• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap-tahap Penelitian

Dalam dokumen peningkatan nilai-nilai karakter anak (Halaman 66-73)

BAB III METODE PENELITIAN

G. Tahap-tahap Penelitian

Tahap-tahap penelitian adalah menguraikan rencana pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya dan sampai pada penulisan laporan, yaitu:

1. Tahap Persiapan

a. Menemukan masalah di lokasi penelitian

Peneliti melakukan observasi awal yang dilanjutkan dengan malakukan wawancara di tempat yang dijadikan lokasi penelitian.

b. Menyusun rencana penelitian

Peneliti menyusun rencana penelitian dengan cara melakukan pengajuan judul penelitian, penyusunan matrik penelitian yang dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, sampai dengan penyusunan proposal dan melakukan kegiatan seminarnya.

c. Mengurus perizinan

Peneliti mengurus surat penelitian yang ditujukan kepada lembaga yang diteliti yaitu Raudhatul Athfal Ar-Rohmah Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember kepada pihak kampus. Setelah itu peneliti menyerahkan surat kepada lembaga tersebut untuk mendapatkan ijin melakukan kegiatan penelitian.

d. Memilih informan

Langkah selanjutnya yaitu peneliti memilih informan yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Informan yang dipilih adalah orang- orang yang memiliki informasi terkait penelitian yang dilakukan.

e. Menyiapkan perlengkapan penelitian

Langkah persiapan yang terakhir yaitu menyiapkan perlengkapan dalam melakukan penelitian. Peneliti menyiapkan buku catatan, kamera, alat perekam, dan lain sebagainya.

2. Tahap pelaksanaan

a. Memahami latar penelitian

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan untuk lebih memahami latar penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

b. Memasuki lapangan penelitian

Pada saat memasuki lapangan penelitian, peneliti fokus dalam mengumpulkan data-data yang terkait dengan penelitian yang dilakukan.

c. Mengumpulkan data

Peneliti mengumpulkan data dengan teknik pengumpulan data yang telah dirancang oleh peneliti yaitu dengan cara observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi.

d. Menyempurnakan data yang belum lengkap

Setelah dirasa data yang telah dikumpulkan peneliti masih ada kekurang maka peneliti memutuskan untuk melakukan pengumpulan data ulang untuk menyempurnakan data yang belum lengkap.

3. Penyelesaian

a. Menganalisis data yang diperoleh

Setelah data terkumpul, peneliti melakukan analisis data sesuai dengan rencana penelitian. Analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data. Setelah data terkumpul peneliti mengkondensasi data tersebut.

Agar data mudah dipahami peneliti melakukan kegiatan penyajian data, dan langkah terakhir yaitu peneliti mengambil kesimpulan dari data- data yang telah dianalisis.

b. Mengurus perizinan selesai penelitian

Setelah melakukan penelitian di lembaga Raudhatul Athfal Ar-Rohmah, maka peneliti meminta surat yang menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan telah selesai.

c. Menyajikan data dalam bentuk laporan

Setelah penelitian selesai dan data-data yang diperlukan telah jenuh, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah membuat laporan.

d. Merevisi laporan yang telah disempurnakan

Langkah terakhir yang dilakukan oleh peneliti adalah merevisi laporan yang telah disusun.

BAB IV

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

A. Gambaran Objek Penelitian

1. Sejarah Berdirinya Raudhatul Athfal Ar-Rohmah

Berdirinya lembaga Raudhatul Athfal Ar-Rohmah tidak bisa terlepas dari pendirinya yaitu, Ibu Erma Suryani. Dulunya Ibu Erma merupakan pendidik di Taman Kanak-Kanak Ar-Raudhoh Jember. beliau mengajar disana kurang lebih selama 10 tahun. disamping mengajar di sana, ibu Erma juga mengajar di tempat atau lembaga lain yaitu Taman Kanak- Kanak Raudhatul Muta’alim Jember (yang saat ini sudah tutup). Pada pagi hari Ibu Erma mengajar di Raudhatul Muta’alim dan siangnya mengajar di Ar-Raudhoh. Tiada lelahnya beliau mengabdi untuk pendidikan anak usia dini. Namun setelah kurang lebih 10 tahun lamanya beliau merasa bahwa lembaga tersebut telah mandiri akhirnya beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari lembaga tersebut. Beliau menginginkan mendirikan sebuah lembaga sendiri ingin memajukan di tempat lain dan ingin mandiri.

“saya ingin lebih bermanfaat dilingkungan sendiri dan akhienya saya memberanikan diri untuk mendirikan lembaga, agar masyarakat sekitar juga tidak kesulitan ketika anak-anak mereka sudah saatnya sekolah. Saya melihat ada tanah kosong di samping pondok ini, kan enak kalau saya buat sekolah disini (pikir saya kala itu). Saya berusaha membangun lokal untuk pendidikan anak usia dini. Pada awalnya memang sekolah ini tidak banyak orang tahu, sehingga warga sekitar masih menyekolahkan anak-anak mereka jauh dari rumahnya.

Namun lambat laun lembaga ini juga bisa terkenal lho64.

64 Erma Suryani, Wawancara, Jember 18 Juli 2019

Tanah kosong di belakang Pondok Pesantren Barokatul yang tak terpakai menjadi lokasi didirikannya Raudhatul Athfal Ar-Rohmah.

Tanah tersebut merupakan wakaf dari Alm. Bapak Abdul Gani yang tidak lain adalah bapak dari pendiri Raudhatul Athfal Ar-Rohmah.

Raudhatul Athfal Ar-Rohmah berdiri pada tahun 2010, yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Jember. Jumlah anak yang berada di lembaga tersebut pada awalnya hanya 19 anak dengan satu guru dan satu kepala RA. Sampai saat ini jumlah anak yang berada di lembaga Raudhatul Athfal Ar-Rohmah ada 42 anak.65 2. Visi, Misi dan Tujuan Raudhatul Athfal Ar-Rohmah

Visi, misi, dan tujuan RA diambil dari dokumentasi RA.66 a. Visi

Mewujudkan siswa yang mandiri, berakhlaqul karimah yang unggul dalam prestasi dan peka sosial.

b. Misi

1) Melaksanakan bimbingan dan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan efektif dalam suasana yang menyenangkan.

2) Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali dirinya sehingga dapat mengembangkan diri secara optimal.

3) Menumbuh kembangkan penghayatan dan pengamalan agama islam dalam kehidupan sehari-hari.

65Erma Suryani, Wawancara, Jember, 18 Juli 2019

66Dokumentasi, Jember, 24 Agustus 2019

c. Tujuan

Sesuai dengan kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan agar dapat mandiri untuk, beradaptasi dengan lingkungan sosialnya dan siap masuk SD.

3. Struktur Lembaga (Terlampir) 4. Profil Lembaga

a. Nama Raudhatul Athfal : RA. Ar-Rohmah b. Nomor Statistik Madrasah : 101235090246

c. NPSN : 69745040

d. Akreditasi Madrasah : Belum Terakreditasi

e. Alamat Lengkap Madrasah : Jl. Rasamala II Dusun Krajan Desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur Kode Pos 68191 f. NPWP Madrasah : 03.328.809.3.626.000 g. Kepala Madrasah :Erma Suryani

h. No. Telpon/ Hp : 085102681481

i. Nama Yayasan : Lembaga Pendidikan Ar-Rohmah j. Alamat Yayasan : Jl. Rasamala II Kemuning Lor

Krajan

k. No. Akte Pendirian Yayasan : 2016 l. Kepemilikan Tanah : Yayasan

m. Status : Sertifikat Wakaf n. Luas Tanah : 439 m²

o. Luas Bangunan : 200 m² 5. Data Anak

Data anak diambil dari dokumentasi RA.67 Tabel 4.1

Data Anak RA Ar-Rohmah Tahun 2019/2020

Kelompok A Kelompok B

Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

11 14 10 8

25 18

Jumlah 43

6. Daftar Inventaris RA

Daftar inventaris diambil dari dokumentasi RA.68 Tabel 4.2

Daftar Inventaris RA Ar-Rohmah

No Nama Barang Jumlah

1 Kursi guru 4 buah

2 Meja guru 2 buah

3 Kursi anak 40 buah

4 Meja anak 20 buah

5 Meja kepala RA 1 buah

6 Kursi Kepala RA 2 buah

7 Loker 2 buah

8 Papan tulis 2 buah

67Dokumentasi, Jember, 24 Agustus 2019

68Ibid.

7. Data Pendidik dan Kependidikan

Data pendidik diambil dari dokumentasi RA.69 Tabel 4.3

Data pendidik RA Ar-Rohmah No Nama Tempat, Tgl

lahir

Jabatan Ijazah terakhir

TMT Alamat

1 Erma Suryani

Jember, 3 Juni 1966

Kepala RA

SMA 1 Juli 2006 Jl. Rasamala II Kemuning Lor Krajan

2 Erfin Tri S. Jember, 13 April 1982

Guru S1 1 Juli 2006 Jl. Rasamala II Kemuning Lor Krajan

3 Reni Tri W. Jember, 17 Juni 1992

Guru SMA 1 Juli 2006 Jl. Rasamala II Kemuning Lor Krajan

B. Penyajian Data dan Analisis

Penyajian data dan analisis adalah langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini. Data-data yang merupakan hasil temuan selama penelitian di lapangan yang telah di sesuaikan dengan alat-alat pengumpulan data, kemudian dikemukakan secara rinci sesuai dengan bukti- bukti yang telah diperoleh selama penelitian berlangsung. Dengan demikian, penyajian data disesuaikan dengan fokus penelitian dan dilanjutkan dengan analisis data yang relevan sesuai dengan metode analisis data.

Dalam pembahasan ini peneliti akan memaparkan secara rinci dan sistematis tentang keadaan objek yang diteliti, yang mengacu pada fokus penelitian yang telah ditetapkan. untuk mendapatkan data yang berkualitas, secara berurutan akan disajikan data tentang:

69Dokumentasi, Jember, 24 Agustus 2019

1. Meningkatkan Nilai Karakter Mandiri Anak kelompok B melalui Permainan Tradisional Dam-daman

Bermain merupakan cara yang digunakan anak untuk mengembangkan nilai-nilai karakter yang ada di dalam dirinya. Berbagai jenis permainan yang diterapkan di lembaga pendidikan anak usia dini sangat efektif dalam mengembangkan nilai karakter anak. permainan yang dapat digunakan adalah permainan tradisional. Dengan permainan tersebut dua poin dapat diperoleh, satu dapat mengembangkan nilai karakter anak.

Dua dapat memperkenalkan khasanah budaya bangsa Indonesia.

Nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui permainan tradisional ini salah satunya adalah nilai kemandirian. Mandiri adalah modal awal anak untuk terjun ke dalam lingkungan masayarakat. Oleh sebab itu nilai karakter mandiri harus tertanam sejak dini agar dapat dikembangkan secara optimal.

Nilai karakter mandiri adalah ketika anak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri atau sedikit bantuan. Kemandirian anak dapat ditingkatkan melalui berbagai cara misalnya saja melalui permainan tradisional dam-daman. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti di lembaga Raudhatul Athfal Ar-Rohmah Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, yang berhubungan dengan meningkatkan nilai karakter mandiri anak melalui permainan tradisional dam-daman, peneliti melakukan wawancara dengan guru kelompok B dan sebagian wali murid kelompok B.

Menurut Ibu Erfin Tri S., selaku guru kelompok B, mengatakan bahwa,

kalau sudah di kelompok B, biasanya anak-anak sudah pada mandiri semua. Jarang sekali terlihat anak yang masih minta tungguin mamanya. Malah banyak yang sudah berangkat dan pulang sekolah sendiri. Mereka juga bisa menyiapkan perlatan belajarnya sendiri. Sudah pinter-pinter kalau kelompok B. Apalagi kalau ada permainan yang baru, pasti sudah mereka akan memperhatikannya dengan seksama. Sekali diajarin pasti sudah bisa. Tapi ya yang namanya anak-anak kalau sudah enggak mood dari rumah, pasti ngefeknya juga di sekolah malas-malasan”.70

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelompok B, yaitu ibu Erfin Tri S., yang mengungkapkan bahwa nilai kemandirian anak akan berkembang dengan sendirinya sesuai dengan usia anak tersebut. Namun hal tersebut juga akan berkembang dengan lebih optimal ketika diadakan kegiatan-kegiatan baru yang membuat anak antusas dalam melakukannya.

Dengan adanya rasa ingin tahu yang besar dari anak, dia akan senang membantu guru untuk menyiapkan keperluan dari kegiatan yang dilakukan. Guru dalam hal ini juga berperan penting dalam meningkatkan nilai kemandirian anak. Memberikan stimulasi pada anak dengan cara memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan.

Selain melakukan wawancara dengan guru kelompok B, peneliti juga menetapkan beberapa wali murid kelompok B sebagai informan. Salah satunya adalah Mama Hoir. Menurut Mama Hoir,

“mengenai kemandirian ananda Hoir di rumah sudah mandiri anaknya. “Misalnya saja ketika dia merasa lapar, dia hanya bilang sama saya Ma aku lapar, tapi setelah itu dia bisa mengambil piring sendiri, mengambil nasi, lauknya, sayurnya. Kalau mau pake sendok ya ambil sendok, kalau mau pake tangan ya dia cuci tanganya

70 Erfin Tri S. Wawancara, Jember 22 Juli 2019

sendiri. Kalau sudah makan juga begitu, piringnya itu langsung di taruh di tempat cuci piring, walaupun saya yang nyuci. Tapi kalau menurut saya Hoir itu sudah mandiri”.71

Sedangkan menurut Mama Tasya ketika dilakukan wawancara, dia mengatakan bahwa,

”kalau Tasya sekarang itu sudah lebih mandiri, bangun tidur dia itu langsung mau mandi tanpa disuruh, sarapan juga makan sendiri, yang dulunya minta suapin sekarang sudah tidak. Pake kaos kaki sama sepatu sendiri, bahkan mau berangkat sendiri ke sekolah, tapi saya yang enggak tega, ya saya antar. Apalagi kalau sudah ada PR, pasti sudah dia semangat yang mau ngerjain.72

Sedangkan menurut Mama dari Edwin yang merupakan salah satu anak kelompok B mengatakan bahwa,

“Edwin itu kalau mandiri sudah bisa dikatakan mandiri, tapi kadang- kadang juga masih kurang mandiri. Maksudnya itu kadang masih minta diambilin sesuatu yang memang anaknya enggak bisa. Tapi kalau anaknya bisa ya dikerjakan sendiri. Kayak mandi, makan, pake sepatu dan banyak wes yang lain, pokok yang mudah-mudah itu. Pokok kalau dia keliru jangan dimarahi, diajari saja nanti dia juga akan bisa.73

Berdasarkan hasil wawancara terkait nilai karakter mandiri anak yang dilakukan dengan beberapa informan dari wali murid kelompok B yaitu, mayoritas anak sudah memiliki nilai kemandirian cukup bagus atau sudah dapat dikatakn berkembang dengan baik sesuai dengan rentang usia mereka. Ada kalanya anak itu meminta bantuan karena memang dia masih belum bisa melakukan kegiatan tersebut. Hal itu cukup wajar terjadi pada rentang usia anak 5-6 tahun. Nilai karakter mandiri anak dapat meningkat juga tidak terlepas dari stimulus yang diberikan orang tua, misalnya memberikan anak kepercayaan diri untuk melakukan hal yang dapat anak

71 Mama Hoir, Wawancara, Jember 24 Juli 2019.

72 Mama Tasya, Wawancara, Jember 24 Juli 2019.

73 Mama Edwin, Wawancara, Jember 24 Juli 2019.

lakukan. Selalu memberi semangat pada anak dan tidak menyepelekan pekerjaan yang dilakukan anak.

Gambar 4.1

Anak mencari kerikil sendiri

Selain menggunakan metode wawancara untuk mengumpulkan data, peneliti juga menggunakan metode observasi untuk memperkuat data yang ditemukan di lapangan. Pada saat melakukan observasi peneliti menemukan bahwa anak di kelompok B mayoritas sudah memiliki nilai karakter mandiri yang baik. Hal itu terlihat ketika saat pembelajaran mereka sudah bisa menyiapkan peralatan akan mereka gunakan, misalnya pensil, krayon, dll. Pada saat bermain pun anak-anak sudah bisa mengambil mainan sendiri. Apalagi pada saat permainan tradisional dam- daman dilakukan, antusias anak sangat terlihat, sehingga mereka menyiapkan peralatan mainnya sendiri, seperti mencari kerikil sendiri menata di atas media dan mencari lawan main sendiri.74

Gambar 4.2 Anak menata alat main

74 Observasi, Jember 22 Juli 2019

2. Meningkatkan Nilai Karakter Disiplin Anak kelompok B melalui Permainan Tradisional Dam-daman

Disiplin adalah salah satu nilai karakter yang harus ditanamkan sejak dini pada anak. Ketika anak sudah terbiasa disiplin, anak akan mudah berbaur dengan lingkungan masyarakat, karena anak terbiasa tepat waktu dan menghargai waktu mereka. Sama halnya dengan nilai-nilai karakter yang lain, nilai karakter disiplin pada anak juga dapat dikembangkan dengan kegiatan bermain. Melalui bermain, anak dapat melatih kedisiplinan mereka melalui kapan mereka harus bermain, kapan lawan mereka yang harus bermain, dan kapan mereka harus berhenti bermain.

Nilai karakter disiplin dapat dikembangkan dengan permainan tradisional dam-daman, sebagaimana pendapat dari kepala RA Ar-Rohmah mengatakan bahwa,

“dengan menggunakan permainan tradisional dam-daman itu, anak bisa lebih menghargai waktu, lebih teliti dengan waktu. Misalnya kapan mereka harus main, kapan lawan mereka yang harus jalan, dan kapan permainan mereka harus berhenti. Ketika bel istirahat berbunyi biasanya mereka langsung persiapan yang mau main. Dan ketika bel masuk setelah istirahat berbunyi mereka juga menghentikan permainan mereka.”75

Guru kelompok B, Ibu Erfin Tri S, berpendapat mengenai nilai karakter disiplin anak didiknya di kelas bahwa,

“anak-anak itu bisa disiplin ketika melihat gurunya disiplin, misalnya saja guru datang tepat waktu ke sekolah, dia juga akan berusaha untuk datang tepat waktu. Ya terkadang mereka terlambat juga bukan karena mereka. Mereka terlambat itu kadang karena ibunya yang belum selesai masak, nyuci, dan ada saja alasan mereka.

Padahal mereka itu sudah dikasih tau kalau anaknya bisa diantar

75 Erma Suryani, Wawancara, Jember 29 Juli 2019

dulu baru ditinggal pulang untuk menyelesaikan pekerjaan meraka, tapi ya gitu, tetap saja ada yang terlambat. Jadi kalau dari diri anak sendiri mereka sudah berusaha untuk tepat waktu.”76

Berdasarkan wawancara dengan kepala RA dan guru Kelompok B dapat disimpulkan bahwa nilai karakter disiplin telah berkembang pada diri anak dengan baik. Namun ada beberapa faktor yang menghambat berkembangnya nilai disiplin tersebut berkembang secara optimal, yaitu dari orang tua yang kurang memahami nilai disiplin yang sangat penting untuk dikembangkan sejak dini. Mereka cenderung menyepelekan apabila anak-anak mereka datang terlambat berangkat ke sekolah mereka menganggapnya biasa-biasa saja. Hal ini yang akan berakibat fatal, apabila tidak adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua.

Sedangkan nilai karakter disiplin anak di rumah dapat diketahui dengan mengumpulkan data menggunakan wawancara dengan wali murid, salah satunya adalah orang tua dari dari Aini. Mama Aini mengatakan bahwa,

“kalau Aini itu di rumah disiplinnya kurang, anaknya masih malas- malasan. Tapi kalau saya yang memberi contoh, misalnya bangun pagi, ya dia ikut bangun pagi. Berarti itu juga salah saya, yang cuman nyuruh tapi tidak dicontohkan. Setelah saya tanya-tanya di sekolah, ya saya dapat jawabannya kalau saya yang pertama harus memberi contoh dulu, enggak asal nyuruh-nyuruh. Saya coba seperti itu, dan alhamdulillah sedikit-sedikit anaknya itu bisa disiplin waktu.77

Sedangkan menurut Mama Alika, mengatakan tentang kedisiplinan putrinya bahwa,

kalau Alika itu kalau sudah di depan TV pasti wes enggak mau apa- apa. Enggak tau waktu harus ngapain dah. Tapi saya cari-cari

76 Erfin Tri S., Wawancara, Jember 30 Juli 2019

77 Mama Aini, Wawancara, Jember 1 Agustus 2019

informasi bagaimana cara untuk mengatasinya, saya tanya ke gurunya. Saya dikasih solusi untuk menerapkan jadwal kegiatan harian di rumah. Memang pertama agak sulit dilakukan, tapi setelah masuk kelompok B, Alika lambat laun bisa menerapkannya, tapi ya gitu saya juga harus ada jadwal untuk pegang HP.78

Orang tua dari ananda Bilal kelompok B juga menambahkan terkait kedisiplinan anak dirumah adalah,

“kalau disiplin itu tidak mudah diterapkan pada anak, nanti anak dimarahi salah, anak terus nangis putus asa. Jadi caranya kalau anak ingin disiplin ya pake orang tuanya itu sendiri. Ketika orang tuanya apalagi ibunya sudah bisa disiplin, insyaallah anak-anak kita akan ikut disiplin, misalnya pada saat waktu sholat tiba, kalau ibunya masih sibuk sama HP-nya, ya anaknya juga tidak mendengarkan adzan. Coba saja kalau ada adzan ibunya langsung mengajak anaknya berwudu’ bersamanya, pasti sudah anaknya langsung mau diajaknya.”79

Berdasarkan wawancara dengan wali murid dari tiga anak yaitu, Mama Aini, Mama Alika, dan Mama Bilal dapat disimpulkan bahwa nilai karakter disiplin itu masih sulit ditanamkan pada anak usia dini, namun meskipun sulit disiplin harus tetap ditanamkan sejak dini, agar anak terbiasa berlaku disiplin dalam hidupnya. Salah satu cara untuk menerapkan disiplin di lingkungan rumah yaitu memberi contoh pada anak, mengurangi menyuruh anak, mengajak anak untuk melakukan kegiatan secara bersama dengan orang tua. Dengan cara-cara tersebut dapat meningkatkan nilai karakter disiplin tanpa membuat anak tertekan.

Pada kesempatan lain peneliti melakukan observasi untuk lebih menguatkan data-data yang telah dikumpulkan melalui metode wawancara. Pada saat observasi di kelompok B yang pada saat itu tema mengenai “Aku”, dengan sub tema kegiatan yang biasa dilakukan di dalam

78 Mama Alika, Wawancara, Jember 1 Agustus 2019

79 Mama Bilal, Wawancara, Jember 1 Agustus 2019

keluarga. Anak dengan antusias bercerita tentang kegiatan yang mereka lakukan di dalam keluarga. Misal jadwal kegiatan dirumah diceritakan oleh anak. Ananda Bilal yang bercerita tentang kegiatan yang dia lakukan selama ada dirumah. Mulai dari tidur dia sangat antusias menceritakannya.

Misalnya setelah pulang sekolah dia main sebentar, lalu makan siang, sholat, tidur siang, ngaji sore, pulang ngaji dia main lagi sebentar, lalu setelah malam dia belajar dan menonton televisi dan dia tidur pada pukul sembilan malam. Dia sangat paham sekali tentang jadwal kegiatan yang harus dia lakukan.80

Gambar 4.3

Anak antusias menceritakan kegiatannya

Pada kesempatan lain peneliti juga mengobservasi pada saat anak- anak istirahat atau bermain bebas. Ada anak yang mengambil kertas yang telah ada gambarnya dan ternyata permainan dam-daman. Dua anak tersebut memulai permainan dengan cara bersuit terlebih dahulu. Anak yang menang menjalankan kertas yang menjadi pionnya. Ketika selesai satu anak bermain, mereka mempersilahkan teman yang lain untuk mengambil giliran menjalankan pionnya. Sampai permainan tersebut selesai. Permainan tersebut berjalan lancar dengan pengawasan dari guru.

80 Observasi, Jember, 29 Juli 2019

Tidak ada anak yang berebut untuk menjalankan pionnya masing-masing.

Mereka bersabar menunggu saat mereka harus bermain.81 Gambar 4.4

Anak bermain dam-daman

3. Meningkatkan Nilai Karakter Tanggung Jawab Anak kelompok B melalui Permainan Tradisional Dam-daman

Bermain merupakan dunia anak, dengan bermain anak dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Potensi positif harus dikembangkan sejak dini, agar ketika dewasa anak sudah siap mengahadapi sesuatu yang berbeda yang ada di lingkungan masyarakat.

Nilai-nilai karakter positif merupakan potensi anak yang harus dikembangkan terutama nilai karakter tanggung jawab.

Nilai karakter tanggung jawab dapat dikembangkan dengan cara permainan tradisional yang hampir punah yang tergantikan oleh permainan modern. Salah satu permainan tradisional yang mudah diterapkan adalah permainan tradisional dam-daman. Sebagaimana pendapat guru kelompok B, Raudhatul Athfal Ar-Rohmah, ibu Erfin Tri S, mengatakan bahwa,

“dengan permainan tradisional dam-daman, anak dapat mengerti akan tanggung jawab yang dapat dilihat dari anak dapat bertanggung jawab pada saat mengambil keputusan ketika mereka bermain.

81 Observasi, Jember, 30 Juli 2019

Dalam dokumen peningkatan nilai-nilai karakter anak (Halaman 66-73)

Dokumen terkait