• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lingkungan Sekolah

Dalam dokumen BAB II (Halaman 43-70)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

3. Lingkungan Sekolah

perubahan ke arah yang positif maupun perubahan ke arah yang negatif.

3) Media Massa

Di zaman sekarang ini, perkembangan teknologi mengalami perubahan yang sangat pesat. Perubahan itu tentu ada yang bersifat positif dan negatif. Oleh karena itu, hal tersebut harus menjadi perhatian lebih bagi keluarga karena akan mempengaruhi perkembangan murid. Semakin besar perubahan tersebut maka akan semakin besar pula pengaruhnya pada kehidupan.

Berdasarkan dari penjelasan-penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor lingkungan keluarga menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan. Karena hal tersebut mempunyai pengaruh yang besar pada proses pertumbuhan dan perkembangan murid dalam rangka mencapai prestasi belajar yang diinginkan.

dimilikinya. Potensi-potensi tersebut menyangkut spiritual murid, intelektual, sikap, emosional serta sosial murid. Tu‟u (Palangda, 2017: 24) menyatakan bahwa lingkungan sekolah merupakan sebuah lembaga formal untuk memberikan pengetahuan kepada murid, sekolah menjadi tempat proses belajar mengajar berlangsung.

Lingkungan sekolah adalah pendidikan utama yang didalamnya terdapat guru dan murid dan staf sekolah yang melaksanakan pendidikan secara terencana dan teratur dengan baik (Hasbullah, 2013: 36). Menurut Dalyono (2010: 131) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kecerdasan ialah terdapat pada lingkungan sekolah. Adapun Hamalik (2009: 6) menyatakan sekolah sebagai tempat mengajar dan belajar.

Lingkungan sekolah sangatlah berpengaruh secara lebih besar terhadap sebuah proses pembelajaran murid. Hal ini karena bagaimanapun lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan. Yusuf (Palangda, 2017: 24) mengemukakan bahwa sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional maupun sosial.

Gunawan (Palangda, 2017: 25) mengemukakan bahwa Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua bagi anak dan merupakan lingkungan pendidikan formal yang membantu orangtua dalam mengemban tanggungjawab pendidikan. Pendidikan yang diterima di sekolah berupa pembentukan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan sikap terhadap mata pelajaran atau bidang studi.

Sekolah adalah lembaga pendidikan secara resmi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran secara sistematis, berencana, sengaja dan terarah yang dilakukan oleh pendidik yang profesional dengan program yang dituangkan ke dalam kurikulum tertentu dan diikuti oleh murid pada setiap jenjang tertentu, mulai dari tingkat anak-anak sampai perguruan tinggi. Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan, seperti yang dikemukakan bahwa karena kemajuan zaman keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi generasi muda terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Semakin maju masyarakat, semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk ke dalam proses pembangunan masyarakat itu. Oleh karena itu sekolah sebagai pusat pendidikan mampu melaksanakan fungsi pendidikan secara optimal yaitu mengembangkan kemampuan, meningkatkan mutu kehidupan dan martabat bangsa Indonesia.

Dalam sekolah, terdapat kebudayaan yang memiliki unsur yang sangat penting (Ahmadi dalam Palangda, 2017: 25), diantaranya:

1) Adanya prasarana fisik sekolah seperti gedung, meubelier dan perlengkapan fisik lainnya serta letak lingkungan.

2) Kurikulum sekolah yang menjadi program pendidikan yang didalamnya terdapat gagasan maupun fakta-fakta terkait pendidikan.

3) Adanya tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

4) Adanya peraturan dalam sekolah.

Berdasarkan teori-teori yang telah dijelaskan oleh beberapa ahli, maka dapat dikatakan bahwa lingkungan sekolah itu merupakan keseluruhan bagian yang terdapat dalam sekolah serta seluruh komponen-komponen di dalamnya yang turut andil dalam pencapaian proses tujuan pendidikan yang berada di suatu sekolah. Dalam penelitian ini, lingkungan sekolah yang dimaksud peneliti ialah sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah dan adanya hubungan komunikasi yang baik antara murid dengan guru maupun murid dengan murid.

b. Fungsi dan Peranan Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan sebuah lembaga yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan murid, karena sekolah merupakan tempat kedua selain keluarga dalam pembentukan

karakter dan pribadi anak. Menurut Hasbullah (Palangda, 2017:

26), fungsi lingkungan sekolah ada beberapa, antara lain:

1) Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan.

2) Mengembangkan pribadi murid secara menyeluruh, menyampaikan pengetahuan dan melaksanakan pendidikan kecerdasan.

3) Spesialisasi, semakin meningkatnya diferensiasi dalam tugas kemasyarakatan dan lembaga sosial, sekolah juga sebagai lembaga sosial yang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

4) Efisiensi, terdapatnya sekolah sebagai lembaga sosial yang berspesialisasi di bidang pendidikan dan pengajaran maka pelaksana pelaksana pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat menjadi lebih efisien.

5) Sosialisasi, sekolah membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial, makhluk yang beradaptasi dengan baik di masyarakat.

6) Konservasi dan transmisi kultural, ketika masih berada di keluarga, kehidupan anak selalu menggantungkan diri pada orangtua, maka ketika memasuki sekolah murid mendapat kesempatan untuk melatih berdiri sendiri dan tanggungjawab sebagai persiapan sebelum ke masyarakat.

Selain itu, adapun fungsi sekolah menurut Nasution (Palangda, 2017 27), yaitu:

1) Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan 2) Sekolah memberikan keterampilan dasar.

3) Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib.

4) Sekolah menyediakan tenaga pembangunan.

5) Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.

6) Sekolah mentransmisi kebudayaan.

7) Sekolah membentuk manusia yang sosial.

8) Sekolah merupakan alat mentransformasi kebudayaan.

Sekolah merupakan tempat kedua seorang murid mengembangkan potensi yang dimiliki setelah keluarga. Sekolah berfungsi sebagai tempat menciptakan dan menanamkan sikap dan karakter murid secara lebih lanjut. Pengaruh sekolah pada seorang murid cukup besar dimana pembentukan kecerdasan, sikap serta minat didapatkan di sekolah. Selain itu, sekolah juga berperan sebagai tempat untuk mengajar dan mendidik anak.

Dalam perkembangan kepribadian murid, peranan sekolah dengan melalui kurikulum, antara lain:

1) Murid belajar bergaul sesama murid, antara guru dengan murid, dan antara murid dengan orang yang bukan guru (karyawan).

2) Murid belajar menaati peraturan-peraturan sekolah.

3) Mempersipakan murid untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara

Oleh karena itu, lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangya seorang murid. Tentu sekolah tidak hanya mencakup sekolah itu saja melainkan lingkungan yang berada dalam sekolah tersebut turut andil dalam melangsungkan proses pembelajaran.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Sekolah Ada beberapa poin penting yang mempengaruhi lingkungan sekolah (Slameto dalam Palangda, 2017: 28) antara lain :

1) Kurikulum

Kurikulum merupakan seperangkat kegiatan yang akan diberikan kepada murid. Kegiatan tersebut berupa materi-materi pelajaran yang diharapkan mampu di kuasai oleh murid sehingga proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.

Sebaliknya jika kurikulum tersebut tidak sesuai dengan lingkungan di sekitar murid tentu hal itu juga bisa mempengaruhi belajar murid.

2) Relasi Guru dengan Murid

Hubungan antara guru dengan dengan murid harus terjalin dengan baik. Karena dengan adanya hubungan yang baik proses pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal.

3) Relasi Murid dengan Murid

Hubungan murid dengan murid lainnya juga harus terjalin dengan baik. Hal ini karena jika dalam sebuah kelas terdapat murid yang tidak bersosialisasi dengan teman sebayanya maka hal tersebut bisa mengganggu lancarnya proses pembelajaran di kelas.

4) Disiplin Sekolah

Kedisiplinan sekolah menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Semua komponen yang berada di sekolah harus bekerja sama secara optimal sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Jika hanya satu komponen yang disiplin maka hal tersebut menjadi tumpah tindih sehingga mempengaruhi kelancaran proses pembelajaran di sekolah.

5) Alat Pelajaran

Ketika mengajar, penggunaan media sangat diperlukan untuk membantu proses belajar mengajar di kelas. Guru harus kreatif dalam memanfaatkan media-media pembelajaran. Guru harus menyiapkan media pembelajaran yang tepat dan lengkap.

Hal itu karena, murid akan lebih bersemangat ketika pembelajaran di dalam kelas menjadi menyenangkan sehingga dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan belajar murid.

6) Waktu Sekolah

Waktu sekolah merupakan jadwal berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini, terdapat sekolah yang jadwal pembelajarannya dilakukan sore hari. Hal tersebut kurang efektif diterapkan karena pada jam tersebut murid cenderung mengantuk sehingga kurang konsentrasi di dalam kelas sehingga berpengaruh pada proses pembelajaran. Sebaliknya, jika di pagi hari, murid bersemangat ketika di dalam kelas karena fikiran murid masih segar dan kondisi jasmani murid dalam keadaan baik.

7) Standar Pelajaran di atas Ukuran

Dalam pembelajaran di kelas, guru harus memberikan pelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid. Guru tidak boleh semena-mena memberikan pelajaran yang tidak sesuai kemampuan murid dengan alasan bahwa ingin mempertahakan kewibaannya. Hal itu justru membuat murid menjadi tertekan dan takut. Apalagi kemampuan setiap murid berbeda-beda.

Oleh karena itu, dalam memberikan materi pelajaran guru harus menyesuaikan dengan kemampuan murid, yang terpenting tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.

8) Keadaan Gedung

Jika jumlah murid dalam sekolah cukup banyak, maka keadaan gedung sekolah harus memadai demi lancarnya proses pembelajaran di sekolah.

9) Metode Belajar

Jika metode belajar dilakukan dengan baik, maka hal tersebut akan memberikan hasil yang efektif pula pada proses pembelajaran. Pemilihan waktu yang baik dan teratur akan meningkatkan prestasi belajar murid.

10) Tugas Rumah

Dalam pemberian tugas di rumah, sebaiknya guru tidak memberikan terlalu banyak tugas sehingga ketika berada di rumah murid bisa mengerjakan kegiatan lain. Jika terlalu banyak tugas, murid bisa saja stress karena tidak mempunyai waktu untuk melakukan kegiatan lain. Hal ini bisa berpengaruh pada perkembangan belajar murid karena murid akan merasa jenuh dan bosan. Oleh karena itu, guru harus mengkondisikan pemberian tugas untuk murid.

4. Keterampilan Menulis Narasi a. Pengertian Keterampilan

Syah (dalam Aji, 2013: 10) mengatakan bahwa keterampilan merupakan kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olahraga

dan lainnya yang berhubungan dengan urat-urat syaraf serta otot- otot. Sedangkan Reber (dalam Aji, 2013: 10) menyatakan bahwa keterampilan adalah suatu kemampuan untuk mencapai sesuatu yang dilakukan melalui pola tingkah laku yang kompleks. Hai ini berarti bahwa keterampilan tidak hanya menyangkut aspek motorik saja melainkan adanya tambahan aspek kognitif didalamnya. Oleh karena itu, murid yang tidak memiliki keseimbangan diantara keduanya bisa dikatakan tidak terampil dalam melakukan sesuatu.

Terampil atau kecekatan adalah kepandaian melakukan suatu pekerjaan dengan cepat dan benar. Seseoarang yang terampil dalam suatu bidang tidak ragu-ragu mengerjakan pekerjaan tersebut, seakan-akan tidak pernah dipikirkan lagi bagaimana melaksanakannya, tidak ada kesulitan yang menghambat. Ruang lingkup keterampilan cukup luas meliputi kegiatan berupa kegiatan, berpikir, berbicara, melihat mendengar dan sebagainya.

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut, maka disimpulkan mengenai keterampilan yakni suatu kemampuan untuk melakukan pola tingkah laku yang tidak hanya menyangkut motorik tetapi juga kognitif dalam rangka mencapai suatu tujuan.

b. Pengertian Menulis

Tarigan (dalam Aji, 2013: 11) menjelaskan bahwa menulis merupakan suatu cara berkomunikasi secara tidak langsung

kepada orang lain. Dalam menulis, dibutuhkan kegiatan yang bersifat ekspresif serta produktif. Kegiatan menulis membutuhkan pemanfaatan dari berbagai hal seperti kemampuan dalam hal kosa kata, grafolegi serta struktur bahasa.

Menulis merupakan suatu komunikasi yang menggunakan bahasa tulis sebagai alat ataupun media dalam penyampaiannya (Suparno dan Yunus dalam Aji, 2013: 11). Adapun Lado (dalam Aji, 2013: 11) menjelaskan bahwa menulis merupakan pengekspresian bahasa yang menggunakan simbol grafis dimana orang lain dapat mengetahui simbol grafis tersebut yang mewakili bahasa. Pada hakikatnya menulis merupakan pemindahan informasi atau pendapat ke dalam bentuk tulisan.

Nurgiantoro (dalam Aji, 2013: 12), mengemukakan bahwa dilihat dari kemampuan bahasa, menulis adalah aktivitas aktif produktif, aktivitas menghasilkan bahasa. Dilihat dari pengertian secara umum, menulis adalah aktivitas mengemukakan gagasan melalui media bahasa. Menulis dalam arti komunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek.

Menulis berarti mendukung ide. Byrne (dalam Aji, 2013: 12) mengatakan bahwa menulis tidak hanya membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu dengan yang lain, dan dalam gaya tertentu. Rangkaian kalimat

itu bisa pendek, mungkin hanya dua atau tiga kalimat, tetapi kalimat itu diletakkan secara teratur dan berhubungan satu dengan yang lain, dan berbentuk kesatuan yang masuk akal. Mc Crimmon (dalam Aji, 2013: 12) berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan dapat mempelajari sesuatu yang belum diketahui.

Santosa, dkk. (dalam Aji, 2013: 13) mengemukakan bahwa menulis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menulis bukanlah sesuatu yang asing. Artikel, esai, laporan, resensi, karya sastra, buku, komik, dan cerita adalah contoh bentuk dan produk bahasa tulis yang akrab diketahui.

Dalam menulis seseorang tidak memperoleh secara spontan, melainkan secara sadar untuk memikirkan bagaimana cara untuk mengkomunikasikannya ke dalam sebuah tulisan.

Keterampilan menulis juga tidak muncul begitu saja, melainkan perlu adanya latihan-latihan yang cukup sehingga mampu disalurkan kedalam tulisan yang dilakukan secara teratur.

Ketika menulis seseorang tidak hanya sekedar mengandalkan teori, tetapi juga harus mengandalkan keterampilan yang dimiliki. Teori hanya berperan sebagai kemampuan untuk

mengarang. Oleh karena itu, dalam kegiatan menulis seseorang harus terus melatih dirinya untuk terus mengembangkan kemampuan menulisnya, bahkan dalam kegiatan menulis itu terdapat seni di dalamnya. Selain itu, dalam kegiatan menulis pun seseorang harus memperhatikan beberapa hal misal bagaimana memilih topik dengan baik, menentukan tujuan dari apa yang ingin disampaikan kepada pembaca serta hal lainnya yang akan membantu penulis dalam menyampaikan uraiannya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.

Berdasarkan dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian informasi atau pendapat yang dilakukan secara tidak langsung yang menggunakan simbol-simbol sehingga apa yang diwakili dari simbol tersebut mampu menghasilkan suatu bacaan yang diberikan kepada para pembaca.

c. Pengertian Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis adalah suatu kegiatan yang didalamya dilakukan penggalian pikiran dan perasaan mengenai suatu hal serta bagaimana cara penyampaiannya sehingga mudah dipahami oleh pembaca (Mc Crimmon dalam Aji, 2013: 14). Munirah (Mangga dkk, 2020: 154) mengemukakan bahwa keterampilan menulis memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun Byrne (dalam Aji, 2013: 14) menyatakan bahwa

keterampilan menulis merupakan kemampuan dalam mengekspresikan ide-ide pikiran ke dalam bentuk tulisan secara kompleks sehingga hal tersebut bisa dikomunikasikan dengan berhasil kepada pembaca. Pada dasarnya, menulis tidak hanya sekedar mencurahkan pikiran dan perasaan saja melainkan berbagai hal misalnya pengalaman seseorang, ilmu-ilmu yang dimiliki yang selanjutnya dituangkan kedalam bahasa tulis.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis merupakan kemampuan dalam berkomunikasi secara tidak langsung yang menggunakan simbol-simbol dengan memanfaatkan beberapa grafologi, kosa kata serta struktur bahasa sehingga apa yang diwakili dari simbol tersebut mampu menciptakan suatu bacaan yang akan disampaikan kepada pembaca.

d. Pengertian Keterampilan Menulis Narasi

Istilah “narasi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam Arvianta, 2013: 12 memiliki arti “pengisahan suatu cerita atau kejadian.” Menurut Rosdiana, dkk. (Arvianta, 2013: 12), narasi merupakan satu jenis wacana berisi cerita yang memiliki unsurunsur cerita yang penting, seperti waktu, pelaku, peristiwa, dan aspek emosi yang dirasakan pembaca atau penerima. Selaras dengan pendapat tersebut, Keraf (Arvianta, 2013: 12) mendefinisikan narasi merupakan suatu bentuk wacana yang

berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.

Pendapat lain juga diungkapkan Inman dan Gardner (Arvianta, 2013: 12), wacana narasi merupakan suatu cerita baik fiksi maupun kenyataan yang subjeknya sebuah peristiwa atau kejadian yang saling berhubungan. Pendapat senada disampaikan Sadhono dan Slamet (Arvianta, 2013: 12), narasi adalah ragam wacana yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa dengan sasaran memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, urutan, langkah atau rangkaian terjadinya suatu hal. Jadi, pengertian narasi merupakan ragam tulisan yang menceritakan peristiwa fiksi maupun kenyataan dengan tujuan memberikan gambaran sejelasjelasnya kepada pembaca dengan memuat unsur-unsur narasi di dalamnya.

Berdasarkan teori-teori yang telah dijelaskan oleh beberapa ahli, maka dapat dikatakan bahwa secara utuh keterampilan menulis narasi itu merupakan kecakapan seseorang dalam gagasan berupa cerita fiksi maupun kenyataan secara sistematis melalui Bahasa tulis sesuai pada kaidah bahasa Indonesia yang benar serta mencakup unsur-unsur narasi di dalamnya. Dalam penelitian ini, keterampilan menulis narasi yang menjadi fokus peneliti ialah kemampuan murid untuk menceritakan pengalaman yang dimiliki kedalam bentuk tulisan dengan memperhatikan cara

murid menuliskannya yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

e. Tujuan Keterampilan Menulis Narasi

Tujuan keterampilan menulis narasi secara umum tercermin dari pengertiannya narasi itu sendiri. Salah satu pendapat tentang pengertian narasi yang disampaikan Sadhono dan Slamet (Arvianta, 2013: 13), narasi adalah ragam wacana yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa dengan sasaran memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, urutan, langkah atau rangkaian terjadinya suatu hal. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil simpulan tujuan keterampilan menulis narasi yaitu memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, urutan, langkah atau rangkaian peristiwa.

Tujuan keterampilan narasi secara khusus juga terdapat pada jenis narasi yang ada. Jenis tulisan narasi berdasarkan tujuannya terdiri dari narasi ekspositoris dan narasi sugestif. Keraf (Arvianta, 2013: 13) menyatakan bahwa narasi ekpositoris bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan, sedangkan narasi sugestif bertujuan untuk memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman.

Dengan demikian keterampilan menulis memiliki tujuan untuk menggambarkan sejelas-jelasnya kepada pembaca baik hanya untuk memperluas pengetahuan maupun menyampaikan makna atau amanat yang terdapat dalam bahasa tulis dengan memperhatikan tingkat kemampuan penulis.

f. Langkah-langkah Menulis Narasi

Dalam menulis narasi terdapat tahap-tahap atau langkah- langkah untuk menghasilkan tulisan yang baik. Langkah-langkah tersebut berawal dari menentukan apa yang akan ditulis hingga tulisan tersebut selesai. Sebagaimana melakukan kegiatan yang sistematis, proses menulis hendaknya dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang runtut dan benar.

Narasi merupakan salah satu ragam tulisan karangan sehingga dalam proses menulis narasi juga mengacu pada proses dasar menulis karangan. Langkah-langkah atau proses menulis karangan menurut Kristiantari (Arvianta, 2013: 16) merupakan kegiatan berulang dan berkelanjutan. Kegiatan dimulai dari upaya penemuan dan pengorganisasian gagasan, dilanjutkan dengan pembuatan draf secara spontan, perbaikan isi dan kebahasaan, dan publikasi.

Hal senada juga diungkapkan Sadhono dan Slamet (Arvianta, 2013: 16) proses atau langkah-langkah menulis narasi terdiri dari 5 (lima) tahapan, sebagai berikut.

1) Tahap Prapenulisan

Tahap ini merupakan tahap persiapan menulis. Tahap pramenulis mencakup kegiatan menentukan dan membatasi topik tulisan, merumuskan tujuan, menentukan bentuk tulisan, menentukan pembaca yang akan ditujunya, memilih bahan, menentukan generalisasi, dan cara-cara mengoranisasi ide untuk tulisannya.

2) Tahap Pembuatan Draf

Tahap menulis ini dimulai dengan menjabarkan ide ke dalam tulisan. Mula-mula mengembangkan ide atau perasaannya dalam bentuk kata-kata, kalimat-kalimat hingga menjadi wacana sementara.

3) Tahap Revisi

Pada tahap revisi dilakukan koreksi pada seluruh karangan.

Koreksi dilakukan terhadap aspek struktur karangan dan kebahasaan. Struktur karangan meliputi penataan ide pokok dan ide penjelas, serta sistematika dan penalarannya. Aspek kebahasaan meliputi pilihan kata, struktur bahasa, ejaan, dan tanda baca.

4) Tahap Pengeditan atau Penyutingan

Hasil tulisan dilakukan penyutingan difokuskan pada aspek mekanis bahasa sehingga dapat memperbaiki tulisannya

dengan membetulkan kesalahan penulisan kata maupun kesalahan mekanis lainnya.

5) Tahap Publikasi

Publikasi dapat dilakukan dengan bentuk cetak maupun noncetak. Penyampaian dalam bentuk cetak dapat dilakukan melalui majalah dinding. Sedangkan bentuk noncetak dapat dilakukan dengan melalui pementasan, penceritaan, peragaan atau pembacaan di depan kelas.

Langkah-langkah menulis narasi menurut Alek dan Achmad (dalam Arvianta, 2013: 17) adalah sebagai berikut:

1) persiapan (preparation), terdiri dari membuat kerangka tulisan (outline), temukan ideom yang menarik (eye cathing), dan temukan kata kunci (keyword).

2) menulis (writing), terdiri dari ingatkan diri agar tetap logis, membaca kembali setelah menyelesaikan satu paragraf, dan percaya diri akan apa yang ditulis.

3) editing, terdari dari memperhatikan kesalahan kata, tanda baca, dan tanda hubung, memperhatikan hubungan antar paragraf serta membaca secara keseluruhan.

Jadi, proses keterampilan menulis narasi pada dasarnya terdiri dari tahap pramenulis (penentuan gagasan), perumusan gagasan dalam bentuk draft, penulisan (pengembangan gagasan), editing dan publikasi.

g. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Menulis Narasi Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang tidak didapatkan secara cepat, tentu kegiatan itu harus selalu dilatih sehingga murid mampu mengembangkan potensi diri yang dimilikinya. Dalam perkembangannya, setiap murid memiliki kemampuan yang berbeda-beda antar satu murid. Perbedaan ini tentu akan mempengaruhi kemampuan murid dalam menulis.

Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan murid dalam menulis narasi diantaranya ketidakpercayaan diri murid dalam mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya, terlalu memikirkan bahwa apa yang akan ditulisnya sehingga membuat murid itu menjadi bingung sendiri, kurangnya sarana dan prasarana yang dapat membantu murid menyalurkan bakatnya, serta kurangnya dorongan atau motivasi dari orang-orang sekitar murid.

Menurut Syah (2010: 129), secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) faktor internal, yaitu keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa, (2) faktor eksternal, yaitu kondisi lingkungan disekitar siswa, dan (3) faktor pendekatan belajar, yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi, metode yang digunakan untuk memudahkan siswa memahami konsep pembelajaran.

Faktor internal yang dapat menyebabkan anak kesulitan belajar lebih jelas dikemukakan oleh Djamarah (2000: 237) adalah

Dalam dokumen BAB II (Halaman 43-70)

Dokumen terkait