BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
1. Pendidikan Karakter
Pendidikan merupakan kebutuhan yang mendasar terutama bagi anak usia dini. Yaitu anak dengan rentang usia 0-6 tahun sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa,
“Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.22
Rangsangan atau stimulus yang diberikan kepada anak bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai karakter yang ada pada diri anak melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yaitu pendidikan dan karakter. Pendidikan lebih merujuk pada kata kerja,
22 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal I Ayat 14.
sedangkan karakter lebih pada sifatnya. Artinya, melalui proses pendidikan tersebut, nantinya dapat dihasilkan sebuah karakter yang baik.23
Pendidikan dipahami sebagai upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Pada intinya pendidikan adalah suatu bentuk pembimbingan dan pengembangan potensi peserta didik supaya terarah dengan baik dan mampu tertanam menjadi kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari.24
Karakter secara etimologis adalah kharakter dalam bahasa Latin yang berarti memberi tanda. Dalam bahasa Inggris character yang memiliki arti watak, karakter, sifat, dan peran. Sedangkan menurut Mulyasa merumuskan karakter dengan sifat alami seseorang dalam merespon situasi yang diwujudkan dalam perilakunya.25
Berdasarkan definisi di atas dapat ditarik benang merah bahwa karakter adalah sifat yang mantap, stabil, dan khusus yang melekat pada diri seorang yang membuatnya bersikap dan bertindak secara otomatis, tidak dipengaruhi oleh keadaan, dan tanpa memerlukan pemikiran/pertimbangan terlebih dahulu.26
Berdasarkan pengertian dari pendidikan dan karakter maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah suatu pendidikan yang
23 Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:
Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 16.
24 Ibid, 18.
25 Amirullah Syarbini, Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga. Studi tentang Model Pendidikan karakter dalam Perspektif Islam (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), 29.
26 Ibid,30.
mengajarkan tabiat, moral, tingkah laku maupun kepribadian. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa pendidikan karakter bersifat universal. Maksudnya, nilai-nilai yang ditanamkan tersebut harus mampu dirasakan oleh semua orang, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa maupun negara. Dengan pendidikan karakter ini diharapkan dapat menciptakan generasi-generasi yang berkepribadian baik dan menjunjung asas-asas kebajikan dan kebenaran disetiap langkah kehidupan.
a. Tujuan Pendidikan Karakter
Dimana terdapat pendidikan, tentu saja terdapat tujuan yang hendak dicapai. Demikian halnya dengan pendidikan karakter, pasti ada tujuan-tujuan yang akan dicapai. Tujuan pendidikan karakter menurut Darma Kesuma, khususnya dalam setting sekolah, adalah sebagai berikut:27
1) Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian atau kempemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.
2) Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak sesuai dengan nilai- nilai yang dikembangkan oleh sekolah.
3) Membangun koneksi yang harmonis dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.
27 Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:
Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 24.
Tujuan dari pendidikan karakter ini lebih diintensifkan sehingga nilai-nilainya dapat tertanam dalam benak peserta didik. Tujuan pendidikan karakter pada anak usia dini yaitu mempersiapkan anak supaya mempunyai karakter yang baik, yang mana nantinya menjadi kebiasaan dalam kesehariannya ketika anak mulai dewasa.
Penanaman pendidikan karakter sejak dini akan menjadikan anak lebih tangguh, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab, serta memiliki kepribadian maupun akhlak yang baik..28Oleh karena itu mengenalkan pendidikan karakter pada anak usia dini merupakan langkah yang tepat, sebab pada masa itu anak akan belajar dengan optimal, sebagaimana potensi yang telah diberikan Allah SWT.
b. Landasan Pendidikan Karakter di Indonesia
Dalam pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia ada landasan- landasan yang dijadikan rujukan, agar pendidikan yang diajarkan tidak menyimpang dari jati diri bangsa Indonesia. Pendidikan karakter di Indonesia didasarkan pada sembilan pilar karakter dasar yaitu, 1) Cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya; 2) Tanggung jawab, Disiplin, dan Mandiri; 3) Jujur; 4) Hormau dan Santun; 5) Kasih sayang, Peduli, dan kerja sama; 6) Percaya diri, Kreatif, Kerja keras, dan Pantang menyerah; 7) Keadildan dan Kepemimpinan; 8) Baik dan Rendah hati;
9) Toleransi, Cinta damai, dan Persatuan. 29
28 Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:
Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 26.
29 Ibid, 32.
Kesembilan tersebut harus dikembangkan dan saling terkait dengan landasan pendidikan karakter di Indonesia. Menurut Zubaedi berikut merupakan landasan-landasan dalam melaksanakan dan mengembangkan pendidikan karakter di Indonesia. 30
1) Agama
Agama merupakan sumber kebaikan. Oleh karenanya, pendidikan karakter harus dilaksanakan berdasarkan nilai-nilai ajaran agama.
Pendidikan karakter tidak boleh bertentangan dengan agama. Agama merupakan landasan yang pertama dan utama dalam mengembangkan pendidikan karakter di Indonesia, khususnya pada lembaga pendidikan anak usia dini.
Karakter dalam bahasa agama disebut dengan akhlak. Seperti dikatakan oleh Akramulla Syed dalam Yaumi, akhlak merupakan istilah dalam bahasa Arab yang merujuk pada praktik-praktik kebaikan, moralitas, dan perilaku yang baik. Istilah akhlak sering diterjemahkan dengan perilaku islami (islamic behavior), sifat atau watak (disposition), perilaku baik (good conduct), kodrat atau sifat dasar (nature), perangai (temper), etika atau tata susila (ethics), moral, dan karakter. semua kata tersebut merujuk pada karakter yang dapat dijadikan suri teladan yang baik bagi orang lain.31 Di sinilah yang dimaksud oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21, sebagai berikut:
َْﻻا َمْﻮَـﻴْﻟاَو َﷲااﻮُﺟْﺮَـﻳ َن ﺎَﻛ ْﻦَﻤِﻟ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ ٌةَﻮْﺳُا ِﷲا ِل ْﻮُﺳَر ِْﰲ ْﻢُﻜَﻟ َن ﺎَﻛ ْﺪَﻘَﻟ اًﺮْـﻴِﺜَﻛ َﷲاَﺮَﻛَذَوَﺮِﺧ
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
30 Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:
Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 33.
31 Muhammad Yaumi, Pendidikan Karakter Landasan, Pilar & Implementasi (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), 36.
(Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)32
Ayat tersebut memberi gambaran betapa Rasulullah merupakan suri teladan dalam berbagai hal, karena memiliki sifat, perangai, watak, dan moralitas yang patut dicontoh dan dijadikan model dalam berpikir, bersikap dan bertindak.
2) Pancasila
Negara Kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang menjadi acuan dalam melaksanakan setiap roda pemerintahan. Dalam hubungannya dengan pendidikan karakter, Pancasila harus menjadi ruh setiap pelaksanaannya.
Artinya, Pancasila yang susunannya tercantum dalam pembukaan UUD 1945, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi nilai- nilai pula dalam mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Oleh karena itu, konteks pendidikan karakter dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik.
3) Budaya
Di daerah manapun memiliki budaya yang berbeda karena keragaman budaya yang ada di Indonesia. Maka, sudah menjadi keharusan apabila pendidikan karakter juga harus berlandaskan pada
32 Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro), 336.
budaya. Budaya di Indonesia harus menjadi sumber nilai dalam pendidikan karakter bangsa, supaya pendidikan yang ada tidak tercabut dari akar budaya bangsa Indonesia.
4) Tujuan Pendidikan Nasional
Pendidikan karakter berlandaskan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pendidikan karekter, landasan ini tidak boleh terlupakan, meskipun itu pada anak usia dini. Pendidikan karakter harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan harus terintegrasikan dengan tujuan pendidikan nasional.
c. Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Indonesia
Pendidikan karakter di Indonesia telah dikembangkan menjadi beberapa nilai. Terdapat 18 nilai pendidikan karakter yang wajib diterapkan di setiap proses pendidikan atau pembelajaran menurut Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Nilai-nilai pendidikan karakter yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Religius, yakni ketaatan dan kepatuhan dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama (aliran kepercayaan) yang dianut.
2) Jujur, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan kesatuan antara pengetahuan, perkataan, dan perbuatan.
3) Toleransi, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan.
4) Disiplin, yakni kabiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala bentuk peraturan dan tata tertib yang berlaku.
5) Kerja keras, yakni perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh-sungguh dalam menyelesaikan berbagai tugas.
6) Kreatif, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam berbagai segi dalam memecahkan masalah.
7) Mandiri, yakni sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan berbagai tugas maupun persoalan.
8) Demokratis, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dengan orang lain.
9) Rasa ingin tahu, yakni cara berpikir, sikap dan perilaku yang mencerminkan penasaran dan keingintahuan.
10) Semangat kebangsaan atau nasionalisme, yakni sikap dan tindakan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau individu dan golongan.
11) Cinta tanah air, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa bangga, setia, peduli dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa.
12) Menghargai prestasi, yakni sikap terbuka terhadap prestasi orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri.
13) Komunikatif, senang bersahabat atau proaktif.
14) Cinta damai, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai, aman, tenang, dan nyaman atas kehadiran dirinya.
15) Gemar membaca, yakni kebiasaan tanpa paksaan untuk menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi.
16) Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.
17) Peduli sosial, yakni sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain maupun masyarakat yang membutuhkannya.
18) Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajiban.33
2. Nilai Karakter Mandiri
Mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.34Mandiri bagi anak sangat penting, dengan mempunyai sifat mandiri, anak tidak akan mudah bergantung kepada orang lain. Banyak yang menyebutkan bahwa anak sulit mengalami kemandirian karena seringnya dimanja dan dilarang
33Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), 8.
34 Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:
Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 195.
mengerjakan ini dan itu. Misalnya makan selalu disuapin, bantu-bantu di dapur dimarahin, dan lain sebagainya.
Contoh sikap-sikap di atas merupakan bentuk dari anak belajar kemandirian. Apabila semua dilarang dan dibantu, bisakah kemandirian anak dapat berkembang? Pastilah jawabannya tidak mungkin dapat berkembang dengan optimal. Kemandirian anak bisa berkembang apabila anak diberikan kebebasan untuk melakukan hal-hal yang sepele menurut orang dewasa, namun masih perlu adanya bimbingan dan arahan.
Banyak pakar yang mengartikan tentang kemandirian anak usia dini, misalnya saja Bachrudin Musthafa, kemandirian adalah kemampuan untuk mengambil pilihan dan menerima konsekuensi yang menyertainya.35
Kemandirian pada anak dapat terwujud jika mereka menggunakan pikirannya sendiri dalam mengambil berbagai keputusan, misalnya memilih perlengkapan belajar, memilih teman bermain, dan lain-lain.
Anak usia dini memiliki ciri apabila kemandiriannya telah berkembang dengan baik.
a. Ciri-ciri Kemandirian Anak Usia Dini
Dalam konsep pendidikan nasional, kemandirian merupakan core value pendidikan nasional. Kemandirian akan mengantarkan anak memiliki kepercayaan diri dan motivasi instrinsik yang tinggi.
35 Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini: Panduan Orang Tua & Guru dalam Membentuk Kemandirian &Kedisiplinan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 28.
Ciri-ciri anak yang mandiri dapat diketahu apabila telah mengenal aspek-aspek dari kemandirian itu sendiri.
Menurut Kartono, kemandirian terdiri dari aspek, sebagai berikut.36
1) Emosi yang ditunjukkan dengan kemampuan anak mengontrol dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.
2) Ekonomi yang situnjukkan dengan kemampuan anak mengatur dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi dari orang tua.
3) Intelektual yang ditunjukkan dengan kemampuan anak untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi, sosial yang ditunjukkan dengan kemampuan anak untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung pada orang lain.
Dari ketiga aspek di atas, dapat dikatakan bahwa kemandirian bagi anak usia dini sangat terkait dengan kemampuan seorang anak dalam menyelesaikan suatu masalah. Berdasarkan aspek dan komponen di atas, maka ciri-ciri kemandirian anak usia dini adalah sebagai berikut.37
1) Memiliki kepercayaan kepada diri sendiri 2) Memiliki motivasi instrinsik yang tinggi
3) Mampu dan berani menentukan pilihannya sendiri 4) Kreatif dan inovatif
5) Bertanggung jawab menerima konsekuensi yang menyertai pilihannya
6) Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya 7) Tidak bergantung pada orang lain.
Kemandirian anak dapat berkembang dengan baik yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
36 Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini: Panduan Orang Tua & Guru dalam Membentuk Kemandirian &Kedisiplinan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 32.
37 Ibid, 33.
b. Faktor yang Mendorong Terbentuknya Kemandirian Anak Usia Dini Kemandirian anak tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan perlu diajarkan kepada anak. Tanpa diajarkan, anak-anak tidak akan tahu bagaimana mereka harus membantu dirinya sendiri.
Kemampuan membantu dirinya sendiri adalah esensi dari karakter mandiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian anak adalah sebagai berikut.38
1) Faktor internal
Faktor internal ini terdiri dari dua kondisi, yaitu kondisi fisiologis dan kondisi psikologis.
a) Kondisi fisiologis
Kondisi fisiologis yang berpengaruh antara lain keadaan tubuh, keehatan jasmani, dan jenis kelamin.
b) Kondisi psikologis
Pakar pendidikan sepakat bahwa kecerdasan atau kemampuan kognitif berpengaruh terhadap pencapaian kemandirian seorangn anak. Hal ini disebabkan kemampuan bertindak dan mengambil keputusan yang dilakukan oleh seorang anak hanya mungkin dimiliki oleh anak yang mampu berpikir dengan seksama tentang tindakannya.
38 Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini: Panduan Orang Tua & Guru dalam Membentuk Kemandirian &Kedisiplinan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 37.
2) Faktor eksternal
Faktor eksternal ini meliputi lingkungan, rasa cinta dan kasih sayang orang tua kepada anaknya, pola asuh orang tua dalam keluarga, dan faktor pengalaman dalam kehidupan.
a) Lingkungan
Lingkungan merupakan fkator yang sangat menentukan dalam pembentukan kemandirian anak usia dini. Lingkungan yang baik dapat menjadikan cepat tercapainya kemandirian anak, begitupun sebaliknya.
b) Rasa Cinta dan Kasih Sayang
Rasa cinta dan kasih sayang orang tua kepada anaknya hendaknya diberikan sewajarnya, karena hal itu dapat mempengaruhi mutu kemandirian anak. Apabila rasa cinta dan kasih sayang diberikan berlebihan, anak akan menjadi kurang mandiri.
c) Pola Asuh Orang Tua dalam Keluarga
Pola asuh orang tua mempunyai peran nyata dalam membentuk karakter mandiri anak usia dini.
d) Pengalaman dalam Kehidupan
Pengalaman dalam kehidupan anak meliputi pengalaman di lingkungan sekolah dan masayarakat. Lingkungan sekolah berpengaruh terhadap pembentukan kemandirian anak, baik melalui hubungan dengan teman maupun dengan guru. Interaksi
anak dengan teman sebaya di lingkungan sekitar juga berpengaruh terhadap kemandiriannya.
Setelah mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemandirian anak, sebagai orang tua dan pendidik seharusnya memiliki upaya untuk mengembangkannya.
c. Upaya Mengembangkan Kemandirian Anak
Pada prinsipnya, upaya mengembangkan kemandirian pada anak dengan memberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai aktivitas. Semakin banyak kesempatan yang diberikan pada anak maka anak akan semakin terampil mengembangkan skill-nya sehingga lebih percaya diri. Untuk itu, upaya yang dapat dilakukan sebagaimana disarankan oleh Ratri Sunar Astuti yaitu sebagai berikut.39
1) Anak-anak didorong agar mau melakukan sendiri kegiatan sehari-hari yang ia jalani, seperti mandi, gosok gigi, makan, bersisir, dan berpakaian sendiri.
2) Anak diberi kesempatan sesekali mengambil keputusan sendiri, seperti memilih baju yang akan dipakai.
3) Anak diberi kesempatan untuk bermain sendiri tanpa ditemani sehingga terlatih untuk mengembangkan ide dan berpikir untuk dirinya.
4) Biarkan anak mengerjakan segala sesuatu sendiri walaupun sering membuat kesalahan.
5) Ketika bermain bersama, bermainlah sesuai keinginan anak.
6) Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan idenya.
7) Melatih anak untuk mensosialisasi diri sehingga anak belajar menghadapi problem sosial yang lebih kompleks.
8) Untuk anak yang lebih besar, mulailah ajak untuk mengurus rumah tangga, seperti menyiram tanaman, membersihkan meja, dan menyapu ruangan.
39 Ahmad Susanto, Pendidikan Anak Usia Dini (Konsep dan Teori) (Jakarta: Bumi Aksara, 2018), 41.
9) Ketika anak telah memahami konsep waktu, dorong mereka untuk memngatur jadwal pribadinya.
10) Anak-anak juga perlu diberikan tanggung jawab dan konsekuensinya jika tidak memenuhi tanggung jawabnya.
11) Kesehatan dan kekuatan biasanya berkaitan juga dengan kemandirian sehingga perlu memberikan menu yang sehat pada anak dan ajak anak untuk berolah raga atau melakukan aktivitas fisik.
3. Nilai Karakter Disiplin
Secara etimoligi, kata disiplin berasal dari bahasa Latin, yaitu disciplina dan discipulus yang berarti perintah dan murid. Jadi, disiplin adalah perintah yang diberikan oleh orang tua kepada anak atau guru kepada murid. Perintah tersebut diberikan oleh orang tuan kepada anak atau guru kepada murid agar ia melakukan apa yang diinginkan oleh orang tua atau guru.40
Kedisiplinan anak usia dini adalah suatu pengendalian diri terhadap perilaku anak usia 0-6 tahun dalam berperilaku sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jadi, secara sederhana kedisiplinan anak usia dini pada dasarnya adalah sikap taat dan patuh terhadap aturan yang berlaku, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat yang dilakukan anak usia 0- 6 tahun.41
Jadi tujuan yang hendak dicapai dari pembentukan karakter disiplin bagi anak usia dini adalah membentuk anak berkepribadian baik dan berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku. Menurut Muhammad Fadlillah disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan dan ketentuan. Kedisiplinan
40 Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini: Panduan Orang Tua & Guru dalam Membentuk Kemandirian &Kedisiplinan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 41.
41 Ibid, 42.
dapat diterapkan pada anak di sekolah maupun di rumah dengan cara membuat aturan atau tata tertib yang harus dipatuhi oleh setiap anak.
pertaturan juga dibuat fleksibel sesuai dengan perkembangan anak.42 Mudah sekali menerapkan kedisiplinan pada anak usia dini. Orang tua dan guru yang mempunyai peran penting untuk memberikan contoh kedisiplinan. Perlu adanya komitmen yang kuat terutama dari orang tua, karena anak lebih banyak waktunya di rumah bersama orang tua.
Sebelum menanamkan kedisiplinan kepada anak usia dini terlebih dahulu, orang tua dan guru memahami unsur-unsur kedisiplinan.
a. Unsur-unsur Kedisiplinan Anak Usia Dini
Disiplin sangat penting artinya bagi anak. oleh karena itu disiplin harus dibentuk secara terus menerus kepada anak. Tiga unsur penyusun kedisiplinan anak usia dini menurut Novan Ardy terdapat tiga unsur kedisiplinan yaitu; kebiasaan, peraturan, dan hukuman.43
1) Kebiasaan
Disiplin yang dilakukan terus menerus akan menjadikan dissiplin sebagai kebiasaan.
2) Peraturan
Peraturan merupakan pegangan bagi setiap orang dalam suatu komunitas. Peraturan memiliki dua fungsi penting, yaitu fungsi pendidikan dan fungsi preventif. Sebagai fungsi pendidikan sebab peraturan sebagai alat untuk memperkenalkan perilaku yang disetujui kelompok kepada anak. peraturan sebagai preventif karena peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
Peraturan dianggap efektif apabila pelanggar peraturan mendapat konsekuensinya yang setimpal.
42 Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:
Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 192.
43 Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini: Panduan Orang Tua & Guru dalam Membentuk Kemandirian &Kedisiplinan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 43.
3) Hukuman
Hukuman adalah suatu sanksi yang diterima oleh seseorang sebagai akibat dari pelanggaran atau aturan-aturan yang telah ditetapkan.
hukuman memang memiliki konotasi negatif, namun pada dasarnya setiap hukuman pasti bertujuan ke arah kebaikan dan perbaikan.
Berbicara tentang disiplin memang tidak pernah lepas dengan peraturan dan hukuman. Peraturan yang dilanggar akan mendapatkan hukuman. Paraturan yang berlaku untuk membentuk kedisiplinan anak, seyogiyanya dibangun dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mencapai konsistensinya dari penerapan peraturan yang melibatkan orang tua sebagai pemberi aturan dan anak sebagai pelaksana peraturan. Kedisiplinan anak akan terwujud dengan baik, apabila memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
b. Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan Anak Usia Dini
Anak kelak tidak hanya akan menjadi penerus dari orang tuanya saja, melainkan akan menjadi penerus dan harapan bangsa di masa depan. Oleh karena itu, nilai karakter kedisiplinan harus tertanam sejak dini, agar kedisiplinan tertanam secara kukuh dan terus tertancap dalam diri anak. adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan anak menurut J. M Lonan dan Lioew adalah sebagai berikut.44
1) Banyak sedikitnya anggota keluarga
Dari hasil penelitiannya diperoleh informasi bahwa pola disiplin yang baik terdapat pada keluarga yang mempunyai besar keluarga 2-4 orang. Artinya, semakin besar jumlah anggota keluarga dalam keluarga, pemberian disiplin pada anak akan semakin baik.
44 Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini: Panduan Orang Tua & Guru dalam Membentuk Kemandirian &Kedisiplinan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 49.