BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
5. Permainan Tradisional Dam-daman
Permainan tradisional menurut Novi Mulyani adalah suatu permainan warisan nenek moyang yang wajib dan perlu dilesttarikan karena mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Melalui permainan tradisional perkembangang anak dapat diasah.51 Permainan tradisional juga memiliki banyak manfaat yang diperoleh ketika melakukannya.
a. Manfaat Permainan Tradisional
Bermain bagi anak merupakan sesuatu yang mengasyikan.
Menurut Cahyono sejumlah karakter dapat diperoleh ketika melakukan permainan tradisional yaitu,
1) Menggunakan dan memanfaatkan fasilitas yang ada disekitar lingkungan tanpa harus membelinya, sehingga perlu daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi.
2) Permainan tradisional melibatkan pemain yang relatif banyak, hal ini membuat anak dapat berinterkasi dengan baik.
3) Permainan tradisional memiliki nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu, seperti nilai-nilai kebersamaan, nilai-nilai
51 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia (Yogyakarta: Diva Press, 2016), 47.
kejujuran, nilai-nilai tanggung jawab, sikap lapang dada, dorongan prestasi, dan taat pada aturan.52
Selain memberikan manfaat, permainan tradisional juga mengandung nilai-nilai yang ada di dalamnya.
b. Permainan Dam-daman
Permainan dam-daman adalah permainan yang dilakukan di atas tanah atau media gambar dengan aturan sebagai berikut.53
1) Bahan dan Alat 16 buah batu kecil
2) Prosedur dan aturan permainan a) Pemain terdiri dari dua orang.
b) Pemain hanya boleh melangkah satu langkah.
c) Pemain hanya boleh melewati satu buah batu miliki musuh.
d) Pemain yang dinyatakan menang apabila telah berhasil memakan batu milik musuh sampai habis.
3) Cara bermain
a) Pemain mengundi siapa yang memulai jalan dulu.
b) Pemain melangkah boleh ke depan, ke kanan, ke kiri, dan ke belakang, namun hanya berjalan satu langkah.
c) Setelah melangkah satu langkah pemain pertama berhenti dan dilanjutkan dengan pemain kedua, tapi apabila pemain bisa
52 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia (Yogyakarta: Diva Press, 2016), 49.
53 Iswinarti, Permainan Tradisionla Prosedur dan Analisis Manfaat Psikologis (Malang: UMM Press, 2017), 68-70.
memakan gacu milik musuh maka pemain melanjutkan kembali tanpa berganti ke pemain kedua.
d) Pemain boleh memakan gacu milik musuh apabila gacu milik musuh bisa di lewati gacu miliki kita.
4) Macam-macam Bentuk Permainan Dam-daman
Bentuk atau model permainan dam-daman memiliki dua model yaitu.
Gambar 2.1
Model A permainan dam-daman
Gambar 2.2
Model B Permainan dam-daman
5) Analisis psikologis
Permainan dam-daman ini tidak membutuhkan peralatan yang rumit, cukup dilakukan di tanah atau menggunakan media gambar di kertas.
Biji yang digunakan juga bisa bervariasi, yaitu batu, pecahan batu
bata, biji-bijian, dan sebagainya. Pemain terdiri dari dua orang dan mereka akan bermain dengan aturan-aturan yang ada ataupun aturan- aturan yang disepakati. Pemain yang dinyatakan menang adalah pemain yang bisa mengumpulkan pion/gacu yang lebih banyak.
Analisis manfaat dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.2
Hasil analisis manfaat permainan dam-daman Manfaat Umum dan Khusus Aplikasi pada Permainan Melatih perkembangan motorik:
Melatih ketahanan koordinasi otot tangan
Pemain melangkah boleh ke depan, ke kanan, ke kiri, dan ke belakang namun hanya berjalan satu langkah Meningkatkan kemampuan
kognitif:
Melatih konsentrasi, meningkatkan kreativitas anak
dalam menyusun strategi permainan dan problem solving
Mengatur strategi agar bisa memangsa gacu miliki musuh
Meningkatkan perkembangan sosial:
Melatih anak agar mampu bersosialisasi dengan baik, memupuk anak untuk berkompetisi
Pemain yang dinyatakan menang apabila telah berhasil memakan batu miliki musuh sampai habis
Meningkatkan perkembangan kepribadian:
Meningkatkan rasa percaya diri, menumbuhkan rasa sportifitas, belajar mengambil keputusan dan tanggung jawab
a) Pemain pertama berhenti setelah melangkah 1 langkah dan dilanjutkan pemain yang kedua tapi apabila pemain bisa memakan gacu miliki musuh maka pemain melanjutkan kembali tanpa berganti ke pemain kedua
b) Pemain boleh memakan gacu milik musuh apabila gacu milik musuh bisa dilewati gacu miliki kita
Memupuk perkembangan emosi:
Melatih kesabaran dan pengendalian diri, mengontrol emosi
Melatih ketelitian agar gacunya tidak dengan mudah dimakan oleh musuh
Sedangkan salah satu manfaat bermain dam-daman menurut Euis Kurniati adalah keterampilan mentaati aturan (disiplin) yang terlihat ketika pemain mentaati prosedur permainan yang sudah disepakati, dan anak juga dapat membereskan mainannya setelah permainan usai.54
6. Peningkatan Nilai-Nilai Karakter Melalui Permainan Tradisional Dam- daman
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan anak untuk mengembangkan kemampuan yang ada pada diri anak. dengan bermain anak akan belajar untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Oleh sebab itu dengan bermain membantu anak dalam menjalin hubungan sosial, mengembangkan imajinasi, mengembangkan kognisi, bahasa, motorik kasar serta halus.55
Permainan tradisional mengandung beberapa nilai yang dapat ditanamkan. Nilai-nilai tersebut antara lain rasa senang, bebas, rasa berteman, demokrasi, penuh tanggung jawab, rasa patuh, rasa saling membantu, yang semuanya merupakan nilai-nilai yang baik dan berguna dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Nugroho banyak nilai yang terkandung dalam permainan tradisional antara lain.56
54 Euis Kurniati, Permainan Tradisional dan Perannya dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak (Jakarta: Kencana, 2016), 68.
55 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia (Yogyakarta: Diva Press,
2016), 53.
56 Ibid, 55.
1) Nilai demokrasi
Nilai demokrasi dalam permainan tradisional anak, sebenarnya teleh diujukan oleh anak-anak sebelum mereka mulai bermain.
Terbukti dengan cara memilih dan menentukan jenis permainan, harus mengikuti tata tertib atau aturan yang disepakati. Semua itu dilakukan secara berunding atau bermusyawarah secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar, contohnya dengan melakukan hompimpah ataupun suit. Dengan demikian, anak-anak sebenarnya sejak dahulu telah memiliki jiwa yang demokratis.
2) Nilai pendidikan
Permainan tradisional baik untuk pendidikan aspek kejasmanian maupun kerohanian. Misalnya sifat sosial, sifat disiplin, etika, kejujuran, kemandirian dan percaya diri.
3) Nilai kepribadian
Aktivitas bermain merupakan media yang sangat tepat bagi anak untuk mengembangkan dan mengungkapkan jati dirinya. Dengan bermain, anak dapat mempunyai kesiapan mental dan kesiapan diri untuk mengatasi masalah sehari-hari. Di samping dapat mengembangkan pribadinya, melalui bermain dapat melatih anak untuk mengolah cipta, rasa, dan karsa, sehingga sikap seperti itu dapat menumbuhkan kearifan dan kebijaksanaan ketika anak dewasa.
4) Nilai keberanian
Setiap permainan tradisional dituntut sikap keberanian bagi semua pesertanya. Sifat berani yang dimaksud adalah berani mengambil keputusan dengan mempertimbangkan strategi-strategi tertentu, sehingga dapat memenangkan permainan.
5) Nilai kesehatan
Aktivitas bermain yang dilakukan oleh anak merupakan suatu kegiatan yang banyak menggunakan unsur berlari, melompat, brkejar-kejaran sehingga otot-otot tubuh dapar bergerak. Seorang anak yang sehat akan terlihat dari kelincahannya dalam bergerak.
6) Nilai persatuan
Permainan kelompok dapat dikatakan sebagai permainan yang sangat positif karena masing-masing anggota kelompok harus mempunyai jiwa persatuan dan kesatuan untuk mencapai suatu tujuan, yaitu kemenangan. Oleh karena itu, masing-masing anggota harus mempunyai solidaritas kelompok yang tinggi. Itu sebabnya rasa solidaritas yang meliputi saling menjaga, saling menolong, saling membantu harus selalu ditumbuhkan dalam diri anak.
7) Nilai moral
Dengan permainan tradisional, anak dapat memahami dan mengenal kultur bangsa atau budaya serta pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya. Sengan adanya pesan-pesan moral tersebut, maka diharapkan permainan tradisional yang telah dilupakan dapat tumbuh kembali.
Dari uraian tersebut telah disebutkan bahwa sebenarnya permainan tradisional sangat sarat dengan nilai-nilai budaya tertentu yang sangat berguna, termasuk juga nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan.
Banyak macam permaian tradisional yang ada di Indonesia. Salah satu permainan tradisional yang dapat mengembangkan nilai-nilai karakter anak usia dini adalah permainan tradisional dam-daman.
BAB III
METODE PENELITIAN
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu54. Salah satu komponen penting dalam penelitian adalah mengenai metode. Dengan menggunakan metode yang tepat, maka penelitian bisa dilakukan dengan mudah dan lebih terarah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Adapun dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif.
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif.
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/ kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. 55
Sampel dalam penelitian kualitatif juga disebut sebagai sampel konstruktif, karena dengan sumber data dari sampel itu dapat dikonstruksikan fenomena yang semula masih belum jelas. 56 Fenomena-
54Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan “Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D”
(Bandung: Alfabeta, 2010), 3.
55 Ibid, 15.
56 Ibid,299.
fenomena yang diteliti tentang nilai-nilai karakter anak usia dini terutama nilai mandiri, disiplin, dan tanggung jawab anak yang sering kali terabaikan oleh orang tua anak dan pendidik atau guru.
Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif deskriptif yaitu sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis, lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati.57
Jenis penelitian adalah penelitian lapangan (field research) karena peneliti harus terjun langsung ke lapangan, terlibat dengan masyarakat setempat. Terlibat dengan partisipan atau masyarakat berarti turut merasakan apa yang mereka rasakan dan sekaligus mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang situasi setempat.58
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah Raudhatul Athfal Ar- Rohmah yang terdapat di Dusun Krajan Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Pertimbangan peneliti dalam menentukan lokasi penelitian adalah sebagai berikut.
1. Lokasi Raudhatul Athfal yang berada di pinggir kota namun, kualitas dan kuantitasnya yang baik menjadikan alasan yang diambil oleh peneliti.
2. Selain alasan tersebut terdapat alasan yang mendasar yang menarik peneliti agar melakukan penelitian di lembaga tersebut, yakni Raudhatul
57 Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), 6.
58 J. R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif Jenis, Karakteristik, dan Keunggulannya (Jakarta:
GRASINDO, 2010), 9.
Athfal berada di lingkungan pedesaan yang memungkinkan peserta didik sudah tak asing lagi dengan permainan tradisional.
C. Penentuan Subjek
Subjek penelitian dalam penelitian ini disebut dengan informan yang memberikan data-data yang dibutuhkan oleh peneliti. Dalam pengambilan dan pemilihan sumber data, penggunaan metode purposive ini mempertimbangkan pemilihan orang yang diyakini banyak mengetahui tentang informasi penelitian yang dilakukan. Dalam hal ini yang termasuk informan dalam penelitian ini adalah:
1. Kepala Raudhatul Athfal Ar-Rohmah Ibu Erma Suryani 2. Guru Kelompok B yaitu Ervin Tri Susanti
3. Wali Murid Kelompok B yang berjumlah 9 orang (Mama Hoir, Mama Tasya, Mama Edwin, Mama Aini, Mama Alika, Mama Bilal, Mama Kesya, Mama Rama, dan Mama Fiki)
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan59.
Agar peneliti mendapatkan data yang valid, maka dibutuhkan beberapa teknik pengumpulan data. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
59Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R& D (Bandung, Alfabeta, 2010. 308)
1. Observasi
Observasi menurut Nasution dalam Sugiyono menyatakan bahwa, observasi dasar semua ilmu pengetahuan. Para Ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Adapun data yang diperoleh dari pengamatan ini adalah :
a. Upaya meningkatkan nilai karakter kemandirian melalui permainan tradisional dam-daman pada kelompok B
b. Upaya meningkatkan nilai karakter kedisiplinan melalui permainan tradisional dam-daman pada kelompok B
c. Upaya meningkatkan nilai karakter tanggung jawab melalui permainan tradisional dam-daman pada kelompok B
2. Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Dalam penelitian ini menggunakan jenis wawancara semiterstruktur, yang memberikan kebebasan informan untuk memberikan informasi terkait penelitian yang dilakukan. Data yang diperoleh dari teknik wawancara yaitu:
a. Bagaimana nilai karakter kemandirian anak dapat ditingkatkan melalui permainan tradisional dam-daman pada kelompok B di Raudhatul Athfal Ar-Rohmah?
b. Bagaimana nilai karakter kedisiplinan anak dapat ditingkatkan melalui permainan tradisional dam-daman pada kelompok B di Raudhatul Athfal Ar-Rohmah?
c. Bagaimana nilai karakter tanggung jawab anak dapat ditingkatkan melalui permainan tradisional dam-daman pada kelompok B di Raudhatul Athfal Ar-Rohmah?
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Pada penelitian ini data yang diperoleh dari metode dokumentasi yaitu foto-foto kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan bermain dam-daman.
E. Analisis Data
Analisis data dilakukan setelah data-data yang diperlukan terkumpul.
Menurut Bogdan analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang
akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.60
Dalam analisis data terdapat bermacam-macam model analisis, hal tersebut harus sesuai dengan ketepatan yang akan diteliti di lapangan, agar memperoleh hasil yang maksimal dan valid. Dalam penelitian ini menggunakan analisis data model interaktif Miles dan Huberman dalam Sugiyono yaitu aktivitas dalam analisis data kualitatif yang dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya telah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. 61
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yaitu dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi atau gabungan ketiganya (triangulasi). Pengumpulan data dilakukan berhari-hari, mungkin juga berbulan-bulan sehingga data yang didapatkan banyak dan bervariasi.
Pada tahap awal peneliti melakukan penjelajahan secara umum terhadapa objek penelitian, semua yang dilihat dan didengar di catat dan di rekam semua.
2. Kondensasi Data
Kondensasi data merupakan langkah setelah langkah pengumpulan data. Kondensasi data adalah proses memilih, memfokuskan, menyederhanakan, membuat abstraksi data aksi dari lapangan,
60Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R& D (Bandung, Alfabeta, 2010 334.
61Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2018), 134.
interview, transkrip, berbagai dokumen dan catatan lapangan. Data kondensasi ini membuat data penelitian menjadi lebih kuat. Data kondensasi atau proses tranformasi berlanjut setelah pekerjaan lapangan selesai, sampai laporan akhir selesai. Data kondensasi merupakan bagian dari analisis.62
3. Penyajian Data
Penyajian data adalah langkah setelah kondensasi data. Dengan menyajikan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami, karena data telah teroganisasi, tersusun dalam pola hubungan yang memudahkan peneliti untuk memahaminya.
4. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Langkah ke empat dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalan penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskriptif atau gambaran suatu.
F. Keabsahan Data
Dalam rangka mempermudah memahami data yang diperoleh agar data terstruktur dengan baik, rapi dan sistematis, maka pengelolahan data dalam beberapa tahapan menjadi sangat penting dan signifikan. Metode pengujian data untuk mengukur kredibilitas data dalam penelitian ini
62 Matthew B. Miles, A Michheel Huberman, Jhony Saldana, Qualitative Data Analysis, (California: SAGE Publication, Inc, 2014), 12.
menggunakan metode triangulasi data. Metode triangulasi data dapat diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.
Teknik pengujian keabsahan data yang digunakan peneliti adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik.63
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Triangulasi sumber yang dilakukan peneliti adalah mengecek data-data dari sumber yang berbeda dengan teknik yang sama, yaitu menggunakan teknik wawancara. Peneliti mewawancarai guru kelompok B dan tiga orang wali murid dari kelompok B untuk mendapatkan data yang valid.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam triangulasi teknik, data yang didapatkan dapat dicek dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik wawancara untuk mengumpulkan informasi tentang nilai-nilai karakter anak terutama nilai mandiri, disiplin, dan tanggung jawab. Setelah mendapatkan data dari teknik wawancara, peneliti tidak serta merta percaya dengan
63 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D (Bandung:
ALFABETA, 2010), 373.
informasi yang diberikan oleh informan. Sehingga peneliti juga melakukan teknik observasi untuk memperkuat hasil dari wawancara dengan informan.
G. Tahap-tahap Penelitian
Tahap-tahap penelitian adalah menguraikan rencana pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya dan sampai pada penulisan laporan, yaitu:
1. Tahap Persiapan
a. Menemukan masalah di lokasi penelitian
Peneliti melakukan observasi awal yang dilanjutkan dengan malakukan wawancara di tempat yang dijadikan lokasi penelitian.
b. Menyusun rencana penelitian
Peneliti menyusun rencana penelitian dengan cara melakukan pengajuan judul penelitian, penyusunan matrik penelitian yang dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, sampai dengan penyusunan proposal dan melakukan kegiatan seminarnya.
c. Mengurus perizinan
Peneliti mengurus surat penelitian yang ditujukan kepada lembaga yang diteliti yaitu Raudhatul Athfal Ar-Rohmah Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember kepada pihak kampus. Setelah itu peneliti menyerahkan surat kepada lembaga tersebut untuk mendapatkan ijin melakukan kegiatan penelitian.
d. Memilih informan
Langkah selanjutnya yaitu peneliti memilih informan yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Informan yang dipilih adalah orang- orang yang memiliki informasi terkait penelitian yang dilakukan.
e. Menyiapkan perlengkapan penelitian
Langkah persiapan yang terakhir yaitu menyiapkan perlengkapan dalam melakukan penelitian. Peneliti menyiapkan buku catatan, kamera, alat perekam, dan lain sebagainya.
2. Tahap pelaksanaan
a. Memahami latar penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan untuk lebih memahami latar penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
b. Memasuki lapangan penelitian
Pada saat memasuki lapangan penelitian, peneliti fokus dalam mengumpulkan data-data yang terkait dengan penelitian yang dilakukan.
c. Mengumpulkan data
Peneliti mengumpulkan data dengan teknik pengumpulan data yang telah dirancang oleh peneliti yaitu dengan cara observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi.
d. Menyempurnakan data yang belum lengkap
Setelah dirasa data yang telah dikumpulkan peneliti masih ada kekurang maka peneliti memutuskan untuk melakukan pengumpulan data ulang untuk menyempurnakan data yang belum lengkap.
3. Penyelesaian
a. Menganalisis data yang diperoleh
Setelah data terkumpul, peneliti melakukan analisis data sesuai dengan rencana penelitian. Analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data. Setelah data terkumpul peneliti mengkondensasi data tersebut.
Agar data mudah dipahami peneliti melakukan kegiatan penyajian data, dan langkah terakhir yaitu peneliti mengambil kesimpulan dari data- data yang telah dianalisis.
b. Mengurus perizinan selesai penelitian
Setelah melakukan penelitian di lembaga Raudhatul Athfal Ar-Rohmah, maka peneliti meminta surat yang menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan telah selesai.
c. Menyajikan data dalam bentuk laporan
Setelah penelitian selesai dan data-data yang diperlukan telah jenuh, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah membuat laporan.
d. Merevisi laporan yang telah disempurnakan
Langkah terakhir yang dilakukan oleh peneliti adalah merevisi laporan yang telah disusun.
BAB IV
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Gambaran Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya Raudhatul Athfal Ar-Rohmah
Berdirinya lembaga Raudhatul Athfal Ar-Rohmah tidak bisa terlepas dari pendirinya yaitu, Ibu Erma Suryani. Dulunya Ibu Erma merupakan pendidik di Taman Kanak-Kanak Ar-Raudhoh Jember. beliau mengajar disana kurang lebih selama 10 tahun. disamping mengajar di sana, ibu Erma juga mengajar di tempat atau lembaga lain yaitu Taman Kanak- Kanak Raudhatul Muta’alim Jember (yang saat ini sudah tutup). Pada pagi hari Ibu Erma mengajar di Raudhatul Muta’alim dan siangnya mengajar di Ar-Raudhoh. Tiada lelahnya beliau mengabdi untuk pendidikan anak usia dini. Namun setelah kurang lebih 10 tahun lamanya beliau merasa bahwa lembaga tersebut telah mandiri akhirnya beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari lembaga tersebut. Beliau menginginkan mendirikan sebuah lembaga sendiri ingin memajukan di tempat lain dan ingin mandiri.
“saya ingin lebih bermanfaat dilingkungan sendiri dan akhienya saya memberanikan diri untuk mendirikan lembaga, agar masyarakat sekitar juga tidak kesulitan ketika anak-anak mereka sudah saatnya sekolah. Saya melihat ada tanah kosong di samping pondok ini, kan enak kalau saya buat sekolah disini (pikir saya kala itu). Saya berusaha membangun lokal untuk pendidikan anak usia dini. Pada awalnya memang sekolah ini tidak banyak orang tahu, sehingga warga sekitar masih menyekolahkan anak-anak mereka jauh dari rumahnya.
Namun lambat laun lembaga ini juga bisa terkenal lho”64.
64 Erma Suryani, Wawancara, Jember 18 Juli 2019