• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR

Dalam dokumen PROSIDING (Halaman 163-169)

pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan. Prinsip pembelajaran yang digunakan:1.dari pesertadidik diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu; 2.dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar; 3.dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; 4.dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi; 5.dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; 6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;7.

Daripembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; 8. Peningkatan dan keseimbanganan keterampilan fisikal (hardskill) dan keterampilan mental (softskill);9. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjanghayat;10.

pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyomangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);11.

Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan dimasyarakat;12. pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru,siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkanefisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya pesertadidik.

Empat belas prinsip tersebut berkaitan implementasi kurikulum 2013 menuntut guru memakai pendekatan, metode dan sumber belajar secara integratif dan komperhenshif sesuai dengan karakteristik siswa dan tujuan pembelajaran. Selama ini pendekatan guru dalam manajemen kelas disekolah dasar masih terbatas pada pengaturan tempat duduk. Untuk itu kedepan dalam rangka menunjang kesuksesa implimintasi kurikulum 2013 guru harus mempunyai kemampuan dalam manajemen kelas yang dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.

Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini, bagaimana konsep manajemen kelas dalam pembelajaran kurikulum 2013 disekolah dasar.

Mengapa dalam manajemen kelas kurikulum 2013 penting berbasis soft skill? Tujuan artikel ini untuk menemukan konsep manajemen kelas berbasis soft skill dalam implementasi kurikulum 2013.

Manajemen adalah rangakain segala kegiatan yang menunjuk kepada usaha kerjasama antara dua orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Arikunto, 2008:

3). Menurut Parker (Stoner & Freeman, 2000) manajemen adalah seni melaksanakan pekerjaan melalui orang-orang untuk mencapai tujuan.

Dalam pembelajaran di kelas maka manajemen diperlukan untuk menata mulai perencanaan sampai pengendalian agar pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat berjalan lancar.

Menurut Rukmana dan Suryana (2011:106) manajemen kelas merupakan segala usaha yang diarahkan mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai denagn kemampuan. Pengaturan tidak hanya terbatas fasilitas fisik tetapi juga menyiapkan kondisi kelas disesuaikan dengan karakteritik peserta didik, kondisi lingkungan, strategi dan model pembelajaran yang dipakai.

Dalam implementasi kurikulum 2013 kelas merupakan tempat belajar yang harus dikembangkan. Mengacu standart proses bahwa proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik yang didalamnya ada kegiatan mengamati, menanya, mencoba, mengumpulkan dan mengasosiasikan serta mengkomunikasikan maka guru harus dapat menciptakan kondisi kelas yang dapat mengembangkan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang sehingga dapat membentuk karakter atau soft skill anak sesuai tuntutan perubahan kurikulum. Soft skill merupakan kemampuan yang bersifat psikis antara lain kemmapuan dalam berkomunikasi, kemampuan dalam bekerjasama, kemampuan dalam berpikir dan memecahkan masalah (Utaminingsih, 2011). definitive softskillmengacupadaa cluster of personal qualities, habits, attitudes and social graces that make someone a good employee and

compatible to society

(http://jobs.aol.com/articles/2009/01/26

).

Merujuk dari konsep di atas maka manajemen kelas untuk membelajarkan soft

kill

merupakan hal yang urgen, karena dewasa ini konsep – konsep penanaman

soft skill

lebih banyak berbicara tentang metode pembelajarannya belum memperhatika npengaruh lingkungan kelas terhadap proses keberhasilan pembelajaran. Model yang akan ditawarkan didasarkan pada studi pustaka dan analisa kepustakaan dengan menggunakan pendekatan fenomenologis pengamatan, dan dikembangkan menjadi sebuah model.

Karena model ini diterapkan pada tingkat sekolah dasar, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pendidikan ini adalah prinsip pengelolaan yang harus memiliki semangat joyfull class,

PEMBAHASAN

KonsepManajemenKelas

Dalam pembelajaran kurikulum 2013 dikembangkan standart proses yang mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.

Untuk menunjang pencapaian tujuan pembelajaran perlu manajemen kelas dengan menerapkan fungsi manajemen.

Menurut Garcia (2005: 38) ada tiga fungsi manajemen yaitu: perencanaan (planning);

pelaksanaan

(implementing);

dan pengendalian/ evaluasi

(controlling/

evaluating).

Kosep

manajemen

kelas dalam implimintasi kurikulum 2013 dapat dijabarkan dari prinsip pembelajaran kurikulum dan tugas guru. Dalam kurikulum 2013 disebutkan tugas guru dalam pengelolaan kelas antara lain: a.

Guru menyesuaikan pengaturan tempat duduk peserta didik sesuaidengan tujuan dan karakteristik proses pembelajaran.b. Volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harusdapat didengar dengan baik oleh peserta didik, c. Guru wajib menggunakan kata-kata santun, lugas dan mudahdimengerti oleh peserta didik.d. Guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dankemampuan belajar peserta didik.e. Guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan,

dankeselamatan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, f. Guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons danhasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.g. Guru mendorong dan menghargai peserta didik untuk bertanya danmengemukakan pendapat.h. Guru berpakaian sopan, bersih, dan rapi, i. Pada tiap awal semester, guru menjelaskan kepada peserta didiksilabus mata pelajaran; danj. Guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai denganwaktu yang dijadwalkan.

(Permindikbud No. 65 Tahun 2013).

Tugas

guru dalam pengelolan kelas pada kurikulum 2013 perlu dianalisis secara mendalam. Pernyataan: guru menyesuaikan pengaturan tempat duduk peserta didik sesuai dengan tujuan dan karakteritik siswa, merupakan pernyataan terlalu sempit, tepatnya guru menyesuaikan pengaturan kelas pembelajaran bukan hanya tempat duduk. Hal ini karena sesuai prinsip kurikulum 2013 belajar tidak harus di kelas bisa dimana saja.

Selanjutnya volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik, ini mengandung makna salah satunya pembelajaran menggunakan ceramah. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan prinsip kurikulum 2013

Dalam pengelolaan kelas pada kurikulum 2013 diperlukan pemahamann konsep manajemen kelas secara komperhenshif oleh guru. Menurut Jones (2012:17), manajemen kelas harus berdasarkan pada pemahaman yang kuat atas penelitian dan teori mutakir dalam manajemen kelas serta kebutuah personal dan psikologis. Ini menjadi kendala guru sekolah dasar di Indonesia yang terbatas dalam hal penelitian dan rendah dalam membaca.

Kebutuhan siswa belum dipahami guru mempunyai hubungan yang erat dengan prilaku, maka kedepan guru dituntut harus memahami kebutuhan siswanya agar dapat mengelola dengan baik. Selain itu masih menurut Jones manajemen kelas yang komperhensif tergantung pada penciptaan iklim kelas yang positif. Iklim kelas tercipta karena ada hubungan yang baik antara guru dan siswa.

Guru dalam mengajar memakai metode bervariasi sehingga siswa tidak mengalami kejenuhuan.

Dalam implimintasi kurikulum 2013 guru juga dituntut kemampuan dalam mengelola materi atau komptensi pembelajaran yang pada

kahirnya berpengaruh pada pengelolaan kelas.

Tujuan pendidikan kurikulum 2013 yang mengacu Taksonomi Bloom menuntut Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan ketiga ranah tersebut secara holistik, artinya pengembangan ranah yang satu tidak bisa dipisahkan dengan ranah lainnya. Hal tersebut menuntut dalam proses pembelajaran yang menekankan pendekatan ilmiah (scientific) dan tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran dan dalam suatu mata pelajaran) diperlukan kemampuan guru yang tinggi. Guru harus dapat mensetting kelas sedemikian rupa sehingga mampu membuat siswa aktif dan tujuan tercapai

Komponen pengelolan kelas komprehenshif menuntut pelibatan guru, siswa dan orang tua. Maka sebelum pembelajaran dimulai guru perlu merancang pembelajaran selama satu semester, selanjutnya dikomunikasikan dengan orang tua dan siswa dan ahli sehingga memperoleh masukan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran.

Dalam manajemen kelas tidak hanya aspek fisik dalam arti pengaturan tempat duduk dan alat-alat yang lain dalam kelas tapi yang lebih penting adalah aspek psikis seperti bagaimana menciptakan prilaku siswa dikelas lebih aktif, kritis, dan semangat. Dengan begitu pada perencanaan pembelajaran guru benar-benar sudah berpikir bagaimana mengelola kelas yang dapat membuat siswa aktif, kratif dan menyenangkan serta bermakna, maka dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP) sintak pertemuan harus jelas tahapannnya.

Pada pelaksanaan pembelajaran guru lebih banyak sebagai fasilitator dan inspirasi. Untuk menciptakan kelas yang aktif guru sejak awal pertemuan sudah melibatkan siswa, sehingga konsep kelas yang aktif dan dinamis juga dipahami siswa. Selama ini yang terjadi guru sering menganggap siswa adalah anak kecil yang belum sampai berpikir konsep. Menurut Jones (2012: 120) bahwa dalam rangka menciptakan aktivitas siswa sekolah dasar dapat dilakukan antara lain: siswa diminta menulis gagasan tentang kelas yang baik, menyusun rencana kelas, menciptakan semangat kelas, membuat sejarah kelas, memajang album foto,

memberikan pertanyaan tertutup dan terbuka, membuat hari-hari khusus dan membuat program layanan kelas

Manajemen Kelas Berbasis Soft Skill

Dalam manajemen kelas penting mengembangkan soft skill karena siswa pada akhirnya akan berada dalam masyarakat yang dinamis, kompetitif dan kooperatif. Sangat tepat kalau sekolah dasar sejak awal memberikan bekal pengalaman hidup bermasyarakat dengan pembelajaran yang inovatif dan berkelompok. Sesuai dengan pendapat John Dewey bahwa kondisi kelas merupakan cerminan dari proses siswa yang akan berada di masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Joyce dan Well (2000), bahwa proses pembelajaran tidak hanya memiliki makna deskriptif dan kekinian akan tetapi juga bermakna prospektif dan berorentasi masa depan.

Kurikulum 2013 merupakan perwujudan tuntutan dunia global dalam pendidikan yang harus menghasilkan outcome sesuai dunia kerja atau masyarakat diantaranya sott skill seperti berpikir kritis, mampu bekerjasama, mampu berkomunikasi dan memecahkan masalah secara cepat dan tepat serta mendalam. Soft skill akan tercapai bila anak dibiasakan sejak sekolah dasar mengembangkan kemampuan soft skill dalam proses pembelajaran, oleh karena itu manajemen kelas menciptakan kondisi yang harmonis, menyenangkan, terkelola sesuai dengan fungsi manajemen sehingga tercipta collaborative learning yang melibatkan siswa, guru, orangtua serta masyarakat. Dalam manajemen kelas juga memperhatikan proses pembelajaran yang sekaligus didalamnya melakukan Authentic Assessment atau evaluasi outentik sesuai kemampuan anak. Manajemen kelas berbasis soft skill menurut implimintasi kurikulum 2013 di sekolah dasar dengan kegiatan saintifik (mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan) maka kelas harus didesain agar siswa dapat aktif, kreatif, efektif dan senang, skema pengembangan model manajemen kelas dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Manajemen Kelas Berbasis Soft Skill di Sekolah Dasar Pengembangan soft skill sangat berkorelasi

dengan siswa pada saat terjun di masyarakat, yaitu pada saat memasuki dunia kerja dan dunia sosial, selaras dengan hasil penelitian Utaminingsih (2011), dimana pengembangan soft skill mampu meningkatkan mutu lulusan secara efektif sehingga memuaskan pengguna dan siswa itu sendiri. Dengan demikian maka upaya untuk meningkatkan kemampuan soft skill harus diupayakan melalui berbagai cara salah satunya dalam hal mengelola kelas yaitu dengan menggunakan manajemen kelas berbasis soft skill.

Soft skill adalah The character traits and interpersonal skills that characterize a person's relationships with other people(http://www.investopedia.com/terms/

s/soft-skills.asp).Merujuk pada pendapat ini

maka

soft skill merupakan bentuk perilaku

yang akan dimunculkan oleh seseorang pada saat mereka bersentuhan dengan lingkungannya. Oleh karena itu pengelolaan kelas sebaiknya didasarkan pada

soft skill

yang akan diharapkan muncul pada siswa didik setelah mereka lulus.Hal ini sangat penting sekali karena muatan softskil lharus merupakan hal dominan dalam perilaku siswa didik. Pengelolaan atau manajemen kelas dengan basis soft skill tentunya harus dimulai dengan identifikasi standarkompetensi

soft skill yang akan

diharapkan dimiliki oleh siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran.Selanjutnya perencanaan situasi dan kondisi atau iklim

dan lingkungan kelas yang sesuai dengan kompetensi

softskill

harapan, Metode yang pembelajaran yang interaktif dan Pakem sehingga siswa lebih semangat misalnya

softskill

tentang etika maka kelas di seting sebagai tempat formal penuh etika, dan ada perilaku yang dibuat aturan untuk dilaksankan misalnya orang yang masuk kelas harus ketuk pintu dan member salam, kemudian dalam perencanaa juga perlu didukung dengan kesepakatan aturan yang dibuat untuk dilaksanakan, secara manajemen maka pengendalian (control) dilaksanakanoleh guru, dan siswa.

Soft skill menjadi penting dalam ukuran

kelulusan siswa karena selama ini dunia kerja dan masyarakat masih menyukai pada orang yang memiliki

soft skill bagus.

Selanjutnya dengan proses pengembangan

soft skill dalam pembelajaran melalui

manajemen kelas diharapkan implementasi kurikulum 2013 semakin berkualitas selanjutnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan sesuai harapan.

PENUTUP

Manajemen kelas dalam

implementasi

kurikulum 2013 sangat penting dalam rangka keberhasilan tujuan pembelajaran. Pengaturan kelas sekolah dasar mencakup pengaturan secara fisik dan psikis melibatkan guru, siswa, orang tua dan masyarakat dengan kegiatan pembelajaran mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan. Manajemen

kelas berbasis soft skill berarti adalah menyiapkan kelas sesuai dengan kompetensi dasar soft skill yang harus dimiliki siswa sesuai dengan tuntutan masyarakat secara saintifik dan Pakem.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto S, Yuliana A, 2008. Manajemen Pendidikan. Aditya Media Yogyakarta ______ 2013. Kurikulum 2013. Depdiknas,

Jakarta

______ 2013. Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Permindikbud, Jakarta.

Garcia, T , 2005. Organization and Management. Stanfilco. Philippines:

Stanfilco, C

Utaminingsih, Sri, 2011. Model Pengembangan Manajemen Berbasis Sot Skill Pada Sekolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Pariwisata Di Kota Semarang.

Disertasi, Unnes, Semarang

Jones Louise, Jones Vern, 2012. Manajemen Kelas Komperhensif. Kencana, Prenada Media Grup, Jakarta

Joyce, Bruce dan Weil, Marha, 2000. Models of Teaching. London: Allyn and Bacon.

Rukmana Ade, Suryana Asep, 2011.

Manajemen Kelas, dalam Manajemen Pendidikan, Alfabeta, Bandung.

MEMPERSIAPKAN KREATIVITAS CALON GURU SEKOLAH DASAR

Dalam dokumen PROSIDING (Halaman 163-169)