidak melihat keterkaitan antara mata pelajaran,
serta tidak relevan dengan kehidupan nyata.
Sistem pendidikan seperti ini membuat siswa berfikir secara parsial, terkotak-kotak, dan tidak dapat menangkap makna secara cerdas.
Akibatnya ke depan dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan didekati secara fragmented, sehingga tidak mampu menemukan solusi secara tepat, bahkan semakin memperburuknya (Mujahid, 2011).
Sekolah sebagai salah satu tempat strategis dalam upaya melahirkan generasi berkualitas harus didesain sedemikian rupa menjadi tempat yang ideal dan nyaman bagi siswa dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Lingkungan sekolah harus didesain secara terencana mengarah pada kepentingan yang terbaik bagi siswa.
Salah satu konsep pendidikan yang sesuai dengan implementasi Kurikulum 2013 adalah pendidikan ramah anak. Pendidikan yang menjadikan anak atau siswa sebagai subyek bukan obyek pendidikan yang selama ini masih sering kita temui. Konsep ini dirasa cocok untuk dikembangkan di sekolah mendasarkan pada filosofi pendidikan yang mengedepankan rasa kasih sayang, bukan kekerasan;
mengedepankan asah, asih, dan asuh, bukan tekanan; serta mengedepankan pujian, bukan umpatan atau celaan.
Konsep pendidikan yang memiliki visi terwujudnya anak yang cerdas, sehat, terampil, dan berkualitas ini dirasa cocok di kembangkan di sekolah di tengah maraknya komersialisasi pendidikan yang mengabaikan hak-hak anak.
Konsep ini memandang siswa sebagai individu holistic dengan segala keunikannya, bukan menjadi obyek pendidikan yang tidak memiliki kuasa akan dirinya.
Implementasi pendidikan ramah anak di sekolah tidaklah membutuhkan biaya yang besar, namun membutuhkan komitmen seluruh stakeholders sekolah untuk mewujudkannya.
Dalam prakteknya, pendidikan ramah anak lebih menitikberatkan pada aspek kepentingan siswa. Mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi melibatkan siswa di dalamnya. Sehingga siswa merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
Proses pembelajaran yang dikembangkan pada pendidikan ramah anak adalah konsep pendidikan yang menyenangkan.
Menyenangkan disini bukan berarti segalanya dilakukan secara asal-asalan sesuai kehendak siswa semata tanpa tujuan yang jelas, namun
pendidikan yang diselenggarakan secara inspiratif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi siswa yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa yang memiliki keunikan tersendiri. Sehingga memancing siswa untuk terus mencari tahu secara sukarela, mandiri, dan kreatif yang pada akhirnya membentuk siswa menjadi pembelajar sejati (long life learners).
Konsep belajar menyenangkan secara teoritis dekat dengan konsep Developmentally Appropriate Practices (DAP) yang secara bebas diterjemahkan sebagai konsep pendidikan yang patut sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Konsep DAP terbagi menjadi tiga dimensi (Megawangi et all, 2005: 5-6)
Patut Menurut Umur
Disini pendidik dituntut untuk mengetahui tahapan perkembangan anak dalam setiap rentang usianya, terkait dengan aktifitas, pengalaman, materi dan interaksi sosial yang sesuai, menarik, mendidik, aman, dan menantang bagi siswa.
Patut Menurut Lingkungan Sosial dan Budaya
Tujuannya adalah mempersiapkan siswa menjadi individu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan sosialnya. Disini pendidik harus mengetahui latar belakang sosial dan budaya siswa sebagai bahan acuan dalam mempersiapkan materi yang berarti dan relevan bagi kehidupan siswa.
Patut Menurut Anak sebagai Individu yang Unik
Setiap siswa merupakan individu yang unik, memiliki bakat, minat, kelebihan, kekurangan, dan pengalaman yang berbeda- beda. Setiap keunikan tersebut harus diapresiasi menjadi sebuah kelebihan yang harus dikembangkan.
Selanjutnya pendidikan ramah anak mensyaratkan kondisi kondusif dalam proses pembelajaran. Disini sekolah dtuntut untuk mendesain lingkungan yang nyaman, aman, sehat, memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan, baik yang bersifat fisik, maupun psikis, serta pemenuhan hak anak seperti hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi dalam lingkungan sekolah. Dalam proses pembelajarannya suasana kondusif yang dibangun mendukung terhadap kegiatan belajar mandiri dan ekploratif.
Selain pengkondisian yang bersifat fisik, sekolah dituntut pula mengembangkan budaya
akademik yang humanis dan mengembangkan keteladanan inspiratif. Budaya akademik yang dikembangkan di sekolah adalah budaya yang mendukung pada pengembangan perilaku positif. Selama ini masih sering kita temui di sekolah perilaku-perilaku yang tidak sejalan dengan prinsip pendidikan, seperti pendidikan yang mengekang kreatifitas, membosankan, dan mengarah pada kekerasan dengan dalih kedisiplinan. Selanjutnya keteladanan inspiratif adalah menghadirkan diri guru melalui relasi yang hangat dalam proses pembelajaran secara bermakna sehingga menginspirasikan siswa untuk melakukan hal besar.
Hal lain yang menjadi faktor penentu keberhasilan pelaksanaan pendidikan ramah anak adalah sejauhmana guru mampu melaksanakan perannya secara baik. Sejalan dengan kurikulum 2013, pendidikan ramah anak memposisikan guru lebih sebagai fasilitator, baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotor, maupun konatif. Disini pola pembelajaran partisipatif diterapkan, dimana pendidik secara maksimal berupaya mengikutsertakan siswa dalam kegiatan pembelajaran (Sudjana, 2000: 155).
Pada dasarnya peran guru adalah membantu siswa menemukan potensi dirinya dan mengembangkannya secara optimal. Bahwa pada diri setiap individu memiliki potensi talenta yang tersembunyi dalam dirinya (self- hidden potential excellence). Menyadur pernyataan Ciptono seorang praktisi pendidikan yang telah berhasil mengangkat potensi anak berkebutuhan khusus bahwasanya Tuhan tidak pernah menciptakan manusia produk gagal, namun seringkali manusianyalah yang tidak bisa menemukan dan mengembangkannya secara optimal. Oleh karenanya kita tidak boleh memvonis siswa yang memiliki prestasi akademik rendah atau siswa yang berperilaku kurang baik adalah mereka yang tidak memiliki masa depan. Dibalik kekurangan yang dimiliki terdapat potensi luar biasa. Menjadi tugas guru untuk menggali, menemukan dan melejitkannya.
PENUTUP
Akhirnya, ketika seluruh stake holders pendidikan telah memahami makna pendidikan yang sesungguhnya dan mampu mengimpletasikan secara baik melalui pendidikan yang memanusiakan manusia, maka harapan akan lahirnya sumber daya manusia holistic semakin mendekati kenyataan, yaitu
sumber daya manusia yang berdaya sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan memiliki watak yang luhur. Bukan sumber daya manusia cerdas, namun gersang dari prinsip humanis.
Kiranya melalui pendidikan ramah anak semuanya dapat terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Imam Mujahid, (2011). Menuju Pendidikan Holistik. Artikel Kolom Opini Harian Joglosemar, Senin, 08 Juli 2011.
Nasition. (2001).
Asas-asas Kurikulum.Jakarta: Bumi Aksara.
Oemar Hamalik. (2007). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Rosda Karya.
Ratna Megawangi, Rahma Dona, Florence Yulisinta, & Wahyu Farrah Dina. (2005).
Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation.
Ratna Megawangi, Melly Latifah, dan Wahyu Farrah Dina. (2008). Pendidikan Holistik.
(Jakarta: Indonesia Heritage Foundation) Sudjana. (2000). Strategi Pembelajaran.
Bandung: Falah Production