PENDAHULUAN
A. Hasil Penelitian
2. Tindak Turur dan Peristiwa Tutur pada Kasus Interogasi Siswa yang Melanggar Aturan Sekolah Berdasarkan Pendekatan
4) Maksim Cara
Maksim cara yaitu maksim yang memuat penutur dan mitra tutur berinteraksi dengan mematuhi dan menaati maksim hubungan agar terhindar dari tuturan yang tidak ambigus, tidak berbelit-belit, bermakna ganda, tidak taksa (makna lebih) dan menyampaikan tuturan secara runtut.Berkenaan dengan itu, berikut percakapan antar konselor dengan siswa pelanggar:
C : “Dihafalji Ustadz tapi cepat dikalupei.”
(Dihafal Ustadz tetapi cepat di lupa)
BK : “Mapalla na tiro ko apa na malai ko, seandainya te mu malai na ku semba ko mbe.”
(Saya marah lihat kalian karena kalian malah lari pada saat saya lihat kalian)
Pada percakapan tersebut bahwa guru BK tersebut terbawa emosi ketika melakukan proses interogas/percakapan. Dalam tuturanya seharusnya informasi tersebut disampaikan dibagian awal sehingga kesannya bahwa ingin diketahui kalau guru tersebut sedang marah. Dalam tuturan tersebut jelas tidak memiliki keterkaitan karena pernyataan tersebut ambigu. Jadi, apabila dalam sebuah percakapan telah ditemukan sebuah ambiguitas berarti jelas bahwa telah melanggar prinsip kerja sama maksim cara..
2. Tindak Turur dan Peristiwa Tutur pada Kasus Interogasi Siswa
Guru BK (Bimbingan dan Konseling) selaku konselor di saat memberikan pertanyaan atau menginterogasi siswa yang telah melakukan pelanggaran sekolah terkesan menakut-nakuti dan mengancam. Akibatnya, jelas membuat kondisi interogasi menjadi tidak kondusif. Tuturan yang disampaikan oleh guru selaku konselor menutur sudut pandang lingusitik deskriptif berkenaan dengan akurasi atau kebenaran isi serta terdapat beberapa pilihan kosa kata dan makna kalimat yang dikategorikan sebagai kekerasan verbal. Kekerasan verbal yang dimaksud adalah secara lisan kepada lawan tutur sehingga membuat posisi siswa pelanggaran tidak nyaman. Hal tersebutlah yang terkesan jawaban yang diberikan oleh siswa kepada konselor itu tidak sesuai dengan kemauannya. Siswa yang melanggar aturan tentunya berfikir memberikan keterangan yang sesungguhnya dengan berhadapan dengan konsesukuensi menerima hukuman jika melakukan kesalahan.
Oleh karena itu, berdasarkan sudut pandang atau parameter linguistik deskriptif tuturan guru bimbingan dan konseling:
“Biarki bilang seribu kali, tidak, tidak, saya bakalan tidak percaya karena memang iya dan bukan cuma kalian bertiga masih ada yang lain. Kenapa kalian selalu belajar berbohong? Ah! Lebih berat sanksinya kalau kalian bilang tidak padahal ada yang lihat dan bukan siswa yang lihat E, satu kali saya tanya, nanti saya panggilkan orang itu kalau kautidak percaya, merokok atau tidak?
Hm?” .
Dapat diketahui bahwa tuturan atau informasi dari guru BK (Bimbingan dan Koseling) menekan lawan tutur yaitu siswa
pelanggar aturan sekolah untuk mengakui kesalahan yang diperbuatnya. Akan tetapi, siswa yang melanggar peraturan sekolah pun menjawab “Tidak.‖ sebagai upaya membela diri dan menegaskan bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun.
Dari parameter tersebut telah diketahui bahwa lingusitik deskriptif merupakan sebuah kajian linguistik yang menjelaskan penggunaan bahasa secara nyata. Artinya, hakikat dari linguistik deskriptif yaitu penggunaan bahasa berdasarkan siapa yang menuturkannya. Pendekakatan linguistik deskriptif mengenai bahasa disebut juga linguistik deskriptif yang merupakan pendekatan yang objektif, menganalisis dan menjelaskan bagaimana bahasa diujarkan oleh sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa.
Tindak tutur dan peristiwa tutur dalam proses interogasi merupakan deskripsi fonomena bahasa yang bersifat alami. Hal tersebut sejelan dengan proses interogasi dalam empat kasus pelanggaran yang terjadi dalam ruang lingkup sekolah.
Beberapa kali konselor (Guru Bimbingan dan Konseling) meminta kepada siswa yang melanggar untuk mengakui perbuatan yang mereka lakukan dengan menggunakan bahasa yang memojokkan. Akan tetapi, siswa tersebut terus berusaha untuk menghindari memberikan informasi yang berbeda-beda. Namun, salah satu siswa yang melanggar aturan sekolah telah mengakui perbuatannya setelah konselor yaitu guru BK (Bimbingan dan
Konseling) memberitahukan saksi yang melihat semua pelaku tersebut melakukan keselahan di lokasi kejadian. Adapun siswa pelanggar aturan pun tetap bertahan untuk tidak mengakui kesalahnya walaupun mereka telah bersumpah. Hal ini mengingat karena ada siswa yang telah mendapatkan lampu kuning dari sekolah karena melakukan kesalahan yang berat sebelumnya sehingga tetap kukuh. Dengan perihal tersebut mereka terkesan membeli diri sebab berada di ujung tanduk untuk dikeluarkan dari sekolah.
Hadirnya pendekatan deskripsi bisa memetakan peristiwa tutur dan tindak tutur ketika seorang guru BK menyudutkan untuk mendapatkan informasi, sedangkan siswa selaku lawan tutur untuk mencoba memberikan penjelasan agar terhindar dari kesalahan yang mereka lakukan. Sementara itu, linguistik deskriptif merupakan salah aliran yang memusatkan perhatikan pada suatu kajian deskripsi fenomena bahasa yang bersifat alami untuk menyusun teori ilmiah mengenai struktur bahasa manusia.
Berikut analisis data tindak tutur dan peristiwa tutur dalam proses interogasi pelanggar aturan sekolah:
Kasus : Pelanggaran Tuduhan Merokok
Tuturan Jenis Tuturan
BK : “Siapa lihatki?”
F : “Tidak tahu.”
F :“Tidak pernahka merokok.”
BK : “Apa? Kamu bilang tidak pernahka
Jenis tuturan ini merupakan tindak tutur perlokusi. Tindak tutur ini merupakan tindakan atau keadaan pikiran yang ditimbulkan oleh, atau
merokok?”
F : “Maksudku pernahji iya, sekarang tidak ka sudah ma di dapa’. Jadi, tidak mau meka. Baru kukira tadi kenapai turun ma sebentar lihat itu orang berkelahi.”
konsekuensi dari mengatakan sesuatu. Oleh karena itu, tindak tutur perlokusi sering disebut sebagai The act of Affective Someone (tindak yang memberi efek pada orang lain).
Artinya perlokusi adalah efek atau dampak dari tuturan (ilokusi) yang dituturkan di dalamnya mengandung maksud tertentu
Pada tuturan tersebut penutur mendeskripsikan memang hakikatnya siswa yang pernah melakukan pelanggaran yang sama.
Peristiwa tuturan tersebut memojokkan siswa ketika diberikan suatu pernyatan yang melibatkan masalah sebelumnya. Maksud tuturan tersebut masuk dalam kategori konsumtif. Tindak tutur ini menyatakan bahwa penutur akan melakukan sesuatu misalnya, janji dan ancaman. Penutur memberikan pernyataan bahwa tidak ingin melakukan kembali kesalahan yang sama. Penutur selaku siswa hanya menegaskan bahwa pernah melakukan merokok tetapi tuduhan yang diberikannya saat itu tidak benar karena menurutnya tidak pernah melakukan.
Kasus : Ketelambatan Masuk Asrama/Pondok
Tuturan Jenis Tuturan
“Menugggu ka tadi mobil dari Padang Sappa ma ke Belopa Ustadz. Karena tidak bisa tadi orang dirumah antar ka kesini.
Jadi tunggu ka mobil Palopo mau ke Belopa dipinggir jalan.”
Jenis tuturan tersebut adalah tuturan lokusi. Tindak lokusi merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Tindak tutur ini
dengan kata, frasa dan kalimat sesuai dengan makna yang terkandung dalam kata, frasa dan kalimat itu. Artinya, makna yang dimaksudkan adalah makna yang memang benar makna dalam kalimat yang di ujarkan
Pada kasus tersebut siswa mendeskirpsikan apa yang sebenarnya terjadi ketika siswa tersebut terlambat. Dari tuturan yang disampaikan banyak proses yang terjadi sebelum masuk asrama yang mengakibatkan keterlambatan. Maksud tuturan siswa adalah Ekspresif : Tindak tutur ini berfungsi mengekspresikan perasaan dan sikap mengenai keadaan hubungan, misalnya permintaan maaf, penyesalan dan ungkapan terimakasih.
Kasus : Pelanggaran Imtimidasi Kawan/Teman
Tuturan Jenis Tuturan
“Iyaa cocok mi Nak. Kau juga kalau mauko bercanda lihat- lihat ko orang nya dulu. Kalau tidak ada tadi ustadz Ahmad disitu samako pasti bikin ko lagi masalah. Pasti Ustadz Khaidir lagi hadapi ko.”
Jenis tuturan ini merupakan tindak tutur perlokusi. Tindak tutur ini merupakan tindakan atau keadaan pikiran yang ditimbulkan oleh, atau konsekuensi dari mengatakan sesuatu. Oleh karena itu, tindak tutur perlokusi sering disebut sebagai The act of Affective Someone (tindak yang memberi efek pada orang lain).
Artinya perlokusi adalah efek atau dampak dari tuturan (ilokusi) yang dituturkan di
dalamnya mengandung maksud tertentu
Pada percakapan tersebut guru selaku pembina memberikan arahan kepada siswa yang melakukan pelanggaran aturan sekolah bahwa ketika melakukan kesalahan yang sama nantinya pasti akan mendapatkan teguran yang lebih keras lagi. Maksud dari tuturan tersebut adalah representatif yang merupakan tindak tutur ini mempunyai fungsi memberi tahu orang-orang mengenai sesuatu.
Tindak tutur ini mencakup mempertahankan,, meminta, mengatakan, menyatakan dan melaporkan.
Kasus : Pelanggaran Perizinan
Tuturan Jenis Tuturan
“Pergi Pasar Baru Bajo tanteku Ustazd baru kesana ka tidak ada orang. Menunggu ka di penjual-penjual dekat lapangan. Ada itu penjual somay ee. Nah tanya ka kalau ke pasar I pale karena hari Pasar (Hari Selasa)”
Jenis tuturan tersebut adalah tuturan lokusi. Tindak lokusi merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Tindak tutur ini dengan kata, frasa dan kalimat sesuai dengan makna yang terkandung dalam kata, frasa dan kalimat itu. Artinya, makna yang dimaksudkan adalah makna yang memang benar makna dalam kalimat yang di ujarkan
Pada tuturan tersebut siswa mendeskripsikan kejadian yang terjadi ketika mereka melakukan pelanggaran. Siswa memberitahukan bahwa penyebab kejadian mereka ke pasar karena tante dari siswa tersebut berada di pasar saat ini. Kejadian
tersebut di deskripsikan dengan detail karena terdapat saksi yang menceritakan kejadian tersebut. Maksud dari tuturan tersebut representatif : tindak tutur ini mempunyai fungsi memberi tahu orang-orang mengenai sesuatu. Tindak tutur ini mencakup mempertahankan,, meminta, mengatakan, menyatakan dan melaporkan
Kasus : Pelanggaran Masuk Pondok II
Tuturan Jenis Tuturan
BK : “Jam berapaki tiba di Bajo Nak?”
A : “Sampaika di gerbang pondok Ustadz sekitar jam 17.00 lewat kayaknya.”
A : “Terlambat 20 menit ka Ustadz yang tercatat di buku catatan masuk pondok.”
BK : “Iyaa Nak. Nanti saya konfirmai ke orang tua ta masalah ini nah”
Jenis tuturan ini merupakan tindak tutur perlokusi. Tindak tutur ini merupakan tindakan atau keadaan pikiran yang ditimbulkan oleh, atau konsekuensi dari mengatakan sesuatu. Oleh karena itu, tindak tutur perlokusi sering disebut sebagai The act of Affective Someone (tindak yang memberi efek pada orang lain).
Artinya perlokusi adalah efek atau dampak dari tuturan (ilokusi) yang dituturkan di dalamnya mengandung maksud tertentu
Dalam percakapan tersebut siswa mendeskripsikan keterangan yang di dapatkan oleh guru BK. Alasan yang berikan ternyatan sesuai dengan kesaksiaan siswa. Setelah mendapatkan informasi siswa di evaluasi sesuai dengan pelanggaran masing-
masing. Maksud dari tuturan tersebut adalah tindak tutur ekspresif.
Tindak tutur ini adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujaran diartikan sebagai evaluasi. Percakapan tersebut guru BK memberikan pernyataan bahwa akan segera mengkonfirmasi kasus pelanggaran yang dilakukan oleh siswa tersebut.
Kasus : Pelanggaran Kegiatan Belajar Mengajar
Tuturan Jenis Tuturan
A : “Nah tegur jika sebentar Ustadz baru pergi lagi karena mau i ke kamarnya, baru tinggal mika baring- baring lagi.”
BK : “Jadi, Ustadz Pakis mija dapat kalian baru bergerak betul karena maumi shalat Dhuhur orang.”
B : “Iyee ustadz”, tidak turun ka ke kantin Ustazd karena 15 menit mija mau istirahat jadi tinggal pisse ka.”
BK : “Oke pale. Nanti saya tanya pembina asrama ta masalah ini sekaligus nanti saya tanya guru ta disekolah.”
Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang mempunyai pengaruh atau efek terhadap lawan tutur atau orang yang mendengar tuturan itu. Maka tindak tutur perlokusi sering disebut sebagai The act of Affective Someone (tindak yang memberi efek pada orang lain).
Pada percakapan tersebut siswa mendeskripsikan dengan rinci alasan mereka tetap berada pada pondok. Maksud tuturan tersebut adalah tindak tutur refresentatif. Tindak tutur ini merupakan
tindak tutur yang bertanggung jawab kepada kepada penutur mengenai kesahihan dari tuturan yang dituturkan. Tindak tutur representative tergolong sebagai jenis tuturan yang digunakan menerangkan suatu hal berupa fakta, pernyataan, penegasan, pendeskripsian dan kesimpulan yang diyakini oleh penutur.
Kasus : Pelanggaran Ketidakikutsertaan Ekstrakurikuler
Tuturan Jenis Tuturan
“Di volley ka dulu ustadz tapi disuruhka pindah dulu di dram band karena itu kegiatan persiapan 17 agustus.”
Jenis tuturan tersebut adalah tuturan lokusi. Tindak lokusi merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Tindak tutur ini dengan kata, frasa dan kalimat sesuai dengan makna yang terkandung dalam kata, frasa dan kalimat itu. Artinya, makna yang dimaksudkan adalah makna yang memang benar makna dalam kalimat yang di ujarkan
Pada tuturan tersebut siswa mendeskripsikan kronologis bahwa dia direkrut sementara untuk masuk ke dalam ekstrakurikuler dram band. Tuturan tersebut diperkuat dengan beberapa percakapan yang membenarkan maksud tersebut.
Maksud tuturan tersebut adalah tindak tutur refresentatif. Tindak tutur ini merupakan tindak tutur yang bertanggung jawab kepada kepada penutur mengenai kesahihan dari tuturan yang dituturkan.
Tindak tutur representative tergolong sebagai jenis tuturan yang
digunakan menerangkan suatu hal berupa fakta, pernyataan, penegasan, pendeskripsian dan kesimpulan yang diyakini oleh penutur.
Kasus : Pelanggaran Pembelajatan Tahfiz
Tuturan Jenis Tuturan
BK : “Mapalla na tiro ko apa na malai ko, seandainya te mu malai na ku semba ko mbe.” (Saya marah lihat kalian karena kalian malah lari pada saat saya lihat kalian)
A : “Maselang ka Ustadz apa ku sanga Ustadz Khaidir jadi malaikang.”
(Kami kaget ustadz karena kami kira Ustad Khaidir jadi kami lari)
Jenis tuturan tersebut adalah tuturan lokusi. Tindak lokusi merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Tindak tutur ini dengan kata, frasa dan kalimat sesuai dengan makna yang terkandung dalam kata, frasa dan kalimat itu. Artinya, makna yang dimaksudkan adalah makna yang memang benar makna dalam kalimat yang di ujarkan
Pada percakapan tersebut siswa menjelaskan bahwa alasan melarikan diri karena merasa kalau orang di lihatnya adalah pimpinan asrama sehingga kabur. Maksud dari tuturan tersebut adalah tidan tutur direktif. Tindak tutur ini kadang disebut juga tindak tutur imposif. TTD adalah tuturan yang dimaksudkan penuturnya agar petutur (T) melakukan tindakan yang dimaksudkan dalam tuturan itu. Dengan kata lain TTD berfungsi untuk membuat petutur (T) melakukan tindakan yang disebut penutur (N).
Berdasarkan hasil analisis data, TTD yang terungkap dalam percakapan guru-siswa adalah memojokkan dan mendesak.