PENDAHULUAN
A. Hasil Penelitian
1) Maksim Kuantitas
(Bimbingan dan Konseling) dan siswa yang melanggar peraturan sekolah:
A : “Kebetulan singgah makan siang di Samppodo, setelah Kota Palopo. Singgah makan bebek karena katanya kebetulan dilewati.”
BK : “Mana mi bebek palekko ta, tidak kita bawakan pembina ta?”, Heheheh
A : “Itumi yang kasih lama ka Ustadz karena lama sekali menunggu baru sudahpi shalat ashar baru berangkat.”
Pada percakapan tersebut, melontarkan sebuah pernyataan yang mengalihakn isu masalah yang dibahas, Sedangkan siswa terus menjelaskan problem yang terjadi. Pernyataan dari guru tersebut membuat pernyataan dari siswa tidak relevan dengan konteks dan maksud percakapan. Jadi, tuturan dari guru BK tersebut bertentangan dengan maksim relevansi yang mengharuskan peserta percakapan memberikan kontribusi yang sesuai atau relevan dengan pembicaraan f. Pelanggaran Kegiatan Belajar Mengajar
(Bimbingan dan Konsuleng) dan siswa yang melanggar aturan sekolah sebagai berikut:
BK : “Siapa saja yang di lihat sama Ustadz Pakis tadi di pondok.”
A : “Saya dan B Ustadz yang dilihat tadi.”
BK : “Berapa orang ki tadi ke pondok semua?”
B : “Sebenarnya 4 orang tadi mau ke pondok tidur- tidur Ustadz, tapi C dan D singgah di kantin Yayasan beli makanan.”
Pada percakapan tersebut, dua pertanyaan dan pernyataan yang berikan kepada siswa tersebut seharusnya memiliki konteks yang sama jawabannya.
Informasi yang di dapatkan berlebihan. Tentunya, pada umunya proses berkomunikasi informasi yang dibutuhkan oleh lawan tutur atau mitra tuturnya untuk mematuhi dan memenuhi tuturan prinsip kerja sama.
Apabila tuturan tersebut mengandung informasi berlebihan dan tudak bersungguh-sungguh maka sudah sangat jelas informasi yang dibutuhkan tidak sesuai.
Dengan demikian, tentunya hal tersebut melanggar prinsip kerja sama maksim kuantitas.
2) Maksim Kualitas
Maksim kualitas berisi informasi agar peserta percakapan atau penutur dalam berinteraksi tidak memberikan informasi dan kontribusi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan dalam melakukan komunikasi atau percakapan serta tidak memberikan
informasi yang tidak didukung cukup bukti. Hal tersebut dibuktikan pada percakapan antara guru BK (Bimbingan dan Konseling) dan siswa pelanggar aturan sekolah:
BK : “Kenapa tidak singgah ki sekalian sama teman ta.”
B : “Mau ka singgah juga Ustadz tapi A habis mi uangnya, mau pergi ambil di pondok dulu nah bilang.”
BK : “Mau ji pale ambil uang jajan nah tinggal ji matindo-matindo (tidur) dikamar.”
Pada percakapan tersebut, memberikan informasi tidak tepat dan tidak didukung oleh bukti. Pernyataan dari siswa tersebut di anggap menyalahi aturan maksim kualitas setelah dilakukan pengecekan data cctv. Jadi, informasi yang diberikan oleh siswa tidak sesuai.
BK : “Jadi, siapa pembina yang dapat ki tadi pondok?”
A : “ Ustadz Ardi yang dapat ka dikamar Ustadz waktu baring-baring ka. Tidak sempat jika tidur tadi Ustadz.”
BK : “Kenapa tidak langsung keluar kamar waktu di dapat sama Ustadz Ardi.”
A : “Nah tegur jika sebentar Ustadz baru pergi lagi karena mau i ke kamarnya, baru tinggal mika baring-baring lagi.”
Pada percakapan tersebut, siswa memberitahukan bahwa kejadian tersebut di lihat atau di dapat oleh salah satu pembina pondok. Konfirmasi yang didapatkan bahwa benar adanya kalau pembina tersebut mendapatkan siswa melakukan kegiatan di pondok. Pernyataan tersebut tidak melanggar maksim kualitas sebab peserta percakapan pada kutipan di atas memberikan informasi yang sesuai
fakta atau hal yang sebenarnya. Kontribusi percakapan harusnya berisi fakta kebenaran yang dipertanggungjawabkan. Artinya, fakta tersebut harus dilandasi dengan bukti-bukti yang sesuai.
3) Maksim Relevansi
Maksim relevansi yaitu maksim berisi informasi yang sesuai dengan topik pembicaraan agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan mitra tutur. Dalam implikasinya, penutur maupun mitra tutur, masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan tentang sesesuatu yang sedang di pertuturkan. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar maksim relevansi. Berikut percakapan antara konselor yaitu guru (Bimbingan dan Konseling) dan siswa yang melanggar peraturan sekolah:
BK : “Jadi, Ustadz Pakis mija dapat kalian baru bergerak betul karena maumi shalat Dhuhur orang.”
B : “Iyee ustadz”, tidak turun ka ke kantin Ustazd karena 15 menit mija mau istirahat jadi tinggal pisse ka.”
BK : “Oke pale. Nanti saya tanya pembina asrama ta masalah ini sekaligus nanti saya tanya guru ta disekolah.”
Pada percakapan tersebut, alasan yang berikan oleh siswa sangat tidak relevan dan masuk akal. Waktu bukan menjadi alasan untuk tidak tinggal berlama-lama setelah mendapat teguran awal. Oleh karena itu, percakapan tersebut melanggar aturan maksim relevansi yang
mengharuskan peserta percakapan memberikan kontribusi yang sesuai atau relevan dengan pembicaraan.
Namun, jika ada sebuah percakapan yang tidak memberikan kontribusi yang sesuai. Percakapan tersebut melanggar maksim relevansi.
g. Pelanggaran Ketidakikutsertaan Ekstrakurikuler Pilihan 1) Maksim Kuantitas
Maksim kuantitas adalah menyampaikan informasi yang diperlukan oleh mitra tutur, tetapi seperlunya.
Kontribusi setiap penutur di dalam percakapan tepat sesuai dengan kebutuhan secara kuantitatif. Bukti rekaman percakapan interogasi melibatkan BK (Bimbingan dan Konsuleng) dan siswa yang melanggar aturan sekolah sebagai berikut:
BK : “Siapa pembina ekstrakurikuler ta Nak?”
A : “Ustadz Haerul pembinanya Ustadz.”
BK : “Esktrakurikuler apa kita ikuti memang.”
A : “Di volley ka dulu ustadz tapi disuruhka pindah dulu di dram band karena itu kegiatan persiapan 17 agustus.”
Pada percakapan tersebut guru BK memberikan pertanyaan singkat mengenai kegaiapa ekstrkurikuler apa yang di ikuti oleh siswa. Kemudian, percakapan tersebut menyebabkan terjadinya pelanggaran prinsip kerja sama karena siswa memberika keterangan yang berlebihan dari pertanyaan yang diberikan sehingga terjadi pelanggaran maksim kuantitas.
2) Maksim Kualitas
Maksim kualitas berisi informasi agar peserta percakapan atau penutur dalam berinteraksi tidak memberikan informasi dan kontribusi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan dalam melakukan komunikasi atau percakapan serta tidak memberikan informasi yang tidak didukung cukup bukti. Hal tersebut dibuktikan pada percakapan antara guru BK (Bimbingan dan Konseling) dan siswa pelanggar aturan sekolah:
BK : “Berapa orang yang pindah Nak.”
A : “Dua orangka tapi yang satu sama Pitto”
Pada percakapan tersebut, siswa selaku lawan tuturan memberikan jawaban yang sesuai dengan konteks pertanyaan yang di ajukan oleh guru BK.
Informasi yang diberikan oleh siswa tersebut diyakini tidak berbohong karena informasi yang dapat sesuai dengan jawaban yang diberikan. Oleh karena itu, percakapan tersebut tidak melanggar maksim kualitas.
BK : “Waktu yang pertama memang kenapa bisa tidak hadir?”
A : “Pergi main volley Ustadz karena ku kira tidak latihan orang karena nah bilang Ustadz Haerul di lapangan Tsanawiyah ki latihan baru ku tunggu- tunggu tidak iya orang.”
A : “Ternyata sudah pika mau volley baru kantin ka dibelakang, ternyata pale di depan rumahnya ki Ustadz Khaidir kumpul. Selesai mija baruka lihat.”
Pada percakapan tersebut, informasi pada tuturan pertama tidak melanggar maksim kualitas karena
peserta menyampaikan informasi sesuai dengan fakta pada saat ini. Sedangkan, pada tuturan kedua alasan yang disampaikan oleh siswa tidak sesuai konteksnya karena pada saat itu kegiatan dram band telah selesai dan sudah tidak ada seorang siswa pun yang di lihatnya.
Tentu itu bertentangan dengan maksim kualitas karena respons dan keterlibatan peserta percakapan berisi fakta dan kebenaran yang jelas harus dipertanggungjawakan.
Artinya, fakta dan kebenaran tersebut harus didasari oleh bukti-bukti yang memadai. Akan tetapi, apabila kontribusi peserta percakapan tidak mengatakan yang sebanrnya.